Search:
Email:     Password:        
 





Rektor Inspiratif 2017

By Benny Kumbang (Editor) - 20 May 2017 | telah dibaca 589 kali

Dwia Aries Tina Pulubuhu, Srikandi Pendidikan dari Timur

Naskah: Giattri F.P., Foto: Dok. Pribadi

Tak salah menyebut Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA. sebagai  salah satu Rektor Terbaik yang dimiliki negeri ini. Betapa tidak, kiprahnya dalam membangun Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar untuk menjadi universitas berkelas dunia patut diacungi Jempol. Srikandi pendidikan ini pun berhasil membawa Unhas satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum di Kawasan Timur Indonesia.

 

Dwia mengawali kuliah S1 Sosiologi di Universitas Airlangga, Surabaya yang kemudian menikah dengan pria Bugis lalu menetap di Makassar. Ia pun mencoba mendaftar menjadi dosen Sosiologi di Unhas tahun 1988, hingga kemudian resmi diangkat pada tahun 1989. Sejak saat itu, ia juga melanjutkan pendidikan tingkat S2 hingga doktoral S3 dengan beasiswa luar negeri.

 

Di Unhas, Dwia mengawali karier struktural dengan menjadi Sekretaris Program Studi Sosiologi pada program pascasarjana Unhas tahun 2000 hingga 2002. Baru di tahun 2006 ia dipercaya menjadi Wail Rektor IV selama 2 periode.

 

Tahun 2014, Unhas menggelar pemilihan Rektor. Selama 58 tahun dan 11 pergantian Rektor, Unhas belum pernah memiliki rektor perempuan. Akhirnya, Dwia pun mengajukan diri, apalagi niatnya ini juga didukung teman-temannya. 

 

“Saya tertantang untuk maju menjadi rektor karena melihat banyak potensi di Unhas yang bisa menjadi sumber daya agar Unhas menjadi lembaga pendidikan tinggi yang lebih baik.  Selain itu, secara pribadi terdorong untuk membuktikan bahwa seorang perempuan juga bisa memimpin perguruan tinggi dengan sukses,” tandas Dwia.

 

Prosesnya cukup panjang, Dwia harus bekerja keras meyakinkan para senator dan menunjukkan ia mampu mengemban tugas tersebut. Selain itu, ia juga harus meyakinkan civitas akademika bahwa dirinya memiliki program bagus dan bisa ikut memajukan Unhas. 

 

Perjuangannya berbuah hasil, perempuan kelahiran Tanjung Karang, Lampung 16 April 1964 ini menjadi rektor perempuan pertama Unhas. Istri M. Natsir Kalla ini mendapatkan kesempatan dan dipercaya sebagai rektor ke 12 Unhas  periode 2014-2018. 

 

Dalam mengemban tugas mulia ini, ia menerapkan beberapa konsep pendidikan dalam menakhodai Unhas, seperti memprioritaskan peningkatan budaya akademik (academic culture) dikalangan civitas academica. Sehingga masing-masing civitas academica berlomba-lomba membuat prestasi dalam menjalankan tugasnya. 

Erning Wihardjo Membawa UKRIDA Go International


Naskah: Indah Kurniasih, Foto: Edwin B.

Dedikasi dan pengabdiannya sebagai akademisi di Universitas Krida Wacana (UKRIDA), membuahkan hasil. Sampai pada puncaknya pada 2016 lalu, Dr. (Eng) Drs. Erning Wihardjo, M.Eng., M.Eng.Sc, diberi kepercayaan yang lebih tinggi lagi, menjabat Rektor Ukrida. Di bawah kepemimpinannya, Ukrida menorehkan pencapaian yang membanggakan, seperti memprakarsai berdirinya beberapa jurusan baru di Indonesia, memperbarui sarana dan prasarana, pembinaan pengembangan karakter, serta persiapan Ukrida untuk go international.     

Ketika kali pertama menjabat Rektor, hal pertama yang terlintas dalam benaknya, adalah membuka dua jurusan baru yang akan melengkapi dunia medis di tanah air. Adalah jurusan Optometri dan Clinical Enginering yang kini sedang dalam tahap persiapan, dan rencananya akan diresmikan dalam satu hingga dua tahun mendatang. “Optometri merupakan salah satu cabang ilmu kesehatan yang menangani para pasien dengan kelainan bawaan pada mata sejak lahir dan mata tua (presbyopia). Hanya saja belum ada satupun perguruan tinggi di Indonesia yang membuka jurusan Optometri ini untuk jenjang sarjana dan pasca sarjana. Padahal ahli Optometri sebenarnya sangat dibutuhkan, karena ahli Optometri tidaklah sama dengan dokter mata, sebab memiliki induk ilmu yang berbeda,” terang pria yang juga pernah mendalami ilmu Optometri ini. 

 

Menyadari betul betapa pentingnya jurusan ini, ia memiliki harapan besar agar pendidikan Optometri bisa berkembang dan tidak lagi jalan di tempat. Indonesia perlu mengejar ketertinggalan dalam pendidikan Optometri dibandingkan dengan negara negara lain seperti Malaysia yang telah memiliki program S3. Selain itu, jurusan lain yang tak kalah penting dalam mendukung ilmu medis, adalah  Clinical Enginering yang dipersiapkan untuk para calon mahasiswa yang tertarik untuk menjadi ahli dalam mengoperasikan dan menjaga fungsi berbagai perlengkapan & peralatan medis yang canggih, rumit dan presisi tinggi.  

 

Erning juga tengah melakukan perubahan pada sebagian besar infrastruktur di Ukrida. Antara lain, ia ingin menjadikan Kampus Ukrida sebagai kampus hijau yang asri. Ia merealisasikannya dengan langkah awal membuat taman sepanjang jalan utama agar siapa pun sebagai penjalan kaki dapat menikmatinya, lengkap dengan kolam yang terletak pada bagian dalam kampus. Tak hanya itu, Erning juga mengganti semua tanaman plastik dengan tanaman asli. 

 

Selain kampus hijau, Erning juga berupaya menjadikan Ukrida sebagai tempat yang nyaman untuk para mahasiswanya. Ia menyediakan beberapa spot yang bisa dijadikan tempat untuk berkumpulnya para mahasiswa untuk berdiskusi dan belajar bersama. Tak hanya itu, lulusan Tokyo Institute of Technology dan mantan CEO Hoya Lens Singapore Pte., President Direktur PT. Adiguna Lensa Prima, Jakarta dan Director of Hoya Vision Care, Asia Pacific Headquarter, Singapore, juga tengah memperlengkapi sebuah tempat yang mendukung fasilitas belajar mengajar siswa dengan suasana sangat nyaman, yang diberi nama Junction. Tempat ini telah dan terus dikembangkan  penempatan sejumlah cafe yang dijadikan sebagai laboratorium mahasiswa Fakultas Ekonomi. Untuk mendukung kegiatan praktek Fakultas Ekonomi, Junction juga menyediakan beberapa tempat usaha lengkap dengan produk-produk inovasi baru yang menjadi bentuk nyata program dan mata kuliah entrepreneurship yang diajarkan pada para mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Ekonomi.

Joni Hermana, Tak Hanya Transfer of Knowledge, Tapi Juga Transfer of Value

Naskah: Gyattri F.P., Foto: Sutanto

Sejak dipercaya menjadi Rektor Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) pada 2015 lalu, berbagai gebrakan telah dilakukan Prof. Ir. Joni Hermana, MScEs., Ph.D. Maka tak ayal, berbagai penghargaan baik dari dalam dan luar negeri diraih ITS. Kini, pria kelahiran Bandung, 18 Juni 1960 ini berkomitmen mempersiapkan kampusnya menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN BH) terbaik di Indonesia.

 

Perjalanan karir Joni sebelum menjadi orang nomer wahid di ITS terbilang panjang, pada 1986, setelah menyelesaikan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB), pria rendah hati dan humble ini menjadi dosen di ITS. 

 

Pada 1989, Joni kembali ke Belgia untuk melanjutkan program magister. Ia mendapatkan beasiswa pada bidang studi Sanitasi Lingkungan University of Ghent, Belgia. 

 

Dua tahun berselang, ia pulang ke Indonesia dan melanjutkan tugas sebagai dosen di ITS. Setahun Joni mengajar, terbersit keinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar doktor. Akhirnya, melalui beasiswa Asian Development Bank (ADB), ia menempuh S-3 di University of Newcastle, UK.

 

Lulus S-3 pada 1997, Joni dan keluarga kembali ke Surabaya. Ia mulai mengajar dan tentu mengembangkan Jurusan Teknik Lingkungan hingga menjadi Ketua Program Studi S-2 Teknik Lingkungan.

 

Karirnya terus melejit. Joni kemudian menjadi Wakil Dekan I pada 2003, lalu menjadi Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan pada 2007. Puncaknya, pada 2015 ia dipercaya menjadi Rektor ITS periode 2015/2019.

 

Saat menjadi Rektor, Joni menerapkan konsep transfer of value dalam proses pendidikan di ITS. “Saya melihat di Indonesia itu banyak orang pintar, tapi kemudian kepintaran itu digunakan untuk mengakali orang lain. Ketika saya menjadi Rektor, saya memiliki misi harus dapat mengubah attitude seperti itu, jadi tak hanya transfer of knowledge, tapi juga transfer of value dengan membangun soft skills, yakni Emotional Quotient, Spiritual Quotient, Creativity Quotient, dan Adversity Quotient, ” tandas ayah empat anak ini.

 

Tak hanya itu untuk menciptakan generasi yang unggul, Joni pun menerapkan sistem pendidikan leading by example. “Kalau mahasiswa teknik hanya dididik bidang keteknikan saja, saya khawatir akan menjadi tukang, saya tidak mau seperti itu. Saya ingin mereka menjadi leader, punya jiwa leadership, entrepreneurship, dan akhlak yang bagus. Caranya pendidik harus bisa menjadi contoh,” urainya.

Kadarsah Suryadi ITB Menuju Entrepreneurial University

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

 Mengabdi di dunia pendidikan sejak awal meniti karier, merupakan pilihan hidup bagi Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA. Loyalitas, dedikasi, serta pengabdiannya pada dunia pendidikan di Indonesia, dan kampus almameternya, Institut Teknologi Bandung (ITB) membuahkan hasil. Belum lagi segudang prestasi yang ditorehkan serta gagasan-gagasan briliannya untuk membawa nama ITB lebih besar lagi. Rasanya tak salah jika ia didapuk sebagai Rektor ITB periode 2015 – 2020 untuk yang pertama kalinya melalui musyawarah mufakat.

 

Ya, memimpin ITB sejak 2015 lalu, Kadarsah memiliki tujuan dan visi misi besar ingin membawa ITB menjadi Entrepreneurial University. Ditemui di gedung Rektorat ITB, Bandung, beberapa waktu lalu, Kadarsah bercerita banyak mengenai gagasan-gagasan serta pemikiran besar yang telah dan akan diimplementasikan di kampus pencetak ilmuwan ini. “Jadi ketika 20 Januari 2015 saya dilantik, saat itu saya menyatakan bahwa ITB akan saya bawa bergerak dari research University menuju Entrepreneurial University, tanpa meninggalkan teaching and learning,” ungkapnya dengan ramah.   

 

Kadarsah memaparkan bahwa ada tiga syarat utama untuk menuju Entrepreneurial University. Pertama, adalah excellent in teaching and learning yang terfokus pada program akreditasi internasional disamping akreditasi nasional. Kemudian continuous improvement yakni suatu perbaikan dari masa ke masa untuk mencapai standar internasional. “Jadi dengan demikian maka program pertama saat ini dari 49 program studi, sudah ada 25 yang terakreditasi internasional. Dan kita akan lengkapi sampai akhir 2019 semua program S1 harus akreditasi internasional. Nah ini program pertama dalam entrepreneurial,” pungkas pria kelahiran Kuningan, 22 Februari 1962 ini. 

 

Setelah itu Excellent in Research, merupakan syarat kedua untuk menuju Entrepreneurial University. Dalam hal ini, Kadarsah memberikan motivasi kepada semua dosen dan para peneliti untuk bisa meningkatkan publikasi hingga dunia internasional. Hal tersebut bertujuan agar dunia lebih mengenal karya anak bangsa. Kadarsah memberikan contoh, antara lain, peran ITB pada Program Kemenristek Dikti yakni Program Unggulan Iptek (PUI) yang cukup besar. 

 

Kemudian Excellent in Innovation, merupakan program para inovator ITB yang siap terjun ke masyarakat. Kadarsah menegaskan, kini ITB memiliki 76 inovator yang turut berperan di masyarakat, antara lain inovator yang berhasil membuat handphone nasional, kemudian berhasil menciptakan menara BTS di udara yang bisa terbang dengan tujuan ingin mencapai daerah-daerah yang tidak dapat menerima akses menara BTS konvensional. 

Mochamad Ashari, Membawa Telkom University Menuju Global

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

Mengemban tanggungjawab sebagai Rektor universitas berbasis ICT (information and communication technology), merupakan komitmen yang tidak ringan. Namun berbekal pengalamannya di dunia pendidikan tinggi, Prof. Ir. Mochamad Ashari, M.Eng., Ph.D. mampu menjalankannya dengan sangat baik. Di bawah kepemimpinannya, nama dan kiprah Telkom University kian berkibar, tak hanya dikenal di dunia pendidikan nasional, namun juga telah berhasil meraih pengakuan dunia internasional melalui sertifikasi Standar Internasional ISO 20000-1:2011. Sertifikasi tersebut belum pernah di raih oleh universitas manapun di Indonesia terkait manajemen layanan sistem informasi. 

 

Telkom University merupakan universitas retasan dari beberapa Perguruan Tinggi rintisan Telkom Indonesia melalui Yayasan Pendidikan Telkom (YPT). Diresmikan pada Agustus 2013 lalu, hasil penyatuan dari empat institut, yaitu; Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), Institut Manajemen Telkom (IM Telkom), Politeknik Telkom, dan Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Indonesia Telkom (STISI Telkom). 

 

Profesor bidang Elektro ini kemudian menyinergikan semuanya menjadi satu, Telkom University. “Setelah semua berkomitmen bersatu, kita memulai dari awal. Artinya memulai dengan langkah baru yang memang berbeda sama sekali. Kemudian tugas rektor untuk menggabungkan ini, terwujud. Alhamdulillah menuju tahun ke 4 ini banyak sekali cita-cita atau visi yang sudah hampir terpenuhi,” terang Ashari mengawali perbincangan. Selanjutnya, Ashari memiliki visi misi besar, yakni ingin menjadikan Telkom University menjadi Perguruan Tinggi berkelas dunia yang ikut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan seni berbasis Teknologi Informasi.

 

Untuk mewujudkan pencapaian terbesarnya, Ashari dan tim bekerja ekstra keras. Perjuangan mereka pun membuahkan hasil. Hanya dalam hitungan tiga tahun, nama Telkom University sudah masuk dalam daftar peringkat dunia dari data International College and University (ICU). Sementara di Indonesia, nama Telkom University berada pada posisi 14 nasional dari total 4500 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia, dan peringkat nomor 2 untuk Perguruan Tinggi swasta di Indonesia. 

 

Kemudian untuk penilaian kampus hijau green metric, Telkom University berada di peringkat 11 nasional, dan peringkat 172 di dunia yang dinilai dari puluhan ribu universitas yang ada di dunia. Yang juga sangat membanggakan adalah akreditasi institusi dari BAN PT, Telkom University mendapat nilai Unggul A, dan masuk ke dalam 50 Perguruan Tinggi yang mendapat akreditasi institusi BAN PT dari total 4500 Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. 

 

Tak hanya itu, dari sisi penelitian jumlah publikasi dosen internasional untuk Telkom University juga melonjak drastis, mampu mencapai 760 dosen dari semula tercatat hanya 61 dosen pada 2013 lalu, peringkat kedua Perguruan Tinggi Swasta yang terproduktif dalam publikasi ilmiah internasional, dan peringkat 16 untuk seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia. “Komitmen kami mengemuka, dapat terlihat dari produktifitas riset yang bagi perguruan tinggi itu adalah harga yang mahal. Alhamdulillah, dosen di lingkungan Telkom University sangat antusias untuk kemajuan progresif. Kita dari manajemen juga satu suara, kemudian dari Yayasan juga support.” ujarnya penuh rasa syukur. 

Nandang Sutrisno, Kerja Ikhlas Untuk UII

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Pribadi

Mengawali karier sebagai seorang dosen di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Nandang Sutrisno, SH., LL.M., M.Hum., Ph.D, tak pernah menyangka dedikasi dan loyalitasnya sebagai seorang pendidik membuahkan hasil. Kariernya perlahan lahan, selangkah demi selangkah meningkat. Beberapa jabatan strategis pernah diembannya dengan penuh tanggungjawab, hingga pada puncaknya ia dipercaya menjabat Rektor di kampus almameternya itu. 

 

Ya, perjalanan karier Nandang dimulai dari bawah. Setamat kuliah S1 jurusan Hukum di UII pada tahun 1987, Ia memulai kariernya sebagai seorang dosen. Kariernya kemudian meningkat selangkah demi selangkah. Beberapa jabatan strategis pernah diembannya. Dari seorang dosen, ia kemudian menjabat Ketua Jurusan Hukum Internasional, Wakil Pengelola Program Magister Hukum, Wakil Dekan Fakultas Hukum, Wakil Rektor I, Ketua Pengelola Program Doktor, hingga pada akhirnya ia diberi amanah menjabat Rektor UII pada Maret 2017 lalu. 

 

Bagi Nandang, tugas barunya sebagai rektor merupakan amanah yang harus diemban dengan penuh tanggung jawab. Meski secara otomatis aktivitasnya semakin padat, tugas dan tanggung jawabnya semakin banyak, hingga harus mengorbankan waktunya bersama keluarga. Namun ia tak pernah merasa lelah. Justru sebaliknya, ia merasa dengan menjadi seorang rektor, ia bisa memberikan dedikasinya untuk ruang lingkup yang lebih besar lagi.

 

“Sejak menjabat Rektor saya merasa bahwa saya semakin dibutuhkan oleh orang banyak. Dengan demikian saya merasa bahwa hidup saya lebih bermanfaat untuk orang banyak, baik kalangan akademis maupun masyarakat luas. Kegiatan-kegiatan akademis, sosial dan keagamaan juga meningkat signifikan,” ujar pria kelahiran Tasikmalaya 11 November 1960 ini.

 

Dalam bekerja Nandang banyak belajar dari para tokoh yang juga menjadi inspiratornya. Antara lain, para rektor pendahulunya, Prof. Zaini Dahlan yang merupakan sosok pemimpin yang ikhlas, dan Prof. Edy Suandi Hamid sebagai sosok pimpinan yang beretos tinggi. Ya, bekerja dengan ikhlas juga menjadi kunci suksesnya selama ini. Menurutnya, jika pekerjaan dilakukan dengan hati yang ikhlas, maka niscaya akan banyak tangan tak terlihat yang akan menuntunnya ke arah yang lebih baik lagi menuju kesuksesan. 

 

Sejak kali pertama diberi amanah menjabat Rektor, Nandang memulainya dengan membawa konsep melayani dan kepemimpinan partisipatif. “Dan yang juga penting adalah menciptakan suasana kerja yang produktif dan nyaman, serta mengerjakan pekerjaan sendiri dan bawahan secara detail,” pungkas lulusan S3 Hukum dari Australia ini. 

Tian Belawati, Berhasil Mengubah Image UT

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

Hidupnya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan nasional. Sejak kali pertama lulus kuliah, tepatnya pada 1985, Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D. mengabdi di Universitas Terbuka (UT). Berkat keuletan dan kegigihannya, kariernya meningkat setahap demi setahap. Hingga pada akhirnya ia dipercaya menjabat Rektor UT untuk periode 2009 – 2013 dan terpilih kembali periode selanjutnya, 2013 – 2017. Ya, dialah Rektor wanita pertama Universitas Terbuka. 



Perawakannya mungil namun terkesan sangat tegas dari gaya dan nada bicaranya, tampil apa adanya tanpa polesan makeup tebal. Mengenakan kemeja bercorak kotak warna merah jambu, Tian tampak jauh lebih muda dari usianya. Apalagi pembawaannya yang sangat energik, tak lupa senyuman manis dan tertawa lepas tanpa beban selalu menghiasi wajahnya yang sangat ekspresif. Itulah sedikit gambaran dari sosok salah satu wanita hebat di tanah air, rektor wanita di Indonesia yang mampu membawa perubahan untuk dunia pendidikan nasional. Tian, berhasil mengubah image UT menjadi salah satu pilihan Perguruan Tinggi Negeri yang diminati, terutama bagi mereka, para mahasiswa muda maupun siswa fresh graduate dari SLTA.

 

Ditemui di salah satu restoran hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan, dengan gaya bicaranya yang ceplas ceplos dan apa adanya, ia bercerita banyak mengenai pencapaian yang telah berhasil diraihnya selama 8 tahun memimpin UT, visi misi dan tugas besarnya untuk dunia pendidikan, terutama untuk UT, tak ketinggalan cerita cerita ringan soal kehidupan dan pribadinya pun meramaikan suasana.

 

“Banyak yang sudah dilakukan oleh UT dalam delapan tahun terakhir ini. Tapi yang utama bagi kami adalah ingin mengubah image. Tadinya orang mengenal UT itu sebagai Perguruan Tinggi yang hanya untuk guru, untuk orang berusia matang, dan  ada juga yang menganggap UT untuk ekonomi menengah ke bawah, sehingga imagenya ketika itu kalau kuliah di UT kurang prestise. Nah kami dalam delapan tahun terakhir ini berupaya mengubah image itu, memperkenalkan kepada masyarakat bahwa UT adalah sebuah Perguruan Tinggi Negeri yang modern, yang menggunakan IT terkini. Kemudian juga bahwa UT bukan hanya untuk guru dan bukan hanya untuk orang tua tapi untuk semua kalangan, mulai dari yang baru lulus SMA sampai mereka yang sudah memiliki karier tetapi ingin meningkatkan kompetensinya, atau ingin mempelajari bidang ilmu yang berbeda. Jadi saya kira itu adalah PR pertama yang saya lakukan ketika saya diangkat menjadi rektor,” Tian menerangkan dengan penuh semangat. 

 

Terbukti, berdasarkan data, tercatat mahasiswa UT dengan beragam rentang usia, mulai dari lulusan SMA yang berusia kurang dari 25 tahun, sekitar 25%, kemudian berusia kurang dari 30 tahun, lebih dari 50%, dan sisanya adalah mereka yang berusia lebih dari 45 tahun. Selain itu, di bawah kepemimpinan Tian, UT juga terus mengikuti perkembangan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Apalagi, UT merupakan universitas yang melakukan pembelajaran jarak jauh, sehingga sangat tergantung pada teknologi. 

Tri Hanggono Achmad, Wujudkan Kontribusi UNPAD terhadap Pembangunan Nasional

Naskah: Giattri F.P., Foto: Edwin B.

Tak berlebihan jika menyebut Prof. Dr. Med. Tri Hanggono Achmad, dr. sebagai salah satu Rektor Terbaik Indonesia. Betapa tidak, sejak dipercaya menakhodai Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung pada 2015 lalu berbagai terobosan digulirkan pria kelahiran Bandung 22 September 1962 itu untuk mewujudkan kontribusi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) itu terhadap pembangunan Jawa Barat dan Nasional.

 

Tri menuturkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir pernah mengatakan saat orasi ilmiahnya yang berjudul “Transformasi Perguruan Tinggi dan Daya Saing Bangsa”, Perguruan Tinggi dituntut untuk berkontribusi lebih nyata bagi perkembangan ekonomi dan kemajuan masyarakat melalui inovasi-inovasi yang berdampak nyata dan terletak di bagian hilir dari aliran penelitian.

 

Tri pun mengapresiasi kebijakan tersebut dengan melakukan berbagai terobosan inovatif. Ia berharap UNPAD tidak sekadar menjadi perguruan tinggi yang bermutu, namun juga mampu mendukung daya saing bangsa. 

 

“Untuk itu, perlu adanya penguatan jati diri lulusan dan institusi dengan cara menjadikan UNPAD sebagai institusi pendidikan tinggi yang transformatif yang diterjemahkan dengan mendekatkan aktivitas perguruan tinggi kepada masyarakat. Saya kira, ini juga sejalan dengan program Nawa Cita yang dicanangkan Pemerintahan Presiden Joko Widodo,” ujar Guru Besar bidang Clinical Biochemistry pada Fakultas Kedokteran UNPAD itu.

 

Di dalam proses pembelajaran, sambung pria yang menyelesaikan studi Doktornya di Institut of Clinical Biochemistry, School of Medicine, University of Bonn, Jeman, pada 1995 ini pola transformatif akan mendorong pengembangan kemampuan eksplorasi, analisis, dan sintesis dari informasi, pencapaian kompetensi inti untuk mencapai kerja tim yang efektif dalam sistem masyarakat, serta kemampuan adaptasi yang kreatif terhadap sumber daya global untuk diterapkan pada kebutuhan lokal. 

 

Salah satu kunci pembelajaran transformatif adalah menguatkan kembali peran guru besar sebagai pemimpin aktivitas akademik. Hal ini akan mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia yang dimiliki UNPAD. Dengan adanya upaya tersebut, maka fasilitas yang diberikan universitas akan terfokus pada penguatan academic leadership.

 

Penguatan Academic Leadership, imbuh Tri  juga mengubah arus pengelolaan kelembagaan di UNPAD. Selama ini banyak guru besar dan dosen yang memegang jabatan struktural sehingga aktivitas riset dan akademik tidak banyak ditingkatkan. Pada saat ini, UNPAD mendorong penuh peran guru besar dan dosen untuk melakukan riset dan menghasilkan inovasi. Pada sisi ini, maka mahasiswa juga dilibatkan secara aktif sebagai bagian penting dari transformative learning.

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250