Search:
Email:     Password:        
 
 





Princess Pantura: Antara Dangdut dan Politik

By Giatri (Editor) - 22 May 2018 | telah dibaca 196 kali

Naskah: Gia Foto: Edwin B.

Penyanyi dangdut di panggung politik adalah magnet untuk mendatangkan massa. Tentu saja, massa yang berkumpul lebih menyukai hiburan para penyanyi dangdut ketimbang pidato-pidato juru kampanye atau para politisi yang dianggap membosankan. Apa jadinya panggung kampanye politik tanpa kehadiran para penyanyi dangdut?

Pada pementasan ke-28 yang digelar di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, beberapa waktu lalu, Indonesia Kita mengangkat dangdut sebagai tema utama pertunjukan, mengajak penonton menyusuri salah satu wilayah Indonesia, yaitu jalur pantai utara di Pulau Jawa.

Bagi penulis cerita dan sutradara Agus Noor, pentas yang mengusung musik dangdut sudah lama menjadi obsesinya, “Mengolah lagu-lagu dangdut pantura ke dalam kisah bergaya komedi adalah kerja yang asyik dan menarik, terutama karena saya juga anak pantura yang tumbuh dengan karakteristik lagu dangdut sejak saya masih kanak-kanah di kampung,” ujarnya.

Lewat kisah tentang persaingan dua biduan dangdut di pantura yang diangkat dalam lakon Princess Pantura, penonton bisa berefleksi tentang gambaran sosial terkini bagaimana popularitas sering kali menjadi tujuan yang membuat orang gelap mata. Apalagi ketika tawaran dari panggung politik datang bagi para penyanyi dangdut digambarkan dalam lakon ini.

“Dangdut adalah wajah Indonesia, bahasa universal yang mempersatukan kita. Semua yang kami tampilkan adalah fakta. Sebagaimana tercermin dalam banyak lagu dangdut pantura, penderitaan dan kesedihan disampaikan dengan keriangan musik dan goyangan. Politik boleh semakin menjengkelkan, hidup boleh semakin sulit, tapi kita mesti tetap asyik bergoyang,” ungkap Butet Kartaredjasa.

Adegan dimulai dengan kedatangan Cak Lontong yang mengendarai motor gede, mengekor dibelakangnya Akbar yang mengendarai sepeda roda tiga. Hal itu sontak mengundang gelak tawa penonton.

“Aku ditinggal rombongan Pak Jokowi, nih (red. Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo melakukan touring ke Pelabuhan Ratu),” keluh Lontong kepada Albar.

Sedang asyik bercanda dengan Albar, tiba-tiba mereka didatangi gerombolan preman yang dipimpin Arie Kriting, kemudian terjadi percekcokan di antara kedua kubu tersebut.

Di lain tempat, Sruti yang sudah terkenal pulang ke kampungnya untuk menemui Marwoto, ayah Silir Pujiwati, yang banyak membantunya saat masih menjadi penyanyi dangdut keliling. Ia turut membawa Tarzan, sang bos yang mengorbitkanya menjadi penyanyi dangdut terkenal dan pasangan duetnya, Daniel Christianto.

Singkat cerita, untuk mencari sosok biduan kondang yang akan menjadi alat politiknya dalam meraih suara,  Tarzan pun membuat ajang ‘Princess Pantura Idol’. Tanpa pikir panjang, Marwoto yang dulunya merupakan teman sekampus Tarzan, sepakat membantu.

Sruti tidak tahu, jika sebenarnya, Tarzan hanya memanfaatkan ketenaran, suara, dan kemolekan tubuhnya agar bisa meraup suara masyarakat pantura. Namun, Sruti yang tengah mabuk kepayang dengan kesuksesan yang diraihnya semakin tak bisa dikendalikan. Bahkan ketika kembali bertemu dengan mantan kekasihnya (Lontong) yang tengah bersama Akbar, ia malah tak mengindahkannya. Pasalnya, ia merasa disakiti Lontong ketika masih menjadi ‘biduan kampungan’.

Sementara Lontong ingin menarik Sruti sebagai salah satu biduan yang akan memeriahkan kampanye yang akan dilakukannya, mengingat ia juga turut bersaing menjadi calon legislatif di daerah pantura seperti Tarzan.

Hari pemilihan biduan tiba, sebelum mulai perlombaan canda tawa dilontarkan para aktor di panggung, banyak pesan yang dapat dipetik selain lawakan yang mengocok perut.

“Apakah audisi ini di sponsori parpol (partai politik)? Karena di masa pemilihan begini banyak yang memanfaatkan dangdut untuk unsur politik,” tukas Inayah.

“Bicara soal partai, Inayah, sepertinya ada satu partai yang akan mendukung kamu untuk nyanyi, OKB.” kata Mucle.

“OKB? PKB! Gitu aja gak berani nyebut, takut gak dapat job dari mereka apa? PKB, Partai Kebanyakan Baliho. Itu partai KW, yang original punya Gus Dur,” seloroh Inayah.

“Heh siapa yang asal jeplak itu? ini adalah saling menghormati, jangan sampai ada ujaran kebencian. Kamu itu bukan orang politik, apa yang kamu andalkan, siapa backing-mu? Berani sekali ngomong seperti itu. Ekstrim banget kamu itu?” ujar Tarzan dengan geram.


Read More    

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

       

 

   

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250