Search:
Email:     Password:        
 





Muhammad Zainul Majdi Sang Tuan Guru

By Benny Kumbang (Editor) - 17 June 2017 | telah dibaca 3183 kali

Muhammad Zainul Majdi Sang Tuan Guru

Naskah: Imam.F/Gyattri.F/Arief RH/Sahrudi, Foto: Sutanto/Istimewa

Sosok ulama sekaligus umara ini mampu membuktikan kapasitasnya sebagai ulama dan gubernur sama baiknya. Di bawah nakhodanya, NTB mencetak tingkat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Kecintaan masyarakat kepada Hafiz
Alquran ini pun mengantarkannya menjadi Gubernur Nusa Tenggara Barat selama dua periode.

 

Zainul Majdi yang akrab disapa Tuan Guru Bajang mulai menunjukkan kapasitas dan minatnya kepada ilmu agama yang semakin dalam setelah lulus dari Madrasah Aliyah. Ia memilih untuk memperdalam Islam di tanah Mesir di Universitas Al Azhar, Kairo. Hebatnya, sebelum memasuki perguruan tinggi, Zainul muda sudah menuntaskan hafalan 30 juz Alquran di Ma’had Darul Qur’an wal Hadits Nahdlatul Wathan Pancor selama setahun (1991-1992).

 

Kemudian pada tahun 1992, Zainul muda berangkat ke Mesir untuk memperdalam ilmunya di Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar. Lulus setingkat S1 pada 1996, pria kelahiran Selong, 31 Mei 1972 ini memilih melanjutkan pendidikannya ke jenjang master. Lima tahun berikutnya, ia meraih Master of Art (MA) dengan predikat Jayyid Jiddan.


Tidak tanggung-tanggung dalam menimba ilmu, Zainul terus meningkatkan keilmuannya dengan melanjutkan program S3 doktor di bidang yang sama. Pada 8 Januari 2011, Zainul lulus dengan predikat Martabah EL-Syaraf El Ula Ma`a Haqqutba atau Summa Cumlaude.


Tak pernah terbayang bagi seorang ulama seperti Zainul untuk terjun ke pentas politik. Semuanya berawal karena hubungan akrab dengan tokoh reformis Yusril Ihza Mahendra yang mengajaknya maju sebagai anggota DPR-RI dari Partai Bulan Bintang.


Pilihannya masuk ke dalam politik bukan tanpa alasan. Menurut dia, dalam pengalamannya selama berdakwah, banyak sisi dakwah yang tidak bisa disentuh dengan kultural saja, tapi harus secara sistem melalui struktur politik.


Zainul pun terpilih sebagai anggota legislatif periode 2004-2009. Belum genap dalam masa jabatannya, tantangan untuk memimpin lebih tinggi menghampirinya. Banyak calon yang ingin meminangnya sebagai calon wakil gubernur, namun Yusril justru meyakinkannya untuk maju sebagai calon gubernur NTB. Diusung PBB dan PKS, ia sukses terpilih menjadi gubernur NTB periode 2008-2013.


Namanya mungkin tak setenar Gubernur lain yang wajahnya sering menghiasi berbagai media dan saluran televisi nasional. Namun kepemimpinan dan kinerjanya dalam memajukan daerahnya terbilang luar biasa.


Bukan hanya dalam pembangunan ekonomi untuk NTB, prestasi yang diukirnya selama menjadi provinsi berjuluk Bumi Gora itu antara lain meraih penghargaan sebagai Gubernur Termuda di Indonesia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia saat dilantik pada 28 Oktober 2009.


Zainul juga pernah menerima Lencana Ksatria Bhakti Husada Arutala yang merupakan penghargaan atas jasa-jasanya dalam pembangunan Bidang Kesehatan di daerahnya yang ditunjukkan dengan program revitalisasi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puksesmas) dan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin di luar Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).

Membangun dengan Visi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur

VISI menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr atau negeri makmur berlimpah ampunan dan kasih-sayang Tuhan sudah lama digaungkan the founding fathers negeri tercinta ini. Untuk mencapai visi itu tentu saja tidak mudah. Banyak jalan mendaki dan menurun dengan onak, duri, aral melintang serta jurang curam di kanan-kiri.


Namun, harapan itu harus selalu ada. Seperti semangat para pendekar zaman yang membangun Indonesia dari tak ada. Toh, Tuhan Semesta Alam pun melarang hamba-Nya untuk berputus asa. Selalu ada rahmat Tuhan di setiap niat, ide, dan proses menuju jalan yang diridhai-Nya.


Bagi Indonesia, keyakinan menembus visi itu adalah keniscayaan. Nyatanya, negeri ini memiliki sejumlah pemimpin daerah yang baik, memiliki kompetensi untuk menunaikan visi tersebut. Mereka tak hanya piawai me-manage sebuah wilayah (umarâ), melainkan juga menjadi penuntun dalam religiusitas (ulama).


Tak banyak memang. Tapi, segelintir sosok dengan predikat umarâ dan ulama itu menjadi gantungan harapan generasi muda di masa mendatang. Mereka memiliki ‘paket lengkap’ untuk menjadi pemimpin daerah yang ideal dalam konsep baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr. Sebuah konsep yang hanya akan terjadi ketika pemimpin daerah memiliki watak kepemimpinan Tuhan Semesta Alam.


Di satu sisi mereka menjadi pemimpin yang menentukan kebijakan, seorang inisiator, sekaligus penggerak rakyatnya. Di sisi lain, mereka berpikir dan bergerak dengan landasan sifat dan watak Tuhan: rahman, rahim, qudus, salam, muhaimin, dan seterusnya.


Indikator terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafûr pun jelas, yakni terciptanya kesejahteraan rakyat secara lahir dan batin, sumber daya alam yang terkelola dengan baik, dan menebarkan rasa damai bagi rakyat serta negara-negara di sekitarnya. Negeri model ini menjalankan manajemen pemerintahan dengan baik berdasarkan arahan Tuhan Sang Pencipta Alam.


Dan satu di antara segelintir itu adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi. Sosok umarâ sekaligus ulama ini mampu membuktikan kapasitasnya sebagai ulama dan pemimpin di daerahnya. Di bawah nakhodanya, NTB mencetak tingkat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Di saat yang sama, gairah masyarakat NTB untuk melaksanakan ibadahnya pun semakin meningkat.


Jejak keislaman selalu melekat pada setiap kebijakan yang dibuatnya. Misalnya terlihat dari perubahan tagline Provinsi NTB dari “Bumi Gora” menjadi “Bumi Quran”. Melalui tagline tersebut, gubernur yang merupakan seorang penghafal Al-Quran ini membuat kebijakan untuk membumikan Quran melalui pendidikan kepada anak-anak. Sebagai bukti keseriusannya, Pemprov NTB pernah mengundang dua anak penghapal Al-Quran dari Gaza Palestina untuk berbagi 

"Peran Ibu di Balik Sukses"

Apa kunci sukses Muhammad Zainul Majdi bisa menjadi orang nomor satu di NTB? Ternyata, salah satu faktor yang paling penting di balik kesuksesannya itu adalah adanya peran ibu dalam mendidik anaknya.


Pria yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) ini menceritakan, ketaatan dirinya terhadap seorang ibu sudah dilakukan sejak masih kecil sampai saat ini. Diceritakan bahwa semasa menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, sejak 1991 hingga 1997. Ia sempat heran dengan ibunya yang berbeda dengan yang lain.


“Umi (ibu) kirim surat hanya dua kali. Isinya pun sederhana, rajin belajar,” kata TGB saat dialog interaktif di Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah, Minggu,  (14/5/2017).


Umi, kata TGB sangat menghargai dan menjunjung tinggi keilmuan. Karena itu saat TGB mengikuti studi di Mesir, ia dilarang pulang sebelum benar-benar selesai dan menguasai ilmu yang dipelajarinya. TGB menilai, perlakuan ini jauh berbeda dengan apa yang didapat teman-temannya di Kairo yang sering ditelepon ibunya serta pulang ke Indonesia hampir setiap tahun.


Hingga pada akhirnya, setelah kembali ke Pulau Lombok, TGB menanyakan langsung kepada ibunya tentang hal ini. “Umi, dulu waktu tiang (saya) di Mesir, kenapa tiang dilarang pulang setiap tahun, kenapa hanya kirim surat dua kali isinya juga sama, rajin belajar?” tanya TGB.


Ibunya dengan sederhana menjawab pertanyaan TGB, bahwa tidak ada yang paling berharga untuk seorang anak dari ibunya selain doa. Meski jarang berkomunikasi, sang ibu mengaku tidak pernah putus mendoakan anaknya yang sedang berjuang di negeri orang. “Kalau ada pencapaian baik saya, selain karena karunia Allah SWT, itu juga berkat doa umi yang bentengi saya,” ungkap TGB.

"Obsession Award 2017" untuk Rakyat NTB

Santun dan familiar, begitulah Muhammad Zainul Majdi saat menerima tim dari Obsession Media Group yang bertandang ke Wisma NTB, Jl. Garut, Menteng-Jakarta Pusat, Rabu (26/4/2017), untuk menyerahkan Obsession Awards 2017 kepadanya.


Ya, ia menerima penghargaan Obsession Awards 2017 untuk kategori Best Regional Leaders yang diserahkan langsung Andi Nursaiful selaku Direktur Media OMG sekaligus Ketua Dewan Juri Obsession Awards 2017.


TGB Muhammad Zainul Majdi mengungkapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas penghargaan yang diberikan OMG. Menurutnya, award yang diterimanya itu bukan hanya menjadi apresiasi bagi pribadinya melainkan juga untuk seluruh masyarakat NTB.


“Saya haturkan terima kasih kepada OMG yang telah memberikan award ini. Sesungguhnya, ini merupakan penghargaan bagi seluruh masyarakat yang telah bekerja keras membangun NTB hingga seperti sekarang,” ungkap Zainul Majdi.


Menurut Gubernur NTB, TGB Muhammad Zainul Majdi, penghargaan ini menjadi pelecut motivasi bagi seluruh masyarakat NTB untuk melakukan transformasi pembangunan.


Ia berharap penghargaan yang diterimanya itu menjadi pelecut motivasi bagi jajaran Pemprov dan masyarakat NTB untuk bisa melakukan transformasi pembangunan.


“Ada geliat positif yang ditunjukkan masyarakat NTB. Dan ini tentunya menjadi momentum yang bagus dan hanya bisa termanfaatkan kalau masyarakat NTB tetap bersemangat. Nah, apresiasi ini merupakan bagian dari penyemangat tersebut,” tandas Zainul Majdi.


Mantan Anggota DPR RI ini mengungkapkan bahwa NTB saat ini menjadi provinsi yang jauh lebih baik mengingat sudah menemukan formula yang tepat untuk melakukan pembangunan di berbagai bidang.


“Alhamdulillah transfomasi di NTB sudah ‘ketemu selanya’, berada di track yang benar. Artinya transformasi di NTB sudah bisa dimulai,” katanya.

Kerja Ikhlas di Bulan Puasa

Banyak cara dilakukan Zainul Majdi untuk membangun kinerja dan kejujuran di kalangan aparatur sipil negara (ASN) di pemerintahan provinsi NTB. Dalam membangun rasa ikhlas, khususnya di bulan puasa, menurut Zainul juga harus dibarengi dengan penuh integritas dan jika itu dilakukan maka itu menunjukkan manifestasi dari puasa yang telah dijalankan selama satu bulan penuh.


“Arah kita dalam jajaran Pemerintah Provinsi NTB adalah melaksanakan dengan konsisten apa yang telah menjadi visi-misi pembangunan. Itulah yang harus kita laksanakan dengan penuh keikhlasan, suatu nilai yang kita pelajari dalam bulan puasa. Tidak ada kesombongan, tidak ada pencitraan, tidak ada pamer-pamer,” katanya.


Selain itu, tambahnya, dalam melaksanakan tugas dibutuhkan keikhlasan sebagai landasan yang harus dimiliki ASN selain kompetensi-kompetensi teknis serta pengalaman yang dimiliki selama ini.


“Marilah kita ikhlas membangun, bersama-sama kita bekerja. Di atas semua itu, mari kita banyak bersyukur, karena sampai saat ini kita masih dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.


Zainul mengajak semua ASN untuk terus-menerus ingat bahwa ASN merupakan pelayan masyarakat. Hal itu sejalan dengan ajaran puasa untuk berkhidmad kepada Allah SWT, juga melayani Allah dengan sebaik-baiknya.


Pada kesempatan itu, gubernur juga mengucapkan permohonan maaf kepada seluruh ASN yang hadir. Karena saling memaafkan, katanya, dapat melahirkan energi baru dalam menjalankan pengkhidmatan kepada masyarakat.


“Sebagai pemimpin dalam perangkat Pemerintah Daerah NTB, maka tentu ada hal-hal yang selama ini dirasakan tidak sepenuhnya tepat, atau masih kurang sesuai dengan harapan, maka pada kesempatan ini saya menyampaikan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250