Search:
Email:     Password:        
 





KERJA NYATA BERSAMA MEMBANGUN NEGERI APRESIASI UNTUK BUMN

By anggi (Administrator) - 10 November 2017 | telah dibaca 566 kali

Revitalisasi Tambak Untuk Kesejahteraan Yang Merata

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa

Harapan Presiden Joko Widodo agar Indonesia bisa menjadi pengekspor udang nomor satu di dunia sepertinya bukan isapan jempol. Pasalnya, potensi lahan tambak udang yang dapat dioptimalkan sangat besar. Selain itu, dukungan banyak mengalir dari berbagai pihak, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti sinergi yang dilakukan oleh Bank Mandiri bersama Perhutani  dan PT Perikanan Indonesia (Persero).

Tak salah kalau kemudian Presiden menilai bahwa udang memiliki pangsa pasar yang luas. Apalagi, Indonesia memiliki banyak kawasan pantai yang bisa dijadikan sumber produksi udang. Sayangnya, produksi Indonesia baru bisa duduk di peringkat tiga sebagai pengekspor udang.

Presiden menginginkan ada model bisnis baru.“Jadi ini yang sedang kita lakukan, edukasi yang baik, menanam udangnya baik dengan cara modern, caranya lebih otomatis,” ujar Presiden saat meresmikan revitalisasi tambak udang yang menjadi bagian dari program perhutanan sosial di Muara Gembong, Desa Pantai Bakti, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu 1 November 2017.

Pemerintah, jelasPresiden, mendorong model bisnis baru dengan sistem kelompok petani atau petambak dengan pola korporasi dengan skala ekonomi yang lebih baik. Dengan cara tersebut, pertanian atau pertambakan bisa lebih bankable dan modern. Melalui revitalisasi tersebut, jumlah udang ketika dipanen bisa melimpah, dan kemudian bisa dijadikan potensi ekspor.

Harapan Presiden Jokowi diamini oleh PT Bank Mandiri Tbk. Bersama dengan Perhutani, PT Perikanan Indonesia (Persero), Bank Mandiri siap melakukan revitalisasi lahan tambak di kawasan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat.


Senior Executive Vice President Bank Mandiri Agus Dwi Handaya mengatakan bahwa revitalisasi lahan dengan skema redistribusi aset kepada petambak lokal seperti ini dapat dilakukan di wilayah lain. Dan yang tak kalah penting, Bank Mandiri juga memberikan pembiayaan petambak, melalui skema KUR.

“Lewat program ini diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat jadi meningkat sehingga pembangunan ekonomi dapat lebih merata,” ujar Agus seraya menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan revitalisasi ini, mereka menggunakan pendekatan model community development dengan beberapa elemen pendukung.

Kegiatan revitalisasi di awali dengan pengolahan lahan tambak dan pengadaan bibit udang yang dibantu Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) KKP.

Dalam hal ini misalnya infrastruktur dan penunjang tambang, sosiokultural, kelembagaan, pendampingan dan offtaker, pembiayaan petambak, peningkatan program kapabilitas, teknologi modernisasi tambak, dan pengawasan program konservasi mangrove. Untuk mendukung para petambak, Agus menambahkan, akan ada sejumlah sarana yang akan dibangun, seperti tempat penampungan hasil tambak, dermaga kapal, alat pembuat es, kincir air, pompa air, sumurbor air tawar, jaringan listrik, akses jalan, dan menara pantau.

Revitalisasi lahan merupakan salah satu program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Mandiri. Tujuan dari program ini adalah untuk pemerataan ekonomi dengan cara pengelolaan hutan yang lebih sistematis dan intensif, namun tetap berbasis kepentingan rakyat.

Lokasi lain yang akan direvitalisasi yakni lahan seluas 1.200 hektare di Gunung Rakutak dengan komoditas kopi dan lahan seluas 104 hektare di Sumedang dengan komoditas mangga gedong.

Selain dua tempat itu, terdapat juga lahan di Majalengka seluas 108 hektare dengan komoditas kopi, sertalahan seluas 1.479 hektare di Garut dengan komoditas kopi. “Di Muara Gembong Bekasi, lahan yang direvitalisasi seluas 830 hektare dengan komoditas udang bandeng,” jelasnya.

Untuk empat tempat yang akan direvitalisasi itu, Bank Mandiri masih menunggu Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ketika izin diperoleh, revitalisasi akan langsung dilakukan.


Dalam proses revitalisasi tersebut, Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membantu pengolahan lahan tambak dan pengadaan bibit udang. Sementara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membantu penerbitan Izin Pemanfaatan Hutan Perhutanan Sosial (IPHPS) bagi petambak lokal penggarap, dengan syarat mereka juga harus menanam mangrove di lahan yang sama.

“Lewat program ini diharapkan tingkat kesejahteraan masyarakat jadi meningkat sehingga pembangunan ekonomi dapat lebih merata,” tegas Agus. **

MENINGKATKAN NASIONALISME MELALUI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TELEKOMUNIKASI DI PERBATASAN NEGARA

Pembangunan fasilitas telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, khususnya di pulau-pulau terluar, merupakan salah satu komitmen TelkomGroup dalam meningkatkan layanan komunikasi sekaligus menjaga keamanan dan keutuhan NKRI di kawasan yang secara geopolitis sangat strategis.

Sesuai dengan amanat Nawacita, TelkomGroup secara konsisten membangun fasilitas telekomunikasi (fastel) di seluruh wilayah NKRI, termasuk wilayah-wilayah pinggiran yang berbatasan langsung dengan negara lain. TelkomGroup mencatat, dari 92 pulau terluar di Indonesia, 12 pulau di antaranya berbatasan langsung dengan negara lain. Pulau-pulau terluar dan terdepan yang berbatasan dengan negara tetangga itulah yang menjadi prioritas bagi perusahaan telekomunikasi digital merah putih tersebut untuk menghadirkan layanan telekomunikasi, sebut saja misalnya Pulau Miangas, Pulau Natuna, Pulau Sebatik dan Pulau Liran. Pulau-pulau tersebut kini sudah dapat menikmati layanan telekomunikasi, baik layanan selular serta layanan broadband.

Tak hanya pulau-pulau tersebut, wilayah Indonesia yang memiliki perbatasan darat dengan negara tetangga pun tak luput dari perhatian BUMN yang telah membangun jaringan tulang punggung fiber optik sepanjang 153,6 ribu km, menjangkau 440 kabupaten/kota dan termasuk koneksi ke luar negeri. Sebut saja misalnya Entikong, wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini sudah sejak lama menikmati layanan telekomunikasi seluler yang dibangun oleh anak usaha Telkom, yakni Telkomsel. Akses telekomunikasi diharapkan bisa mendorong pembangunan daerah perbatasan, di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan, sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru.

Selain layanan telepon selular, TelkomGroup melalui anak usaha Patrakom, juga menyediakan fastel di daerah-daerah 3T (Terdepan, Terluar & Terpencil) dengan menggunakan teknologi VSAT IP untuk Internet Akses (wifi), telepon PSTN, video conference, TVRO termasuk TV, dilengkapi dengan Solar Cell sebagai power supply kelistrikannya. Keberhasilan peluncuran Satelit Telkom 3S awal tahun 2017 lalu menjadikan TelkomGroup semakin optimis untuk mempercepat pemerataan pembangunan nasional melalui penggelaran fastel di daerah perbatasan negara. Sementara itu, wilayah perbatasan yang telah tersambung jaringan selular Telkomsel adalah Pulau Berhala di Sumatera Utara; Pulau Rondo di Aceh yang berbatasan dengan Thailand, India, Myanmar dan Malaysia; Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura; Pulau Sekatung di Kepulauan Natuna yang berbatasan dengan Malaysia, Vietnam, dan Brunai Darusalam; Pulau Miangas di Sulawesi Utara; Pulau Marore di Sulawesi Utara yang berbatasan dengan Filipina; Pulau Bras di Papua; Pulau Fani di Papua; Pulau Fanildo di Papua yang berseberangan dengan Papua Nugini; Pulau Dana di NTT; dan Pulau Batek di NTT yang bersinggungan dengan Australia.

Tak hanya masyarakat sipil saja yang merasakan manfaat dari kehadiran layanan telekomunikasi, prajurit TNI sebagai garda terdepan yang bertugas di perbatasan juga merasakan manfaat kehadiran layanan TelkomGroup. Layanan telepon dan internet nirkabel pun menjadi sarana yang bisa dimanfaatkan oleh para prajurit TNI dan warga, sehingga mereka dapat terhubung dengan dunia luar. Namun, fungsi kehadiran telepon dan layanan internet memiliki arti lebih penting lagi, yakni untuk menjaga koordinasi dalam mendukung pertahanan negara. Dengan tersedianya infrastruktur dan layanan telekomunikasi TelkomGroup di pulau-pulau terluar di Indonesia, diharapkan tidak hanya semakin lancarnya komunikasi dari dan ke daerah-daerah perbatasan. Fastel yang memadai dan berkualitas tentunya juga akan menggerakan perekonomian lokal. Tidak hanya itu, kehadiran fastel TelkomGroup saat ini menjadi pendukung prajurit TNI dalam mengamankan wilayah perbatasan, khususnya daerah-daerah yang rawan konflik kepentingan dengan negara yang berbatasan.

Selain itu, kehadiran TelkomGroup di wilayah-wilayah terdepan juga merupakan wujud komitmen mendukung cita-cita pemerintah, khususnya dalam membangun wilayah Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dulu 1 USD Telepon 1 Menit sekarang Rp 20 ribu untuk Seminggu
Salah satu daerah perbatasan yang sudah memperoleh layanan telekomunikasi TelkomGroup adalah Pulau Liran di Maluku Barat Daya. Pulau Liran berlokasi cukup terpencil dengan jumlah penduduk sekitar 1.118 jiwa atau 235 KK. Sebelumnya, warga di Pulau Liran hanya dapat menikmati jaringan telekomunikasi seluler Timor Leste yang secara geografis letaknya berdekatan, dengan tarif roaming internasional. Itu pun hanya menjangkau sebagian kecil Pulau Liran. Warga harus mengeluarkan kocek USD 1 (sekitar Rp 13.000) untuk menelepon selama satu menit. Sedangkan untuk mengirimkan pesan melalui SMS, mereka harus mengeluarkan USD 1 lagi untuk dua kali pengiriman. Itu pun tak semua wilayah ter-cover. Bahkan, untuk bisa menangkap sinyal, masyarakat harus menempuh perjalanan sekitar 1 km. Namun kini dengan kehadiran TelkomGroup melalui Telkomsel, pulsa Rp 20 ribu sudah bisa untuk menelepon selama seminggu. Masyarakat di Pulau Liran tentu sangat senang dan bangga dengan hadirnya layanan telekomunikasi dari operator asal Indonesia. Selain membuka keterisolasian, kehadiran Telkomsel juga menumbuhkan nasionalisme masyarakat. Setelah 72 tahun Indonesia merdeka, baru Agustus 2017 lalu Pulau Liran merasakan layanan telekomunikasi yang disediakan operator Indonesia. Tidak salah apabila ada yang menyebut “Penduduk Liran saat ini sudah merdeka dari keterisolasian telekomunikasi”.

ANDIL BESAR PTBA SUKSESKAN "NAWA CITA" MULAI TERWUJUD

Sebagai perusahaan pertambangan plat merah, PT Bukit Asam (Persero), Tbk. (PTBA) memiliki andil besar dalam menyukseskan program Nawa Cita yang dicanangkan Pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla untuk menuju perubahan Indonesia yang lebih berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi.

Perusahaan yang didirikan pada 1950 silam tersebut terus berusaha meningkatkan kinerja serta kesejahteraan baik karyawan maupun masyarakat di sekitar perusahaan sejalan dengan visi misinya sebagai perusahaan energi kelas dunia yang peduli akan lingkungan. Sejumlah kegiatan pun sudah digulirkan seperti pemberian Akta Tanah setidaknya kepada 673 kepala keluarga perumahan Bara Lestari I dan II daerah Desa Keban Agung yang sebelumnya bertempat tinggal di kawasan mulut tambang sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
khususnya yang berada di Ring I. Dalam meningkatkan produktivitas masyarakat di sekitar Ring 1, perusahaan melakukan berbagai upaya memberdayakan tenaga serta bakat di masyarakat setempat agar lebih dikembangkan dengan membuat masyarakat sekitar menjadi mitra usaha perseroan.

“Dengan pemberian modal dasar kepada lebih dari 400 KK masyarakat di sekitar perusahaan dapat mandiri dan mengembangkan kemampuan berbisnisnya dengan baik, sehingga mengangkat derajat hidup keluarganya,” ungkap Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin. Saat ini Usaha masyarakat tersebut terus berkembang mulai dari usaha warung atau toko kelontong hingga menjual makanan dan pakaian. PTBA juga membuat kolam renang yang dibuka untuk umum masyarakat Muara Enim. Bertujuan untuk mengembangkan bakat serta hobi masyarakat Muara Enim. Selain itu, PTBA juga berkontribusi dalam pembangunan masjid di Muara Enim. Pada bulan ramadhan 1438 H Perseroan membantu menyerahkan sekitar 8.000 paket sembako kepada masyarakat di Ring I, perseroan juga menyerahkan 43 ekor Direktur Utama PTBA Menyerahkan Beasiswa Pendidikan Bukit Asam (Bidiksiba). sapi yang akan diqurbankan dan dibagikan kepada masyarakat di sekitar Ring I.
“Perseroan juga terus berupaya meningkatkan kinerja agar keberadaan perusahaan semakin terasa di sekitar masyarakat dan mampu mengatasi permasalahan kemiskinan di daerah,” imbuh
Arviyan. Meningkatkan objek wisata yang sejalan dengan Program Pembangunan Development Musi Riverside Tourism oleh Pemerintah Kota Palembang, PTBA memberikan bantuan berupa Tugu yang akan menjadi icon baru di Palembang bernama Tugu Belido Bukit Asam, dibangun di pelataran Benteng Kuto Besak. Sejalan dengan program Nawa Cita milik pemerintahan Jokowi-JK yang salah
satunya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia melalui “Indonesia Pintar”, PTBA turut membantu pengembangan pendidikan di daerah sekitar ring I, misal pemberian beasiswa kepada siswa berprestasi untuk melanjutkan pendidikannya, namun mengalami keterbatasan biaya melalui program “BIDIKSIBA”.

Baru-baru ini perusahaan bersama kementerian BUMN melakukan kegiatan “BUMN Hadir di Kampus” untuk memperingati hari sumpah pemuda, kegiatan ini dimaksudkan agar para mahasiswa dapat
menjadi agent of change tentang kondisi perekonomian nasional dan peran strategis BUMN dalam membangun ekonomi nasional. Selain memajukan pendidikan di sekitar Ring 1, PTBA turut  membantu mengembangkan ilmu pengetahuan para siswa di seluruh Indonesia, melalui pengadaan program field trip daerah tambang batu bara milik Bukit Asam. Keberhasilan suatu perusahaan tak
terlepas dari beberapa faktor di antaranya kinerja karyawan perusahaan untuk memberikan yang terbaik agar perusahaan dapat terus maju dan berkembang, maka PTBA berusaha agar para karyawan merasa disejahterakan dan dihargai dengan cara pemberian berbagai tunjangan kesejahteraan dan kunjungan dari petinggi perusahaan. Sejurus dengan program yang sedang dijalankan oleh Presiden Jokowi dan JK, PTBA mempunyai harapan besar agar visi-misi perusahaan yang dijalankan dapat terus berkembang, mampu memajukan perusahaan, serta kinerja perusahaan dapat
terus meningkat. “Sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pula kepada Negara dan masyarakat sekitar kehidupan masyarakat sekitar dapat terjamin dan sejahtera dengan berpegang nilai-nilai yang ada pada perusahaan,” tandas Arviyan

 

Sinergi BUMN

Sebagai sinergi BUMN, PTBA juga merupakan pemasok utama kebutuhan batubara domestik untuk PT PLN (Persero), Semen Indonesia, dan Timah. Selain itu pasokan batubara untuk Perusahaan Listrik Negara (PLN), melalui kontrak jangka panjang, ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), yaitu PLTU Suralaya, PLTU Suralaya Baru, PLTU Bukit Asam, PLTU Tarahan, PLTU Labuhan Angin, PLTU Labuhan, PLTU Lontar, PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Indramayu, PLTU Cilacap, PLTU Rembang, PLTU Pacitan, dan PLTU Tanjung Awar-Awar. PLTU Suralaya, PLTU Bukit Asam, PLTU tarahan dan PLTU –PLTU yang dibangun melalui program pemerintah. Volume penjualan periode Januari – September 2017 sebesar 17,24 Juta Ton atau meningkat 13,8% dari periode yang sama tahun 2016 sebesar 15,14 Juta Ton. Peningkatan signifikan terjadi pada penjualan domestik sebesar 1,83 Juta Ton, naik 20,0% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan komposisi penjualan batubara domestika pada periode Januari – September 2017 sebesar 63,9% dan untuk pasar ekspor sebesar 36,1%. Lebih lanjut Arviyan menuturkan, Oktober 2017 lalu, PTBA melalui anak usahanya PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) bersama PLN telah menandatangani amandemen Power Purchase Agreement (PPA) PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 dengan kapasitas 2 x 620 MW.

KERJA NYATA PELINDO III DI TIGA TAHUN "NAWA CITA"

Program Pemerintahan Joko Widodo- Jusuf Kalla ‘Nawa Cita’ sudah bergulir selama 3 tahun, sebagai agent of development, PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) tentunya melakukan kerja nyata untuk bersama membangun Negeri. Seperti mendukung sektor pariwisata nasional melalui pengembangan pelabuhan di wilayah perusahaan plat merah tersebut.

Tingginya arus kunjungan kapal pesiar ke pelabuhan-pelabuhan kelolaan Pelindo III merupakan prospek cerah. Kementerian Pariwisata sendiri telah menargetkan kedatangan kapal pesiar ke Indonesia hingga 400 kapal tahun 2017. Sejumlah langkah pun dilakukan perusahaan yang dinakhodai I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra atau yang akrab disapa Ari Askhara tersebut. Pada September 2017 lalu, Pelindo III melakukan sandbreaking ceremony of the Benoa Tourism Port di Dermaga Timur Terminal Internasional Pelabuhan Benoa. Dalam kegiatan ini, Luhut Binsar Panjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman hadir meresmikan proyek pengembangan Pelabuhan Benoa. Pelabuhan Benoa menjadi pintu masuk bagi wisatawan asing yang berlibur ke Bali dengan menggunakan kapal pesiar. Pelabuhan yang menjadi destinasi wisata kapal pesiar dengan model turnaround cruise port ini memungkinkan para penumpang kapal pesiar memulai perjalanannya dari
Bali, kemudian berlanjut ke sejumlah tujuan lainnya di Indonesia, dan sebaliknya. Investasi yang dikeluarkan Pelindo III untuk pembangunan Pelabuhan Benoa mencapai Rp 1,7 triliun dengan investasi infrastruktur terminal sebesar Rp 500 milyar dan Rp 1,2 triliun untuk pengerjaan kolam dermaga dan alur pelayaran. Ari mengatakan peningkatan jumlah wisatawan mancanegara ke Bali via jalur laut dari tahun ke tahun kian meroket. Sejak tahun 2010, jumlah wisatawan yang semula hanya 13.683 orang mengalami peningkatan tiap tahunnya sebesar 5 persen. Diperkirakan pada tahun 2018 jumlahnya akan mencapai 91.325 orang. Pasca pengembangan Pelabuhan Benoa, angka kunjungan wisatawan yang menggunakan kapal cruise diprediksi akan semakin fantastis. “Jumlahnya
bisa mencapai 28 persen atau sekitar 6,1 juta pelancong di tahun 2030,” jelas Ari.

Upaya tersebut tak hanya mendongkrak jumlah wisatawan saja, tetapi juga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di Bali. “Bagi kapal pesiar yang bermalam di pelabuhan, para penumpang kapal pesiar dapat memanfaatkan waktunya untuk berbelanja atau bahkan menjajal amenitas pariwisata di Bali,” imbuh Ari. Pulau Bali seolah memiliki magnet tersendiri bagi wisatawan karena menawarkan wisata pantai dan alam yang menarik serta masyarakat adat yang masih kental dengan budaya dan kearifan lokalnya. Eventevent maupun konferensi internasional pun sering digelar di Pulau Dewata. “Dengan semakin banyaknya tamu mancanegara yang datang ke Bali mengikuti event internasional, tentu memberi kesempatan bagi program promosi pariwisata nasional. Harapannya, pada saat kunjungan wisatawan berikutnya, infrastruktur pariwisata sudah semakin memadai,” tambah Ari.

Kondisi eksisting alur pelayaran di Pelabuhan Benoa memiliki kedalaman minus 8 meter Low Water Spring (LWS) dan baru bisa mengakomodir kapal pesiar berdimensi panjang maksimal 210 meter dan berkapasitas maksimal 1.400 penumpang. Menurut Ari Askhara, jika kedalaman alur mencapai minus 12 meter LWS, Pelabuhan Benoa tentu akan mampu mengakomodasi kapal cruise berdimensi panjang 300 meter dan berkapasitas 5.000 penumpang. Untuk mendukung pelayanan kapal pesiar, beberapa fasilitas juga dikembangkan di Pelabuhan Benoa seperti: Dermaga Timur
yang awalnya 290 meter diperpanjang menjadi 340 meter. Kemudian, terminal penumpang internasional akan diperluas, dari 1.538 m2 dengan kapasitas rata-rata mencapai 800 orang menjadi 2.988 m2 dengan kapasitas rata-rata 1000 orang. Pengembangan terminal cruise juga dilakukan di Lombok NTB. Pelindo III membangun pelabuhan yang salah satu fungsinya diperuntukkan bagi pelayanan kapal pesiar, tak jauh dari Pelabuhan Lembar yakni Gili Mas New Port. Pelabuhan ini diproyeksikan dapat disandari kapal-kapal pesiar pada 2018.

Tren kedatangan kapal pesiar yang semakin meningkat dari tahun ke tahun akan menjadikan Pelabuhan Gilimas memiliki peran strategis seiring kebutuhan pelayanan penumpang wisatawan tersebut. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution pernah menuturkan dengan adanya pembangunan Pelabuhan Gili Mas, Pemerintah Daerah NTB diharapkan mampu menyiapkan akses jalan wisatawan dari Pelabuhan Gili Mas menuju Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Sehingga, pergerakan penumpang kapal pesiar akan semakin lancar. Selama ini, penumpang kapal pesiar yang singgah ke Lombok harus diangkut dulu ke daratan menggunakan sekoci. Sebab, kedalaman perairan Pelabuhan Lembar kurang dari minus 10 meter LWS. Berbeda dengan Lembar, Pelabuhan Gili Mas memiliki kedalaman perairan -13 sampai -14 LWS, sehingga kapal cruise berukuran besar dapat langsung menurunkan penumpang. “Kami juga akan bangun terminal petikemas,” terang Ari.
Pelindo III menargetkan pembangunan pelabuhan baru itu dimulai akhir tahun 2016 dan selesai pada 2018. Pelindo III tengah berupaya membebaskan 50 hektare lahan dari total kebutuhan 100 hektare. Nilai investasinya mencapai Rp 1 triliun.

Selain itu, perseroan mengalokasikan sekitar Rp 349 miliar untuk revitalisasi terminal penumpang di 10 pelabuhan lainnya di Kawasan Indonesia Timur, di antaranya Pelabuhan Tenau, Kupang; Pelabuhan Kumai; Pelabuhan Sampit dan Pelabuhan Maumere. Pelindo III berkomitmen meningkatkan fasilitas pelayanan di terminal penumpangnya guna memenuhi standar pelayanan minimal yang menawarkan pengalaman yang sama dengan terminal penumpang di bandar udara. Hal ini telah diinisiasi sejak dibangunnya Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Sejumlah fasilitas pendukung disediakan, seperti ruang tunggu dan tempat duduk, toilet yang bersih, ruang ibadah, ruang menyusui, serta fasilitas bagi penumpang difabel. Tak hanya Bali dan Lombok, Pelindo III juga mengembangkan Boom Marina Banyuwangi dengan konsep kawasan marina yang terintegrasi agar semakin menarik untuk dikunjungi turis mancanegara. Pada tahun 2017 ini, agenda dua tahunan yang diikuti oleh puluhan kapal layar (yacht) yang tergabung dalam Fremantle Sailing Club di Australia Barat telah dijadwalkan untuk berlabuh kawasan Boom Marina Banyuwangi. Melalui sejumlah program tersebut, Pelindo III menyelaraskan diri dengan program pemerintah yang berupaya mencapai target 20 juta wisatawan mancanegara di
tahun 2019. Semakin besar jumlah kunjungan kapal pesiar ke Indonesia, maka semakin besar potensi untuk meningkatkan jumlah wisatawan luar negeri.

 



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250