Search:
Email:     Password:        
 





13 CEO Pilihan

By Benny Kumbang (Editor) - 21 February 2017 | telah dibaca 3692 kali

13 CEO Pilihan

 

Prestasi tertinggi dari seorang Chief Executive Officer (CEO) antara lain tak hanya ketika dia berhasil membawa perusahaannya establish, tapi juga menguntungkan. Dengan kata lain, dalam dunia korporasi, pengaruh CEO juga ikut menentukan perjalanan suatu perusahaan. Parameter ini bukan hanya berlaku bagi perusahaan swasta, perusahaan pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pun demikian. Jika dua indikator itu saja sudah terpenuhi, maka layaklah ia ditahbiskan sebagai CEO berprestasi. Keberadaan para CEO berprestasi di Indonesia yang terbilang tidak sedikit, tentu saja sesuatu yang patut dibanggakan. Bangga bukan hanya karena kita punya banyak CEO hebat, tapi juga karena keberadaan mereka sejatinya ikut memberikan andil bagi perjalanan pembangunan perekonomian nasional. Kenapa? Karena Pemerintah, bersama swasta, dan BUMN merupakan tiga pilar utama penggerak perekonomian kita. Untuk menggerakkan tiga pilar ini, tentu dibutuhkan sosok CEO yang mumpuni, tidak hanya berkemampuan manajerial, melainkan juga kuat dalam visi pembangunan. 

Dengan begitu, jelaslah bahwa CEO memiliki peran penting bagi perekonomian. Karenanya, sangat wajar bila kiprah mereka mendapat apresiasi. Tentu kita berharap, ke depan muncul CEO-CEO baru yang berkualitas. Tidak hanya di level nasional, melainkan juga di tingkat internasional.

Berangkat dari pemahaman itulah, Men’s Obsession dalam edisi kali ini mencoba mengangkat sosok CEO berprestasi sebagai cover story. Melalui rapat redaksi dan tim ahli kami, maka disepakati ada 13 orang CEO yang kami anggap sukses dan berhasil menjalankan perannya. Kenapa harus ada 13 orang CEO? Tak ada maksud lain, karena angka 13 diambil terkait juga dengan usia majalah ini yang ke-13 tahun. Mereka, adalah para CEO yang mampu membawa bahtera bisnis perusahaannya melaju dengan pesat di tengah gelombang perekonomian global yang melemah di tahun dan melewati tahun 2016 dengan sukses. n

 

Achmad Baiquni Sosok di Balik Kesuksesan BNI

Naskah: Giattri F.P., Foto: Dok. Humas BNI

Di dunia perbankan tanah air siapa yang tak mengenal sosok Achmad Baiquni? Pria kelahiran 1957 silam ini sudah lama berkelana menjadi bankir. Rekam jejaknya yang baik membuat dirinya dipercaya pemerintah menduduki posisi sebagai Direktur Utama Bank BNI pada tahun 2015. Tak salah, karena kemudian ia berhasil membawa bank berkode emiten BBNI tersebut meraih kinerja mengkilap.

 

Jabatan yang diraihnya selama ini menjadikan ia terpacu untuk menunjukkan kepiawaiannya sebagai bankir kawakan. Terlebih lagi, alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung dan peraih Master of Business Management dari Asian Institute of Management, Makati, Filipina ini juga dikenal sebagai  seorang pekerja keras.


Dengan segala pengalaman yang dimiliki Baiquni, maka tak ayal kinerja BNI pun cemerlang. Tengok saja performa kinerja BNI pada akhir tahun 2016 dimana bank ini mampu  mencatat laba bersih sebesar Rp 11,34 triliun atau tumbuh 25,1% dibandingkan laba pada akhir tahun 2015 yang tercatat sebesar Rp 9,07 triliun. Kenaikan laba bersih yang signifikan ini ditopang oleh pertumbuhan Pendapatan Bunga Bersih (NII) dan Pendapatan Non Bunga yang masing-masing melonjak 17,4% dan 23,1%.


 Pendapatan Bunga Bersih (NII) yang diperoleh BNI tahun 2016 mencatat kenaikan dari Rp 25,56 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 29,99 triliun di tahun 2016 atau naik 17,4% sehingga menyebabkan BNI mampu menjaga margin bunga bersih atau NIM di level 6,2%. Pendapatan Non-Bunga juga naik sebesar 23,1% dari Rp 6,98 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 8,59 triliun pada akhir tahun 2016, terutama didukung oleh kenaikan fee yang diperoleh dari transaksi trade finance, pengelolaan rekening dan debit card, serta fee yang diperoleh dari bisnis bancassurance. 


 Di tengah lemahnya pertumbuhan laba perbankan yang per November 2016 lalu mencapai 9,1% year on year (yoy), BNI mampu mencatat pertumbuhan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 11,34 triliun atau tumbuh 25,1%.


Sementara itu, pada akhir 2016, Total Aset BNI menembus angka Rp 603,03 triliun atau tumbuh Rp 94,44 triliun (18,6%) diatas total aset pada akhir tahun 2015 yang tercatat sebesar Rp 508,59 triliun. Pertumbuhan Aset BNI terutama ditopang antara lain oleh pertumbuhan DPK dan  Simpanan dari Bank lain. DPK yang berhasil dihimpun mencapai Rp 435,55 triliun pada akhir tahun 2016 atau naik 17,6%. Pertumbuhan DPK tersebut hampir setara dengan dua kali lipat dari pertumbuhan DPK industri perbankan pada November 2016 yang tercatat meningkat 8,4% (yoy).

Alex Janangkih Sinaga Mencetak Market Capitalization, Menuai Apresiasi

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa

Tak salah kalau Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) di Jakarta, Jumat 19 Desember 2014 mengangkat Alex Janangkih Sinaga sebagai direktur utama perusahaan telekomunikasi milik negara tersebut. Pasalnya, pengganti Arief Yahya ini tak hanya mampu mengakselerasikan roda  bisnis Telkom semata tapi juga meningkatkan performa bisnis BUMN ini, di tengah terjadinya pelambatan ekonomi global sekalipun.

 

Kurang lebih 3 tahun kepemimpinan Alex J. Sinaga, arah bisnis Telkom Group telah menunjukkan progres yang signifikan. Sejumah keberhasilan yang diraih mampu mendongkrak nilai pasar (market capitalization). Ambil contoh, jika pada tahun 2014 market capitalization Telkom Group mencapai Rp.288.8 triliun, maka tahun 2015 terus mengalami pertumbuhan hingga menembus angka Rp. 312.9 triliun. Melebihi target Rp. 300 triliun yang telah dicanangkan.

 

Terakhir, hingga akhir tahun 2016, market capitalization Telkom Group terus tumbuh dan menembus Rp. 401.8 triliun. Begitu juga dengan pendapatan, untuk pertama kalinya Telkom Group berhasil menembus angka Rp. 102.5 triliun pada tahun 2015 dan menjadikan Telkom Group sebagai kelompok korporasi dengan pendapatan di atas Rp. 100 triliun.


Kepemimpinan Alex juga yang kemudian membuat perusahaan ini tumbuh triple double digit di Triwulan III tahun 2016 ini dengan membukukan pendapatan sebesar Rp. 86.19 triliun (naik sebesar 13.8% Year of Year - YoY), EBITDA sebesar Rp. 44.38 triliun (naik sebesar 20% YoY), dan laba bersih Rp. 14.73 triliun (naik sebesar 27.6% YoY).


“Pencapaian triple double digit growth ini merupakan prestasi luar biasa yang belum pernah diraih Telkom Group dalam 9 tahun terakhir,” ucap Alex.


Pencapaian tersebut tentu tak lepas dari sikap profesionalisme dan leadership seorang Alex. Dimana ia selalu mengingatkan kepada seluruh jajarannya agar dalam menjalankan roda bisnis korporasi, seluruh jajaran Telkom Group wajib mengimplementasikan budaya perusahaan yaitu The Telkom Way yakni Philosophy to be the best, Principle to be the Stars dan Practices to be the Winner.

Anthony Salim Pebisnis Sejati di Tengah Krisis

Naskah: Indah K., Foto: Istimewa

Mampu melewati krisis berkali-kali, tak membuat Anthony Salim berhenti. Ia justru tetap maju membawa PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk (Indofood) dalam jajaran perusahaan makanan paling berpengaruh di Indonesia. Beragam produk berlogo Indofood bertengger hampir di seluruh tempat. Baik supermarket, minimarket, hingga warung eceran.

 

Boleh dibilang Anthony, Sang CEO, adalah pebisnis sejati di tengah krisis. Berkat kegigihannya, produk yang dihasilkan oleh Indofood telah dipasarkan tidak hanya di Asia, tapi juga merambah Australia dan Eropa.
Sempat mengalami kesulitan di masa krisis moneter tahun 1998, tak lantas membuat Anthony menyerah. Dampak yang timbul dari krisis tersebut tidaklah main-main. Salim Grup harus menanggung hutang sebesar Rp52 triliun yang membuatnya harus melepaskan beberapa perusahaan.


Meski harus melepas perusahaan miliknya, Anthony yang dipercaya menggantikan ayahnya, Sudono Salim, tetap berusaha memberikan hasil terbaik bagi perusahaan yang masih ia kelola.
Krisis yang dilewati Anthony tak hanya saat krisis moneter. Tapi juga krisis ekonomi global tahun 2008 yang membuat harga berbagai komoditas menurun. Pengaruh yang paling dirasakan adalah menurunnya harga tepung yang memengaruhi penjualan produknya.


Kerja kerasnya membangun Indofood membuahkan hasil yang tidak mengecewakan. Pria kelahiran 25 Oktober 1949, ini berhasil membawa Indonesia menjadi salah satu produsen mie instan terbesar di dunia. Ia juga dinobatkan sebagai salah seorang terkaya di Indonesia.


Perusahaan yang dinahkodai oleh Anthony ini telah menjadi salah satu produsen produk makanan di Indonesia selama 27 tahun. Banyak produk yang dihasilkan mulai dari makanan ringan, susu, minuman, bumbu racik, hingga tepung dan pasta.


Tidak cukup sampai di situ, ia menggerakkan Indofood terus menghasilkan produk terbaru. Inovasi yang unggul dan berbeda dengan perusahaan lain juga terus dirancang. Hal ini bisa dilihat dari merajalelanya mie instan berlogo Indofood yang menguasai pasar di Indonesia.

Asmawi Syam Sukses Salurkan 91,1 Persen KUR Nasional

Naskah: Aprilia Rahapit, Foto: Dok. Humas BRI

Asmawi Syam dipercaya memimpin salah satu bank terbesar di Tanah Air, dengan aset yang menembus lebih Rp 1.000 triliun atau lebih tepat Rp.1.003,6 triliun pada Tahun 2016. Pencapaian ini terbilang luar biasa dibawah kepemimpinannya.

 

Pria kelahiran Makassar ini, bukanlah orang baru di BRI. Ia lama berkarier dan besar di BRI sejak tahun 1980. Sebelum memimpin BRI, ia pernah menjabat posisi lainnya seperti Kepala Divisi Bisnis Umum, Kepala Divisi Consumer Banking, Pemimpin Wilayah Bandung dan Denpasar (Bali, NTT, NTB, Timor Timur).


Kemampuannya di industri perbankan tidak perlu diragukan lagi. Ia habiskan waktu dengan mengasah ilmu perbankan dimulai dari meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Hasanudin – Makassar pada tahun 1979, Sekolah Pimpinan Bank (Sespibank) dari Institut Bankir Indonesia tahun 2000, dan Magister Manajemen di Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 2003.


Ia juga meneruskan pendidikan demi bidang yang dicintainya dengan mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan. Beberapa diantaranya yakni “From State Owned Enterprise to World Class Competitors Creative Innovative and State Owned Firms” di Filipina; “Card and Payment” dalam European Financial Management Marketing (EFMA) di Paris, Perancis; Restrukturisasi dan Peningkatan Kinerja BUMN di Jakarta; “Enhancing the Power of Enterprise Risk Management in Creating A Sound Bank and Financial Risk Integration” di Stockholm, dan pendidikan perbankan lainnya.  


Passionnya terhadap dunia perbankan dan tidak neko-neko dengan apa yang dihadapinya membuat ia terus fokus dalam menjalankan kariernya. Hingga akhirnya ia terpilih menjadi Direktur Utama BRI.


“Melalui kepengurusan baru, perseroan siap untuk terus memberikan value added yang terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan serta lebih siap lagi menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN yang akan dilaksanakan pada akhir 2015,” ungkap Asmawi usai dilantik menjadi Dirut BRI.


Ia merupakan sosok pria yang siap dengan segala hal, bahkan sebelum menjadi seorang pemimpin ia sudah bertekad untuk memajukan BRI sebagai bank terbaik di Tanah air. Dan kini target demi target harus ia capai di tengah persaingan ketat dan menantang.


Di Tahun 2017 Asmawi menargetkan perseroannya masih menjadi bank yang paling dominan dalam penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemerintah sendiri sudah menganggarkan penyaluran KUR tahun ini sebesar Rp 110 triliun. “Untuk 2017, BRI menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp 71 triliun,” tegasnya.

Dian Siswarini CEO XL Dibalik Revolusi Jaringan 4.5G

Naskah: Aprilia R., Foto: Fikar Azmy/Istimewa

Dipercaya memimpin salah satu provider terbesar di Tanah Air, Dian Siswarini berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas jaringan data. Berbagai usaha dan kerjakerasnya, membawa perusahaan yang dinahkodainya ini melejit hingga dinobatkan berbagai penghargaan.

 

CEO PT XL Axiata Tbk (XL) Dian Siswarini menjadi sosok utama di balik keberhasilan perusahaan penyedia layanan selular terbesar di Asia Pasifik ini. Ia mulai menjabat secara resmi sejak 1 April 2015 dan mulai mengelola perusahaan dengan jutaan pelanggan. Tentu saja dari pencapaian dalam kariernya tersebut, Dian bukan perempuan biasa.


Sejak awal memimpin, Dian fokus mengimplementasikan program Revamp, Rise & Reinvent (3R) yang ia mulai sejak awal 2015 saat menjadi Deputy CEO melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di perseroannya tersebut.


3R ini memiliki arti Revamp yang merupakan pengubahan model bisnis pencapaian jumlah pelanggan dari volume ke value dan strategi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas produk. Sementara Rise berartikan meningkatkan nilai brand XL melalui pendekatan dual-brand dengan AXIS, guna menyasar segmen pasar yang berbeda. Dan Reinvent, yakni menstimulasi dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.


“Jelas strategi 3R adalah strategi yang tepat untuk membangun bisnis XL menjadi lebih berkelanjutan dan menguntungkan,” ungkap Dian.


Menggalakkan program tersebut membuat perusahaan yang dinahkodainya ini terus berupaya menjalankan berbagai strategi demi melayani kelancaran berkomunikasi seluruh masyarakat. Bercermin pada kuartal III 2016 jumlah pelanggan XL telah bertambah 1 juta, jika ditotalkan mencapai 45 juta, atau 8 persen lebih tinggi dari basis pelanggan di tahun 2015.


Dian mengungkapkan, pencapaian yang diraih tersebut merupakan bagian implementasi fokus meraih pelanggan secara tepat dan sesuai target yang dirancang.


“Kami sangat senang dengan pencapaian pertumbuhan pelanggan data. Kami akan terus bekerja keras untuk meningkatkan kinerja 2017 yang lebih baik dan lebih kuat dari sebelumnya,” kata Dian optimis.


Sepanjang tahun 2016, Dian telah membuat XL berhasil mencatat keuntungan sebesar Rp 376 miliar, pencapaian ini bisa terbilang fantastis sebab berbanding terbalik dengan kondisi tahun sebelumnya yang mengalami kerugian senilai Rp 25 miliar.

Edi Sukmoro Terus Berakselerasi, KAI Tak Henti Berinovasi

Naskah: Sahrudi, Foto: Dok. Humas PT KAI

Sejak dulu sampai kini, kereta api menjadi moda favorit rakyat. Meski performa perusahaan yang mengurus kereta api itu dalam perjalanannya pernah mengalami pasang surut, tapi tetap saja dibutuhkan. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memahami itu dan terus bergerak, berakselerasi dengan kebutuhan masyarakat serta berinovasi sampai kemudian rakyat memberikan apresiasi.

 

Di bawah kepemimpinan Edi Sukmoro sebagai Direktur Utama PT KAI, perusahaan BUMN bidang transportasi itu tak hanya eksis menjaga kesuksesan pemimpin sebelumnya, tapi juga meningkatkan kinerja dan pelayanan yang mumpuni.


Sejak ditunjuk menjadi pucuk eksekutif di PT KAI, Edi mengaku optimis meskipun tantangan yang akan dihadapi cukup besar karena harus menggantikan Ignasius Jonan, sosok yang diakuinya mempunyai kinerja yang mumpuni dan memiliki reputasi yang bagus dalam membenahi perusahaan pelat merah tersebut. Menurutnya, hal itu bukan perkara yang gampang untuk dilakukan mengingat perubahan yang terjadi di PT KAI tak semudah membalikkan telapak tangan.


“Saat saya diberikan kepercayaan memimpin PT KAI, ada tantangan tersendiri yang saya rasakan. Namun, saya optimis, dengan dukungan seluruh insan PT KAI, kami bisa meningkatkan kinerja dan pelayanan kereta api,” ujar Edi.
Edi mengakui bahwa kereta api Indonesia berubah drastis di bawah kepemimpinan Jonan. Namun, ia harus siap memimpin PT KAI dan meneruskan perjuangan tersebut untuk memberikan gebrakan pelayanan kepada masyarakat. Syukurnya, dengan kemampuan leadership yang juga baik didukung direksi-direksi yang mumpuni dan seluruh pegawai PT KAI, ia kini sukses memimpin perseroan ini dan melahirkan berbagai inovasi dan kemajuan yang kian memudahkan masyarakat.


Sejak menjabat 28 Oktober 2014, ia mampu menjaga eksistensi bisnis dan pelayanan PT KAI secara baik. Performa perseroan berada pada posisi yang bagus. Selama tahun 2016, PT KAI berhasil mengangkut sebanyak 350 juta penumpang (unaudited). Pada beberapa hajatan besar seperti Angkutan Lebaran 2016 misalnya, PT KAI berhasil mengangkut 5,48 juta penumpang, meningkat 7,3% dari jumlah penumpang tahun sebelumnya yakni sebanyak 5,10 juta penumpang. Sedangkan pada Angkutan Natal 2016 & Tahun Baru 2017, PT KAI berhasil mengangkut 4,6 juta penumpang, meningkat 12,3% dari masa angkutan Nataru tahun sebelumnya yakni 4,1 juta penumpang. Kedua masa angkutan penting itu pun dilaksanakan dengan predikat zerro accident yang artinya PT KAI berhasil melaksanakan perjalanan KA dengan selamat dan aman.


PT KAI juga melakukan beberapa inovasi seperti Check-in Mandiri dimana boarding pass yang tercetak digunakan untuk menggantikan tiket konvensional yang selama ini digunakan; Pre-order Meals dimana para pengguna jasa KA dapat memesan makanan dan minuman pre order saat memesan tiket melalui aplikasi KAI Access ataupun melalui website https://tiket.kereta-api.co.id/; Kartu Rail Pay yang merupakan e-money (uang elektronik) bagi membership PT KAI dan loyalty program yang dapat digunakan sebagai alat pembelian tiket KA jarak jauh, pembelian tiket pesawat, tiket kapal laut, dan tiket bus Damri, dan bisa dipakai pada KRL Jabodetabek, KA bandara, bus Transjakarta, bus Transjogja, bus Batik Solo Trans, serta LRT. Rail Pay juga dapat digunakan untuk pembayaran jalan tol, pembayaran parkir, pembelian BBM di SPBU Pertamina, belanja di toko-toko retail, pembayaran tagihan PLN, Telkom, pay TV, dan lain-lain.

Elfien Guntoro Membawa Pelni Keluar dari Keterpurukan

Naskah: Popi Rahim, Foto: Dok. Rizki Priya/Istimewa

Tak salah kalau ada yang menilai Elfien Guntoro adalah CEO ‘spesialis’ memoles kinerja  perusahaan. Betapa tidak? PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) yang semula terus merugi, di bawah nakhodanya perusahaan plat merah ini berhasil mencetak kinerja cemerlang.

 

Elfien yang menjabat Direktur Utama PT Pelni periode 2015-2020 bukanlah wajah baru di jajaran perseroan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ia pernah menjadi Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha PT Pelni semasa kepemimpinan Menteri BUMN Dahlan Iskan. Tak heran, ia piawai mengatasi permasalahan PT. Pelni hingga keluar dari keterpurukan.


Jika dua tahun lalu PT Pelni mengalami kerugian hingga Rp 634 miliar. Hingga akhir tahun 2016, PT Pelni menargetkan keuntungan sebesar Rp 200 miliar. Target tersebut naik dua kali lipat dibanding capaian pada tahun lalu yang hanya berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp100miliar. Elfien optimistis laba tersebut tercapai karena kondisi hingga November 2016 telah mencapai Rp 185 miliar. Optimistis juga dirasakan Elfien memasuki tahun 2017, ia menargetkan laba PT Pelni tembus Rp 305 miliar.


Elfien mengaku, ia sempat menghindar saat ditawari menjadi orang nomor 1 di PT. Pelni karena melihat kerugian yang cukup tajam di tubuh perseroan itu. Namun, ia optimis, kalau didukung dengan kinerja dan integritas yang baik, pasti perusahaan itu dapat kembali berjaya. “Karena ini amanah yang saya harus lakukan,” tegasnya.


Berbagai terobosan juga dilakukan Elfien dalam mengembangkan PT Pelni sehingga  meraih kemajuan yang signifikan. Tentunya hal tersebut ia lakukan dengan penuh perjuangan.

Elvyn G. Masassya Membawa IPC Menuju World Class Port

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto/Istimewa

Diberi amanah menjabat Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC sejak April 2016 bukanlah menjadi hal baru bagi Elvyn G. Masassya. Sudah banyak makan asam garam dalam memimpin perusahaan sebelumnya, menjadikannya tahu betul apa yang harus dilakukan pada Pelindo II. Tak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan bulan, Elvyn mampu mendongkrak kinerja perusahaan. Ya, bersama timnya, ia berjibaku, bekerja ekstra keras membawa IPC menjadi perusahaan pelabuhan berkelas dunia.    

 

Saat ditemui Men’s Obsession akhir Januari lalu, Elvyn tampak sangat bugar. Ia tampil sederhana dengan kemeja putih polosnya, namun tanpa menghilangkan aura sang pemimpin. Senyuman manis dan sikap ramah yang ditunjukkan selama sesi wawancara sungguh menjadikan waktu sesi wawancara yang berlangsung selama lebih kurang satu jam ini, tak terasa. Terlebih keindahan pemandangan suasana pelabuhan dari kaca jendela ruang kerjanya yang berada di lantai 7 gedung Pelindo II membawa pengalaman baru yang jarang sekali ditemui. “Bagus yah pemandangannya. Ini kalau malam seperti di Hongkong,” ucap Elvyn seraya tersenyum.


Ya, di tangan Elvyn, pelabuhan Tanjung Priok kini tak lagi menyeramkan, melainkan sudah tertata sangat rapih. Elvyn bercerita, sejak awal memimpin pada April 2016 lalu, ia berpikir keras bagaimana membuat jasa pelabuhan ini menjadi satu sektor yang reputable, tak hanya untuk skala nasional namun internasional. Karena menurutnya, fungsi pelabuhan sebagai tempat keluar masuknya arus barang, ekspor impor internasional, merupakan potret wajah Indonesia.  


Untuk itu, Elvyn melakukan berbagai langkah strategis pada IPC yang terangkum pada empat hal utama, yakni, meneruskan yang sudah baik (going concern), meluruskan yang belum lurus (governance), menyelesaikan yang belum selesai (pending matters/outstanding issues), dan mengerjakan yang belum sempat dikerjakan (business development).


Selanjutnya, ia melakukan pembenahan internal yang diawali dari penajaman vision dan membuat roadmap untuk 5 tahun (2016 – 2020). “Vision kita pertajam menjadi pengelola pelabuhan kelas dunia yang unggul dalam operasional dan pelayanan dengan kata kunci visi hanya tiga, world class, excellent at operations, excellent at services. Dan untuk sampai ke world class port itu saya menyiapkan roadmap untuk lima tahun mendatang dimulai dari tahun 2016. Saya kembangkan menjadi 5 tahapan yang dimulai pada 2016 ini dengan tahapan yang kita sebut sebagai fase fit in infrastructure, artinya adalah bussiness prosesnya harus benar, sistemnya harus benar, prosedur harus ada sebagai satu korporasi. Dan di 2016 itu, kita menyelesaikan lebih kurang 246 SOP, dan kita melaksanakan 240 rencana kerja, dalam 8 bulan sampai Desember 2016. Alhamdulillah sudah selesai,” terang Elvyn.


Setelah itu, 2017 ini dilanjutkan dengan tahapan yang disebut fase enhancement, yakni peningkatan kapasitas, peningkatan kualitas, dan peningkatan performance. Lalu 2018 fase establishment atau pemantapan, 2019 fase sustainable superior performance. Dan 2020 menjadi world class port.

Glen Glenardi Sukses memBawa Bank Bukopin Tingkatkan Kinerja Gemilang

Naskah: Purnomo, Foto: Sutanto & Dok. Bukopin

Dengan visi yang jernih dan pengalaman yang panjang di industri perbankan, Direktur Utama PT Bank Bukopin Tbk Glen Glenardi sukses membawa Bank Bukopin mencetak kinerja gemilang. Betapa tidak? Sebagai nahkoda di Bank berkode emiten BBKP ini, pria humble itu berhasil memompa semangat seluruh jajaran dan stafnya untuk bekerja keras mencapai target.

 

Berkat teamwork dan kerja keras yang ditanamkan Glen dalam mencapai target, Bank Bukopin terus mengalami pertumbuhan. Sukses kinerja terlihat pada kuartal III/2016 Bank Bukopin memperoleh laba sebesar Rp1,1triliun, tumbuh 12,5% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 978 miliar.


Tak hanya itu, Bank Bukopin telah beroperasi di seluruh Tanah Air, tersebar di 23 provinsi yang terhubung secara real time on-line. Memiliki 42 kantor cabang, 143 kantor cabang pembantu, 133 kantor kas, 75 kantor fungsional (layanan mikro), 27 payment point, serta 8 layanan Pickup service. Bank Bukopin juga telah membangun jaringan micro-banking yang diberi nama “Swamitra”, yang kini berjumlah 543 outlet, sebagai wujud program kemitraan dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro.


Untuk mendukung layanan terbaik pada nasabah, Bank Bukopin juga telah mengoperasikan 788 mesin ATM yang terkoneksi dengan seluruh jaringan  ATM  BCA Prima,  ATM Bersama dan Plus di seluruh Tanah Air. Ya, sesuai dengan motto ‘Memahami dan Memberi Solusi’ Bank Bukopin senantiasa melakukan inovasi dan peningkatan layanan kepada para nasabahnya.


Ia mengaku kesuksesan Bank Bukopin  tak dimiliki oleh dirinya sendiri, tetapi merupakan kontribusi dari anggota tim dan seluruh karyawan Bank Bukopin. Karena karyawan selalu disiplin terhadap anggarannya dan komitmen untuk melaksanakan anggarannya dengan baik, maka terjadilah seperti itu.

Hendrisman Rahim Sosok Hebat di Balik Perusahaan yang Kuat

Naskah: Giattri F.P., Foto: Dok. MO/Dok. Humas Jiwasraya

Sebagai asuransi ternama dan berpengalaman di Indonesia, PT Asuransi Jiwasraya (Persero) tetap menjadi pemain yang diperhitungkan dalam percaturan industri jiwa di tanah air. Ukurannya jelas, di bawah nakhoda Hendrisman Rahim, Sang Direktur Utama, perusahaan plat merah ini terus menunjukan kinerja cemerlang.

 

Di balik perusahaan yang kuat, ada pemimpin yang hebat, begitulah Hendrisman dengan Jiwasraya yang dipimpinnya. Bersama staf dan seluruh awak kerja Jiwasraya, berbagai langkah besar digulirkan untuk meningkatkan bisnis asuransi Jiwasraya.


Tengoklah kinerja perseroan pada 2016, baik revitalisasi produk, inovasi produk, dan penambahan agen asuransi. Semuanya berhasil gemilang. Dari cara ini diharapkan perolehan premi akan lebih banyak dari penjualan melalui branch office system (BOS) atau dari sistem cabang.


Untuk memasarkan produk asuransi, dilakukan Jiwasraya melalui chanelling (saluran) Kantor Pusat Program Manfaat Karyawan, Kantor Pusat Bancassurance, 14 kantor wilayah, 71 kantor cabang, dan hampir 500 unit kerja area untuk daerah terpencil.


Sepanjang 2016, perusahaan yang berdiri sejak 31 Desember 1859 silam ini mencatatkan pertumbuhan premi yang kinclong. Hendrisman menyebut, pihaknya berhasil mengantongi premi sampai Rp 18 triliun. Sedangkan, tahun sebelumnya, perolehan premi Jiwasraya sebesar Rp 10,2 triliun.


Dari sisi laba (unaudited), sambung Hendrisman, Jiwasraya meraih Rp 1,3 triliun. “Tahun 2015 lalu, kami meraih laba Rp 1,01 triliun. Tapi kayanya sesudah audited laba kita akan naik,” ungkapnya.
Perolehan premi yang didapat Jiwasraya masih ditopang oleh manisnya bisnis di segmen asuransi tradisional. Seperti endowment, term life, dan lainnya. Sisanya berasal dari produk unit linked. “Sekitar 90% masih berasal dari segmen tradisional,” ujar Hendrisman.


Produk tradisional, menurut Hendrisman tetap akan menjadi andalan Jiwasraya. Pasalnya, perseroan menguasai pasar di daerah-daerah yang cenderung lebih membutuhkan produk yang bersifat proteksi.
“Perusahaan joint venture yang masuk ke Indonesia langsung mengembangkan produk unit link. Jadi, Kami akan tetap memegang pasar yang kami kuasai dan nyatanya permintaan produk tradisional juga tetap meningkat. Kontribusi dari produk unit link, tidak banyak hanya 11%,” terangnya.


Tingginya perolehan premi Jiwasraya tahun 2016 lalu, kata Hendrisman, juga karena hasil dari sejumlah strategi di jalur distribusi. Misalnya, menambah rekanan bank melalui jalur bancassurance. “Kontribusi Premi dari kanal distribusi bancassurance mencapai 60%,” ucap Hendrisman.


Sedangkan untuk kanal corporate distribution, perseroan akan tetap menjadikan sesama perusahaan plat merah sebagai sasaran. Soalnya baru sekitar 40% dari perusahaan di lingkungan BUMN yang sudah berhasil digarap perseroan.


Jalur distribusi lain yang digunakan perseroan untuk menggenjot premi tahun 2016 adalah melalui jalur digital. Hendrisman menjelaskan, penggunaan teknologi ini sudah dimulai para agen dengan menggunakan tablet untuk menjual produk dan mengirimkan data ke kantor. Setelah itu, perseroan juga berencana untuk melayani pembelian asuransi secara langsung via online.

Jahja Setiaatmadja Reputasi Tak Tergantikan

Naskah: Giattri F.P., Foto: Fikar Azmy

Reputasi Jahja Setiaatmadja sebagai salah satu bankir terbaik negeri ini tak tergantikan. Betapa tidak? Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) tersebut tak pernah henti berinovasi dan jeli menangkap peluang bisnis perbankan sehingga BCA berhasil menjadi bank swasta terbesar di Indonesia dengan lebih dari 14 juta nasabah.

 

Maka tak ayal berbagai penghargaan bergengsi diraih pria yang akrab disapa Jahja ini. Di antaranya, ‘Lifetime Achivement Award’ dari ajang Obsession Awards 2016, ‘Top National Banker 2016’ dalam Investor Awards, dan ‘Most Admired CEO 2016’. Setelah tahun sebelumnya dinobatkan sebagai tokoh perbankan paling berpengaruh dalam ajang Golden Property Award 2015, ‘Best CEO’ dalam Finance Asia Award’s: Asia’s Best Companies 2015, dan lainnya.
Pria yang lahir dari keluarga karyawan bank dengan kehidupan sederhana ini telah berkarier di BCA sejak 1990. Dalam memimpin, ia terus menjaga moral karyawan sebaik-baiknya, menerapkan prinsip bottom-up dan feedback. Ia juga selalu menekankan kepada karyawan agar ramah dan manusiawi. Totalitas dan dedikasinya dalam bekerja, didukung filosofinya yang genuine dan utuh dalam mengemban amanat.


Perjalanan Jahja untuk mencapai puncak karier tidaklah mudah. Ia bahkan dapat bekerja selama 12 jam sehari. Loyalitas kepada BCA pun sangat tinggi terlihat dari kariernya selama 21 tahun di BCA sebelum diangkat menjadi presiden direktur pada 2011.


Berkat konsistensi pertumbuhan kinerja positif dari tahun ke tahun, ketika Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2015 yang digelar pada 7 April 2016 lalu, Jahja kembali dipercaya menjadi Presiden Direktur BCA.


Sukses kinerja terus berlanjut pada sembilan bulan pertama tahun 2016 dengan peningkatan pendapatan operasional yang sehat. Pencapaian tersebut didukung oleh pertumbuhan berkelanjutan dari dana pihak ketiga dan keseluruhan aset produktif disertai penerapan prinsip kehati-hatian dengan mengutamakan pentingnya kualitas aset.

Maryono Pemeran Utama Pembiayaan Perumahan

Naskah: Giattri F.P., Foto: Dok. MO/Istimewa

Tak berlebihan jika menyebut Maryono sebagai salah satu bankir hebat yang dimiliki negeri ini. Betapa tidak? Di bawah pimpinannya, PT Bank Tabungan Negara Tbk (Bank BTN) sukses memainkan perannya sebagai pemain utama dalam pembiayaan perumahan nasional. Ia juga  terus melakukan berbagai gebrakan. Tak ayal, kinerja Bank dengan kode emiten BBTN tersebut tetap mengkilap meski di tahun 2016 terjadi perlambatan ekonomi.

 

Sejak Maryono menjadi Direktur Utama, entitas yang dulunya bernama Bank Tabungan Pos ini memang terus menunjukkan perbaikan kinerja. Hingga bulan terakhir pada 2016, bank yang didirikan lebih dari 6 dasawarsa ini masih mencatatkan pertumbuhan bisnis di atas laju industri.


Laporan keuangan (anaudited) perseroan menunjukkan aset Bank BTN naik sekitar 24,56% yoy dari Rp171,8 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp214 triliun di Desember 2016.


Kinerja penyaluran kredit juga menunjukkan pertumbuhan di atas industri. Per Desember 2016, kredit dan pembiayaan Bank BTN naik sekitar 18,34% yoy menjadi Rp164,44 triliun dari Rp138,95 triliun pada Desember 2015. Kemudian, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun juga tumbuh lebih tinggi di level sekitar 25,44% yoy dari Rp127,74 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp160,24 triliun di bulan yang sama tahun lalu.


Kiprah Bank BTN di bawah kepemimpinan Maryono pun memperlihatkan prospek yang positif dengan basis efisiensi dan efektivitas. “Ke depannya, target proses persetujuan KPR pun bakal dipangkas dari 1:5:1 menjadi 1:3:1. Waktu persetujuan pun dibidik akan dipersingkat menjadi maksimal 24 jam,” ujar Maryono.


Tentu saja target Bank BTN  mendukung program Satu Juta Rumah yang diinisiasi Presiden Joko Widodo juga menjadi pokok sasaran di bawah nahkoda Maryono.  Hal ini sejalan dengan arahan Menteri BUMN Rini Soemarno,  bahwa pemenuhan rumah bagi rakyat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga bank dan pengembang.


“Bank BTN sebagai BUMN perbankan yang memiliki keunggulan, terutama dalam digital banking untuk KPR, dan menjadi agen pembangunan, diharapkan terus mendukung Program Satu Juta Rumah,” kata Rini.


Di sisi saham pun, Bank BTN terus merangkak naik. Saham Bank BTN ditutup pada Rp 1.740 per lembar saham per 30 Desember 2016, atau naik sekitar 34,36% yoy dari harga pada penutupan perdagangan 2015 senilai Rp 1.295 per lembar saham.


Perjalanan waktu menjadikan bank ini tak hanya berfokus menyalurkan KPR. Di bawah pimpinan Maryono, Bank BTN terus bergerak berinovasi di segala sisi.


Mulai dari penerbitan obligasi, sekuritisasi, hingga masuk ke pasar modal. Tujuannya, yakni untuk menghimpun dana demi kelancaran penyaluran KPR. Program pemberian kredit yang sedianya dilakukan bagi rumah tapak pun mulai bergerak ke rumah vertikal. Beragam skema pembiayaan juga ditempuh, termasuk pembiayaan syariah.


Tak hanya masyarakat, Bank BTN pun mengucurkan kredit bagi pengembang. Tercatat, hingga Desember 2016, lebih dari 3.000 pengembang telah digandeng oleh bank yang meraih predikat Bank BUMN terbaik dalam pengelolaan SDM di lingkungan perbankan pada BUMN Awards 2016 lalu.

Rusdi Rosman Sayap Bisnis Semakin Terbentang

Naskah: Indah K. & Giattri F.P., Foto: Sutanto & Dok. Kimia Farma

PT Kimia Farma (Persero) Tbk kian berkibar ketika Rusdi Rosman didapuk sebagai Direktur Utama. Kiprah bisnis perusahaan farmasi milik negara yang berdiri sejak zaman Belanda ini pun mendunia dengan melebarkan sayap di sejumlah negara. Belum lagi pengembangan pabrik-pabrik baru yang gencar dibangun perseroan berkode emiten KAEF ini.

 

Mengawali karier dari bawah di industri farmasi sejak 26 tahun lalu, Rusdi berhasil menapaki puncak kariernya hingga menjabat Direktur Utama Kimia Farma pada 2012. Tak perlu memakan waktu lama, ia langsung berjibaku mengembangkan perusahaan, salah satunya dengan melakukan pembenahan mental dan kultur SDM yang diakuinya sebagai fondasi dan langkah awal untuk kemajuan sebuah perusahaan.


Rusdi menciptakan budaya kerja ‘5 AS’, yakni, kerja ikhlas, kerja cerdas, kerja keras, kerja antusias, dan kerja tuntas, guna mendukung slogan dan budaya perusahaan ‘I CARE’ (Innovative, Customer First, Accountable, Responsible, dan Eco Friendly).


“Walaupun banyak pengembangan tapi kalau human resources-nya dan budayanya tidak bagus, itu mudah roboh. Kita membangun fondasi budaya kerja dan perusahaan ini sangat serius, melibatkan konsultan. Alhamdulillah saat ini sudah mulai terbangun budaya itu,” papar pria kelahiran Makassar, 8 Februari 1965 ini.


Berkat budaya kerja ‘5 AS’ itu, Rusdi berhasil menggenjot kinerja timnya sehingga menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Adalah fakta beragam produk farmasi yang dihasilkan Kimia Farma menjadi obat yang paling banyak digunakan di seluruh penjuru negeri. Belum lagi produk jadi seperti kosmetik dan bahan baku obat telah dipasarkan ke lebih dari 10 negara Asia dan Eropa.


Kinerja kinclong juga dicetak Kimia Farma, per Desember 2016 (unaudited), emiten farmasi terbesar di Indonesia ini membukukan Laba bersih sebesar Rp 280 miliar, angka tersebut meningkat 11% bila dibandingkan dengan Laba bersih pada periode yang sama tahun 2015 yakni Rp 253 miliar.


“Karena sukses perusahaan ini bukan karena saya sendiri tetapi totalitas dari semua karyawan karyawati Kimia Farma. Oleh karena itu, insyaallah tahun ini, kita akan membagikan bonus 7 bulan gaji kepada karyawan/i yang dalam sejarah disini belum pernah terjadi,” ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di California State University, San Bernardino USA.


Di bawah kepemimpinan Rusdi, Kimia Farma gencar melakukan berbagai pengembangan bisnis. Ia berhasil menambah jumlah apotek hingga 900 unit pada 2016, meningkat drastis dari tahun 2011 dengan 397 apotek.
“Dalam setahun kita mencetak rekor baru. Biasanya hanya 100, tahun lalu kita buat 175 apotek, saya optimis pertengahan tahun 2017 kita sudah punya 1.000 apotek. Sehingga target kita berikutnya membangun klinik dikisaran 1.000, yang diharapkan tuntas pada 2019,” tandas Rusdi.

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     
                       

Popular

   

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250