Search:
Email:     Password:        
 





Best Corporate Performance 2016

By Benny Kumbang (Editor) - 20 January 2017 | telah dibaca 1395 kali

Bank BTN, Tak Sekadar Membangun Rumah

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa

Adalah impian besar setiap orang untuk bisa memiliki rumah. Namun, tak semua orang bisa mewujudkan mimpi ini. Sebab, untuk mewujudkannya menjadi upaya yang tak kenal lelah. Butuh banyak tenaga dan biaya untuk merealisasikan mimpi memiliki rumah menjadi kenyataan. Untuk membantu mewujudkan harapan-harapan itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) berkomitmen hadir menjadi sahabat masyarakat Indonesia.
Komitmen inilah yang menjadikan Bank BTN tampil sebagai bank yang dekat dengan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan rumah.

 

Sejak didirikan 66 tahun silam, Bank BTN terus membantu rakyat Indonesia untuk dapat memiliki hunian yang layak. Dengan skema kredit pemilikan rumah (KPR) yang menjadi ikon bank mortgage ini, jutaan rakyat telah terbantu meraih harapannya mendapatkan rumah.


Sejarah mencatat, KPR merupakan skema pembayaran yang dipelopori oleh Bank BTN. Bidikannya, yakni kalangan menengah ke bawah. Termasuk, para keluarga muda. Kini, mereka dapat memiliki rumah seharga ratusan juta rupiah, meski upah bulanannya tak mencapai puluhan juta.


Penugasan itu bermula dari Surat Menteri Keuangan RI No. B-49/MK/1/1974 yang dikeluarkan pada 29 Januari 1974. Setelah surat itu diterbitkan, Bank BTN pun mengucurkan KPR pertama pada tahun 1976 untuk 9 unit rumah di Semarang, Jawa Tengah. Tak lama berselang, disusul pemberian KPR untuk 8 unit rumah di Surabaya.

Waskita Karya, 56 Tahun Membangun Negeri

Naskah: Giattri F.P., Foto: Sutanto/Dok. Waskita Karya/Istimewa

Sebagai kontraktor BUMN terbesar di Indonesia, PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah menjadi yang terdepan dalam membangun infrastruktur negeri. Dalam dasa warsa terakhir perusahaan yang dipimpin oleh M. Choliq ini dengan konsisten menunjukan kinerja yang positif. Pada Kuartal III 2016, Waskita mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,088 triliun meningkat 171,7% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp400 miliar.

 

Sejak berdiri tahun 1961 hasil nasionalisasi perusahaan Belanda bernama Volker Aanemings Maatschappij NV, Waskita telah dipercaya untuk membangun proyek-proyek strategis skala Nasional diantaranya; Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang (1985) hingga Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta (2016), Jalan Tol Cipularang, Jawa Barat (2005), Jalan Tol Nusa Dua Tanjung Benoa, Bali (2015), Jembatan Merah putih, Maluku (2016), Jembatan Suramadu, Jawa Timur (2009), Bendungan Jati Gede, Jawa Barat (2015), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (2002), serta proyek prestisius gedung antara lain Wisma BNI 46, Jakarta (1996) dan Hotel Shangri-La, Jakarta (2008).


Tahun 2012 Waskita berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan menggalang dana publik sebesar Rp1,2 triliun, dilanjutkan dengan memperkuat struktur permodalan melalui Rights Issue pada 2015 sebesar Rp5,3 triliun yang terdiri dari Rp3,5 triliun Penyertaan Modal Negara dan Rp1,8 triliun dana publik. Kini, Ekuitas Waskita menjadi Rp16,194 triliun dengan total aset perusahaan mencapai Rp50,282 triliun.


Menginjak usia 56 tahun, Waskita telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kompetisi Jasa Kontruksi dengan membentuk divisi-divisi spesialis, antara lain, Divisi I yang berfokus pada proyek infrastruktur dan bangunan sipil. Divisi II yang memiliki keahlian proyek gedung bertingkat dan LRT serta Divisi Regional Barat dan Divisi Regional Timur yang mengerjakan proyek-proyek berdasarkan wilayah geografis.


Lebih dari itu, Waskita juga telah melakukan transformasi usaha. Dari yang semula hanya perusahaan jasa konstruksi konvensional, Waskita kini melakukan ekspansi dengan mendirikan anak perusahaan antara lain usaha penyedia beton pracetak melalui PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), pengembang jalan tol melalui PT Waskita Toll Road, bidang realty melalui PT Waskita Karya Realty, dan bidang pembangkitan listrik melalui PT Waskita Karya Energi.


Pendirian WSBP tiga tahun lalu, sebagai rencana strategis anak perusahaan mendukung proyek-proyek Waskita khususnya kebutuhan konstruksi jalan tol. Kini WSBP telah memiliki 8 pabrik beton pra cetak (precast plant) dengan kapasitan produksi 2,3 juta ton per tahun. Anak perusahaan Waskita ini juga memiliki 28 pabrik olahan beton (batching plant).

Bank Bukopin Memacu Pertumbuhan Berkelanjutan

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Bukopin/Istimewa

PT Bank Bukopin, Tbk. Terus memacu kinerja untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan. Kesuksesan Bank Bukopin pada 2016 diraih dengan pencapaian laba sebesar Rp1,1 triliun hingga kuartal III/2016, tumbuh sebesar 12,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 978 miliar.

 

Sementara laba bersih bank dengan kode emiten BBKP tersebut hingga kuartal III/2016 mencapai Rp 884 miliar, meningkat 10,7% secara year-on-year. Pertumbuhan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga Perseroan sebesar 13,45% menjadi Rp 6,9 triliun. Sementara pendapatan operasional lain Perseroan juga tumbuh 12,15% menjadi Rp1 triliun.


Direktur Utama PT Bank Bukopin, Tbk. Glen Glenardi menjelaskan bahwa tren tersebut sejalan dengan strategi Perseroan yang memacu pertumbuhan pada sektor ritel dan melalui pos pendapatan non bunga (fee based income). “Hingga triwulan III tahun 2016, kredit yang disalurkan Bank Bukopin mencapai Rp73,1 triliun, meningkat dibandingkan dengan posisi September tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp62,7 triliun,” ujarnya dalam satu kesempatan.


Menurut Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin, Tbk, Eko Rachmansyah Gindo, pertumbuhan kredit Perseroan juga diikuti oleh kenaikan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang tumbuh sebesar 10,92% secara year on year menjadi Rp1,3triliun. “Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan bisnis Perseroan dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
Kemampuan penyaluran kredit tersebut didukung oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat. Posisi DPK Bank Bukopin bertumbuh 6,68% menjadi Rp78,5 triliun dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp73,5triliun.

Bank Mayapada Kinerja Meningkat, Alam Terjaga

Naskah: Sahrudi Foto: Istimewa

Sukses dalam menjaga kinerja dan meningkatkan performa perseroan, Bank Mayapada juga mampu memperlihatkan entitas bisnis yang peduli terhadap lingkungan.

 

Dari sekian banyak bank swasta nasional, Bank Mayapada boleh dibilang sebagai bank swasta yang dua tahun belakangan ini memiliki progres luar biasa. Tengok saja di tahun 2015, ketika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, bank ini malah membukukan kinerja yang lumayan. Dimana sepanjang kuartal III tahun 2015 Bank Mayapada mampu mencatatkan kenaikan penyaluran kredit sebesar 20% menjadi Rp 27,4 triliun. Kenaikan itu menjadi pendongkrak utama laba Bank Mayapada. Hingga akhir September 2015, laba bersih bank dengan kode saham MAYA ini meningkat  32,27% menjadi sebesar Rp 500 miliar.


Di tahun 2016, bank milik filantropis Dato’ Sri Tahir ini juga memperlihatkan kinerja yang berkilau. Pada semester I 2016 laba bersih perseroan tercatat meningkat 67,74 persen dari Rp 327 miliar di semester I 2015 menjadi Rp 548 miliar di semester I 2016. Kenaikan laba ini ditopang pendapatan bunga yang naik 21,7 persen dari Rp 2,3 triliun di semester I 2015 menjadi Rp 2,8 triliun di semester I 2016. Laba per saham pun tercatat naik menjadi Rp 127,49 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,8 per saham.


Sukses kembali diulang pada September 2016 dimana Bank Mayapada mampu membukukan laba bersih komprehensif sebesar Rp761,751 miliar, naik 48,4% (YoY) jika dibandingkan laba bersih Rp513,306 miliar periode sama tahun 2015. Adapun dana pihak ketiga(DPK) yg berhasil didapatkan juga meningkat hingga September 2016 ini menjadi sebesar Rp.46,897 triliun. Bahkan pada laporan keuangan bulanan di November 2016, laba komprehensif ini meningkat menjadi sebesar Rp. 1,74 triliun. Padahal, perlambatan ekonomi saat itu masih terasa.


Sementara untuk kredit macet (NPL) mengalami penurunan per September 2016, dimana posisi NPL gross berada di 2,38% turun menjadi 1,69% pada Desember 2016.


Tentu saja keberhasilan demi keberhasilan yang diraih bank dibawah kepemimpinan Hariyono Tjahjarijadi sebagai Direktur Utama, ini mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari lembaga bergengsi antara lain sebagai “Bank Umum Swasta Devisa Terbaik” (Bisnis Indonesia), Bank Terbaik 2016, Kategori “Bank Umum Aset > Rp. 25 T- Rp. 100 T” (Majalah Investor Awards), “Platinum Trophy” atas kinerja keuangan “Sangat Bagus” di tahun 2006-2015 (Infobank), kemudian mendapatkan Peringkat 1 kategori Buku 2 untuk Finance, Good Corporate Governance, Legal dan Risk Management (Anugerah Perbankan Indonesia 2016 oleh Majalah Economic Review). Bank Mayapada juga masuk dalam Top 50 Companies, Best of The Best Awards List 2016 (Forbes Indonesia), Peringkat 1 Buku 2, Kelompok usaha bank pada sektor keuangan (Anugerah Perusahaan Terbuka 2016 oleh Majalah Economic Review) dan TOP Bank 2016 kategori Buku 2 (Top Bank 2016 oleh Majalah BusinessNews Indonesia).


Dalam konteks pengelolaan, bank ini juga menyabet Penghargaan GCG terbaik perusahaan TBK (Swasta) di Indonesia dengan Predikat sangat baik (A) (Indonesia Good Corporate Governance Awards oleh Majalah Economic Review).


Konsentrasi Bank Mayapada yang sejak tahun 2016 mempertahankan aktivitas pemasaran yang intensif untuk produk funding terus berjalan dengan baik melalui produk unggulannya seperti “My Saving”, “My Saving Super Benefit”, “My Family Saving”, “My Depo”, “My Dollar”, “My Giro”, serta peluncuran produk tabungan baru yang diprakarsai oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu Tabungan Simpel.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250