Search:
Email:     Password:        
 





Konsultan Politik: Dari Image Branding Hingga Spin Doctor

By Andi Nursaiful (Administrator) - 07 August 2014 | telah dibaca 8455 kali

Dari Image Branding Hingga Spin Doctor

Naskah: Andi Nursaiful/berbagai sumber, Foto: Istimewa/Dok.MO

Hiruk pikuk pemilihan presiden (Pilpres) 2014 sesungguhnya bukan hanya adu program di antara dua kandidat capres/cawapres. Juga bukan cuma pertarungan sengit dua tim kampanye, dan bukan semata saling caci dua kubu netizen pendukung.

Yang tidak tampak di permukaan adalah adu strategi di antara para konsultan politik, khususnya Rob Allyn dan Denny JA. Perang antara konsultan politik asing dan lokal ini berakhir untuk kemenangan rakyat Indonesia.


Bagi sebagian besar publik awam, Pilpres 2014 ibarat sebuah medan laga. Hampir setiap individu, melek atau tidak melek politik, punya atau tidak punya hak pilih, ‘dipaksa’ untuk berpihak ke salah satu kandidat. Sebagian memilih secara rasional, sebagian lainnya emosional. Ada yang menetapkan pilihan karena alasan ideologis-religius, ada pula karena dorongan primordial-kulktural. Pendeknya, tersedia banyak alasan untuk menetapkan pilihan.

Di balik itu semua, pesta demokrasi Pilpres 2014 yang mempertemukan dua kandidat kuat, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dengan dan Jokowi-JK, menjadi sebuah laboratorium politik yang paling tepat bagi para pembelajar dan pemerhati politik. Praktik demokrasi modern yang telah membelah dua masyarakat heterogen Indonesia ini, memberi contoh nyata tentang apa itu dunia politik praktis, dan bagaimana cara-cara kerja konsultan politik.

Kampanye Hitam vs Pencitraan Positif
Tak kasat mata oleh awam, Pilpres 2014 sesungguhnya menjadi ajang adu strategi di antara dua konsultan politik, yakni konsultan politik AS dari Partai Republik Rob Allyn, dengan pendiri Lingkaran Survey Indonesia (LSI) Denny JA. Jika dicermati dalam bingkai lebih luas, perang strategi Rob Allyn-Denny JA adalah perang antara kampanye hitam/negatif versus kampanye pencitraan positif.

Anda mungkin pernah mendengar langsung atau sekadar cerita seseorang bahwa anak-anak kecil meneriakkan kalimat, "Jokowi! Jokowi! Orangnya belum sunat!" sambil bermain. Menurut Made Supriatma, peneliti masalah-masalah politik militer, itu adalah pertanda bahwa smear campaign (kampanye fitnah) atau black campaign (kampanye hitam) yang dilancarkan oleh kubu lawan Jokowi itu bekerja dengan baik. “Dia sudah sampai ke tingkat anak-anak. Jika para orangtua hanya mendengarnya lewat bisik-bisik, anak-anak meneruskannya menjadi pengumuman,” sebutnya.

Tak bisa disangkal lagi, kampanye hitam memang nyata dalam Pilpres kali ini. Bahkan, hadir dalam skala yang tidak pernah ada sebelumnya. Kampanye hitam menimpa kedua kandidat, meskipun lebih banyak ditujukan kepada Jokowi ketimbang Prabowo. Menurut Made, itu lantaran problem berbeda yang dihadapi oleh kedua kandidat. Masalah utama yang harus dihadapi oleh Prabowo adalah data, terutama data sejarah yang berupa rekam jejaknya pada masa lalu. Sementara, tantangan utama Jokowi adalah kampanye hitam baik dalam bentuk disinformasi, tuduhan rasial dan agama, maupun rekam jejak dalam kehidupan publiknya sebagai politisi.

Made mengibaratkan, Prabowo adalah sebuah buku novel yang isinya sudah diketahui publik, sementara Jokowi adalah buku kosong yang perlu ditulis. Semua orang tahu akan sepak terjang Prabowo, mulai dari kakeknya, ayahnya, dan mertuanya (Suharto). Juga rekam jejaknya sebagai perwira militer, tingkah lakunya dalam banyak kasus pelanggaran HAM, dan kehidupannya sesudah dinonaktifkan dari dinas militer, lalu menghabiskan waktunya untuk berkampanye menjadi Presiden Republik Indonesia.

Sebaliknya, Jokowi adalah figur yang baru melejit ke publik selama dua tahun terakhir ini. Sebelum itu dia hanya dikenal di lingkup Solo, Jawa Tengah, di mana dia menjadi walikota. Dia mulai mendapat perhatian luas dari publik saat dia mencalonkan diri untuk gubernur DKI Jakarta. Sejak saat itu, karier politiknya menanjak tajam. Namun, tidak banyak orang kenal siapa dia.

Pengetahuan publik hanya terbatas pada apa yang dia kerjakan sebagai Walikota Solo dan hampir dua tahun menjabat gubernur DKI Jakarta. Itulah sebabnya, Jokowi itu bagaikan buku kosong yang butuh untuk diisi tulisan. Di sinilah lawan dan sekutu politiknya berusaha untuk mengisi halaman-halaman buku itu. Lawan dan kawan politik Jokowi berusaha memberikan definisi tentang siapa Jokowi sebenarnya.

Di titik itulah kampanye hitam bekerja. Rob Allyn konon masuk mengisi ruang kosong ini. Mulai dengan mendefinisikan Jokowi sebagai Kristen dan keturunan Cina, lalu meningkat dalam bentuk tabloid Obor Rakyat yang samar-samar memiliki kaitan dengan kampanye Prabowo-Hatta, diteruskan dengan isu presiden boneka hingga antek asing. 

Meskipun kubu Prabowo-Hatta membantah telah menyewa Rob Allyn, namun mereka tidak membantah kalau Rob Allyn memang bekerja untuk perusahan yang dikontrak oleh tim kampanye kubu Prabowo. Sebetulnya, seperti dikutip tempo.co, 5 Juli 2014, Ketua Partai Gerindra, Suhardi, membenarkan bahwa Rob Allyn adalah salah satu konsultan politik kubunya.

Rob Allyn dikenal setelah sukses membuat Gubernur George W. Bush terpilih kembali di Texas pada 1994. Ia juga banyak menangani politisi lokal di AS, dan perusahan konsultan miliknya  memiliki nama besar di luar AS. Misalnya, sukses menaikkan Vincente Fox menjadi presiden Meksiko tahun 2000.

Sejak itu, Allyn mengembangkan usahanya di luar AS. Dia mulai bergerak di Indonesia diperkirakan sekitar tahun 2004, dengan menjadi konsultan politik untuk Partai Golkar. Harian The New York Times, edisi 28 Desember 2006, menyebutkan bahwa Allyn bekerja untuk Partai Golkar. Ada kemungkinan bahwa Allyn membantu Prabowo untuk memenangi konvensi Partai Golkar saat itu dan tidak secara langsung membantu Partai Golkar. Kepada Dallas Observer Allyn, mengaku bahwa dia hidup selama sembilan bulan dalam setahun di Indonesia.

Membuktikan keterlibatan Rob Allyn secara resmi dalam kampanye hitam pada Pilpres 2014, memang sulit. Sebabnya, antara lain, kebanyakan kampanye hitam dilakukan secara rahasia, oleh kelompok rahasia, dan disokong oleh dana-dana gelap.

Di kubu Jokowi-JK pun bukan tidak ada tudingan keterlibatan konsultan asing. Bahkan, tudingan ini jauh lebih kencang ketimbang yang dialamatkan pada Prabowo-Hatta. Nama Stan Greenberg santer dikaitkan dengan langkah Jokowi sebagai capres. Dialah peracik strategi pemenangan Barack Obama, dan menjadi CEO Greenberg Quinlan Rosner, firma polling dan konsultan politik terkemuka di AS. Bersama James Carville dan Bob Shrum, dia juga mendirikan Democracy Corps, organisasi non-profit yang senantiasa mempelajari strategi politik.

Bersama GQR, Greenberg sukses mengantar Bill Clinton menjadi presiden AS untuk dua periode. Greenberg juga diklaim berhasil mengantarkan 11 pemimpin dunia lain berhasil menduduki jabatan strategis, termasuk Nelson Mandela di Kongres Nasional Afrika 1994. Dalam situs resminya, secara terbuka Greenberg mencatat lengkap mengenai riset dan memaparkan seluruh klien secara terbuka.

Konon, Greenberg menggunakan hampir seluruh media untuk menciptakan image merakyat ala Jokowi. Greenbeg juga dikatakan telah membidani kelahiran tim sukses Jokowi di media sosial, mengerahkan tokoh, akademisi, pengamat, aktivis dan politisi untuk membentuk opini mendukung Jokowi.

Masuknya Greenberg diisukan melalui taipan James Riady (Lippo) yang dikenal mendanai kampanye Clinton. Tak mustahil James Riady juga mendanai kampanye Jokowi dan menyewa ahli pencitraan untuk Jokowi.

Masalahnya, keterlibatan Greenberg di tim Jokowi-JK sulit dikonfirmasi. Di situs resmi GQR, greenbergresearch.com, tidak muncul Jokowi sebagai salah satu klien. Greenberg juga tidak pernah mem-posting satupun pembahasan tentang Jokowi.

Salah satu blog independen mencoba mengonfirmasi kantor GQR melalui kontak telepon di +1 202 478 8300 dan Fax di +1 202 478 8301, dijawab belum pernah ada satupun tokoh Indonesia yang menggunakan jasa mereka, baik untuk pencitraan maupun pemenangan pemilu.

Bisa jadi pekerjaan Greenberg memang dirahasiakan. Kerahasiaan klien sangat mungkin terjadi karena ada Undang-Undang di AS melarang pembocoran identitas klien tanpa izin sang klien. Sehingga tidak memungkinkan bagi siapapun dari Indonesia untuk mendesak pengungkapan siapa yang menyewa Greenberg tanpa adanya delik hukum atau perintah pengadilan.

Akan tetapi, kerahasiaan ini ini pula yang bisa saja dimanfaatkan oleh pelaku-pelaku propaganda, untuk merancang suatu argumentasi karena akan sangat sulit dilakukan penyelidikan yang akurat.

Masalahnya, keterlibatan Greenberg (seandainya betul), tetap tidak mampu menggoyahkan keyakinan pendukung Jokowi-JK. Sebab, seperti diisukan, Greenberg bekerja untuk menciptakan image branding positif  kepada Jokowi, bukan justru menyerang Prabowo-Hatta dengan kampanye hitam (sebagaimana massifnya kampanye hitam kepada Jokowi-JK).

Yang terang, pengakuan resmi datang dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang mengakui bahwa Direktur Eksekutif LSI, Denny JA, secara pribadi ditunjuk sebagai konsultan politik Jokowi-JK pada 20 Juni 2004.

Penunjukan itu dilakukan 20 hari menjelang pencoblosan, ketika kampanye hitam ke kubu Jokowi-JK kian massif, yang membuat elektabilitas Jokowi-JK menurun cepat. Sebelumnya, partai pengusung Jokowi-JK, PDI Perjuangan, menyewa lembaga konsultan politik Fastcom, yang dididirikan oleh Ipang Wahid, putra tokoh Nahdlatul Ulama Solahuddin Wahid.
 
Dalam rilisnya, LSI mengakui Denny JA mempekerjakan jaringannya di 11 provinsi yang menjadi target. Total populasi dari 11provinsi itu sudah di atas 70% dari seluruh populasi
Indonesia. Jaringan itu sudah ia kelola sejak memenangkan pilkada di daerah itu.

Ribuan relawan dilatih untuk door to door ke rumah wong cilik. Total rumah tangga yang
didatangi pasukan relawannya, diklaim jutaan. Denny JA menargetkan mengambil kembali hati
wong cilik yang pindah ke Prabowo, setidak 5% dari total populasi pemilih.

LSI mengakui, pihaknya memang telah sukses bekerja menghalau kampanye hitam, namun kunci kesuksesan Jokowi-JK adalah pesona pribadi Jokowi-JK sendiri. “Jokowi berhasil membangkitkan harapan publik akan perubahan kultur politik. Jokowi datang sebagai pemimpin
Dengan kultur politik yang berbeda. Pesona pribadi Jokowi-JK inilah yang mampu membangkitkan meluasnya dukungan sukarela dari selebriti ataupun tokoh publik yang punya rekor integritas tinggi,” demikian LSI dalam rilisnya.

Bersambung ke: Cara Kerja Konsultan Politik

Cara Kerja Konsultan Politik

Kita tinggalkan Pilpres 2014, dan kontroversi seputar siapa sesungguhnya konsultan politik asing yang berada di kedua kubu. Artikel ini lebih ingin mengupas fenomena bisnis marketing dan konsultan politik di era modern, dan efektivitasnya yang sudah teruji.

Di era ini, politisi yang tengah berkontestasi untuk sebuah jabatan, mutlak membutuhkan data survei tentang tingkat keterpilihannya. Selain itu, untuk meningkatkan elektabilitas, diperlukan lembaga konsultan komunikasi politik yang ahli dalam hal personal branding demi mengangkat citra.

Menurut Ipang Wahid, komunikasi politik adalah satu dari tiga komponen utama dalam pemenangan seorang kandidat. Pencitraan politik bisa dilakukan dengan dua cara, yakni serangan udara dan serangan darat. “Udara itu lebih pada iklan-iklan besar seperti radio, televisi, dan media cetak. Serangan darat berupa spanduk, dan brosur, itu sudah paling efektif,” ujarnya, seperti dikutip detik.com.

Untuk memoles satu klien, biasanya Ipang menurunkan minimal 15 orang anggota tim. Terdiri dari tim account, desain, dan perencanaan. Namun jika si klien juga memesan untuk kegiatan publikasi, tim yang diturunkan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan orang.

Jasa konsultan politik bukan hanya komunikasi, melainkan menyediakan data identifikasi suara atau pemetaan, intervensi suara, hingga pemenangan dan menjaga suara. Ini antata lain dilakukan
oleh lembaga Indo Barometer milik Muhammad Qodari. Identifikasi dilakukan melalui survei untuk memetakan kekuatan calon, alasan orang memilih, isu-isu di masyarakat setempat yang jadi daerah pemilihan.

Dari pemetaan kelemahan dan tingkat pengenalannya, disusunlah kegiatan untuk program pemenangan atau intervensi suara. Selanjutnya adalah kegiatan menjaga suara, termasuk menyusun jaringan saksi untuk quickcount.

Survei dan pemetaan memang mutlak diperlukan. Seperti kata Saiful Mujani dari lembaga SMRC, tanpa survey ibarat berperang tapi buta, tidak tahu kekuatan peta masing-masing, bahkan kekuatan diri sendiri pun tidak tahu.

Cara kerja tim konsultan lebih pada peran supervisi, seperti, mulai dari struktur organisasi, alur kerja, dan evaluasi kekurangannya. Setelah itu memberi saran dan arahan agar klien lebih efisien. Eksekusi bisa dilakukan oleh tim konsultan, dan bisa dilakukan sendiri oleh tim sukses calon yang bersangkutan. Di tangan para eksekutor inilah yang menentukan sukses tidaknya sebuah pemenangan dan kampanye politik.

Bersambung ke: Spin Doctor

Spin Doctor

Pada perkembangannya, konsultan politik ini mulai memperoleh nama alias yang populer, Spin Doctor. Ia berada pada posisi tengah antara politisi yang akan dipasarkan, dengan media massa yang akan mempromosikannya. Di Indonesia, Spin Doctor lebih banyak dikenal dengan istilah manajer kampanye, yang menentukan pengarahan opini publik dalam pencitraan kandidat.

Salah satu kehebatannya adalah merumuskan kampanye politik yang efektif, termasuk memlintir isu untuk mengangkat citra klien atau melemahkan citra lawan. Dengan kata lain, spin adalah instrumen berfungsi ganda.Bisa menjadi alat bertahan, dan pada kesempatan lain berfungsi menjatuhkan lawan.

Pencitraan positif direncanakan sedemikian rupa dengan menyerang alam bawah sadar publik bahwa tokoh tertentu memang benar seperti yang dipertontonkan. Sementara itu, hal-hal sepele yang bisa melemahkan citra positif itu berusaha dihilangkan.

Sebagai contoh, tim sukses Obama mengusir dua orang pendukungnya yang menggunakan jilbab saat berada di belakang Obama ketika berkampanye. Jika kedua orang ini tertangkap kamera media massa, Obama akan dianggap mendukung kelompok Islam, yang dalam konteks Amerika yang masih mempunyai trauma pasca tragedi 11 September. Contoh lain, agar terlihat santai dan rileks di depan pendukungnya, tim sukses George Bush memintanya melonggarkan dasi dan menggulung lengan kemeja.

Penampilan Jokowi berkaos oblong di depan puluhan ribu massa di Gelora Bung Karno saat konser musik Salam Dua Jari menjelang hari pencoblosan 9 Juli, adalah bentuk pencitraan untuk menggambarkan ‘penyatuan’ Jokowi dengan rakyat kebanyakan.

Sementara itu, pemilihan seragam Tim Koalisi Merah Putih Prabowo-Hatta, yakni kemeja lengan pendek warna putih dengan celana berwarna krem menyerupai pakaian masa-masa revolusi kemerdekaan RI, adalah pencitraan untuk memperkuat citra nasionalisme mereka.

Sebagai alat serang, spin memanfaatkan isu untuk dipelintir, dieksploitasi habis-habisan dalam konferensi pers, wawancara, talkshow, hingga artikel di koran atau majalah. Semakin kontroversial dan ramai semakin baik, karena dengan begitu dia semakin mendapat panggung untuk melakukan serangan.

Keburukan-keburukan klien, biasanya diatasi dengan teknik cherry picking, atau menyeleksi fakta atau kutipan dan hanya menampilkan fakta yang menguntungkan kelien. Ada pula teknik non-denial denial, yaitu sikap “tidak membantah tidak menolak” terhadap fakta keburukan klien.

Teknik lain lagi adalah “mengubur berita buruk.” Pada konferensi pers, misalnya, informasi yang bersifat populer dan memiliki nilai berita tinggi sengaja diumumkan berbarengan dengan informasi-informasi lain yang kurang menguntungkan, dengan harapan perhatian media akan lebih terfokus pada informasi yang populer dan mengesampingkan informasi-informasi buruk yang disampaikan bersamaan.

Contoh penerapan teknik-teknik spin di Indonesia sudah bisa dilihat sejak masa Presiden SBY. Dalam sebuah acara bersama anggota militer, Presiden SBY bercanda seputar gajinya yang tak pernah naik selama beberapa tahun. Ucapan itu maksudnya untuk memotivasi para prajurit agar tidak terlalu gelisah memikirkan kenaikan gaji bulanan yang mereka terima.

Akan tetapi, pernyataan SBY dimanfaatkan oleh lawan politik. Dengan framing (pembingkaian informasi) yang sangat kentara, ucapan itu didistorsi sedemikian rupa sehingga seolah-olah sang presiden adalah orang yang tak mengenal puas dan selalu mengeluhkan gaji.

Bersambung ke: Kemenangan Rakyat

Kemenangan Rakyat

Kita juga sudah menjadi saksi hidup kerja-kerja konsultan politik dan aksi spin doctoring selama proses Pilpres 2014. Kerja-kerja profesional itu terlihat sangat telanjang di mata para pengamat dan pembelajar politik. Baik yang berupa kampanye negatif  dan hitam, maupun pencitraan positif dan personal branding.

Yang menarik, proses yang terjadi Indonesia memberikan hasil yang berbeda jika diperbandingkan dengan di belahan dunia lain. Di luar sana, kampanye negatif dan hitam yang didukung jaringan media massa yang luas, terbukti sangat efektif untuk menghentikan laju lawan. Tapi di Indonesia, kampanye hitam secara massif dan membabi-buta yang menyerang kubu Jokowi-JK, meskipun pada awalnya terlihat efektif, ternyata pada akhirnya tak mampu membendung kekuatan citra positif yang melekat atau dilekatkan ke figur Jokowi.

Ada penjelasan yang rasional untuk hal ini. Seperti diketahui, pasca Reformasi 1998, Indonesia belum juga mampu keluar sepenuhnya dari keterpurukan. Tiga kali Pilpres sejak 1998 (1999, 2004, 2009) dirasakan belum mampu mencetak pemimpin yang benar-benar mampu membawa bangsa ini untuk berdiri setegak-tegaknya berdiri.

Selama lebih dari satu setengah dekade sejak keruntuhan rezim otoriter Soeharto, publik menyaksikan secara telanjang betapa partai politik dan para elite hanya sibuk berebut kekuasaan. Pada akhirnya muncul suasana kebatinan pada sebagian besar masyarakat Indonesia bahwa negeri ini tak akan pernah bisa lepas dari masalah selama pemimpinnya masih menjadi bagian dari masa lalu.

Ketika kemudian Jokowi muncul dengan imej satu-satunya calon pemimpin yang bukan berasal dari partai politik, mempertontonkan gaya komunikasi non-verbal yang sangat berbeda dari politisi kebanyakan, dan menawarkan konsep kebaruan di berbagai program, maka publik seolah menemukan the choosen one.

Kampanye hitam yang dialamatkan kepada Jokowi, mungkin saja berhasil ditepis melalui polesan pencitraan dari tim konsultannya. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri bahwa rakyat dan pemilih Indonesia kini jauh lebih melek politik, jauh lebih cerdas dan kritis dibanding masa-masa sebelumnya.

Rakyat pemilih, yang sebagian besar adalah pemilih pemula dengan tingkat pendidikan mencukupi untuk bersikap kritis, ditambah akses informasi yang begitu mudah di era internetisasi, mampu membuat mereka memilah mana informasi yang benar dan mana yang hanya hoax. Tapi yang paling penting adalah suasana kebatinan rakyat yang merindukan kebaruan. Dan, kebetulan, Jokowi yang menjanjikan harapan akan kebaruan itu.

Bersambung ke: Kisah Duo David dan Tukang Plintir dari Negeri Paman Sam

Kisah Duo David dan Tukang Plintir dari Negeri Paman Sam

David Axelrod dan David Plouffe, konon ibarat ruh bagi mesin politik Barack Obama. Merekalah yang disebut-sebut menjadi kreator kemenangan Obama, the real king maker. Mesin politik yang mereka bangun, mampu mencetat sejarah panjang di negeri mbahnya demokrasi, AS, yaitu untuk pertama kalinya seorang kulit hitam menjadi presiden.

David Axelrod adalah ahli strategi kampanye, sementara David Plouffe adalah manajer kampanye. Keduanya bekerja untuk tim kampanye Obama. Antara mereka dan Obama, terjalin hubungan yang sangat dekat, jika tidak bisa disbeut sehati dan sepikiran.

Axelrod adalah otaknya Obama dalam menjalankan strategi kampanye. Mereka sudah bekerjasama saat Obama maju menjadi calon senator Illinois, dan terus berlanjut hingga Obama maju sebaga calon presiden pada pilpres 2008.

Axelrod sangat taktis dalam memilah negara-negara bagian, sekaligus menyusun strategi pencurian suara di negara-negara yang mayoritas republiken. Hasilnya, Obama bahkan sukses merampok suara yang sedari awal diprediksikan mengalir untuk McCain, lawannya.

Strateginya adalah menjual kepribadian Obama yang muda dan cerdas kepada para pemuda-pemudi republiken di negara-negara bagian yang secara tradisional memilih republik. Duo David tak hanya mampu mendulang suara untuk Obama lewat skema strategi yang mapan, tapi
juga menciptakan kreativitas mumpuni hingga menghasilkan dana kampanye yang tak sedikit.

Axelrod, kelahiran New York tahun 1955, jeli melihat setiap celah peluang dan mengubahnya menjadi kemenangan. Saat mendampingi Obama sebagai calon presiden, ia melakukan riset mendalam terhadap sosok Obama. Ia kerahkan juru kamera dan tim khusus untuk merekam semua informasi tentang Obama. Seluruh informasi dipelajari untuk diambil mana sisi pribadi
Obama yang bisa “dijual” ke publik. Riset ini juga bertujuan sebagai basis data untuk menepis isu-isu tak sedap mengenai Obama. Terbukti cara itu berhasil menenggelamkan isu nama “Husein” di tengah nama lengkap Obama.

Axelrod dan Plouffe bergabung dalam firma AKP&D Message Media sejak  2004. Seperti Axelrod, Plouffe juga ahli dalam strategi dan lebih berperan sebagai analis andal. Ia piawai mengolah dan menganalisa data-data kampanye, termasuk mengatur jadwal Obama.

Sebagai manajer kampanye Obama, Plouffe tergolong brilian. Apa yang ia yakini biasanya
benar-benar terjadi. Seperti ketika ia menunjuk Virginia sebagai final battle. Menurut Plouffe, Virginia adalah kunci. Jika menang di Virginia berarti perlawanan McCain berakhir. Terbukti, Obama menang di Virginia lalu terpilih menjadi presiden AS.

Keduanya mampu mengemas “barang dagangan’ mereka agar laku dijual ke pemilih. Salah satunya adalah memperkuat gaya komunikasi verbal Obama. Ini diakui oleh para ahli komunikasi dunia. Obama dianggap mampu menghipnotis hampir seluruh penduduk AS yang berkulit putih, karena kecerdasannya menggunakan bahasa non-verbal.

Murah senyum, selalu menghormati orang lain tanpa melihat statusnya, tidak pernah menunda untuk menyapa orang lain, walau cuma sekadar menanyakan kabar dan kesehatan. Tidak pernah jenuh melambaikan tangan kepada orang lain yang mengisyaratkan adanya perhatian dalam pergaulan. Semua itu adalah gaya komunikasi non-verbal yang sukses dilekatkan.

Kisah Lee Atwater si Tukang Plintir
Berbeda dengan pendekatan Duo David dengan metode pencitraannya, Harvey LeRoy “Lee” Atwater adalah tokoh yang dianggap paling bedebah dalam sejarah politik modern AS. Dialah master strategi kotor, tukang plintir (spin doctor) nomor wahid, jagoan dalam hal intrik, dan jenius dalam memanipulasi.  Ia bukan politisi, tetapi operator politik yang mampu mengantar  politisi pada satu jabatan tertentu. Ia tega dan mampu melakukan apa saja agar kliennya terpilih.

Atwater memulai karier dengan menjadi operator politik senator Strom Thurmond dari negara bagian South Carolina. Dia menggelar konferensi pers dengan memasang sejumlah reporter palsu di antara reporter betulan. Reporter palsu ini mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan lawan politiknya. Ia juga mengirim surat-surat langsung ke pemilih (direct mail) yang memberikan informasi palsu tentang lawan politiknya.

Atwater juga ahli dalam memanipulasi media. Dia akan memberikan informasi off the record tentang lawan politiknya kepada media, dan karena dia memiliki kualitas kepribadian yang demikian meyakinkan, maka si wartawan merasa tidak perlu melakukan cross-checking. IA juga membuat survey-survey palsu yang menunjukkan keunggulan calonnya. Survey-survey ini diharapkan akan memunculkan band-wagon effect yaitu efek seperti gerbong yang menarik gerbong lainnya.

Lee Atwater berjasa membantu kemenangan Ronald Reagan di wilayah Selatan, yang kemudian membawa Reagan ke tampuk kepresidenan pada 1980. Lee kemudian ikut ke Washington dan menjadi wakil direktur urusan politik Gedung Putih. Dia kemudian menjabat wakil manajer kampanye pemilihan kembali Reagan pada 1984.

Prestasi utama Atwater diakui pada 1988 ketika mengurusi kampanye George H.W. Bush Sr. Ketika itu, kampanye Bush hancur berantakan. Opini publik menunjukkan posisi Bush pada angka -17 persen. Namun saat pemilihan bulan November, Atwater menjungkirbalikkan keadaan itu.

Lawan Bush, Gubernur negara bagian Massachusetts, Michael Dukakis, diserang dengan taktik paling kotor yang pernah dipakai dalam pemilu AS. Atwater memproduksi sebuah video kampanye yang menggambarkan seorang terpidana yang bernama Willie Horton. Di sana digambarkan Bush sebagai orang yang pro-hukuman mati, sementara Dukakis adalah anti-hukuman mati.

Dukakis disebutkan mendukung program yang membolehkan tahanan keluar penjara saat akhir pekan. Di sinilah Willie Horton mengambil peranan. Pria kulit hitam ini dihukum seumur hidup, tetapi boleh menikmati liburan akhir pekan keluar penjara. Semasa liburan itulah Horton menyerang sepasang kekasih, menikam sang pria dan memperkosa wanitanya.

Iklan ini jelas adalah sebuah kode. Dalam konteks rasial masyarakat AS, ini adalah kode lunaknya Dukakis terhadap orang kulit hitam. Tidak itu saja. Penekanan rasial dalam video kampanye ini mengirimkan sinyal kepada ras kulit putih, yang menjadi mayoritas pemilih, bahwa “keamanan Anda menjadi taruhan kalau Anda memilih Dukakis! Para kriminal itu (kulit hitam) akan bebas berkeliaran untuk merampok, membunuh, dan memperkosa.”

Iklan Willie Horton itu menjadi sangat fenomenal ketika itu. Iklan ini mampu memainkan emosi dan ketakutan tidak beralasan warga kulit putih terhadap kulit hitam. Ia menyuburkan prasangka yang sudah ada. Bahkan, mampu menghimpun orang kulit putih untuk berbondong-bondong mencoblos, meskipun memilih tidak wajib di AS.

Bersambung ke: Bisnis Konsultan Politik yang Kian Menggiurkan

Bisnis Konsultan Politik yang Kian Menggiurkan

Profesi konsultan PR politik atau biasa disebut juga press agent atau publicist awalnya dikembangkan oleh sepasang suami-istri Cleam Whitaker dan Leon Baxier di Los Angeles, AS,  pada 1933 dengan nama Campaign Inc. Istilah PR konsultan politik ini digunakan hingga 1984, setelah tim kampanye Ronald Reagan menggantikannya dengan istilah spin doctor.

Di Indonesia, pakar komunikasi politik, Effendi Gazali pernah meramalkan di masa Orde Baru bahwa profesi konsultan politik akan banyak dibutuhkan. Ramalan itu kini terbukti. Aturan pilkada hingga pemilihan presiden secara langsung, menjadikan profesi konsultan politik mutlak diperlukan. Profesi konsultan politik ini menjadi tren, lembaga konsultan politik menjamur, bisnis komunikasi politik mulai menjadi industri.

Selain menguasai dunia politik, profesi atau bisnis ini membutuhkan skill komunikasi yang baik. Sebab, seorang konsultan politik harus mampu bekerja sama dan berkoordinasi dengan banyak pihak, seperti tim sukses kandidat, lembaga survei, advertising agency, media center, hingga event organizer.

Yang tak kalah penting, tentu saja adalah lembaga survei. Survei menjadi hal yang paling berperan dalam menentukan strategi komunikasi politik. Sebab, cara itu sekaligus berfungsi mempelajari karakter calon pemilih di  tiap daerah. Melalui survei, konsultan politik baru dapat menentukan strategi terbaik untuk memoles kandidat.

Konsultan politik juga kerap dinamai keagenan politik (political dealership), mengacu pada upaya untuk memasarkan seorang calon. Tak heran jika kemudian muncul ungkapan, untuk mencari leadership dibutuhkan dealership.

Kini konsultan politik dan lembaga survey munculnya bak jamur di musim hujan. Sebut saja Lembaga Survei Indonesia, Lingkaran Survei Indonesia, Indo Barometer, Strategic Political Intelligence (Spin), Akbar Tandjung Institute, Amien Rais Institute, SMRC, dan seterusnya. Ini belum termasuk lembaga think tank yang hanya sebelumnya melakukan kajian kualitatif, tapi belakangan ikut-ikutan melakukan survei kuantitatif tentang popularitas.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Grace Natalie, mengakui lembaga survei dan konsultan politik adalah bisnis yang sangat basah. Baginya, lembaga konsultan politik dan lembaga survey adalah industri baru yang sangat prospektif di Indonesia.

Potensi pasar industri baru ini cukup menjanjikan. Dalam pemilihan legislatif tahun 2014 saja ada 560 kursi DPR, 2.112 kursi DPRD provinsi, 16.895 kursi DPRD Kabupaten/Kota. Ada 259 daerah pemilihan untuk tingkat provinsi, dan 2.102 daerah pemilihan tingkat kabupaten.

Jika diasumsikan dalam satu dapil, masing-masing partai mencalonkan 10 nama, maka satu daerah bisa mempunyai 120 calon yang bertarung. Jumlah itu belum termasuk dengan pasangan-pasangan calon yang bertarung dalam 530 pemilihan kepada daerah kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari juga mengakui besarnya potensi pasar tersebut. Ia pun menebar jaringan di seluruh Indonesia untuk mengurus permintaan, baik calon anggota legislatif maupun calon yang bertarung dalam pilkada. Ia mengaui di tiap daerah pemilihan lembaga punya akses. “Ada satu dapil di mana saya kenal 10 calon legislatif,” akunya.

Perputaran uang dalam bisnis ini tergolong menggiurkan. Seorang calon yang bertarung dalam pesta demokrasi, baik pemilihan eksekutif maupun legislatif diperkirakan menghabiskan dana miliaran rupiah. “Pilkada di atas Rp 5 miliar sudah pasti untuk kegiatan dia,” ungkap Grace.

Untuk survey saja, kata Grace, minimal sekali survei untuk sekitar 400 responden bernilai Rp100 juta. Sementara rata-rata survey menggunakan 2000-3000 responden. Jika surveinya secara nasional, dananya dipastikan bakal membengkak hingga milyaran rupiah. Satu klien umumnya memerlukan survei minimal tiga kali, dam intensitas itu meningkat jika durasi masa kerja lebih lama.

Satu hal yang pasti, menyewa konsultan politik dan/atau lembaga tak otomatis menjadikan seseorang berhasil mencapai kursi jabatan. Tak sedikit juga keluhan bahwa lembaga survey gagal mengantar kleinnya mencapai tujuan.

Dalam sebuah acara diskusi dan evaluasi publik beberapa waktu lalu, seorang politisi nasional
Mewaspadai tiga lembaga survei. Pertama, lembaga survei komersil yang tidak melaksanakan survei dan hanya mengeruk keuntungan dari kandidat-kandidat. Kedua, lembaga survei amatir yang dikenal dengan metodologinya yang kacau. Ketiga, lembaga survei tidak komersil, tidak amatir, namun memiliki kelemahan memprediksi.

Sejak 2009, para praktisi konsultan politik telah membentuk Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKPI). AKPI mengikuti gaya asosiasi di Amerika Serikat (AS) yang bersifat individual, bukan lembaga.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

   

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250