Search:
Email:     Password:        
 





M. Basuki Hadimuljono (Menteri PUPR) Don't Do Something As Usual!

By Benny Kumbang (Editor) - 28 September 2015 | telah dibaca 1536 kali

M. Basuki Hadimuljono (Menteri PUPR) Don't Do Something As Usual!

Naskah: Sahrudi, Foto: Dok. Kementerian PUPR

Salah satu hal yang membuat Mochamad Basuki Hadimuljono memahami betul bagaimana ia harus memimpin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, tak lain karena ia bukan orang baru di situ. Dengan gaya kerja yang out of the box, Basuki tak hanya mampu berakselerasi tapi juga berputar cepat menggerakkan roda kerja di kementeriannya.

Sulit membedakan mana meja kerja dan mana meja untuk rapat saat Men’s Obsession memasuki ruang kerja Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono di gedung baru Kementerian tersebut, akhir pekan lalu. Betapa tidak, di meja sarat tumpukan berkas dan dokumen yang saban hari harus diperiksa dan ditandatangani, Basuki duduk di belakangnya.  


Humble dan familiar, begitulah penampilan Basuki yang didampingi sejumlah stafnya ketika menerima Men’s Obsession. Kemeja putih dengan lengan panjang digulung, sama persis dengan kemeja yang dikenakan para stafnya. Membuatnya sangat egaliter di kantor kementerian yang menjadi ‘jantung’ operasional pembangunan infrastruktur negeri ini.


Setahun memimpin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR), sudah banyak kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla yang ditugaskan kepadanya berhasil ia implementasikan. Meski belum semua, tapi setidaknya action sudah berjalan beberapa jam setelah Basuki dilantik sebagai menteri. Sekali lagi, hal itu bisa dilakukan karena jam panjangnya sebagai seorang birokrat di kementerian ini. “Kalau saya jadi eselon 1 ini kan mulai 2003 yah. Jadi kalau sampai 2014 akhir kemarin ya sekitar 12 tahun,” ia membuka obrolan. Pernah duduk sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum periode 2005-2007 yang disusul dengan jabatan sebagai Inspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum periode 2007 – 2013. Terakhir, ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum periode 2013.  Saking lamanya duduk sebagai birokrat, Basuki sempat lupa bahwa ia sudah menjadi menteri. Sehingga di hari pertama saat akan memutuskan sesuatu ia merasa harus melaporkan dulu kepada menteri. Padahal saat itu ia sudah menjadi menteri.  


Kini, sekalipun lembaganya adalah perpaduan antara Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, bagi Basuki tidak ada perbedaan berarti. Karena dalam mengelola kebijakan ia tetap mengikuti kebijakan Presiden Jokowi. “Jadi saya harus mengimplementasikan kebijakan yang digariskan oleh presiden. Misalnya untuk programming Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan rakyat ini, saya terjemahkan dari arahan beliau, untuk satu programingnya jangan di ecer-ecer, tapi harus hal hal yang bisa dirasakan oleh rakyat, itu koridornya,” tegas Basuki.


Soal penggabungan dua kementerian yakni Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menurutnya bukan hal baru. Karena sebelumnya, sektor perumahan juga sudah bergabung dalam Kementerian Pekerjaan Umum. “Buat saya organisasi itu kan cuma vehicle saja, iya kan?” ucapnya retoris. “Kalau diperhatikan sekarang simbol (kementerian PUPR-re) pun nggak berubah, tetap karena di dalam simbol PU itu, ada cipta karya, ada perumahan, ada pemukiman. Bukan berarti saya menang menangan, karena pada saat bergabung saya bilang, kita nggak tahu siapa yang Muhajirin siapa yang Anshor ini,” tuturnya. Istilah kaum Muhajirin dan Anshor yang dicetuskannya mengacu pada sejarah Nabi Muhammad SAW dimana kaum Muhajirin adalah mereka yang melakukan hijrah dan kaum Anshar adalah penduduk Madinah yang menerima kedatangan kaum Muhajirin. Dengan kata lain, Basuki tidak ingin ada dikotomi antara Kementerian PU dan Kementerian Perumahan Rakyat. “Semua bergabung, kita mempunyai ‘rumah baru’ yang harus nyaman buat semua. Jadi nggak ada yang satu merasa lebih dari yang lain. Sudah saya sepakati. Ya alhamdulillah. Tapi prinsipnya semua sebaik mungkin bisa nyaman bekerja,” ujarnya.

Kerja Ala Sang Programmer

Belasan tahun bekerja sebagai programmer membuat ia dengan mudah mengejawantahkan arahan Presiden terkait bidang tugasnya. Ia paham bahwa seorang menteri harus turun langsung untuk mengarahkan dan mengimplementasikan sebuah kebijakan program dan tidak menitiskan tugasnya kepada pejabat eselon 1. “Jadi semua program harus menterinya sendiri yang mengarahkan, itu kebijakan kabinet. Arahan presiden langsung begitu. Harus dikontrol betul. Kalau saya serahkan semua ke eselon 1 pasti tidak akan berubah,” ia menceritakan prinsip utamanya dalam bekerja.


Karena lahir dan besar sebagai birokrat yang berkutat di dunia programmer menjadikannya paham betul bahwa yang namanya pemerataan itu bukan dibagi rata. “Misalnya dari Banda Aceh sampai Papua itu alokasinya sama, salah. Itu bagi duit, bukan programming,” ia serius. Programming itu, lanjutnya, harus mentes (istilah Jawa yang artinya: berisi-red) meski kecil tapi merata. “Karena bagi saya yang namanya pemerataan itu bukan dibagi rata,” ia menekankan. Basuki pun menerjemahkan kebijakan Presiden untuk kementeriannya adalah agar dalam programming-nya harus bisa dirasakan rakyat. “Jadi apapun programnya, harus bisa dirasakan oleh rakyat,” ia menambahkan.


Karenanya, prioritas yang dikerjakan kementeriannya itu bukan pembagian anggaran yang merata ke daerah tapi bagaimana prioritas kegiatan sektornya itu. “Jadi misal kita masuk ke daerah untuk perbaikan kawasan kumuh, begitu programnya selesai, harus berubah itu, tidak kumuh,” katanya seraya mengingatkan jangan sampai uang habis tapi tidak ada perubahan.


Untuk mempercepat akselerasi dan percepatan kinerja kementeriannya, ia merasa perlu menambah tagline kementeriannya yakni “bekerja keras, bergerak cepat, bertindak tepat” menjadi “bergerak lebih cepat, bekerja lebih keras, bertindak lebih tepat”. Untuk mewujudkan tagline-nya itu ia memulai dari dirinya sendiri dengan mulai bekerja 7 hari dalam seminggu selama 24 jam, bahkan tidur pun dikantor. Jangan heran kalau di hari Minggu Basuki kerap memimpin rapat. “Hari minggu saya rapat karena saya harus konsisten, konsekuen,” jelasnya.


Jadi, kalau ada stafnya yang lapor bekerja lembur sampai pukul 10 malam ia merasa aneh. “Itu sih bukan lembur, saya ini tidur di kantor. Tapi saya nggak ngomong saja,” ungkapnya.


Pola kerjanya yang terkesan ‘keras’ itu juga berimbas dalam pemberian reward dan punishment kepada para pejabat dan staf di lingkungan Kementerian PUPR. Misalkan untuk mengikuti seminar atau pendidikan di luar negeri, ia harus mengetahui langsung. Bahkan hanya Basuki yang bisa merekomendasikan seorang pejabat atau stafnya bisa ke luar negeri atau tidak. Kalau sebelumnya, untuk urusan yang sama cukup ditangani oleh pejabat eselon satu. “Saya pengin setahun ini lebih efisien, dan kalau keluar negeri itu ada unsur rewardnya. Kalau dia misalnya seminar, kalau cuma ikut saja no! Sekalipun dia direktur atau pejabat eselon satu. Tapi sebaliknya, meski ia staf biasa tapi berprestasi dan diundang ke luar negeri sebagai pemakalah, maka dia harus berangkat sebagai prioritas dan itu dapat reward,” paparnya.

"Harus Lebih Baik dari Seberang"

Salah satu prioritas pembangunan yang dilakukan Kementerian PUPR adalah meningkatkan kualitas perbatasan Indonesia dengan negara tetangga. Basuki memahami tugas yang diberikan Presiden Jokowi kepadanya adalah agar bagaimana daerah perbatasan Indonesia lebih baik dari negeri seberangnya. Karena itu ia meningkatkan pembangunan jalan di daerah perbatasan seperti Kalimantan, Nusa Tenggara Timur, dan Papua, terutama pembangunan infrastruktur seperti bendungan, jalan-jalan perbatasan, dan jalan trans Papua. “Itu menjadi prioritas, baru yang lain-lain,” tegasnya.


Di Kalimantan Kementerian PUPR bekerja sama dengan TNI membangun jalan, dan tahun ini sudah bisa dibuka jalan paralelnya. Pembangunan jalan juga dilakukan di daerah perbatasan NTT dengan Timor Leste dan harapannya pembangunan serta perbaikan jalan di daerah perbatasan akan selesai pada tahun 2018 termasuk jalan-jalan menuju pintu batas negara. Sejauh ini Kementerian PUPR bersama TNI AD telah membuka akses jalan di sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya koridor Kalimantan Barat-Kalimantan Timur-Kalimantan Utara. Sementara di Papua, pembangunan jalan perbatasan di Merauke maupun Jayapura dilanjutkan.


Kementerian PUPR sendiri untuk tahun ini mengalokasikan sekitar Rp 2,7 triliun untuk pembangunan jalan baru di perbatasan Kalimantan dimana sepanjang 771 kilometer jalan, yang baru di aspal mencapai 188 kilometer. Jadi masih ada sisa 600-an kilometer yang belum tembus sementara yang sudah fungsional itu 400 kilometer dan tinggal pengaspalan. “Semua sudah diprogramkan sampai 2018. Nah ini sudah progress yah, ini kemarin saya laporkan ke presiden,” katanya.


Kementerian PUPR juga akan menambah alokasi pembagunan fisik di wilayah perbatasan Kalimantan dalam Rencana APBN 2016. Selain Kalimantan, Kementerian PUPR juga fokus pada penyelesaian mega proyek jalan Trans Papua.
Dengan komitmen membangun dari pinggiran, Kementerian PUPR akan fokus mempercepat infrastruktur di kawasan yang selama ini kurang tersentuh. Kawasan yang dimaksud masuk dalam perencanaan Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) Indonesia. “Jadi yang dari sini ke sana itu nanti mau saya bikin seperti jalan tol. Nanti bagus nanti mudah mudahan jadi. Kita lebarkan semua,” tekadnya.


Percepatan pembangunan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan memang menjadi salah satu prioritas agenda pembangunan dengan tetap menjadikan Kalimantan sebagai paru-paru dunia, dan dijadikan lumbung pangan dan lumbung energi nasional dengan konsep hilirisasi komoditas. Sehingga ada desain besar itu, sentuhan ke Kalimantan dibangun dengan pendekatan kewilayahan tanpa disekati oleh batasan administrasi provinsi dan kabupaten/kota.

Pendekatan kewilayahan yang dikembangkan Kementerian PUPR ini, sesuai dengan amanat RPJMN 2015-2019 yang akan membangun 3 Kawasan Ekonomi Khusus, 4 Kawasan Industri, dan pusat-pusat pertumbuhan baru guna menggerakkan ekonomi daerah pinggiran di Pulau Kalimantan.  Ada 4 Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) seperti WPS Ketapang-Pontianak-Singkawang-Sambas, WPS Pertumbuhan Baru dan Perbatasan Temajuk-Sebatik, WPS Palangkaraya-Banjarmasin-Batulicin, dan WPS Pusat Pertumbuhan Terpadu Balikpapan-Samarinda-Maloy. Sesuai direktif Presiden Joko Widodo, saat ini Kementerian PUPR fokus dalam membenahi Trans-Kalimantan, termasuk penanganan jalan sepanjang perbatasan Indonesia-Malaysia sejak Kalimantan Barat - Kalimantan Timur - Kalimantan Utara.


Tidak hanya lintas perbatasan, Kementerian PUPR menyentuh pula akses jalan di kawasan-kawasan strategis seperti jalan akses kawasan industri pelabuhan Maloy, akses jalan lingkar kawasan Batu Licin, akses pelabuhan Trisakti Kalimantan Selatan, jalan tol Balikpapan-Samarinda, dan penanganan Lintas Tengah dan Lintas Selatan Kalimantan.



Pengairan dan Perumahan
Pembangunan waduk dan perumahan juga menjadi sentuhan penting Kementerian PUPR. Terlebih dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2016, Kementerian PUPR mendapatkan kucuran dana Rp313,5 triliun dimana dari penugasan belanja sebesar Rp103,8 triliun, secara sektoral untuk sumber daya air Rp24 triliun, bina marga Rp42 triliun, cipta karya Rp14 triliun (untuk air minum dan sanitasi) dan program perumahan Rp6 triliun di luar FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan), luar bond Rp9,3 triliun, belanja barang irigasi dan jalan Rp14 triliun, turbin was Rp6,6 triliun.


Karena itu, pada tahun depan kementerian berencana membangun delapan waduk baru dari target 49 waduk yang dicanangkan pemerintahan Joko Widodo setelah pada tahun ini, Kementerian PUPR membangun sebanyak 13 waduk.
 Selain waduk dan pembangunan rumah FLPP, anggaran Kementerian PUPR tahun depan juga digunakan untuk pembangunan irigasi, pembangunan jalan di perbatasan, dan untuk air serta sanitasi.


Khusus untuk pembangunan waduk, dikatakan Basuki saat ini ada 7,1 juta hektar lahan irigasi di Indonesia yang airnya dari bendungan atau waduk. “Kenapa kita harus bikin 49 waduk, karena kita sekarang punya 230 waduk yang ada, itu hanya bisa 1juta hektar. Makanya pak presiden punya rencana ini , meningkatkan 49 waduk. Kemudian perbaikan irigasinya, dari sini ada perbaikan irigasi. Karena dari 7,1 juta hektar ini, kira kira 3juta hektar ini rusak. Ya yang 3 juta ini yang kewenangan pusat 500ribu, yang propinsi 500 ribu, yang kabupaten ada 2 juta hektar sendiri. Nah kita mau perbaiki ini, kita mulai 2015 ini. Setahun kira kira 150 ribuan, tersebar di Indonesia,” ia menjelaskan.


 Sementara untuk perumahan, Basuki menegaskan bahwa saat ini angka kebutuhan rumah atau backlog tetap ada meski jumlahnya masih berbeda-beda. “Tapi yang penting bahwa kita masih punya backlog yang besar. 2015 ini kita punya program 1 juta rumah, khususnya untuk MBR, Masyarakat Berpenghasilan Rendah. Nah melalui program-program pemerintah BTN, BPJS, Perumnas, itu bahkan ke MBR sebesar 603 ribu rumah, sedangkan yang non MBR, itu 400 ribu. Tapi di dalam 400 ribu itu mereka juga sekarang membangun MBR,” paparnya.


Basuki menambahkan, menurut catatan Realestat Indonesia (REI) mereka sudah membangun 100 ribuan rumah MBR yang dibangun oleh REI. Untuk itu dari 600ribu, untuk program MBR ini dilaporkan sekitar 478 ribu sudah terealisasi. Targetnya 600 ribu yang untuk MBR.

Menggebuk Drum Saat Senggang

Jangan harap bisa menemui Basuki di lapangan golf. Maklum, dia bukan seperti kebanyakan pejabat yang hobi memukul bola kecil di lapangan nan luas itu. Dan, ia sama sekali tak pernah memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain golf. “Dulu pernah mau belajar tapi saya pikir that’s not my life. Nggak enjoy saja. Permainan mahal, saya nggak bisa menikmati,” ucapnya sembari tersenyum.


Ia bahkan lebih suka main musik untuk mengisi waktu luangnya. Basuki sangat andal menggebuk drum meski bukan drummer professional. “Kalau saya lagi rileks, saya main band. Saya drum. Kerja ya kerja kalau main ya main,” ia melepas tawa.


Bagi ayah tiga orang anak dan kakek seorang cucu, ini main musik harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pegawai Kementerian PUPR. “Saya bilang orang PUPR itu harus kuat, berani dan berjiwa seni. Kuat itu kalau dia kompeten, berani kalau dia clean, kalau seni dia itu harus inovasi, kreatif. Jadi otak kiri kanan jalan,” kata pria kelahiran  Surakarta, 5 November 1954 ini.


Kesukaannya bermusik ia tularkan pada anak-anaknya. “Ya, makanya kemarin waktu anak anak libur, saya ajak nonton penampilan grup musik God Bless. Saya hanya penonton. Kalau penggemar iya, karena main drum, saya mau lihat drumnya kok”. Jika sudah berada di belakang drum, Basuki pun tak kalah keren dengan drummer professional. Seperti fotonya sedang menggebuk drum yang ia pajang di ruang kerjanya.

"Merasa Berhasil Bila Orang Lian Bahagia"

Alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang meraih S2 dan S3 di Colorado State University, Amerika Serikat, ini ternyata memiliki filosofi luhur dalam menjalani hidupnya. Ia akan bekerja dengan bermodalkan kepercayaan. Dan, ia merasa berhasil dalam kerja bila bisa memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Berikut petikan wawancaranya :



Boleh tahu, apa makna keberhasilan bagi Bapak ?
Makna keberhasilan bagi saya adalah bangga kalau kerjaan kita itu menjadi input kerjaannya orang lain. Jadi kalau hasil saya itu bisa dirasakan oleh orang lain, apalagi bisa membantu dia untuk pekerjaan dia lebih baik lagi, itu baru bangga.



Itu baru dikatakan sukses yah?
Iya. Karena bahagianya kita itu kalau kita bisa merasakan bahagianya orang lain.



Kalau bapak nanti meninggalkan kementerian ini, apa legacy yang ingin ditinggalkan ?
Saya jadi begini, ini kan ada didikan senior saya. Sekarang ini di setiap kementerian pasti ada orang PU seperti Sesmen di Kementerian Koperasi, itu orang PU. Di Dikti itu juga orang PU, di kementerian pemberdayaan perempuan, ada juga orang PU. Kalau di list, hampir semua kementerian ada orang PU. Tapi apa bisa saya meneruskan tradisi itu? Jadi itu. Jadi kalau tadi ditanya legacy nya apa, saya ingin ninggalin itu.


Boleh tahu filosofi Bapak dalam memimpin ?
Kepercayaan. Saya kerja kalau nggak dipercaya itu nggak bisa. Jadi kalau saya kerja dengan orang ya pasti saya harus percaya. Kalau saya diselingkuhi biasanya saya nangis karena saya nggak waspada yang begitu begitu. Di DPR pun gitu, kalau saya sudah bersahabat saya nggak lihat bendera partainya itu, sudah dengan rasa. Ya nggak  apa apa watak saya gitu. Trust yah, harus itu. Kalau nggak ada trust, berarti kalau saya ditempatkan di tempat baru, saya 6 bulan pasti diem. Saya trust building dulu.


Adakah obsesi Bapak setelah tak lagi menjadi menteri ?
Nggak ono mas, obsesi opo. Saya dulu kalau saya nggak jadi menteri ini, kalau saya pensiun saya pengin jual bakso dengan mengajar. Saya selama ini kan nggak sempat ngajar, kan eman-eman. Nggak ada satu jam pun saya kerja di luar PU, semua saya berikan untuk PU. Waktu saya, kebisaan saya, semua sudah saya berikan.

"Memang Pekerja Keras"

Kiprah Basuki Hadimuljono sebagai menteri yang komunikatif dan pekerja keras, memang bukan lips service. Pasalnya, sejumlah kolega baik sesama menteri di Kabinet Kerja maupun di lembaga organisasi profesi yang  terkait dengan kementeriannya mengakui hal tersebut. Bahkan, jauh sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memuji pergerakan Kementerian  Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat lantaran kinerjanya berjalan luar biasa. Selain Basuki, Presiden juga memuji Menteri Pertanian. “Mentan enggak pernah di kantor, kalau rapat pamit, seharusnya memang seperti itu, harus mengerti di lapangan. Menteri PU juga mengukur jalan, cek irigasi, bendungan dan jalan tol. Bukan hanya soal teken meneken di kantor saja,” puji Presiden di Istana, Jakarta, Jumat (16/1/2015).


Selain Presiden Jokowi, pimpinan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga memuji kinerja Basuki dalam pengelolaan anggaran. Karena hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Kementerian PUPR  tidak menemukan adanya anggaran fiktif. “Hasil audit BPK terhadap Kementerian PUPR cukup bagus. Enggak ada yang fiktif,” puji Anggota IV BPK, Rizal Djalil dalam seminar bertajuk Potret Infrastrutur dan Harapan 5 Tahun di ITB, Bandung, Senin (23/3/2015).
Berikut petikan komentar tentang sosok Basuki Hadimuljono :

 

Amran Sulaiman, Menteri Pertanian RI :
“Saya mengenal beliau sebagai seorang pekerja keras, baik dan dedikatif. Kami sering berkoordinasi terkait pembagian tugas untuk pembangunan khususnya pembangunan jaringan irigasi. Irigasi kan ada primer, sekunder dan tersier. Irigasi yang primer dan sekunder itu dikerjakan Kementerian PUPR, yang Tersier dikerjakan kami (Kementerian Pertanian).”

 

 

Nusyirwan Soedjono, Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDIP
“Pak Basuki sudah melewati berbagai jabatan di internal, maka dengan itu saya melihat beliau sangat menguasai masalah, dan juga dalam kondisi perekonomian regional  global saat ini dimana infrastruktur menjadi ujung tombak bagi Indonesia untuk mendongkrak perekonomian maka  keputusan Presiden menunjuk Bapak Basuki sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, sangat tepat karena mengerti masalah, sangat komunikatif, orangnya tidak birokratis, dan terbuka juga. Saya pribadi melihat ini, posisi yang sangat ideal dan strategis bagi Pak Basuki memimpin Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Kinerja beliau sangat bagus dalam artian mengerti apa yang harus dikerjakan. Kiprah beliau di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga mampu mendongkrak perekonomian karena  infrastruktur banyak bertumbuh.”

 

 

Ketua Umum DPP REI, Eddy Hussy :
 “Beliau orangnya sederhana, komunikatif, mau menerima masukan yang positif dan yang pasti, beliau itu pekerja keras. Beliau juga menteri yang sangat responsive terhadap persoalan pembangunan perumahan. Terlebih lagi dengan program sejuta rumah rakyat. Untuk itu beliau selalu koordinasi dengan bawahannya dan melakukan evaluasi secara rutin.” n

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

 

 

 

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250