Search:
Email:     Password:        
 





M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng)

By Benny Kumbang (Editor) - 28 July 2017 | telah dibaca 299 kali

M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng)

Naskah: Suci Yulianita/Sahrudi, Foto: Sutanto/Dok. Humas/Istimewa


Menyebut nama Nurdin Abdullah, maka hal yang tersirat hanya satu yakni sosok bupati yang mampu mengubah daerahnya menjadi lebih baik dalam tempo relatif singkat. Prinsip membangun dengan hati, menjadikan dia dicintai rakyatnya. Tak berlebihan kalau kemudian Bupati Banteng, Sulawesi Selatan ini disebut sebagai ‘rising star’ dari Butta Toa, sebutan lain Bantaeng.

Humble dan familiar, begitulah gaya Nurdin Abdulah. Tak ada sekat sosial bila berbicara dengan siapapun. Begitulah yang terekam oleh Men’s Obsession saat bertandang ke ruang kerjanya di kantor Asosiasi Pemerintahan Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di bilangan Jakarta Pusat. O ya, selain bupati, Nurdin Abdullah juga menjabat Sekretaris Jenderal (Sekjen) Apkasi.


Selagi kami menunggu di ruang rapat kerjanya yang cukup luas dan tertata apik, Nurdin tiba-tiba masuk, mengucap salam dan tanpa sungkan langsung mengambil beberapa biji buah lengkeng yang tersaji di meja kerja sembari tak lupa menawari kami untuk mencicipinya juga. “Ayo, ayo...jangan malu,” tawarnya dengan logat Makassar yang khas plus gesture tubuh yang mengesankan keakraban. Suasana pun cair seketika. Terlebih saat pria kelahiran Parepare, 7 Februari 1963, ini membuka obrolan dengan cerita-cerita segarnya. Teryata, di balik penampilannya yang tinggi besar, suami dari Liestiaty F. Nurdin ini juga figur yang humoris. Begitu pula dalam kepemimpinannya.


Karakter kempimpinan Nurdin memang berbeda dengan kebanyakan kepala daerah. Sejak menjabat bupati, ia mengubah manajemen pemerintahan birokratis menjadi ala corporate yang selalu melayani masyarakat, ramah, mudah, murah dan tidak berbelit-belit. Tapi soal disiplin, ketegasan dan keberanian dalam menegakkan aturan dan hukum, jangan ditanya lagi. Banyak warganya sudah menjadi saksi soal kedisiplinan, ketegasan dan keberaniannya.


Wataknya itu sudah terlihat sejak periode pertama kepemimpinannya sebagai Bupati Bantaeng (2008 hingga 2013). Rakyatnya memahami itu dan ketika jabatan periode pertamanya habis, masyarakat di Butta Toa (sebutan khas Bantaeng) berjuang bersama-sama agar Nurdin terpilih lagi di periode kedua. Macam-macam caranya, ada yang melakukannya dengan melakukan penggalangan KTP (Kartu Tanda Penduduk), ada yang membuat pernyataan sikap dan lainnya.

Pemimpin dengan Selaksa Prestasi

Ketika banyak masyarakat Sulsel menaruh harapan kepada Nurdin Abdullah untuk menjadi orang nomor satu di provinsi tersebut, peraih S3 Doktor of Agriculture Kyushu University Jepang Tahun 1994, ini tak mau menepuk dada. Meski harus diakui, Nurdin Abdullah adalah satu dari sedikit kepala daerah yang memiliki prestasi dan penghargaan luar biasa dari dalam dan luar negeri. Setidaknya, 100 penghargaan diganjarkan kepadanya atas prestasi kerjanya selama memimpin.


Baginya, ada sejumlah prasyarat jika seseorang mau maju menjadi pemimpin, khususnya menjadi seorang gubernur. Pertama, harus bekerja dengan baik dan membangun simpati masyarakat. Kedua harus menanamkan investasi sosial, dan yang ketiga harus membuat sesuatu yang berkesan sehingga tidak harus membuat citra. “Nggak perlu pencitraan, akan tercitra sendiri kalau Anda membuat sebuah monument,” tegasnya. Biarkan masyarakat langsung yang merasakan dan bercerita tentang apa yang terjadi di Bantaeng.


Tapi kalau ditanya apa konsepnya membangun Sulsel kelak, sebagai seorang yang sukses memimpin wilayah, Nurdin tentu punya jawaban.


Pertama, katanya adalah mengatasi kesenjangan, kemudian membangun pusat pertumbuhan baru. “Kita fokus ke pariwisata dulu deh, apa yang harus kita lakukan, membangun konektivitas. Jadi kaya toraja itu sudah menjadi asset dunia, tapi kelemahan kita adalah akses. Airport, jadi seluas Sulawesi Selatan ini Airport ini harus menentukan. Misal menjadikan Makassar sebagai ibukota yang memiliki bandara hub dan bandara di daerah lainnya menjadi bandara internasional. Begitu juga dengan pelabuhan, harus ditingkatkan. Berikutnya adalah peningkatan pembangunan jalan tol.


Nurdin Abdullah bercita-cita menjadikan Sulawesi Selatan menjadi role model untuk Indonesia. “Saya itu haqqul yakin tidak ada yang terjadi tanpa kehendaknya,” pungkas pria yang mengaku tak pernah merasa sibuk.

"Perubahan Harus Dimulai Dari Pimpinan"

Sesekali melontarkan guyonan dan menawarkan buah-buahan, begitulah cara Nurdin Abdullah memecah keseriusan kala wawancara. Tapi, tetap saja itu tidak mengurangi persepsi kami tentang betapa cerdasnya orang ini dalam menjabarkan bagaimana memajukan daerah yang dipimpinnya, juga tentang harapan-harapan ke depan tentang sebuah kepemimpinan yang ideal. Dan itu kami tuangkan dalam wawancara kami dengan suguhan the hangat dan kue coklat di meja kerja yang luas. Berikut kutipan wawancaranya.

 

Mohon ceritakan sedikit perjalanan karir Bapak.
Tahun 2008 lalu, bagi saya awal dari sebuah kehidupan baru dimana selama ini saya hanya mengisi keseharian saya dengan mengurus bisnis dibeberapa perusahaan yang link dengan Jepang serta menjadi seorang dosen di fakultas kehutanan UNHAS, dan mengurusi Maruki Foundation yang memberikan beasiswa kepada para anak-anak sekolah dari keluarga kurang mampu mulai jenjang SD sampai perguruan tinggi.

 

Kehidupan baru yang saya maksud adalah karena diminta oleh masyarakat yang melakukan demontrasi di perusahaan saya, meminta harus terjun kedunia politik menjadi Bupati yang selama ini tidak pernah saya pikirkan bahkan cita-citakan.

 

Istri dan anak-anak sayapun tidak menerima permintaan masyarakat, akan tetapi kamipun bersama keluarga tetap penasaran apa sebenarnya yang terjadi di Bantaeng, daerah dengan potensi dan keunggulan alam yang paripurna namun berdasarkan data dari Kementrian Pembangunan Daerah Tertinggal, Bantaeng termasuk dalam Daftar 199 Kabupaten Tertinggal di Indonesia.

 

Singkat cerita akhirnya kami memutus untuk ikut dalam Pilkada Tahun 2008 tersebut, sebagai Pilkada Langsung yang pertama kali di Bantaeng, walaupun waktu itu, kami belum ada Partai Pengusung ataupun pendukung. Masyarakat secara swadaya menginvetarisir partai-partai yang waktu itu tidak memiliki kursi di DPRD akan tetapi memperoleh suara pada saat Pemilu, sehingga mencukupi kuota persentase dukungan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati waktu itu.

 

Bapak sukses ‘menyulap’ Bantaeng dari daerah kecil menjadi kabupaten yang sukses meraih apresiasi dengan berbagai perubahan yang positif. Bagaimana Bapak memulai perubahan di daerah yang Bapak pimpin tersebut.
Saya sejak awal telah berkomitmen bahwa membangun Bantaeng ini harus dengan hati, karena kita ketahui bahwa Bantaeng itu termasuk Kabupaten terkecil di Sulawesi Selatan atau hanya 0,8% dari luas provinsi Sulawesi Selatan, sehingga untuk mendapatkan dana transfer pemerintah pusat tentunya sebagai penerima dana terkecil pula setiap tahunnya.

 

Oleh karena itu, diawal pemerintahan saya, saya sampaikan kepada segenap aparatur daerah bahwa satu rupiah pun uang daerah yang keluar di APBD harus ada manfaatnya, kemudian belanja-belanja yang selama ini tidak bermanfaat yah dihilangkan saja dipindahkan ke belanja yang lebih produktif.

 

Saya juga berkewajiban memberikan keteladanan kepada segenap bawahan, agar memanfaatkan anggaran pemerintah secara professional yang sesuai dengan peruntukannya. Jika saya tidak lakukan seperti itu, maka saya yakin bahwa APBD hanya digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan rutin pemerintah daerah, sehingga yakinlah tidak akan ada perubahan baik dari sisi pembangunan fisik mapun non fisik. Jadi saya ingin katakan bahwa perubahan itu memang harus dimulai dari pimpinan, karena bagi kami bahwa kepemimpinan itu adalah keteladanan.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250