Search:
Email:     Password:        
 





PT Hasura Mitra Gemilang, 3R untuk Bumi yang Lebih Baik

By Syulianita (Editor) - 06 January 2020 | telah dibaca 249 kali

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Dok. Hasura

 

Jika banyak perusahaan di negeri ini menjadikan isu lingkungan hidup sebagai kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) mereka, tidak dengan PT Hasura Mitra Gemilang. Hasura justru hadir karena kepeduliannya yang tinggi pada lingkungan hidup, serta sebagai wujud prihatin lantaran begitu banyak sampah plastik yang kini menjadi permasalahan besar, tak hanya di negeri ini, tetapi juga di dunia. Hasura berhasil melakukan 3R (reuse, reduce, recycle), dari limbah sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

 

Memang sungguh mengerikan jika kita mendengar bahwa sampah plastik di Indonesia semakin banyak, sudah lebih dari 10 juta ton per tahunnya. Ikan di laut pun menjadi korban, banyak yang mati karena mengonsumsi plastik lantaran saking banyaknya sampah plastik yang dibuang ke laut. Lantas, apa solusinya? Terus ditumpuk tidak mungkin, apalagi plastik baru bisa terurai setelah ratusan tahun lamanya. Solusi paling mudah adalah dibakar. Namun, bukan itu jawabannya!

 

Kepada Men’s Obsession, Direktur PT Hasura Mitra Gemilang, T. Lukito, memaparkan banyak hal menarik mengenai isu besar yang telah menjadi permasalahan di dunia ini. Tak sekadar teori, melalui Hasura, Lukito dan tim telah berbuat sesuatu yang nyata untuk menyelamatkan lingkungan dan bumi tercinta ini, antara lain dengan memanfaatkan sampah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan penuh semangat ia mengajak kami berkeliling pabrik Hasura di kawasan Cibitung untuk melihat langsung proses pembuatan daur ulang sampah plastik.

 

“Ini yang menjadi visi misi utama kita, mengoptimalkan penggunaan sampah plastik menjadi produk yang bermanfaat. Tentunya berharap bisa menggandeng banyak pihak, seperti pengrajin atau petani atau pemulung agar bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Dan, yang pasti penyelamatan lingkungan hidup,” terang Lukito.

 

Ya, semua memang saling bersinergi. Lukito mencontohkan pada salah satu produknya, yaitu HPC. Jika selama ini yang ada di pasaran adalah WPC (wood plastic composite) menggunakan kayu, HPC menggunakan gabah padi. Inovasi tersebut sungguh menarik. Apalagi jika melihat gabah padi selama ini tak pernah dilirik bahkan hanya menjadi sampah, sisa-sisa dari para petani, Hasura justru memanfaatkan ‘sampah’ tersebut menjadi sangat bernilai.

 

“Jadi, sampah plastik kita campur dengan gabah yang selama ini hampir tidak ada harganya untuk petani, justru kita beli dengan harga yang berharap bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Jadi, memang kita beli di atas harga pasaran, bahkan harapan saya bisa lebih lagi dari itu,” ungkap Lukito. Tak hanya itu. Dengan tidak menggunakan kayu, secara tidak langsung Hasura turut berkontribusi dalam menjaga pelestarian hutan di negeri ini.

 

“Nah, itu kita jadikan juga produk pengganti kayu, yang tujuannya menyelamatkan hutan kita karena yang saya baca 1,4 juta hektar hutan kita setiap tahun habis. Jadi ini menurut saya saling berhubungan, bagaimana kita memanfaatkan sampah plastik, sambil juga menggunakan limbah lain dalam hal ini kulit gabah, kemudian juga sambil menyelamatkan hutan kita juga. Saya pikir ini semuanya bersinergi. Jadi, ini kenapa kita sangat tertarik untuk mengembangkan produk ini,” imbuhnya.

 

Meski diolah dari sampah, Lukito berani menggaransi produknya tersebut memiliki kualitas yang baik. Dalam hal ini, Hasura tak main-main, bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya saat mengembangkan inovasi mengolah HPC lantaran menginginkan kualitas terbaik. Selain inovasi dan teknologi yang terbaik, Hasura juga menerapkan RoHS Free yang bebas dari kandungan berbahaya, serta manajemen mutu ISO 9001:2015. Sehingga, produk yang dihasilkan aman dan terjaga kualitasnya. Untuk itu, Lukito sangat menyayangkan, selama ini masih banyak produsen yang membeli produk tersebut impor dari negara lain, seperti dari China.

 

“Sangat disayangkan kenapa harus impor, padahal kita sendiri bisa. Kualitas boleh diuji, saya pernah uji lab, kekuatan produk kita dua kali lipat dibanding produk mereka. Selain itu, kalau impor dari sana ya sampahnya sampah mereka. Sedangkan, tujuan kita kan ingin mengurangi sampah plastik di Indonesia” sesalnya.

 

Setelah HPC, ke depan Hasura tengah mengembangkan produk limbah plastik lainnya, seperti membuat rumbai atap rumah dari sampah plastik, membuat conblock dan juga dinding tembok dari sampah plastik, yang paling penting bagi Hasura adalah bagaimana menerapkan zero waste. Jadi, meski saat ini masih ada beberapa sampah plastik yang sulit diolah seperti plastik packaging multi layer, Lukito yakin ke depan ia bisa meminimalisirkan bahkan mampu mengolah semua sampah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat.

 

Hingga ke Pulau Dewata

 

Tugas Hasura dalam menjaga dan melestarikan lingkungan tak hanya sampai di situ. Memiliki tujuan mulia, betapa pentingnya menjaga bumi, Hasura tak ingin bekerja sendiri. Hasura pun bekerja sama dengan pemerintah daerah dan yayasan sosial di Bali terkait 3R sampah plastik. Hasura juga akan hadir mengedukasi ke beberapa sekolah di Bali mengenai kondisi sampah yang memprihatinkan serta bagaimana cara mengatasinya, yang diawali dari pentingnya pemilahan sampah.

 

“Sekarang memang sudah mulai ada pemilahan sampah, namun sayangnya begitu diangkut ke truk sampah, semua disatukan. Nah, ini nantinya kita siapkan juga sarananya, harus ada truk khusus. Jadi, saya rasa pemerintah memang sudah seharusnya turun tangan. Untuk saat ini kontribusi saya mungkin masih ruang lingkup kecil, baru menyasar Bali, tapi tidak masalah. Lebih baik melakukan sesuatu daripada diam saja,” tegas Lukito. Melihat kondisi negara dengan sampah plastik yang memprihatinkan, Lukito berharap ke depan pemerintah bisa membuat regulasi untuk menyelesaikan permasalahan ini bersama-sama.

 

Seperti misalnya, membuat regulasi bagaimana mengurangi penggunaan plastik yang baru atau membuat regulasi penggunaan meja dan kursi dari plastik daur ulang di tiap sekolah, atau bahkan penggunaan material dari daur ulang plastik seperti HPC pada rumah RSS.

  


Read More    

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

   
      

Popular

   

Photo Gallery


 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250