Search:
Email:     Password:        
 
 





The Best Lawyers

By Benny Kumbang (Editor) - 01 July 2013 | telah dibaca 6241 kali

The Best Lawyers

Naskah : Cucun Hendriana    Foto/Ilustrasi: Dok.MO

Sejak disahkannya Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, profesi advokat di Indonesia semakin digandrungi banyak orang. Di mata hukum, advokat memiliki derajat yang sama dengan polisi, jaksa, dan hakim, yakni sebagai penegak hukum. Menurut data Peradi, jumlah advokat yang kini tersebar di Indonesia sudah melebihi dari 25 ribu orang.

Sebelum akhirnya UU itu disahkan pada Maret 2003, meski eksistensi advokat secara formal sudah diakui di dalam proses peradilan, tapi profesi ini tidak diatur secara khusus dan sistematis dalam sebuah peraturan perundang-undangan. Akibatnya, seringkali profesi ini tidak bisa berdiri seimbang dan malah dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan profesi penegak hukum lainnya.   

Diakui atau tidak, dalam perjalanannya, masih banyak ditemukan advokat yang bergerak ‘liar’, yang menggadai integritas demi kucuran rupiah. Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah oknum aparatur penegak hukum lainnya. Apalagi, di tengah kondisi hukum Indonesia yang masih carut marut. Bagi penegakan hukum, ini sebagai suatu masalah besar dan semakin memperparah situasi.

Oleh sebab itu, kehadiran Peradi sebagai lembaga satu-satunya yang berwenang menjaring dan menyeleksi calon advokat menjadi sangat urgen. Dengan demikian, kualitas advokat sebagai penegak hukum semakin terjamin. Diakui Ketum Peradi Otto Hasibuan, advokat memang memiliki 2 potensi besar; menegakan hukum sekaligus meruntuhkannya.

Di antara puluhan ribu advokat tersebut, tentunya banyak pula yang memiliki track record dan integritas baik. Yang selalu menjaga keluhuran profesi, keutuhan nama baik, dan taat pada kode etik ke-profesi-an. Nah, di edisi kali ini kami telah memilih sembilan advokat, yang menurut penilaian kami, mereka berintegritas dan telah memberikan kontribusi positif terhadap penegakan hukum di Tanah Air. Mereka layak menjadi yang terbaik.

Di edisi Juli 2013 ini, kami sengaja menampilkan sembilan advokat itu sebagai cover utama. Tidak seperti edisi reguler biasanya yang hanya menampilkan satu tokoh utama. Alasannya sederhana, sebagai bentuk apresiasi terhadap kiprah advokat yang telah ikut mengawal proses penegakan hukum agar berjalan secara adil sekaligus menjadi mitra bagi para pencari keadilan. Atas dasar itulah, kami menempatkan ke sembilan advokat itu untuk mengisi halaman cover utama.  

Otto Hasibuan

Memberangus

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Sutanto/Dok. Pribadi

Di masa mahasiswa ia sudah terlibat dalam banyak penyelesaian sejumlah kasus. Sempat bekerja di beberapa law firm, kemudian ia memilih mundur untuk mendirikan law firm sendiri. Concern di bidang litigasi, sejumlah perkara besar sudah dibelanya. Kini, ia didapuk untuk menakhodai PERADI, sebuah organisasi advokat yang terlahir berdasarkan UU. Misinya, mencipta advokat berkarakter dan terbebas dari berbagai “kesesatan” hukum.

Ketertarikannya dengan dunia hukum sudah dimulainya sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Tinggal di Pematang Siantar, Sumatera Utara, selepas SMA ia pun bergegas masuk Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebagai mahasiswa hukum, ia aktif dalam berbagai organisasi. Salah satunya, ia dan rekan sekampusnya mendirikan LBH Clementia.

Berbagai perkara pun ia cari. Biasanya ia berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) dan menelusuri kasus menarik, lalu diadvokasi secara prodeo (tanpa bayaran). Cara yang ia tempuh ternyata ampuh. Pasalnya, berbagai kasus di sekitar Jawa Tengah berhasil ia pegang. “Itu masa-masa saya belajar jadi pengacara. Dalam sebuah kasus di Sragen, bahkan saya pernah dibayar dengan pisang. Yang tertinggi, meski sebenarnya tak meminta bayaran, saya pernah dibayar sebesar Rp. 70 ribu,” kata Otto, mengenang.
Tahun 1986, ia pun mendirikan Otto Hasibuan & Associates, sebuah law firm yang bergerak di bidang litigasi. Kasus pertama yang ditanganinya adalah menangani perkara penyelundupan di Tanjung Priok. “Semua perkara litigasi, baik itu pidana, perdata, korporasi, semua saya tangani,” sebut Otto.

Yusril Ihza Mahendra

Ujung Tombak Hukum Tata Negara

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Dok. MO & Istimewa

Dalam hukum tata negara, siapa yang tak kenal sosok Yusril. Bahkan, kini ia pun aktif terlibat dalam menangani sejumlah kasus hukum pidana. Sejak 2001, ia memang telah memiliki sebuah law firm bernama Yusril Ihza Mahendra & Associate (kini menjadi Ihza & Ihza Law Firm red). Ketika ia dijadikan tersangka korupsi Sisminbakum di Kementerian Hukum dan HAM, law firmnya itu nyaris lenyap dan ditinggalkan kliennya. Merasa didzolimi, ia pun melawan dan berjuang habis-habisan. Akhirnya, kebenaran pun terbongkar. Ia terbukti tak bersalah. Kini, law firmnya itu kembali merajut sukses dalam menjaring klien.

Terlahir dari keluarga pegawai negeri yang hidupnya susah, sejak kecil ia sering mengalami tindak kesewenang-wenangan. Dilakukan tidak adil dan ditindas seringkali terjadi dalam kehidupannya. Karena itulah, ia terdorong untuk belajar hukum. Misinya, bagaimana untuk melawan ketidakadilan sekaligus menghapuskannya.

Setamat SMA ia lantas memasuki Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Di UI, ia tidak hanya belajar hukum tapi juga filsafat. Dan ia sukses menyelesaikannya secara bersamaan. Menurutnya, filsafat adalah basis untuk membangun rasionalitas dan berfungsi untuk memperkuat keilmuan.

Tak berhenti di level itu, pemikirannya semakin tajam saat ia melanjutkan pendidikan S2 Hukum dan Pemikiran Islam. Untuk menyempurnakan ilmunya, ia pun mengambil program doktoral konsentrasi Ilmu Politik di Universitas Sains Malaysia (1993). Karena itulah, pandangannya terhadap masalah hukum menjadi agak unik dan berbeda sehingga hukum terlihat semakin menarik. Saya sudah terbiasa untuk mengkombinasikan ilmu hukum dengan ilmu-ilmu yang lain termasuk filsafat. Ketika saya hadapi persoalan hukum tidak selalu murni yuridis, tapi ada pendekatan yang lebih filosofis dan politis, ucap putra pasangan Idris dan Nursiha ini.

Todung Mulya Lubis

Totalitas untuk Sebuah Integritas

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Sutanto

Nama kondang dan track record mengkilap membuatnya menjadi pengacara panutan yang digandrungi. Jalan lurus yang ditempuh dengan membela hak-hak asasi manusia yang tertindas serta fokus pada penegakan hukum, membuat integritasnya makin terlihat nyata. Banyak kasus dan sengketa yang akhirnya ‘bertekuk lutut’ di hadapannya.

Dia adalah Todung Mulya Lubis. Pria kelahiran Muara Botung, Tapanuli Selatan, 4 Juli 1949, ini, menghabiskan masa kecilnya di Pulau Sumatera. Usai tamat sekolah dasar di Jambi, lalu ia melanjutkan ke SMP di Pekanbaru, Riau. Tiga tahun berselang, kemudian ia hijrah ke Medan untuk menempuh pendidikan SMA.

Ayahnya, Maas Lubis, adalah seorang yang sangat demokratis dengan membiarkan anak-anaknya untuk mengikuti pilihan hatinya sendiri termasuk dalam hal pendidikan. Maas adalah salah seorang pendiri Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan angkutan yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Jawa. Todung merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara di keluarga ini.

Kepekaan perasaan membuatnya berlabuh dalam dunia seni. Meskipun sebenarnya cita-cita Todung adalah menjadi diplomat. Karena sedari dini ia sudah tenggelam dengan membaca biografi orang-orang besar, seperti George Washington, Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Namun, seni menunjukkan jalan lain. Semasa SMA, ia sudah sering menulis puisi, cerita pendek, dan main teater. Karena itulah, bersama penyair wanita Rayani Sriwidodo, ia menerbitkan salah satu antologi puisi bertajuk “Pada Sebuah Lorong” pada 1968 kemudian kumpulan puisi kedua " jam - jam gelisah" juga diterbitkan.

Yozua Makes

Negosiator Bereputasi Dunia

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Sutanto, Dok. Pribadi

Sebagai non-litigator namanya mungkin tak banyak disorot di media kaca, tapi senyatanya kiprahnya sudah mendunia. Dialah Yozua Makes, seorang low profile legal consultant/lawyer yang reputasinya sudah bertengger di kancah internasional. Keahliannya dalam melakukan transaksi hukum bisnis internasional dan bernegosiasi telah menobatkan namanya dalam beberapa ajang bergengsi, seperti IFLR1000, External Counsel of the Year, dan nominator South East Asia Managing Partner of the Year dalam ALB Law Awards 2013. Men’s Obsession telah berhasil mendapat kesempatan langka untuk mewawancarai Yozua Makes.

Memiliki keahlian sebagai legal consultant membuatnya tampil sebagai pribadi yang low profile. Ia tidak terlalu suka dengan ekspose yang tidak perlu terhadap dirinya. Padahal, soal reputasi baiknya selama ini sudah tak terbantahkan lagi. Yozua Makes adalah the Indonesian blue chip lawyer and top negotiator di bidangnya karena memiliki track record unggul di dunia internasional dan nasional.

Darah sang kakek lulusan Leiden University, Mr Besar Mertokusumo, lawyer pertama di Indonesia, rupanya mengalir deras dalam tubuhnya. Kakeknya memberikan inspirasi besar terhadapnya dalam memasuki dunia lawyering. Sementara ayahanda, (alm) Komang Makes, adalah seorang dokter spesialis jantung dan penyakit dalam.Begitu juga dengan tiga kakak lainnya, semuanya berprofesi sebagai dokter lulusan Universitas Indonesia. Menurut Yozua Makes, selain dari Mr Besar Mertokusumo yang menginspirasinya berkarier di dunia hukum, maka seluruh partner dimana Yozua pernah berkantor juga merupakan pihak yang turut membantu kesuksesannya dalam berkarier di dunia hukum.

Tapi pilihan lain ditempuh Yozua Makes. Ia lebih memilih fakultas hukum daripada fakultas kedokteran. Pilihan itu nyatanya tak salah. Di fakultas ini, ia berprestasi. Tahun 1984, ia lulus tercepat dengan predikat cumlaude. Pasca tamat kuliah di UI, di usianya yang masih 23 tahun, ia pun langsung bergabung di firma hukum Mulya Lubis & Partners sebagai partner, selanjutnya sebagai corporate finance specialist di Lubis Hadiputranto Ganie, Surowidjojo & Partners, serta partner di Kartini Muljadi & Rekan.

Juniver Girsang

Pengacara Kondang Spesialis Tokoh

Naskah: A. Rapiudin, Foto: Sutanto

Banyak kasus besar ditangani lawyer satu ini. Kebanyakan kasus berakhir damai dan kliennya terbebas dari jeratan hukum. Deretan perkara besar yang ditanganinya merupakan kasus-kasus yang melibatkan tokoh-tokoh di negara ini dan menyedot perhatian publik. Lantaran banyak menangani perkara hukum yang melibatkan sejumlah tokoh, ia pun dikenal sebagai pengacara spesialis tokoh.

Dalam catatan kariernya, Juniver Girsang adalah lawyer yang pertama kali menangani perkara pelanggaran HAM di Timor Timur yang diduga melibatkan sejumlah jenderal Angkatan Darat dan Kepolisian. Lepas dari semua kontroversi, dalam proses persidangan di peradilan HAM, berkat kepiawaian Juniver, semua tersangka dinyatakan bebas.

Tak hanya itu, cerita kesuksesannya pun masih berlanjut. Ia adalah lawyer yang berperan dalam menangani beberapa kasus dugaan korupsi BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) sehingga berhasil dibebaskan. Demikian juga dugaan korupsi kapal tanker yang melibatkan Laksamana Sukardi. Diakhir kisah, Laksamana pun terbebaskan dari semua tuduhan.

Di era reformasi, warna warni kesuksesan Juniver dalam menangani berbagai masalah terus bergulir. Tidak hanya di kalangan pejabat, klien Juniver juga datang dari kalangan konglomerat. Antara lain, Prayogo Pangestu, Antony Salim, Harry Tanoesoedibjo, dan beberapa konglomerat lainnya yang bersentuhan dengan hukum. “Saya juga dikenal sebagai lawyer yang banyak menangani kasus tindak pidana korupsi dan banyak terdakwa yang saya bebaskan,” ucap pria kelahiran Medan, 3 Juni 1962  ini.

Di era rezim Soeharto misalnya, ia berhasil membebaskan Kepala Bappeda Lampung Siti Nurbaya. Ia juga sukses membebaskan 12 orang yang diduga melakukan tindak korupsi dalam kasus perambahan hutan di Riau. Berikutnya, tiga pejabat Bea dan Cukai Tanjung Priok yang diduga menyalahgunakan wewenangnya, juga berhasil ia bebaskan.

Elza Syarief

Srikandi Pembela para Pencari Keadilan

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Fikar Azmy/Dok. Pribadi

Elza Syarief, namanya merekah di sejumlah kasus yang pernah ditanganinya. Sederet perkara yang menyeret banyak pengusaha, pejabat, hingga selebritis ke meja hijau, dengan apik ia tuntaskan. Bukan hanya uang yang ia kejar, melainkan lebih pada rasa solidaritas terhadap mereka yang berduka karena musibah yang membelitnya.

Elza Syarief tak pernah merencanakan hidupnya untuk menjadi seorang pengacara. Hidup selalu berpindah – pindah kota sejak kecil membuat ia tak terlalu memusingkan perkara cita-cita. Dalam benaknya, bahkan ia hanya bermimpi jadi seorang ibu rumah tangga biasa yang bisa mengurus anak-anak dengan maksimal.

Anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Syarief. SE dan Hj Betty, ini, sejak kecil memang sering hidup berpindah-pindah. Ayahnya yang bekerja di bank pemerintah acapkali ditugaskan di beberapa kota berbeda. Tak aneh, jika ia pernah bersekolah di Tegal, Semarang, Ambon, Makasar, Bandar Lampung, mengikuti alur hidup sang ayah. Kemudian ayah berpindah ke Banda Aceh, Medan, Palembang dan Jakarta. Tetapi karena harus kuliah semua anak – anak menetap di Jakarta.

Wanita kelahiran Jakarta, 24 Juli 1957, ini, pun akhirnya menikah di usianya yang masih muda. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai dua anak, Lia Alizia dan Mia Vinita. Lalu, ia bercerai dengan sang suami. Menyandang status janda beranak dua, semangat Elza untuk menghidupi kedua anaknya tidak mau selalu dibantu oleh orang tua karena Elza ingin mandiri. Sambil mengurus kedua buah hatinya, ia kemudian melanjutkan studinya dan masuk pada Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, Jakarta.

Constant Marino Ponggawa

Melalui Hukum Ikut Membangun Perekonomian Nasional

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy

Mungkin, ia tak akan tampil sebagai seorang lawyer jika saja tak mengikuti saran sang ibu. Ya, selepas lulus SMA, saat kebingungan ingin meneruskan sekolah dimana, tiba-tiba sang ibu menyarankannya masuk Fakultas Hukum. Ia pun mengikuti keinginan perempuan yang dicintainya itu. Berpuluh tahun kemudian baru terbukti bahwa dorongan seorang ibu itu telah mengantarkan Constant M. Ponggawa tampil sebagai seorang pengacara non litigasi papan atas negeri ini.


Tahun 1990 merupakan titik awal dari Constant Marino Ponggawa memulai karirnya di dunia hukum. Sepulangnya menimba ilmu hukum di Int’l and Comparative Law, Southern Methodist University, Dallas Texas, Amerika Serikat, ia sudah mencoba aktif sebagai pengacara non litigasi di sebuah kantor hukum di Jakarta. Tak butuh waktu lama untuk kemudian figur yang akrab disapa Nino ini bangkit bersama rekannya mendirikan sebuah law firm sendiri.

“Sebetulnya ceritanya lucu, saya nggak pernah ingin jadi lawyer. Ketika lulus SMA, saya bingung mau jadi apa, ibu yang menyarankan untuk sekolah hukum, padahal zaman saya itu tahun 1979 fakultas hukum nggak favorit,” kenangnya.

Ada cerita menarik saat ia berjuang mendirikan kantor hukum yang kini bernama “Hanafiah Ponggawa & Partners atau HPRP Lawyers” , bersama rekannya, Al Hakim Hanafiah, Andre Rahadian dan Fabian Pascoal. Nino benar-benar memulai dari bawah. Ia bahkan turun langsung mencari klien. “Tahu pekerjaan apa yang kami tangani pertama kali? Menerjemahkan formulir penanaman modal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris!” ia tertawa. Waktu itu memang ada sebuah perusahaan asing yang ingin berinvestasi di Indonesia dan meminta Nino menerjemahkan formulir yang diambil dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pheo M. Hutabarat

Lawyer Lokal Skala Global

Naskah: Cucun Hendriana, Foto: Fikar Azmy, Dok. Pribadi

Memasuki fakultas hukum menjadi pertaruhannya sejak awal. Pada 1980-an, ketika arus besar menyeret banyak orang masuk pada fakultas teknik, ia malah meretas jalan lain di dunia hukum.Namun, kini jalur yang ia pilih itu berbuah berkah. Ia menjadi salah satu lawyer fenomenal dan ternama dalam bidang commercial dispute. Kliennya beragam, dari dalam negeri hingga manca negara

Sebelum euphoria reformasi 1998 terjadi, berkarier di bidang hukum masih buram dan suram. Tahun 1980-an, hampir jarang para orang tua atau anak yang berkeinginan untuk menjadi seorang ahli hukum. Umumnya, trend yang terjadi adalah, mereka berburu untuk masuk fakultas teknik dan kemudian menyandang gelar insinyur. Tak aneh, jika di era itu, fakultas hukum menjadi fakultas ‘buangan’. Tapi tidak bagi Pheo M. Hutabarat, pria kelahiran 30 Januari 1966. Malah, pria berkacamata ini berani menantang arus utama dengan memasuki fakultas hukum di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Meski belum memiliki niat untuk menjadi seorang lawyer, tapi hukum telah membuatnya terpikat. “Dulu itu, sarjana hukum tidak dianggap. Meski begitu, saya tetap ingin masuk ke jalur ini,” sebut Pheo.

Pada 1995, ia bersama beberapa rekannya mendirikan law firm bernama Hutabarat, Halim & Rekan (HHR). Ia bermimpi untuk membuat law firm bercirikan Indonesia dengan kiprah yang mendunia. Di HHR, ada tiga pilar utama yang selalu dikedepankan, yakni klien, lawyer, dan kualitas kerja. Hal itu selaras dengan visi besarnya yang ingin menjadi ‘The best client, the best lawyer, and the best work’. Saat ini HHR setidaknya telah memiliki 30 lawyer dengan 20-an staff pembantu.

Selama berkiprah lebih dari 17 tahun, Pheo mampu membuktikan itu. Untuk pencapaian semua visinya, sejak awal ia concern dalam membentuk strategi diferensiasi dengan law firm lain yang makin bertaburan. Garis komitmennya jelas, menjadi lawyer domestik yang memiliki kemampuan transaksi tingkat internasional. “Karena itulah kami sangat berhati-hati dalam memilih kerjasama dengan lawyer asing. Memperkuat diri sendiri agar sejajar dengan law firm asing lebih merupakan fokus kami. Lawyer itu adalah asset,” terangnya.

Tony Budidjaja

Lawyer Bermodal Kejujuran

Naskah: Sahrudi, Foto: Dok. Pribadi

Awalnya ia ingin jadi wartawan. Tapi perjalanan hidup menuntunnya menjadi seorang lawyer. “Tadinya saya pikir saya bisa lebih mudah menyuarakan protes saya atas berbagai ketidakadilan di muka bumi ini bila saya menjadi wartawan,” kenang Tony Budidjaja. Dengan menjadi lawyer justru sekarang Tony merasa idealisme dalam dirinya dapat dijaga dan dikembangkan. Ia memutuskan menjadi advokat karena ingin membuat perubahan dan perbaikan dalam dunia hukum yang gelap ini.

“We serve with excellence and integrity” bagi Tony bukan sekadar slogan dalam kantor hukumnya, Budidjaja & Associates (B&A), tapi adalah sebuah budaya kerja yang dibangun dan dipertahankannya sejak ia mulai berkarir sebagai seorang advokat di tahun 1996 hingga sekarang tatkala ia memiliki kantor hukum sendiri. Pengalamannya bekerja di beberapa kantor hukum Internasional terkemuka, termasuk Baker & McKenzie, membuat Tony paham betul apa artinya profesionalisme dankepercayaan (trust).

Soal integritas, bagi Tony adalah ‘harga mati’ yang tak bisa ditawar bagi seorang advokat. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara, Jakarta, yang meraih Magister Hukum (LL.M) di Universitas Leiden, ini menilai advokat sebagai seorang manusia yang diutus Tuhan untuk menjadi pelayan bagi masyarakat dengan bersemboyankan “Berani bersuara akan ketidakadilan. ”Dengan kata lain, bagi Tony kejujuran adalah nyawa dan modal terbesar bagi seorang lawyer. “Jika kejujuran sudah hilang, maka seorang lawyer tidak ada gunanya dan bahkan dapat menjadi sampah masyarakat,” tegasnya.

Itulah kenapa Tony selalu berusaha menjadikan para lawyers di kantornya (B&A) orang-orang yang dapat dipercaya karena kompetensi dan karakternya. “Benar lawyers harus cerdik dan panjang akal tetapi harus tulus dan jujur, cakap dan takut akan Tuhan. Orang yang hidup benar dan jujur akan tidur enak dan merasa aman. Tidak perlu lari dan merasa dikejar-kejar atau dibuntuti hidupnya karena menyembunyikan pelanggaran-pelanggarannya. Lebih baik kalah karena kejujuran daripada menang karena kepalsuan,” tuturnya lagi. Karena itu, Tony tak pernah takut menghadapi seburuk apapun instansi atau pejabat. Ia juga selalu berhasil membuktikan kepada kliennya bahwa sebesar atau serumit apapun suatu kasus yang ditanganinya, ia mampu menolong kliennya menemukan jalan keluarnya, asalkan kliennya sepakat untuk melakukan dengan cara yang benar.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

   

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250