Search:
Email:     Password:        
 





Irene, Dedikasi Sang Dokter Muda

By Syulianita (Editor) - 29 September 2017 | telah dibaca 284 kali

Naskah : Suci Yulianita Foto : Sutanto

 

Sungguh menarik berbincang bincang dengan dokter muda satu ini. Kecintaannya kepada tanah air yang begitu besar membuatnya tergerak untuk melakukan sesuatu bagi bangsa dan negara tercinta Indonesia. dr. Irene yang begitu mencintai dan mengagumi kekayaan fauna Indonesia, mempersembahkan sebuah wadah untuk generasi penerus bangsa agar lebih mengenal kekayaan dan keberagaman fauna di negeri tercinta ini.

 

Ketika ditemui di sebuah mini zoo di kawasan Ecopark, Ancol, Irene tampil sangat mempesona. Mengenakan setelan jas putih, ia tampak sangat anggun dan elegan. Dengan penuh semangat, Ia menceritakan segala hal menarik yang ada di tempat tersebut, sembari mengajak kami, tim Men’s Obsession berkeliling dan menyaksikan pertunjukan bird show yang sangat atraktif pada sore itu. Ya, dialah salah satu komisaris dari kebun binatang itu, Faunaland.

 

“Faunaland ini adalah kebun binatang yang mengusung konsep theme park di mana pengunjung tak hanya bisa have fun namun juga akan mendapatkan pengetahuan baru dari tempat ini. Begitu banyak value yang bisa kita dapat dari binatang-binatang ini. Ternyata fauna dan flora di negara kita ini luar biasa kaya. Nah itulah yang ingin saya tonjolkan, bagaimana masyarakat kita bisa tahu betapa indahnya ciptaan Tuhan yang ada di Indonesia. We are the home for a lot of amazing fauna. Dan itu yang harus kita tonjolkan, and we should be proud! Dan di sini adalah pintu kita untuk mengedukasi masyarakat,” terang Irene penuh semangat.

 

Salah satu contoh bentuk edukasi yang bisa menjadi inspirasi dari dunia satwa, adalah, pada burung hornbill yang setia hanya pada satu pasangan seumur hidupnya. Untuk itu, jika burung ini diburu, maka akan terputus keturunannya dan lama kelamaan burung tersebut akan punah. Selain itu, hornbill juga ternyata berperan sebagai penyebar benih tanaman. “Burung ini pemakan tumbuhan dan buah, dia makan tanpa dikunyah, ada biji di dalamnya, maka pada saat defekasi otomatis dia menjadi petani terbang, membantu menanam benih,” dr. Irene menjelaskan.

 

Melalui Faunaland, Irene juga berharap masyarakat bisa bersama-sama turut menjaga dan melestarikan fauna yang negara kita miliki. “Dunia ini begitu banyak keindahan yang sudah diciptakan oleh Tuhan. Adalah tugas dari kita semua untuk menjaga dan melestarikannya, bukan untuk kita tapi warisan untuk anak cucu kita. Dari pelestarian alam ini kita bisa preserve the earth and the fauna within it. Jadi ini tempat di mana saya ingin do something positive also teaching everyone how to preserve and do conservation. Dan harapannya adalah dari sini bisa membuka peluang untuk industri eco tourism. Karena Indonesia ini begitu indah. Kita punya culture begitu luas yang berbeda-beda.” Irene menambahkan.

 

Selain itu, yang menarik dari Faunaland, adalah, tersedianya beragam jenis spesies hewan yang terbilang unik dan menarik, tak hanya dari jenis fauna yang ada di Indonesia saja, namun juga dari mancanegara. Antara lain, aneka ragam jenis burung seperti elang laut atau rajawali, hornbill, burung hantu, dan lainnya. Kemudian Kanguru Walabi dari Selandia Baru, monyet bekantan, ular, marmoset, giant turtle, keledai, hingga singa putih dari Afrika Selatan.  

 

Sebagai seorang wanita, berbisnis di dunia fauna yang sedikit asing bagi dunia wanita, tentu tidaklah mudah. Namun Irene mengerjakannya dengan sepenuh hati lantaran passionnya terhadap dunia hewan sudah muncul sejak usianya masih belia. Adalah sang bunda dan salah seorang pamannya yang menginspirasinya untuk mencintai dunia fauna sekaligus terlibat langsung dalam usaha perlindungan dan pelestarian hewan. “Panutan aku yang paling utama is my mom and my uncle. Paman saya juga terjun langsung di sini, Direktur di Faunaland. Saya bersyukur our team is a group of expert people who is not just understand tentang fauna, tapi cinta dan siap mendedikasikan hidup mereka,” ujarnya penuh rasa syukur.

 

Ya, kecintaannya kepada dunia fauna selaras dengan kecintaannya kepada negeri ini yang teramat besar, yang kemudian ia persembahkan dengan mendirikan Faunaland, bisnis bersama dengan beberapa shareholder lainnya. “Saya merasa sudah saatnya membuktikan kecintaan saya kepada negara Indonesia, ya salah satunya dari sini. Di sini, yang kita lakukan lebih kepada konservasi hewan-hewan yang sudah mau punah. Dari situ kita ingin bagaimana caranya kita bisa influence dan mengajak orang lebih banyak lagi,” ungkap Irene sembari mengusap lembut ular Phyton Albino berwarna kuning terang yang sedang melingkar di tubuh langsingnya.  

 

Kacang yang Tak Lupa pada Kulitnya

Ada yang menarik dari tema Faunaland. Sejak kali pertama kaki melangkah memasuki lokasi Faunaland, tampak suasana pedesaan yang masih sangat alami, suasana pedesaan di Timur Indonesia, tepatnya di Papua. Tengok saja jembatan kayu dengan penyangga pilar-pilar yang asli dipahat oleh suku Asmat, pintu masuk kawasan bird show yang berbentuk burung khas Papua, burung Kasuari, hingga atap kandang hewan beralaskan jerami yang menjadikannya tampak seperti rumah di Honai, Wamena.

 

Suasana Papua! Memang itulah yang ingin dihadirkan oleh Irene. Bukan hanya karena kecintaannya pada budaya Indonesia saja, namun Irene juga ingin selalu mengingat kampung halamannya. Wanita kelahiran Jayapura, 13 Juli 1985 ini mengakui Ia sangat bangga akan tanah kelahirannya itu. Tak heran jika Ia menghadirkan suasana Papua di Faunaland.

 

“Jadi papua itu adalah Indonesia bagian paling timur, jarang sekali orang berkunjung ke Papua karena jauh. Orang kan jadi penasaran seperti apa culture di sana. Nah, di sini kita hadirkan suasana itu. Kembali lagi, saya ingin mempromosikan culture Indonesia yang begitu indah dan beraneka ragam. I wanna show that Papuan is rich and beautiful in both culture and bio diversity. Overall, our country is one of the most amazing country in the world. Itu yang ingin saya sampaikan,” tutur wanita berwajah oriental ini.

 

Ya, Irene bukanlah kacang yang lupa pada kulitnya. Ia bahkan memiliki mimpi ingin mengaplikasikan ilmu akademisnya sebagai seorang dokter di tanah Papua. “Rencananya saya akan membuka klinik di Papua. Saya orang Papua jadi akan selalu kembali ke Papua. Papua is my home,” pungkas lulusan Fakultas kedokteran Universitas Indonesia ini, dengan mata berbinar-binar.

 

 

 

Busana: Wong Hang Tailor, Grand Indonesia

Make Up: Elisa Han

Lokasi: Faunaland, Kawasan Ecopark, Ancol

 

 

 

 

 

 

 


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

 

 

 

Popular

   

Photo Gallery

   

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250