Search:
Email:     Password:        
 
 





65 Tahun Bank BTN, Menjadi motor program sejuta rumah

By Benny Kumbang (Editor) - 17 February 2015 | telah dibaca 2514 kali

65 Tahun Bank BTN

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa

Bicara tentang pengadaan perumahan rakyat, tentu tak bisa dilepaskan dari peran Bank BTN yang sejak puluhan tahun lalu sudah mengonsentrasikan diri dalam program pembiayaan perumahan masyarakat menengah ke bawah. Kini, di usia yang ke-65 tahun, Bank BTN semakin optimis menjadi motor penggerak pembangunan perumahan di negeri ini. Tak salah jika Bank BTN tampil sebagai pemeran utama dalam mewujudkan program pemerintah membangun sejuta rumah untuk rakyat.

Selama ini, Bank BTN adalah satu-satunya bank yang konsisten dan komitmen dalam memberikan dukungan penuh terhadap program pemerintah menyediakan rumah nasional. Sejak produk skim Kredit Pemilikan Rumah (KPR) diluncurkan Bank BTN pada 10 Desember 1976, Bank BTN telah menjadi pemimpin pasar pembiayaan perumahan di Indonesia dengan penguasaan pangsa pasar total KPR sebesar 24%. Sedangkan untuk segmen KPR subsidi, peran Bank BTN sangat dominan dengan menguasai pangsa pasar lebih dari 95% dari total penyaluran FLPP tahun 2011, 2012 dan 2013. Total KPR bersubsidi yang sudah disalurkan Bank BTN sejak 1976 sd 2014 berjumlah sekitar Rp.60 Triliun yang telah dimanfaatkan oleh lebih dari  2,6 juta masyarakat Indonesia.  Sementara khusus untuk program FLPP, sejak program ini dijalankan tahun 2010 sd 2014 telah direalisasikan rumah lebih dari 368.000 unit dengan total kredit mencapai lebih dari Rp.25 Triliun. Khusus Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) tahun 2014 kami melampaui target pemerintah  58.000 unit dan terealisasi 93.000 unit dengan jumlah kredit lebih dari Rp.7,9 Triliun.

Bank BTN memiliki kompetensi yang tinggi sebagai bank yang concern dengan pembiayaan perumahan dan tidak dimiliki oleh bank lainnya. Antara lain, Bank BTN berpengalaman menangani KPR massal yang didukung oleh network pengembang di seluruh Indonesia dengan brand awareness yang tinggi di mata masyarakat Indonesia dan didukung oleh jaringan yang sangat luas. Bank BTN juga sudah teruji komitmennya dalam memberikan dukungan program rumah nasional dengan porsi dukungan rata-rata diatas 95% atau hampir seluruhnya program rumah nasional dalam setiap tahunnya “ditutup” oleh Bank BTN.

Namun juga harus diakui, meski pembangunan perumahan terus dilakukan, tak berarti kebutuhan rumah rakyat sudah ter-cover seluruhnya. Kebutuhan perumahan terus meningkat setiap tahun. Melonjaknya sisi permintaan belum diikuti oleh pasokan yang memadai sehingga terjadi backlog (kesenjangan antara rumah yang dibangun dengan rumah yang dibutuhkan). Jumlah backlog masih sangat tinggi sekitar 13,7 juta.

Beragam upaya tengah dilakukan seluruh pihak terkait seperti pemerintah, pengembang, dan perbankan untuk mengurangi kesenjangan ketersediaan rumah tersebut. Backlog itu terjadi karena pembangunan perumahan di Indonesia dihadapkan pada persoalan tanah, perizinan, infrastruktur dan pembiayaan. Tidak saja dibutuhkan dukungan dari perbankan tetapi juga komitmen pemerintah menyiapkan program perumahan nasional yang berkelanjutan dalam rencana jangka panjang pembangunan nasional yang didukung oleh APBN. Program rumah nasional butuh pengawalan pemerintah karena menyangkut kebutuhan hajat hidup orang banyak tentang papan (tempat tinggal).

Sebagai bank yang dalam sejarahnya pernah ditunjuk pemerintah menjadi Lembaga Pembiayaan untuk menyiapkan fasilitas KPR bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, ini, Bank BTN tentu berkepentingan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan target pemerintah dalam menyediakan perumahan bagi rakyatnya. Bank BTN siap untuk selalu hadir di tengah-tengah rakyat yang membutuhkan rumah.

Karena itu, ketika pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) menelurkan program sejuta rumah dan  mengharapkan Bank BTN dapat menjadi pemeran utama dalam merealisasikan dan menjawab kebutuhan rumah bagi rakyat kecil di Indonesia, tentu merupakan hal yang sangat tepat. Dengan diberikannya peran sentral Bank BTN dalam pelaksanaan  program perumahan nasional yang diperuntukkan bagi rakyat tersebut, tentu tak perlu waktu lama bagi Bank BTN untuk menyatakan kesiapannya. “Kami siap untuk menjadi motor dalam menggerakkan program rumah bagi masyarakat. Ini adalah program pemerintah dan menjadi tugas mulia bagi kami untuk merealisasikannya,” tegas Direktur Utama Bank BTN, Maryono.

Ya, Bank BTN, tentu merupakan bank yang paling kompeten dalam menjawab ‘tantangan’ pemerintah tersebut dan menjadi integrator stakeholder strategis dalam permasalahan kelangkaan perumahan di Indonesia. Kenapa? Karena ada dua peran utama Bank BTN sebagai motor dalam merealisasikan program sejuta rumah ini. Pertama Bank BTN sebagai lembaga pembiayaan yang menyediakan lending products kepada seluruh pihak terkait pembangunan perumahan, baik dari sisi supply maupun demand. Kedua Bank BTN sebagai inisiator dan integrator kerjasama antar institusi dalam meningkatkan supply rumah.

Diakui Maryono, menyediakan perumahan untuk rakyat memang memerlukan campur tangan dan intervensi pemerintah, karena permasalahan utama pembangunan perumahan menyangkut masalah supply seperti lahan dan infrastruktur, pasokan bahan bangunan dan peraturan menyangkut pembangunan perumahan itu sendiri. Belum lagi menyangkut masalah kepemilikan rumah seperti penghasilan masyarakat yang terbatas, kesiapan dukungan dana dari perbankan yang umumnya didukung oleh dana jangka pendek dan penyediaan dana jangka panjang oleh pasar modal sampai dengan saat ini di Indonesia belum tersedia. “Jadi tetap untuk mengatasi problematika perumahan nasional kuncinya ada pada political will pemerintah,” tegas Maryono. Sebenarnya, ditambahkan Maryono, ada banyak opsi yang dapat dilakukan oleh pemerintah seperti misalnya memberikan PMN dalam rangka program sejuta rumah untuk rakyat kepada Bank BTN. Atau juga dapat dilakukan dengan cara penempatan dana seperti BPJS, Taspen, Bapertarum PNS, LPDP, dan sejenisnya untuk mendukung program pemerintah untuk rumah rakyat. Bisa juga dengan mekanisme pinjaman off shore dari World Bank, JICA, ADB, dan sejenisnya untuk mendukung tersedianya dana murah dari luar negeri.

Dirut Bank BTN, Maryono : Ini adalah Tugas Mulia

Pemerintah telah mencanangkan program sejuta rumah untuk rakyat kelas menengah ke bawah. Untuk mewujudkan program tersebut, pemerintah mengharapkan Bank BTN menjadi pemeran utama dalam merealisasikan program tersebut sekaligus menjawab kebutuhan rumah bagi rakyat kecil di Indonesia. Bagaimana kesiapan Bank BTN sendiri? Berikut petikan pernyataan dari Direktur Utama Bank BTN, Maryono dalam berbagai kesempatan :

Seperti kita ketahui, pemerintahan Jokowi-JK ingin melakukan percepatan penyelesaian backlog perumahan nasional melalui program sejuta rumah untuk rakyat dan Bank BTN akan diberikan peran sentral dalam pelaksanaan  program perumahan nasional yang diperuntukkan bagi rakyat di Indonesia, bagaimana kesiapan Bank BTN sendiri ?
Kami siap untuk menjadi motor dalam menggerakkan program rumah bagi masyarakat. Ini adalah program pemerintah dan menjadi tugas mulia bagi kami untuk merealisasikannya.

Apa yang menjadi dasar pemerintah memercayai Bank BTN sebagai motor dalam merealisasikan program sejuta rumah ini ?
Ada dua peran utama Bank BTN mengapa diharapkan dapat menjadi motor dalam merealisasikan program sejuta rumah ini. Pertama Bank BTN sebagai lembaga pembiayaan yang menyediakan lending products kepada seluruh pihak terkait pembangunan perumahan, baik dari sisi supply maupun demand. Kedua Bank BTN sebagai inisiator dan integrator kerjasama antar institusi dalam meningkatkan supply rumah.

Bapak Wakil Presiden juga meminta agar  Bank BTN  menjadi pemeran  utama dalam pelaksanaan program penyediaan perumahan nasional,  seperti program perumahan bagi buruh di dekat kawasan industri ?
Ya, konsepnya  sudah dilakukan pembicaraan bersama tim wapres.  Jadi  pemerintah akan lebih fokus bagaimana membiayai rumah-rumah khususnya bagi masyarakat  berpenghasilan rendah ini lebih besar lagi.

Hal yang sering kita dengar, persoalan pengadaan perumahan rakyat ini memang sangat kompleks, benarkah ?

Sebagai pemain utama dalam pembiayaan perumahan nasional, Bank BTN telah memberikan masukan dalam mengatasi problematika perumahan nasional. Masalahnya memang cukup kompleks dan perlu campur tangan pemerintah untuk mengatasinya. Permasalahan utama menyangkut masalah supply seperti lahan dan infrastruktur, pasokan bahan bangunan dan peraturan menyangkut pembangunan perumahan itu sendiri. Kemudian menyangkut masalah kepemilikan rumah seperti penghasilan masyarakat yang terbatas, kesiapan dukungan dana dari perbankan yang umumnya didukung oleh dana jangka pendek. Penyediaan dana jangka panjang oleh pasar modal sampai dengan saat ini di Indonesia belum tersedia.

Artinya diperlukan intervensi dari pemerintah ?
Ya, diperlukan intervensi pemerintah untuk meningkatkan kapasitas supply perumahan, khususnya perumahan murah. Di samping itu intervensi pemerintah juga diperlukan untuk memastikan ketersediaan pembiayaan perumahan khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Jadi tetap untuk mengatasi problematika perumahan nasional kuncinya ada pada political will pemerintah.

Bapak pernah menyatakan bahwa sebenarnya ada banyak opsi yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini?
Ya, misalkan pemerintah memberikan PMN dalam rangka program sejuta rumah untuk rakyat kepada Bank BTN. Atau juga dapat dilakukan dengan cara penempatan dana seperti BPJS, Taspen, Bapertarum PNS, LPDP, dan sejenisnya untuk mendukung program pemerintah untuk rumah rakyat. Bisa juga dengan mekanisme pinjaman off shore dari World Bank, JICA, ADB, dan sejenisnya untuk mendukung tersedianya dana murah dari luar negeri.

Apakah idealnya Bank BTN diberikan kewenangan untuk mengelola bagaimana program rumah rakyat dapat berjalan dengan dukungan penuh dari pemerintah?

Idealnya begitu, tapi tentu saja tetap di bawah koordinasi Kementrian PU dan Perumahan Rakyat. Ketersediaan perumahan merupakan salah satu elemen kesejahteraan masyarakat sesuai amanah UUD 1945 dan program pemerintah Nawacita (9 agenda perubahan untuk Indonesia). Selama ini kami telah memberikan dukungan penuh terhadap program pemerintah dalam penyediaan rumah nasional. Dan kami akan tetap memberikan komitmen untuk itu. Sebagai bank fokus perumahan ada 4 kompetensi yang dimiliki oleh Bank BTN dan tidak dimiliki oleh bank lainnya. Kami berpengalaman menangani KPR massal yang didukung oleh network pengembang di seluruh Indonesia dengan brand awareness yang tinggi di mata masyarakat Indonesia dan didukung oleh jaringan yang sangat luas. Bank BTN akan tetap fokus pada bisnis pembiayaan perumahan.

BTN di Mata Mereka :

Apa dan bagaimana peran Bank BTN dalam mendukung program perumahan rakyat selama ini? Berikut komentar sejumlah tokoh mengenai hal tersebut.

Basuki Hadimuljono (Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI) :
“Anggaran tahun 2015 untuk sektor perumahan mencapai Rp 13,3 triliun, dengan rincian dari APBN senilai total Rp 8,2 triliun, ditambah dana untuk fasilitas Likuiditas pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar Rp 5,1 triliun. Aggaran memang masih kurang, tapi kita akan kerjasama dengan sektor lainnya. Pemerintah akan mengerahkan  kekuatan untuk membangun  satu juta unit rumah tersebut dengan  bersinergi dan melibatkan peran BUMN seperti Bank BTN, Perum Perumnas, dan BPJS.”

Roem Kono (Anggota Komisi V DPR RI) :
“Kiprah Bank BTN Soal Perumahan Rakyat saat ini sudah bagus. Karena sudah sangat banyak perumahan yang dibiayai dan kini pembangunan perumahan sudah berjalan dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa Bank BTN tidak pernah mengabaikan kepentingan rakyat kecil. Jadi dari aspek sosialnya tetap diperhatikan. Saya berharap Bank BTN siap membantu pemerintah sebaik-baiknya. Satu harapan saya, dalam rangka untuk penyediaan Kredit Perumahan Rakyat itu bunganya jangan terlalu tinggi. Supaya terjangkau."



Reza Indrayana (Dosen) :
“Saya merasa bangga menjadi nasabah Bank BTN. Bukan semata-mata karena saya mendapatkan kredit kepemilikan rumah dari Bank BTN, tapi karena memang banyak keuntungan. Saya nasabah di BTN sejak tahun 1990. Kelebihan dari BTN saat itu, ketika krisis moneter terjadi tahun 1998, KPR bank lain meningkat sampai 30 persen lebih mengikuti suku bunga deposito. Sementara Bank BTN tetap, suku bunganya mengalami kenaikan. Ketika saya melunasi kredit KPR, saya bisa dengan cepat mendapatkan sertifikat rumah. Hal ini terasa sekali buat saya hingga sekarang. Kelebihan lainnya, ATM Bank BTN sudah merebak dimana-mana, semakin banyak.”


Suharso Monoarfa (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI/Mantan Menteri Perumahan Rakyat) :
“Kita tahu bagaimana Bank BTN itu sudah banyak sekali membantu pembiayaan perumahan untuk menengah ke bawah. Itulah spesialisasi Bank BTN. Hebatnya, spesialisasi yang dimiliki Bank BTN itu sampai saat ini belum tergantikan oleh bank-bank lain. Kalau boleh saya sarankan, sebenarnya Bank BTN itu tampil sebagai bank yang fokus pada bank tabungan untuk perumahan. Itu jauh lebih bagus karena sebentar lagi akan ada Undang Undang tentang Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Siapa tahu itu bisa satu set di dalam Undang Undang tersebut. Saya kira, spesialisasinya disitu, khusus untuk perumahan tapi prateknya perbankan. Memang untuk itu harus dibantu dengan dana pemerintah supaya dapat di planning agar mendapatkan uang yang murah, biaya yang murah dalam jangka panjang. Bicara soal kendala proyek pembangunan perumahan, memang tak bisa dilepaskan dari pembiayaan. Di kita itu tidak tersedia pembiayaan jangka panjang dan murah. Kenapa? Karena uang yang ada itu uang jangka pendek dan mahal.”


Eddy Ganefo (Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) :
“KPR BTN sangat membantu pengembang dalam menjalankan bisnis, khususnya pengembang yang membangun rumah untuk MBR, karena 95% konsumen MBR membeli rumah dengan cara kredit. Tak bisa dipungkiri, KPR BTN sangat membantu masyarakat untuk memiliki hunian yang layak, khususnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pada dasarnya MBR memang masyarakat yang kurang kemampuannya untuk membeli rumah secara tunai. Bahkan masyarakat menengah dan atas pun banyak yang membeli rumah atau hunian mewah menggunakan KPR. Jika KPR tidak ada, dapat dipastikan pertumbuhan bisnis perumahan tidak akan berjalan baik seperti saat ini. Karena walau kebutuhan terhadap rumah besar, namun mereka tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli secara tunai. Tapi sebaiknya, skim KPR perlu terus dikembangkan sehingga bisa dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat dari berbagai sektor pekerjaan mereka. Sebagai contoh, KPR perlu dikembangkan hingga bisa menjangkau masyarakat yang bekerja di sektor non formal. Selain itu perlu ada skim khusus KPR untuk pekerja tetap yang telah memiliki skim Penambahan Uang Muka (UM), sehingga mereka tidak perlu lagi mengeluarkan UM tambahan. Dan khusus untuk rumah bersubsidi, sebaiknya tanpa UM atau paling tidak UM-nya diperkecil.”

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

       

 

   

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250