Search:
Email:     Password:        
 





The Hotelier

By Syulianita (Editor) - 07 December 2019 | telah dibaca 280 kali

GARNA SOBHARA SWARA General Manager Hotel THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa

Dari Housekeeping Menjadi GM

 

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

 

Garna Sobhara Swara telah banyak makan asam garam kehidupan di industri hospitality. Kariernya berawal saat ia mengemban ilmu di negeri orang. Pahit getir kehidupan di rantau menjadikannya harus mandiri, termasuk mencari uang tambahan. Dari situ, ia terbentuk menjadi seorang pekerja keras. Maka tak heran ketika ia kembali ke Tanah Air dan mengaplikasikan ilmu perhotelannya di industri hospitality, kariernya melesat. Dimulai dari seorang housekeeping supervisor hingga pada akhirnya menjabat posisi general manager di usianya yang masih sangat muda, belum genap 40 tahun ia sudah diberi amanah memimpin sebuah  hotel berbintang di Pontianak.

 

 

Tepatnya pada tahun 2001 Garna kembali ke Tanah Air. Awalnya ia sempat kesulitan mencari pekerjaan, bahkan sempat menganggur selama satu tahun karena kondisi negara yang saat itu belum stabil setelah serangan bom WTC di Amerika tahun 2001 silam. “Saat itu setelah kejadian bom di WTC Amerika susah dapat kerjaan. Setelah satu tahun akhirnya saya baru dapat pekerjaan di salah satu hotel bintang lima di Jakarta sebagai Housekeeping Supervisor, tapi selama 3 tahun di posisi sama akhirnya saya menantang diri saya sendiri untuk mencari pengalaman dan tantangan baru,” Garna mengenang masa-masa itu. 

 

Ya, itulah Garna! Sosok anak muda yang menyukai tantangan, yang tak betah berada dalam comfort zone dan yang selalu ingin mencoba hal baru. Ia kemudian memutuskan pindah ke hotel bintang lima lain masih di kawasan Jakarta. Perhitungannya pun sungguh tepat, di hotel itu kariernya kian bersinar, hampir setiap tahun ia mendapat promosi jabatan. “Karena memang target saya itu setiap tahun saya harus naik jabatan. Itu target dalam karier saya. Saat itu usia saya masih 26 tahun saya selalu membuat target. Saat itu saya masih supervisor, saya punya target usia 30 tahun saya harus jadi manager. Tapi, alhamdulillah belum 30 tahun saya sudah jadi director of housekeeping. Jadi, sudah melewati target, melewati posisi manager, kemudian assistant director, setelah itu director,” ungkap Garna tanpa bermaksud membanggakan diri.

 

Usia masih sangat muda, Garna tentu masih memiliki target lain dalam hidupnya. Dari situ ia pun melanglang buana mencari pengalaman demi pengalaman, dari hotel ke hotel dan dari kota ke kota, seperti di Bandung, Bali, dan Pontianak. Di Kota Khatulistiwa inilah, babak baru dalam hidupnya dimulai. Untuk pertama kalinya ia diberi amanah menjabat sebagai pucuk pimpinan tertinggi dalam sebuah hotel, general manager.

 

Berlabuh pada THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa

 

Dua tahun merasa cukup mencari pengalaman di Pulau Borneo, tahun 2017 Garna kembali ke Ibukota untuk menerima tawaran baru, memimpin Hotel THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa. Apa yang membuatnya tertarik menduduki posisi GM di hotel tersebut adalah selain karena THE 1O1 terletak di lokasi yang sangat strategis di kawasan Jakarta Selatan, THE 1O1 merupakan hotel berbintang di bawah manajemen PHM Hospitality yang sudah terkenal di Asia dalam bidang pariwisata.

 

“Panorama ini salah satu yang terbesar di Asia untuk masalah pariwisata. Mereka juga me-manage beberapa hotel di Indonesia, dan kebetulan hotel-hotelnya itu selalu ramai. Bisnisnya bagus karena mereka sangat selektif memilih hotel-hotel mana yang akan di-manage. Jadi, selain karena lokasi yang sangat strategis, menjadi kebanggaan saya bisa bergabung dengan local company yang sangat kuat di bidang pariwisata di Indonesia bahkan Asia,” urai Garna. 

 

Dengan demikian, THE 1O1 tentu sudah menjadi hotel pilihan di kawasan Jakarta Selatan. Namun, justru itulah yang menjadi tantangan Garna saat kali pertama ia memimpin THE 1O1, bagaimana membuat hotel ini yang sudah bagus menjadi lebih bersinar lagi. Untuk itu, yang pertama dilakukan Garna agar semakin menarik perhatian tamu adalah meremajakan tampilan hotel, termasuk semua kamar. “Karena background saya dari housekeeping jadi yang pertama saya lakukan adalah hotel ini saya bersihkan, saya mandikan. Jadi, satu hari ada satu kamar yang ditutup untuk dibersihkan, dicat ulang, diremajakan. Dengan begitu tamu senang,” ucap pria yang memiliki passion di leadership ini. Garna juga sempat merenovasi total Hotel THE 1O1 selama kurang lebih tiga bulan. Menariknya, meski cukup lama tak beroperasi selama renovasi, hotel masih terus diburu tamu. Bahkan, tamu terus berdatangan dan selalu menanyakan kapan kembali beroperasi. Dan, hanya dalam waktu 10 hari saat hotel kembali dibuka, tamu pun membludak. Tak kesulitan bagi Garna untuk kembali mencari market, lantaran THE 1O1 telah memiliki market repeater guest yang setia.

 

Ya, hal tersebut tentunya karena hotel bintang empat ini memberikan kenyamanan standar bintang lima. Selain itu, pelayanan yang baik juga diterapkan di hotel ini. Pada timnya, Garna begitu menekankan pentingnya pelayanan yang personal kepada semua tamu. “Saya tingkatkan lagi personalised service karena tidak ada tamu yang ingin disamakan dengan orang lain. Jadi, itu yang kami terapkan di sini, semua tamu kami itu spesial. Kalau kami bilang kamar, banyak kok hotel lain yang punya kamar lebih bagus, banyak hotel yang punya TV lebih besar dari kamar kami. Tapi, yang membuat tamu balik lagi ke sini adalah hubungan baik dengan tim di THE 1O1, personalised service ini yang membuat tamu terkesan,” terang Garna. Menariknya, Ia juga menerapkan ‘loyal guest’ pada timnya. Dalam hal ini, diimbau satu orang karyawan memiliki satu loyal guest yang mereka kenal dan servis secara personal.

 

Kerja kerasnya membuahkan hasil. Apa yang telah dilakukannya selama dua tahun ini tak sia-sia. Di bawah kepemimpinannya, THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa berhasil meraih pencapaian membanggakan, antara lain penghargaan bergengsi dari salah satu Online Travel Agent, keberhasilan meraih sertifikasi Hotel Bintang Empat, hingga peringkat Trip Advisor yang mengalami peningkatan, dari awalnya peringkat 110 pada 2017 kini meningkat menjadi peringkat 64.

 

 

IMAN TEGUH SETIAWAN General Manager Hotel Grand Aston Yogyakarta

Membangun Daerah melalui Grand Aston Yogyakarta

 

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

 

Puluhan tahun lamanya berkarier di industri perhotelan, melanglang buana dari daerah ke daerah, sampai pada akhirnya Iman Teguh Setiawan memutuskan kembali ke daerah asalnya, Yogyakarta dengan tujuan mulia, ingin berpartisipasi membangun daerah sendiri. Dan hasilnya, sejak menjabat General Manager Hotel Grand Aston Yogyakarta pada 2013 lalu banyak pencapaian yang berhasil diraih Iman dan timnya. Selain sederet penghargaan membanggakan, ia berhasil menjadi trendsetter yang inovasinya diikuti hotel lain di kota pelajar ini.

 

Saat ditemui Men’s Obsession di Jakarta beberapa waktu lalu, Iman tampil santai mengenakan kemeja putih. Posturnya yang tinggi masih terlihat gagah, menjadi bukti dari masa-masa kejayaannya saat masih menjadi atlet basket jauh sebelum berkarier di dunia perhotelan. Dalam perbincangan kurang lebih satu jam ini, Iman bercerita banyak mengenai kisah hidupnya, mulai dari perjalanan karier hingga cerita-cerita ringan yang mengalir dari bibirnya, sesekali melontarkan guyonan yang membuat suasana kian mencair.

 

Iman mengawali karier di perhotelan dari divisi F&B kemudian terus meningkat, tepatnya pada tahun 2010, ia diberi kepercayaan untuk menjabat General Manager di Hotel Aston Braga Bandung hingga pada tahun 2013 ia memutuskan hijrah kembali pada kampung halamannya, Yogyakarta, memegang jabatan baru, GM Hotel Grand Aston Yogyakarta. “Saya asli orang Yogya dan pada akhirnya saya memutuskan kembali ke kampung halaman karena saya ingin turut membangun daerah saya sendiri,” ucapnya.

 

Sejak kali pertama menjabat GM Grand Aston Yogyakarta, yang pertama dilakukan oleh Iman adalah membenahi Sumber Daya Manusia (SDM). Iman melakukan mutasi, penempatan karyawan yang disesuaikan dengan bakat dan minatnya masing-masing. Menurutnya, sebuah organisasi dikatakan berhasil apabila mereka yang ada di dalamnya merasa senang dan bahagia. Dengan begitu, mereka melakukan pekerjaan dari hati, bukan karena terpaksa dan rutinitas belaka. “Dan, mereka akhirnya menemukan lebih cocok di situ. Kemudian, malah mereka yang bersinar, tambah sumringah, tambah bahagia. Alangkah indahnya kalau semua orang bisa bekerja dengan bahagia, bukan karena terpaksa,” terangnya.

 

Setelah itu, yang juga tak kalah penting, ia juga berhasil memberikan suatu pemahaman bahwa yang paling penting dalam bekerja di industri perhotelan adalah kepuasan tamu. Untuk itu, setiap individu harus memiliki jiwa melayani dalam bekerja. Menariknya, dalam hal ini, Iman bahkan tak segan turun langsung memberi contoh nyata pada timnya, misalnya, pernah satu waktu ia sendiri yang mengantar tamu langsung dan membantu membawakan barang ke kamarnya.  

 

Selain itu, demi kepuasan sang tamu, Grand Aston Yogyakarta juga memberikan pelayanan berbeda yang lebih personal pada tamu. Hotel yang terletak di pusat kota Yogyakarta ini, bahkan pernah memberikan complimentary tambahan pada saat-saat tertentu. Iman mencontohkan, ia pernah memberikan jamuan tarian Jawa plus tambahan welcome drink air kelapa muda pada sebuah rombongan corporate yang menginap tanpa diminta. Dalam memasarkan hotel, ia sering mencari inovasi-inovasi baru, seringkali tercetus pemikiran-pemikiran yang out of the box. Ia memberi contoh pada saat memasarkan hotel sebelumnya di Bandung, ia memberi ide untuk menyebarkan brosur di rest area Tol Cipularang mulai dari KM 57, bukan di Kota Bandung seperti yang dilakukan hotel lainnya. Dan, itu berhasil meningkatkan occupancy dan revenue, sehingga pada akhirnya diikuti hotel lain. 

 

“Kalau di Yogya ini saya membuat paket buka puasa murah. Dulu tidak ada buka puasa di hotel karena identik mahal. Dan, berhasil yang makan bisa sampai 8000 orang, bahkan pernah sampai 9864 selama bulan puasa. Dari situ hotel lain mengikuti, nah ke sininya harga saya naikkan, tapi target dikurangi menjadi 3000 orang. Saya berpikir dengan kita naikkan harga hotel lain juga mendapat tamu akhirnya menjadi rata, kami berbagi juga. Dengan niat seperti itu, alhamdulillah dapatnya 4000 di atas target,” Iman berkata tulus. 

 

Tak dapat dipungkiri bahwa kerja keras Iman dalam memimpin Grand Aston Yogyakarta berhasil. Dalam kurun waktu selama enam tahun (2013 – 2019) Grand Aston Yogyakarta meraih banyak capaian dan penghargaan membanggakan. Selain dari revenue yang tentunya terus meningkat, dari segi pelayanan pun mendapatkan penghargaan yang parameternya dapat dilihat dari penghargaan Trip Advisor dan beberapa penghargaan dari Online Travel Agent (OTA). “Kurang lebih total ada sekitar 26 penghargaan. Dari Trip Advisor kami meraih sertifikat excellence selama 7 tahun berturutturut dari 2013 hingga 2019,” pungkasnya.

 

Sukses Berkat Doa dan Restu Sang Bunda

 

Dari seorang atlet basket kemudian banting setir berkarier sebagai hotelier, Iman berhasil menunjukkan kinerjanya yang cemerlang. Berkat kerja keras, kegigihan, serta keinginan mempelajari hal baru, menjadikan kariernya terus menanjak. Ibarat anak tangga, ia berhasil menapakinya satu per satu hingga menjabat pucuk pimpinan tertinggi dalam sebuah hotel.

 

Namun, siapa menyangka bahwa kesuksesannya itu berawal dari sebuah mimpi! Pada awal meniti karier, ia selalu bermimpi untuk bisa menjadi seorang GM di usia 40 tahun. “Alhamdulillah tercapai, saya menjadi GM pada usia 39 tahun. Mimpi itu kan identik dengan tidur, nah yang paling bahaya itu kalau sudah bermimpi kita lupa bangun. Dan, pada saat sudah bangun kita hanya duduk saja tidak berlari, itu juga percuma. Kalau saya bermimpi, saya bangun dan berlari, kerja keras,” ujar Iman dengan penuh semangat.

 

Selain mimpi, ada satu hal menarik yang mengiringi kesuksesan Iman adalah doa dan restu sang ibunda tercinta di samping restu dari Sang Kuasa tentunya. Ia bercerita, ia selalu meminta doa dan restu dari sang bunda dengan cara membasuh dan mencium kakinya. Menurutnya, saat itulah, saat di mana sang bunda menangis mendoakan dirinya, di situlah ada keajaiban. Betapa banyak malaikat yang mencatat dan mengaminkan doa-doa tersebut.

 

 

R. ADI SAMPURNO General Manager Hotel GranDhikaIskandarsyah Jakarta

Wow Factor Ala Adi Sampurno

 

Naskah: Gia Putri Foto: Edwin B.

 

“Saya selalu mengedepankan kepuasan pelanggan dan selalu men-challenge seluruh karyawan untuk selalu memberikan Wow Factor kepada customer. Tidak hanya sekadar memuaskan pelanggan, tetapi selalu berusaha melebihi ekspektasi pelanggan.”

 

Kesan ramah langsung terpancar ketika Men’sObsession bertatap muka dengan Adi, sapaan akrab Adi Sampurno di ORIGAMI Roof Dining, yakni premium restaurant yang baru diresmikan Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta pada September lalu. Sekitar satu jam, pria yang memiliki passion di dunia hospitality sedari kecil ini menguntai perjalanan kariernya sampai berlabuh di hotel pertama yang didirikan oleh Hotel GranDhika Indonesia ini hingga obsesi besarnya.

 

Sebagai lulusan dari S1 Teknik Sipil Universitas Indonesia, Adi mengawali karier sebagai Management Trainee di perusahaan pelat merah, PT Adhi Karya pada 2007 dan mengerjakan beberapa proyek highrise building. Tahun 2013, ia melanjutkan studi Magister Manajemen Finance di Universitas Indonesia. 2015 awal, ia lulus dengan predikat cumm laude. “Pada 2013, PT Adhi Karya memulai ekspansi bisnis barunya di industri perhotelan, saya cukup tertarik karena sejak kecil saya suka diajak oleh orang tua menginap di hotel dan merasakan suasana yang menyenangkan,” ujarnya.

 

Gayung bersambut, pada 2014 ia direkrut untuk bergabung di Divisi Hotel. Setelah itu, ia mendapat pendidikan perhotelan di Universitas Trisakti dan menjadi bagian dari Tim Pre-Opening Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta. Pada 2016, Adi menjabat sebagai Corporate Sales Manager hingga akhirnya menjadi Executive Assistant Manager di Hotel GranDhika Pemuda Semarang pada 2017. Di tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai general manager di sana. “Pada periode Juni-September 2018, saya menjadi General Manager di Hotel GranDhika Setiabudi Medan, sebelum akhirnya resmi bergabung di Hotel GranDhika Iskandarsyah sebagai general manager sejak September 2018,” papar pencinta ketoprak ini.

 

Tak menunggu waktu lama, Adi pun melancarkan berbagai strategi jitu untuk mengembangkan hotel yang dinakhodainya. Hal yang pertama ia lakoni adalah brain storming atau berdiskusi dengan tim. “Saya yakin dengan berdiskusi akan melahirkan banyak pemikiran yang produktif. Ketika itu, saya menyusun kalau dalam istilah strategi marketing disebut bisnis kanvas. Jadi, kami tentukan dulu value proposition. Dengan melakukan hal tersebut secara tepat, target segmen akan semakin bisa tersasar,” terang Adi.

 

Dari sisi finansial, Adi melakukan beberapa perombakan, yang pertama adalah mempercepat collection periode. “Karena kunci dari bergulirnya sebuah perusahaan adalah cashflow. Saya bersama tim berusaha memperlancar cash flow itu,”tegasnya.

 

Lalu, ia juga melakukan training dan development kepada karyawan. “Pasalnya, ketika saya join di sini, karyawan yang bekerja di atas tiga tahun cukup banyak, mereka harus diberi trigger baru untuk bekerja lebih maksimal. Selain itu, jika ada karyawan yang resign, misalnya level supervisor, saya challenge level-level staff yang ada di bawahnya untuk me-replace. Jadi, tidak serta-merta ketika ada karyawan pindah, kami cari yang dari luar,” ungkap pria berpenampilan necis ini.

 

Ke depan, sambungnya, Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta akan semakin banyak mengembangkan bisnis dengan membuka hotel-hotel baru sehingga ia memiliki program untuk mendorong setiap kepala departemen harus memiliki second liner yang mempunyai kemampuan mumpuni setara dengan kepala departemen itu. “Jadi, ketika kepala departemennya pindah, saya sudah punya orang yang dapat dikaderisasi,” tambah Adi.

 

Tak kalah penting, ia juga memperluas segmentasi pasar Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta yang dipimpinnya. Semula hotel ini tidak didesain untuk menerima segmen wedding. Akhirnya, Adi coba menugaskan tim sales-nya untuk menggrab segmen tersebut dan memodifikasi area pool sebagai venue wedding. “Alhamdulillah, setiap bulan, satu sampai dua wedding mampu kami grab,” imbuhnya. 

 

Apa yang dikerjakan Adi berbuah manis, hal ini bisa dilihat dari kinerja positif yang diraih Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta yang dalam kurun waktu hanya dua bulan bisa mencapai target anggaran. “Saya join bulan September 2018, sekitar bulan Oktober mencapai revenue tertinggi selama ini. Bahkan, pada 2019 ini, kami achieve revenue tertinggi pada bulan September. Jadi, ada kemajuan dari tahun lalu. Dari segi target budget tahun ini, kami masih ahead,” urai pria berkacamata ini. Lebih lanjut Adi menuturkan unique selling point dari hotel yang hingga kini masih menjadi tolok ukur dari cabang-cabang GranDhika lainnya ini adalah terletak di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan, tidak salah kalau hotel ini disebut strategis, dekat dengan pusat bisnis, tempat belanja, maupun kuliner. 

 

“Saya juga review komentar dari tamu, yang menyatakan bahwa kami memiliki makanan yang sesuai dengan selera. Kami dapat banyak pujian. Dari sisi kebersihan, pelayanan, dan keramahan, kami juga sering dapat pujian. Ya, kami memang ada di peringkat bintang empat, tapi kami memberikan kualitas produk dan service layaknya bintang lima. Ke depan kami juga akan melakukan pengembangan, yakni memperluas fasilitas meeting room dan ballroom,” Adi menggarisbawahi.

 

Ia juga membeberkan tips untuk membangun tim yang solid, kuncinya ada pada komunikasi dan apresiasi karyawan. Jadi, setiap tiga bulan sekali ia akan adakan suatu apresiasi untuk para karyawannya yang memiliki talenta. “Memberikan penghargaan employee of the quarter dan pada akhir tahun employee of the year. Sementara dari sisi komunikasi, setiap satu atau dua bulan sekali, saya langsung berdiskusi dengan level staff paling lower untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di tataran karyawan. Jadi, saya bisa action langsung supaya mereka merasa didengar. Dengan begitu, suasana kekeluargaan dan team work semakin baik,” terang pria yang memiliki filosofi hidup 'starting right now, no exceptions and enjoy the risk' ini. Menutup pembicaraan, ia mengatakan obsesinya, yakni menjadikan Hotel GranDhika Iskandarsyah Jakarta  sebagai market leader pada level bintang empat di Jakarta. “Memang tidak mudah. Terlebih, menjamurnya hotel di Jakarta terutama di daerah Selatan. Ini seru dan membuat kami semakin tertantang untuk kreatif berpikir mencari market yang belum tersentuh,” pungkasnya.

 

RIGANDA TOGATOROP General Manager Mercure Hotel Jakarta Kota

Mengawal Mercure Jakarta Kota Sebagai Mercure Pertama di Indonesia

 

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Edwin Budiarso

 

Puluhan tahun melalang lintang di dunia hospitality tak membuat pria bernama Riganda Togatorop putus arang. Namun, dengan optimisme dan kegigihan yang tinggi, ia justru mampu menduduki sejumlah jabatan prestisius di setiap hotel di mana ia bekerja. Terakhir, ia kini dipercaya menjabat General Manager di Mercure Hotel Jakarta Kota. Kecintaannya untuk selalu melayani orang menjadi magnet tersendiri baginya. Sehingga, pria kelahiran 30 Januari 1969 ini selalu sukses menekuni pekerjaannya.

 

 

Riganda kecil sebenarnya tidak punya cita-cita bekerja di dunia hospitality. Ia punya anganangan mengajar menjadi guru karena ia sendiri lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Medan. Namun takdir berkata lain, meski tak jadi guru, pencapaiannya tidak sia-sia. Ia mampu membuktikan prestasi yang gemilang dengan sekian banyak jabatan yang diraih. Kariernya di perhotelan dimulai dengan menjadi seorang resepsionis atau penerima tamu. Ia diterima kerja di sebuah hotel di Jakarta karena memiliki kemampuan bahasa Prancis yang baik.

 

“Awalnya memang cita-cita saya ingin jadi guru, tapi waktu itu saya cari kerja kebetulan keterimanya di hotel sebagai resepsionis. Ya sudah saya berpikir pekerjaan yang saya dapat itulah yang harus saya tekuni, sampai tak terasa saya sudah menggeluti dunia ini selama 25 tahun sampai sekarang,” ujar Riganda kepada Men’s Obsession. Ia pertama bekerja di dunia hospitality sebagai resepsionis di Ibis Jakarta Arcadia pada 1994-1996. Perlahan, tapi pasti, kariernya naik menjadi Assistant Manager di Le Meridien Jakarta 1996-2001. Kemudian, pindah ke Surabaya menjadi Assistant Front Office Manager di Mandarin Oriental Hotel pada 2001. 

 

Tak sampai satu tahun, ia pindah sebagai Executive Assistant Manager di Mercure Jakarta Kota sampai 2007. Ia bahkan sempat berpindah-pindah ditempatkan di sejumlah daerah untuk menduduki jabatan penting, di antaranya General Manager di Novotel Bali Nusa Dua pada 2010-2012. Lalu, General Manager di Novotel Banjarmasin Airport 2012-2013, General Manager di ibis Styles Sandakan, Sabah, Malaysia 2013-2014.

 

Kemudian, General Manager in mission Novotel Manado Golf Resort & Convention Center pada 2015. Tak lama di situ, ia dipercaya menjadi General Manager Mercure Jakarta Sabang sampai 2017 dan General Manager di ibis Gading Serpong. Lalu, sekarang kembali bekerja di Mercure Jakarta Kota sebagai General Manager sejak April 2019. Menurutnya, Riganda tertarik bekerja di perhotelan karena semangatnya adalah melayani sama halnya dengan guru. Bertemu dengan banyak tamu dengan beragam karakternya membuat pria asal Tebing Tinggi, Sumatera Utara ini menjadi semakin matang untuk bisa bersikap terbaik dalam melayani setiap tamunya yang berkunjung ke hotel.

 

“Jadi, karakteristik jiwa saya sebenarnya senang melayani, jujur tulus tidak dibuatbuat. Terus segala sesuatu yang sudah menjadi tugas dari pekerjaan harus kita tepati, bersikap profesional. Ini yang membuat saya bertahan di sini (dunia hospitality),” jelas Riganda.

 

Pria yang dikenal sangat ramah oleh para timnya itu melihat dengan menciptakan pelayanan yang baik, Hotel Mercure Jakarta Kota ini bisa terus berkembang menjadi salah satu hotel bintang empat yang digemari tamunya. Terlebih, Mercure Jakarta Kota letaknya sangat strategis dekat dengan pusat pemerintahan, dekat dengan tempat wisata, dan berada di pusat hiburan Ibu Kota. Hal ini ditambah dengan keistimewaan Mercure Jakarta Kota, yang terinspirasi oleh budaya lokal Indonesia-Chinese. 

 

Salah satu budaya lokal Indonesia – Chinese yang dimaksud adalah keunggulan dari sisi makanan. Di Mercure Jakarta Kota terdapat restoran Chinese, Chiao Tung yang menyediakan makanan khas negeri Tirai Bambu, Dim Sum. Sejak 22 tahun berdiri, Mercure Jakarta Kota selalu menyediakan makanan Dim Sum dengan kekuatan rasa yang tidak pernah berubah karena koki atau juru masaknya masih tetap sama. “Saya ingin mengembangkan kembali kelezatan Dim Sum yang ada di restoran ini untuk menarik kembali tamu-tamu yang dulu pernah ke sini. Supaya orang tahu bahwa rasa kelezatan Dim Sum di sini tidak berubah,” jelasnya.

 

Dengan sosialisasi yang matang, restoran Chinese, Chiao Tung Mercure Jakarta Kota kini selalu ramai dikunjungi orang, terlebih di akhir pekan. Dim Sum atau makanan Chinese yang disediakan juga dijamin kehalalannya, sehingga siapa saja bisa mengkonsumsinya. Riganda giat mengundang para food blogger, media, serta para tamu khusus untuk mengadakan kegiatan di Mercure Jakarta Kota dengan menyediakan Dim Sum sebagai makanan favoritnya. Ia juga terus memasifkan agar tamu dari luar daerah yang sedang melakukan perjalanan dinas untuk menginap di Mercure Jakarta Kota. 

 

“Kami ini sebenarnya pioneer, hotel Mercure pertama berdiri di Indonesia ya di sini. Jadi, kami ingin mengembalikan ingatan tamu-tamu kami untuk berkunjung ke Mercure dengan ciri khas makanannya yang masih terjaga kemurnian rasanya, pelayanan yang ramah, serta kebersihan yang terjaga. Kami ingin menjadikan hotel ini seperti rumah sendiri dengan segala kenyamanannya,” tutur pria yang tengah melanjutkan studi S2-nya di Universitas Trisakti Jurusan Pariwisata.

 

Strategi lain yang diterapkan adalah melakukan renovasi di sejumlah fasilitas, seperti Spa dan Gym, ruang meeting, serta mendesain ulang sejumlah kamar hotel. Meski pertumbuhan hotel di Jakarta begitu pesat dengan penambahan kamar rata-rata 26%, Riganda tak bergeming. Ia akan tetap fokus untuk mempertahankan keunikan Mercure dari sisi makanan, pelayanan, dan kebersihan dengan bentuk kemasan yang menarik. “Fokus saya adalah ingin mengembalikan Mercure Jakarta Kota sebagai Mercure pioneer di Indonesia,” tandasnya.

 

Diakui memang di tahun politik ini kondisi bisnis perhotelan cenderung menurun karena tidak adanya kepastian. Namun setelah pemilu selesai, ia optimis pendapatan hotel akan tumbuh besar. Pria pecinta alam ini percaya dengan prinsip marketing bahwa “Seseorang akan kembali dengan apa yang diingat.” Sehingga, meski banyak hotel berdiri di Jakarta, para tamu di berbagai daerah akan tetap memilih Mercure Jakarta Kota sebagai tempat menginap. Prinsip hidup Riganda adalah teruslah berbuat baik kepada siapa pun dan di mana pun berada. Jika nantinya tidak lagi bekerja di hospitality, ia mengaku akan menjadi guru dengan mendirikan sekolah.

 

 

ROBBY SAIMIMA Direktur Operasional Eminence Hospitality Services

Ciptakan The Friendlies Hotel untuk Customer Delight

 

Naskah: Gia Putri Foto: Sutanto

 

“Kami selalu memberikan yang terbaik. Sometimes, expecting tamu itu A, tapi kami bisa memberikan lebih. Itu yang membuat tamu-tamu kami repeat order.”

 

Ambience yang nyeni kental terasa kala Men’s Obsession menyambangi Robby, sapaan akrab Robby Saimima di kantornya. Lukisan bergambar macan tutul karya Popo Iskandar dan lukisan berobjek perempuan karya pelukis berdarah SpanyolAmerika, Antonio Blanco terpajang apik di dinding kantornya yang berada di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Usut punya usut, salah satu koleksi lukisannya juga dipajang di Le Eminence Hotel Convention & Resort-Puncak. “Keluarga saya itu suka seni. Bapak saya juga adalah kolektor seni,” ungkap Robby membuka pembicaraan.

 

Perbincangan kami pun mengalir, selama kurang lebih tiga puluh menit ia menuturkan banyak hal, mulai dari perjalanan karier hingga perjuangannya dalam mengawal Le Eminence mematri prestasi. “Saya mengawali karier di Room Departemen sebagai bell boy, saya besar di Shangri La Hotel Surabaya sekitar 8 tahun. Lalu, kenapa saya menyukai dunia perhotelan? karena hobi saya adalah bertemu dengan banyak orang apalagi dari beberapa culture dan negara,” urainya. 

 

Berkat kegigihannya, kariernya kian meroket, yang mulanya berada di posisi front office, kemudian menjadi general manager di beberapa hotel, khususnya di Indonesia, di antaranya GM Sparks Hotel Jakarta, GM Sutanraja Hotel Convention & Recreation, dan GM The Axana Hotel Padang. Lalu, ia kembali ke Jakarta dan berkarier sebagai GM Royal Safari Garden Hotel, Taman Safari.

 

“Pada 2016, saya dipercaya menjadi GM di Sahid Eminence Hotel & Resort yang kini menjadi Le Eminence Hotel Convention & Resort-Puncak. Saya juga yang set up pre opening team-nya. Kemudian pada 2018, saya dipromosikan sebagai Direktur Operasional PT Eminence Hospitality Services,” bebernya. Pria yang memiliki senyum manis ini mengungkapkan alasannya tertarik berlabuh di Le Eminence, lantaran satusatunya hotel bintang lima di daerah puncak dengan kapasitas 379 kamar, menyuguhkan view yang bagus, yakni persawahan, sungai, dan menghadap Gunung Gede Pangrango.

 

“Itu keistimewaan Le Eminence yang tidak dimiliki beberapa hotel, khususnya daerah puncak,” imbuh Robby. Selain itu, nilai plus dari hotel ini merupakan salah satu MICE terbaik karena memiliki ballroom besar, yakni Pangrango Hall yang bisa menampung 1.000 seating capacity. Lalu, di Ceremai Ballroom sebanyak 250 seating capacity, dan ada 12 meeting rooms. “Kami juga memiliki masjid. Ini juga menjadi keistimewaan karena banyak klien kami yang berasal dari kawasan middle east, mereka ingin meeting, leisure, dan juga beribadah. Sehingga, ini menjadi salah satu fasilitas di hotel kami,” tambahnya.

 

Dipercaya sebagai direktur operasional, Robby telah memikirkan sejumlah strategi untuk menjalankan dan mengembangkan tiga bisnis hotel, yakni Le Eminence Hotel Convention & Resort-Puncak, Le Eminence Hotel Convention & Resort Bintan yang akan dibuka pada 2020, dan Le Eminence Golf Lembang (Bandung). “Le Eminence adalah brand yang menjadi local chain yang dimiliki oleh anak bangsa,” ujar Robby. 

 

Mempertahankan reputasi Le Eminence sebagai the best leading hotel di daerah puncak tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu cara yang ia lakoni adalah membangun team work yang baik, yakni dengan memberikan training terbaik dengan kualitas bintang limanya kepada para karyawan. “Itu menjadi tolok ukur kami. Kami juga terus memberikan inovasi terbaik supaya bisa terus mengikuti beragam pengembangan dunia perhotelan, lebih maju, dan lebih dunamis. Ujungujungnya tamu akan happy, sehingga mereka akan kembali lagi,” imbuhnya. Bagi Robby, tamu atau customer adalah raja yang harus diberikan layanan terbaik. “Sometimes, expecting tamu A, tapi kami bisa memberikan lebih. Itu yang membuat tamu-tamu kami repeat order karena kami membuat mereka nyaman. Kebetulan, kami kan local chain yang baru berjalan sekitar 4 tahun. Namun, boleh dibilang kami yang terbaik di puncak, ini menjadikan kebahagiaan bagi kami khususnya,” ungkapnya.

 

Apa yang dilakukan Robby bersama tim berbuah manis, beragam prestasi dipatri oleh Le Eminence, di antaranya menjadi The Best Value dari online, khususnya dari market middle east. “Online kami bisa mencapai 40 persen, kami merupakan The Best Hotel, khususnya di daerah puncak yang menjadi customer review terbaik no. 1 di Trip Advisor. Tiga kali berturut-turut dan tahun ini juga. Bisa dicek kami selalu berada di peringkat satu atau kedua terbaik. Begitu pun dari travel agent online lainnya,” terang pria yang telah memakan asam garam di dunia perhotelah selama belasan tahun tersebut. 

 

Ketika ditanya tentang mulai menjamurnya hotel yang dibuka di daerah puncak, Robby menganggap hal tersebut sebagai trigger untuk tak henti dalam memberikan pelayanan paripurna. “Ini semakin memompa semangat kami agar terus menjadi the best leading hotel di daerah puncak. Strateginya,  kami harus menjadi the friendlies hotel, khususnya untuk customer delight. Ini menjadi acuan di kami, sehingga kami lebih mengutamakan resort dan MICE yang menjadi salah satu pilihan korporat atau government untuk gathering,” papar pria yang memiliki filosofi hidup ‘cintailah apa yang dikerjakan, dengan begitu akan membuahkan hasil yang baik. Proses tidak akan mengkhianati hasil’ ini.

 

Tak kalah penting, ia juga kerap meminta masukan yang membangun kepada klien. “Itu menjadi salah satu strategi saya untuk mengetahui guest need. Saya juga kalau traveling sembari melakukan survei untuk mendapatkan inovasi apalagi yang bisa diterapkan di hotel kami,” tambahnya. Lebih lanjut ia menuturkan obsesinya, yakni menciptakan anak muda yang bisa berprestasi di dunia perhotelan. “Bisa dilihat di hotel ini karyawannya kebanyakan anak muda. Ini tantangan kami, bisa memberikan lapangan kerja terbaik karena dunia pariwisata terus berkembang,” pungkas pria berdarah Ambon ini.

 

 

 

 

VEVENT IRYADI RUDIANA General Manager Hotel Santika Depok

Jatuh Cinta pada  Hospitality Industry

 

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

 

Malang melintang di dunia hospitality sejak awal meniti karier, menjadikan Vevent Iryadi Rudiana begitu mencintai dunia yang membesarkannya ini. Tak heran jika ia pun all out dalam bekerja, semua pekerjaan dilakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal lelah. Mulai dari saat masih berada di level paling bawah saat awal meniti karier, hingga kini ia dipercaya memimpin sebuah hotel, Vevent selalu mencurahkan seluruh hidupnya untuk hospitality karena baginya hospitality telah menjadi bagian dari hidupnya yang tak akan pernah bisa terpisahkan.

 

Mengawali perbincangan dengan tim Men’s Obsession di ruang kerjanya yang sederhana di Hotel Santika Depok, Vevent bercerita bagaimana ia mengawali kariernya di industri hospitality. Semuanya berawal tak sengaja, ia hanya mengikuti jejak sang kakak yang terlebih dahulu kuliah di perhotelan. Setelah menamatkan pendidikannya, kemudian kesempatan bekerja terbuka lebar. Vevent memulai karier dari bawah dari seorang operator di sebuah hotel jaringan internasional bintang lima di Jakarta. 

 

Berkat kegigihan, kerja keras, serta semangat belajar yang tinggi, kariernya pun meningkat. Ibarat anak tangga, selangkah demi selangkah. Perlahan, tapi pasti, hingga pada akhirnya ia diberi amanah menjabat General Manager Hotel Santika Depok pada April 2018 lalu di usianya yang muda, belum genap 40 tahun. “Dari awal meniti karier saya memiliki personal goals dan saat itu saya memiliki goals ingin menjadi GM usia 40 tahun. Alhamdulillah, tercapai di usia 39 tahun. Setelah personal goals, kemudian kita lakukan pekerjaan sebaik-baiknya, dan mencintai apa yang saya lakukan. Dan, yang paling utama adalah jangan pernah malu untuk belajar dari siapapun. Bahkan, sampai sekarang saya pun masih belajar, saya belajar dari siapapun,” ia membeberkan kunci suksesnya.

 

Saat pertama ditempatkan di Depok, hal yang pertama dilakukan Vevent adalah melakukan survei pasar. Ia melakukan survei untuk mencari tahu terlebih dahulu apa yang disukai para pelanggan sekitar Depok. Gayung bersambut, apa yang disukai market kota Depok inilah kebetulan yang memang menjadi kekuatan dari Santika Depok, yakni masakan nusantara yang kaya akan rempah-rempah. Dengan demikian, rasanya tak sulit bagi Vevent dan tim untuk mengikuti selera pasar.

 

“Kalau kita bicara Santika, apa sih yang dikenal masyarakat, tentu makanan Indonesia. Nah, kami perkuat di situ. Jadi, yang pertama saya lakukan adalah kami buat variasi menu dan perputaran menu minimal 10 sampai 15 menu agar tamu yang stay di sini tidak bosan dengan menu yang itu-itu saja,” ungkap leader yang menerapkan open door policy dalam memimpin ini.

 

Setelah itu, Vevent mengubah flow buffet di restoran menjadi lebih berurutan dimulai dari appetizer yang terlihat saat kali pertama tamu datang. Di samping itu, ia dan timnya juga rajin membuat inovasi-inovasi promo makanan dalam rangka menarik minat tamu.

 

Dengan demikian, menurut Vevent, meski Hotel Santika Depok termasuk hotel lama di Depok, tetapi mampu bertahan di tengah persaingan hotel-hotel baru yang mulai menjamur di Depok ini, bahkan kehadiran dan inovasi-inovasinya selalu ditunggu tamu. 

 

Revenue yang Terus Meningkat

 

Apa yang telah dilakukan Vevent selama kurang lebih satu setengah tahun memimpin ini pun membuahkan hasil. Parameternya jelas terlihat dari revenue yang terus meningkat bahkan mampu mencetak rekor. “Tahun lalu itu kami di atas budget dan itu menjadi pencapaian tertinggi sepanjang hotel ini berdiri. Dan untuk tahun ini, kami sangat optimis karena ada tiga bulan selama 2019 yang mencapai revenue tinggi. Jadi, saya sangat optimis pada akhir tahun ini kita akan pecahkan rekor lagi,” kata Vevent dengan penuh keyakinan. 

 

Ya, ia sangat yakin. Apalagi didukung dengan kekuatan hotel, selain dari rasa dan variasi masakan nusantara yang mendekati otentik, Santika Depok juga terletak di lokasi strategis, di pusat kota Depok bahkan berdampingan dengan Dmall, salah satu mall besar di Depok. Selain itu, Santika Depok yang menjadi gedung tertinggi di antara Hotel Santika lainnya ini juga menawarkan city view yang menarik dari jendela kamar yang terletak di ketinggian lantai 25 sampai lantai 27. Pemandangan indah terbentang dari masing-masing kamar tersebut, mulai dari pemandangan kota Depok, Gunung Salak, bahkan siluet Kota Jakarta Selatan pun dapat terlihat apabila cuaca sedang cerah. 

 

Di samping itu, kekuatan lain dari Santika Depok adalah penggunaan fasilitas yang tak kalah berkualitas, sama seperti apa yang digunakan jaringan hotel internasional bintang empat maupun bintang lima. “Dari kamar, yang membedakan kita dengan jaringan internasional hanya luasnya saja. Sedangkan, bed-nya kita pakai standar yang sama dengan hotel bintang 4 bintang 5 chain international, linennya bisa dibilang vendor sama karena kita menilai kamar hanya untuk tidur saja yang penting nyaman dan bersih, kuncinya di makanan. Tamu akan kembali lagi karena makanannya enak,” terang Vevent.

 

Ke depan, ia masih memiliki tugas dan target yang harus dikembangkan Santika Depok, antara lain terus meningkatkan revenue, penambahan fasilitas baru, seperti ballroom yang rencananya akan mulai dibangun pada 2020 mendatang. “Dan, tantangan terberat buat saya sekarang adalah menjaga konsistensi. Kami sudah mulai dengan sesuatu yang baik. Lalu, bagaimana menjaga konsistensinya. Itu yang terberat dan sejauh ini alhamdulillah sudah mulai bisa terjaga konsistensi kami, tinggal kami perbaiki dan sekali lagi selalu melakukan continuous improvement,” pungkas kelahiran Bandung 18 Agustus 1978 ini.

 

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

Popular

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250