Search:
Email:     Password:        
 
 





Rektor Inspiratif

By Iqbal Ramdani () - 24 May 2018 | telah dibaca 5543 kali

Rektor Inspiratif

Hadirnya figur-figur inspiratif dari dunia pendidikan tinggi, yakni para rektor dari berbagai perguruan tinggi yang kami tampilkan dalam rubrik “Rektor Inspiratif”, tentu bukan sesuatu yang tanpa alasan. Kami menilai mereka adalah akademisiakademisi yang dengan intelektualitasnya mampu membangun lembaga pendidikan yang mereka pimpin. Dan, itu terbukti dengan prestasi perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut dalam menciptakan mahasiswa-mahasiswa unggulan serta prestasi mereka yang diraih baik dari dalam maupun luar negeri. Hal itu tentu tak lepas dari ide, gagasan, dan pemikiran mereka yang ikut berperan serta dalam membangun negeri ini, khususnya di dunia pendidikan tinggi. Mereka adalah Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., M.B.A. (Rektor Universitas Kristen Indonesia), Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. (Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M. (Rektor BINUS University), Dr. H. Hidayatulloh, M.Si. (Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo), Prof. Ir. Joni Hermana, MScES., Ph.D. (Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Prof. Ir. Joniarto Parung MMBAT., Ph.D. (Rektor Universitas Surabaya), Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA (Rektor Institut Teknologi Bandung), Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. (Rektor Universitas Terbuka), Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti Kusumayudha, M.Sc. (Rektor Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta), Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (Rektor Universitas Negeri Yogyakarta), dan Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. (Rektor Universitas Andalas).

Rektor Inspiratif

Dr. Dhaniswara K. Harjono, S.H., M.H., M.B.A. (Rektor UKI) Super Team Untuk “UKI Hebat”

Naskah: Iqbal R. Foto: Edwin B./Dok. Pribadi

Berlatar belakang sebagai akademisi, pakar hukum, dan pebisnis sukses, Dr. Dhaniswara Kwartantijono Harjono, S.H., M.H., M.B.A. optimistis akan membawa Universitas Kristen Indonesia (UKI) menjadi universitas unggul, berkelas internasional, dan melahirkan alumni berkualitas. Untuk mewujudkannya, Rektor UKI masa bakti 2018 – 2022 tersebut pun telah menyiapkan sejumlah langkah.

 

Dhanis mengaku, tak pernah terbersit dibenaknya untuk menjadi seorang pendidik. Mulanya, ia hanya memiliki cita-cita yang sederhana, yaitu bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Lantas, ia pun memilih bergelut di dunia usaha dengan membidani perusahaan, memiliki karyawan, dan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan banyak orang. “Untuk meningkatkan kualitas diri, saya melanjutkan studi sampai pada jenjang S3. Seiring berjalannya waktu, saya berpikir kok di Indonesia yang memiliki gelar doktor hanya sekitar 0,35%? Hal itulah yang akhirnya menggerakkan hati saya untuk berbuat lebih banyak di dunia pendidikan dengan menjadi dosen,” tuturnya kepada Men’s Obsession di ruang kerjanya yang nyaman. Beberapa tahun menjadi pendidik di UKI, ia tahu betul peta UKI. “Prioritas kami adalah menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang berkualitas dengan harapan menghasilkan alumnialumni unggulan yang bisa berkiprah di manapun. Kedua, kita meyakinkan diri kita dan stakeholder bahwa UKI ini baik. Jadi, kita ingin membentuk citra yang positif di masyarakat,” tegasnya. 

 

Tak lama berselang menjadi dosen UKI, Dhanis pun dipercaya menjadi Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum. Karirnya terus menanjak, ia kemudian diamanahi sebagai Direktur Pasca Sarjana, Wakil Rektor, hingga puncaknya pada Februari 2018 lalu, ia dilantik sebagai Rektor UKI masa bakti 2018 - 2022. Dengan mengusung tagline ‘UKI HEBAT’, Dhanis yakin, kalau bekerja dengan hati ikhlas, tulus, dan meniatkan apa yang dikerjakan sebagai ibadah kepada Tuhan, maka akan berbuah manis, sehingga bisa meraih prestasi yang baik. “UKI itu memiliki motto melayani, bukan dilayani. Kami dituntut untuk selalu bekerjasama, ditambah UKI memiliki nilai-nilai yang selalu diterapkan terhadap mahasiswanya, yaitu rendah hati, berbagi dan peduli, profesional, disiplin, dan bertanggung jawab,” ia menambahkan.

 

Sejumlah langkah pun telah ia siapkan untuk membangun kampus yang telah didirikan 8 tahun setelah Indonesia merdeka tersebut. Tujuannya agar UKI memiliki peran dalam membangun bangsa. “Rencana Induk UKI menandaskan bahwa pada tahun 2019, UKI akan menjadi Universitas Unggulan dalam konteks wilayah Kopertis III. Salah satu kekuatan UKI adalah kuantitas dan kualitas alumni. Saat ini, UKI memiliki lebih kurang 50.000 alumni. Informasi dari Dekan FK UKI, ada 17 orang Direktur Rumah Sakit se-Indonesia yang merupakan Alumni UKI. Ke depannya, kami ingin melakukan pembinaan jiwa enterpreneur kepada para mahasiswa,” urai Dhanis. Tak hanya itu, Dhanis menggarisbawahi, UKI harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dengan menjadi universitas berbasis teknologi. Dhanis pun mengajak mahasiswanya agar melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan teknologi. “Sekarang teknologi mampu menguasai seratus bahasa. Teknologi adalah pesaing utama kita, bukan lagi manusia dengan manusia. Untuk menguasai teknologi, kita harus melakukan hal yang tak bisa dilakukan teknologi, misalnya agama, etika, musik, olahraga, dan teamwork. Sehingga mereka mempunyai nilai tambah,” ungkap penggemar traveling itu. 

Peningkatan sarana dan prasarana juga Dhanis lakukan, “Seperti sarana dan prasarana olahraga dan seni. Jadi mahasiswa yang dihasilkan selain mempunyai kemampuan akademik, mereka juga memiliki kemampuan non akademik yang dapat dibanggakan. Itu juga menjadi modal UKI untuk bersaing dengan lulusan-lulusan dari universitas lain,” ujar advokat senior itu. Ya, selama ini selain prestasi akademik, UKI juga kerap menorehkan prestasi non akademik. Salah satu yang sangat menonjol adalah di bidang olahraga. Puluhan piala berjejer di dalam rak kaca di ruang sekretariat UKI yang ukurannya tak terlalu luas. Sejak tahun 1970, UKI memang sudah mendominasi berbagai kejuaraan antar mahasiswa maupun antar perguruan tinggi. “Akhir-akhir ini prestasi mahasiswa UKI terbilang banyak. Kalau olahraga, kekuatannya di futsal dan basket, kalau kita mengikuti berbagai pertandingan di bidang tersebut, pada umumnya kita meraih podium,” papar pria berkacamata itu

 

Ketua Pertama Peradi Jakarta Utara itu juga menyebutkan, mahasiswa UKI menunjukan gaungnya ketika mengikuti Moot Court Competition (Kompetisi Peradilan Semu).“Saya tahu persis kemampuan mahasiswa UKI, kami kerap menyabet juara,” tutur Dhanis. Dalam membangun UKI, Dhanis menerapkan pola leadership, di mana seorang pemimpin selain agile (tangkas), juga harus memberi contoh bagi orang lain. “Di sini tidak ada superman, yang dibangun adalah super team. Semua punya kemampuan sesuai dengan bidangnya masing-masing,” kata Alumni Fakultas Hukum UKI angkatan 1981 tersebut. "Menutup pembicaraan, Dhanis menuturkan dalam memimpin suatu lembaga pasti akan ada tantangan terlebih di era digital saat ini. Menjawab tantangan tersebut, Ketua Dewan Pertimbangan Kadin DKI Jakarta itu memiliki jurus jitu, yakni terus melakukan beragam terobosan termasuk dalam kecepatan dan ketepatan dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa. “Yang namanya perubahan hanya menimbulkan 2 reaksi, yakni antusiasme atau kekhawatiran bagi orang-orang tertentu, tapi kalau kita melakukan pendekatan yang baik dan smooth, tentunya semua akan bisa berjalan baik,” pungkasnya.

Rektor Inspiratif

Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P. (Rektor UMY) Melahirkan Generasi Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto & Dok. Humas UMY

Di bawah kepemimpinan Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., keberadaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semakin eksis di dunia internasional. Beberapa program yang bekerjasama dengan banyak Universitas di mancanegara digulirkan, seperti Express Learning dan akulturasi budaya. Belum lagi segudang prestasi yang diraih, baik oleh UMY sendiri maupun para mahasiswanya.

 

Ketika ditemui Men’s Obsession di kampus UMY beberapa waktu lalu, Gunawan tampil sederhana. Mengenakan polo shirt putih dengan gayanya yang santai, sungguh jauh dari kesan pemimpin yang bossy. Ya begitulah kesehariannya, ia tampil apa adanya, pembawaannya juga ramah dan terbuka kepada siapapun di lingkungan UMY, baik kepada seluruh staf dan dosen, maupun mahasiswa. Candaan dan tawa ringan pun kerapkali terlontar saat sesi pemotretan berkonsep casual sporty berlangsung. “Saya ini orangnya memang senang guyon,” ucapnya sembari tersenyum. Meski demikian, Gunawan tetaplah seorang pemimpin yang disegani. Kinerja dan kepiawaiannya dalam memimpin pun telah terbukti. Sejak menjabat rektor UMY pada 2016 silam, banyak hal dan prestasi yang ditorehkan UMY. Antara lain, UMY yang mengikuti perkembangan zaman selalu melakukan pemanfaatan Teknologi Informasi dalam proses belajar mengajar, ini masuk dalam 5 besar Perguruan Tinggi di Indonesia yang menyelenggarakan Electronic Distance Learning.

 

Kemudian tercatat banyak prestasi mahasiswa yang berhasil diraih, baik skala nasional maupun internasional, seperti, juara untuk ajang English Debate Contest di Singapura, serta beberapa mahasiswa yang berhasil mendapatkan beasiswa luar negeri. Sementara untuk prestasi non akademik, mahasiswa UMY pernah meraih penghargaan rekor MURI sebagai pemakaian busana batik tertinggi di dunia yang dikenakan saat mendaki puncak Gunung Everest, serta dalang tertinggi di dunia yaitu mendalang pada saat pendakian puncak Gunung Kilimanjaro. Memiliki visi dan target jangka panjang ingin menjadikan UMY sebagai Entrepreneur University yang sejajar dengan Perguruan Tinggi yang ada di Asia, Gunawan memulainya dengan melakukan kerjasama dengan beberapa Universitas di mancanegara, khususnya di Asia, dengan tujuan agar UMY memiliki reputasi baik di dunia internasional. Antara lain dengan mendatangkan sebanyak mungkin visiting profesor, visiting lecturer dan visiting researcher dari luar negeri, termasuk menarik minat mahasiswa asing. 

Selain itu, UMY juga mengirimkan beberapa mahasiswanya untuk melakukan KKN atau yang disebut Express Learning tak hanya di pelosok nusantara namun juga ke mancanegara yang terfokus pada Kawasan 3T (Terjauh, Terdepan dan Tertinggal). Misalnya ke Nusa Tenggara Barat (NTB) di kaki gunung Rinjani, yang bertugas mendampingi masyarakat setempat untuk meningkatkan produksi pertanian. Sementara contoh KKN di dunia internasional adalah kerjasama dengan Politeknik Singapura. “Nah mereka yang dari Singapura juga kita kirim ke beberapa desa di Indonesia untuk melihat dan mempelajari home industry. Mereka senang sekali mendapat wawasan dan budaya baru dari masyarakat pedesaan kita,” pungkas pemimpin egaliter ini. Di lingkungan UMY sendiri, pria yang hobi tenis dan bersepeda ini telah mempersiapkan fasilitas bagi para mahasiswa yang ingin mempelajari bahasa asing lainnya selain Bahasa Inggris, seperti Bahasa Mandarin yang telah ada di UMY sejak 2003 dan Bahasa Perancis. UMY juga menggelar acara culinary festival setiap tahunnya yang menyajikan aneka masakan dari seluruh dunia dengan mendatangkan juru masak dari mancanegara. “Sehingga ini bukan lagi kampus khusus Islam seperti yang mereka pikir, tapi kita terbuka. Nah, dengan adanya akulturasi budaya yang seperti ini, saya berharap bisa meluruskan citra Islam di mata bangsa barat bahwa Islam tidak seperti yang mereka bayangkan. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin,” Gunawan berkata serius. 

 

Di samping itu, UMY juga dikenal sebagai kampus yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitar. UMY memiliki Lembaga penanggulangan bencana yang aktif bergerak dan menolong mereka yang terkena bencana alam, seperti pada kejadian Merapi tahun 2010 lalu, UMY menempatkan mahasiswanya di puncak Merapi untuk waktu yang cukup lama, mulai dari pendampingan hingga recovery. Untuk itu, bekerjasama dengan beberapa lembaga internasional, UMY juga memiliki suatu pelatihan khusus penanganan bencana yang dinamakan Disaster Summer School, yang terbagi menjadi beberapa bidang keahlian khusus, seperti medicine, dentist, nursing camp, pertanian, Ekonomi Syariah, bencana alam, hingga resolusi konflik dan perdamaian. Selain itu, UMY juga memiliki JK School of Government yang mengelaborasi bukan hanya ilmu tapi juga praktek-praktek kenegaraan yang dilakukan oleh Pak Jusuf Kalla (JK), serta Syafii Maarif Political Thought and Humanity yang mengajarkan konsep-konsep kemanusiaan, budaya, dan moral.

 

“Nah, sekolah inilah yang kemudian juga ikut mendorong trust teman-teman dari luar negeri untuk datang ke Indonesia. Dan kita berharap dengan sekolah-sekolah perdamaian, sekolah persamaan hak dan kemanusiaan, kita bisa membuktikan bahwa citra Islam tidak seperti apa yang diterima media massa barat, tapi kita juga concern terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kesamarataan,” tegas pemimpin yang mengidolakan Nabi besar Muhammad SAW tersebut. Tak hanya sampai di situ, UMY juga memiliki program beasiswa Pendidikan untuk masyarakat tidak mampu, seperti program ‘dokter Muhammadiyah’ yang diperuntukan untuk yatim piatu berprestasi. Kelak, dokter tersebut akan membantu UMY mengembangkan klinik apung yang tersebar di pelosok perairan nusantara seperti di Ambon. UMY juga menggagas sekolah Muhammadiyah yang diperuntukan bagi para TKI di negeri orang, seperti di Taiwan dan Korea. Selain mengajarkan Kejar Paket untuk mereka yang putus sekolah, sekolah ini juga mengajarkan tentang kewirausahaan dengan harapan kelak jika kembali ke tanah air, mereka bisa memanfaatkan uangnya dengan baik. 

Rektor Inspiratif

Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M. (Rektor Binus University) Membawa Binus University Berkualitas Global

Naskah: Giattri F.P. Foto: Dok. Humas BINUS UNIVERSITY

Sejak menjabat sebagai Rektor BINUS UNIVERSITY pada 2009 silam, Prof. Dr. Ir. Harjanto Prabowo, M.M., begitu gigih mewujudkan visi BINUS 2020 “A World-class university in continuous pursuit of innovation and enterprise”. Ia pun berkomitmen kuat untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas global.

 

“Saya bersama dengan rekan-rekan membuat roadmap agar lebih mudah dipahami dan dicapai. Kami mempelajari bagaimana suatu perguruan tinggi memiliki kualitas yang dapat diakui secara global,” ujar Harjanto. Untuk itu, tegas Harjanto, BINUS harus memperkuat diri seperti memperbaiki kualitas lulusan, pengetahuan dan inovasi, kualitas akademik, high impact research, SDM yang handal dan kompeten, teknologi informasi dan komunikasi, program internasionalisasi dan kerjasama dengan industri, global recognition, menjadi perguruan tinggi pilihan, serta pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainability growth). Harjanto menerapkan sejumlah kebijakan, di antaranya BINUS Higher Education System sebagai standardisasi kualitas dan layanan pendidikan. Kualitas pelayanan, fasilitas, kurikulum antara kampus di Jakarta maupun di kota lainnya akan sama. Dalam hal akademis, pihaknya memiliki target 2 dari 3 alumnusnya bekerja di perusahaan global atau menjadi entrepreneur dalam waktu 6 bulan setelah kelulusan. 


“Untuk mencapai hal tersebut kami memiliki Program 3+1 untuk BINUS (3 tahun kuliah di kampus asal + 1 tahun mengambil salah satu dari 5 program enrichment yaitu : Internship (magang), Study Abroad (kuliah di luar negeri), Research (riset), Entrepreneurship (kewirausahaan), dan Community Development (pengabdian masyarakat),” terang kelahiran Pekalongan, 17 Maret 1964 itu. Berkat kerja keras Harjanto bersama rekan-rekan BINUSIAN dalam mencapai visi Binus 2020, sejumlah prestasi membanggakan pun ditorehkan, di antaranya mendapat bintang 3 dari QS Star University Ranking, mengikuti dan meraih ASIAN MAKE Award (Most Admired Knowledge Enterprise) sejak tahun 2007, akreditasi internasional untuk beberapa program seperti EFMD EPAS untuk International Accounting & Finance Program serta ABET untuk Engineering program, TEDQUAL untuk Hotel Management, Akreditasi Institusi A dari BAN-PT, dan Lebih dari 55% program studi telah terakreditasi A, 25% terakreditasi B, dan 15% adalah program baru.

 

“Bagi kami yang tidak kalah penting adalah BINUS mendapat kepercayaan dari masyarakat, orangtua, pemerintah, dan industri. Karena hal tersebut dapat membuka peluang bagi mahasiswa kami untuk mendapat pengalaman di luar kampus. Dalam hal menjaga hubungan dengan rekan sekolah dan industri di daerah, kami memiliki BULC (BINUS UNIVERSITY Learning Community) Chapter School dan BULC Chapter Industry,” ungkap Harjanto. Harjanto menambahkan, jebolan BINUS juga banyak yang sukses menjadi entrepreneur seperti William Tanuwijaya (Co-Founder Tokopedia), Alamanda Shantika (Gojek), dan masuk Forbes under 30 seperti: Jeff Hendrata (Founder Karta Indonesia Global), Benny Fajarai (Founder Qlapa), Tyovan Ari Widagdo (Founder Bahaso), Joshua Kevin (Founder Talenta.co), dan Yasa Singgih (Founder Men’s Republic). 

 

“Prestasi di luar akademis banyak juga diraih oleh mahasiswa/i BINUS seperti dalam bidang paduan suara ada Paramabira yang beberapa kali berhasil menjuarai kompetisi internasional, kompetisi karya tulis, teknologi aplikasi, hingga karya animasi” imbuhnya. Dalam memimpin BINUS, Harjanto tak menampik kerap menemui berbagai rintangan, yakni bagaimana membangun suasana kerja di lingkungan akademis tetap dinamis dan menyenangkan. Misal, terkait dengan SDM khususnya tenaga dosen adalah bagaimana menjembatani gap antara mahasiswa dengan dosen karena tiap generasi butuh pendekatan yang berbeda dan pengajar harus siap dengan hal tersebut. BINUS UNIVERSITY, sambung Harjanto, tidak hanya mencari dosen yang bisa mengajar saja, namun harus mencerminkan Catur Dharma (Tri Dharma perguruan tinggi + self development). 

 

“Dengan standar tersebut seringkali belum bisa terpenuhi atau kami masih menunggu dosen tersebut siap karena mungkin masih mengambil program S2 atau S3. Namun saya bersyukur, kami memiliki pemahaman yang sama terhadap visi BINUS 2020. Dengan pemahaman yang sama tersebut, kami berhasil mengatasi berbagai kendala, contohnya seperti persepsi masyarakat terhadap dosen perguruan tinggi swasta tidak memiliki kemampuan publikasi yang bagus,” ungkapnya. Hingga saat ini, BINUS sudah memiliki jurnal sebanyak sekitar 1.624 yang terindeks di Scopus dan menempati peringkat 12 di Indonesia. Ia pun menggarisbawahi, BINUS dapat menjadi sebesar sekarang tidak lepas dari perjuangan pendiri itu sendiri. Berawal dari lembaga kursus komputer yang didirikan oleh keluarga yang memiliki semangat mendidik. “Saya tidak klaim kesuksesan BINUS karena kepemimpinan saya. Saya hanya meneruskan pola kepemimpinan sebelumya, memperbaiki yang masih kurang dan memperkuat yang sudah bagus,” tegasnya.

 

Ketika ditanya, legacy apa yang akan Harjanto tinggalkan untuk lembaga yang dipimpinya jika kelak pensiun, dengan lugas ia menjawab, “Saya berharap BINUS makin maju dengan hadirnya kampus lain di luar Jakarta seperti di Bandung, Malang, serta BULC di Semarang, Palembang, dan kota lainnya. Dan dengan dikelola oleh BINUS Higher Education diharapkan kualitas dan pelayanan dapat terus ditingkatkan.” Menutup pembicaraan pria yang memiliki filosofi hidup berbuat baik, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan bermanfaat bagi orang lain ini menuturkan hanya memiliki obsesi sederhana. “Dalam hal karir akademik mungkin sederhana saja, saya ingin menjadi Professor yang lebih baik dan benar. Senang melihat generasi penerus yang berhasil dan bisa berkontribusi bagi orang lain,” pungkasnya.

Rektor Inspiratif

Dr. H. Hidayatulloh, M.Si. (Rektor UMSIDA) Mengembangkan IPTEK Dan Seni Bernilai Islam

Naskah: Sahrudi Foto: Dok. Pribadi

Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya" dipegang betul oleh Dr. H. Hidayatulloh, M.Si. Karena itulah, Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) ini bertekad menjadikan kampusnya sebagai agen pengembang ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni yang berlandaskan pada nilai-nilai islami.

 

Salah satu faktor kesuksesan sebuah organisasi, tak terkecuali lembaga pendidikan tinggi, adalah faktor leadership alias kepemimpinan. Begitu juga yang ada di UMSIDA. Kepemimpinan Hidayatulloh sebagai rektor yang andal dan profesional telah membawa UMSIDA menjadi kampus yang diperhitungkan. Memang, di UMSIDA konsep kepemimpinan yang diterapkan tidak terlalu njlimet tapi mumpuni dalam menata manajemen universitas tersebut. “Kami mengusung kepemimpinan berbasis nilai dan prinsip-prinsip yang dirumuskan dalam satu kata “TORSIE” yang merupakan akronim dari kata “Trust, Openness, Responsibility, Sinergy, Interdependence, and Empowering,” ungkap Hidayatulloh. Maknanya, harus ada kepercayaan (trust) antara pimpinan dan yang dipimpin dan sebaliknya. Trust ini dikembangkan di semua level kepemimpinan, mulai rektorat, dekanat, biro, lembaga, dan unit -unit lain yang ada di UMSIDA. Jadi, antara yang satu dengan lainnya terbentuk suasana saling percaya dan dipercaya,” terang dosen S-2 Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam di UMSIDA ini.

 

Sementara itu, keterbukaan (openness) akan menopang dan memperkuat kepercayaan sehingga melahirkan tanggungjawab (responsibility) kepemimpinan dan tugas yang diberikan oleh lembaga. Dengan demikian, kerjasama (synergy) akan mudah terjalin dalam meringankan beban pekerjaan, dan mempercepat penyelesaiaan pekerjaan serta keberhasilan tim. Karena itulah, keberhasilan dalam sebuah kepemimpinan itu tak lepas dari sikap interdependence atau saling tergantung. “Artinya, keberhasilan UMSIDA bukan karena pimpinan semata, tetapi karena peran luar biasa dari semua bagian yang ada. Keberhasilan yang dicapai ini adalah keberhasilan bersama mulai dari rektorat sampai dengan staf yang paling bawah,” ungkap Hidayatulloh menambahkan. Sementara untuk empowering atau pemberdayaan, adalah faktor yang tak kalah penting. ”Karena seseorang tidak selamanya menduduki jabatan, yang mana dalam kepemimpinan itu ada batas waktunya. Oleh karenanya, supaya keberlangsungan kepemimpinan dan kegiatan di UMSIDA ini terjamin, maka harus bisa dipastikan terjadinya pemberdayaan (empowering). Ini memberikan ruang kepada semua warga kampus untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensinya, agar kaderisasi bisa terjamin dan keberlangsungan kehidupan kampus di masa depan juga aman,” papar pria kelahiran Sidoarjo, 16 Juli 1969 ini. 

Dengan prinsip kepemimpinan itulah, Hidayatulloh mengakui mampu merumuskan sejumlah langkah strategis UMSIDA untuk mendukung kualitas pendidikan di Indonesia, mulai dari melakukan Analisis SWOT, penyusunan dokumen induk sebagai dasar pengembangan dan pelaksanaan kegiatan seperti menetapkan Visi UMSIDA, yaitu “Menjadi perguruan tinggi unggul dan inovatif dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berdasarkan nilai-nilai Islam untuk kesejahteraan masyarakat”, sampai dengan menetapkan Rencana Induk Pengembangan (RIP) UMSIDA. Dengan konsep yang matang dan terukur, UMSIDA kini tengah menuju menjadi kampus berkualitas dan berdaya saing internasional dengan memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana kampus mulai dari gedung perkuliahan, perkantoran, perpustakaan dengan kelengkapan buku dan referensi lainnya, laboratorium dengan kelengkapan alat dan bahan praktikum, sampai dengan sarana pendukung kegiatan kemahasiswaan yang ada di Kampus I, Kampus II, Kampus III, dan Kampus IV. 

 

Kini UMSIDA juga tengah membangun dan mengembangkan SIM (Sistem Informasi Manajemen) yang terintegrasi, yang memudahkan dan mempercepat semua proses di UMSIDA. Sementara itu untuk pemenuhan kebutuhan dosen disesuaikan dengan rasio dosen dengan mahasiswa. “Saat ini UMSIDA memiliki 207 dosen tetap dengan jumlah mahasiswa sebanyak 8.862 yang tersebar di 9 Fakultas dan 26 Program Studi. Dari 207 dosen tetap tersebut, yang mempunyai jabatan fungsional akademik Guru Besar 2 orang, Lektor Kepala 7 orang, Lektor 36 orang, Asisten Ahli 68 orang, dan yang sedang mengurus kepangkatan ada 94 orang. Jabatan fungsional akademik ini akan meningkat terus, seiring dengan kebijakan dalam masa 2 – 3 tahun dosen harus mengurus kenaikan kepangkatan akademik. UMSIDA juga mendorong para dosen untuk meningkatkan kualifikasi akademiknya. Saat ini ada 30 Dosen Tetap yang sedang menempuh studi Program Doktor (S3) di dalam dan luar negeri.

 

Sejalan dengan pertumbuhan mahasiswa, UMSIDA terus menambah jumlah dosen secara proporsional, dan ke depan diproyeksikan 50% dari jumlah dosen yang ada bergelar Doktor,” ungkap Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur ini yang seraya menambahkan juga bahwa UMSIDA kini mengembangkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga lain di dalam dan luar negeri untuk penguatan pelaksanaan Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Di sisi lain, sederet prestasi pernah ditorehkan UMSIDA antara lain UMSIDA telah Terakreditasi B (Sangat Baik) sejak tahun 2015. Pada pemeringkatan Perguruan Tinggi Swasta di Wilayah Kopertis 7 dalam Anugerah Kampus Unggul (AKU) 2017, UMSIDA meraih Predikat Utama dalam urutan ke-12 dari 380 an PTS se-Jawa Timur. Di tingkat nasional, dari 4.500-an PTN dan PTS se-Indonesia, pada penilaian Kemenristek Dikti RI tahun 2017, UMSIDA berada pada Peringkat 149. Sementara pada Pemeringkatan versi 4ICU pada Januari 2018, UMSIDA berada pada peringkat 81 dari 4.500-an PTN dan PTS di Indonesia.

 

Prestasi lainnya, pada pemeringkatan bidang penelitian dari Kementerian Ristek Dikti, UMSIDA telah masuk kategori utama dan pada bidang pengabdian masyarakat, masuk kategori Memuaskan. Tentunya prestasi tersebut tak akan pernah berhenti dan akan terus ditingkatkan sebagai sebuah ikhtiar untuk ikut mengambil peran dalam membangun sumberdaya manusia Indonesia yang unggul.

Rektor Inspiratif

Prof. Ir. Joni Hermana, MScES., Ph.D. (Rektor ITS) Membawa ITS Mendunia

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

Banyak hal yang telah dilakukan Prof. Ir. Joni Hermana, MScES., Ph.D. dalam memimpin Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS). Sejak diberi amanah menjabat rektor ITS pada 2015 lalu, Joni bekerja keras untuk mencapai apa yang menjadi mimpi dan visi misinya untuk ITS ini, antara lain mengubah status ITS sebagai PTN-BH serta ingin membawa ITS mampu lebih berkontribusi secara nasional dan diakui di dunia internasional.

 

Joni Hermana, adalah sosok pemimpin yang sederhana. Ia bekerja di dunia Pendidikan nasional dengan penuh integritas tinggi. Tak ayal jika kariernya yang berawal dari seorang dosen ini, meningkat perlahan-lahan hingga berhasil menduduki posisi Rektor ITS pada 2015 lalu. Meski Joni bukanlah tipe pemimpin yang ambisius dalam mengejar jabatan, namun ia bekerja all out ketika jabatan strategis Rektor diamanahkan pada dirinya. Ya, ketika dipercaya menjabat Rektor, Joni beserta timnya langsung tancap gas untuk mengejar apa yang menjadi mimpi dan visi misi mulianya untuk ITS ini. Pertama, mengubah status ITS menjadi PTN-BH yang ideal, kemudian membawa ITS lebih banyak berkontribusi secara nasional dalam bidang science dan teknologi, serta membawa ITS mampu berkontribusi di dunia internasional agar dapat mengangkat marwah bangsa Indonesia untuk lebih diakui di dunia internasional. “Nah saya kira ini penting karena Perguruan Tinggi jangan hanya menjadi menara gading, tapi harus ada inovasiinovasi nyata yang bisa menjawab persoalanpersoalan di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan science dan teknologi,” terang Joni kepada Men’s Obsession ketika ditemui di ruang kerjanya. 

 

Seiring berjalannya waktu, Joni pun berhasil membuktikan pencapaian dan kinerja membanggakan untuk Lembaga yang dipimpinnya ini. Misalnya, ITS terpilih sebagai salah satu Perguruan Tinggi yang paling tinggi capaian inovasinya dalam hal saintek oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI pada tahun 2017. Kemudian jika dilihat dari ruang lingkup skala internasional, kini sudah semakin banyak mahasiswa, dosen maupun tenaga kependidikan yang melakukan kerjasama dan magang dengan Perguruan Tinggi luar negeri. “Dan kalau dilihat dari indikator publikasi internasional saat ini, kita merupakan Perguruan Tinggi dengan percepatan publikasi internasional yang paling tinggi di Indonesia. Jadi kenaikan kita cukup drastis,” ungkap penghobi traveling dan membaca ini.

 

Tak hanya itu, jika bicara prestasi mahasiswa ITS juga patut diacungi jempol. Prestasi mahasiswa semakin meningkat tiap tahunnya. Sebagai gambaran, prestasi mahasiswa dari total sekitar 700-an prestasi pada 2016 melonjak tajam menjadi sekitar 930 prestasi pada 2017 lalu. Mahasiswa ITS mampu unjuk gigi di dunia internasional terutama dalam bidang science dan teknologi, seperti pada 2017 lalu berhasil meraih prestasi juara dunia di ajang American Institute of Chemical Engineers (AIChE) Chem-E-Car Competition 2017 di  Minneapolis, Amerika Serikat, yaitu lomba bidang otomotif berbahan dasar kimia yang diikuti puluhan Perguruan Tinggi lainnya dari seluruh dunia. Bagi Joni, memimpin sebuah Perguruan Tinggi besar seperti ITS tidaklah mudah. Ada kendala dan tantangan yang harus dilalui dan dicari jalan keluarnya. Salah satunya adalah infrastruktur seperti peralatan lab yang masih belum memadai. Meski demikian, tim ITS tak pantang menyerah, melainkan tetap semangat menunjukkan prestasinya dengan beberapa strategi yang dirancang Joni, yakni melakukan kerjasama dengan Perguruan Tinggi di Luar Negeri yang memiliki peralatan laboratorium lengkap.

 

“Nah ini jelas kan kendala yang harus diatasi sehingga yang kita lakukan adalah kita berkolaborasi dengan Perguruan Tinggi di Luar seperti Taiwan dan Jepang untuk menghasilkan karya penelitian. Mereka juga senang apalagi dari hasil kolaborasi tersebut berkembang lagi ke penelitian lain dengan sumber dana dari instansi lain di negara berbeda,” ujar kelahiran Bandung, 18 Juni 1960 ini. Sebagai Perguruan Tinggi yang unggul dalam bidang Science dan Teknologi, ITS memang dituntut untuk bisa melahirkan dan menggerakkan para dosen peneliti agar bergairah dan semangat melakukan penelitian. Hal itu tentu menjadi tugas dan tanggung jawab Joni selaku Rektor ITS untuk bisa mendorong dan mendukung mereka melakukan penelitian lebih banyak lagi.

 

“Pemeran utama dari sebuah Perguruan Tinggi ini kan pada manusianya, kuncinya terletak pada bagaimana kita memberdayakan mereka agar mau berinisiatif mengembangkan kapasitas kemampuannya semaksimal mungkin. Nah ini juga menjadi tantangan saya bagaimana menggerakkan teman-teman agar mau melakukan inovasi dan penelitian dengan rasa suka tanpa merasa dipaksa,” tegasnya. Untuk mewujudkan hal itu, Joni memberi contoh terlebih dahulu dengan melakukan publikasi juga. Ya, memimpin dengan memberi contoh, merupakan salah satu konsep leadership yang ia terapkan. “You have to do something by example. Jadi tidak hanya memerintah, tapi saya tunjukan
juga bahwa saya melakukan hal yang sama. Misalnya semua dosen wajib menulis jurnal internasional, terutama yang bergelar doktor, profesor. Awalnya memang sedikit memaksa tetapi ketika mereka berhasil dan ternyata publikasi itu menjadi banyak, lebih dari satu, nah mereka senang semua karena kan mereka juga yang mendapat benefit pada akhirnya.

 

Jadi saya kira dalam hal ini kita harus berani mendorong mereka selama itu positif,” Joni menjelaskan dengan serius. Ke depan, jika kelak ia tak lagi menjabat Rektor, ia ingin meninggalkan ITS dengan suasana akademik yang kondusif di dalam kampus, serta menciptakan sebuah sistem manajemen yang berjalan dengan baik sehingga sangat membantu pekerjaan, siapapun pemimpinnya nanti.

Rektor Inspiratif

Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT., Ph.D. (Rektor UBAYA) Meningkatkan Nasionalisme Melalui Budaya

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

Dipercaya menjabat Rektor Universitas Surabaya (UBAYA) selama dua periode (2011 – 2015 dan 2015 – 2019), Prof. Ir. Joniarto Parung, MMBAT., Ph.D. telah berhasil membuktikan kinerjanya yang cemerlang. Di bawah kepemimpinannya, Ubaya semakin bersinar di usianya yang ke-50 tahun dengan meraih banyak pencapaian dan prestasi membanggakan, baik dari Lembaga maupun prestasi para mahasiswanya.

 

Ya, berbagai piagam dan piala-piala kemenangan ditata rapih dalam sebuah lemari kaca yang diletakan di lobi kampus. Tak jauh dari situ terdapat juga pameran kebudayaan berupa terakota peninggalan zaman Majapahit yang mampu membuat siapapun berdecak kagum. Sang Rektor yang kala itu menemani tim Men’s Obsession berkeliling kampus Ubaya, menerangkan dengan penuh semangat penghargaan demi penghargaan tersebut serta makna dari pameran Majapahit ini. “Jadi value utama yang dikembangkan Ubaya ini adalah Multi Culture, artinya mahasiswa dan staf Ubaya terbuka dari berbagai latar belakang etnis, suku, agama, dan budaya. Ubaya belajar dan memberi ruang untuk belajar dari berbagai latar belakang budaya untuk pendidikan karakter dan pengembangan wawasan,” terang Joni. Di samping nilai-nilai budaya, Joni juga menekankan pada kualitas Ubaya agar bisa semakin dikenal dan dipercaya masyarakat.

 

Dengan langkah-langkah dan kebijakan strategis yang telah dilakukan, Ubaya mampu bersinar serta meraih pencapaian dan prestasi membanggakan. Misalnya, prestasi secara kelembagaan bisa dilihat pada 2014 lalu, Ubaya meraih SNI (Standar Nasional Indonesia) Award dari Badan Standarisasi Nasional (BSN) sebagai pemenang Industri Jasa Kategori besar, bersaing dengan Perguruan Tinggi dan industri jasa lainnya. Kemudian pada 2015 – 2017, selama tiga tahun berturut-turut, Ubaya berhasil mempertahankan prestasi dengan meraih Award kategori Gold. Pada 2012, 2014 dan 2016 (setiap 2 tahun) Ubaya menerima penghargaan Indonesia Green Award kategori Green Kampus dari La Tofi. Pada tahun 2015 Ubaya memperoleh Akreditasi Institusi kategori A dari BAN PT. Sementara program studi yang memperoleh akreditasi A dalam waktu 5 tahun sudah ada sejumlah 16 dari sebelumnya yang hanya 6 program studi. Yang juga tak kalah membanggakan, Ubaya dinilai oleh Kemenristek Dikti sebagai salah satu dari 2 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terbaik pada tahun 2016 dan 2017 yang sebelumnya 5 terbaik pada tahun 2015. Ubaya juga menjadi satu-satunya PTS yang masuk 5 besar sebagai pemenang Medali di Olimpiade MIPA pada tahun 2016 lalu dan tahun 2018 ini.

Keberadaan Ubaya yang bersinar di dunia internasional juga dapat dilihat dari kehadirannya sebagai anggota di dua organisasi besar dunia. Ubaya tercatat sebagai board member di organisasi Association of Universities of Asia and the Pacific (AUAP) serta sebagai anggota di organisasi International Association of University Presidents (IAUP). Ubaya bahkan terpilih menjadi tuan rumah acara akbar join conference kedua asosiasi tersebut yang akan digelar pada 9 – 12 Juli 2018 mendatang. Prestasi mahasiswa Ubaya juga tak kalah membanggakan. Tercatat banyak mahasiswa yang berhasil meraih prestasi dari segala bidang, baik akademik maupun non akademik seperti seni dan olahraga. “Prestasi mahasiswa kami di bidang olahraga sangat membanggakan, seperti kempo, tenis meja, futsal, renang, lari dan terutama basket, mahasiswa kami selalu meraih juara dalam liga basket mahasiswa. Sampai-sampai orang mengenal Ubaya sebagai Universitas Basket Surabaya,” ujar Joni sembari tertawa.

 

Sebagai seorang pemimpin, Joni yang menerapkan gaya kepemimpinan ‘lead by example’ ini, dikenal ramah, terbuka dan membaur bersama seluruh jajaran karyawan serta para mahasiswa Ubaya, sehingga berhasil menciptakan suasana kerja dan suasana belajar mengajar yang menyenangkan. Ia bahkan tak sungkan turut bergabung bersama para karyawan bermain futsal setiap hari Senin dan Kamis. Menurutnya, selain untuk menjaga kebugaran tubuh, hal itu juga menjadi ajang silaturahmi, dimana ia bisa bercengkrama dan berbicara dari hati ke hati dengan para karyawannya.

 

Learning Beyond The Classroom

Selain gaya kepemimpinan Sang Rektor yang menyenangkan, untuk meningkatkan pemahaman substansi dan mempercepat proses adaptasi di lapangan maka Ubaya juga mengimplementasikan pembelajaran yang menggunakan konsep ‘learning beyond the classroom’ , yakni pembelajaran dan pendidikan yang tidak hanya dari dalam kelas, melainkan live in dari masyarakat, magang di industri, kompetisi antar mahasiswa di level regional, nasional bahkan internasional, outbound, pengembangan minat, dan lainnya. Untuk itu, Ubaya telah menyediakan fasilitas outdoor ‘Integrated Outdoor Campus’ (IOC) yang terintegrasi untuk edukasi, wisata, konservasi alam, pengembangan budaya dan karakter. Tersedia berbagai fasilitas lengkap, seperti Ubaya Training Center (UTC) untuk pelatihan outdoor, Ubaya Penanggungan Center (UPC) untuk belajar karakter dan budaya dari peninggalan sejarah, khususnya kerajaan Airlangga dan Majapahit yang terletak di Gunung Penanggungan, dan Plant Development Division (PDD), yaitu fasilitas pendidikan untuk belajar pengembangan berbagai jenis tanaman dan perkebunan termasuk edu agrowisata. 

 

“Kami mengembangkan Edu Agrowisata salak, kakao, kopi, klengkeng, belimbing, serta ternak lele, sapi dan kambing yang kotorannya dimanfaatkan untuk biogas. Fasilitas IOC ini juga menjadi salah satu sumber pendanaan bagi pengembangan Universitas,” pungkas pengagum Martin Luther King ini.

Rektor Inspiratif

Prof.Dr. Ir. Kadarsyah Suryadi, DEA (REKTOR ITB) Menjadikan ITB Sebagai Entrepreneurial University

Naskah: Iqbal R. Foto: Sutanto

Menjadi seorang pemimpin bukan perkara mudah. Terlebih jika menakhodai orang banyak. Sebab, tanggung jawab dan risikonya kian besar. Karenanya, harus bisa memahami karakter orang-orang yang dipimpinnya. 

 

Hal itu dipahami benar oleh Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA, Rektor Institut Teknik Bandung (ITB). Sebagai leader dari salah satu universitas terbaik di Indonesia, ia memiliki cita-cita besar menjadikan perguruan tingginya sebagai Entrepreneurial University yang berperan sebagai pelopor serta garda terdepan dalam menjawab permasalahan lokal dan nasional dalam meningkatkan kesejahteraan dan daya saing bangsa. “Agar ITB sebagai Entrepreneurial University ini menghasilkan lulusan yang berdaya saing internasional, bermartabat, berjiwa kepeloporan, dan berintegritas,” ujar Kadarsah saat ditemui Men’s Obsession. Untuk menjadi Entrepreneurial University, Kadarsah menerapkan tiga indikator utama, yakni excellent in teaching and learning, excellent in research, dan excellent in inovation. “Excellent in teaching and learning, ITB menjaminkan mutunya kepada dua pihak, yaitu Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan Lembaga Akreditasi Internasional. Untuk BAN, dari total program studi S1, Magister, dan Doktor, ITB telah mendapatkan 93% akreditasi A. Sedangkan program internasional saat ini sudah ada 30 program studi yang sudah terakreditasi internasional,” jelasnya. 

 

Sementara itu, diluar program studi baru, Kadarsah menargetkan pada tahun depan ini 100% program studi sarjana dapat terakreditasi internasional. Ada 3 tujuan kenapa Kadarsah menerapkan hal itu, yakni pihaknya ingin semua lulusan mendapat pengakuan internasional dari masyarakat global, menjalankan proses continuous improvement berstandar internasional, dan ingin dari waktu ke waktu menjaga standar kualitas internasional. Di ITB ada 49 prodi S1, di antaranya sudah 6 prodi yang membuka program internasional, dimana para mahasiswa dapat terdiri dari mahasiswa Indonesia dan mahasiswa dari negara lain. Semua ini tak lepas dari kerja cerdas Kadarsah dan segenap civitas akademika ITB. Ia juga mencanangkan peningkatan jumlah paten, purwarupa, dan karya kreatif yang bekerjasama dengan berbagai pihak untuk menerapkan hasil riset dan karya kreatif dalam menjawab permasalahan bangsa. Berbagai strategi ini diupayakan untuk menguatkan ITB sebagai Research University dalam menuju Entrepreneurial University. 

 

Dari indikator excellent in research, Kadarsah mempunyai prinsip suatu negara akan maju jika ilmu pengetahuannya berkembang. Itulah yang akan membuat Indonesia semakin dihormati bangsa lainnya. Excellent in research bermanfaat untuk mengharumkan nama baik bangsa di kancah internasional. Sementara dari segi excellent in inovation dan entrepreneurship, ia menginginkan hasil riset tidak hanya berhenti pada jurnal, tapi juga dapat diimplementasikan ke dalam kehidupan masyarakat industri dengan memberikan nilai tambah sosial dan ekonomi. Berbagai ide dan inovasi yang terlahir di ITB, berhasil diaplikasikan dan dikomersialisasikan untuk membawa perubahan di Indonesia, di antaranya inovasi teknologi peningkatan kualitas batu bara, katalis reaktor kimia, enhanced oil recovery, pembangkit listrik tenaga matahari, teknologi membran untuk penjernihan air, pengelolaan air, biomassa dan bioenergi, pesawat tanpa awak, dan lainnya.

 

Dalam menyiapkan mahasiswa ITB ke depan menuju Entrepreneurial University, Kadarsah menerapkan kebijakan kuliah pilihan, yaitu manajemen inovasi dan kewirausahaan, serta di ITB telah ada program studi khusus yang dinamakan kewirausahaan. Ia juga mengadakan kompetisi entrepreneurship pada lingkup nasional maupun internasional. “Tujuannya bukan untuk mendapatkan reward, melainkan untuk mengetahui apakah yang dihasilkan tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang banyak dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar dari kemajuan yang terjadi di tempat lain,” pungkasnya. ITB juga telah meresmikan gedung lembaga pengembangan inovasi kewirausahaan yang mewadahi para inovator dan mempertemukan mereka baik dengan calon market maupun penyandang dana. “Alhamdulillah, sejak tahun 2015, ITB tercatat sudah menghasilkan 85 startup company yang berbasis teknologi,18 di antaranya sudah diterapkan di dalam masyarakat luas,” ujar pria yang hobi bermain harmonika itu.

 

Di antara karya inovasi yang telah dihasilkan adalah produk katalis kimia yang telah diterapkan di sejumlah industri kimia, termasuk industri kilang minyak. Produk katalis kimia ini memiliki kualitas yang sejajar dengan kualitas produk luar negeri dan mampu meningkatkan produktivitas industri kimia secara signifikan serta berhasil menurunkan biaya bahan baku katalis sampai 50%. Selain itu dalam skala internasional, ITB saat ini sedang melakukan penelitian bersama dengan perguruan tinggi terkemuka dari luar negeri dalam bidang Carbon Capture Storage yang bertujuan untuk meminimalisasi kandungan karbondioksida di udara. Topik penelitian ini merupakan komitmen ITB untuk turut mencari solusi dalam penyelesaian isu global, yaitu climate change.

 

Di bawah kepemimpinan Kadarsah, ITB semakin sukses meraih prestasi di kancah nasional maupun internasional. Berdasarkan pemeringkatan universitas versi QS (Quacquarelli Symonds), ranking ITB di dunia (World University Ranking) sejak 4 tahun terakhir meningkat secara signifikan. Pada tahun 2014, ITB masih berada di peringkat 461 di dunia, namun pada tahun 2015, 2016, dan 2017 secara berturutturut ranking ITB meningkat menjadi 431, 401, dan 331. Pada kurun waktu yang sama, peringkat ITB di tingkat Asia juga meningkat, yaitu pada tahun 2014 ITB masih berada di peringkat 125, namun pada tahun 2015, 2016 dan 2017, peringkat ini meningkat menjadi 122, 86 dan 65. Demikian pula peringkat dunia untuk masing-masing bidang keilmuan, posisi ITB membaik. Sebagai contoh, pada tahun 2017, bidang Teknik Mesin dan Teknik Kimia berada di peringkat 251, sedangkan bidang Seni dan Disain menempati peringkat 51. Untuk bidang Bisnis dan Manajemen, posisi ITB ada di peringkat 251, sedangkan untuk bidang Ilmu Komputer dan Informatika, berada di peringkat 351. “Mahasiswa kami telah meraih ratusan prestasi, terakhir di Malaysia, anak-anak dari jurusan geologi dan geodesi mendapatkan juara pertama tingkat internasional untuk lomba masalah sains dan teknologi,” ungkapnya. 

 

Pencapaian dan hasil kerja keras civitas akademika ITB yang secara konsisten, kini telah menghasilkan berbagai penelitian inovatif. Banyak dari penelitian ini terpublikasi melalui Web of Science. Bahkan sekitar 4300 publikasi penelitian yang dihasilkan telah terdaftar di Scopus. Ini merupakan yang tertinggi di antara universitas dan lembaga penelitian di Indonesia.

Rektor Inspiratif

Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. (Rektor UT) Mengukuhkan UT Sebagai Cyber University

Naskah: Subhan Husain Albari Foto: Sutanto

Dunia pendidikan kita pada saat ini sedang dihadapkan pada era baru yang ditandai dengan hadirnya revolusi Industri 4.0 yang menuntut lahirnya inovasi dan terobosan-terobosan baru dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan.

 

Penyelenggaraan pembelajaran yang selama ini berlangsung di ruangruang kuliah dirasakan sudah tidak memadai lagi dan harus digeser menuju interaksi akademik yang lebih efektif dan efisien dengan mengintegrasikan kemajuan yang dicapai dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi terkini. Revolusi industri 4.0 telah menempatkan kita dalam posisi persaingan langsung dengan negara lain yang lebih baik sumberdaya manusia dan infrastrukturnya. Prof. Drs. Ojat Darojat, M.Bus., Ph.D. sebagai Rektor UT, menyiapkan strategi untuk mengantisipasi disrupsi teknologi dan melanjutkan pengembangan beragam inovasi yang telah digagas oleh para pemimpin sebelumnya guna memantapkan lembaga pendidikan yang dipimpinnya sebagai sebuah cyber university. Prestasi yang ditorehkan oleh Ojat dalam memimpin UT tentu tak lepas dari eksistensinya sebagai pengajar profesional di UT. Pria kelahiran 26 Oktober 1966 ini telah menghabiskan lebih dari separuh hidupnya mengabdi di UT. Konsistensinya berjuang memajukan UT tak perlu diragukan lagi. Ia berkiprah di UT dimulai dari tenaga pengajar sampai akhirnya menempati puncak tertinggi sebagai seorang rektor.

 

Di bawah kepemimpinannya, Ojat bertekad menjadikan UT sebagai Perguruan Tinggi Terbuka Jarak Jauh (PTTJJ) idola masyarakat Indonesia dengan memantapkan UT sebagai cyber university yang dikelola secara modern.  Ditemui di ruang kerjanya, pria murah senyum itu bercerita kariernya di UT dimulai sejak 1 Januari 1991. Ia bergabung di UT sebagai seorang PNS yang ditugaskan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dalam perjalanannya, Ojat mendapat kesempatan melanjutkan sekolah Program Magister, konsentrasi pada Bussiness Management dari LaTrobe University– Australia tahun 2000.  Selepas dari Australia, wawasan dan pengalaman Ojat terus bertambah, perlahan ia kemudian diangkat sebagai Ketua Program Studi, Ketua Jurusan, dan Pembantu Dekan III di FKIP-UT, lalu naik sebagai Kepala UPBJJ-UT Bogor, Kepala Pusat Jaminan Kualitas, dan Ketua LPBAUSI sampai terakhir Rektor pada 2017. Dalam proses itu, Ojat sempat melanjutkan studi doktoralnya di Simon Fraser University, Kanada. Karena kepandaiannya, Ojat sempat ditawari bekerja di Bank Dunia. Namun, ia tetap memilih untuk berjuang di jalur pendidikan di UT.

 

Prinsip kepemimpinan yang ia terapkan adalah mengajak seluruh jajaran pegawai UT agar bisa memberikan performa yang optimal untuk kemajuan UT sesuai tugasnya masing-masing. “Impian saya sejak pertama jadi rektor adalah membangun kewibawaan akademik. Karena menurut saya, jati diri lembaga pendidikan, disukai atau tidak oleh masyarakat, itu tergantung dari kewibawaan akademiknya. Jadi semua sumber daya yang dimiliki UT ini harus diarahkan untuk membangun kewibawaan kampus,” ujar Ojat kepada Men's Obsession.  UT dikenal sebagai kampus yang terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh dengan mengunakan sistem online. Untuk itu, kebijakan yang diterapkan Ojat adalah menyiapkan bahan ajar baik yang tercetak maupun digital yang berkualitas untuk mahasiswanya. Kualitas yang dimaksud dilihat dari segi tampilan ataupun isi modul. Melalui sistem pembelajaran online, UT berkomitmen untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh dengan standard global yang menjangkau semua orang, termasuk mereka yang hidup di daerah terpencil dimana akses pendidikan tinggi sulit masuk sehingga istilah ‘openness’ dapat terimplementasikan secara luas.  

 

Di sisi lain, UT juga tetap menyediakan layanan kuliah tatap muka atau mengajar di kelas melalui kegiatan tutorial tatap muka (TTM). Ini untuk melayani mahasiswa di daerah yang sulit mendapatkan jaringan internet. UT kata dia, sejak awal dirancang oleh Pemerintah untuk memfasilitasi mereka yang tidak mempunyai kesempatan mengikuti studinya di perguruan tinggi konvensional (tatap muka) karena berbagai hambatan termasuk faktor ekonomi, geografis dan demografis. Oleh karenanya, UT hadir untuk menjangkau yang tak terjangkau, making higher education open to all.  “Berbagai upaya telah dilakukan UT yang secara konsisten dan konstruktif terus  menunjukkan komitmen untuk menjadi yang terbaik dalam memberikan layanan pendidikan melalui sistem pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh (PTTJJ), yang disesuaikan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi. Beragam fasilitas bantuan belajar diberikan baik secara synchronous dan asynchronous agar dapat menjangkau mahasiswa dan masyarakat luas secara efektif dan efisien,” jelasnya.

 

Ojat juga tengah menyiapkan online proctoring yang memungkinkan mahasiswa dapat mengikuti ujian di mana saja, termasuk di tempat kerja atau di rumah mereka. Selain menyiapkan sistemnya, pihaknya terus melakukan edukasi atau pelatihan kepada seluruh mahasiswanya agar bisa memahami sistem kuliah jarak jauh serta menguasai teknologi informasi karena UT menawarkan layanan belajar tutorial online. Jumlah mahasiswa yang mengikuti metode ini sudah lebih dari 400 ribu. UT sendiri sudah ditetapkan menjadi model percontohan bagi kampus lain ysang ingin menerapkan metode kuliah jarak jauh.  Sesuai dengan arahan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, pada saat ini pendidikan jarak jauh merupakan program strategis Pemerintah dalam rangka meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK). Di banding negara-negara tetangga, APK Indonesia masih cukup rendah yakni sekitar 31,5%. Ojat menuturkan, bagi generasi milenial kuliah jarak jauh merupakan solusi tepat untuk meningkatkan minat anak-anak lulusan SMA/SLTA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

 

Melalui sistem berbasis online, Ojat bertekad memantapkan jati diri UT sebagai benchmark penyelenggaraan PJJ di tanah air. Kepercayaan Pemerintah untuk mendorong UT sebagai cyber university merupakan amanah yang harus diperjuangkan melalui dedikasi dan kerja keras melibatkan seluruh komponen UT dari pusat hingga daerah. Untuk mengembangkan UT sebagai cyber university, dalam Rencana Strategis Bisnis (RSB) UT 2016-2020, UT menetapkan tiga fokus pengembangan, yakni di tahun 2018 indikator capaian adalah memenuhi kebutuhan layanan berkualitas bagi mahasiswa, pada tahun 2019 memperkuat pengenalan dan penerimaan masyarakat terhadap UT, dan pada tahun 2020 menjadi frontiers of education innovation, sebagai pusat riset dan pengembangan inovasi berbagai modus pembelajaran berbasis teknologi dan diseminasi inovasi. Saat ini, UT juga tengah mempersiapkan investasi guna memperkuat teknologi informasi dan komunikasi (TIK). UT juga sudah membangun dan penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi lain untuk  berbagi pengalaman dalam menerapkan sistem kuliah jarak jauh. Termasuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa perguruan tinggi tatap muka untuk mengambil mata kuliah di UT. Terobosan ini dilakukan Ojat untuk kemajuan pendidikan secara nasional. 

Rektor Inspiratif

Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti Kusumayudha, M.Sc. (Rektor UPNVY) Meneladani Tut Wuri Handayani

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

Banyak prestasi yang ditorehkan Prof. Dr. Ir. Sari Bahagiarti Kusumayudha, M.Sc. sejak diberi amanah memimpin Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta (UPNVY) pada 2013 lalu, antara lain meneruskan perjuangan untuk menjadikan UPNVY sebagai Perguruan Tinggi Negeri dari sebelumnya berstatus swasta, serta berhasil meningkatkan peringkat dan status klaster, dari yang sebelumnya klaster 4 melonjak menuju klaster 2 hanya dalam waktu singkat.

 

Sari mengawali karier dari seorang dosen di kampus almameternya tercinta, UPNVY. Kegigihan, ketekunan dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Ibarat anak tangga kariernya meningkat setahap demi setahap. Hingga pada 2013 lalu, ia diberi amanah dan tanggungjawab menjabat Rektor UPNVY. Meski ia adalah seorang wanita dengan usia yang sudah tidak muda lagi, ia berhasil membuktikan pada dunia pendidikan nasional bahwa semua itu tidak menghalanginya untuk berkarya. Sari justru mampu membuktikan kinerjanya yang luar biasa, prestasi demi prestasi membanggakan berhasil diraih lembaga yang dipimpinnya ini. Sari bercerita, sejak diberi amanah memimpin UPNVY, bersama timnya, Sari langsung tancap gas mengejar apa yang menjadi visi misi dan targetnya itu. Dan hanya dalam waktu yang singkat UPNVY berhasil berbenah diri hingga berubah status dari Perguruan Tinggi Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri yang diminati. Ya, meneruskan perjuangan pendahulunya sejak 2010, Sari berhasil mengubah status UPNVY. 

 

Begitupun untuk posisi peringkat UPNVY yang sebelumnya menduduki peringkat 1089 dari seluruh Perguruan Tinggi di Indonesia, melonjak tajam menjadi peringkat 80 pada tahun 2016, dan meningkat lagi menjadi peringkat 40 pada tahun 2017. “Bahkan waktu itu status kami masuk dalam klaster 4, itu adalah Perguruan Tinggi kecil yang hampir dieliminasi. Namun sekarang, Alhamdulillah kami berhasil masuk klaster 2. Selain itu, sejak 2016 peringkat UPNVY di bidang penelitian juga meningkat dari klaster Perguruan Tinggi Utama menjadi klaster Perguruan Tinggi Mandiri,” ungkap Sari penuh rasa syukur. Tak hanya itu, Sari juga dikenal sebagai rektor yang paling produktif menyusun dan membuat Peraturan Rektor. Selama dirinya menjabat rektor, tercatat sebanyak 21 Peraturan Rektor yang telah ditetapkan, dan masih ada tiga Peraturan Rektor lagi yang akan diterbitkan.  

 

Animo calon mahasiswa juga melonjak tajam, dari yang sebelumnya sekitar berjumlah 13.000-an mahasiswa menjadi 51.000 calon mahasiswa pada 2017 lalu. Sementara dari segi akademik, UPNVY juga berhasil menurunkan rata rata masa studi menjadi 4,2 tahun dengan IPK rata-rata yang juga meningkat. Di samping itu, sejak beralih status menjadi Perguruan Tinggi Negeri, UPNVY juga telah membuka empat program studi baru tingkat Sarjana, dan dua program studi tingkat Magister, serta satu program studi Doktor. Tak hanya itu, UPNVY juga berhasil melahirkan mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi, baik skala nasional maupun internasional, terutama dari fakultas unggulan UPNVY, Teknologi Mineral dengan jurusan-jurusan antara lain, Teknik Geologi, Teknik Perminyakan, dan Teknik Pertambangan. “Kemudian mahasiswa Ilmu Komunikasi, dan Hubungan Internasional. Bahkan untuk Hubungan Internasional dipercaya Kementerian Luar Negeri untuk menjadi salah satu tempat pelaksanaan Beasiswa Budaya Indonesia (BSBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri setiap tahun, di mana mahasiswa dari seluruh dunia diberi beasiswa oleh pemerintah Indonesia untuk mempelajari Budaya Indonesia dan dititipkan di Perguruan Tinggi tertentu, dan dari Yogyakarta ini hanya kami,” tutur ibu 3 anak dan nenek 3 cucu ini.

 

Sari dikenal sebagai pemimpin yang mengayomi dan bijaksana. Ya, sebagai asli orang Jawa, Sari meneladani dan mencoba mengaplikasikan pola kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. “Jadi sebagai seorang pemimpin saya harus mampu memberikan contoh kepada yang saya pimpin, harus menjadi suri tauladan. Kemudian ketika saya berada di antara teman-teman yang saya pimpin saya harus dapat membangkitkan motivasi mereka, harus memberikan inspirasi kepada mereka, dan mengajak bekerja bersama-sama. Dan ketika berada di belakang, kita harus ngemong. Jadi kita harus mampu berdiri di depan sebagai tauladan dan di tengahtengah yang memotivasi mereka kemudian di belakang yang ngemong,” Sari menerangkan dengan serius. Ke depan, Sari masih memiliki mimpi dan obsesi besar terhadap kampus yang dipimpinnya ini. Ia ingin melihat UPNVY lebih besar lagi, memiliki lahan kampus yang lebih luas dengan mahasiswa yang lebih banyak, serta memiliki guru besar atau profesor yang lebih banyak.

 

Wanita kelahiran Semarang, 19 Desember 1956 ini, masih tampak bugar dan penuh semangat di usianya yang sudah tidak muda lagi. Rahasianya sangat sederhana, yakni keseimbangan dari jiwa raga yang selalu diterapkannya dengan cara selalu tersenyum dan bahagia, perbanyak minum air putih, dan olahraga. Yang menarik, di sela-sela kesibukannya Sari masih menyempatkan diri melakukan hobi yang ditekuninya sejak masih di bangku kuliah, fotografi. “Saya suka traveling dan fotografi. Kalender UPN ini banyak foto saya dari hasil hunting kalau jalan-jalan. Beberapa hasil foto saya, sudah ada yang saya buat bukunya, berjudul ‘The Symphony of Merapi’ dan ‘Merapi a Beautiful Bounty’,” ujarnya. 

 

Kampus Bela Negara

Ada satu hal yang menarik dari UPNVY. Sejak berubah status menjadi Perguruan Tinggi Negeri, UPNVY bersama UPN lainnya, yaitu Jakarta dan Jawa Timur, diberi amanah secara resmi oleh Kementerian Pertahanan RI untuk menjadi kampus bela negara. Untuk itu, Sari tidak menyia-nyiakan amanah tersebut dan mengembannya dengan penuh tanggung jawab. Dalam menjalankan tugasnya sebagai kampus bela negara, UPNVY telah merancang dan melakukan sesuatu untuk bangsa dan negara tercinta yang terfokus pada tiga hal. Pertama dalam bidang ketahanan energi, kemudian dalam bidang kepedulian terhadap bencana yang sudah teruji dan memiliki kompetensi yang diakui secara internasional, serta kepedulian terhadap lingkungan yang diimplementasikan dengan mengembangkan UPNVY sebagai Sustainable Green Campus. “Itu yang ingin kami perkuat, kapasitas kami dalam rangka payung besar bela negara. Tahun ini Insya Allah bulan Agustus nanti kami akan menyelenggarakan jambore dan olimpiade nasional bela negara, kita mengundang seluruh Perguruan Tinggi yang ada di indonesia. siapa saja yang berminat bisa bergabung,” pungkasnya. Ya, Sari juga membuat kegiatan yang diberi nama Sinergi Kampus Bela Negara Indonesia, yakni sebuah program yang mengajak seluruh Universitas di Indonesia yang memiliki visi sama dalam bela negara untuk bergabung, berkolaborasi, bekerjasama, dan saling berbagi pengalaman.

Rektor Inspiratif

Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. (Rektor UNY) Membawa UNY Menjadi Universitas Unggul

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

Menjabat rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sejak Maret 2017 lalu, Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd. ingin membawa universitas yang dipimpinnya ini menjadi Perguruan Tinggi yang unggul, baik di tingkat Asia Tenggara, Asia, hingga internasional. Bukan sekadar mimpi, sebab Sutrisna telah merancang dan menjalankan beberapa langkah dan kebijakan strategis untuk mencapai apa yang menjadi visinya itu.

 

Ya, ketika ditemui tim Men’s Obsession di ruang kerjanya yang sederhana di Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta, Sutrisna bercerita banyak mengenai visi misinya, perannya, serta kepemimpinannya di UNY. Dalam memimpin, ia memiliki target-target yang harus dicapai pada masa kepemimpinannya, antara lain ingin menjadikan UNY sebagai Perguruan Tinggi yang unggul di Asia Tenggara dengan target tahun 2019, kemudian unggul di tingkat Asia pada tahun 2021, dan untuk jangka panjang pada tahun 2025, ia ingin UNY menjadi Perguruan Tinggi yang unggul di tingkat internasional. “Visi saya di universitas ini adalah bagaimana membuat UNY unggul supaya kita bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi lain, baik nasional maupun internasional, dan persaingan itu bisa dimenangkan dengan keunggulan,” paparnya dengan penuh semangat. 

 

Meski demikian, untuk mencapai itu semua, Sutrisna menyadari tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, perlu waktu yang cukup lama dan kerja keras dari seluruh jajaran tim. Ia pun mempersiapkannya dengan beberapa kebijakan dan langkahlangkah strategis yang telah dijalankannya. Antara lain, dengan fokus pada penelitian dan publikasi nasional dan internasional yang dilakukan oleh para dosen di UNY, dan hasil publikasi internasional terindeks Scopus pun melonjak tajam, dari 128 awal 2017 menjadi sekitar 360 pada awal 2018, dan akhir 2018 Insya Allah akan mencapai 600. Setelah itu adalah pada penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mana telah terjadi peningkatan di UNY. Sebagai gambaran, pada 2017 lalu posisi dosen S3 di UNY hanya 28%, namun kini telah meningkat menjadi 36% pada 2018. “Alhamdulillah dalam waktu satu tahun kita memacu teman-teman dosen yang sedang menempuh S3 ini. Kita lakukan percepatan. Sekarang dari kira-kira 1000 dosen, sudah ada sekitar 360 dosen yang sudah S3,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.

 

Tak hanya itu, dari segi kelembagaan, UNY telah terakreditasi A dan berada di klaster satu yang masuk dalam Top 10 pemeringkatan Perguruan Tinggi seluruh Indonesia. Sementara pada pemeringkatan Universitas Rangking (UniRank), untuk Indonesia, UNY masuk dalam ranking 3. Ini meningkat dari yang sebelumnya ranking 8. Kemudian dari ranking webometrics, UNY juga mengalami peningkatan, dari yang semula ranking 31 kini mencapai posisi 24. “Nah, untuk webometrics terus saya pacu harus bisa masuk 10 besar. Karena webometrics ini juga penting untuk melihat sisi-sisi reputasi akademik sebuah Perguruan Tinggi sehingga terus saya kejar,” pungkas pengagum sosok Brotoseno, tokoh pewayangan dalam cerita Dewa Ruci yang teguh pendiriannya dalam mencapai cita-cita. Dengan demikian, menurut pria yang menjadikan kedua orangtuanya sebagai inspirator terbesarnya, UNY akan semakin dihargai dan diminati lantaran reputasi akademiknya yang semakin naik. Ini terbukti telah meningkatnya minat mahasiswa asing yang masuk ke UNY. Sebagai contoh, tahun 2018 ini, untuk mahasiswa S2 dan S3 dari manca negara (calon mahasiswa internasional), ada sekitar 615 pendaftar, dan 400 pendaftar untuk jenjang S1. “Ini jauh meningkat dari yang sebelumnya hanya beberapa. Ini kan berarti reputasi di luar negeri naik. Sebab kalau tidak naik kan nggak mungkin calon mahasiswa dari luar negeri melamar ke UNY,” ucap pemimpin yang menerapkan konsep leadership transformasional, partisipatif dan kolegial ini. 

 

Di samping akreditasi A untuk lembaga, Sutrisna yang memimpin dengan motto layanan ‘smart & smile’ ini, juga tengah mengejar akreditasi untuk seluruh program studi (prodi) yang masih B untuk bisa meningkat menjadi A. Dengan target tersebut, dalam waktu satu tahun, UNY telah berhasil menambah prodi yang masuk akreditasi A sebesar 61%, sehingga menjadi 61 prodi dari total 102 prodi S1, S2, dan S3. “Saya menargetkan tahun 2018 ini bisa menambah lagi minimal 10 prodi sehingga menjadi 70% pada akhir 2018 dan tahun berikutnya juga menargetkan 10%, sehingga minimal menjadi 80% dalam jangka waktu 2 tahun ke depan,” ucap Sutrisna menambahkan. Tugasnya yang masih panjang, Sutrisna pun masih memiliki mimpi dan obsesi besar untuk kemajuan UNY. Ia ingin UNY di antaranya bisa mengejar ranking universitas dunia versi QS World Universities Ranking. “Nah itu harus kita capai dan saya yakin bisa, karena kalau kita sudah menargetkannya, semua upaya akan menuju ke titik itu, lalu kerja keras dan fokus ke situ,” katanya dengan penuh keyakinan. Ya, kerja keras dan fokus adalah salah satu kunci kesuksesannya selama ini.

 

Prestasi Mahasiswa yang Mendunia Tak hanya dari lembaga dan dosen saja yang menjadi perhatian dan fokus Sutrisna. Dalam bidang kemahasiswaan, Sutrisna juga mendukung dan mendorong mahasiswa untuk dapat berprestasi di segala bidang, baik bidang seni, olahraga, maupun riset dan kreativitas mahasiswa. Dan hasilnya, mahasiswa UNY juga telah menorehkan beragam prestasi membanggakan, baik tingkat nasional maupun internasional. Seperti misalnya, kegiatan PKM (Pengembangan Kreativitas Mahasiswa), UNY tahun ini masuk peringkat 7 besar dari total 4.500 Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia. Sementara untuk skala Asia, mahasiswa UNY baru saja meraih juara kompetisi mobil hemat energi, dan akan maju mengikuti kompetisi tingkat dunia pada Juli 2018 mendatang di London.

 

Kemudian pada 2017 lalu berhasil meraih penghargaan 'Best of The Best' pada ajang kontes mobil International Student Car Competition di Korea. Dengan ingin mengulang kesuksesan yang sama, tim mahasiswa UNY rencananya akan kembali unjuk gigi dalam ajang kontes International Student Car Competition pada Mei 2018 dan mobil formula di Jepang pada Oktober 2018. “Tahun ini kita akan maju. Mudahmudahan juga membawa hasil yang minimal sama seperti tahun 2017 kemarin, syukur bisa meningkat” harapnya.Menuju abad 21 di era Teknologi Informasi yang menjadi tantangan terkini, Sutrisna juga mempersiapkan para mahasiswa UNY untuk memiliki ketahanan dalam beberapa hal, yakni critical thinking, sifat fleksibilitas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ke semua ini bertujuan agar para mahasiswa bisa mengikuti dinamika yang ada.

 

Rektor Inspiratif

Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A. (Rektor UNAND) Mengutamakan Pengembangan Atmosfir Akademik Yang Lebih Baik

Naskah: Giattri F.P. Foto: Edwin B.

Selama kepemimpinan Prof. Dr. Tafdil Husni, S.E., M.B.A., Universitas Andalas (UNAND), Sumatera Barat, mampu mempertahankan eksistensinya sebagai kampus kluster satu. Penilaian yang prestise dalam pemeringkatan perguruan tinggi. Ia pun terus menggenjot agar Unand semakin berdaya saing, berkelas internasional, dan representatif.

 

Adalah suatu kebanggaan bagi perguruan tinggi jika masuk dalam klaster satu, karena dengan penilaian itu mengindikasikan reputasi terbaik bagi perguruan tinggi itu sendiri. Karena klaster tersebut dibuat untuk memetakan perguran tinggi di Indonesia berdasarkan 4 komponen utama, yakni Kualitas SDM, Kualitas Kelembagaan, Kualitas Kegiatan Kemahasiswaan, serta Kualitas Penelitian dan Publikasi Ilmiah. Itulah kenapa Tafdil merasa berbahagia dan bangga ketika Unand tetap bertahan di klaster satu. “Tahun 2015, Unand masuk Klaster kedua. Alhamdulillah, dua tahun terakhir Unand masuk ke dalam kelompok pertama Perguruan Tinggi di Indonesia dan kami satu-satunya di Sumatera serta salah dua di luar Pulau Jawa,” ungkap Pria kelahiran Padang, Sumbar, 20 November 1962 itu kepada Men’s Obsession di ruang kerjanya.

 

Menurut Tafdil, di samping memerhatikan fasilitas, ia mengaku lebih mengutamakan pengembangan atmosfir akademik yang lebih baik. “Karena induk dan roh universitas itu adalah di sisi akademiknya. Unand akan fokus pada peningkatan SDM seperti dosen S3 dan guru besar, serta peningkatan akreditasi program studi nilai A . Saat ini strata S1 yang mendapat akreditasi A sudah mencapai 50%,” ujarnya menambahkan. Tafdil juga mendorong peningkatan akreditasi internasional, Saat ini baru Magister Managemen yang terakreditasi internasional. Sementara yang masih dalam proses akreditasi dari Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET) ada 5 prodi di teknik dan 5 prodi lagi melalui ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA). 

 

Fokus lain yang dilakukan Tafdil adalah pada peningkatan prestasi mahasiswa serta publikasi dosen di jurnal ilmiah. Pada tahun 2017, sebanyak 1.318 artikel Unand yang sudah terindex Scopus dan jumlahnya cenderung mengalami peningkatan. “Dalam menerbitkan jurnal ilmiah, kita menempati peringkat ke-8 berdasarkan indikator penelitian dari seluruh universitas di Indonesia,” ujar Tafdil yang juga gemar hiking ini. Hasil penelitian Unand memiliki potensi besar untuk dikomersialisasikan. Ini terbukti ketika Unand menggelar forum bisnis di kantor Sekretariat Wakil Presiden RI bersama pelaku industri. Banyak para pelaku usaha yang tertarik dengan produk-produk hasil penelitian yang sudah HAKI dan marketable. “Alhamdulillah, ada follow up dari industri sawit. Sebelumnya, PT Kimia Farma sudah memakai hasil penelitian kami sebagai bahan baku,” ungkap Tafdil dengan bangga.

Banyak karya yang telah dilahirkan oleh dosen dan mahasiswa pada berbagai bidang fokus mulai dari pangan, kesehatan dan obat, transportasi, energi, bahan baku, teknologi informasi dan komunikasi, material maju dan pertahanan keamaan. Di antaranya Jagung Hibrida Silang Tunggal, Pupuk Bio-organik Andalas, Pelet Sapi, Gambir Tea, Bareh Rendang (Rendang Beras) Rendah Kalori, Andalas Bakery Roti Berbasis Gandum Lokal, Formula Liposom (Fraksi Etil Secang sebagai ‘antikanker’), Palang Pintu Otomatis untuk Perlintasan Kereta Api, dan Mesin Sortasi Gabah dan Beras (mesin cerdas untuk menggolongkan kualitas gabah dan beras). Berbagai upaya yang dilakukan Tafdil menjadi pendorong agar civitas akademika berperan dalam meningkatkan daya saing bangsa melalui pertumbuhan usaha rintisan (startup industry) yang berpeluang di pasar regional, nasional maupun global sebagai bentuk hilirisasi dan komersialisasi penelitian. 

 

“Kalau kita lihat, indikator suatu perguruan tinggi dikatakan berhasil, itu dari lulusannya. Berapa lama ketika dia lulus, lalu mendapatkan pekerjaan dan berapa banyak lulusan tersebut yang menciptakan lapangan pekerjaan. Kami berharap, setelah tamat, lulusan Unand bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi, kita bangun soft skill-nya. Alhamdulillah, sekarang ini ada sekitar 60–70% mahasiswa Unand yang termotivasi menjadi entrepreneur,” ujarnya. Tafdil juga menambahkan bahwa yang tak kalah penting adalah besarnya peranan yang diberikan dari para alumni kepada almamaternya sehingga Perguruan Tinggi tersebut bisa semakin besar. “Karena itu kami selalu merangkul Ikatan Keluarga Alumni Universitas Andalas Padang (IKA Unand). Banyak orang hebat, di antaranya Menteri Dalam Negeri (2009-2014) Gamawan Fauzi, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Kabinet Kerja (20162019) Asman Abnur, Jaksa Agung Republik Indonesia (2010-2014) Basrief Arief, serta Mantan Dekan FH Unand, Hakim Agung, Ketua Muda Mahkamah Agung Bidang Pembinaan Takdir Rahmadi.

 

Ia juga terus menggairahkan peranan Unand dalam membangun masyarakat ‘nagari’. Kampus yang jumlah mahasiswanya lebih dari dua puluh sembilan ribu tersebut telah melakukan pemetaan potensi daerah di Provinsi Sumatera Barat melalui kinerja Pusat Pengembangan Nagari atau desa adat, yakni dengan menempatkan akademisi yang berkompeten atau diistilahkan Staf Ahli Nagari (SAN) yang bertugas melakukan identifikasi segala persoalan dalam satu nagari kemudian membuat perencanaan dan pemetaan potensi yang bisa digali.  Saat ini, dari 1.000 lebih dosen yang ada di Unand dengan kualifikasi doktor dan profesor, sebagian besar mereka telah menjadi SAN di nagari yang berbeda. Sukses Unand tersebut tentunya tak lepas dari kepemimpinan yang diterapkan Tafdil.

 

“Kepemimpinan kami adalah kolektif kolegial. Saya mengajak semua pimpinan di bawah saya dan seluruh civitas akademika untuk bersama-sama membangun Unand,” ujar pengagum Presiden I RI Sukarno, M. Hatta, dan Tan Malaka ini. Menutup pembicaraan, ayah beranak tiga itu mengungkapkan filosofi hidupnya yang menghantarkannya sukses seperti saat ini. “Ada filosofi di Minang ‘kancang indak mandahului, tajam indak malukoi, pintar indak manggurui’ (cepat tidak mendahului, tajam tidak melukai, pintar tidak mengurui). Jadi di manapun kita berada, jangan sombong karena apa yang kita miliki, semuanya adalah milik Allah SWT,” pungkasnya.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

   

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250