Search:
Email:     Password:        
 





Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko DARI PANGLIMA TNI KE PANGLIMA TANI

By Iqbal Ramdani () - 20 November 2017 | telah dibaca 214 kali

Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko DARI PANGLIMA TNI KE PANGLIMA TANI

Naskah: Giattri F.P. / Popy Rahim, Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

“Old Soldiers Never die, They just Fade Away”, begitu General Mc. Arthur pernah berkata. Ya, seorang tentara adalah pengabdi negara sejati. Dia tak pernah mati. Selama hayat di kandung badan, pengabdian terus berjalan. Begitu jualah Jenderal TNI (Purn) Dr. H. Moeldoko. Setelah pensiun dan menuntaskan karir militernya sebagai Panglima TNI, ia tetap mengabdi dengan berkiprah di dunia tani sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia kini menjadi panglimanya petani. Kalau dulu Moeldoko menjaga kedaulatan wilayah, kini ia menjaga kedaulatan pangan.

 

Di rumahnya yang bergaya minimalis di bilangan Terusan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Moeldoko menyambut hangat Men’s Obsession. Kesan ‘garang’ dari pria yang terkenal tegas itu sirna sudah lantaran senyum acap kali tersungging di bibirnya, tutur katanya pun lembut. Pria yang masih tampak bugar di usianya yang menginjak kepala enam itu pun mengisahkan alasannya lebih banyak terjun ke dunia pertanian ketimbang politik. “Kalau semua seperti sekarang berpikiran politik, maka siapa yang memikirkan nasib petani? Saya lebih tertarik bagaimana nasib petani bisa kita tingkatkan. Ini adalah cara saya untuk membangun Indonesia di bidang pertanian. HKTI hadir untuk memuliakan para petani, sehingga bisa menyejahterakan petani dan mengembalikan ekosistem di sawah,” ujar Moeldoko.

 

Moeldoko seolah tak mau beristirahat demi menyejahterakan petani. Ia selalu memaksimalkan waktunya untuk memberi perhatian terhadap nasib petani. Bahkan, saat hari libur, pria yang hobi bermain golf itu rela memeras keringat demi petani. Setiap kali terjun ke daerah, Peraih Adhi Makayasa dan Bintang Trisakti Wiratama 1981 itu juga selalu memberi semangat kepada para petani. “Saya katakan tidak ada lagi petani yang berpikir miskin, kalian petani harus menjadi kaya. Bagaimana caranya? Ikuti teknologi yang kita kembangkan. Just follow me!” tandas Moeldoko sembari tertawa lepas. Pikiran-pikiran Moeldoko dalam bidang pertanian memang inovatif.  Salah satunya hasil teknologi pertanian Moeldoko adalah benih M70D dan M400.

 

Keunggulannya, M70D bisa dipanen dalam waktu 70 hari, bukan 95 hari seperti padi biasanya. Sementara padi M400 memiliki 400 butir padi setiap tangkainya, bukan 180-220 butir sebagaimana umumnya. “Benih M400 merupakan produk unggul dengan hasil rata-rata panen 9 ton per hektar. Benih itu sudah terbukti di daerah lain dan menghasilkan padi yang berkualitas. Padi M400 ini memiliki daya tahan kuat terhadap serangan hama dan tahan ketika kekurangan air. Bahkan saat ini, saya dengar dari petani di Bali yang menanam varietas M 400, meski tanaman padinya baru berusia sekitar dua bulan, per hektarnya sudah ditawar 30 sampai 35 juta rupiah ,” terang Moeldoko bangga. Ketum HKTI periode 2017-2020 juga gencar membantu para petani mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. Misalnya, persoalan pupuk, air, bantuan peralatan pertanian, produksi hingga harga hasil panen.

Sosok Tegas Berhati Lembut

Selama ini Moeldoko dikenal sebagai sosok yang tegas, namun di sisi lain ia adalah pribadi yang berhati lembut dan murah senyum. Ia pun begitu menghormati sosok ibunda dan istrinya. “Menurut saya kehidupan keluarga saya itu menjadi tonggak pertama. Kenapa saya bisa menjadi seperti ini. Ada kondisi yang antagonis di rumah. Ayah saya adalah sosok yang keras. Padahal ayah saya itu sipil. Tapi beliau di kampung sebagai jogo boyo, itu adalah jabatan yang menjaga keamanan, tegas, hahaha,” ujarnya.

 

Sementara sang ibu berhati lembut, merawat Moeldoko penuh dengan kasih sayang. “Nah, kondisi paradoks itulah muncul. Saya jadi perwira yang kuat, pada sisi yang lain saya memiliki empati yang sangat tinggi pada lingkungan. Jadi balance,” tuturnya. Roda nasib selalu berputar.Tidak ada yang bisa memprediksi nasib seseorang bertahun-tahun ke depan kecuali Tuhan. Seperti Moeldoko, terlahir dari keluarga petani yang miskin. “Saya 12 bersaudara, 4 meninggal saat kecil, dari 8 saya yang paling akhir. Saat duduk sekolah menengah pertama jarak sekolah saya 7 km, orangtua saya beli sepeda saja tidak sanggup, sehingga saya untuk ke sekolah jam setengah 5 saya harus lari ke stasiun dari rumah,” kenangnya. Mirisnya, saat ingin pulang sekolah, ia mesti menunggu truk yang mengangkut kopra dari pabrik. “Kan lapar, kadangkadang saya menyuri kopra untuk dimakan.

 

Memang masih ada rasa kelapanya, tapi sangat pahit. Jadi tidak mengada-ngada kondisi saya waktu itu begitu sulit,” imbuh Moeldoko dengan mata berkaca-kaca. Sang ibu, selalu menunggu dengan sabar Moeldoko pulang sekolah di pinggir sungai. Memang kata Moeldoko, sang ayah bekerja sebagai pamong desa, tapi karena tidak bisa mengelolanya dengan baik sehingga beberapa disewakan. “Namun ada hal positif yang beliau ajarkan kepada saya biar mandiri. Pagi-pagi jam 5, setelah sholat subuh, kalau lagi libur sekolah, saya diajak ke sawah. Jadi kita menanam, memanen, dan menjual padi sendiri. Meski begitu Bapak tidak membolehkan saya untuk menyangkul dan motong rumput,” tuturnya.

 

Ada Skenario Lemahkan Bangsa Ini

Tegas dan lugas, begitulah Moeldoko. Dan, itulah yang ditunjukkannya saat wawancara. Senyumnya yang natural, kerap mewarnai sepanjang wawancara kami. Berikut petikan wawancaranya dari soal pertahanan kedaulatan bangsa hingga memperjuangkan kedaulatan pangan. Berikut petikan wawancara Giattri Fachbrilian dan Poppy Rahim dari Men’s Obsession di ruang utama rumah pribadinya yang asri di bilangan Menteng, Jakarta Pusat.

 


Bisa diceritakan sedikit perjalanan karir Bapak hingga saat ini?

Perjalanan karir saya cukup panjang, waktu SMA sebetulnya saya murid jurusan sosial (IPS).Tapi kala itu, saya punya keinginan  untuk menjadi tentara. Saya protes ke kepala sekolah. “Pak, saya harus bisa masuk SMA Paspal (Ilmu Pasti dan Pengetahuan Alam atau IPA-red)“. “Nggak bisa”. “Harus bisa.” hahahha. Saya ingat persis waktu itu, akhirnya kepala sekolah saya menyerah. “Ok, kalau gitu kamu ikut percobaan tiga bulan, kalau nggak bisa, kamu akan  kembali lagi ke Sospol”. “Oh, siap”. Jadi saya berusaha semaksimal mungkin dan pada akhirnya bisa saya ikuti. Ini adalah sebuah kondisi nyata yang saya hadapi pada waktu itu. Kalau saya tidak mempunyai keberanian untuk melakukan sesuatu, mungkin saya tidak bisa seperti ini ya, karena waktu itu jurusan sosial itu tidak bisa masuk Akabri. Alhamdulillah, saya lulus SMA.

 

 

Bapak waktu itu sudah tahu apa itu Akabri?

Sebenarnya saya tidak mengerti, apa sih Akabri itu? Disuruh ikut psikotes. Apa psikotes itu? Ya, sudah, ikut saja. Alhamdulillah, memang jalannya disitu. Waktu saya masuk taruna, saya mendapatkan sesuatu. Kan hidup saya sulit, makan aja susah waktu itu. Hidup di Akademi Militer semua serba tertib, makan tertib, pagi, siang, dan malam, semua nikmat bagi saya. Walaupun banyak teman saya bilang katanya sudah seperti neraka karena waktu itu sebenarnya senior kita senang mengerjai kita. Saya tidak peduli, hahaha, yang penting saya enak makan, hahaha. Saya sangat semangat di Akabri. Yang kedua, mata kuliah yang menantang, banyak sekali teman saya yang menghindari mata pelajaran itu, saya justru ikuti dengan baik, yaitu matematika (deferensial integral). Dulu matematika saya itu paling sial 98, biasa selalu 100.

 

Padahal itu salah satu momok, belum lagi dosen namanya terbilang killer, suatu saat guru tersebut jegkel melihat teman teman saya yang sulit materi tersebut, akhirnya disuruh mengajari “Moel, ajari teman-teman kamu.” Alhamdulillah setiap lulus selalu dengan nomor satu akademi. Mental juga. Kalau fisik saya tidak seberapa. Terus berjalan, akhirnya saya mendapatkan predikat Adhi Makayasa. Itulah kisah di Taruna. Setelah lulus dari Taruna, saya ditempatkan di Ujung Pandang, Makassar, 10 tahun di sana. Tapi itu salah satu jalan hidup saya, sehingga saya menjadi perwira yang teguh dan kuat. Terus saya sekolah, ditempatkan di Jakarta. Saya di Jakarta 11 tahun. Mulai menjadi perwira operasi sampai Komandan Brigade, Komandan Bataliyon, Komandan Kodim Jakarta Pusat. Dari situ saya Sesko TNI, terus jadi Asisten Operasi di Kalimantan. Perjalanan saya cepat. Enam bulan jadi Komandan Korem akhirnya jadi bintang satu. Jarang-jarang terjadi. Setelah saya dapat bintang dua jadi Panglima Divisi. Wah, cepat sekali. Selanjutnya saya jadi Pangdam Divisi yang baru diresmikan di Kalimantan Barat. Lalu jadi Pangdam di Siliwangi. Tidak lama.

 

 

Waktu di Lemhanas, banyak anggapan karir Bapak bakal berakhir?

Ya, waktu di Lemhanas, ini agak lama. Mungkin banyak orang cerita karir Moeldoko selesai. Tapi justru saya dapat tantangan baru di Lemhanas, karena saya mesti memimpin para profesor di Lemhanas dan Senior-senior saya dari angkatan 1971 yang dulunya guru-guru saya. Ini menarik, saya banyak dibesarkan di Lemhanas, dalam konteks akademik dan kepribadian dan karakter karena saya di situ blending dengan para senior-senior saya. Sehinga civilism saya benar-benar muncul, hahahaha. Mulai dari cara menyelesaikan persoalan dengan gaya berpikir orang-orang sipil. Selanjutnya, dari situ saya menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Sangat cepat, 3 bulan setengah. Tak berselang lama, saya menjadi kepala staf AD Panglima TNI. Sebuah perjalanan yang sangat panjang dan saya betul-betul nikmati apa yang saya lakukan.

 

 

Bagaimana Bapak melihat permasalahan bangsa ini, terutama  tentang isu pertahanan dan keamanan nasional?

Begini ya. Saya selalu memberikan kuliah kepada teman-teman kuliah di perguruan tinggi. Kalau situasi ini, Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan.Tapi, dunia berkembang dan berubah dengan cepat. Ada lima fenomena global yang terjadi saat ini. Change Speed, luar biasa, penuh resiko, risk. Sangat  kompleks dan surprised (mengejutkan). Situasi di laut utara, Natuna atau laut Cina Selatan, itu berubahnya sangat cepat. Perubahan yang sangat cepat, resikonya tinggi, membawa kompleksitas yang luar biasa, dan sering mengejutkan. Situasi global tersebut perlu disikapi oleh bangsa ini. Kita sekarang telah memasuki industri ke-empat. Bagaimana artifisial, intelligent, semuanya berjalan otomatis. Nanti kehadiran baterai akan membawa perubahan yang luar biasa.

 

Nanti perbankan adalah sebuah konsep, tidak lagi seperti ini. Jobless nanti akan berkurang sangat cepat. Nanti kalau mobil listrik berjalan, itu hanya 18 komponen. Sedangkan komponen mobil berbahan bakar premium ada sepuluh ribu. Pertanyaannya, bagaimana nasib komponenkomponen yang dilubrikasi oleh perusahaanperusahaan itu? Nanti pabrik steel bagaimana nasibnya, dan seterusnya. Negara-negara yang ekonominya bertumpu pada minyak dan gas, dia akan kolaps. Ini beberapa hal yang harus dipikirkan mulai sekarang lho, Jangan main-main! terjadi sesuatu penurunan pekerjaan karena perkembangan teknologi, namun Indonesia akan memasuki jumlah tenaga kerja produktif di mana tahun 2030 kita akan memiliki sumber daya nasional, sumber daya manusia yang sangat tinggi pada saat itu.

 

Kalau tidak tertangani dari awal dengan sebuah konsep yang memadai di mana Negara akan memikirkan dengan sungguhsungguh, maka yang terjadi adalah orangorang yang tidak memiliki ruang, tidak memiliki tempat, dia akan membangun komunitas baru. Komunitas baru kalau negatif, ini yang berbahaya. Nah, ini harus diantisipasi. Sehingga kondisi global itu pasti memengaruhi kondisi nasional. Di sinilah peran Negara menjadi sangat sentral.

 

 

Ada ancaman luar ?

Kita belum bisa mendefinisikan ancaman konvensional dengan clear, tetapi ancaman kita adalah ancaman dari non konvensional. Ancaman yang tersebut mendesak. Seperti narkoba, pelintasan perbatasan, hingga terorisme. Ini ancaman di depan mata dan sangat serius. Bagaimana mungkin yang tadinya tidak pernah terpikir mobilisasi narkoba sekarang kaya gitu. Tertangkapnya sekian ton, luar biasa! Pasti ada sebuah skenario. Ada skenario lain yang dikembangkan untuk melemahkan bangsa ini. Nah itu! Berikutnya bagaimana kita nanti menghadapi orang  Indonesia yang bergabung dengan ISIS di luar.  Kita pernah punya pengalaman, beberapa orang yang bergabung dengan Al Qaeda, begitu pulang ke Indonesia, sudah pusing kita. Jumlahnya cukup banyak. Kalau tidak diantisipasi akan ada persoalan yang seolah munculnya tiba-tiba.

 

 

Dalam konteks Bapak sebagai Ketua Umum HKTI apa awareness yang Bapak berikan kepada masyarakat Indonesia.

Begini perumpamaannya, maaf kalau agak kasar, kita ini seperti diinfus ya ? Kok bisa seperti itu? Ya, lihat saja (karena embargo) gula impor, ini impor, itu impor. Lama-lama saat impor itu berhenti, maka orang-orang kita akan tergeletak. Nah, HKTI ini ada untuk bisa mencari solusi untuk ikut membenahi petani di pertanian Indonesia. memberesi pertanian tersebut, agar kesadaran untuk mandiri di bidang ekonomi terwujud. Mudah-mudahan.

 

 

Harapan Bapak bagi banyak orang?

Harapannya adalah semua menyadari terjadi perubahan lingkungan yang sangat cepat. Saya pernah berseloroh waktu memberi ceramah kepada mahasiswa di Universitas Padjajaran. Dengan perkembangan lingkungan seperti itu, tidak lagi kita berpikir kumaha engke (bagaimana nanti)? Ini konsepnya teman-teman dari Sunda. Sekarang konsepnya harus berubah. Tidak lagi kumaha engke, tapi berubah menjadi engke kumaha atau nanti bagaimana? kalau kita tidak melakukan sesuatu, kita akan tertinggal. Nah gitu. Jadi itu harapan saya yang pertama. Harapan saya yang kedua adalah meningkatkan kompetitif. Bangsabangsa saat ini, James Canton mengatakan ada 10 tren yang akan terjadi 20 tahun ke depan, di antaranya persoalan inovasi. Nanti akan muncul hal-hal yang berkaitan dengan teknologi yang aneh-aneh. Ini sudah mulai muncul. Bagaimana mobil tanpa orang, dan seterusnya. Kita harus berpikir keras membangun sebuah inovasi. Dengan berinovasi kita akan bisa bersaing. 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

 

 

 

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250