Search:
Email:     Password:        
 





CFO TANGGUH

By Benny Kumbang (Editor) - 25 September 2013 | telah dibaca 3670 kali

Achmad Sudarto

Membangun PTBA dengan Niat Ibadah

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy/Dok. PTBA

Tak bisa dibantah jika saat ini PT Bukit Asam (Persero) Tbk atau PTBA adalah perusahaan pertambangan batubara papan atas yang memiliki performa terbaik di level nasional bahkan internasional. Betapa tidak, dalam dua tahun belakangan ini saja, PTBA selalu membukukan catatan kinerja yang positif dan menjanjikan.

Contohnya, untuk semester I 2013, PTBA mencatat volume penjualan batubaranya sebesar 20 persen, atau menjadi 8,81 juta ton dibandingkan penjualan tahun 2012, pada periode yang sama sebesar 7,36 juta ton. Pada kondisi ini, PTBA berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 5,43 triliun.

Memang, pendapatan itu turun 6 persen dibandingkan pendapatan periode yang sama tahun 2012 tapi tetap merupakan yang terbesar untuk perusahaan dikelasnya. Pendapatan ini sejalan dengan capaian laba bersih di semester yang sama sebesar Rp 0,87 triliun. Karena itulah Bloomberg pada 20 Agustus 2013 menempatkan PTBA dengan gross margin, over margin dan net margin tinggi diantara 9 perusahaan tambang batubara nasional dan internasional yang ada.

Kemajuan lainnya, PTBA juga menjadi perusahaan tambang batubara pertama di Indonesia yang menerima sertifikat ISO 9001 dalam penanganan, blending, stockpilling, pengapalan dan pengendalian Mutu di Tanjung Enim, terminal batubara Tarahan dan pelabuhan Kertapati serta pemasaran dan penjualan produksi batubara. Satu kelebihan lain dari PTBA adalah perusahaan yang bersih dari hutang sejak tahun 2002 sampai sekarang, bahkan hampir dibilang zero debt.

Ahyanizzaman

Banyak Belajar, Kunci Meraih Sukses

Naskah: A. Rapiudin, Foto: Fikar Azmy

Catatan karier Ahyanizzaman di PT Semen Indonesia terbilang cukup panjang. Bergabung dengan perusahaan semen pelat merah itu sejak 1991, perjalanan karier pria kelahiran Gresik 6 Juli 1966 terus menanjak naik mulai dari staf hingga menduduki posisi sebagai Direktur Keuangan. Kunci sukses dari semua itu adalah; mau belajar dari pengalaman dan penegtahuan atau skill yang diperlukan untuk pekerjaannya serta orang-orang sukses di sekitarnya.


Sebetulnya, karier Yani –sapaan akrab Ahyanizzaman- tidak seutuhnya dibangun di Semen Indonesia. Hampir separuhnya ia bekerja di PT Swadaya Graha, anak perusahaan milik Semen Indonesia. Saat itu, PT Swadaya Graha sedang mengerjakan proyek di Tuban I, II, dan III. Di perusahaan ini, Yani diberi tugas sebagai Vice Project Manager.

“Banyak pelajaran yang saya dapatkan saat kerja di lapangan. Bagaimana berinteraksi dengan orang, menyukseskan proyek, mengawasi proyek, dan lainnya, saya dapatkan saat bekerja di proyek itu,” terang Yani.

Tak berapa lama sebagai orang lapangan, Yani ditarik ke kantor pusat PT Swadaya Graha dan menduduki jabatan di eselon satu. Di sini ia diserahi tugas memimpin bagian akuntansi dan keuangan.

Usai dari PT Swadaya Graha, pada 1996 Yani ditugaskan menjadi pengurus Koperasi Warga Semen Gresik (KWSG) yang mempunyai misi untuk menjual dan mendistribusikan semen di daerah pasar utama pesaing. Setelah cukup lama menjadi pengurus KWSG, pada 2001, ia ditarik kembali ke PT Semen Gresik. Jabatannya saat itu adalah kepala seksi keuangan. Tak lama di bagian tersebut, ayah tiga anak ini dipindahkan lagi ke bagian akuntansi.

Kurniadi Atmosasmito

Membenahi PT KAI dengan Investasi dan Efisiensi

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

Bekerja adalah amanah! Itulah yang menjadi filosofi hidupnya dalam berkarier. Untuk itu tak heran jika pria kelahiran Jakarta, 5 April 1953 ini, selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam setiap jabatan yang diembannya. Capaian demi capaian pun berhasil diraih. Sejak diminta mengemban jabatan di lingkungan PT KAI sejak pertengahan tahun 2008 lalu, ia berhasil membantu meningkatkan laba perusahaan yang semula minus menjadi untung hanya dalam tempo yang sangat singkat. Kurniadi Atmosasmito, sosok direksi di PT KAI yang tak segan ikut memeriksa tiket penumpang
di dalam kereta.


Ia memang bukan orang lama di PT KAI, karena masuk ke perusahaan kereta api ;pelat merah’ itu baru pada tahun 2008. Namun ‘jam terbang’ nya di bisnis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sudah sangat tinggi. Tahun 1980, Kurniadi sudah berkiprah di PT Antam (Persero) Tbk, BUMN yang bergerak di bidang pertambangan. Disitu, ia menjalankan karir hingga kurang lebih 25 tahun sebelum ditempatkan di PT KAI. Di Antam, prestasinya luar biasa. Satu contoh ketika ia menjabat Direktur Keuangan Antam periode 2003 – 2008 lalu, ia berhasil membantu meningkatkan profit dari yang semula hanya Rp. 200 miliar menjadi Rp. 5,3 triliun dalam waktu 5 tahun.

Kepiawaiannya di PT Antam ia tularkan juga ke PT KAI. Dengan kerja kerasnya bersama para direksi yang lain dan staf di PT KAI, ia ikut menyukseskan hasil peningkatan yang sangat signifikan dari yang semula minus Rp. 83,487 miliar di tahun 2008, meningkat pesat di tahun 2009 hingga Rp. 154,800 miliar. Bahkan ketika Kurniadi mulai menjabat Direktur Keuangan sejak awal 2011 lalu, PT KAI berhasil meraup profit hingga Rp. 425,568 miliar di tahun 2012. Sungguh sebuah prestasi yang sangat membanggakan, terlebih jika melihat kondisi PT KAI yang kala itu sedang terpuruk.

Hary Prasetyo

Berpikir

Naskah: Rafiudin, Foto: Humas PT Asuransi Jiwasraya

Tidak pernah terbayangkan di benak Hary Prasetyo jika ia berlabuh di perusahaan PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Apalagi, ia tidak punya latar belakang pendidikan di bidang itu. Tapi kehadirannya mampu membangun kultur fighting spirit di BUMN sektor asuransi tersebut sehingga mampu bersaing dengan kompetitor di bisnis yang sama.

Berawal dari kebijakan yang digulirkan Menneg BUMN Sofyan Djalil waktu itu yang ingin melakukan restrukturisasi perusahaan asuransi BUMN. Kala itu, Sofyan Djalil ingin membangun perusahaan asuransi BUMN lebih profesional dengan merekrut orang-orang professional dari kalangan swasta yang berlatar belakang dunia pasar modal.

Pada September 2007, Hary dipanggil Menteri untuk melakukan fit and profer test di Kementrian BUMN dan dilanjutkan dilanjutkan tes di Bapepam pada November di tahun yang sama. Lulus tes, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Hary pun dilantik menjadi Direktur Keuangan di PT Asuransi Jiwasraya pada 15 Januari 2008.

“Ini tantangan yang luar biasa buat saya. Apalagi, sebagai Direktur Keuangan, ada lima bidang yang saya bawahi. Selain keuangan, lainnya adalah investasi, SDM, TI, dan umum pengadaan. Saya juga tidak punya disiplin ilmu asuransi sama sekali, karena latar belakang saya di pasar modal,” ucap Hary yang awalnya berkarier di bidang Pasar Modal (Capital Market) sejak tahun 1993 yang saat itu terbilang masih berkembang serta SDM yang belum banyak.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

   

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250