Search:
Email:     Password:        
 





KETIKA KEMATIAN Membuat Penasaran

By Syulianita (Editor) - 07 January 2020 | telah dibaca 373 kali

KETIKA KEMATIAN Membuat Penasaran

Naskah: Sahrudi/dari berbagai sumber Foto: Istimewa

 

 

Suatu hari keluarga dan teman-teman dekat Zeng Jia, seorang mahasiswi berusia 22 tahun dari Wuhan, Cina, kaget bukan kepalang ketika Zeng menyatakan ingin merasakan bagaimana menjadi mayat dan menjalani upacara kematian. Zeng bukan ingin bunuh diri. Dia hanya ingin merasakan bagaimana jadi orang yang sudah mati namun dia tetap hidup. Entah bagaimana jalan pikiran Zeng saat itu, tapi yang pasti seperti dilansir dari Daily Press, dia mendapat ide untuk melakukan hal tersebut setelah menyadari bahwa ternyata orang-orang menghabiskan begitu banyak uang untuk menyelenggarakan upacara kematian, padahal sang mayat sendiri tak mendapat kesempatan untuk menikmati upacara tersebut.

 

Zeng pun menghabiskan semua tabungannya untuk membuat upacara kematian yang utuh. Lengkap dengan peti mati, bunga, burung origami, serta fotografer, dan kerumunan pelayat. Ia juga mengundang keluarga dan temanteman untuk ambil bagian dalam perayaan yang tidak biasa tersebut. Hebohnya, semua yang diundang Zeng itu datang menjadi pelayat dan melihatnya berbaring dalam peti mati sambil memeluk boneka Hello Kitty di dadanya dengan efek muka pucat hasil riasan make up artist.

 

Zeng adalah satu dari sekian banyak contoh betapa banyak orang yang sepertinya ingin tahu tentang rasanya mati meski dasarnya kematian adalah sebuah keniscayaan karena setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan, pertanyaan tentang kematian itu sendiri sudah banyak dijawab dengan narasi-narasi teologis.

 

# Pemakaman Palsu Bagi Orang Hidup

 

Ternyata tidak hanya Zeng yang ingin tahu bagaimana merasakan mati. Di Korea Selatan bahkan ada sebuah lembaga yang menawarkan pelayanan pemakaman gratis untuk mereka yang masih hidup. Tentu saja ini, lagi-lagi hanya pemakaman palsu yang dibuat cuma untuk menjawab rasa penasaran mereka yang ingin tahu rasanya mati. Usaha layanan “pemakaman hidup” massal ini ada di Pusat Penyembuhan Hyowon, Korea Selatan. Sejak dibuka pada 2012, lebih dari 25.000 orang telah berpartisipasi dan berharap untuk meningkatkan kehidupan mereka melalui simulasi kematian mereka.

 

“Begitu Anda sadar akan kematian dan mengalaminya, Anda melakukan pendekatan baru terhadap kehidupan,” begitu alasan Cho Jae-hee, 75 tahun, yang menjadi partisipan dalam pemakaman hidup yang diistilahkan sebagai program “sumur sekarat” dan ditawarkan oleh pusat kesejahteraan senior.

 

Mulai dari remaja hingga pensiunan, tak sungkan menjadi peserta program ini dengan melakukan hal-hal laiknya orang meninggal di negara itu seperti mengenakan perangkat kematian yang sudah disiapkan, mengambil potret pemakaman, menulis wasiat terakhir mereka, dan berbaring di peti mati tertutup selama sekitar 10 menit.

 

Setelah itu, apa yang mereka rasakan? “Ketika saya berada di peti mati, saya bertanya-tanya apa gunanya itu,” aku seorang mahasiswa bernama Choi Jin-kyu  setelah bangkit dari peti mati. Tapi Choi meyakini bahwa “ritual” itu membantu pria 28 tahun ini menyadari bahwa ia terlalu sering memandang orang lain sebagai pesaing.

 

Ternyata apa yang dilakukan dalam program tersebut tak lepas dari kondisi Korea Selatan yang lebih banyak memiliki anak muda dengan harapan tinggi untuk pendidikan dan pekerjaan. Persaingan yang tentu saja ketat. Hal ini menimbulkan depresi tingkat tinggi bagi warganya. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia pada 2016, tingkat bunuh diri Korea Selatan adalah 20,2 per 100.000 penduduk, hampir dua kali lipat rata-rata global 10,53. Sehingga, Profesor Yu Eun-sil, seorang dokter di departemen patologi Asan Medical Center berpendapat, “Penting untuk mempelajari dan mempersiapkan kematian bahkan di usia muda,” kata ilmuwan yang telah menulis buku tentang kematian ini.

 

Karenanya, jangan heran kalau perusahaan pemakaman Hyowon di Korea Selatan itu mulai menawarkan pemakaman hidup. Hal itu,  kata Jeong Yong-mun, yang mengepalai pusat penyembuhan untuk membantu orang menghargai hidup mereka dan mencari pengampunan serta rekonsiliasi dengan keluarga serta teman-teman. Jeong mengatakan dia berbesar hati ketika orang berdamai di pemakaman seorang kerabat, tetapi sedih mereka menunggu selama itu.

 

“Kita tidak punya selamanya. Itulah mengapa saya pikir pengalaman ini sangat penting dimana kita dapat meminta maaf dan mendamaikan lebih cepat dan menjalani sisa hidup kita dengan bahagia," katanya. Jeong, seperti dikutip Reuters, ingin membuat orang tahu bahwa mereka penting, dan bahwa orang lain akan sangat sedih jika mereka pergi.

 

 

Di Indonesia Ada Museum Kematian

Di Indonesia ada tempat unik untuk memenuhi rasa penasaran Anda yang ingin tahu tentang segala hal kematian, namanya Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian atau biasa disebut Museum Kematian yang letaknya di dalam kawasan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur. Di museum yang dikelola oleh Departemen Antropologi Unair ini ada berbagai bentuk replika makam yang ada di Indonesia, mulai dari makam Islam, Belanda, Tionghoa, Nasrani, Sulawesi Utara, Bali, dan Toraja. Termasuk tradisi pemakaman itu sendiri. Disetting dengan suasana horror seperti lampu temaram, aroma dupa terbakar dan suara jangkrik di malam hari membuat museum ini bisa membuat bulu kuduk berdiri bahkan ada kerangka asli yang dipinjamkan langsung dari pihak kepolisian.

 

Museum yang didirikan pada tahun 2006 ini berawal dari koleksi para mahasiswa yang melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) ke berbagai daerah. Ternyata salah satu aspek yang paling banyak ditemukan adalah adanya perbedaan tradisi memakamkan jenazah. Berangkat dari itulah Departemen Antropologi merasa perlu merangkum berbagai tradisi tersebut dan memamerkannya dalam museum. Awalnya hanya satu ruangan men-display koleksi. Museum ini melakukan renovasi setelah memperoleh dana hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga dapat mendirikan museum yang ada sekarang ini.

 

Dengan museum ini, untuk mempelajari dua macam peminatan ilmu yang dipelajari, yaitu antropologi sosial budaya dan antropologi ragawi. Kalau tentang sosial budaya itu untuk mempelajari manusia secara kebudayaan dan sosialnya. Sementara, kalau yang ragawi adalah untuk mempelajari khusus tubuh manusia.  Akhirnya dipilihlah tema kematian karena kematian itu bisa dilihat dari budaya dan bisa dilihat dari segi tubuh manusia itu sendiri karena setelah mati manusia akan dikubur dan diproses dalam pembusukan.

 

Koleksi museum ini didominasi kerangka manusia sebagai ‘koleksi paling berharga’ di museum ini. Sisa-sisa terutama kerangka manusia tentu sangat dihormati karena mereka juga pernah hidup. Untuk perawatan, tulangbelulang itu disimpan di dalam kotak kayu agar tidak dimakan rayap. Sedangkan, sebagian tulang lain yang masih bisa digunakan untuk uji forensik diletakkan di dalam lemari kaca.

 

Selain replika, ada pula koleksi yang diambil langsung dari tempat asalnya semisal guci yang berisi abu hasil pembakaran jenazah hingga suvenir khas kematian seperti waruga. Dengan adanya museum ini, mahasiswa bisa memahami bagaimana tubuh manusia saat meninggal nanti. Sebab, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

 

Namun jika dipelajari, kematian bisa dihadapi dengan lebih santai. Jadi, museum ini juga mengingatkan mahasiswa khususnya dan pengunjung pada umumnya tentang kematian. Bagaimana tubuhnya nanti dan diharapkan bisa menghadapi kematian dengan lebih enjoy.

 

 

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250