Search:
Email:     Password:        
 





Tiga Tahun "Nawa Cita" untuk Indonesia

By Benny Kumbang (Editor) - 29 September 2017 | telah dibaca 213 kali

Tiga Tahun "Nawa Cita" untuk Indonesia

Ketika terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, pasangan Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK) sudah merancang sembilan agenda prioritas yang disebut Nawa Cita. Sebuah program prioritas jalan perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.


Sembilan agenda itu adalah :
Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara, melalui politik luar negeri bebas aktif, keamanan nasional yang terpercaya dan pembangunan pertahanan negara Tri Matra terpadu yang dilandasi kepentingan nasional dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.


Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya, dengan memberikan prioritas pada upaya memulihkan kepercayaan publik pada institusi-institusi demokrasi dengan melanjutkan konsolidasi demokrasi melalui reformasi sistem kepartaian, pemilu, dan lembaga perwakilan.


Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.


Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.


Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program ?Indonesia Pintar?; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program ?Indonesia Kerja? dan ?Indonesia Sejahtera? dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.


Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya.


Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Peran Sukses Waskita Karya Dalam Program Nawa Cita

Peran Sukses Waskita Karya Dalam Program Nawa CitaNaskah: Giattri F.P., Foto: Istimewa

Sebagai BUMN terkemuka di Indonesia, PT Waskita Karya (Persero), Tbk. tak henti berkontribusi membangun negeri. Korporasi konstruksi yang berdiri sejak 1961 ini pun terus mewujudkan komitmennya dalam mendukung program ‘Nawa Cita’ pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

 

“Waskita Karya berusaha memainkan perannya sebaik mungkin dalam mendukung program Nawa Cita, yakni  membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, serta salah satu upaya mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik,” ungkap M. Choliq, Direktur Utama Waskita Karya.


Aktualisasi dari program Nawa Cita tersebut adalah pembangunan proyek-proyek infrastruktur strategis. Di antaranya jalan tol Trans Jawa, Trans Sumatera, LRT Palembang, Bendungan maupun Transmisi 500kV Sumatera.  


“Sampai dengan saat ini Waskita  tengah membangun 18 ruas jalan tol yang sebagian besar berada di pulau Jawa serta Sumatera dengan tujuan menghubungkan daerah-daerah tersebut dengan penyediaan infrastruktur yang memadai sehingga mampu menggerakkan ekonomi di daerah tersebut dengan cepat dan terintegrasi,” terang Choliq.


Tak hanya itu, upaya Waskita dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestic terus dilakukan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) / Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).


“Waskita Karya sudah sejak lama memberikan bantuan dan pembinaan kepada mitra binaan di berbagai daerah di Indonesia tempat di mana kantor Waskita maupun proyek-proyek Waskita berada,” terang Choliq.

PELINDO II Dukung Pembangunan Infrastruktur

PELINDO II Dukung Pembangunan InfrastrukturNaskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Pelindo II

Dalam rangka mendukung program pemerintah yang digulirkan Presiden Joko Widodo, Nawa Cita, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) (PELINDO II) atau Indonesia Port Corporations (IPC) turut serta melakukan berbagai transformasi melalui pembangunan dan pengembangan proyek-proyek strategis nasional, antara lain melakukan pembangunan beberapa terminal baru yang tentu mendukung pertumbuhan infrastruktur dalam negeri.   

 

Beberapa terminal baru yang sedang dikembangkan, antara lain, Pembangunan Terminal Kalibaru yang bertujuan untuk mengurangi dan mengantisipasi kongesti yang ada di wilayah Jakarta khususnya pelabuhan Tanjung Priok, Pembangunan Terminal Kijing Pontianak yang bertujuan mengatasi keterbatasan area untuk pengembangan fasilitas dan pelayanan di pelabuhan pontianak serta keterbatasan kedalaman sungai akibat tingkat sedimentasi yang tinggi.


Kemudian pembangunan Proyek Cikarang Bekasi Laut yang nantinya akan menjadi salah satu opsi moda transportasi berbentuk inland waterways yang akan mengantarkan secara langsung kargo dari kawasan industri di Jababeka menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok, dan terakhir pembangunan Pelabuhan Sorong yang bisa mendukung perkembangan perekonomian wilayah Indonesia Timur.


Di samping pembangunan infrastruktur, IPC juga melaksanakan program Rumah Kita yang merupakan depot logistik untuk menjamin ketersediaan bahan pokok di daerah terpencil atau pulau-pulau terluar. Program ini digagas oleh Kementerian BUMN dengan memanfaatkan sinergi BUMN.


Selain itu, bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan, IPC juga turut membangun jaringan tol laut yang bertujuan untuk menurunkan disparitas harga komoditas pokok, menstabilkan harga komoditas pokok, menumbuhkan ekonomi lokal sehingga menciptakan pemerataan pembangunan dan meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat perdagangan global.


Guna merealisasikan kontribusi tersebut, IPC telah melakukan beberapa hal, antara lain, penandatanganan kerjasama antara anak perusahaan IPC dengan 9 anak perusahaan BUMN dalam beberapa aspek yaitu pemasaran / penyalur produk BBM dan Non BBM, pengembangan penanganan logistik dan perdagangan komoditi hasil laut, pengelolaan dan pengoperasian terminal, terminal Product sebagai hub nasional kegiatan bongkar muat BBM, storage dan pendistribusian dari laut ke darat atau sebaliknya.

TASPEN Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

TASPEN Tingkatkan Kesejahteraan MasyarakatNaskah: Iqbal Ramdhani, Foto: Dok. TASPEN

Perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki peran banyak untuk membangun Negeri, begitu juga dengan PT Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (Persero) atau disebut PT TASPEN (Persero) yang selama ini membantu untuk memberikan kesejahteraan masyarakat di bidang jaminan sosial Pegawai Negeri Sipil, hal tersebut dapat dilihat dari program-program yang diberikan yaitu, Program Tabungan Hari Tua (THT), Program Pensiun, Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Program Jaminan Kematian (JKM).

 

Program THT merupakan program asuransi yang terdiri dari Asuransi Dwiguna yang dikaitkan dengan usia pensiun ditambah dengan Asuransi Kematian (Askem). Asuransi Dwiguna merupakan jenis asuransi yang memberikan jaminan keuangan kepada peserta pada saat mencapai usia pensiun atau bagi ahli warisnya apabila peserta meninggal dunia sebelum mencapai usia pensiun. Sedangkan Askem merupakan jenis asuransi yang memberikan jaminan keuangan bagi peserta apabila isteri/suami/anak meninggal dunia atau bagi ahli warisnya apabila peserta meninggal dunia. Askem anak diberikan apabila anak peserta belum berusia 21 tahun atau 25 tahun yang masih sekolah dan belum menikah. Ada juga Program Pensiun, yaitu penghasilan yang diterima oleh pensiun setiap bulan sebagai jaminan hari tua dan penghargaan atas jasa-jasa Pegawai Negeri selama bertahun-tahun bekerja dalam dinas pemerintah.


Program Pensiun menggunakan sistem pembiayaan Pay As You Go (PAYG) atau sistem dimana pembiayaan manfaat pensiun dilakukan pada saat jatuh tempo dan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Selanjutnya TASPEN juga memiliki Program JKK yang diberikan kepada Aparatur Sipil Negara, program ini merupakan perlindungan atas risiko kecelakaan selama kerja atau penyakit akibat kerja. Jenis manfaat yang diberikan meliputi perawatan mulai dari pemeriksaan dasar dan penunjang sampai dengan rehabilitasi medik, selain perawatan ada juga santunan mulai dari santunan kecelakaan kerja, santunan kematian, santunan berkala, dan tunjangan cacat. Selain program diatas, ada juga Program JKM yaitu bentuk perlindungan atas risiko kematian, tapi bukan karena akibat kecelakaan kerja. Perlindungan itu berupa santunan kematian yang meliputi santunan sekaligus uang duka wafat, biaya pemakaman dan bantuan beasiswa.

Perum Jasa Tirta II Air untuk Menghidupi Negeri

Perum Jasa Tirta II Air untuk Menghidupi NegeriNaskah: Giattri F.P., Foto: Dok. Humas PJT II

Sebagai BUMN yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air, kehadiran Perum Jasa Tirta II (PJT II), tentu memiliki pengaruh yang besar menyukseskan kebijakan pemerintah termasuk dalam mengelola air untuk menghidupi negeri. Perusahaan yang berdiri sejak 1967 itu pun tak henti berinovasi dan menargetkan menjadi perusahaan terkemuka di ASEAN pada 2018.

 

“Tagline kami adalah ‘Water for Wellness’ jadi bagaimana kami mengelola sumber daya air untuk menghidupi negeri ini. Secara tidak langsung itu adalah bagian daripada program NAWACITA yang dicanangkan pemerintahan Pak Joko Widodo. Kami adalah agent of development,” ungkap Direktur Utama PJT II Djoko Saputro.


PJT II memiliki tugas utama melakukan pengelolaan sumber daya air yang meliputi kegiatan operasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana irigasi, konservasi, monitoring dan evaluasi, penyediaan air untuk irigasi di wilayah Sungai Citarum dan sebagian Sungai Ciliwung Cisadane dengan prinsip pengelolaan perusahaan, yang bertujuan menunjang ketahanan pangan.


Wilayah kerja PJT II mencakup 74 Sungai dan Anak Sungai yang menjadi Kesatuan Hidrologis di Jawa Barat. Cakupan wilayah ini meliputi sungai Citarum dan sebagian sungai Ciliwung- Cisadane seluas ± 12.000 Km2 dan wilayah pelayanan berada di Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta (sebagian Jakarta Timur, Kota/Kab. Bekasi, Kab. Karawang, Kab. Subang, sebagian Kab. Indramayu, sebagian Kab. Sumedang, Kota/Kab. Bandung Barat, Kota Cimahi, sebagian Kab. Cianjur, dan sebagian Kab. Bogor).


Sepanjang 2016, PJT II berhasil menorehkan capaian yang positif. “PJT II dapat predikat AAA dan akan terus kami pertahankan. Kami melakukan pengelolaan air di mana 90 persen bersifat sosial dan sisanya 10 persen barulah kami kelola untuk usaha,” ujar Djoko.


Djoko menegaskan, 90 persen pengelolaan air yang sifatnya sosial itu akhirnya mampu mendukung ketahanan pangan, yakni dengan menjadi penyedia air baku untuk irigasi pertanian di sebagian wilayah Jawa Barat. Air irigasi ini diberikan secara gratis kepada petani melalui saluran-saluran irigasi yang dikelola PJT II. “Sebesar 6,8 miliar meter kubik per tahun air kami alokasikan untuk sekitar 300 ribu hektar lahan pertanian di wilayah kerja. Bila diasumsikan produksi rata- rata padi 5,5 Ton/Ha/Musim, maka PJT II mendukung produksi padi sebanyak 3,3 juta Ton/Tahun atau senilai dengan Rp 13,86 triliun,” jelas Djoko.

Peran Bank bRI Sangat Signifikan Wujudkan "Nawa Cita"

Peran Bank bRI Sangat Signifikan Wujudkan “Nawa Cita”Naskah: Iqbal Ramdhani, Foto: Istimewa

Sepanjang sejarah keberadaanya, Bank BRI berkomitmen pada maksud dan tujuan di awal berdirinya yakni sebagai bank milik pemerintah yang menjadi ujung tombak perekonomian nasional serta pemerataan pembangunan. Selain itu, Bank BRI juga tanggap beradaptasi dan proaktif merespon perubahan, sehingga mampu bertahan sebagai salah satu bank terdepan di Indonesia sampai saat ini.

 

Era digital telah mengubah banyak hal mulai dari cara berinteraksi personal, menjalankan aktivitas sehari-hari, sampai cara melakukan bisnis. Perubahan-perubahan ini terjadi karena perkembangan teknologi yang terjadi tanpa henti. Bank BRI menyikapi dinamika era digital ini sebagai sebuah peluang untuk berinovasi untuk memberikan layanan yang lebih baik, lebih cepat dan lebih mudah.


Bank BRI juga berkomitmen mendukung pemerintah melalui pemberdayaan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), yang merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dengan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) maupun penyerapan tenaga kerja.


Sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Bank BRI ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR). KUR merupakan inisiasi dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. KUR Bank BRI ini ditujukan pada sektor pertanian (on farm), perikanan, industri pengolahan, dan sektor perdagangan. Inilah sejatinya peran Bank BRI dalam mendukung program “Nawa Cita” yang menyejahterakan rakyat. Bahkan peran itu sangat signifikan. Betapa tidak, karena upaya untuk menyalurkan KUR menuai sukses.  Sekadar catatan, penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) mencapai Rp 132,4 triliun. Realisasi tersebut diperoleh selama periode Agustus 2015 hingga Agustus 2017 dan telah disalurkan kepada lebih dari 7,4 juta debitur baru. Jumlah tersebut menjadikan Bank BRI sebagai bank penyalur KUR terbesar di Indonesia, maka dari itu Bank BRI dianggap berhasil dalam menjalankan program pemerintah karena bank ini memiliki jaringan yang sangat luas di penjuru Nusantara, dan bank ini sudah menjangkau masyarakat pedesaan, dimana pelaku KUR sendiri mayoritas adalah masyarakat menengah atau menengah ke bawah.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

 

 

 

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250