Search:
Email:     Password:        
 





Palwoto, Keutuhan Candi, Bukan Sekadar Mengejar Profit

By Syulianita (Editor) - 09 January 2020 | telah dibaca 183 kali

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Sutanto

 

“Hidup itu butuh keseimbangan antara urusan duniawi dan ukhrowi, karenanya tidak boleh ada yang timpang,” Sepenggal kalimat indah ini diutarakan oleh sosok pria bernama Palwoto. Direktur Keuangan, SDM & Investasi PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko ini percaya sepenuh hati kerja keras tidak akan membohongi hasil. 

 

Namun, doa kepada yang Maha Kuasa juga tidak boleh ditinggalkan karena tanpa ada izin-Nya belum tentu kinerja seseorang itu berhasil. Untuk itu, ia merasa hidup ini butuh keseimbangan. Palwoto, pria dengan nama yang singkat ini lahir di Cilacap pada 12 Maret 1970, lulusan Fakultas Ekonomi UGM dan Magister Akuntansi Universitas Indonesia yang cukup lama menekuni karir sebagai auditor di perbankan milik pemerintah, yakni PT Bank Tabungan Negara (BTN).

 

Selama 21 tahun di BTN hampir 16 tahun bekerja sebagai auditor yang dimulai dari staf hingga menjadi kepala audit internal, sebelum pada tahun 2017 mengakhiri karirnya di bank yang dulunya bernama Bank Tabungan Pos itu menjadi Kepala Credit Risk. Dari pengalamannya itu, Palwoto mencoba untuk berkarier di BUMN lain dengan mengikuti berbagai tahapan seleksi, dan akhirnya ia sukses ditetapkan sebagai Direktur Keuangan di TWC pada 2017 lalu.

 

Kenapa pilihannya kepada pariwisata, Palwoto ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari perusahaan yang digeluti sebelumnya, meski pekerjaannya saat ini juga tidak lepas dari persoalan ekonomi dan akuntansi. Hanya saja, pariwisata memiliki keunikan yang lain. 

 

“Kenapa jatuhnya ke pariwisata? Karena saya melihat potensi wisata Indonesia ke depan sesungguhnya sangat besar. Dari sisi bentangan alamnya, budaya, karya seni, dan kultur keberagaman masyarakatnya, serta dari kuliner. Semua banyak, ada di Indonesia. Karena itu, Presiden Jokowi menekankan sektor pariwisata masuk menjadi program prioritas dan diharapkan bisa menjadi penyumbang devisa terbesar negara,” ujar Palwoto saat ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya.

 

Saat pertama bekerja, ia melihat aset TWC yang mengelola Borobudur dan Prambanan dari sisi keuangan kecil. Namun, ia melihat secara keseluruhan aset TWC ini sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar jika mampu dikelola dengan baik. Untuk itu, pertama yang harus dilakukan adalah bagaimana bisa melakukan value creation dengan menciptakan peluangpeluang baru, sehingga keuangan perusahaaan terus meningkat dan berjalan semakin sehat dengan manajeman resiko yang baik. Kedua, menjadikan perusahaan sebagai agent of development, di mana perusahaan harus bisa memberikan manfaat kepada yang lain.

 

“Bermanfaat itu bukan hanya sekadar menyumbangkan profit untuk negara, tapi bagaimana bisnis yang kita kelola ini bisa memberikan dampak positif terhadap masyarakat, baik dari sisi ekonomi maupun juga pelestarian lingkungan. Jadi, agent of development intinya itu aspek kebermanfaatan sebuah perusahaan,” tuturnya.

 

Palwoto bersyukur selama dirinya menjabat, tiga tahun terakhir ini keuangan TWC selalu melampaui target. Bahkan dalam 4 tahun terakhir, dalam kurun waktu 2015-2018, laba bersih TWC mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan hampir mendekati 350% dan ia yakin penutupan tahun ini bisa lebih baik karena di akhir tahun di samping hari libur TWC juga mengadakan beberapa event yang ada di Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

 

Pendapatan terbesar TWC sementara ini masih dari tiket wisata, yakni 70%, sisanya dari pertunjukan seni di teater dan kuliner 30%. Adapun strategi bisnis yang diterapkan adalah Palwoto melihat ada dua hal yang harus dilakukan, pertama TWC harus bisa merawat atau menjaga bisnis yang sudah ada, jangan sampai nilainya turun, seperti pengelolaan Candi Borobudur, Candi Prambanan, teater, dan segala fasilitas yang ada dikawasan candi. Setelah bisnis yang sudah ada mampu terjaga dengan baik. Selanjutnya kedua, TWC harus berani mengembangkan perusahaan dengan merambah sektor lain yang masih dalam koridor pariwisata sesuai kewenangan TWC. 

 

Dari pengembangan bisnis itu, di antaranya sinergi di kawasan Jogja, Solo, Semarang (Joglo semar) dengan para pihak berupa pembangunan hotel, resto bekerja sama dengan BUMN lain, membuka bisnis kuliner di Semarang yang bernuansa heritage, lalu membuka peluang bisnis pariwisata bekerja sama dengan pemerintah daerah seperti di Karimun Jawa dengan Pemda Kabupaten Jepara. Termasuk juga bekerja sama dengan pihak Keraton Jogja. “Strategi bisnis yang diterapkan harus bersifat jangka pendek, menengah dan jangka panjang, dan roadmap bisnis kita sudah ada untuk puluhan tahun yang akan datang,” tuturnya. 

 

Sedangkan dari sisi pengelolaan keuangan, Palwoto juga menerapkan sistem baru yang dinamakan Enterprise Resource Planning (ERP). Hal ini untuk memastikan keuangan yang dikeluarkan perusahaan transparan, efisien, dan tepat sasaran. Dengan begitu, seluruh manajemen kata dia, bisa mengendalikan keuangan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. “Jadi, efisien itu tidak identik dengan ngirit, tapi lebih kepada potensi sebenarnya. Kalau kita harus mengeluarkan uang tapi dengan potensi yang lebih besar, kenapa tidak! Karena kita juga tidak punya problem likuditas, tapi kita tetap harus hati-hati dalam mengeluarkan uang,” paparnya. 

 

Palwoto selalu menekankan, tumbuhnya bisnis harus dibarengi dengan mitigasi risiko dengan baik, jangan sampai pengembangan bisnis salah langkah dan bisa berakibat fatal terhadap kondisi keuangan perusahaan. Tidak hanya bicara masalah keuangan, namun terkait Borobudur dan Prambanan ini adalah objek vital negara, sebuah warisan kebudayaan bangsa yang punya nilai keagungan yang tinggi. Sebab itu, bicara soal candi ia menilai bukan hanya soal mengejar profit, tapi juga pelestarian cagar budaya.

 

Palwoto bangga Borobudur menjadi salah satu dari lima destinasi super prioritas pariwisata yang ditetapkan pemerintah. Dengan penetapan tersebut, dilakukan langkah-langkah inovatif agar keinginan pemerintah untuk meningkatkan devisa negara tercapai. Di balik kerja keras dan prestasi, sosok Palwoto ternyata seorang yang tenang dan nampak selalu berupaya untuk menjalankan hal baik dalam kehidupan beragama yang dianutnya.

 

Meski tidak mau disebut alim, namun kepribadian dia mencerminkan Muslim yang taat. Seperti saat wawancara ternyata dia sedang menjalankan puasa Daud yang dia akui dilakukan sudah cukup lama. Uniknya saat ditanya hobi, dia menyampaikan tidak punya hobi yang pasti, sambil tersenyum dia mengatakan bahwa barangkali hobi nya itu puasa. Menurutnya ibadah itu kewajiban mahluk yang dapat menjaga keseimbangan dalam hidup. “Insya Allah dengan beribadah dan dekat denganNya, Tuhan akan selalu melindungi kita.” tutupnya. Ya, keseimbangan itulah prinsip hidup Palwoto.

 

 

 

 


Read More    

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     

Popular

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250