Search:
Email:     Password:        
 





Elvyn G. Masassya, IPC Menuju World Class Port

By Iqbal Ramdani () - 06 December 2017 | telah dibaca 695 kali

Naskah: Suci Yulianita/Giattri F.P., Foto: Sutanto/Dok. IPC

 

Di tahun kedua dilantik menjadi Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) / IPC, Elvyn G. Masassya, telah melakukan berbagai langkah strategis untuk membawa institusinya menuju World Class Port Operator. Hal ini membuktikan, pria kelahiran Medan 18 Juni 1967 ini mampu menerjemahkan keinginan Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.

 

Tepat pukul 15.00 WIB, Men’s Obsession diterima Elvyn. Ia tampil sederhana dengan balutan kemeja putih polos dan celana bahan hitam. Senyum manis acap kali tersungging dari bibirnya. Terlebih, keindahan landscape pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia itu terlihat dari kaca jendela ruang kerjanya yang berada di lantai 7 di kantor pusat Pelindo II. Membuat suasana wawancara tak hanya cair dan hangat, tetapi juga memanjakan mata. Ya, di tangan pria berpenampilan necis ini, Pelabuhan Tanjung Priok tak lagi kumuh dan menyeramkan, melainkan sudah tertata sangat rapi. Elvyn bercerita, sejak awal memimpin pada April 2016 lalu, ia berpikir keras bagaimana membuat jasa pelabuhan ini menjadi satu sektor yang reputable, tak hanya untuk skala nasional namun internasional.

 

Karena menurutnya, fungsi pelabuhan sebagai tempat keluar masuknya arus barang, ekspor impor internasional, merupakan potret wajah Indonesia. Untuk itu, Elvyn melakukan second round transformation pada IPC yang terangkum pada empat hal utama, yakni meneruskan yang sudah baik (going concern), meluruskan yang belum lurus (governance), menyelesaikan yang belum selesai (pending matters/outstanding issues), dan mengerjakan yang belum sempat dikerjakan (business development). Selanjutnya, ia melakukan pembenahan internal yang diawali dari penajaman vision. “Vision kita buat lebih load and clear menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan dengan kata kunci visi hanya tiga, world class, excellent at operations, excellent at services,” ucap Elvyn.

 

Untuk sampai ke world class port itu, Elvyn menyiapkan roadmap untuk lima tahun (2016-2020). Dimulai pada 2016 dengan tahapan yang disebut fase fit in infrastructure, artinya bussiness prosesnya harus benar, sistemnya harus benar, prosedur harus ada sebagai satu korporasi. Pada 2017 ini dilanjutkan dengan fase enhancement, yakni peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas, dan peningkatan performance. Lalu 2018 fase establishment atau pemantapan, 2019 fase sustainable superior performance. Dan 2020 menjadi world class port. “Hal itu juga menjadi wujud nyata IPC dalam mendukung Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia yang menjadi bagian program Nawacita yang dicanangkan Kabinet Kerja Pak Jokowi,” imbuhnya. Untuk merealisasikan hal itu, beberapa langkah pun digulirkan IPC menuju World Class Port.

 

Pertama berbasis IT, IPC mentransformasi pelabuhan menjadi smart port atau digital port sebagai prioritas yang juga diiringi dengan perbaikan infrastruktur pelabuhan. Program digital port dan pemangkasan waktu tunggu bongkar muat petikemas akan menjadi andalan untuk mendukung tol laut dan langkah awal menuju World Class Port. “Hingga akhir tahun 2017, Pelindo II berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan operasional. IPC juga berencana untuk menjadi digital port pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi informasi dalam sistem operasionalnya,” ungkap penyandang gelar Magister Management bidang Keuangan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), ini.

 

Kedua, Peningkatan Pelayanan, seperti upaya merealisasikan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai Transhipment Port. IPC telah melakukan kerjasama untuk menghubungkan Indonesia dengan Amerika secara langsung. “Tercapainya kesepakatan antara IPC dengan CMA-CGM terkait pembukaan rute Jakarta – Los Angeles (direct call) dengan menggunakan kapal berukuran besar (kapasitas lebih dari 10.000 TEUs). Selain Amerika, IPC bekerjasama dengan CMA-CGM juga membuka rute baru SEANE yakni Jakarta-Eropa (direct call) yang sebelumnya belum pernah ada,” Elvyn menjelaskan.

 

Selain itu, pada 9 September 2017, IPC juga menambah service direct call ke Asia/China oleh COSCO dengan kapasitas 5800 TEUs, dan tambahan service direct call ke Asia/Vietnam oleh SM Lines dengan kapasitas 2000 TEUs. Dan yang terbaru, pada 11 Nopember 2017, ada tambahan service direct call ke Korea Selatan oleh MSC dengan kapasitas lebih kurangnya 5000 TEUs. Untuk mendukung terwujudnya transhipment port ini, IPC juga melakukan FGD di Pelabuhan Tanjung Priok yang dihadiri oleh Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi dan stakeholder terkait yang digelar pada 14 Nopember 2017.

 

Tak hanya itu, penyediaan Container Freight Station (CFS) sebagai manajemen Data Pelanggan CFS, layanan invoice – nota, CFS Service Booking, Tracking Cargo, e-payment multichannel dan Customer Care pun dilakukan. CFS merupakan sentralisasi  pusat distribusi terpadu yang pertama ada di Indonesia. Inisiasi program CFS terpadu ini  bertujuan meningkatkan kelancaran arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok dengan cara  memberikan standarisasi pelayanan warehouse, menyederhanakan proses bisnis kargo,  menjadikan pusat distribusi kargo, serta membuat sistem untuk pengguna jasa dalam memperoleh kepastian tarif pelayanan. Saat ini telah dilakukan trial pada sistem CFS, program ini akan segera diluncurkan pada Triwulan IV tahun 2017.

 

Ketiga, pembangunan proyek strategis, yakni pembangunan pelabuhan di Pulau Kalimantan untuk menjadi hub port dan mendukung program tol laut yang telah dicanangkan pemerintah. “Pelabuhan Kijing menjadi salah satu proyek strategis nasional karena menjadi pelabuhan pertama di Kalimantan yang berstandar internasional dan berkapasitas besar hingga mencapai dua juta TEUs,” terang musisi Jazz ini. Proyek pembangunan kanal CBL (Cikarang Bekasi Laut) merupakan upaya optimalisasi alur sungai dengan menggunakan kapal tongkang sebagai alternatif moda transportasi  barang dan penghubung antara pelabuhan dengan area hinterland sehingga dapat  mengurangi kongesti jalan di darat dan diharapkan berdampak pada efisiensi waktu dan  biaya.

 

“Proyek ini dibangun dengan melalui tiga tahapan yang kedepannya akan dilengkapi dengan Terminal Petikemas dan Terminal Curah yang diharapkan selesai pada tahun 2019,” tambah Elvyn. IPC juga telah mengusulkan proses percepatan pelaksanaan pembangunan Kanal CBL  agar melalui proses penerbitan Peraturan Presiden (Perpres) guna mendukung implementasi di lapangan. Pembangunan Pelabuhan Sorong di Papua Barat direncanakan untuk menjadi pelabuhan  hub di Indonesia Timur sehingga arus tol laut yang ditargetkan hingga ke timur Indonesia dapat berjalan sesuai rencana. IPC berupaya untuk memulai pembangunan Tahap I  Pelabuhan Sorong dengan proyeksi kapasitas 500,000 TEUs.

 

Kemudian proyek pembangunan Tol Cilincing - Cibitung yang dikerjakan oleh cucu  perusahaan IPC, PT Akses Pelabuhan Indonesia (PT API) selaku anak perusahaan PT  Pengembang Pelabuhan Indonesia (PT PPI) yang telah mengakuisisi 45% saham baru PT MTD CPT Expressway (PT MTDX) yang memiliki Perjanjian Pengusahaan Jalan  Tol (PPJT) Cibitung – Cilincing (JTCC) sepanjang 34,8 Km. Jalan Tol Cilincing – Cibitung atau JTCC merupakan jalan tol yang strategis bagi Pelabuhan Tanjung Priok karena menghubungkan langsung dengan hinterland  bagian  timur  (Cibitung, Cikarang  dan Karawang). Sampai dengan saat ini pembebasan lahan masyarakat untuk JTCC telah mencapai hampir 30% dari total kebutuhan lahan.

 

Keempat, Inaportnet yakni merupakan sistem informasi layanan tunggal secara  elektronik berbasis internet guna mengintegrasikan sistem informasi kepelabuhanan  yang standar dalam melayani kapal dan barang dari seluruh instansi terkait. Fungsi dari Inaportnet, sambung Elvyn, di antaranya pelayanan kapal dan barang untuk mendukung program nasional yaitu Nasional Single Windows serta penurunan dwelling time, standarisasi pelayanan kapal dan barang berbasis IT / Online dan perluasan sistem Vessel Management System untuk menunjang Inaportnet.

 

Kelima, E-Service. Hadirnya pelayanan berbasis elektronik yang terdiri dari e-registration, e-booking, e-tracking and tracing, e-payment, e-billing, dan e-care adalah Integrated Billing System (IBS) yang merupakan program Kementerian BUMN untuk mengintegrasikan sistem pelayanan jasa kepelabuhanan di pelabuhan yang dioperasikan oleh Pelindo I, II, III, IV. IPC juga terus memberikan dukungan penuh untuk sektor-sektor prioritas negara, terutama untuk pengembangan infrastruktur dan investasi jangka panjang yang dinilai strategis serta program pemerintah di bidang kemaritiman.

 

“Salah satu dukungan yang diberikan IPC adalah pada program Tol Laut dan Program Rumah Kita yakni tempat untuk menampung barang-barang yang dibawa kapal tol laut dan dari daerah yang disinggahi tol laut yang bertujuan untuk menurunkan tingkat disparitas harga,” kata Elvyn. Dengan berbagai langkah konkrit yang dijalankan IPC, Elvyn pun optimistis, institusi yang dinakhodainya pada 2020 menjelma menjadi World Class Port Operator. “Kita harus jalani dengan positive thinking dan dibarengi dengan keyakinan. Apalagi target 50% sudah tercapai,” pungkasnya.

 

;


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

   

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250