Search:
Email:     Password:        
 





Prostitusi Antara Transaksi dan Konspirasi

By Benny Kumbang (Editor) - 24 May 2015 | telah dibaca 2116 kali

Prostitusi Antara Transaksi dan Konspirasi

Naskah : Sahrudi/dari berbagai sumber Foto : Istimewa

Tertangkapnya mucikari yang ‘menjual’ oknum aktris, oleh aparat kepolisian di sebuah hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan di awal bulan lalu, sempat menggegerkan publik. Peristiwa itu pun akhirnya memperkuat kembali stigmatisasi masyarakat akan adanya artis yang menyalahgunakan profesi keartisannya tersebut. Terlebih lagi, di ranah maya beredar gosip inisial artis-artis yang ‘nyambi’ lengkap dengan tarifnya.

Bersama Robbie Abas (RA) sang mucikari yang tertangkap tersebut, digelandang pula seorang artis berinisial AA ke kantor polisi. Entah bagaimana ceritanya, kemudian berembus isu bahwa kala itu AA disebut-sebut selesai ‘melayani’ seorang pejabat yang mem-booking nya di hotel tersebut.

Lepas dari benar atau tidaknya, yang pasti Robbie sempat mengatakan, “saya cuma tahu mereka pengusaha dan pejabat saja,” jawabnya ketika pers menanyakan siapa saja pelanggan AA.

Meski tidak menyebut nama oknum pejabat tersebut, pengakuan RA kembali menerawangkan ingatan masyarakat akan kasus penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan perempuan penghibur untuk memuluskan tujuan politik, kekuasaan, atau sebuah konspirasi. Pemberian gratifikasi seks, misalnya.

Istilah ‘gratifikasi seks’ itu sempat berkembang beberapa waktu lalu dalam kasus suap pengurusan impor daging sapi di awal tahun 2013 lalu. Lalu disusul kasus gratifikasi oknum politisi yang melibatkan perusahaan asing di akhir tahun 2013. Mungkin masih banyak kasus gratifikasi seks lainnya yang kebetulan belum terungkap.

Bambang Widjojanto saat masih menjabat Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah menyatakan bahwa saat ini gratifikasi seks semakin massif terjadi. “Gratifikasi seks ini, tidak bisa dipungkiri, mulai massif,” katanya.

Bahkan masalah gratifikasi seks menjadi pembahasan dalam kegiatan workshop perkuatan integritas kemitraan di sektor publik dan swasta serta kegiatan pertemuan lembaga-lembaga Anti-Corruption and Transparancy di Medan pada awal Juli 2013 lalu.

Adanya gratifikasi seksual kepada pejabat, adalah bukti ‘akrab’ nya hubungan antara seksualitas, kekuasaan, politik dan konspirasi. Gratifikasi seks adalah salah satu modus yang diberikan kepada seseorang yang memiliki jabatan strategis demi kepentingan tertentu.

Korelasi antara seks, prostitusi, dengan konspirasi, kekuasaan dan politik memang sangat dekat. Seperti kata seorang pemikir postmodernisme, Michel Foucault, bahwa kekuasaan dan seksualitas adalah sesuatu yang saling mengintervensi. Tapi, adakah kaitan antara prostitusi yang melibatkan oknum aktris dan gratifikasi seks yang berujung pada persoalan kekuasaan dan konspirasi untuk tujuan tertentu? Entahlah.

Tapi, Mahfud MD saat masih menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) mengaku banyak menerima laporan mengenai gratifikasi seksual. Menurutnya, banyak pihak yang tak menerima gratifikasi berupa uang, namun menerima gratifikasi berbentuk layanan seksual yang tentu saja mengandalkan jasa prostitusi. Untuk itu, KPK pernah mengusulkan agar gratifikasi seks dimasukkan dalam Undang-undang.

Bicara tentang keterlibatan pejabat atau tokoh dalam skandal seks baik yang melibatkan pelacur atau bukan, memang tak hanya di Indonesia. Karena di luar negeri pun demikian. Memang, memanfaatkan skandal seks untuk menghancurkan karakter seorang tokoh baik secara pribadi maupun karir politik masih menjadi senjata andalan. Namun di sisi lain, bisa juga menjadi alat untuk memenangkan pertarungan politik.

Seks dan Spionase

“Pelacur adalah mata-mata paling baik di dunia. Aku telah membuktikannya di Bandung. Kau tak dapat membayangkan betapa banyak manfaat yang bisa dilakukan para wanita ini,” ungkap Presiden RI I, Soekarno seperti tertulis dalam biografi ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’ yang ditulis Cindy Adams.

Bung Karno mengemukakan itu saat menceritakan awal ia bersama Partai Nasional Indonesia (PNI) menggelorakan nasionalisme dengan berbagai pidatonya. Aksi Bung Karno itu membuat pemerintah kolonial Belanda semakin memperketat pengawasan terhadap Soekarno. Rapat-rapat PNI selalu diawasi intel-intel Belanda. Tidak ada tempat aman lagi untuk bicara politik dan pergerakan nasional di Bandung sekitar tahun 1928. Tak kehabisan akal, Soekarno menggelar rapat di lokalisasi alias tempat pelacuran sehingga aman dari intaian.

Soekarno pun merekrut para pelacur untuk menjadi kader PNI. Ada 670 anggota PNI Bandung yang berprofesi sebagai pelacur ketika itu. Tugas mereka, mencari informasi rahasia dari para polisi dan pejabat Belanda serta melakukan teror dengan cara yang halus. Misalnya menyapa mesra pejabat Belanda saat ia berjalan dengan istrinya sehingga membuat marah sang istri kepada si pejabat tersebut. Bung Karno mengistilahkan tugas itu sebagai “perang urat saraf”.

Memang, memanfaatkan perempuan pekerja seks untuk urusan mata-mata atau spionase demi kepentingan kekuasaan dan politik, telah banyak terjadi di berbagai negara.

1. Christine Keeler di Inggris
Perempuan penghibur asal London, Christine Keeler pernah membuat geger Inggris tahun 1963 saat terungkap skandalnya dengan John Profumo, Menteri Perang Inggris di era Perdana Menteri Harold Macmillan. Pasalnya, selain dengan Profumo, Keeler juga melakukan affair dengan Yevgeny Ivanov, seorang Atase Angkatan Laut di Kedubes Uni Soviet di London. Padahal saat itu terjadi Perang Dingin antardua Negara. Sehingga Profumo yang sudah punya istri itu harus mundur pada 5 Juni 1963 dan pada Oktober tahun yang sama PM Macmillan juga mundur seiring bubarnya pemerintahan Partai Konservatif.

2. The Munsinger Affair
Dalam kurun waktu tahun 1963, Kanada digemparkan dengan skandal yang kemudian dikenal dengan sebutan The Munsinger Affair. Disebut begitu karena melibatkan seorang perempuan mata-mata Soviet (Rusia-red) bernama Gerda Munsinger. Skandal ini menjadi menarik karena Munsinger yang berkebangsaan Soviet melakukan skandal dengan pejabat Kanada. Sementara, Kanada dan Soviet ketika itu memiliki hubungan diplomatik yang tidak baik. Parahnya lagi, Munsinger tak hanya melakukan skandal dengan satu anggota kabinet tapi juga sejumlah menteri Kanada.

3. Anna Chapman alias Anya Kushchenko

Jauh sebelum menjadi presenter TV, model, dan pemilik fashion bermerk, Anna Chapman dikenal sebagai agen mata-mata perempuan Rusia. Ia dijuluki sebagai ‘femme fatale’ dan ditangkap oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat karena menjadi mata-mata Rusia pada 27 Juni 2010. Perempuan cantik yang memiliki nama lain Anya Kushchenko, ini dituduh bekerja dalam program jaringan ilegal di bawah kendali badan intelijen luar negeri Rusia, SVR (Sluzhba Vneshney Razvedki) dan kemudian dibebaskan dalam pertukaran tawanan.

Tapi yang menjadi menarik tentang Anna Chapman adalah perkembangan terakhir dimana berkembang kabar yang menyebutkan kepala intelijen Rusia meminta Anna Chapman untuk merayu Edward Snowden, mantan analis di National Security Agency (NSA) yang membocorkan program pengintaian global yang dilakukan badan intelijen sinyal Amerika Serikat itu di seluruh dunia.

Konon, seperti dikemukakan oleh mantan agen KGB, Boris Karpichkov, seperti dilansir Sunday People, Anna Chapman diminta untuk menemani Snowden sehingga tetap berada di Moskow. Dengan begitu, Rusia bisa leluasa ‘menginterogasi’ Snowden. Namun, ayah mertuanya, Kevin Chapman membantah bahwa Anna adalah mata-mata. “Dia bukan seperti Mata Hari,” kata dia seperti dimuat laman Telegraph, 3 Juli 2010.

4. Won Jeong Hwa Gegerkan Korsel
Di akhir tahun 2008, Pengadilan Distrik Suwon, Korea Selatan menjatuhkan hukuman 5 tahun penjara kepada Won Jeong Hwa, seorang wanita Korea Utara yang dituduh sebagai mata-mata. Jaksa penuntut umum mendakwa Won telah menggunakan seks sebagai senjata dalam menjalankan misi spionasenya. Antara lain ia menjalin hubungan intim dengan seorang pejabat militer Korsel untuk memuluskan aksi. Sehingga Won mampu membocorkan informasi militer dan informasi pribadi pejabat Korea Selatan kepada Korea Utara. Bahkan, Won dalam aksinya juga berupaya membunuh agen intelijen Korsel dengan jarum beracun. Namun, rencana jahat ini urung dilaksanakan.

5. Cohen dan Mossad
Shulamit Arazi Cohen, perempuan bayaran dari Israel ini punya sejumlah nama antara lain “Shulamit Cohen Shik” atau “Chulamit Mayer Cohen” alias “Shula Cohen”. Namun apapun namanya, yang pasti ia adalah seorang pelacur Yahudi yang merangkap agen perempuan Dinas Rahasia Israel (Mossad) di Libanon. Tugasnya, mengorek sebanyak mungkin informasi dari pejabat tinggi di Libanon. Caranya, dengan memanfaatkan kemolekan tubuh, tentunya. Hebatnya, dia mengaku telah melakukannya dengan banyak pejabat tinggi Libanon. Hasilnya, ia sukses membuka kedai minuman keras dan rumah bordir di salah satu jalan Beirut. Melalui anak asuhannya itulah Shula Cohen mengorek banyak informasi intelijen berharga dari para pejabat tinggi Libanon. Bahkan pada tahun 1950, ia berhasil mencuri protokol keamanan antara Suriah dan pemerintah Libanon.

Selain aktivitas spionase, Shula juga terlibat di berbagai aksi pembobolan bank. Kedoknya terbuka pada 9 August 1961 ia pun ditangkap dan dihukum seumur hidup namun dibebaskan pada 1967, dalam pertukaran tawanan Perang Enam Hari. Hebatnya, Shulamit Arazi Cohen ini kemudian dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh Israel.

Selain Shula Cohen, ada nama Tzipi Livni, perempuan yang diberitakan beberapa kantor berita di Timur Tengah seperti Albawaba dan Al Diyyar sebagai agen intelijen Israel yang memberikan kemolekan tubuhnya kepada sejumlah pejabat Palestina. Yang menghebohkan, Livni memberikan itu semua saat ia menjabat chief negosiator Israel untuk Palestina. Livni yang juga mantan Menteri Luar Negeri Israel ini melakukannya untuk mendapatkan informasi penting terkait otoritas Palestina.

Konon, ia berani mengemukakan kisahnya itu setelah Rabbi utama di Israel, Ari Shefat mengatakan bahwa perempuan Israel bisa berhubungan seks dengan musuh untuk mendapatkan informasi. Namun, sejumlah kalangan di Israel membantah berita tentang Livni tersebut.

Kisah Tragis si Mata Hari

Dari sekian banyak cerita tentang perempuan penghibur yang menjadi agen spionase, kisah wanita bernama Margaretha Geertruida ‘Grietje’ Zelle alias Mata Hari adalah yang paling tragis.

Lahir pada 7 Agustus 1876, Margaretha merupakan putri dari pasangan pengusaha minyak Belanda yang sukses. Tentu saja masa remaja Margaretha penuh dengan kebahagiaan. Perpaduan darah antara Belanda dan Jawa, membuat dia tumbuh sebagai remaja dengan kecantikan dan tubuh nan eksotis.

Sampai kemudian, sang ayah bangkrut dan bercerai dengan ibunya di tahun 1889, membuat Margaretha terpukul. Kehidupannya berubah drastis saat dia dikeluarkan dari sekolah calon guru taman kanak-kanak karena terlibat skandal dengan kepala sekolahnya.

Di usia 18 tahun, Margaretha menikahi seorang pegawai militer Belanda, Rudolf John MacLeod, yang 20 tahun lebih tua. Ketika suaminya ditugaskan di Jawa, ia pun harus ikut ke negeri leluhurnya itu di Ambarawa, Jawa Tengah dan belajar tarian Jawa.

Namun lagi-lagi, cobaan menerpa hidupnya. Di Jawa, ia harus bercerai dengan suaminya sementara anak lelakinya meninggal dunia.

Ia pun melupakan kesedihannya dengan meninggalkan Jawa dan bermukim di Kota Paris, Perancis. Disini, ia menjadi pemain sirkus dan penari erotis. Semua itu ia lakoni dengan serius dan membuatnya sangat terkenal di seantero Eropa. Dengan kecantikannya, ia memikat pejabat militer, politisi, dan orang-orang berpengaruh di Perancis. Bahkan menjadi ‘simpanan’ putra mahkota Jerman saat itu.

Dalam perkembangannya kemudian, Mata Hari direkrut menjadi agen rahasia Jerman. Ia disebut-sebut menjalani pelatihan di sekolah mata-mata Jerman di Antwerp, Belgia dan memiliki kode intelijen ‘H21’.
Kedekatannya dengan sejumlah petinggi negara di Eropa, membuat lembaga intelijen Perancis juga merekrutnya sebagai agen intelijen Prancis. Mata Hari menerima tawaran itu demi uang agar bisa hidup bersama kekasihnya yang asal Rusia, Vladmir Masloff.

Mata Hari pun menjalani kehidupan sebagai ‘agen ganda’ Jerman dan Perancis. Sampai kemudian pada bulan Januari 1917, atase militer Jerman di Madrid mengirim pesan radio ke Berlin menggambarkan kegiatan mata-mata Jerman dengan kode nama H 21. Pesan itu disadap agen mata-mata Perancis sehingga terendus bahwa H 21 adalah Mata Hari. Aparat Perancis menciduknya pada 13 Februari 1917 dan menjebloskan Mata Hari ke penjara.

“Saya tidak bersalah,” kata Mata Hari saat diinterogasi. “Seseorang sedang mempermainkan saya - kontra spionase Perancis. Saya sedang dalam tugas mata-mata dan saya bertindak hanya dalam perintah itu,” kata dia, seperti dimuat laman www.mata-hari.com.

Tapi semua itu tak digubris pengadilan setempat. Hidup penari erotis itu pun berakhir tragis pada tanggal 15 Oktober 1917. Dengan berpakaian hitam-hitam, Mata Hari harus meregang nyawa dihadapan 15 algojo tembak yang memuntahkan peluru hingga menembus jantung dan telinganya. Tak ada orang yang mengakuinya, sehingga jasad sang Mata Hari harus berakhir di meja praktek fakultas kedokteran dan kepalanya yang disimpan di Museum Anatomi Paris diketahui hilang pada tahun 2000.

Mereka yang Mundur Karena Skandal Seks

1. David Petraeus
Ia terpaksa menanggalkan jabatannya sebagai Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) karena terlibat perselingkuhan akhir tahun 2012 lalu. Pengunduran diri Petraeus terjadi hanya tiga hari setelah Presiden Barack Obama terpilih kembali.Dia menggambarkan perilakunya “tidak dapat diterima” sebagai pemimpin badan intelijen sebuah negara. “Setelah 37 tahun menikah, saya dihadapkan penilaian yang amat buruk dengan terlibat dalam hubungan di luar nikah,” demikian pernyataannya.
David sebelumnya banyak dipuji karena kepemimpinannya dalam perang Irak dan Afghanistan. Muncul laporan FBI menemukan dugaan perselingkuhan Petraeus dengan penulis biografinya, Paula Broadwell yang juga peneliti di Universitas Harvard.

2. Paul Wolfowitz
Masih ingat dengan Paul Wolfowitz? Pria yang pernah menjadi Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia itu, sempat tersandung masalah skandal seks saat menjabat Presiden Bank Dunia. Teman selingkuhnya tak begitu jauh yaitu stafnya sendiri, Shaha Ali Riza. Kisah cinta mantan Wakil Menteri Pertahanan AS itu sendiri mungkin tak terkuak kalau saja Wolfowitz tidak mengusulkan kenaikan gaji bagi sang pacar di luar ketentuan. Sesuatu yang membuat dia harus mundur dari Bank Dunia pada 30 Juni 2007.

3. Moshe Katsav
Presiden Israel Moshe Katsav dipaksa mundur setelah skandal seks-nya dengan beberapa pegawai kantornya pada tahun 2007 terungkap ke publik. Namun, presiden berusia enam puluh tahun tersebut membantah tuduhan itu. Namun sebelumnya, polisi Israel mengatakan mereka memiliki bukti yang cukup untuk mendakwa Katsav.

4.Dominique Strauss-Kahn
Saat memimpin Dana Moneter Internasional (IMF) tahun 2008, Dominique Strauss-Khan terlibat skandal dengan perempuan. Ia pun mengajukan pengunduran diri.

5. Elliot Spitzer
Eliot Spitzer menyatakan mengundurkan diri sebagai Gubernur New York, Amerika Serikat pada 12 Maret 2008 karena skandal seks-nya terkuak. Awalnya, North Fork Bank melaporkan transaksi mencurigakan di rekening Spitzer kepada sebuah unit di Departemen Keuangan. Ternyata, dari penelusuran terdeteksi adanya dana yang mengalir ke Emperors Club VIP, penyedia jasa lady escort kelas premium dengan 50 wanita bertarif hingga US$ 30 ribu per hari. Akhirnya terungkaplah bahwa Spitzer telah menjadi pelanggan sejak masih menjadi Jaksa Agung New York sampai menjabat Gubernur New York. Sekitar 7 tahun. Asal tahu saja, sudah US$ 80 ribu dolar atau sekitar Rp 775 juta uang yang dialirkannya ke tempat mesum tersebut.
Cerita pengungkapan skandal ini sangat menarik. Seorang perempuan penghibur, Ashley Alexandra Dupre masuk radar pemantauan yang dipasang penyidik federal saat mereka bertemu di Hotel Mayflower kamar 871. Kamar itu dipesan atas nama George Fox, salah seorang teman dan penyandang dana Spitzer. Dalam transaksi itu Dupre menggunakan nama samaran “Kristen.” Sementara, Spitzer memakai nama sandi “Klien 9.” Dan The New York Times membongkar semuanya. Beberapa hari sebelum pengungkapan itu, otoritas federal menangkap 4 orang dari Emperors Club VIP dengan delik prostitusi dan pencucian uang. Emperors Club VIP pun ditutup.

6. Sosuke Uno
Belum genap tiga bulan menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang di tahun 1989, Sosuke Uno sudah diserang isu tak sedap. Seorang geisha bernama Mitsuko Nakanishi, tiba-tiba memberikan kesaksian bahwa ia memiliki skandal dengan Uno selama 5 bulan dan Uno meninggalkan dirinya. Ia pun terpaksa mengundurkan diri.

Cara Jaksa Agung Amerika rendam kebiasan jajan Pejabat

Setiap negara memiliki kebijakan tersendiri untuk mengatur para pejabat dalam beberapa hal dengan tujuan meningkatkan performa pemerintahan itu sendiri. Seperti yang pernah dilakukan Eric Holder saat masih menjabat sebagai Jaksa Agung Amerika Serikat. Dalam kepemimpinannya, Holder telah membuat sebuah nota dinas kepada seluruh pejabat dan karyawan Departemen Kehakiman Agar tidak jajan pelacur. Seperti dikutip NPR News, nota dinas itu dikirim setelah kantor inspektur jenderal Kehakiman mendapati petugas pemberantas obat bius yang menggelar pesta seks di Colombia bersama pelacur yang dibayari para mafia obat bius.

Karena itu, dalam nota dinasnya, Eric Holder menuliskan jajaran departemen kehakiman dilarang melakukan transaksi dengan pelacur. Meski di negara yang melegalkan pelacuran sekalipun, tulis Holder.

Bertransaksi dengan wanita panggilan, lanjut Holder, tidak hanya mengancam keselamatan petugas, tapi juga merendahkan martabat Departemen Kehakiman yang berupaya mencegah penyelundupan manusia.

Lalu apa sanksinya bila ada pejabat atau pegawai departemen kehakiman yang ketahuan? Ancaman diskors hingga dipecat pasti akan diterima para pejabat selevel supervisor, manajer sampai ke pegawai lain.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

 

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250