Search:
Email:     Password:        
 





Muhammad Hatta Ali Mereformasi MA Bukan Hal Mudah

By Benny Kumbang (Editor) - 23 September 2017 | telah dibaca 1835 kali

Muhammad Hatta Ali Mereformasi MA Bukan Hal Mudah

Naskah: Sahrudi, Foto: Sutanto & Dok. Pribadi

Kurang lebih 39 tahun sudah ia mengabdikan diri di dunia hukum, tepatnya di lembaga pengadilan sampai kemudian menjabat Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA). Sebagai ‘pintu’ terakhir pengadilan, Prof. Dr. H. Muhammad Hatta Ali, S.H, M.H bertekad menjadikan MA sebagai  lembaga yang kredibel dan tentunya berwibawa. Tapi, ia mengakui bahwa reformasi MA bukanlah proses yang mudah.

 

Ketika dilantik sebagai Ketua MA, pada saat itu juga Hatta Ali memahami adanya harapan besar publik kepada lembaga ini agar menghasilkan hakim-hakim yang profesional dan ‘bersih’. Wajar, karena ia bukan orang baru di MA dan track record nya juga sangat baik di lingkungan tempat orang mencari keadilan ini.


Ya, pria kelahiran Pare-pare, Sulawesi Selatan, 7 April 1950 ini adalah pejabat karier di MA. Boleh dikata, kariernya dihabiskan di institusi hukum. Sejak menjadi Pegawai Negeri di Menteri Kehakiman (sekarang Kementerian Hukum dan HAM-red) kariernya terus melangkah naik. Pernah jadi Wakil Ketua Pengadilan Negeri (PN) Gorontalo, Ketua PN Bitung, PN Manado, dan PN Tangerang dan semakin moncer saat menjabat sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar, Bali, pada tahun 2003. Sampai kemudian ditarik ke Jakarta untuk menjadi Sekretaris Ketua MA.


Siapa sangka disitulah karier Hatta Ali di lembaga yudikatif ini beranjak naik menjadi Hakim Agung, dan Ketua Muda Pengawasan MA sampai kemudian ia terpilih sebagai Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna pemilihan ketua MA, yang digelar di Ruang Kusuma Atmadja, Gedung MA Jakarta, pada 8 Februari 2012 dengan jabatan hingga tahun 2017. Tapi, ketika masa baktinya habis di bulan Februari 2017, ia terpilih kembali sebagai Ketua MA untuk periode 2017-2022.  Ia mendapatkan lebih dari 50 persen suara atau sebanyak 38 suara dari 47 suara yang diberikan oleh 47 orang Hakim Agung.


Diakui, sesaat setelah dilantik, tugas berat sudah menanti. Misalnya kebijakan penerapan sistem kamar yang dicanangkan Ketua Mahkamah Agung sebelumnya masih merupakan cikal bakal. Selain itu juga issu utama yang menjadi tuntutan masyarakat adalah penumpukan perkara di Mahkamah Agung yang sekian lama belum diputus.


Ia juga bercerita bagaimana ia harus menghadapi kasus seorang Hakim Agung yang diduga merubah amar putusan ketika itu dan menjadi pemberitaan. “Ketika itu saya segera perintahkan sebagian pimpinan dan Badan Pengawasan (BAWAS) Mahkamah Agung untuk melakukan pemeriksaan pada Hakim Agung yang bersangkutan dan bila cukup bukti agar diajukan ke sidang Majelis Kehormatan Hakim (Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial) untuk diberhentikan dengan tidak hormat,” tegasnya.


Hal itu, ia sadari dapat menimbulkan kesan yang kurang baik bagi dunia peradilan karena baru pertama kali ada seorang Hakim Agung diberhentikan dengan tidak hormat.


“Menurut saya kesalahan seperti ini, apalagi dilakukan oleh Hakim Agung yang notabene merupakan puncak jabatan seorang Hakim Karir, maka tiada maaf dan tidak ada toleransi. Mudah-mudahan kejadian seperti ini tidak pernah terulang lagi,” ungkapnya.

Sekilas Kiprah Hatta Ali

Niatnya untuk menjadi seorang penegak hukum sudah tertanam sejak ia kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya. Selepas itu, ia meniti karier di Departemen Kehakiman yang kini menjadi Kementerian Hukum dan HAM pada tahun 1978 sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan Tahun 1980 diangkat dalam jabatan Pemeriksa pada Inspektorat Jenderal Departemen Kehakiman. Dalam perjalanan tugasnya itu, Hatta sempat mengambil gelar S3 di Universitas Padjajaran, Bandung.


Pada Tahun 1982 lulus test menjadi Calon Hakim dan ditempatkan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara lalu pada Tahun 1984 dilantik sebagai Hakim pertama di Pengadian Negeri Sabang, Aceh.


“Kemudian pada tahun 1990 saya dipindahkan bertugas ke Pengadilan Negeri Lubuk Pakam. Selanjutnya saya dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Gorontalo pada Tahun 1995, dan tidak lama kemudian Tahun 1996 diangkat menjadi Ketua Pengadilan Negeri Bitung. Pada tanggal 16 Juni 2000 saya menerima mutasi promosi untuk mengisi jabatan Ketua Pengadilan Negeri Manado, setelah bertugas sebagai Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara selama satu setengah tahun (1998),” katanya.


Pada tahun 2001, Hatta kembali dipromosikan sebagai Ketua Pengadilan Negeri Tangerang. Di masa ia menjabat ini, masalah tindak pidana narkoba di Tangerang tidak ia beri ampun. Sebagai contoh pada kasus pabrik ecstasy terbesar tahun 2002 yang berlokasi di Tangerang yang ketika itu dengan terdakwa Ang Kiem Soei, Hatta sendiri yang menyidangkannya. Ia mengganjar terdakwa dengan putusan hukuman mati dan telah dieksekusi mati. Selanjutnya tahun 2003, ia dipromosikan menjabat sebagai Hakim Tinggi di Pengadilan Tinggi Denpasar.


Saat Prof. Dr. H. Bagir Manan, SH, M.CL menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung, tahun 2004, Hatta dipercaya menjadi Sekretaris Ketua Mahkamah Agung, lalu tahun 2005 dipromosikan menjabat sebagai Dirjen Badan Peradilan Umum.


Di Tahun 2007, ia lulus menjalani test sebagai Hakim Agung. Belum genap dua tahun menjadi Hakim Agung, ia dipromosikan sebagai Ketua Muda Bidang Pengawasan (TUADAWAS) Mahkamah Agung RI dan pada akhirnya terpilih sebagai Ketua Mahkamah Agung RI pada 8 Februari 2012.

Pemimpin Harus Paham Peraturan Sebagai Bingkai Kebijakannya?

Muhammad Hatta Ali Mereformasi MA Bukan Hal MudahPertanyaan yang disodorkan Men’s Obsession kepada Ketua MA, Hatta Ali dijawab dengan tuntas dan lugas di tengah kesibukan tugasnya. Mulai dari hal berat seperti reformasi di tubuh MA, hingga soal ‘me time’ dan kesukaan sang Ketua MA. Berikut petikan wawancaranya :


Bisa jelaskan apa saja langkah dan kebijakan yang Bapak tempuh selama kepemimpinan Bapak?
Selama menjabat sebagai Ketua Mahkamah Agung saya fokus dalam bidang manajerial. Manajemen kepemimpinan yang saya terapkan telah berhasil mewujudkan reformasi birokrasi sesuai blue print Mahkamah Agung yang dijabarkan dalam road map reformasi birokrasi, bahkan capaiannya melampaui target yang ditetapkan. Dalam perencanaan kebijakan, seorang pemimpin harus paham peraturan (Rule) sebagai bingkai kebijakannya. Aspek Rule lah yang akan menghindarkan benturan (friksi) dan menjamin segala sesuatu berjalan pada relnya, sekaligus menjadi rujukan atas setiap masalah yang timbul, Rule harus menjadi pondasi dan hanya dapat disimpangi apabila ada keadaan khusus yang benar-benar perlu, untuk mencegah terjadinya ketidakadilan yang sangat. Penataan organisasi mensyaratkan pengetahuan hukum yang cukup luas dan mendalam, disamping kemampuan melihat potensi dan peluang, mengalokasikan sumber daya manusia yang berkapasitas, kemampuan mempertemukan berbagai kepentingan untuk mencapai harmoni, mengkomunikasikan apa yang harus dan ingin dicapai, serta memastikan kelangsungan proses yang benar dan terjaganya Ideology.


Hal strategis yang sudah dan akan dilakukan untuk meningkatkan peran Mahkamah Agung?
Untuk mencapai tujuan dan optimalisasi peran Mahkamah Agung, berbagai hal strategis perlu dilakukan. Reformasi tentu menuntut biaya, karena keterbatasan disamping menggunakan anggaran rutin, Mahkamah Agung melakukan berbagai kerjasama dengan negara-negara lain dan membuka ruang partisipasi masyarakat antara lain melalui Non Goverment Organization untuk melakukan kajian, memetakan kondisi dan masalah lalu memilih prioritas dan membuat perencanaan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia serta merancang strategi untuk mengoptimalkan hasil.


Hal strategis yang akan dan sedang diupayakan ke depan adalah peningkatan pelayanan publik melalui tindak lanjut hasil kompetisi inovasi Mahkamah Agung yaitu Audio to Text Recording (ATR) yang akan memastikan kesahihan dokumentasi proses peradilan, e-SKUM yang memungkinkan masyarakat menghitung sendiri panjar ongkos perkara untuk menjamin kepastian biaya dan mengeliminir praktek KKN akibat persentuhan masyarakat pencari keadilan dengan aparat pengadilan dan Mobile Court yang memudahkan akses masyarakat yang jauh dari pengadilan menjangkau pelayanan dan memperoleh produk pengadilan. Saat ini juga sedang diupayakan penyederhanaan putusan agar para pencari keadilan dapat segera memperoleh kepastian hukum, keadilan dan manfaat dengan percepatan pengiriman putusan ke pengadilan pengaju. Untuk meningkatkan kualitas badan peradilan standarisasi pelayanan diupayakan agar satker-satker pada Mahkamah Agung dan Badan Peradilan dibawahnya mendapat Akreditasi Penjaminan Mutu Badan Peradilan sesuai ISO 9001:2008 yang diperbaharui dengan menjadi ISO 9001:2015 serta International Framework for Court Excellent demi optimalisasi reformasi menuju visi Mahkamah Agung yaitu terwujudnya Badan Peradilan Indonesia Yang Agung.

Me Time Sang Karateka

float: left; margin-right: 10px; margin-bottom: 5px;Di balik load kerja yang tinggi, mantan pimpinan Senat Mahasiswa Fakultas Hukum dan Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Airlangga serta aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ini ternyata punya waktu pribadi atau me time yang dikelolanya dengan sangat efektif.


“Meskipun kesibukan menyita waktu saya selalu berusaha menjaga komunikasi dan menyediakan waktu kebersamaan yang berkualitas dengan keluarga. Selain berkumpul bersama keluarga setiap hari saya juga berusaha menyempatkan liburan bersama keluarga,” katanya.


Membaca, diakui Hatta merupakan hobi sekaligus kewajiban yang harus dijalani. Tapi untuk urusan menjaga fisik, ia melakoni sejumlah olahraga. “Saya selalu berusaha menjaga kondisi fisik dengan olahraga secara rutin. Dahulu saya senang dengan olahraga yang bisa meningkatkan adrenalin seperti balap motor, main bola, tenis serta yang mengandalkan fisik seperti beladiri karate,” tegasnya.


Bahkan, Hatta mungkin satu-satunya pimpinan lembaga yang pernah mendapatkan kenaikan DAN VI (enam) dari Institut Karate-Do Nasional (INKANAS). “Namun sekarang saya lebih banyak jogging dan kalau sempat bermain golf atau sekedar latihan memukul bola di driving range,” pungkasnya.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250