Search:
Email:     Password:        
 





All About Fasting

By Iqbal Ramdani () - 23 May 2018 | telah dibaca 590 kali

Naskah: Sahrudi/dari berbagai sumber

Foto: Istimewa

Dalam ajaran Islam, menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan adalah suatu kewajiban. Puasa adalah salah satu dari lima perkara rukun Islam dan termasuk amalan penting dalam Islam dengan banyak manfaat dan keutamaan yang terkandung di dalamnya. Khusus puasa di bulan suci Ramadhan ada banyak dalil wajibnya yang tertuang dalam Al-Qur'an, hadis, maupun pendapat para ulama. Salah satunya dalam surah Al Baqarah, yakni “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan pada orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah: 183).

 

Selain puasa Ramadhan, dalam Islam juga ada sejumlah puasa lainnya yang bersifat sunnah semisal puasa Senin-Kamis, serta puasa Nabi Daud AS, yakni sehari puasa, besoknya tidak. Banyaknya ritual puasa dalam Islam bisa dikatakan bahwa puasa dalam Islam adalah satu kesatuan. Tentu ada banyak alasan dalam Islam tentang penting dan wajibnya puasa ini. Selain dari sisi teologis, juga terkait dengan kesehatan. Namun demikian, budaya berpuasa sebenarnya juga ada di kalangan non Muslim. Dan itu sudah berlaku sejak lama. Dalam agama Kristen misalnya, melakukan ibadah puasa adalah salah satu hal yang penting untuk dilakukan guna membangun kesehatan rohani juga dalam kehidupan kita seharihari. Bagi umat Kristiani berpuasa bukanlah merupakan rutinitas yang asal untuk dilakukan tetapi yang terpenting adalah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Begitu juga umat Yahudi yang
memaknakan puasa sebagai cara menahan diri keseluruhannya dari makanan dan minuman, termasuk air. Yahudi mengenal puasa hari besar Yom Kippur dan Tisha B’Av. Yom Kippur adalah hari di mana orangorang Yahudi berpuasa selama 25 jam, dari matahari terbenam pada malam sebelumnya, sampai matahari terbenam pada malam berikutnya. Untuk orang-orang Yahudi, puasa lebih dari sekedar menahan diri dari minum dan makan, bekerja pada hari-hari puasa tidak diijinkan, berhubungan seksual dan mandi, serta menggunakan salep dan sepatu kulit juga dilarang.

 

Kalangan penganut Hindu, pun memiliki ritual berpuasa. Puasa menurut Hindu adalah untuk mengendalikan nafsu Indria, mengendalikan keinginan. Indria haruslah berada di bawah kesempurnaan pikiran, dan pikiran berada di bawah kesadaran budhi. Jika indria terkendali, pikiran terkendali, maka akan dekat dengan kesucian. Siwaratri jatuh setiap panglong ping 14 Tilem kapitu atau Prawaning Tilem Kapitu, yaitu sehari sebelum tilem. Puasa total tidak makan dan minum apapun dimulai sejak matahari terbit sampai dengan matahari terbenam. Jenis puasa dalam agama Hindu antara lain pada Nyepi dengan total tidak makan dan minum apapun dimulai ketika fajar hari itu sampai fajar keesokan harinya. Lalu ada puasa Purnama dan tilem, puasa tidak makan atau minum apapun dimulai sejak fajar hari itu hingga fajar keesokan harinya serta beberapa jenis puasa lainnya.

 

Umat Budha juga punya tradisi puasa yang disebut dengan Uposatha. Puasa ini tidak wajib bagi umat Buddha dan biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu bulan (menurut kalender buddhis di mana berdasarkan peredaran bulan), yaitu pada saat bulan terang dan gelap. Namun ada yang melaksanakan 6 kali dalam satu bulan. Di tataran masyarakat penganut kepercayaan Kejawen, ritual puasa juga mendapatkan tempat tersendiri. Salah satu puasa kejawen yang paling dikenal adalah Puasa Mutih. Seperti namanya, dalam ritual ini seseorang yang menjalaninya dilarang untuk mengonsumsi apa pun selain yang berwarna putih. Biasanya, para pelakunya hanya akan makan nasi dan air putih saja. Ada juga yang namanya puasa ‘ngableng’, yakni puasa sehari penuh alias 24 jam. Jadi, jika ada seseorang yang menjalani puasa Ada juga puasa Pati Geni yang dipercaya bisa mengabulkan hajat dan dianggap ampuh untuk kabulnya hajat-hajat yang luar biasa besar. Secara teknis, Puasa Pati Geni dan Ngableng ini hampir sama.

 

Dari sekian banyak puasa kejawen yang ada, Weton adalah salah satu yang paling populer dilakukan. Puasa ini sendiri tidak dilakukan sering-sering karena hanya perlu dilakoni saat tiba hari ulang tahun saja, makanya kemudian dinamakan Weton. Ada juga puasa ‘Ngeluwang’ yang dilakoni tidak seperti biasa karena dalam salah satu rentetan ritualnya si pelaku harus dikubur. Teknik menguburnya bukan seperti mayit yang dikubur, tapi lebih tepatnya dipendam sampai ke bagian tubuh tertentu. Bagi suku Baduy yang merupakan masyarakat pedalaman Banten, prilaku puasa dilakukan sebagai bagian dari prosesi pembuatan laksa, yang bisa dikatakan sebagai penganan ‘sakral’ suku tersebut yang dibuat dan diberikan khusus kepada Bapa Gede atau Gubernur Banten setiap tahun sekali. Mereka berpuasa selama tiga bulan sebelum membuat makanan tersebut atau biasa disebut puasa Kawalu. Tentu saja, masih banyak jenis puasa yang dilakukan di berbagai kalangan yang ada baik di daerah maupun di belahan dunia lainnya. Tapi intinya adalah ritual puasa merupakan jalan untuk mendapatkan kedamaian spiritual dan kesehatan tubuh bagi yang melakukannya.

 

Dari Plato Hingga Mahatma Gandhi

Ihwal dahsyatnya puasa dalam membangun nilai spiritual dan menjaga kesehatan, sejatinya sudah dikenal sejak lampau dan diakui oleh tokohtokoh yang hidup pada zamannya. Sebutlah Plato, seorang filsuf yang meyakini puasa sebagai pengobatan penyakit mulai dari penyakit fisik sampai penyakit mental. Selain Plato, filsuf lainnya seperti Hippocrates, dan Socrates juga percaya bahwa selain sebagai bentuk ibadah, puasa punya manfaat untuk penyembuhan penyakit. Begitu juga tokoh legendaris India, Mahatma  Gandhi, melaksanakan puasa untuk mencapai tujuan perjuangan bagi perdamaian India. Ia mengakhiri puasanya selama enam hari setelah pemerintah Inggris menerima prinsip dasar untuk mencabut pemisahan antara kasta lebih tinggi dengan kasta rendah. Dalam enam hari, Gandhi kehilangan berat badan sebanyak tiga setengah kilogram. Saat berbuka, ia mengawalinya dengan doa, melafalkan himne kebahagiaan, dan menenggak jus jeruk sambil dengan lemah berseru ‘Satyagraha telah menang’. Satyagraha adalah konsep Gandhi yang berarti desakan untuk kebenaran. Gandhi mengajak warga India dan dunia untuk mencapai perubahan dengan perdamaian. Tercatat, Gandhi melakukan puasa terakhirnya untuk mengajak umat Muslim dan Hindu di New Delhi bergerak menuju perdamaian pada 12 Januari 1948. Akhir bulan itu, Gandhi tewas dibunuh seorang ekstremis Hindu saat akan berdoa.

 

Sebagai Gaya Hidup

 

Banyak penelitian telah menyarankan praktek puasa sebagai gaya hidup sehat karena banyak manfaat positifnya terhadap kesehatan fisik dan mental kita. Baik Anda melakukan puasa sebagai kewajiban atau bukan. Keunggulan berpuasa dalam perspektif medis sudah tidak diragukan lagi karena puasa kaya akan manfaat yang beragam bagi tubuh, ketenangan jiwa, dan bahkan kecantikan. Karena di saat orang melakukan puasa, organ-organ yang ada di dalam tubuh manusia mengalami proses istirahat dan miliaran sel yang ada di dalam tubuh manusia bisa menghimpun diri untuk mengeluarkan kotoran-kotoran, racun, yang berada di dalam tubuh manusia tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa berpuasa akan menurunkan kadar apo-betta dan menaikkan kadar apo-alfa1. Kondisi tersebut dapat menjauhkan Anda dari beberapa serangan penyakit, seperti jantung, dan pembuluh darah. Sehingga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

 

Nah, bahkan saat Anda tengah menjalani puasa akan membuat kondisi psikologis menjadi tenang dan tidak dipenuhi rasa amarah. Hal tersebut rupanya dapat menurunkan adrenalin, karena saat marah akan terjadi peningkatan jumlah adrenalin 20-30 kali lipat. Adrenalin itu sendiri akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, dan menambah volume darah ke jantung. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan risiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian yang ditemukan oleh sejumlah dokter ahli dunia. Misalnya, Allan Cott, M.D., ahli kesehatan dari Amerika yang dalam bukunya “Why Fast?” menyebutkan keunggulan puasa adalah 'to feel better physically and mentally' atau merasa lebih baik secara fisik dan mental.

 

Masih menurut Cott, ternyata puasa juga membuat Anda terlihat dan merasa lebih muda, di samping juga akan menurunkan tekanan darah dan kadar lemak. Anda juga bisa lebih mampu mengendalikan seks. Bahkan, Dr. yuri Nikolayev, direktur bagian diet pada rumah sakit jiwa Moskow, mengatakan penemuan terbesar dalam abad ini adalah kemampuan seseorang membuat dirinya tetap awet muda secara fisi, mental, dan spiritual, melalui puasa yang rasional. Seperti dilansir dari Zeenews, puasa yang diatur waktunya selama beberapa belas jam per hari secara teratur, dapat membantu menurunkan berat badan, meningkatkan kesehatan, bahkan membuat umur Anda bertambah. Namun, ini harus dijalani dengan pengaturan diet yang tepat karena tujuan Anda adalah mengistirahatkan sistem tubuh, khususnya pencernaan.

 

Puasa dengan cara teratur seperti demikian akan meningkatkan energi pada sistem metabolisme untuk membakar kalori lebih efisien. Puasa juga dapat meningkatkan fungsi otak karena puasa memicu produksi brain-derived neurotrophic factor (BDNF), satu protein yang dapat memengaruhi fungsi otak dan juga sistem saraf periferal. Penelitian bahkan menyebutkan bahwa puasa lima hari selama sebulan bisa mengurangi risiko kanker, penyakit jantung, dan peradangan yang bisa menyebabkan berbagai masalah kronis. Puasa juga membantu membersihkan tubuh, termasuk menjaga kulit tetap bersih karena pembuagan racun atau toksin dapat terbantukan. Bahkan, penelitian terbaru juga meyakinkan bahwa puasa sangat penting di era modern saat ini. Karena kita tahu, kehidupan dalam arus modernisasi khususnya di kota-kota besar, sering diliputi stres yang tak terkontrol, lebih-lebih dengan seringnya terjadi kemacetan lalu lintas. 

 

Kondisi psikis yang serba tak enak itu, menurut riset kedokteran, telah memicu timbulnya berbagai penyakit berat, yaitu kardiovaskuler, hipertensi, ginjal, tumor/ kanker, diabetes, maag, depresi, dan insomnia. Sebenarnya, kalau saja stres itu kita kendalikan dengan berpuasa secara reguler. Misalnya, minimal bisa membangkitkan energi mental agar orang bersemangat, percaya diri, dan optimistis, sehingga bersikap pantang mundur serta selalu terpacu untuk mencapai prestasi atau kesuksesan yang diridhai Tuhan. Karena berpuasa secara teratur mampu mengendalikan stres, maka tak heran jika terapi puasa ini berkembang peminatnya dan cukup populer di Eropa dan Amerika Serikat. Di klinik dekat Pyrmont, Jerman, dr. Otto Buchinger dan kawan-kawan telah banyak menyembuhkan pasien dengan terapi puasa. Penyembuhan meliputi penyakit fisik dan kejiwaan, sehingga bisa dikatakan sebagai psiko-fisioterapi. Setelah para pasien dirawat secara medis selama sekitar 2 - 4 minggu dan berdisiplin puasa, ternyata mereka lebih cepat sehat dan segar kembali baik fisik maupun mentalnya.

 

 


Read More    

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

       

 

   

Popular

 

Photo Gallery

     

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250