Search:
Email:     Password:        
 





Kabinet Ahli Rekomendasi Men's Obsession

By Benny Kumbang (Editor) - 16 July 2014 | telah dibaca 2138 kali

Abraham Samad

Semula Diragukan, Kini Jadi Harapan

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto
Sejak masih duduk di bangku sekolah, Abraham Samad begitu terobsesi pada satu bidang, yakni bidang hukum. Hal itu membuatnya bergairah untuk mempelajari ilmu hukum di tingkat Perguruan Tinggi. Ia pun konsisten mendalami ilmu itu bahkan hingga pendidikan terakhirnya, S3 dengan tesis bertema pemberantasan korupsi.

Ketika ia dipercaya memimpin lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk periode 2011 – 2015, tak banyak orang yang yakin mantan aktivis LSM ini mampu memimpin lembaga sekelas KPK. Namun, begitu ia bergerak sangat cepat dalam tahun pertama kepemimpinannya, tidak sedikit orang mengacungkan jempol kepadanya. Tanpa pandang bulu, satu persatu kasus korupsi di Indonesia berhasil diselesaikan dengan baik. Putera Sulawesi Selatan itu, kini jadi harapan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Sebagai seorang praktisi hukum sekaligus tokoh pejuang anti korupsi, Abraham sangat prihatin melihat fenomena budaya korupsi yang merajalela di negeri ini. Dalam pandangannya, dunia hukum dan peradilan di Indonesia sudah sangat terkontaminasi oleh para perilaku korupsi itu.

“Para penegak hukum, termasuk advokat saat ini telah menjadi bagian dari mata rantai korupsi itu. Inilah yang menjadikan sistem peradilan kita mengalami proses pengeroposan, di mana budaya korupsi itu secara langsung menyebabkan perlakuan terhadap rakyat kecil menjadi sampai tidak adil,” terangnya, serius.

Demi memberantas korupsi, sosok muda kelahiran 1966 ini, bahkan rela meninggalkan profesi advokat yang sesungguhnya bisa membuatnya sejahtera dan dengan mudah mencari materi. Namun karena meyakini bahwa persoalan besar yang dihadapi bangsa dan negara ini adalah soal penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, ia memilih menjadi aktivis pemberantasan korupsi yang penuh resiko.

Faisal Basri Batubara

Ekonom Cerdas Berintegritas

Naskah: Giattri FP. Foto: Istimewa
Ia dikenal sebagai ekonom, aktivis, dan politisi yang memiliki integritas tinggi. Perjalanan hidupnya penuh kisah. Dilahirkan sebagai keponakan Adam Malik, Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga, lantas tak membuat masa kecilnya bergelimang harta. Pria kelahiran Bandung, 6 November 1959, ini, justru menjalani kehidupan berat dan susah. Itu sebabnya, kini ia begitu giat memberikan pendapat dan buah pikirannya yang menggunakan teropong ekonomi-politik di media massa dan jurnal untuk memperbaiki kehidupan bangsa Indonesia.

Ia adalah Faisal Batubara yang dikenal dengan sebutan Faisal Basri. Basri merupakan nama ayah Faisal (Hasan Basri Batubara) yang ia lekatkan kepada dirinya sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada ayahnya. Nama Faisal Basri pertama kali ia gunakan saat menulis sebuah kolom berjudul Reaganomics yang dimuat di sebuah harian nasional pada 1980-an. Nama itulah yang akhirnya membuatnya harus memiliki integritas tinggi.

Ia tidak ingin mencoreng nama sang ayah yang telah mengajarkannya tentang hidup yang benar. Karena itu, tidak heran jika sepak terjang ekonom UI ini identik dengan bentuk perlawanan. Seperti beberapa waktu lalu, ia mengajukan diri menjadi salah satu kandidat gubernur DKI Jakarta dengan menggandeng Biem Benyamin, putra tokoh Betawi Benyamin Sueb dari jalur independen. “Saya maju untuk melakukan perubahan,dengan cara-cara berpolitik yang tidak mengandalkan kekuatan dominan,” tegasnya.

Hikmahanto Juwana

Profesor Muda Peraih The Highest Achievement

Naskah: Giattri/berbagai sumber, Foto: Istimewa
Sekilas, sosok pria yang satu ini seperti orang muda kebanyakan. Fresh, dinamis dan supel. Jauh dari penampilan seorang profesor yang tua, botak, dan kaku. Ialah Hikmahanto Juwana, profesor termuda dalam sejarah Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) atau bahkan di Indonesia.

Prestasinya yang mengkilap hingga mengantarkannya meraih gelar terhormat pada usia di bawah 40 tahun jelas bukan pencapaian yang biasa-biasa saja. Guru besar FHUI, ini, berpandangan tren menjadi doktor atau profesor di usia yang relatif muda sangat mungkin dicapai.

Namun mendapat gelar akademis tertinggi di usia yang tergolong muda tidaklah semudah mengedipkan mata. Lantaran dalam ilmu hukum, banyak sekali masalah yang berkembang. Kendati demikian, ia tidak ciut nyali, melainkan merasa tertantang untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa ia memang layak memperoleh gelar “The Highest Achievement” itu. 

Setelah masuk di FHUI pada 1983, keinginan Hikmahanto menjadi dosen kian menggebu. Tahun ke dua kuliah, ia mulai diminta teman-temannya untuk memberikan tentir beberapa mata kuliah. Ia tak segan dengan pekerjaan tambahan itu. Karena semasa kuliah, ia sudah terbiasa mensistematisir perkuliahan dan menyusun diktat.

Ryamizard Ryacudu

Sang Jenderal Intelektual

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa
Selepas tak lagi menjabat Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu tak terdengar lagi kiprahnya. Namun demikian, tak banyak yang menyangka jika sosok prajurit sejati yang memiliki kecerdasan emosional, intelektual dan spiritual ini diam-diam mencermati perkembangan politik yang terjadi di negeri ini. Meski, ia tak mudah mengobral komentar di panggung politik.

Ketenangan sikap menantu dari Jenderal (Purn) Try Soetrisno ini tak lepas dari latar belakang kehidupannya yang sangat religius. Baik ketika masih remaja maupun saat ini, ketika menjadi suami Nora Trystiana dan ayah dari tiga orang anak, Ryano Patriot, Dwinanda Patriot , dan Tryananda Patriot.

Namanya mulai dikenal luas saat menjadi salah satu komandan Kontingen Garuda XII di Kamboja pada 1990-an, tatkala berpangkat kolonel. Ia banyak menjadi sumber berita.

Johnny Darmawan D.

Membangun Industri Otomotif Indonesia

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto

Kehadiran Johnny Darmawan dalam dunia otomotif nasional, tak hanya meramaikan pasar otomotif di Tanah Air. Berkat tangan dinginnya, Johnny bahkan telah berhasil membawa otomotif menjadi sebuah industri besar yang dibanggakan di Indonesia.

Bicara tentang otomotif nasional, memang tak bisa dilepaskan dari nama Johnny Darmawan yang telah mampu mengantarkan industri otomotif nasional bersaing di pasar regional.  “Industri otomotif nasional ini sangat menarik minat asing, bahkan hampir mengalahkan Thailand,” ucap Johnny.

Meski begitu, Johnny enggan menyebut bahwa dirinyalah yang berjasa dalam membangun dan membesarkan industri otomotif di tanah air. “Bukan saya yang membuat industri otomotif sukses. Tapi kebetulan saya masuk di dunia otomotif pada waktu eranya yang sedang sukses,” katanya merendah. 

Yang menarik, jauh sebelum otomotif menjadi industri yang diperhitungkan, Johnny sudah berkeyakinan kuat bahwa otomotif akan berkembang pesat dan menjadi industri yang dibanggakan. Dan dalam kesempatan wawancara, ia pun seringkali berkelakar bahwa ia tak ingin berbicara otomotif hanya dari sisi jualan, namun ia ingin berbicara otomotif sebagai industri. “Dulu kalau ditanya saya selalu menyampaikan hal itu. Orang bilang saya asal ngomong, tapi sekarang siapa menyangka bisa menjadi kenyataan,” ujarnya tanpa bermaksud membanggakan diri.  

Di mata Johnny, industri otomotif memang berkembang pesat dalam waktu beberapa tahun ini. Terutama dalam kurun waktu 5 tahun ini, tercatat beberapa pabrikan APM besar mempercayakan investasi di negara ini. Hal itu merupakan satu bukti nyata bahwa negara Indonesia berpotensi besar. Dan yang tak kalah membanggakan, otomotif mampu menjadi industri yang terus berkembang, bahkan konon inilah industri yang diunggulkan untuk ASEAN Economic Community mendatang.
   
Meski begitu, pria ramah ini, tak menampik bahwa masih ada kekurangan dalam industri otomotif, antara lain, penyediaan raw material yang kurang memadai, dalam hal ini industri baja. Terlebih menurut Johnny, baja memiliki peran besar sebagai manufacturing yang mana memiliki komposisi hingga 60% untuk industri otomotif.

Elvyn G. Masassya

Agar pekerja bisa sejahtera

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy
Sukses memimpin Jamsostek yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan, membuat Elvyn G. Masassya memiliki visi yang jelas dan tegas bagaimana menjadikan pekerja hidup sejahtera.

Bicara tentang bagaimana menyejahterakan para pekerja dan mengentaskan segudang persoalan ketenagakerjaan dengan Elvyn terasa mengasyikan, sehingga waktu pun terasa sempit. Mantan bankir yang dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama BJPS Ketenagakerjaan ini memiliki pandangan yang jauh dan mendasar dalam melihat problem ketenagakerjaan nasional saat ini. Ditemui di ruang kerjanya, pria yang juga musisi jazz ini panjang lebar menjelaskan bagaimana seharusnya negara memiliki visi dalam membangun tenaga kerja Indonesia yang lebih bersaing.

“Kita tahu, lazimnya sebuah negara didirikan adalah untuk menyejahterakan rakyatnya. Termasuk didalamnya adalah pekerja. Untuk menyejahterakan rakyatnya itu pula, negara melakukannya dengan berbagai cara dan pola,” Elvyn membuka percakapan.

Khusus di bidang tenaga kerja, ada persoalan serius yang dihadapi Indonesia saat ini. Betapa tidak, saat ini pertumbuhan tenaga kerja terus meningkat. “Dimana berdasarkan sebuah riset, ada 118 juta tenaga kerja saat ini dan ternyata 52 persen dari mereka memiliki pendidikan yang rendah antara SD dan SMP,” ujar Elvyn.

Tingginya jumlah angka kerja yang memiliki skill rendah itu, tentu menjadi beban tersendiri bagi pemerintah. Karena hal itu tidak sesuai dengan ekspektasi dari dunia kerja yang ada. Sehingga penyaluran tenaga kerja minim skill itu pun bukan perkara gampang.

“Karena itulah untuk membuka lapangan kerja yang match antara ketersediaan tenaga kerja atau supply dan dunia kerja atau demand maka faktor peningkatan pendidikan pun harus menjadi faktor yang sangat penting. Jadi akar masalah kita, di sektor ketenagakerjaan itu ya di pendidikan yang rendah,” ujar Elvyn, serius. Lalu solusinya? “Menurut saya adalah bagaimana meningkatkan pendidikan ini menjadi elemen mandatori, dan ditanggung negara,” anjurnya.

Arief Yahya

Menjadikan Telkom Kebanggaan nasional

Naskah: Sahrudi, Foto: Dok. MO
“Kunci utama menjawab tantangan global adalah dengan berpikir mega (strategic thinking) yaitu lebih berorientasi pada kebutuhan community (bangsa dan negara), tidak hanya pada customer (makro) dan company (mikro). Pertanyaannya, adalah untuk apa Telkom Indonesia itu ada? Telkom Indonesia ada untuk bangsa Indonesia, bahkan untuk memberikan manfaat kepada seluruh umat manusia (rahmatan lil ‘alamin)”
– Arief Yahya –


Tak salah jika pemerintah dalam hal ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menunjuk Arief Yahya sebagai Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) pada bulan Mei 2012. Betapa tidak, karena baru setahun saja ia memimpin perusahaan telekomunikasi tersebut, sudah banyak langkah bisnis luar biasa yang dilakukannya.

Sebutlah misalnya ekspansi anak perusahaan ke sejumlah negara tetangga seperti PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) yang mengembangkan sayapnya ke Timor Leste, Australia dan kini juga sudah melayani Hongkong, Malaysia, dan Singapura. Belum lagi kesuksesannya dalam meraih laba yang sangat signifikan di era kepemimpinannya.

Kepiawaian Arief dalam menata bisnis telekomunikasi ini tak bisa dilepaskan dari jam terbangnya di perusahaan ini. Sekadar catatan, Arief bergabung dengan Telkom sejak 1986. Ia telah mendapatkan berbagai penugasan, antara lain Senior Manager Niaga Divisi Regional II (1999 – 2001), General Manager Kandatel Jakarta Barat (2002 – 2003), Kepala Divisi Regional VI Kalimantan (2003 – 2004), dan Kepala Divisi Regional V Jawa Timur (2004 – 2005). Sebelum menjadi Direktur Utama, Ketua Ikatan Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung ini adalah Direktur Enterprise & Wholesale yang dijabat sejak 24 Juni 2005.

Emirsyah Satar

Diperhitungkan Sejak Lama

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa
Eksistensi Emirsyah Satar sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia cukup cemerlang. Ia telah berhasil mengubah maskapai penerbangan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini dari sebelumnya sebagai perusahaan yang selalu mengalami kerugian menjadi sehat. Emirsyah selalu berpikir keras agar perseroan berbalik arah menjadi perusahaan besar dan selalu meraih keuntungan. Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki perseroan. Salah satunya dengan melakukan penghematan pengadaan barang dan jasa.


Pria kelahiran Jakarta, 28 Juni 1959 ini memang bukan orang baru di Garuda. Alumnus FE Universitas Indonesia ini sepanjang tahun 1998 sampai 2003 sudah menjabat Direktur Keuangan Garuda Indonesia, meski kemudian ke Bank Danamon sebagai wakil dirut, lalu kembali ke pangkuan Garuda dengan posisi Presiden Direktur dan CEO pada Maret 2005. Ia menargetkan Garuda Indonesia menjadi perusahaan penerbangan berkelas dunia.

Terbukti di bawah kepemimpinannya, Garuda Indonesia meraih berbagai penghargaan dan peringkat Garuda di dunia terus menaik. Tahun 2011 lalu, Garuda sampai ke peringkat 19 dalam daftar World Airlines versi Skytrax. Tahun 2012, Garuda naik dari 19 ke peringkat 11. Untuk kategori World Regional Airlines Skytrax, Garuda sudah dinobatkan menjadi The World Best Regional Airline. Garuda juga serius menambah armada baru dari Boeing 777-300 ER, 3 Airbus A330, 10 Boeing 737-800NG, dan 7 Bombardier CRJ1000 NextGen.

Basuki Tjahaja Purnama

Sikap Tegasnya Jadi Incaran

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa
Berbicara tentang pemimpin muda dan tegas dalam konteks kekinian, kita akan menemukan beberapa nama kepala daerah yang layak untuk dikategorikan sebagai pemimpin yang berani dalam menjalankan kepemimpinannya. Salah satunya adalah Basuki Tjahaja Purnama, Wakil Gubernur DKI Jakarta. Betapa tidak, sejak mendampingi Gubernur DKI Joko Widodo, pria yang akrab disapa Ahok ini telah mengeluarkan banyak kebijakan.

Di lingkup internal Pemda DKI ia bersama Joko Widodo telah melakukan pembenahan seperti mengevaluasi dan bahkan memutasi pejabat Pemda yang memiliki kinerja buruk. Bahkan di level jabatan tertentu, ia melakukan semacam promosi terbuka atau istilah populernya adalah lelang jabatan. Sebuah terobosan untuk dapat menghasilkan pejabat yang mau menjadi pelayan rakyat. Sementara dalam pembenahan di lingkungan eksternal, Ahok turun membenahi pedagang kaki lima yang berdagang semaunya.

Ia juga berani menghentikan operasional tempat-tempat hiburan yang berpotensi merusak masa depan generasi muda, seperti belum lama ini ia tidak lagi memberikan izin beberapa tempat hiburan malam yang ditengarai jadi tempat peredaran narkoba.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250