Search:
Email:     Password:        
 





Bank BTN, Tetap Terdepan dalam Bisnis dan Inovasi

By Benny Kumbang (Editor) - 06 June 2016 | telah dibaca 1664 kali

Bank BTN, Tetap Terdepan dalam Bisnis dan Inovasi

Naskah: Giattri F.P./Aprilia Rahapit/Asma Nur Kaida/Sahrudi, Foto: Dok. Bank BTN

Di pertengahan tahun 2016, PT. Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) tetap menunjukkan performa tertinggi baik di sektor kinerja bisnis maupun inovasi perbankan.  Terbukti, pada Triwulan I 2016 bank ini tumbuh di atas rata-rata industri nasional.

 

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Maret 2016 (unaudited) Bank BTN mencatatkan kredit dan pembiayaan tumbuh 18,9% menjadi sebesar 143 Triliun. Sedangkan untuk kredit dan pembiayaan pada periode yang sama tahun 2015 tercatat Rp.120 Triliun. Pertumbuhan kredit pada Triwulan I 2016 ini sekaligus menjawab permintaan masyarakat terhadap rumah masih cukup tinggi.


Khusus untuk pasar Bank BTN, pertumbuhan kredit untuk triwulan I 2016 ini adalah potret permintaan masyarakat akan hunian kelas menengah bawah masih cukup tinggi. Kami optimis dengan potret kinerja kredit triwulan I 2016, Bank BTN akan dapat memenuhi target yang ditetapkan sampai dengan akhir tahun 2016. Demikian ungkap Maryono Direktur Utama Bank BTN.


Perseroan juga berhasil mendorong Dana Pihak Ketiga tumbuh 20% atau tumbuh menjadi sebesar Rp.131 Triliun dari posisi yang sama tahun 2015 yang sebesar Rp.109 Triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga ini juga melampaui rata-rata industri yang hanya tumbuh 6,9%. Sementara itu Aset perseroan juga tumbuh 19,5% dari aset posisi yang sama tahun 2015. Pada triwulan I tahun 2016 Bank BTN berhasil mencatatkan Aset sebesar Rp.178 Triliun tumbuh dari aset periode yang sama tahun 2015 sebesar Rp.149 Triliun. Pertumbuhan aset ini berada diatas industri yang pertumbuhannya rata-rata hanya berada pada 7,6%.


Sedangkan laba yang berhasil dibukukan pada Triwulan I 2016 tercatat laba bersih sebesar Rp.491 Milyar. Laba perseroan ini tumbuh 22% dibanding perolehan laba periode yang sama tahun 2015 sebesar Rp.402 Milyar. Perolehan laba bersih perseroan ini juga berada diatas rata-rata industri dimana pada umumnya pada periode yang sama laba industri tumbuh secara melambat. Bank BTN berhasil memperoleh net interest income sebesar Rp1,8 Triliun. Perseroan juga berhasil memupuk fee based income sebesar Rp.262 Milyar.  


Untuk NPL sendiri, berdasarkan laporan keuangan Triwulan I 2016 bank ini berhasil menurunkannya menjadi 3,59% (gross) turun dari NPL periode yang sama sebesar 4,78%. “NPL Nett perseroan sendiri tercatat 2,34%. Kami berhasil menekan NPL dibawah 4% pada triwulan I tahun 2016, sesuai dengan target perseroan untuk terus memperbaiki kualitas kredit dengan target NPL di bawah 3% pada akhir tahun 2016,” kata Maryono lagi. Sementara Rasio keuangan juga menunjukan hasil yang menggembirakan. Rasio CAR, NIM, ROA dan ROE perseroan masing-masing tercatat 16,50%, 4,59%, 1,56% dan 15,89%.  


Sukses Bank BTN juga ternyata diikuti oleh unit syariah di bank ini. Meski saat ini masih berstatus UUS (unit usaha syariah), ternyata kinerjanya sangat baik. Berdasarkan laporan keuangan Triwulan I 2016 Aset UUS tercatat sebesar Rp.14,7 Triliun atau tumbuh dari aset posisi yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp.11,4 Triliun. Aset UUS ini tumbuh 29,5%. Sementara itu UUS juga berhasil meningkatkan Dana Pihak Ketiga menjadi sebesar Rp.12 Triliun atau tumbuh dari tahun 2015 sebesar Rp.8,9 Triliun. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga ini mencapai 34,4%.

Membidik Aset Rp700 Triliun

Ambisi besar yang tengah dikejar Bank BTN saat ini adalah menargetkan perolehan aset perseroan menjadi Rp700 triliun pada tahun 2019. Jumlah tersebut meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan aset BTN pada kuartal I/2016 yang menembus angka Rp178 triliun.


 “Kenaikan aset BTN yang lebih dari tiga kali lipat ini seiring dengan rencana pembentukan holding Bank BUMN. Kalau Holding Bank BUMN bisa terwujud, maka kami yakin bisa mencapai aset Rp700 triliun,” ujar Direktur Utama BTN Maryono, kemarin.


Maryono menjelaskan, dengan adanya holding Bank BUMN, maka dipastikan permodalan perbankan akan lebih besar, leverage juga akan meningkat serta bank-bank milik pemerintah akan lebih efisiensi. Dia mencontohkan, saat ini BTN hanya memiliki 1.800 unit ATM, maka jika holding bank BUMN direalisasikan, maka nasabah BTN juga melakukan transaksi di ATM milik bank BUMN lainnya yang kini mencapai 56.000 unit. “Kalau kita kekurangan modal, tinggal bilang sama holding untuk dicarikan. Jadi kita tidak perlu khawatir lagi mengenai pembiayaan untuk ekspansi kredit, bisa saling bersinergi,” katanya.


Menurut Maryono, ide penggabungan tersebut dianggap menjadi sesuatu yang positif, karena dari sisi aset empat Bank BUMN seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), masih kalah dari perbankan asing dari Malaysia atau Singapura. “Dengan bisnis yang lebih terarah, diharapkan masing-masing bank BUMN bisa mencatatkan pertumbuhan yang lebih baik,” tuturnya.


Lebih lanjut Maryono mengungkapkan, untuk mencapai target aset Rp700 triliun, maka BTN harus mempersiapkan diri secara baik salah satunya melalui pelayanan prima. Program satu juta rumah yang menjadi amanah pemerintah juga menjadi andalan BTN untuk mendongkrak peningkatan aset. “Jadi untuk membiayai program satu juta rumah itu kami tidak akan melakukan dengan cara konvensional tetapi dengan cara digital,” tegasnya.


Maryono menuturkan, diera digital ini, maka nasabah BTN juga harus dilayani secara digital. Untuk itu perseroan saat ini sedang mengembangkan KPR Digital yang akan memudahkan nasabah memiliki rumah.  “Kalau secara manual tentu prosesnya akan lama, tetapi dengan digital prosesnya akan lebih cepat,” paparnya.


Menurut Maryono, dengan layanan digital tersebut perseroan optimis dari program satu juta rumah itu, tahun ini BTN bisa melakukan pembiayaan 600.000 unit rumah. Sedangkan tahun depan, ditargetkan pembiayaan akan bertambah lagi menjadi 700.000 unit. “Kalau ada holding bank BUMN, bahkan kami optimistis bisa mengejar dua juta unit agar backlog perumahan bisa terus berkurang,” katanya.


Maryono optimistis program satu juta rumah akan sangat diminati masyarakat khususnya untuk tipe menengah-bawah. Pasalnya, dibeberapa daerah potensi dan permintaan akan rumah masih sangat tinggi. “Untuk rumah menengah atas memang permintaannya masih lambat. Tetapi untuk menengah bawah permintaannya sangat tinggi,” jelasnya.


Dia mencontohkan banyaknya permintaan pembangunan rumah di sepanjang pinggir tol Cikampek-Palimanan (Cipali). Selain itu, dampak pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitar lokasi yang sedang dikembangkan. “Ini tentu berdampak pada permintaan rumah juga,” paparnya.


Menurut Maryono, adanya pembangunan Tol Cipali sangat dirasakan masyarakat, ini terlihat dari permintaan hunian di Kabupaten Batang, Semarang dan Cirebon, Jawa Barat. “Di Kabupaten Batang ada permintaan rumah baru sebanyak 3.000 unit, dimana sekarang telah teralisasi sekitar 1.200 unit. Sedangkan di wilayah Cirebon, Jawa Barat ada permintaan 6.000 rumah baru,” katanya.


Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2016, pembiayaan perumahan kelas menengah bawah yang menjadi bisnis inti Bank BTN, mencatatkan adanya peningkatan.  Kredit dan pembiayaan yang disalurkan naik 18,9%, dimana pertumbuhan tersebut diatas rata-rata industri yang hanya naik sekitar 8,1%.  Adanya peningkatan kredit mendorong aset Bank BTN naik 19,5% menjadi Rp143 triliun. Ini juga berada diatas rata-rata industri yang rata-rata hanya tumbuh 7,6%.


Adapun total aset Bank BTN saat ini tercatat mencapai Rp178 triliun berada di posisi keenam perbankan terbesar di Indonesia, menggeser PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang sekarang turun pada posisi tujuh.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250