Search:
Email:     Password:        
 





PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. Kian Kokoh di Regional

By Benny Kumbang (Editor) - 24 March 2014 | telah dibaca 1633 kali

Aksi ekspansi internasional yang dilakukan Telkom menjadi bukti kehandalan BUMN ini. Setelah berhasil menjejakan kakinya di Asia Tenggara, kini Telkom bersiap untuk melangkah labih jauh lagi. Maka pasar Timur Tengah dan USA pun jadi sasaran berikutnya

Sebelumnya, ekspansi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menggarap pangsa pasar dunia telah berhasil masuk ke tujuh negara. Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kinerja perseroan menjadi 100 perusahaan telekomunikasi terbesar dunia.

Melalui anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin), Telkom manjadi industri telekomunikasi yang berhasil masuk ke Singapura, Hong Kong, Timor Leste, Australia, Malaysia, Taiwan, dan Myanmar. Layanan voice, short massage service (SMS), serta jasa lainnya, mendapat respon positif dari warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri.

Ada tiga instruksi Presiden SBY yang diberikan kepada PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom), yakni harus masuk ke dalam jajaran Fortune 500, menjadi emiten dengan predikat blue chips, dan membangun infrastruktur broadband dari Sabang hingga Merauke. Sedangkan sebagai BUMN, Telkom juga mendapat instruksi langsung dari Menteri BUMN Dahlan Iskan, yaitu memperkuat ketahanan nasional, menjadi economic driver, dan menjadi champion di pentas global.

Dua instruksi tersebut sejalan dengan visi Telkom, yaitu menjadi perusahaan yang unggul dalam penyelenggaraan Telecommunication, Information, Media, Edutainment & Service (TIMES) di kawasan regional. Telkom selama ini telah memperlihatkan pertumbuhannya yang mengesankan, tetapi pertumbuhan tersebut akan lebih cepat lagi jika BUMN ini menjadi pemain di regional bahkan global. Telkom hanya akan mampu tumbuh double digit dengan langkah international expansion terutama ke negara-negara yang masih prospektif.

Dalam melakukan international expansion, Telkom akan tetap fokus dengan portofolio–nya, TIMES (Telecommunication, Information, Media, Edutainment, Services). Strategi yang diterapkan adalah business follow the money, business follows the people, business follow the traffic, dan business follow the network.
Untuk business follow the people contohnya, Telkom melihat dimana masyarakat Indonesia itu berada.

Contoh yang baik adalah ekspansi ke Hong Kong. Di negara itu, terdapat sekitar 200 ribu orang Indonesia. Dari jumlah itu, diyakini jika Telkom memberikan layanan di sana, maka orang Indonesia akan memilih produk dan layanan Indonesia juga. Hipotesa itu berjalan dengan baik. Ketika Telkom meluncurkan Kartu AS 2 in 1 di Hong Kong. Hanya dalam waktu dua bulan, pelanggan sudah mencapai 24 ribu orang. Ini sangat cepat untuk produk yang relatif baru. Di Hong Kong, Telkom hadir dengan skema bisnis Mobile Virtual Network Operator (MVNO).

Dari sisi pelanggan, Telkom Hong Kong mengalami peningkatan sebesar 126,4% dengan perbandingan pelanggan sebanyak 26.683 di tahun 2012 menjadi 60.473 pelanggan di tahun 2013. Dengan jumlah 60.473 pelanggan, Telkom menghasilkan produksi voice service sebesar 139.879 ribu menit dan SMS sebesar 41.892 ribu SMS. Peningkatan tersebut disebabkan oleh implementasi program kartu AS 2in1 atau One Card Two Number (1C2N) yang merupakan sinergi dengan Telkomsel dan implementasi direct sales.

Adapun di Timor Leste, Telkom masuk dengan bendera Telkomcel. Telkom Timor-Leste resmi berioperasi secara komersial sejak 16 Maret 2013. Untuk operasional bisnisnya, Telkom Timor-Leste memperoleh lisensi selama 15 tahun untuk layanan mobile telecommunications di frekuensi 850 MHz, 900 MHz, 1800 MHz, dan 2,1 GHz dan Registration Service Provider dari Democratic Republic of Timor Leste di pertengahan 2012.

Dengan mengantongi lisensi tersebut, Telkom langsung mengembangkan jaringan 2G dan 3G di Timor Leste. Sehingga pada akhir 2013, Telkom berhasil mengoperasikan 107 base station dan telah menjangkau 92% populasi penduduk di Timor Leste.

Dari sisi pelanggan, Telkom Timor Leste memiliki 84.407 pelanggan dengan jumlah produksi layanan suara sebesar 13.068 ribu menit dan SMS sebesar 2.812 ribu SMS. Pencapaian yang cukup baik ini didorong oleh keandalan infrastruktur dan penerapan program marketing yang tepat yaitu One Community.

Singapura merupakan negara pertama yang menjadi target ekspansi internasional Telkom dimana layanan data menjadi andalannya. Layanan data merupakan layanan koneksi bandwidth yang menghubungkan antara Indonesia dengan tujuan internasional lainnya dengan berbagai jaringan digital melalui sistem kabel optik bawah laut. Komposisi layanan data meliputi IP Transit, IPLC/IEPL, Metro International dan Global IP VPN termasuk Network to Network Interface (NNI) disamping keberadaan layanan data center-nya.

Selama tahun 2013, volume penjualan layanan data sebesar 468.297 Mbps, mengalami peningkatan sebesar 118,0% dibandingkan tahun 2012. IP Transit meningkat sebesar 118,0 % dari tahun sebelumnya, hal yang sama juga terjadi terhadap volume penjualan IPLC/IEPL yaitu meningkat sebesar 121,7% dan Global IP VPN meningkat sebesar 42,6%.

Membangun Sistem Kabel Laut Internasional Dalam ekspansi itu, Telkom tidak hanya mendirikan kantor cabang di luar negeri, melainkan juga membangun infrastruktur yang dapat menghubungkan Indonesia dengan negara lain. Pada 7 Maret 2014 di Kuala Lumpur, Telkom yang diwakili Telin melakukan penandatangan kontrak kerja bersama pembangunan Sistem Kabel Laut International yang menghubungkan Asia Tenggara dan Eropa atau South East Asia - Middle East -Western Europe 5 (SEA-ME-WE 5).

Penandatangan kerjasama ini terhitung bersejarah. Pasalnya telah lebih dari 10 tahun sejak tahun 2000 Indonesia tidak terlibat dalam pembangunan Sistem Kabel Laut International yang menghubungkan Asia Tenggara dan Eropa. Kini melalui mega proyek South East Asia - Middle East -Western Europe 5 (SEA-ME-WE 5) Submarine Cable System, Indonesia patut berbangga karena telah menjadi salah satu negara yang turut serta dalam menandatangani kontrak kerja pembangunan SEA-ME-WE 5.

Submarine Cable System SEA-ME-WE 5 merupakan sistem kabel bawah laut yang mempunyai panjang sekitar 20.000 KM yang membentang dari Asia Tenggara ke Eropa, dimana sebanyak 13 perusahaan telekomunikasi dari Asia dan 2 perusahaan dari Eropa bergabung dalam konsorsium pembangunannya. Mega proyek ini juga nantinya akan menghubungkan 17 negara yang dilaluinya. Kabel Laut SEA-ME-WE 5 akan memiliki percabangan ke Indonesia dengan titik pendaratan (landing station) di Dumai dan Medan. Dengan terhubungnya Indonesia langsung dengan SEA-ME-WE 5 Submarine Cable System, kualitas kecepatan layanan data dan internet dari Indonesia ke Eropa akan makin meningkat dan menjadi yang terbaik dari yang pernah ada.

Kabel Laut SEA-ME-WE 5 akan terintegrasi dengan system kabel laut yang telah dimiliki Telin sebelumnya yaitu Asia America Gateway (AAG), South East Asia Japan Cable System (SJC), Batam Singapore Cable System (BSCS), Dumai Malaka Cable System (DMSC) dan sistem kabel domestik lainnya sehingga akan menciptakan konfigurasi network yang komprehensif yang menghubungkan Asia, Eropa, USA dan Indonesia dengan kualitas yang tak tertandingi. Pembangungan sistem kabel bawah laut ini merupakan bagian dari kontribusi Telkom dalam mendukung suksesnya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MPE3I) serta keseriusan Telin dalam menguatkan visi Telin untuk menjadi “The World’s Hub for Telecommunication, Information, Media, Edutainment and Services (TIMES)” dan merupakan bagian dari rencana Telin dalam ekspansi dalam bidang network yang tertuang dalam salah satu masterpiece Telin yaitu Indonesia Global Network (IGlow). Sebagai bagian dari Telkom Group, Telin siap memperkuat positioning Telkom dalam bisnis internasional.

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

   

 

Popular

 

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250