Search:
Email:     Password:        
 





Para Penemu dari Dunia Timur

By content (Administrator) - 01 March 2013 | telah dibaca 4359 kali

Naskah : Andi Nursaiful/berbagai sumber   Foto  : Istimewa

Sepanjang peradaban manusia, dunia diberitahu bahwa segala sesuatu yang berbau penemuan besar umat manusia, selalu berawal dari dunia Barat. Ilmu pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, sepenuhnya diciptakan atau dipelopori oleh orang-orang paling cerdas dari belahan bumi Barat.

Sesungguhnya, tak sedikit ilmuan dari dunia Timur yang berhasil mengubah sejarah melalui penemuan-penemuan mereka. Generasi-genarasi mendatang, seharusnya tak hanya mengenal Galileo, Newton, Einstein, Darwin, dan seterusnya. Sebab, banyak sekali penemu-penemu luar biasa yang berasal dari dunia Timur.

Bahkan, anggapan selama ini bahwa penyebaran ilmu pengetahuan berawal dari Barat ke Timur, perlu diperdebatkan lebih lanjut. Pada edisi ini kami mencoba memaparkan tokoh-tokoh penemu dari dunia timur yang jarang dimasukkan dalam buku-buku sejarah.

Sebuah tim yang dipimpin oleh Dr George Gheverghese Joseph dari Universitas Manchester, Inggris, menemukan sesuatu yang bisa membuat buku-buku sejarah harus ditulis ulang. Dr Joseph dan timnya meneliti sebuah sekolah kecil di India, Sekolah Kerala, dan berhasil mengidentifikasi “deret tak hingga”, yaitu salah satu komponen dasar dari kalkulus, yang beasal sekitar tahun 1350. Padahal, atribut kalkulus ini, dalam sejarah, baru diperkenalkan oleh Sir Isaac Newton dalam bukunya, bersama Gottfried Leibnitz, pada akhir abad 17.

Tim yang juga melibatkan universitas Exerter, itu, juga menguak keberhasilan Sekolah Kerala yang telah mengungkapkan deret Pi dan menggunakannya untuk menghitung Pi sampai 9, 10, bahkan hingga 17 angka di belakang koma. Selain itu, ada bukti yang secara tidak langsung menyatakan bahwa orang India telah mengajarkan matematika mereka ke misionaris Jesuit yang mengunjungi India pada abad 15. Pengetahuan ini yang menurut mereka akhirnya sampai ke Newton.

Penemuan-penemuan itu, oleh Dr. Joseph kemudian diterbitkan dalam sebuah buku berjudul The Crest of the Peacock: the Non-European Roots of Mathematics, Princeton University Press. Di dalam buku itu, ia menyimpulkan,“Awal dari matematika moderen biasanya terlihat sebagai pencapaian orang Eropa. Namun penemuan di India Tengah antara abad ke-14 dan ke-16, sering kali diabaikan atau dilupakan.”

Dr Joseph menilai kecemerlangan pekerjaan Newton pada akhir abad 17 memang tidak menyusut, terutama ketika pekerjaan tersebut berkaitan dengan algoritma kalkulus. Tapi, Sekolah Kerala, khususnya Madhava dan Nilakantha, saling bahu-membahu menemukan komponen hebat lainnya dari kalkulus, yaitu deret tak hingga.

Menurutnya, ada banyak alasan mengapa kontribusi Sekolah Kerala tidak diakui. Alasan utamanya adalah ide yang keluar dari ilmuan dari dunia Non-Eropa diabaikan akibat warisan dari kolonialisme Eropa.

"Untuk beberapa pertimbangan yang tak dapat diduga, standar bukti yang diperlukan untuk mengakui penyebaran pengetahuan dari Timur ke Barat, ternyata lebih besar dibanding standar bukti yang diperlukan oleh penyebaran pengetahuan dari Barat ke Timur,” kata Dr Joseph.

Ibnu Sina, Bapak Kedokteran Modern
Penemuan-penemuan dari dunia Timur, tentu saja bukan hanya dari India, atau China. Sejumlah referensi dan hasil penelitian yang jarang diekspos secara luas menunjukkan bahwa peradaban Islam di masa jayanya ternyata melahirkan banyak sekali ilmuan hebat yang mendahului ilmuan-ilmuan dunia Barat.

Sebuah contoh Ibnu Sina (980-1037), yang di dunia Barat lebih dikenal dengan nama Avicenna.  Ibnu Sina adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang menjadi bagian Uzbekistan). Ia juga seorang penulis yang produktif, di mana sebagian besar karyanya adalah filosofi dan pengobatan.

Bagi banyak orang, ia adalah "bapak pengobatan atau kedokteran Modern." Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib (The Book of Healing dan The Canon of Medicine), yang telah menjadi rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ilmuan muslim yang bernama lengkap Abū ‘Alī al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā telah menulis sedikitnya 450 judul buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak di antaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Konon, ia telah menghafal keseluruhan isi alquran pada usia 10 tahun, sudah menguasai ilmu fisika, metafisik, dan matamatika di usia 16 tahun, serta menyelesaikan studi kedokteran pada umur 21.

Buku-buku medisnya terpengaruh oleh Hippocrates, Galen, dan Sushruta. Ibnu Sina tercatat sebagai ilmuan yang pertama kali memperkenalkan, risk factor analysis, quarantines, eksperimen sistematik dalam bidang fisiologi, dan ide-ide syndromes. Dia pula yang pertama kali mengobservasi dan menggambarkan penularan penyakit, dan penyebaran penyakit melalui seks. Ibu Sina pun menjadi pionir di area neuropsychiatry, orang pertama yang menulsi teori keberadaan mikroorganisme, serta tokoh yang meletakkan pondasi pengujian dan efektifitas obat-obatan medis.

Di bidang non kedokteran, Ibu Sina adalah orang pertama yang mendefinisikan prinsip fisika momentum. Sebagai filsuf, ia menulis banyak sekali karya yang membahas tentang logis, etika, dan metafisika, serta sukses menggabungkan Aristotelianism dan Neoplatonism. Karya-karya filsafatnya, banyak mempengaruhi filsuf Eropa, seperti, William of Auvergne, St Albertus Magnus, hingga St Thomas Aquinas.

Ibu Sina lahir di era keemasan peradaban Islam. Pada era itu, ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia, dan India. Teks Yunani dari jaman Plato, masa sesudahnya, hingga masa Aristoteles,  bukan saja diterjemahkan, namun dikembangkan lebih maju. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi.

Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, aljabar, trigonometri, dan ilmu pengobatan. Ilmu-ilmu lain, seperti. studi tentang alquran dan hadist, juga berkembang dalam suasana ilmiah. Ilmu lainnya seperti ilmu filsafat, fikih, ilmu kalam, benar-benar berkembang dengan pesat.

Pada masa itu, Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu hidup pula sejumlah ilmuwan muslim, seperti, astronom terkenal Abu Raihan Al-Biruni, Aruzi Samarqandi dan Abu Nashr Mansur yang merupakan matematikawan terkenal, hingga fisikawan Abu al-Khayr Khammar.

Teori Relativitas al-Kindi
Dari nama-nama itu, baru Ibnu Sina yang sudah diakui luas di dunia Barat. Padahal, banyak sekali ilmuan dari dunia Islam yang sebetulnya telah melakukan penemuan jauh sebelum bangsa Eropa.

Sebut contoh teori relativitas, yang selama ini melekat pada Albert Eistein. Teori ini, ternyata telah lama dicetuskan oleh ilmuwan muslim di abad ke-8 Masehi. Dialah Abu Yusuf bin Ashaq al-Kindi. Ia adalah seorang ilmuwan dan filsuf Muslim keturunan Yaman dan lahir di Kufah pada tahun 185 H/796 M.

Dikenal di dunia Barat dengan nama sebagai Alkindus, ia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk relatif dan terbatas. Walaupun semua makhluk individu tidak terbatas banyaknya, namun waktu, gerak, badan, dan ruang sesungguhnya terbatas. Intinya, Al-Kindi hendak menyatakan bahwa “Waktu itu ada (eksis) karena ada gerak. Gerak itu ada karena badan/tubuh yang bergerak. Jika tidak bergerak, ada tubuh yang diperlukan untuk bergerak. Jika ada badan, ada gerakan yang dilakukan.”

Dengan kata lain, ruang, waktu, gerakan, dan benda itu bersifat relatif satu sama lain, dan tidak dapat berlaku sendiri atau absolut. Seluruhnya bersifat relatif terhadap objek-objek lain dan terhadap si pengamat.

Teori yang digagas Einstein juga hampir sama. Ia menyatakan bahwa “Eksistensi-eksistensi dalam dunia ini terbatas, walaupun eksistensi itu sendiri tidak terbatas.” Tentu saja, karena kedua ilmuwan ini hidup dan berkarya di zaman yang berbeda, maka temuan dari Einstein lebih mendetail dan dijelaskan dengan dukungan penelitian dan pengujian ilmiah. Bahkan telah terbukti dengan adanya ledakan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Namun, teori relativitas yang digagas oleh Einstein pada abad ke-20, sebenarnya telah lebih dulu ditemukan oleh Abu al-Kindi sekitar seribu seratus tahun sebelumnya.

Hukum Gravitasi Universal
Dunia juga mengenal Sir Isaac Newton sebagai penemu pertama hukum gravitasi universal. Namun, sesungguhnya, jauh sebelum Newton lahir, ilmuan muslim bernama bernama Abu Ja'far Muhammad ibn Musa ibn Shakir, yang hidup antara tahun 803-873 di Baghdad, Irak, sudah menciptakan hipotesis akan adanya suatu daya tarik raksasa dalam pergerakan benda-benda luar angkasa.

Abu Ja'far Muhammad, yang memiliki keahlian khusus di bidang astronomi, teknik, geometri, dan fisika, dalam Kitab al-Hiyal memberikan penjelasan tentang gerakan bola. Dalam buku tersebut, dia juga menuliskan penemuannya tentang benda-benda langit yang menjadi subjek dalam hukum fisika bumi. Karya Abu Ja'far Muhammad lainnya adalah pembahasan tentang gerakan bintang dan hukum tarik-menarik. Ia mengungkapkan adanya gaya tarik-menarik antara benda-benda langit.

Ilmuan Multidisplin Ilmu
Popularitas Ibnu Sina di dunia Barat, kemudian diikuti oleh sahabatnya, Abu Raihan Al-Biruni (973-1048), asal Persia. Ia adalah seorang cerdas multidisiplin ilmu. Ia seorang matematikawan, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, sekaligus ahli farmasi. Ia menguasai bahasa Persia, Arab, Yunani, Yahudi, Syria, hingga Sansekerta. 

Ia menulis sedikitnya 146 buku di bidang astronomi, astrologi, geografi, dan matematika. Sayangnya, hanya 22 dari karyanya yang bisa diselamatkan. Di bidang astronomi, ia banyak mengkritisi dan memperbaiki kesalahan ilmuan-ilmuan sebelumnya. Misalnya, ia mengoreksi perhitungan Ptolemeus tentang jarak Bumi ke Matahari. Ia pula yang pertama kali menyusun teori orbit eliptikal dari planet-planet. Ia pula yang menemukan teori geodesy, pengukuran tiga dimensi planet Bumi. Perhitungannya tentang radius Bumi hanya meleset 16,8 km.

Biruni pula yang menjadi salah satu pelopor awal metode percobaan ilmiah di bidang mineralogy dan berhasil mengukur dan menyusun katalog tentang bebatuan dan mineral Bumi. Biruni juga menjadi Bapak Antropologi berkat dedikasinya observasinya dan karya ilmiahnya tentang budaya dan agama di berbagai peradaban.

Semua itu ia lakukan dalam usia yang sangat belia. Ketika berusia 17 tahun, ia sudah meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari. Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta Kartografi, yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar. DI usia itu, ia juga telah menulis buku tentang sistem desimal, empat buku tentang pengkajian bintang, dan da buku tentang sejarah.
   
Di bidang matematika, Biruni banyak menyumbang dalam aritmatika teoritis and praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah angka 3, bilangan irasional, teori perbandingan, definisi aljabar, metode pemecahan penjumlahan aljabar, geometri, teorema Archimedes, hingga sudut segitiga.

Rujukan Barat
Para pemikir dan ilmuan terkemuka dari belahan bumi Timur, khususnya dari dunia Islam, sesungguhnya banyak dicatat dalam sejarah di negeri Barat. Hanya saja, nama dituliskan secara berbeda sehingga tidak terksan berbau timur atau Islam. Selain Ibnu Sina yang dikenal dengan Avicenna, dan Al-Kindi yang ditulis dengan nama Alkindus, ada pula Ibnu Rusyid yang ditulis dengan nama Averroes dalam literatur Barat.

Abu Walid Muhammad bin Rusyd, nama lengkapnya, lahir di Kordoba, Andalusia (Spanyol) pada 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd mendalami banyak ilmu, mulai dari kedokteran, hukum, matematika, hingga filsafat.

Ibnu Rusyd adalah seorang jenius dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, ia dikenal sebagai komentator terbesar atas filsafat Aristoteles, dan kemudian banyak mempengaruhi pemikiran filsafat Eropa abad pertengahan, termasuk pemikir seperti Maimonides dan St. Thomas Aquinas. Pemikirannya sangat berpengaruh di Eropa selama hampir empat abad.

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, esai dan resume. Hampir semua karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Sebagai fisikawan, ia menulis tentang pembedahan, dan menjadi orang pertama yang mengidentifikasi penyakit Parkinson. Ia pula yang pertama yang mengidentifikasi retina mata sebagai photoreceptor. Percaya atau tidak, Ibn Rusyid pula yang pertama kali berargumen tentang kesetaraan gender antara perempuan dan laki-laki.

Selain Ibnu Rusyd. Ada pula Abu Al-Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi (936-1013), yang lebih dikenal sebagai Abulcasis di negeri-negeri Barat. Dia adalah seorang ahli bedah dan fisikawan asal Andalusia. Karya terkenalnya adalah Al-Tasrif, yang berisi kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid.

Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk tentang gigi dan kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari Cremona pada abad ke-12, dan selama lima abad di Eropa, buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran.

Dalam buku itu, ia secara rinci dan lugas mengupas tentang ilmu bedah, orthopedi, opththalmologi, farmakologi, serta ilmu kedokteran secara umum. Ia juga mengupas tentang kosmetika. Sederet produk kosmetika seperti deodoran, hand lotion, hingga pewarna rambut yang berkembang hingga kini, merupakan hasil karyanya.

Popularitas Al-Zahrawi sebagai dokter bedah yang andal menyebar hingga ke seantero Eropa. Tak heran, bila kemudian pasien dan anak muda yang ingin belajar ilmu kedokteran dari Abulcasis berdatangan dari berbagai penjuru Eropa. Sosok dan pemikirannya begitu dikagumi para dokter serta mahasiswa kedokteran di Eropa.

Pada abad ke-14 M, seorang ahli bedah Prancis bernama Guy de Chauliac mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter di Eropa hingga terciptanya era Renaissance. Hingga abad ke-16 M, ahli bedah berkebangsaan Prancis, Jaques Delechamps (1513 M – 1588 M) masih menjadikan Al-Tasrif sebagai rujukan.

Ibnu Khaldun dan Teori Evolusi
Nama satu ini memang sudah kondang, baik di dunia Timur maupun di belahan dunia Barat.
Abu Zayd 'Abd al-Rahman ibn Muhammad ibn Khaldun al-Hadrami, demikian nama lengkapnya, lahir 27 Mei 1332/732H dan wafat pada 19 Maret 1406/808H. Ia dikenal sebagai sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang monumental dan sangat terkenal adalah Muqaddimah.

Muqaddimah diakui sebagai karya yang sangat mengagumkan. Pengaruhnya begitu luar biasa, bukan hanya mewarnai pemikiran di dunia Islam, namun juga peradaban Barat. Orang Yunani menyebut karya Ibnu Khaldun itu sebagai Prolegomena. Sejumlah pemikir sepakat bahwa Muqaddimah adalah karya pertama yang mengkaji  filsafat sejarah, ilmu-ilmu sosial, demografi, histografi, serta sejarah budaya. IM Oweiss dalam buku berjudul Ibn Khaldun: A fourteenth-Century Economist menyebut Muqaddimah sebagai salah satu buku perintis ekonomi modern.

Dalam bukunya, Ibnu Khaldun juga membedah dan mengupas masalah teologi Islam, sains, dan secara khusus mengupas tentang studi biologi dan kimia dalam bab tersendiri mengenai sains. Dalam bidang biologi, secara khusus ia membahas teori evolusi. Menurutnya, dunia dengan segala isinya, memiliki urutan tertentu dan susunan benda. Ia mengaitkan antara penyebab dan hal-hal yang disebabkan, kombinasi dari beberapa bagian penciptaan dengan yang lain, dan transformasi dari beberapa wujud menjadi sesuatu yang lain.

Ibnu Khaldun bahkan membahas penciptaan dunia. Menurut dia, makhluk hidup berawal dari sebuah mineral kemudian berkembang dan berakal. Secara bertahap, kemudian berubah menjadi tanaman dan hewan. "Tahap terakhir mineral terhubung dengan tahap pertama dari tanaman, seperti tumbuhan dan tanaman tak berbiji. Tahap terakhir tanaman, seperti pohon kelapa dan tumbuhan yang merambat (pohon anggur), terhubung dengan tahap pertama binatang, seperti keong (siput) dan kerang yang hanya memiliki kekuatan sentuh.

Menurut Ibnu Khaldun, dunia binatang kemudian semakin meluas menjadi berbagai jenis. Dalam proses penciptaan bertahap, hewan/binatang akhirnya mengarah ke bentuk manusia, yang mampu berpikir dan mengartikan. "Tahap tertinggi manusia dicapai dari dunia kera, di mana kedua kecerdasan dan persepsi ditemukan, namun belum mencapai tahap refleksi dan berpikir sebenarnya," begitu Ibnu Khaldun menulis dalam sub bab bukunya.

Melihat tulisannya, boleh dikatakan bahwa apa yang selama ini kita pahami bahwa teori evolusi manusia ditemukan oleh Charles Darwin, ternyata kurang tepat. Darwin hidup antara tahun 1809-1882, sementara masa Ibnu Khaldun ratusan tahun sebelumnya, yakni antara 1332-1406.

Berkat Muqaddimah, Ibnu Khaldun juga dianggap sebagai bapak sejarah dan sosiologi. Ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee, menyebut Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Maarif dalam buku Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah, termuat dalam kitab itu. ''Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng," papar Syafii Maarif.

Dalam bukunya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan, dan perubahan sosial. Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi.

Praktis, pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Bahkan jauh sebelum masa Aguste Comte, pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat.

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. "Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial," papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.(rpb) www.suaramedia.com

Penemuan Amerika sebelum Colombus
Buku-buku sejarah dan ensiklopedia mencatat bahwa penemu benua Amerika adalah Christopher Columbus pada 1492. Percayakah Anda bahwa Admiral Zheng He atau Laksamana Cheng Ho,  sudah menjejakkan kakinya di benua itu 70 tahun lebih awal sebelum Colombus menancapkan bendera Castilian Spanyol.

Penjelajahan Ceng Ho hingga mencapai benua Amerika dilakukan antara tahun 1421 dan 1423, dengan membawa armada 100 kapal dan sekitar 28.000 anak buah kapal. Armadanya menyusuri jalur selatan melewati Afrika dan sampai ke Amerika, dengan kapal yang empat kali lebih besar dari kapal yang digunakan Colombus. Hal ini dibuktikan dalam seminar yang diselenggarakan oleh Royal Geographical Society di London, 15 Maret 2002, oleh seorang ahli kapal selam dan sejarawan bernama Gavin Menzies.

Predikat Colombus sebagai penemu Amerika, kian diragukan setelah meneliti sebuah buku harya ahli sejarah dan ahli geografi bernama Abul-Hassan Ali Ibn Al-Hussain Al-Masudi (871-957 M). Dalam buku berjudul Muruj Adh-dhahab wa maadin aljawhar (Padang Rumput dan Tambang Emas dari Jewells), itu, dikisahkan bahwa pada masa khalifah muslim memerintah Spanyol, sekitar 888-912 M, seorang navigator bernama Khashkhash Ibn Saeed Ibn Aswad asal Kordoba, berlayar dari Delba (Palos) pada 889 M, menyeberangi Samudera Atlantik dan mencapai wilayah yang tidak dikenal (ard majhoola) dan kembali dengan harta yang menakjubkan. Wilayah ini diperkirakan sebagai benua Amerika.

Sejarawan muslim lainnya bernama Abu Bakr ibn Umar Al-Gutiyya juga mencatat bahwa selama masa pemerintahan khalifah Islam di Spanyol, Hisham II (976-1009 M), seorang navigator bernama Ibnu Farrukh, berlayar dari Kadesh pada Februari 999 M ke Samudra Atlantik dan berlabuh di Gando (Great Canary) mengunjungi Raja Guanariga, dan terus ke arah barat di mana ia melihat dua pulau, Capraria dan Pluitana.

Penjelajah muslim diperkirakan telah berasimilasi dengan penduduk asli Amerika, dan meninggalkan sejarah peradaban suku Indian yang berpakaian jubah dan jauh dari keliaran. Seperti suku Cheerokee yang memakai surban di kepalanya. Sejarawan Dr. Yousef Mroueh menghitung, di Amerika Utara ada sekurangnya 565 nama berbau Islam pada nama kota, sungai, gunung, danau, dan desa. Di Amerika Serikat sendiri ada sekitar 484 nama, sementara di Kanada ada sedikitnya 81 nama berbau Islam.


Para Penemu Non-Eropa Lainnya

•    Aryabhata (476-550)
Ia seorang matematikawan dan astronom India pada masa kuno. Karyanya yang paling terkenal adalah Aryabhatiya (tahun 499, ketika ia berusia 23 tahun) dan Arya-siddhanta. Dia menemukan rumus-rumus phi dan cara menemukan luas segitiga, bundar, dan lain-lain pada masa itu. Ia juga dikenal sebagai seorang astronom, dan orang pertama yang berpendapat bahwa bumi itu bulat dan berputar pada sumbunya. Aryabhata juga menciptakan kalender yang sangat akurat, dan pertama kali menganjurkan agar penghitungan hari dimulai dari tengah malam. Satelit pertama India yang diluncurkan pada 1975 dinamakan Satelit Aryabhata.

•    Sushruta (600 Tahun SM)
Dialah orang yang dianggap sebagai Bapak Operasi Bedah Pleastik dan Katarak. Sushruta menulis karya medis dalam bahasa Sansekerta, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama masa kekhalifahan Abbasiyah tahun 750 Masehi. Terjemahan bahasa Arab karya mereka dibawa oleh pedagang- pedagang Arab sampai ke Eropa. Hingga akhirnya beberapa daerah di Eropa mulai familiar dengan teknik bedah rekonstruksi Sushruta. Operasi plastik untuk pertama kalinya di dunia barat pada tahun 1815, dilakukan oleh Joseph Constantine Carpue, yang sebelumnya menetap selama 20 tahun di India untuk mempelajari metode operasi plastik setempat.

•    Shen Kuo (1031-1095)
Hidup di masa Dinasti Song di China, Shen Kuo adalah seorang ilmuan, matematikawan, pembuat peta, ahli astronomi, insinyur, sekaligus negarawan. Ia orang pertama yang menemukan arah Utara melalui eksperimen menggunakan kompas. Di bidang arkeologi, ia yang mengabnjurkan penggunaan metallurgy, geometri dan optic untuk mempelajari artefak dan peninggalan kuno.

•    Zhang Heng (78-139)
Ia adalah seorang adalah astronom, matematikawan, penemu, geograf, kartograf, artis, penyair, dan negarawan yang berasal dari Nanyang, Henan, dan hidup selama masa Dinasti Han Timur (CE 25–220) di Cina. Ia mengajukan banyak konsep yang tergolong maju untuk masanya, seperti, bulan tidak memancarkan cahaya sendiri melainkan memantulkan sinar matahari, dan menjelaskan fenomena gerhana bulan. Ia disebut sebagai penemu “Armillary Sphere” pertama di dunia, yaitu alat untuk perhitungan perbintangan. Ia mengukur satu tahun matahari sama dengan 365 dan seperempat hari, mendekati perhitungan ahli astronomi modern yang memperkirakan 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik. Ia juga dikenalk sebagai penemu seismometer, atau alat pendeteksi gempa bumi.

•    Ibn al-Haytham (965-1039)
Dia orang pertama yang menggambarkan seluruh detail bagian indra penglihatan manusia.  Ia memberikan penjelasan ilmiah tentang bagaimana proses manusia bisa melihat. Teorinya terkenal ketika ia mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Melalui Kitab Al Manadhir, teori optik pertama kali dijelaskan. Hingga 500 tahun kemudian, teori yang fenomenal ini dikutip banyak ilmuwan sekelas Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Copernicus, dan bahkan Sir Isaac Newton. Karya monumental lainnya adalah ketika ia meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura. Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Di tahun 1572, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus. Ilmuan asal Basra, Irak ini, di dunia barat dikenal dengan nama Alhazen.

•    Imhotep (2650 – 2600 SM)
Imhotep adalah arsitek dan dokter pertama yang dikenal dalam sejarah. Sebagai salah satu tangan kanan raja Djoser, ia membuat Piramida Djzosèr di Saqqara, Mesir. Ia adalah orang yang pertama kali menggunakan tiang dalam arsitektur. Imhotep juga dikenal sebagai pendiri kedokteran Mesir kuno.



•    Abbas Ibnu Firnas (abad ke-9)
Jika dunia mengenal Wright bersaudara sebagai penemu pesawat terbang, maka di di dunia Timur, Abbas Ibnu Firnas adalah orang pertama yang mencoba membuat konstruksi sebuah pesawat terbang dan menerbangkannya. Bedanya, masanya jauh lebih dulu dari Wright bersaudara, bahkan dari Leonardo Da Vinci dengan mesin terbangnya. Dalam percobaan terbangnya yang terkenal di Masjid Agung Kordoba, Spanyol, Firnas terbang tinggi untuk beberapa saat sebelum kemudian jatuh ke tanah dan mematahkan tulang belakangnya.

•    Al-jazari (abad ke-12)
Teknologi poros dan engkol ditemukan oleh Al-jazari pada abad ke-12, kemudian digunakan dalam penggunaan sepeda hingga kini. Poros engkol adalah perangkat yang diterjemahkan ke dalam gerakan berputar linier dan merupakan pusat dari banyak mesin di dunia modern. Kitab pengetahuannya tentang Perangkat Mekanikal Cerdik (1206) menunjukkan ia juga menemukan atau menyempurnakan penggunaan katup dan piston, menyusun beberapa jam mekanis pertama didorong oleh air dan beban, dan merupakan ayah dari robotika. Salah satu dari 50 penemuannya adalah kunci kombinasi.

Artikel ini dimuat di Majalah Men's Obsession Edisi 110, Maret 2013



Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     

 

Popular

 

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250