Search:
Email:     Password:        
 
 





The Professional Lawyers 2018

By Iqbal Ramdani () - 26 July 2018 | telah dibaca 450 kali

Ary Zulfikar Leading By Example

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto & Dok. Pribadi

Lebih dari dua dasawarsa sosok satu ini malang melintang di dunia hukum, tentunya ia telah memakan asam garam. Terlebih pengalaman pada semua aspek hukum dari pasar modal, investasi, dan restrukturasi korporasi serta perbankan. Maka, tak ayal pria berdarah Sunda ini masuk ke dalam daftar ‘Indonesia’s Top 100 Lawyers 2018’ dari Asia Business Law Journal.

 

Ary Zulfikar dikenal sebagai sosok yang hangat dan simpel, saat ditemui Men’s Obsession di kantornya yang berada di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan santai ia mengungkapkan makna pencapaian meraih gelar prestise sebagai salah satu pengacara top di Indonesia. “Pada prinsipnya dalam mengerjakan sesuatu, kita jangan berpatokan pada apa yang akan kita dapatkan nanti, namun berikan yang terbaik, dengan sendirinya orang akan memberikan apresiasi kepada kita,” tuturnya seraya tersenyum. Lebih lanjut, pria yang semula bercita-cita menjadi wartawan seperti profesi yang dilakoni ayahnya itu menuturkan, perjalanan karirnya di dunia hukum. Selepas menuntaskan pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung, ia menjadi konsultan pasar modal di firma hukum Kartini Muljadi & Rekan. Untuk memperkaya pengalamannya, terutama di area pasar modal, ia kemudian bergabung dengan lembaga penunjang pasar modal, seiring dengan berkembangnya kegiatan pasar modal di era tahun 1990-an, yaitu PT Kustodian Depositori Efek Indonesia (KDEI). 

 

Setelah berlakunya Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang mewajibkan fungsi Kustodian dan Kliring transaksi Efek, kemudian ia bergabung dengan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), sehingga ikut terlibat dalam penyusunan peraturan transaksi efek tanpa warkat (scripless) pada awal dimulainya transaksi scripless di pasar modal Indonesia. Pada saat krisis keuangan melanda Asia Tenggara tahun 1998 dan Indonesia termasuk negara yang terkena imbas krisis keuangan, ia pun bergabung membantu Pemerintah Republik Indonesia pada lembaga penyehatan perbankan, yaitu Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan juga turut andil sebagai anggota tim perumus yang melakukan studi banding ke beberapa negara untuk merumuskan tentang pembentukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dalam Badan ini, ia telah menghadapi berbagai jenis masalah hukum sehubungan dengan rekapitalisasi bank dan resolusi aset. Peraih gelar Master Hukum dari Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta itu juga dipercaya menangani proses negosiasi dalam penyelesaian pemegang saham dan kegiatan restrukturisasi perusahaan.

 

Banyak suka dan duka yang dialami Zulfikar sepanjang perjalanan kariernya di bidang hukum, terlebih pada saat melakukan penanganan penyelesaian perusahaaanperusahaan yang terkena imbas dari krisis keuangan yang multidimensi pada saat itu. Tuntutan pekerjaan untuk menyelesaikan suatu tugas yang merupakan tanggung jawabnya, membuat keseharian Zulfikar banyak dihabiskan di ruang kerja saat itu bahkan kadang mengorbankan waktunya untuk kegiatan lain. Berbekal pengalaman-pengalaman yang telah ia dapatkan, pada 2004, pria yang akrab disapa ‘Azoo’ oleh teman dan koleganya itu, membuka firma hukum sendiri bernama AZP Legal Consultants. “Projects yang sering ditangani oleh kantor kami, selain transaksi pasar modal dan aksi korporasi, juga terlibat dalam membantu Pemerintah RI dalam pembiayaan proyek Infrastruktur, termasuk penerbitan Obligasi Pemerintah maupun Sukuk untuk pembiayaan proyek pembangunan di Indonesia,” terang Anggota Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal (HKHPM) yang juga salah satu Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Publikasi & IT HKHPM. 

 

Bagi Zulfikar tantangan mengelola firma hukumnya adalah bagaimana membuat orang percaya dan satisfied dengan hasil pekerjaan AZP. “Yang terpenting adalah memberikan yang terbaik dari setiap proses pekerjaan untuk mendapatkan maksimal. Jika kita fokus dan mengerjakan segala sesuatunya dengan passion maka hasilnya juga akan baik. Saya lebih mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas,” tegas Zulfikar. Pola leadership yang Zulfikar bangun adalah leading by example. “Jadi memberikan contoh bagaimana seharusnya. Ada pula sistem reward and punishment. Kalau berprestasi kita kasih reward, sebaliknya jika berkelakuan buruk kita kasih punishment,” terang penggemar traveling tersebut. Di sela kesibukan, Zulfikar selalu meluangkan waktu untuk melakoni hobinya, mulai dari bermain golf, riding, mengotakatik motor, hingga mengoleksi action figure. “Salah satunya Joker ini,” kata Zulfikar seraya menunjukkan koleksinya.

 

“Ia adalah musuh superhero Batman. Dalam setiap movie selalu ada yang baik dan buruk. Artinya tak bisa dipungkiri di dunia ini ada yang baik dan buruk,” tuturnya. Lebih lanjut Zulfikar mencontohkan konsep filosofi kuno Tionghoa, yakni Yin dan Yang. Biasanya dipakai untuk mendeskripsikan sifat yang saling berlawanan, namun saling berhubungan serta saling mengisi satu sama lain. Yin lebih di deskripsikan kepada sisi hitam dan Yang adalah sisi putih, sebuah sisi warna yang berlawanan. Titik kecil hitam dan putih yang berada pada Yin dan Yang menggambarkan sisi yang saling mengisi satu dan lainnya. “Nah sekarang tinggal bagaimana, kita saling membangun satu sama lain. Jangan saling menyalahkan atau menjatuhkan karena hidup seperti roda berputar. Mungkin saat ini kita sedang berada di atas, tapi kita tidak pernah tahu ke depan akan seperti apa,” jelas penyuka kuliner khas sunda itu serius.

 

Zulfikar juga memiliki ketertarikan terhadap aspek sosial, kebetulan ia aktif dalam organisasi Padjajaran Alumni Club. “Kami fokus di bidang pembinaan, pengembangan sumber daya manusia, juga beberapa kegiatan yang memang untuk charity. Jadi aktualisasinya tidak hanya bekerja, tapi bagaimana kami memiliki nilai lebih untuk sekitar,” terang Zulfikar. Menutup pembicaraan Zulfikar menuturkan obsesinya, turut berkontribusi membangun bangsa dan negara. “Waktu kecil, kita kan diharapkan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua serta berguna bagi bangsa dan negara. Nah, bagaimana kemudian aktualisasi pekerjaan kita bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan sekitar, tetapi juga bagi tanah air. Karena itu, saya baik di AZP maupun di organisasi profesi dan sosial yang saya geluti selalu ingin memberikan konstribusi positif kepada lingkungan dalam lingkup kecil maupun bangsa dan negara secara umum. Partisipasi kami pada project-project pemerintah maupun sosial merupakan bagian aktualisasi dari eksistensi diri untuk turut andil dalam pembangunan Indonesia,” pungkas pecinta pantai itu.

Bagus SD Nur Buwono Mengedepankan Independen Dan Komitmen

Naskah: Iqbal R. Foto: Sutanto & Dok. Pribadi

Memiliki pengetahuan bisnis dan pengalaman dalam bidang hukum yang mumpuni membuat sosok satu ini menjadi salah satu pengacara yang diperhitungkan di tanah air. Pria humoris tersebut sukses membantu berbagai permasalahan hukum yang dihadapi para kliennya. Kerja cerdasnya berbuah manis, bersama rekannya ia mendirikan sebuah law firm.

 

Rekam jejaknya sebagai pengacara profesional memang patut diacungi jempol. Sesuai keahliannya dalam lebih dari dua dekade, ia lebih berfokus menangani transaksi-transaksi bisnis dan komersial lintas negara mewakili perusahaan-perusahaan multinasional maupun domestik, yang bergerak pada industri jasa keuangan, energi, manufaktur, konstruksi, dan infrastruktur. Keahliannya untuk menangani transaksi yang bersifat cross-border tersebut sudah diakui oleh beberapa lembaga/publikasi international, termasuk Asia Pacific Legal 500, Asia Law, Global Law Experts, Legal Finest, In-House Community Counsels, dan Asia Business Law Journal, yang mencantumkan Bagus sebagai salah satu 100 top lawyers di Indonesia.

 

Bagus memulai karirnya sebagai legal officer di sebuah perusahaan perbankan nasional, Bank Central Asia, tak berselang lama ia memutuskan untuk mengundurkan diri dan masuk pada sebuah firma hukum nasional terkemuka, yang banyak menangani transaksi bisnis dan komersial. Setelah menyelesaikan program studi master dalam bidang International Business Law pada University of Manchester, Inggris pada tahun 2004 dengan beasiswa penuh Chevening oleh Pemerintah Inggris, dahaga hasrat untuk mengembangkan diri yang lebih besar dalam dunia bisnis dan hukum, membuatnya menjajal pengalaman ke beberapa perusahaan perbankan, yakni di Bank Mizuho Indonesia sebagai Senior Vice President. Selama masa jabatannya di bank yang berdiri sejak 1989 tersebut, ia sempat menghadiri Program Mini - MBA yang diselenggarakan Mizuho Corporate Bank, Ltd bekerja sama dengan Universitas Hitotsubashi, Tokyo, Jepang pada tahun 2009.

 

Setelah itu, Bagus berpindah kerja ke Bank Barclays Indonesia sebagai Country Head of Legal and Company Secretary. Pada akhirnya pria murah senyum itu bersama dengan Enrico Iskandar mengelola sebuah firma hukum, Bagus Enrico & Partners. Bagi Bagus memillih jalan hidup sebagai seorang lawyer lantaran ia lebih melihat karakter profesinya yang bersifat independen secara intelektual. Namun, di sisi lain menuntut integritas dan komitmen tinggi untuk selalu memberikan kemampuan terbaik dan profesional dalam memberikan jasa hukum kepada klien. Profesi sebagai lawyer mensyaratkan kemauan untuk terus belajar sehingga membentuk kemampuan untuk menyampaikan sudut pandang yang luas secara legal, bisnis, serta risiko-risiko terkait kepada klien. Bagus berpendapat bahwa seorang lawyer harus mampu bertindak sebagai strategic advisor yang dapat diandalkan bagi kliennya. Menurutnya, peran tersebut beyond legal services. Peran yang bukan hanya mensyaratkan pemahaman teknis aspek-aspek hukum saja, tetapi juga membutuhkan empati dan pemahaman mendalam terhadap bisnis klien. Menurut Bagus, menjadi lawyer sebetulnya menjalani pekerjaan dengan kreatifitas dalam koridor hukum dan kode etik.

 

“Itu kunci penting yang harus dimiliki para lawyers, kemampuan untuk menganalisa risiko dalam transaksi dan bagaimana cara memitigasi risiko tersebut, serta memberikan masukkan terhadap keputusan strategis klien” ujar Bagus kepada Men’s Obsession di ruang kerjanya yang nyaman. Selain itu, menjadi lawyer sambung Bagus, dalam koridor kode etik, seorang lawyer dapat bekerja sendiri tanpa terikat menjadi karyawan “Karakter perkerjaan itu jugalah yang membuat saya tertarik menjadi lawyer,” ungkapnya. Di firma hukum yang dikelolanya, Bagus mengaku mengalami banyak suka dan duka dalam menangani suatu kasus, tapi hal itu tidak dijadikan sebagai beban. Bagi pria berkacamata tersebut, hal itu dianggap sebagai proses untuk selalu belajar dan berkembang.

 

“Ya dijalani saja karena memang ini adalah tantangan yang menyenangkan, jadi saya enjoy saat suka maupun duka karena setiap hal, setiap kasus atau transaksi merupakan tantangan intelektual baru. Setiap produk jasa hukum bisa jadi perlu sudat pandang analisa dan pendekatan yang berbeda. Kita mungkin tidak bisa menggunakan sudut pandang yang sudah diberikan sebelumnya karena business is growing. Berbicara tentang jasa hukum dan bisnis, pada ujung-ujungnya kita berbicara tentang kebutuhan manusia yang dilayani melalui suatu kegiatan usaha. Sedangkan kebutuhan manusia terus berkembang dari waktu ke waktu sesuai perkembangan jaman. Sehingga perlu menumbuhkan empati untuk memastikan nalar hukum mencapai tujuan utamanya. Intinya, melayani kebutuhan manusia secara terhormat. Maka, kita harus mampu menggunakan sudut pandang yang beda, apabila diperlukan. Be fun karena kita selalu mendapatkan sesuatu yang baru dan itu tidak pernah selesai,” ujar Bagus. 

 

Bagi Bagus, waktu yang singkat adalah kendala yang terbilang susah karena terkadang tidak pernah memiliki waktu yang cukup untuk menguasai banyak hal untuk memenuhi kebutuhan klien. “Jadi harus memiliki kemampuan berfikir seperti spons yang menyedot semua, kemudian kita peras untuk dapat menghasilkan suatu produk jasa hukum yang dibutuhkan dalam waktu yang singkat,” tambahnya. Selama menjadi lawyer, Bagus menilai capaian yang paling besar bagi dirinya secara profesional pada saat ini adalah mengelola firma hukum, karena tantangan dan variasi yang tidak berfokus pada pemberian jasa hukum saja. Mengelola law firm adalah mengelola bisnis. Pengalaman yang relevan karena sebenarnya jasa hukum yang diberikan kepada klien terutama untuk membantu bisnis. “Mendirikan law firm juga memiliki tanggung jawab yang meluas tidak hanya bertanggung jawab terhadap klien saja, tapi harus mampu memberikan kesempatan kepada para lawyers dan staff yang bekerja pada firma untuk tumbuh dan berkembang. Pastinya, selain memberikan manfaat balik kepada firma, hal itu juga berguna bagi perkembangan karir mereka di kemudian hari, ” imbuhnya.

 

Selama berprofesi sebagai lawyer, bagi Bagus, tidak ada kasus besar dan kecil menurut ukuran nilai transaksinya. “Misalnya untuk transaksi akuisisi, meskipun nilai transaksi yang berbeda jauh, tapi apa yang kita kerjakan dan komitmen yang kita berikan atas suatu pekerjaan akan selalu sama, dikarenakan lingkup pekerjaan tidak terlalu beda. Yang membedakan adalah jenis kegiatan usaha klien dan kompleksitas suatu transaksi, yang memerlukan analisa risiko hukum yang berbeda. Setiap klien mempunyai kebutuhan yang unik sesuai dengan karakter bisnisnya. Klien yang bergerak dibidang e-commerce mempunyai jenis risiko usaha dan kebutuhan jasa hukum yang berbeda dengan perusahaan asuransi atau manufacturing,” jelasnya.

 

Memiliki filosofi hidup, waktu yang hilang tidak pernah didapatkan kembali. Orang bakal menderita kerugian karena tidak memanfaatkan waktu dengan baik. Bagi Bagus, waktu adalah kesempatan untuk mengoptimalkan apapun yang ada dalam diri seseorang untuk dapat berkontribusi secara optimal bagi kehidupan yang lebih luas. Maka dalam memanfaatkan waktu yang Bagus lakoni adalah dengan bersyukur atas setiap kesempatan dan mengoptimalkannya, sehingga setiap amanah dan tanggung jawab bagi Bagus harus selalu diselesaikan dengan optimal. “Jika setengah-setengah, maka hasil yang didapat pun setengah. Ketika kita memberikan seratus persen bukan hanya imbalan materi yang kita dapatkan, tapi ada proses pembelajaran diri sendiri juga, dan kita turut bertumbuh” tuturnya.

 

Di dalam menjalani kehidupannya sebagai lawyer, Bagus memiliki obsesi untuk dapat selalu memperluas peran, memberikan kontribusi bagi masyarakat luas, melalui salah satunya Indonesia Innovative Foundation (Yayasan Indonesia Inovatif) yang didirikannya beberapa waktu lalu, dengan tujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan komunitas lokal yang mandiri sesuai nilai-nilai budaya serta kearifan lokal secara inovatif. Bagi Bagus, Indonesia membutuhkan peran generasi muda yang berkarakter, mandiri, dan kreatif. Secara lebih pribadi, ia ingin meluangkan waktu untuk mengajar dan menulis buku. "Dengan begitu, saya bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada generasi muda,” pungkas Bagus seraya tersenyum.

Hartono Tanuwidjaja Menjaga Kisi-Kisi Kebenaran

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Edwin Budiarso & Dok. Pribadi

Bergelut sebagai lawyer sejak 26 tahun lalu, Hartono Tanuwidjaja melihat dunia hukum memiliki sisi warna yang beragam. Hitam bisa menjadi putih, putih menjadi hitam atau bahkan abu-abu. Dengan tantangan dan godaan yang begitu besar tersebut, pria kelahiran Bandung, 9 Juni 1965 ini selalu memimpikan penegakan hukum di Indonesia tidak mengalir begitu saja sesuai warna yang diinginkan, melainkan harus dibentuk dan ditepati kisi-kisi kebenarannya.

 

Bagi Hartono, penegakan hukum yang penuh dengan dinamika dan kepentingan membutuhkan selaksa talenta. Karenanya, sosok lawyer selain harus punya kemampuan bahasa dan logika plus daya ingat, dan analisis yang tajam, juga harus memiliki pijakan yang kuat dalam melihat hukum secara jernih. Bukan hanya sekadar mengejar menang kalah. Namun, keinginan menerapkan dan menempatkan hukum sesuai aturan yang diyakini kebenarannya. “Konsistensi kita dalam cara berfikir dan mewujudkan perbuatan atau tindakan itu butuh pemikiran yang jernih dan fokus. Kalau konsentrasi dan niatnya sudah nggak benar nanti pasti hasilnya tidak benar. Misalnya, pengetahuan kita kan sudah tahu bahwa hukum itu A-B-C-D. Tapi kalau hukum A-B-C-D itu kita kurangi atau kita tambahkan tentu hasilnya akan jadi berbeda. Dalam konteks itu kita harus menjaga kisi-kisi kebenaran. Hukum tidak bisa diwujudkan tanpa kita bisa memahami apa itu kisi kebenaran karena kisi kebenaran adalah saringan hati nurani kemana harus melangkah,” ujar Hartono kepada Men's Obsession saat ditemui di ruang kerjanya.

 

Menurutnya, kisi-kisi kebenaran itu berupa tatanan nilai yang dianut seseorang berdasarkan keyakinan agama, budaya, norma atau kepercayaan lain yang mengandung prinsip keadilan. Untuk bisa menjaga dan mempertahankan kisi-kisi kebenaran itu, kata Hartono, dibutuhkan kuda-kuda yang kuat. “Jadi kisi kebenaran dalam hukum itu harus diperjuangkan tidak boleh mengalir begitu saja karena ibarat orang latihan karate/ silat/tinju prinsip utamanya adalah kudakudanya harus kuat. Kalau tidak, kita pasti akan jatuh. Sama semisal di agama saya juga diajarkan kalau mau bangun rumah tidak boleh di atas pasir,” ucapnya. Tafsir kebenaran diakui Hartono memang beragam karena benar menurutnya belum tentu benar menurut orang lain. Untuk itu, batasan seorang lawyer atau advokat dalam bekerja ada di Kode Etik yang mengatur etika dan moral advokat. Namun, tetap ujungnya akan dikembalikan pada keputusan diri masing-masing advokat tersebut. Hartono tidak mau menjadi advokat/pengacara yang memaksa diri menerima semua perkara. Ia memilih untuk bisa menjadi diri sendiri dengan keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain.

 

Alumnus Universitas Parahyangan, Bandung dan Universitas Krisnadwipayana, Jakarta ini melihat setiap perkara memiliki kriteria sendiri. Tidak semua kasus yang besar itu sulit dan tidak semua kasus yang ringan itu mudah. Ia sendiri mengaku sudah pernah menangani kasus berat maupun yang ringan. Yang terpenting bagi dirinya dalam pencapaian kerja adalah rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Maksudnya setiap lawyer harus bisa memberikan resep yang pas atau sesuai kepada kliennya. “Jangan sampai hanya karena ingin mengejar kemenangan, kita memberikan sembarang resep. Bisa saja itu dilakukan, tapi harus banyak disiapkan amunisi. Padahal dalam hukum, istilah menang dan kalah itu sejatinya tidak ada. Ibarat peribahasa “Menang jadi arang, kalah jadi abu”. Jadi, hukum tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan kebenaran nanti pasti hasilnya akan kecewa,” terang Hartono.

 

Misalnya, ia pernah menangani kasus Pejabat Lelang yang dikriminalisasi dengan tuduhan penyalahgunaan wewenang. Padahal, ia hanya pelaksana tugas dari atasannya. Meski berhasil memenangkan, Hartono menganggap sebenarnya kasus ini biasa saja tapi bersifat nasional karena ia berfikir jika pejabat lelang bisa dikriminalisasi, maka bisa jadi tidak ada yang berani menjadi pejabat lelang. Dengan putusan itu, Hartono bangga bisa dijadikan rujukan sekaligus evaluasi bagi Departemen Keuangan untuk mengkaji lagi Peraturan Menteri Keuangan yang terkait dengan pelaksanaan lelang. “Jadi capaian kinerja itu tidak dilihat dari besar kecil suatu kasus, tapi barometernya menurut saya adalah bagaimana setiap kasus yang kami tangani bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan hukum kita. Maksudnya begini, kalau memang secara hukum orang itu harus mendapat keadilan, ya kami berharap keadilan itu menyertainya. Jadi bukan karena keadilan itu didapat dengan cara dibeli atau menyuap. Saya akui memulihkan keadilan itu tidak gampang. Makanya tadi semua harus dikembalikan pada kisi-kisi kebenaran itu,” tandasnya.

 

Di luar kesibukannya sebagai seorang advokat/pengacara, Hartono tetap bisa membagi waktunya bersama keluarga di akhir pekan. Selain hobi jalan-jalan, ia juga senang bermain catur, billiard, koleksi batu akik, lukisan, korek api hotel mancanegara, baca buku, dan juga menulis. Pria yang miliki dua anak itu tengah menulis buku berjudul “Negeri Sejuta Ancaman Pidana”. Buku tersebut tentu diambil dari pengalamannya dalam menangani berbagai kasus hukum. Ada satu yang unik dari Hartono, ternyata ia juga merupakan promotor tinju, pemilik sasana tinju, pengurus organisasi tinju sekaligus manajer tinju profesional. Bahkan belakang ini, ia sedang menyiapkan buku olahraga tinju yang telah ditulisnya.

 

Unik, memang karena pekerjaan itu tak banyak dimiliki seorang advokat/pengacara. “Saya hanya ingin bisa menjaga keseimbangan hidup agar tidak jatuh, tidak lalai, tidak melakukan dosa. Filosofi hidup saya adalah kesederhanaan dan kesimbangan. Dengan kesederhanaan melatih kita untuk terus bersyukur atas nikmat Tuhan. Dengan keseimbangan melatih kita agar tidak jatuh dan lalai,” tutupnya

Luky I Walalangi

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Dok. Pribadi

Luky I Walalangi bukanlah orang baru di dunia hukum. Ia sudah memulai karirnya sebagai corporate lawyer sejak tahun 2001. Setelah menekuni ilmu hukum di Belanda, ia pun balik ke Indonesia untuk mendarmabaktikan kemampuannya di dunia hukum nasional. Tak perlu waktu lama baginya untuk bisa mendapatkan peluang berkarir. Dalam hitungan singkat, Luky langsung diterima bekerja di salah satu firma hukum korporasi terbesar di Indonesia. Karena prestasi yang baik, Luky kemudian dipercaya menjadi equity partner sejak akhir tahun 2008. Tentu saja itu merupakan sesuatu yang cukup prestise.

 

Memilih profesi lawyer, diakui Luky karena ada tantangan yang besar. Misalnya memberikan analisis dan pertimbangan hukum yang tepat kepada kliennya yang datang dari dunia korporasi. “Berkiprah sebagai lawyer juga memberikan kita kesempatan untuk bertemu profesional-profesional andal dalam berbagai bidang dari seluruh belahan dunia, dimana kita bisa terus belajar dan menambah pengalaman,” terang Luky kepada Men's Obsession di ruang kerjanya yang nyaman. Banyak kasus yang sudah pernah ditangani Luky. Salah satunya yang paling momumental adalah ketika menangani beberapa kasus mewakili salah satu bank di Indonesia sehubungan dengan rencana mereka membeli unit usaha dari bank lain di Indonesia senilai Rp7 triliun. “Nilai transaksinya cukup besar,” kata Luky. Pernah dalam satu kesempatan karirnya, Luky berkesempatan mewakili suatu penerbit surat hutang Indonesia dalam penerbitan surat hutang senilai USD1,5 juta, mewakili perusahaan baja dari Jepang dalam pembelian aset dan pembangunan pabrik baja dengan total investasi sebesar USD500 juta.

 

Capaian lainnya yang menjadi catatan Luky adalah ketika mendapatkan kesempatan untuk diangkat menjadi partner equity termuda di salah satu law firm terbesar di Indonesia, ia juga di-acknowledge oleh beberapa media publikasi hukum internasional sebagai lawyer korporasi yang telah membantu kliennya dengan nilai memuaskan. “Termasuk dari sisi Legal 500, IFLR, ALB, Asialaw, dan lain sebagainya,” paparnya. Capaian tersebut memberikan semangat bagi Luky untuk terus berkarya di dunia hukum nasional. Tak berlebihan memang karena hingga kini Luky termasuk pengacara dengan kepadatan kerja yang tinggi. Untuk saat ini saja, ia sedang fokus menangani beberapa transaksi komersial, antara lain mewakili salah satu perusahaan properti Jepang terbesar, Tokyo Tatemono dalam transaksi real property di Jakarta dengan total investasi sebesar USD300 juta.

 

“Mewakili perusahaan Jepang untuk pembelian 7 perusahaan Indonesia dengan total investasi USD200 juta dan untuk mewakili salah satu perusahaan Jepang yang termasuk dalam kategori big four dalam pengambilalihan saham perusahaan fintech,” ungkap Lucky. Profesionalisme dan kepiawaiannya dalam bidang hukum korporasi, membuat ia mampu menyelesaikan kasus-kasus yang ditanganinya dengan sukses dan tepat waktu. Bahkan, ia mengaku, selama menjadi lawyer dirinya tidak pernah mendapati kejadian yang tidak menyenangkan. Selain profesional dan cerdas, satu hal lagi yang membuat ia berhasil adalah berani mengorbankan waktu dan tenaga untuk profesi. “Saya dan teman-teman bahkan pernah tidak istirahat dan tidak pulang selama dua hari berturut-turut di Natal tahun 2012 dikarenakan suatu negosiasi sehubungan dengan transaksi klien yang saat itu bernilai USD500 juta. Namun karena seluruhnya dapat diselesaikan dengan baik, puji Tuhan, hal ini menjadi pengalaman yang membanggakan,” ceritanya. 

 

Selain persoalan waktu yang sangat padat, selebihnya Luky sangat senang karena diberi berkesempatan untuk bekerja sama dan berbagi dengan team lawyers-nya yang sudah berpengalaman serta sangat bertalenta dengan kemampuan analisa yang dalam. “Apapun yang kita punyai saat ini, baik itu kebijaksanaan, pengetahuan ataupun aset adalah milik Tuhan semata. Maka, sudah selayaknya kita berbagi dan menjadi garam di sekitar kita, antara lain dengan berbagi dan berkembang bersama dengan tim,” tuturnya. Meski sudah sukses menjadi lawyer, Luky masih memiliki obsesi, yakni bisa melahirkan lawyer-lawyer muda yang handal sebagai generasi penerus melalui firma yang dibentuk. Tidak hanya memiliki wawasan dan pengalaman, Luky juga ingin lawyers di Indonesia memiliki karakter jiwa integritas yang tinggi. “Firma kami sangat aktif menulis dan berkunjung ke fakultas-fakultas hukum di Indonesia, dengan misi agar hukum di Indonesia menjadi penuntun arah dan memberikan kepastian langkah bangsa ini ke masa depan yang postif dan penuh kepastian,” itulah harapan Luky agar wajah hukum di tanah air menjadi lebih baik.

 

Di sela kesibukannya yang padat, Luky tetap menjadi manusia biasa yang senang berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Baginya keluarga menjadi faktor utama di balik kesuksesannya sebagai lawyer. Ia berjanji setiap akhir pekan Luky menghabiskan waktu bersama istri dan putri kesayangannya. "Saya mempunyai perjanjian dengan putri saya untuk tidak bekerja di hari Sabtu mulai jam 6 sore dan hari Minggu mulai pagi hari sampai jam 6 sore, di mana saya meluangkan waktu untuk bersama putri saya. Waktu bersama putri saya sekaligus menjadi me time yang sangat saya nikmati,” ungkap Luky seraya tersenyum. Di luar itu, Luky punya hobi membaca buku, menonton film, dan berolahraga. Berjogging adalah olahraga yang digemari Luky. Dalam seminggu minimal empat kali, family man tersebut berolahraga. Ini dilakukan untuk menjaga tubuhnya agar tetap sehat mengingat aktivitas Luky yang begitu padat.

Pheo M. Hutabarat Perjuangkan Civil Liberties

Naskah: Iqbal R. Foto: Dok. Pribadi

Memilih studi hukum dan menjadi lawyer sudah menjadi tujuan hidup Pheo M. Hutabarat, bagi ‘Indonesia's Top 100 Lawyers 2018’ dari Asia Business Law Journal ini, profesi tersebut adalah salah satu cara bekerja untuk keadilan serta memperjuangkan civil liberties.

 

Pheo menuturkan, di tahun 80-an, Fakultas Hukum tidak populer seperti saat ini. “Pada era tersebut, mengambil studi hukum adalah pilihan terakhir, tapi bagi saya tidak masalah karena masyarakat Indonesia itu pluralitas, nantinya sistem kekuasaan absolut akan berubah menjadi demokrasi yang dapat menghargai civil society. Dari situ juga saya sudah bertekad untuk mendirikan dan mengorganisasikan kantor hukum sendiri,” ungkap Pheo kepada Men's Obsession. Berangkat dari keinginan yang kuat dan keteguhan hatinya, menghantarkan Pheo menjadi sosok pengacara yang santun, bekerja untuk keadilan, dan diperhitungkan di tanah air. Cita-citanya pun tercapai, yakni mendirikan law firm sendiri bernama Hutabarat Halim & Rekan (HHR Lawyers). Dalam perjalanannya sebagai lawyer telah memberikan banyak pengalaman, hal itu dapat terlihat dari capaian Pheo dalam menangani kasus-kasus besar dan dipercaya menjalin kerja sama di bidang jasa hukum (in cooperation with) dengan Clayton Utz, salah satu law firm terbesar di Australia yang berbasis di Sydney. Meski kerja sama itu tidak berlangsung lama karena jatuhnya rezim Orde Baru, menyebabkan krisis multidimensional sehingga Clayton Utz menarik diri dari Indonesia. 

 

Krisis yang berlangsung ternyata tidak selalu membawa hal yang buruk, bagi Pheo, hal itu membuka peluang besar dan menjadikan law firm berkembang secara mandiri, hingga akhirnya dipercaya mewakili Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dalam menyelesaikan restrukturisasi hutang (debt restructuring transactions) dengan puluhan debitur dan obligors besar BPPN. Dari situ, ia semakin percaya diri untuk mengepakan sayapnya sendiri tanpa bekerja sama dengan lawyers asing, dalam memberikan legal services, baik terkait crossborder transcations maupun complex crossborder commercial disputes (sengketa bisnis kompleks lintas negara) kepada clientsnya. “Saya paling anti dengan mentalitas yang menomorsatukan lawyers asing dan menganggap mereka itu lebih dari lawyers kita. Mentalitas melayu dalam menjalankan profesi advokat ini masih banyak terlihat, kan lawyers di Indonesia masih mau saja menerima nasibnya sebagai ‘comprador’ atau sebagai perpanjangan tangan semata untuk kepentingan law firm asing,” ungkap Pheo.

 

Pheo berpendapat bahwa lawyers bule yang beroperasi di Indonesia seringkali tidak paham betul dengan hukum positif dan seluk beluk praktek serta kebiasaan hukum di sini. Maka dari itu, ia selalu menanamkan prinsipprinsip kepada para advokat yang bergabung dengan HHR Lawyers untuk mempunyai mentalitas kuat dan bangga sebagai lawyers Indonesia agar kelak menjadi lawyers yang profesional, yang tak hanya menguasai seluk-beluk dan praktek hukum di Indonesia, mampu berkompetensi dengan lawyers asing bahkan menjadi lawyers regional yang akan berkompetisi dengan para lawyers yang berasal dari negara tetangga di ASEAN . Seiring berjalannya waktu, Pheo sukses membawa HHR Lawyers memiliki clients baik berupa grup perusahaan di Indonesia maupun perusahaan dari mancanegara, termasuk berbagai perusahaan multinasional yang tercatat dalam Fortune 500. Ia bangga HHR Lawyers menjadi sebuah law firm domestik asal Indonesia yang menekankan'we think globally but know how to solve legal issues locally' kepada clients dalam memberikan jasa hukumnya.

 

Praktek inilah yang membuktikan jika Advokat Indonesia mampu memberikan international level of legal services. "Clients sekelas perusahaan Fortune 500 akan senang memakai jasa hukum Anda karena sebenarnya kita yang lebih bisa menguasai networking, spider-web regulations, selukbeluk, kebiasaan dan praktek hukum di Indonesia itu sendiri, serta memang seharusnya kita menjadi tuan di negara kita sendiri,” jelas penerima ‘Leading Individuals’ lawyers bidang Dispute Resolution Indonesia dari Asia Pacific Legal 500 ini. Memiliki filosofi hidup 'opportunity never come twice', membawa Pheo menjadi lawyer yang profesional dan tangguh dalam menangani berbagai kasus besar seperti perusahaan multinasional terbesar dan perusahaan-perusahaan luar negeri, namun ia tak menampik kerap mendapat hambatan dalam menangani berbagai kasus, tapi baginya, hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari sejak berprofesi menjadi lawyer.

 

“Hambatan yang sering menghadang adalah 'fear factor', seorang advokat harus mampu mengatasi hal ini dan tegar dalam menjalankan profesinya, selain itu saya percaya dengan pepatah ‘lawyers words can become laws’, artinya kalau kita benar-benar bergelut dengan seluk-beluk hukum dan memahaminya secara benar, maka apa yang kita pikirkan dan ajukan dapat menjadi hukum yang berlaku bagi para pihak atau memenangkan sengketa yang kita wakilkan,” tukas pria berkacamata tersebut. Sebagai lawyer profesional, Pheo memiliki obsesi agar bisnis yang tengah digelutinya menjadi institusi kantor yang ‘built to last’, artinya tetap mapan menjadi kantor hukum yang lekang dengan perjalanan waktu ke depan dan di dalamnya akan bergabung ratusan bahkan ribuan lawyers, sebagaimana yang telah terjadi di negara-negara maju, di mana suatu law firm dapat berumur ratusan tahun dengan lebih dari seribu lawyers. Ia juga berharap hukum di Indonesia harus tumbuh dengan prakteknya yang baik dan benar. Menutup pembicaraan Pheo menuturkan, akan meninggalkan legacy dalam bidang hukum, yakni mendorong HHR Lawyers berkembang menjadi kantor hukum terbesar di Indonesia.

 

“Dan semua lawyers yang bergabung akan tetap menjalankan profesi advokat dengan sepenuhnya menghargai Kode Etik Advokat serta peraturan hukum yang berlaku di Indonesia, sehingga nantinya lawyers kami dapat memberikan kontribusi mendukung penerapan hukum yang baik dan benar bagi masyarakat pengguna jasa di masa yang akan datang,” pungkas pria yang gemar merawat anggrek itu.

 

Pramudya A. Oktavinanda Work-Life Integration

Naskah: Giattri F.P. Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

Dialah salah satu pengacara terbaik di negeri ini. Betapa tidak, integritas dan dedikasinya dalam memberikan service excellence kepada klien-kliennya menghantarkan pria kelahiran 1983 tersebut sebagai salah satu pengacara termuda yang masuk dalam daftar ‘Indonesia's Top 100 Lawyers 2018’ dari Asia Business Law Journal. Kini, ia tengah berjibaku membangun law firm yang dibidaninya agar menjadi nomor satu di Indonesia.

 

Energik, necis, dan smart, itulah kesan yang terpancar ketika Men’s Obsession bertemu dengan Pramudya. Ia tampil menawan memakai kaos hitam dengan balutan jas dan celana berwarna krem. Pria berkumis tersebut memulai perbincangan bagaimana ia memaknai pencapaian terpilih sebagai salah satu pengacara top Indonesia. “Ini adalah hal yang cukup membanggakan bagi saya setelah mendirikan UMBRA law firm November 2017 lalu. Saya menjadi salah satu lawyer termuda yang masuk ke dalam list tersebut. Alhamdulillah karena kebetulan salah satu penilaiannya berdasarkan survei dari para klien. Saya sangat berterima kasih mendapat support dari mereka,” ungkap peraih gelar doktor dalam ilmu hukum dari University of Chicago Law School, Amerika Serikat itu.

 

UMBRA – Strategic Legal Solution adalah law fim yang Pramudya bidani bersama dua rekannya, berbekal dari pengalaman pria berpostur tinggi itu sebagai lawyer selama lebih dari 1 dasawarsa. “Saya ingin menerapkan visi-misi yang sudah saya punyai dari dulu. Di Amerika ada law firm bernama Wachtell, Lipton, Rosen & Katz. Jumlah lawyers Wachtell hanya sekitar 200 orang, namun bisa menjadi law firm paling profitable di negeri Paman Sam karena dalam setahun bisa sukses memproduksi USD800 juta. Hal itu bisa terjadi karena Wachtell mampu menciptakan SDM yang solid, jagoan, dan elit walaupun jumlahnya memang tidak banyak,” urainya. Berbekal pengetahuan tersebut, ia pun ingin menerapkan hal yang sama di UMBRA. Berkat kerja keras Pramudya beserta rekan-rekannya, meski baru seumur jagung, law firm ini berkembang cukup pesat, sekitar 30-an lawyers yang didominasi kaum muda telah bergabung dan kuranglebih 70 proyek yang mayoritas dari perusahaan plat merah sudah atau tengah ditangani oleh UMBRA yang baru-baru ini juga menerapkan teknologi terbaru di bidang Artificial Intelligence untuk meningkatkan kinerja lawyers.

 

Bagi Pramudya, tantangan terbesar dalam profesinya adalah deadline. “Kalau ditanya kapan bisa selesainya, klien saya umumnya bilang bahwa bukan besok jawabannya, tapi seharusnya dari kemarin atau minggu lalu. Dulu pernah ketika ibu saya terserang kanker, saya harus menunggu beliau di rumah sakit, di saat bersamaan ada deadline. Saya bilang ke klien akan delay satu hari karena saya tidak sedang di kantor. Jadi, sembari menemani ibu, saya tetap bekerja, itu bentuk komitmen saya,” Pramudya mengisahkan. Tantangan lain, imbuhnya, adalah mengerjakan berbagai kesepakatan berskala besar yang melibatkan banyak stakeholders. “Menyelaraskan kepentingan dengan satu pihak saja susah apalagi dengan banyak pihak, terlebih jika melibatkan regulator atau pemerintah. Belum lagi ketika deal-nya berjalan alot, namun itu sebuah tantangan yang sangat menyenangkan,” aku pecinta sushi dan nasi padang tersebut.

 

Ada hal penting yang Pramudya terapkan untuk menjaga keseimbangan hidup, yakni work-life integration. “Saya bersyukur selain sebagai partner hidup, istri saya juga partner saya di UMBRA. Kami memiliki passion yang sama sehingga kami sepakat harus bisa mengintegrasikan antara karir dan kehidupan pribadi. Misalnya saat leisure time, kami tidak masalah jika harus diganggu urusan kerjaan. Kami saling bahu-membahu menciptakan sebuah tim yang solid yang mana tanpanya, tidak mungkin UMBRA bisa mendapatkan pencapaian ini,” terang pria yang gemar plesiran ke Jepang itu. Pramudya mengatakan, dalam hidup ia ingin menjadi orang yang bermanfaat. “Saya suka quote dari 50 Cent, yakni ‘get rich or die tryin?’ walaupun tentunya menjadi kaya pada dasarnya hanyalah sebuah ekses yang akan datang dengan sendirinya ketika kita memberikan hasil dan jasa yang terbaik, being a master crafstman. Jangan terlalu fokus pada seberapa banyak uang yang kita dapat karena uang cukup dinikmati sebagai sarana bukan tujuan akhir. Kepuasan terbesar saya justru datang ketika klien puas akan hasil kerja kami. Saya ingat salah satu dari mereka pernah bilang, ‘saya berterima kasih kepada Bapak untuk selamanya’. Bagi saya, ini priceless,” terangnya.

 

Pramudya menuturkan obsesinya, “Selain menjadikan UMBRA law firm nomer satu di Indonesia, saya juga ingin menulis tentang sushi guide yang tak hanya mengulas tentang rasa kuliner khas negeri sakura itu, tapi juga beragam kisah inspiratif dari para chef di berbagai restoran Jepang yang melakoni profesinya dengan sangat passionate serta tak pernah letih mencoba hal-hal baru.” Pramudya juga berharap suatu hari nanti akan menjadi hakim agung atau hakim konstitusi karena ia memiliki ketertarikan terhadap institusi yudisial. “Saya sangat kagum dengan Supreme Court di Amerika. Di sana mereka bisa melahirkan putusan yang berkualitas, pikiran yang mendalam, dan menciptakan teori penafsiran hukum yang beragam. Saya merasa inilah sesuatu yang suatu hari bisa saya terapkan di Indonesia,” jelasnya. Memang, Disertasi Pramudya sendiri berfokus pada teori interpretasi hukum, khususnya hukum Islam dengan menggunakan pendekatan ekonomi yang menjadi kekhasan University of Chicago Law School.

 

Ketika ditanya legacy yang akan Pramudya berikan dalam dunia hukum Indonesia, ia menjawab ingin mengembangkan Economic Analysis of Law di Indonesia. Ia menerangkan, “Economic Analysis of Law adalah salah satu aliran yang paling mendominasi di Amerika. Tahun 70-an, Judge Richard A. Posner, pertama kali mengembangkannya dan akhirnya dalam periode kurang lebih 30 tahun, beliau sukses menjadikan aliran ini sebagai aliran dominan di Amerika.” Teori tersebut, sambung Pramudya, membantu para ahli hukum untuk menganalisis hukum dan kebijakan publik dari sudur pandang ekonomi, dengan tujuan menghadirkan aturan-aturan hukum yang memberi nilai lebih bagi masyarakat dengan senantiasa mempertimbangkan biaya yang harus ditanggung oleh mereka mengingat penegakan hukum tidak gratis dan ada banyak isu kompleks yang membutuhkan kehati-hatian dalam analisis. “Rencana jangka panjang saya adalah mengembangkan aliran Law & Economics tersebut di Indonesia dalam kurun waktu sekitar 20 – 30 tahun mendatang. Kalau dimulai dari sekarang, semoga lebih cepat tercapai,” pungkas Pramudya.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

   

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250