Search:
Email:     Password:        
 





16 CEO Pilihan 2020

By Syulianita (Editor) - 06 March 2020 | telah dibaca 427 kali

16 CEO Pilihan 2020

 

Chief Executive Officer (CEO) dalam sebuah perusahaan adalah top profesional yang memiliki peran besar dalam memajukan bisnis. Karena itu, ada sejumlah prasyarat  yang harus dimiliki seorang CEO, yakni mampu memimpin sebuah tim yang baik dan bisa mendorong mereka  untuk bersemangat dalam melakukan pekerjaan, dan berhasil menyusun sebuah sistem keuangan. CEO yang baik juga tidak segan untuk membantu menciptakan sumber pemasukan dan hasil yang lebih baik. Ia juga harus bisa mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya serta memahami timnya dengan amat baik sehingga tidak mengabaikan masukan dari anggota timnya.

Dengan kemampuan-kemampuan tersebut, bukan tidak mungkin seorang CEO akan piawai mengendalikan perusahaannya dengan baik dalam kondisi perekonomian lokal maupun global yang labil sekalipun. Sehingga, ia tetap tangguh dan mampu memberikan hasil kepada perusahaan dan pada gilirannya mampu memberikan kontribusi besar bagi pembangunan perekonomian nasional. Keberadaan CEO seperti itu ternyata cukup banyak di pentas bisnis nasional saat ini. Hanya saja, mungkin kurang terpublikasi. Tapi fakta membuktikan bahwa mereka, para CEO tersebut, pernah dan mampu mengendalikan bisnisnya di tengah turbulensi ekonomi yang keras sekalipun.

Mereka itulah para “CEO Pilihan” yang kami tampilkan pada edisi bertajuk “16 CEO Pilihan 2020”. Ke-16  CEO Pilihan yang kami nilai ini telah mencapai achievement membanggakan di bidang pekerjaan/perusahaan masing-masing, sehingga diyakini mampu memberi inspirasi dan motivasi kepada khalayak luas. Harapannya, tentu agar apa yang telah mereka lakukan menjadi inspirasi positif bagi masyarakat. Siapa saja mereka, kami sajikan pada halaman selanjutnya. Selamat membaca!

 

*artikel ini dimuat pada Majalah Men's Obsession edisi Februari 2020

AGUS SUSANTO - Direktur Utama BPJAMSOSTEK

Memberikan Layanan Paripurna Kepada Pekerja Indonesia

Naskah: Gia Putri Foto: Edwin B.

Sepanjang tahun 2019, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK) sukses membukukan kinerja gemilang pada beberapa indikator kinerja, seperti kepesertaan, pelayanan, dan pengelolaan dana. Hal ini tak lepas dari tangan dingin Agus Susanto, Sang Direktur Utama.

Total 55,2 juta pekerja atau mencakup 60,7 persen dari seluruh pekerja Indonesia yang eligible sebagai peserta, telah terdaftar sebagai peserta BPJAMSOSTEK hingga akhir Desember 2019. Hasil ini merupakan pencapaian yang positif untuk menutup tahun 2019, yakni tumbuh 9,1 persen dari tahun 2018. Dari sisi penambahan perusahaan atau pemberi kerja, capaian yang diraih oleh BPJAMSOSTEK menyentuh 683,5 ribu perusahaan atau tumbuh 21,6 persen Year on Year (yoy).

Kendati dinamika kepesertaan cukup tinggi, sambung Agus, sepanjang tahun 2019, BPJAMSOSTEK berhasil mengakuisisi 23,6 juta peserta. Kinerja positif ini dapat dicapai dengan menggagas kegiatan dan kerja sama strategis bersama pemerintah, baik daerah, provinsi, hingga pusat. Kerja sama yang dilakukan, di antaranya penguatan regulasi pada level daerah hingga provinsi dan memastikan kepatuhan para pemberi kerja terhadap regulasi jaminan sosial ketenagakerjaan. Agus mengatakan, pihaknya bahkan memberikan apresiasi khusus melalui Anugerah Paritrana kepada kepala daerah dan provinsi yang telah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan program perlindungan jaminan sosial.

BPJAMSOSTEK juga mendorong kepesertaan pekerja Bukan Penerima Upah (BPU) dan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) melalui inisiatif Penggerak Jaminan Sosial Indonesia (Perisai), sebuah inovasi perluasan kepesertaan dengan skema keagenan. BPJAMSOSTEK juga memberikan perlindungan kepada Pekerja Migran Indonesia (PMI), sejak masa persiapan kerja, penempatan kerja, hingga kembali ke Tanah Air selepas kontrak kerja berakhir. Dari sisi penerimaan iuran, sepanjang 2019, BPJAMSOSTEK berhasil membukukan penambahan iuran sebesar Rp73,1 triliun. Iuran tersebut ditambah pengelolaan investasi berkontribusi pada peningkatan dana kelolaan mencapai Rp431,9 triliun pada akhir Desember 2019.

BPJAMSOSTEK juga mencatatkan hasil investasi sebesar Rp29,2 triliun, dengan Yield on Investment (YOI) yang diraih sebesar 7,34 persen atau lebih tinggi dari kinerja IHSG yang mencapai 1,7 persen. Sedangkan, pembayaran klaim atau jaminan yang dikucurkan BPJAMSOSTEK pada 2019 mengalami peningkatan sebesar 21,2 persen atau mencapai Rp29,2 triliun. Dengan perincian klaim untuk Jaminan Hari Tua (JHT) mencapai Rp26,6 triliun untuk 2,2 juta kasus, Jaminan Kematian (JKM) sebanyak 31,3 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp858,4 miliar, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) sebanyak 182,8 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp1,56 triliun, dan Jaminan Pensiun (JP) sebanyak 39,7 ribu kasus dengan nominal sebesar Rp118,33 miliar. 

Agus menuturkan, sepanjang 2019 program JKK telah melaksanakan manfaat Return To Work (RTW) kepada 901 orang peserta di mana sebanyak 748 orang sudah kembali bekerja. “Untuk memastikan layanan terbaik bagi peserta, sampai akhir Desember 2019, kami telah bekerja sama dengan 7.254 Pusat Layanan Kecelakaan Kerja (PLKK) dan Pusat Layanan Kembali Bekerja (PLKB) yang tersebar di seluruh Indonesia,” imbuh Agus. 

Apa yang dilakoni BPJAMSOSTEK dalam memberikan layanan paripurna bagi peserta berbuah manis dengan diraihnya dua penghargaan tertinggi dalam hal pengembangan dan pemanfaatan Sistem Teknologi Informasi (TI) dan pelaksanaan program Return to Work. Penghargaan ini diberikan pada pertemuan institusi jaminan sosial sedunia (World Social Security Forum/WSSF) di Brussels, Belgia, yang diselenggarakan oleh International Social Security Association (ISSA) dan dihadiri 152 negara. Adapun, penghargaan yang diterima BPJAMSOSTEK hanya diberikan kepada lembaga yang mampu mengimplementasikan pedoman dan standar internasional jaminan sosial (Guidelines) dari ISSA.

Penghargaan tersebut dinamakan ISSA Certificate of Excellence in Social Security Administration for Information Communication Technology (ICT) dan ISSA Certificate of Excellence in Social Security Administration for Return to Work (RTW) program. Tak hanya itu, BPJAMSOSTEK juga meraih penghargaan dari ASEAN Social Security Association (ASSA) pada kategori Innovation terkait PERISAI dalam ajang ASSA Recognition Awards.

Kado Manis untuk Pekerja Indonesia

Menutup tahun 2019, seluruh pekerja di Indonesia saat ini mendapatkan kado spesial dari Presiden Joko Widodo terkait Kenaikan Manfaat Program JKK dan JKM BPJAMSOSTEK. Kado spesial tersebut berupa Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 tentang perubahan atas PP Nomor 44 Tahun 2015, tentang Penyelenggaraan Program JKK dan JKM BPJAMSOSTEK.

Kenaikan manfaat terbilang cukup signifikan, baik untuk program JKK maupun JKM. Menariknya, kenaikan manfaat ini tidak diiringi dengan kenaikan iuran. Dalam PP No. 44 Tahun 2015, manfaat yang diberikan kepada peserta yang mengalami JKK adalah sebesar Rp50 juta. Pada PP No. 82 Tahun 2019, manfaat yang diberikan kepada peserta yang mengalami JKK sebesar Rp261,5 juta atau naik sebesar 423 persen. Sementara untuk JKM, dalam PP No. 44 Tahun 2015, manfaat yang diberikan kepada peserta adalah Rp36 juta. Pada peraturan PP No. 82 Tahun 2019, manfaat yang diberikan kepada peserta yang mengalami JKM sebesar Rp216 juta atau naik sebesar 500 persen. 

Lantas apa saja manfaat yang bisa diperoleh oleh peserta BPJAMSOSTEK? Pada program JKK, salah satunya bantuan beasiswa untuk kecelakaan kerja berakibat kematian dan cacat total tetap meningkat awalnya hanya untuk 1 orang anak sebesar Rp12 juta sekarang untuk 2 orang anak yang masih sekolah dari TK-Perguruan Tinggi (S1) atau sederajat dengan persentase kenaikan sebesar 1350 persen mencapai maksimal Rp174 juta untuk 2 (dua) orang anak. Ada pula manfaat baru yang sama sekali belum ada di manfaat sebelumnya, antara lain perawatan di rumah atau Homecare dengan biaya maksimal Rp20 juta untuk 1 tahun perawatan. Sedangkan pada manfaat JKM, sebelumnya jumlah santunan total Rp24 juta ditambah dengan bantuan beasiswa sebesar Rp12 juta untuk 1 orang anak yang masih sekolah. Sementara, pada manfaat baru santunan Jaminan Kematian naik sebesar 75 persen menjadi Rp42 juta ditambah dengan bantuan beasiswa dengan nilai maksimal Rp174 juta. Menutup pembicaraan Agus menuturkan harapannya, “Hadirnya Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2019 ini dapat mendorong peningkatan kepesertaan dan kami bisa memberikan perlindungan yang paripurna kepada seluruh pekerja dan besar harapan kami agar perlindungan BPJAMSOSTEK ini dapat menjadi sebuah kebutuhan primer untuk masyarakat pekerja saat mereka bekerja.”

 

BINTANG PERBOWO - Direktur Utama PT Hutama Karya (Persero)

Bekerja Maksimal untuk Hasilkan yang Terbaik

Naskah: Gia Putri Foto: Dok. Hutama Karya

Kinerja PT Hutama Karya (Persero) sepanjang tahun 2019 di bawah kepemimpinan Bintang Perbowo patut diacungi jempol. Pasalnya, perusahaan plat merah ini berhasil mencetak laba bersih Rp2,7 triliun (unaudited), tumbuh 15,85 persen dibandingkan tahun 2018 Rp2,28 triliun.

Peningkatan laba Hutama Karya didukung oleh pendapatan yang meraih Rp27,06 triliun, naik Rp311 miliar dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Pada tahun 2020 ini, Hutama Karya akan mendapat alokasi Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp3,5 triliun. Dengan kucuran dana segar tunai sebesar itu, Bintang menyampaikan potensi jalan tol yang bisa dibangun adalah ekuivalen 60 kilometer. “PMN Tahun 2020 akan digunakan untuk mendukung penyelesaian ruas-ruas prioritas dari Jalan Tol Trans Sumatra, yakni ruas Pekanbaru-Dumai sebesar Rp2 triliun dan Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung sebesar Rp1,5 triliun,” paparnya.

Bintang juga menyampaikan manfaat secara langsung pada perekonomian dengan adanya PMN tersebut. “Di Lampung, berpotensi menambah Produk Domestik Regional Bruto dari tahun 2020 sampai tahun 2048 rata-rata sebesar Rp28 triliun per tahun. Di Sumatera Selatan berpotensi menambah PDRB Rp141 triliun per tahun. Dan, di Riau berpotensi menambah PDRB 125 triliun per tahun,” beber Bintang.

Selain menambah PDRB, juga berpotensi menyerap tenaga kerja di Lampung sebesar 199.041 orang, di Sumsel 402.565 orang, dan di Riau 466.618 orang. “Tentunya, penyelesaian Ruas Pekanbaru-Dumai dan ruas Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung akan mendukung program pemerintah di bidang konektivitas nasional yang pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas masyarakat dan daya saing di pasar internasional,” ucap Bintang.

Hutama Karya juga menjadi bagian dari pembangunan infrastruktur yang menjadi Proyek Strategis Nasional, khususnya di bidang Irigasi dan Bendungan. Berbagai proyek Bedungan garapannya, antara lain Bendungan Ladongi di Sulawesi Tenggara, Bendungan Keureuto di Aceh, dan Bendungan Gongseng di Jawa Timur.

Selain itu, Hutama Karya bersama 8 BUMN lain bersinergi untuk mengembangkan kawasan wisata yang ramah lingkungan di sekitar Sungai Cisadane. Program yang bertajuk BUMN Giving Back to Nature ini bekerja sama dengan Komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten.

Kawasan BUMN Giving Back to Nature di pinggiran Sungai Cisadane ini memiliki beberapa fasilitas dan atraksi wisata, di antaranya Jogging Track, area Arboretum, Flying Fox, Wall Climbing, Saung Taman Bacaan, kawasan perkemahan, dan jembatan gantung. Hutama Karya turut membangun beberapa fasilitas pada kawasan wisata tersebut sejak Maret 2019.

Keterlibatan Hutama Karya dalam program ini merupakan bentuk dukungan terhadap upaya penyelarasan antara kelestarian alam dan juga kesejahteraan masyarakat. Banyak yang berkata bahwa kesejahteraan masyarakat akan berbanding terbalik dengan kelestarian alam. Bahwa untuk menyejahterakan dirinya, manusia cenderung untuk merusak lingkungannya.

Namun melalui program ini, Hutama Karya ingin membuktikan bahwa dengan program pemberdayaan yang tepat, masyarakat dapat diajak untuk menjaga ekosistem sekaligus menggerakan geliat perekonomian lokal secara berkelanjutan.

Sepanjang 2019, Hutama Karya diganjar beragam penghargaan, seperti pada ajang BUMN Hadir untuk Negeri Award 2018 meraih gelar BUMN Hadir untuk Negeri Tahun 2018 terbaik dengan kriteria koordinasi dan kerja sama PIC, Co PIC, dan pihak lainnya pada pelaksanaan BUMN Hadir untuk Negeri (BHUN) Tahun 2018 di Provinsi Sumatera Utara di mana Hutama Karya mengemban tugas sebagai PIC dan berkolaborasi dengan beberapa Co PIC, di antaranya PT Pelni (Persero), PT KIM (Persero), PT Nindya Karya (Persero), PT Djakarta Lloyd (Persero), dan PT Pos Indonesia (Persero).

Ini merupakan kali kedua Hutama Karya memenangkan ajang yang sama setelah tahun 2018 lalu berhasil meraih gelar pelaporan terbaik untuk BHUN Award 2017. Hutama Karya juga dinobatkan sebagai BUMN Terbaik 2019, di bidang Non-Keuangan dengan ‘Kategori Konstruksi dan Jasa Konstruksi, dengan Aset Besar’ dalam ajang Majalah Investor Awards 2019.

Mengawali catatan gemilang di tahun 2020, Hutama Karya menyabet beberapa kategori penghargaan pada ajang A2K4 – Indonesia Construction Safety Awards 2019. Bersama dengan anak perusahaannya yang bergerak di industri manufaktur dan precast, PT Hakaaston (Hakaaston) pun turut menerima penghargaan dalam ajang bergengsi ini. Beberapa kategori penghargaan yang diterima, salah satunya adalah CEO Safety Leadership Awards untuk Kontraktor BUMN yang dianugerahkan kepada Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo.

Hutama Karya sebagai salah satu BUMN yang bergerak di industri pengembangan infrastruktur sangat concern dengan penerapan QHSE yang optimal pada setiap lingkungan kerja, baik di kantor pusat maupun di proyek. Ini bisa dilihat dari salah satu misi Hutama Karya, yaitu menciptakan safety culture di lingkungan perusahaan. Penghargaan ini membuktikan bahwa Hutama Karya selain membangun, tetapi juga dapat merealisasikan aspek K3 yang baik di setiap proyek.

Hutama Karya sendiri sudah mulai disiplin dalam penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sejak awal 2018 lalu melalui komitmen dan dukungan manajemen dengan membentuk unit kerja baru, yakni Divisi Quality, Health, Safety & Environment (QHSE).

Hingga saat ini, Hutama Karya telah melakukan banyak kegiatan untuk membangkitkan kesadaran keselamatan dalam bekerja mulai dari hal-hal ringan, seperti sosialisasi Budaya 5R dalam bekerja kepada seluruh pegawai, hingga melaksanakan On Site Visit dan Management Walkthrough.

BUDI WASESO - Direktur Utama Perum BULOG

Berhasil Menstabilkan Harga Pangan

Naskah: Suci Yulianita Foto: Dok. Pribadi

Tak salah pemerintah memberi amanah kepada Budi Waseso untuk memimpin Perusahaan Umum BULOG (Perum BULOG). Ketegasan dan latar belakang kariernya sebagai militer mampu membenahi BULOG serta membawa perubahan signifikan terhadap dunia pangan di Tanah Air. Baru berjalan setahun lebih memimpin BULOG, pria yang juga dikenal dengan nama Buwas ini, telah menorehkan kinerja cemerlang, antara lain, mampu menjaga harga beras cukup stabil. Dengan demikian, BULOG tentu telah memberikan andil bagi pengendalian inflasi khususnya dari sektor pangan.

Baginya tak perlu waktu lama untuk bekerja membenahi BULOG. Sejak kali pertama diberi amanah menjabat Direktur Utama Perum BULOG pada 2018 lalu, Buwas langsung melangkah untuk mewujudkan visi Perum BULOG menjadi perusahaan pangan yang unggul dan terpercaya dalam mendukung terwujudnya kedaulatan pangan. Membenahi persoalan yang paling penting di BULOG, pertama kali yang dilakukannya adalah menangkap kelompok yang mempermainkan pasokan beras di tengah masyarakat.

Dalam hal ini, ia bekerja sama dengan Satgas Pangan untuk memastikan bahwa tidak ada oknum yang mempermainkan distribusi beras tersebut. Setelah itu, Buwas melakukan penataan birokrasi penyaluran beras karena ketidakstabilan harga beras juga disebabkan oleh sistem birokrasi yang panjang dan rumit dalam pendistribusian beras. Untuk itu, pihaknya berkomitmen untuk mempermudah birokrasi tersebut. 

“Saya sudah temukan beberapa birokrasi yang kepanjangan dan merugikan. Dari kita (beras) kualitas baik, lalu makin ke bawah kualitas buruk, tapi brand nya (tetap) BULOG, yang sebenarnya belum tentu juga itu dari BULOG. Cuma saya tidak bisa langsung eksekusi karena tidak punya kemampuan untuk itu. Saya serahkan kepada teman-teman Satgas Pangan,” katanya pada satu kesempatan.

Di samping itu, Buwas juga berhasil mewujudkan tata kelola beras yang baik agar ke depannya Indonesia tidak ketergantungan impor lagi. Buwas juga berhasil membenahi penyaluran logistik beras hingga ke daerah-daerah dengan menggandeng jejaring aparatur penegak hukum, seperti TNI dan Polri untuk menjamin ketersediaan beras di setiap daerah tersebut.

Tanpa menunggu waktu lama, Buwas berhasil menunjukkan kinerjanya yang baik pada masyarakat. Satu contoh nyata yang jelas terlihat adalah pada saat Ramadhan dan Idul Fitri 2019 lalu, ia sukses menjaga stabilitas pangan dari segi harga dan stok. Setelah itu, harga beras sepanjang tahun 2019 masih tetap stabil, dengan rata-rata harga mulai dari Rp9.242 per kg untuk kualitas rendah hingga Rp9.659 per kg untuk kualitas premium. Pencapaian tersebut menjadi pencapaian yang paling berkesan bagi Buwas. Beras sebagai komoditas pangan utama rakyat, dan Buwas melalui Perum BULOG sudah berhasil menstabilkan harga beras. Dengan demikian, Perum BULOG juga turut berkontribusi dalam menjaga inflasi.

Sementara, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang terlanjur atau terancam membusuk karena berbagai faktor akan diolah menjadi pakan ternak, sehingga tidak mubazir dan terbuang begitu saja. Hingga saat ini, BULOG sudah mengelola stok CBP dengan jumlah yang tersalur adalah 518.543 ton dan realisasi penyaluran Bansos Rastra sepanjang 2019 adalah 351.848 ton. Dengan kapasitas gudang sebesar 4 juta ton, Perum Bulog telah melakukan pengadaan beras dengan total pengadaan dalam negeri sebesar 1.180.599 ton. 

Sementara data pengadaan lainnya adalah gula pasir 4.324 ton, jagung sebanyak 837 ton, daging kerbau sebanyak 7.748 ton, dan minyak goreng sebanyak 1.568 kilo liter. BULOG juga turut berkontribusi menciptakan SDM yang bebas stunting serta meningkatkan pasokan gizi. Pada 2019 lalu BULOG meluncurkan 50 produk beras terbaru, di antaranya merupakan beras fortivikasi yang mengandung vitamin A, Vitamin B1, Vitamin B3, Vitamin B6, Vitamin B9, Vitamin B12, Zat Besi dan Zink.

“Perum BULOG siap bekerja sama dengan semua pihak, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah guna memberikan layanan pangan yang menambah gizi bagi masyarakat, maupun dengan konsumen di setiap lini untuk penyediaan pangan sehat bergizi tersebut. Dengan integrasi kebijakan, diharapkan dapat menghasilkan SDM berkualitas dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan bangsa yang kreatif, produktif dan berdaya saing tinggi,” ujar Buwas.

Ya, berbagai langkah kerja sama dilakukan Buwas untuk mewujudkan peran BULOG yang strategis sebagai penyedia pangan, stabilisasi harga, dan keterjangkauan pangan yang adil kepada rakyat. Selain itu, BULOG juga melakukan kerja sama dengan Induk Koperasi Kepolisian Republik Indonesia (Inkopol) untuk membantu secara serius distribusi pangan BULOG kepada seluruh keluarga besar Polisi Republik Indonesia (Polri).

Untuk memudahkan konsumen, pada tahun 2019 lalu, Perum BULOG juga berinovasi meluncurkan e-commerce pangan terbesar di Indonesia, panganandotcom. Kini, konsumen dapat membeli produk pangan BULOG dengan mudah. Harga terjangkau, bahan berkualitas, dan pesanan siap diantar sampai rumah. Inovasi e-commerce ini juga menjadi salah satu wujud komitmen penuh BULOG untuk memperkuat pasar komersial. Kemudian untuk mendukung penguatan komersial, BULOG melakukan pembangunan gudang modern pangan, Control Atmosphere Storage (CAS). 

Gudang ini berfungsi untuk menyimpan bahan-bahan pangan, seperti kedelai, beras, hingga bawang merah agar selalu fresh dan bertahan lama. Seperti contoh gudang CAS bawang merah yang ada di Brebes Jawa Tengah, bisa membuat bawang selalu dalam kondisi segar, hingga jangka waktu tiga bulan. Dengan adanya pabrik canggih CAS tersebut, Buwas berharap perekonomian Indonesia bisa tetap stabil. “Perum BULOG akan terus memantau perkembangan dan kestabilan harga pangan dan berharap perekonomian Indonesia tetap stabil,” ungkap Buwas. 

Mengawali tahun 2020, BULOG menyatakan kesiapannya untuk bersinergi mendukung pemerintah dalam membangun korporasi petani berbasis koperasi. Pilot Project yang dikawal langsung oleh Kementerian UMKM dan Kementerian Pertanian ini akan memulai project perberasan di Koperasi Citra Kinaraya, Mlatiharjo, Demak, Jawa Tengah. Project ini memungkinan bagi petani untuk mengelola produknya dari hulu ke hilir, sehingga dapat terbentuk korporasi dalam bidang pertanian oleh petani dengan berbasis koperasi.

ELVYN G. MASASSYA - Direktur Utama IPC (2016-Mar 2020)

IPC Menuju World Class Trade Facilitator

Naskah: Subhan Husaen Albari Foto: Sutanto

Konsistensi Elvyn G. Masassya dalam menjaga PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC agar tetap tumbuh sehat patut diacungi jempol. Totalitasnya sebagai direktur utama telah mampu menunjukkan bahwa IPC adalah perusahaan pengelola pelabuhan terbesar yang mampu memberikan keuntungan untuk negara. Kini, di bawah kepemimpinannya IPC terus maju berlayar untuk selalu menjadi yang terdepan.

Tahun ini IPC memasuki fase “World Class” yang merupakan ujung dari roadmap lima tahun 2016-2020. Juga merupakan awal dari visi lima tahun berikutnya menuju IPC menjadi “World Class Trade Facilitator” pada tahun 2024. “IPC kini memasuki era baru. Arah transformasi bisnis perusahaan bukan lagi menjadi land lord atau port operator, namun juga menjalankan peran yang lebih luas sebagai fasilitator perdagangan dalam ekosistem logistik,” jelas Elvyn.

Ada lima hal yang menjadi fokus dan komitmen IPC pada tahun 2020. Pertama, Establishment of global footprint, yaitu melanjutkan strategi ekspansi ke luar negeri melalui anak perusahaan, untuk meningkatkan pendapatan perusahaan (growth strategy). Berikutnya, Establishment of world class terminal operations, mewujudkan operasional terminal berkelas dunia melalui penguatan operational excellence dan customer service, serta implementasi digital port dan kemampuan teknologi. 

Ketiga, Implementation of green port and smart port initiatives, yaitu penerapan prinsip-prinsip green port dan smart port untuk bisnis yang berkelanjutan. Dan keempat, Excellence competing subsidiaries, memperkuat keunggulan bersaing anak-anak perusahaan di industri masing-masing dan berstandar kelas dunia. Berikutnya, inisiasi Integrated Port Network (IPN) dan implementasi Proyek Strategis Nasional (PSN).

Salah satu PSN yang terus dikebut pengerjaannya oleh IPC, yaitu Terminal Kijing di Mempawah, Kalimantan Barat. Pada bulan Januari 2020 progres proyek ini telah mencapai 43 persen. “Saya optimis pembangunan tahap I terminal ini akan selesai dan dapat mulai beroperasi pada Semester II tahun ini” kata Elvyn. Tahap I ini meliputi terminal peti kemas di sisi laut seluas 1000 meter x 100 meter, lapangan operasional di sisi darat, serta trestle (jalan penghubung) sepanjang sekitar 3,5km.

Terminal Kijing merupakan ekstensi dari Pelabuhan Pontianak yang nantinya dikembangkan dengan konsep digital port, yang dilengkapi peralatan bongkar muat modern dan berperan sebagai pelabuhan hub (penghubung). Dengan kedalaman -15m, kapal-kapal besar dapat bersandar dan melakukan bongkar muat untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat. Dan, sesuai dengan amanat Presiden RI agar pembangunan infrastruktur utama dihubungkan dengan kawasan produksi. Terminal Kijing nantinya terkoneksi langsung dengan Kawasan Ekonomi Khusus. 

Menurut Elvyn, IPC akan terus mengembangkan ekosistem kepelabuhanan untuk memperkuat peran strategis IPC sebagai trade facilitator. Semua ini nantinya bermuara pada penurunan biaya logistik sebagaimana yang menjadi target pemerintah. Saat ini 12 cabang pelabuhan IPC telah memiliki sistem operasi berbasis digital yang setara tentunya dengan tingkat yang berbedabeda sesuai kebutuhan masing-masing Cabang Pelabuhan. 

Sejumlah aplikasi penting telah diimplementasikan, antara lain Vessel Management System (VMS), Vessel Traffic System (VTS), Automatic Identification System (AIS), dan Terminal Operating System (TOS). Demikian juga Marine Operating System (MOS), untuk pelabuhan yang mempunyai trafik kapal yang tinggi dan disandari kapal-kapal besar. Terkini, pada awal Desember 2019 IPC telah memperkenalkan single Truck Identity Database (TID) yang merupakan basis data truk yang hilir mudik di pelabuhan-pelabuhan IPC. Setiap truk nantinya memiliki kartu yang di dalamnya memuat data nomor truk, nama perusahaan, dan nama pengemudi. Kartu itu menjadi alat akses ke setiap terminal di pelabuhan IPC. Dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok sebagai pilot project, yang diharapkan bisa fully implemented pada tahun ini.

Berbagai terobosan dan inovasi yang dilakukan IPC berimbas positif pada capaian perusahaan. Menilik kinerja keuangan serta operasional, berdasarkan laporan unaudited Desember 2019 tercatat realisasi laba sebesar Rp2,91 triliun atau meningkat 19,95 persen dibandingkan capaian tahun lalu sebesar Rp2,43 triliun. Sementara, pendapatan usaha tercapai sebesar Rp12,00 triliun naik 4,94 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp11,44 triliun. “Perolehan laba bersih 2019 ini lebih tinggi dari ekspektasi korporasi yang dipatok Rp2,61 triliun. Artinya, tren kenaikan laba perusahaan terus kami pertahankan,” kata Elvyn.

Dari sisi kinerja operasional, trafik arus peti kemas berhasil dipertahankan di angka 7,6 juta TEUs sebagaimana tahun sebelumnya. “Ini cukup positif di tengah tantangan perlambatan perekonomian dunia,” ujarnya. 

Meskipun tren kenaikan laba perusahaan berhasil dipertahankan, Elvyn mengakui ada beberapa catatan untuk perbaikan ke depan. Namun secara umum, kinerja 2019 dinilai lebih baik dibandingkan tahun 2018. “Jika dilihat dalam periode yang lebih panjang, sepanjang tahun 2016-2019, kinerja operasional dan keuangan IPC menunjukkan tren yang cukup baik. Untuk meneruskan tren kinerja yang positif, kami telah menyusun target operasional dan keuangan 2020,” jelasnya. Elvyn mengungkapkan, untuk tahun ini, IPC menargetkan perolehan laba sebesar Rp3,1 triliun. Pendapatan usaha juga ditargetkan naik menjadi Rp13,5 triliun. 

Sebagai catatan manis lainnya, IPC berhasil meraih juara 1 penghargaan Annual Report Award (ARA) 2018 untuk kategori BUMN Non Keuangan Non Listed. Penghargaan diberikan dengan mempertimbangkan keterbukaan informasi yang akhirnya bisa mendukung kinerja perusahaan secara berkelanjutan dalam memenangkan persaingan global.

 

HAMDHANI DZULKARNAEN SALIM - Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO)

Mampu Tingkatkan Laba Saat Industri Otomotif Melemah

Naskah: Purnomo, Foto: Istimewa

 

Di tangan dingin Hamdhani Dzulkarnaen Salim, sang Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO), AUTO mampu mengantongi pendapatan yang positif. Bayangkan, di tengah lemahnya industri otomotif Tanah Air, AUTO mampu meraih laba yang diatribusikan ke pemilik entitas induk sebesar Rp512,26 miliar hingga kuartal III-2019. Laba ini naik 23,69% dibanding periode sama tahun lalu Rp 414,16 miliar.

Pendapatan bersih naik menjadi Rp 11,63 triliun dari Rp 11,50 triliun. Sementara itu, laba bruto meningkat menjadi Rp1,63 triliun dari laba bruto Rp1,37 triliun. Laba sebelum pajak penghasilan meningkat menjadi Rp 759,82 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 588,57 miliar. Total aset perseroan mencapai Rp 16,43 triliun hingga periode 30 September 2019, naik dari total aset Rp15,89 triliun hingga 31 Desember 2018.

AUTO juga mampu mencatatkan pengembalian terhadap aset (ROA) yang meningkat dibandingkan dalam periode yang sama. Pada tiga kuartal tahun ini, mereka mampu mencatatkan rasio di angka 4,58 persen, meningkat 0,30 persen, setelah tahun lalu ROA yang diperoleh 4,28 persen. Ini merupakan pencapaian yang positif di tengah menurunnya penjualan wholesale kendaraan bermotor apabila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (GAIKINDO) per September 2019, penjualan mobil baru menyentuh angka 753.596 unit sedangkan tahun lalu penjualan tersebut sudah menyentuh 856.655 unit.

Pertumbuhan positif yang diraih itu tak lepas dari meningkatnya pendapatan dari lini bisnis perdagangan, yang dicapai melalui jaringan distribusi AUTO yang mencakup 52 diler utama, 24 kantor penjualan, dan lebih dari 12.000 pedagang ritel. Selain itu, gerai ritel otomotif modern AUTO yang berfokus pada layanan fast moving general parts, quick & related services yaitu Shop&Drive pada tahun 2019 ini sudah mencapai 383 gerai.

Pada lini bisnis manufaktur, AUTO juga berupaya untuk memproduksi produk dengan nilai yang kompetitif, sejalan dengan strategi bisnis jangka panjang yang dicanangkan pada tahun 2015 lalu yaitu LEAP, yaitu Leverage Trading and Position as Preferred OEM Supplier, Operational Excellent in All Aspect, Product Based Instead of Process Based, serta People Readiness & Organization Effectiveness.

Emiten produsen dan distributor komponen otomotif ini optimis kinerjanya dapat tumbuh pada 2020 dan mencetak kenaikan laba di atas rata-rata industri. Untuk memenuhi target di 2020, AUTO mengalokasikan belanja modal sebesar Rp500 miliar – Rp1 triliun untuk modal persiapan berbagai produksi komponen otomotif model baru, keperluan otomasi, hingga restore capacity.
Saat ini, AUTO tengah mengembangkan smart factory untuk meningkatkan produktivitas sejalan dengan arahan pemerintah. AUTO juga terus mendukung perkembangan berbagai produk baru yang dikeluarkan oleh pabrikan. Rencananya untuk lini bisnis perdagangan, AUTO mengoptimalisasikan penjualan di negara-negara tujuan ekspor saat ini serta akan meluncurkan produk- produk baru dan melakukan penambahan gerai ritel otomotif modern milik mereka. Guna meningkatkan kinerja, AUTO juga telah meluncurkan Astraotoshop.com untuk mempermudah akses digital konsumen terhadap berbagai produk AUTO.

PT Astra Otoparts Tbk yang merupakan anak perusahaan Astra tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan nilai kapasitalisasi pasar sebesar Rp5,98 triliun pada akhir tahun 2019. AUTO memproduksi dan memasarkan ragam variasi produk komponen dan suku cadang untuk kendaraan bermotor roda empat, roda dua dan industri.

HONGKY JEFFRY NANTUNG - Presiden Direktur PT Puradelta Lestari Tbk.

Sukses Mengembangkan Deltamas

Naskah: Arief Sofiyanto Foto: Istimewa

Dikenal sebagai CEO tangguh, Presiden Direktur PT Puradelta Lestari Tbk ini sukses membawa perusahaan berbasis di Indonesia yang utamanya bergerak dalam pengembangan properti terpadu. Perusahaan adalah pengembang Kota Deltamas, yang merupakan kota mandiri yang berada di Cikarang Pusat, Indonesia. Perusahaan mengklasifikasikan bisnisnya menjadi tiga segmen: industri, perniagaan, dan hunian.

Berkat kepiawaian Hongky Jeffry Nantung. laba Puradelta Lestari meroket 334 persen. Emiten properti Puradelta Lestari membukukan pendapatan Rp1,27 triliun dan laba bersih Rp759 miliar per kuartal III/2019, naik 220,6 persen dari realisasi periode yang sama tahun lalu sebesar Rp396 miliar atau meningkat sekitar 220,6 persen.

Laba kotor anak usaha Grup Sinarmas ini tumbuh 242,8 persen menjadi Rp825 miliar dibandingkan dengan laba kotor pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp241 miliar. Adapun laba bersih yang dikantongi perseroan mencapai Rp759,10 miliar meningkat 334,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp175 miliar. Moncernya kinerja Puradelta Lestari dipengaruhi oleh larisnya lahan industri perseroan. Hingga saat ini DMAS telah meraih marketing sales sebesar Rp1,6 triliun. Torehan tersebut terutama berasal dari penjualan 42,5 hektare lahan industri dan 12,2 hektare lahan komersial. 

Sebagian besar dari penjualan tersebut telah dicatatkan sebagai pendapatan usaha. Posisi kas dan setara kas Perseroan per kuartal III/2019 sebesar Rp1,10 triliun. Adapun jumlah aset DMAS tercatat sebesar Rp7,59 triliun. Pada pos liabilitas DMAS memiliki utang sebesar Rp659 miliar, meningkat dari jumlah liabilitas per 31 Desember 2018 sebesar Rp312 miliar. Sukses membukukan kinerja kinclong sepanjang 2019, prospek PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) terus semakin bersinar. Analis sepakat, sektor properti bakal bangkit, terlebih setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan sebanyak empat kali tahun 2019. Menilik laporan keuangan Puradelta, pendapatan DMAS hingga kuartal III-2019 telah mencapai Rp1,27 triliun. Angka ini melonjak 220,59 persen dibanding realisasi di periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp396,09 miliar.

Saat pasar properti membaik pada tahun 2019, Puradelta Lestari pun optimis labanya melompat. Puradelta Lestari membagikan dividen 200 persen dari laba bersih. Pembagian dividen sebesar Rp1,01 triliun itu lebih dari 200 persen laba bersih 2018 yang sebesar Rp494 miliar. Dalam 3 (tiga) bulan, penjualan Puradelta Lestari hampir Rp1 triliun. Pengembang kawasan industri terpadu Kota Deltamas ini membukukan marketing sales sebesar Rp914 miliar pada kuartal pertama tahun 2019. Raihan marketing sales di kuartal pertama 2019 tersebut setara dengan 73 persen dari target sepanjang tahun ini senilai Rp1,25 triliun. Angka tersebut terutama disumbangkan oleh penjualan lahan industri seluas 19 hektare dan penjualan lahan komersial seluas 9 hektare.

Berbagai pembangunan infrastruktur di timur Jakarta memudahkan akses dari dan kekawasan Kota Deltamas dan tentunya meningkatkan nilai kawasan Kota Deltamas. Perseroan akan terus mengembangkan Kota Deltamas sebagai kota mandiri terpadu, yang terdiri dari kawasan industri, hunian, dan komersial dengan fasilitas dan pelayanan yang lengkap, untuk menjadi pusat aktivitas di timur Jakarta.

Dalam rangka membangun infrastruktur, Puradelta Lestari menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp700 miliar pada tahun ini. Hingga saat ini Puradelta Lestari tidak memiliki utang, sehingga capex tahun ini pun akan dianggarkan perseroan dari dana kas internal perusahaan. 

Perseroan menggunakan dana capex tersebut untuk pembangunan infrastruktur di kawasan industri perseroan Deltasmas. Kawasan industri Deltamas memiliki luas lahan 3,181 hektare, di mana dari jumlah tersebut lahan yang sudah berhasil dijual perseroan mencapai 1,663 hektare. Sehingga, masih ada cadangan lahan seluas 1,519 hektare lagi. Ketangguhan Puradelta sudah terlihat saat tahun 2019 belum berakhir, DMAS sudah mengantongi nilai pemasaran (marketing sales) sebesar Rp1,6 triliun sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.

Nilai tersebut ditopang oleh tingginya penjualan lahan industri. Penjualan lahan industri masih tetap tinggi hingga akhir kuartal III tahun 2019. Pada kuartal III saja, DMAS mampu menjual lahan industri seluas 17,2 hektare. Capaian sepanjang sembilan bulan tersebut juga telah melampaui target marketing sales perseroan sebesar Rp1,25 triliun. Secara volume penjualan lahan industri, capaian itu juga melebihi penjualan lahan industrial sepanjang 2018 sebesar 33 hektare. Puradelta Lestari mendapat sertifikasi sistem manajemen terintegrasi yang terdiri dari sertifikasi ISO 9001:2015 tentang sistem manajemen mutu, ISO 14001:2015 tentang sistem manajemen lingkungan, dan OHSAS 18001:2007 mengenai sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. PT Puradelta Lestari Tbk atau DMAS merupakan anak usaha dari Sinar Mas Land yang mengembangkan kawasan Kota Deltamas, kawasan terpadu modern berbasis industri dengan luas sekitar 3.200 hektare yang dikembangkan di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi. Bagi Puradelta Lestari, sistem manajemen terintegrasi sangat penting bagi keberlanjutan usaha Perseroan, baik dalam hal kepuasan pelanggan, kelestarian lingkungan, keselamatan kerja, maupun sistem organisasi secara keseluruhan. 

Dalam kesibukan mengembangkan usahanya, Puradelta Lestari di bawah kepemimpinan Hongky Jeffry Nantung tetap peduli sosial. Kegiatan santunan digelar sebagai bentuk program corporate social responsibility (CSR) perusahaan di bulan Ramadhan lalu, dengan memberikan bantuan berupa 700 paket yang berisi kebutuhan pokok. Program CSR ini diberikan pada kaum dhuafa, jompo, dan anak yatim yang berada di lokasi berdekatan atau sekitar kawasan Kota Deltamas. 

Program CSR ini sendiri merupakan lanjutan dari acara pemberian santunan anak yatim di kantor pemasaran Kota Deltamas sebelumnya. Pemilihan lokasi untuk gelaran program Berbagi Santunan di Bulan Ramadhan tak lepas dari keinginan Kota Deltamas untuk mempererat hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah.

 

IRFANTO OEIJ - Direktur Utama Bank Mayora

Membawa Bank Mayora  Tangguh di Tengah Tantangan

Naskah: Gia Putri Foto: Sutanto

“Jika kelak saya pensiun, saya bisa membentuk Bank Mayora menjadi perusahaan perbankan yang sangat bagus. Sehingga, siapa pun yang meneruskan sudah memiliki fondasi yang kokoh.”

Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan tidak membuat PT Bank Mayora berhenti mencetak prestasi. Tilik saja pencapaian pada Triwulan III 2019, bank yang berdiri sejak 28 Juli 1993 ini membukukan aset sebesar Rp6,43 triliun naik 5,9% YoY dibanding tahun 2018 Rp6,07 triliun. Sementara, laba bersih sebesar Rp18,59 miliar dari periode sebelumnya Rp17,87 miliar. Sedangkan, Dana Pihak Ketiga tercatat pada Triwulan III 2019 tumbuh menjadi Rp4,868 triliun dari periode sebelumnya Rp4,651 triliun.

Direktur Utama Bank Mayora Irfanto Oeij menuturkan, tahun 2019 merupakan tahun yang cukup sulit bagi perbankan karena kondisi global yang masih belum menentu imbas perang dagang ASTiongkok dan juga diwarnai dengan krisis ekonomi di berbagai negara. Di dalam negeri sendiri diwarnai agenda Pilpres dan Pilkada, sehingga dunia usaha bersikap wait and see. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit nasional yang hanya 6,08% turun dari tahun 2018 lalu sebesar 11,7%. 

Kemudian, adanya tekanan pada NIM akibat persaingan suku bunga serta kecenderungan naiknya NPL secara nasional. Pada Semester II, perekonomian di dalam negeri mulai sedikit bergairah, sehingga terdapat ruang untuk memacu pertumbuhan bisnis. Bank Mayora pun mampu menunjukkan kinerja positif, tentu dengan kunci konsisten dan persistent.

“Konsistensi dan persistensi ini yang ditularkan kepada seluruh tim di internal agar dapat bekerja maksimal, sehingga seluruh tim dapat berkolaborasi dan bekerja sama untuk tercapainya tujuan bisnis perusahaan,” ungkap pria yang sudah berkarier di perbankan sejak tahun 1986 ini. Lebih lanjut ia menuturkan, salah satu faktor bank bisa terus hidup adalah memiliki profit. Artinya supaya bisa survive, Bank Mayora harus bisa menciptakan produk-produk unggulan, sehingga dapat diserap oleh masyarakat. “Istilahnya ada tiga hal, yakni produk funding, produk lending, dan digital. Pada produk funding, kami memiliki beragam produk unggulan, salah satunya tabungan SiPucuk (Simpanan Perencana untuk Keluarga). Kelebihannya, ini merupakan tabungan masa depan, nasabah bisa menentukan berapa besar angsuran, jangka waktunya, dan sebagainya,” jelas pria yang pernah meraih The Best Intellectual CEO tersebut.

Dari sisi lending, Bank Mayora lebih banyak bergerak di bidang retail, contohnya SME. Produk yang disuguhkan berbagai macam, seperti untuk kebutuhan modal kerja hingga KPR. “Kalau untuk fasilitas pinjaman, tidak berbeda dengan yang bankbank lain tawarkan, namun kami membungkusnya dari sisi program untuk nasabah dengan suku bunga rendah,” imbuhnya.

Lalu e-channel, pada era Revolusi Industri 4.0 perusahaan perbankan dituntut untuk melakukan transformasi digital. Oleh karenanya, di bawah nakhoda Irfanto, Bank Mayora tak henti melakukan inovasi. “Jadi, dari 2 – 3 tahun belakangan kami meletakkan dasar dalam hal digital untuk memenuhi kebutuhan nasabah. Apalagi pada era sekarang ini, nasabah sangat jarang datang langsung. Untuk itulah pada 2018, kami mengembangkan internet banking dan mobile banking,” terang Irfanto. 

Apa yang dilakukan Bank Mayora berbuah manis dengan diraihnya penghargaan Digital Brand Award peringkat II untuk kategori Bank Buku II pada 2019 lalu. Isentia bekerja sama dengan Infobank melakukan penilaian “Digital Brand of The Year 2019” menggunakan metode monitoring social media Isentia Brandtology. “Keberhasilan Bank Mayora meraih penghargaan ini adalah bentuk komitmen perusahaan dalam berinovasi dan bertransformasi dalam mengikuti perkembangan komunikasi bisnis pada era saat ini. Melalui media sosial, Bank Mayora dapat menjawab tuntutan masyarakat akan kebutuhan terkait informasiinformasi seputar perusahaan dan perbankan. Di samping itu, media sosial juga dapat digunakan sebagai sarana layanan pelanggan dalam menjawab berbagai keluhan dan pertanyaan konsumen serta untuk memperkuat merek (brand) perusahaan,” ungkap Irfanto.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, berbagai lembaga memprediksi bahwa kondisi tahun 2020 tidak lebih  baik dari 2019. Namun, pertumbuhan harus diupayakan. “Untuk itu, kami mengambil strategi untuk bertumbuh secara moderat (tidak agresif), tetapi sehat dan meningkatkan efisiensi perusahaan,” tukas Irfanto.

Pada 2020 ini, sambung Irfanto, bank yang meraih penghargaan juara 2 kategori Bank Buku II dengan predikat “The Best Indonesia GCG Implementation 2019” ini ditargetkan agar pertumbuhan bisnisnya semakin baik. “Kami akan memperkuat fondasi e-channel yang telah dimiliki agar dapat bersaing pada era digitalisasi,” urai pria yang hobi olahraga golf dan lari ini. 

Tahun 2020, bank yang berkantor pusat di Jakarta tersebut akan melengkapi fitur-fitur yang memudahkan nasabah dalam bertransaksi perbankan maupun transaksi pembayaran, seperti pembayaran dengan QR, yang memang sedang digalakkan oleh regulator untuk mendukung pengembangan ekonomi digital di Tanah Air.

Menutup pembicaraan Irfanto menuturkan obsesinya, dalam hidup manusia memiliki 5 life cycle. Pertama, saat lahir hingga masa kanak-kanak, yang belum mengerti apa-apa. Kedua, masa sekolah hingga lulus kuliah. Ketiga, saat memasuki dunia kerja di mana mereka harus memikirkan bagaimana mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. 

“Keempat, ketika sudah bekerja lalu berumah tangga dan memiliki anak tentunya anak itu akan grow up. Life cycle kelima, mereka akan menjadi grandpa. Saat ini saya sedang di fase keempat. Saya sudah berada di pucuk pimpinan dan memiliki anak. Jadi, kini saya  tengah mempersiapkan agar ketika saya pensiun, Bank Mayora menjadi perusahaan perbankan yang sangat bagus. Sehingga, siapa pun yang meneruskannya sudah memiliki fondasi kuat. Dan begitu pensiun, anak saya juga sudah menikah. Jadi, ini terjadi beriringan, sehingga saya tinggal take a rest,” pungkas pria yang demokratis tersebut.

 

 

 

JAHJA SETIAATMADJA - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk

Sang Bankir Andal

Naskah: Gia Putri Foto: Fikar Azmy

Ketika berbicara tentang bankir andal di negeri ini, nama Jahja Setiaatmadja dipastikan masuk ke dalam daftar. Ya, ia telah dipercaya menjadi Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sejak 2011 lalu. Pola pikir Jahja yang out of the box, membuat BCA kokoh menjadi bank swasta terbesar di Indonesia. Tak hanya itu, bank berkode emiten BBCA ini juga mengharumkan nama bangsa dengan prestasi yang diraihnya pada beragam ajang bergengsi tingkat dunia.

Kinerja keuangan BCA pun dari waktu ke waktu terjaga positif, seperti pada sembilan bulan pertama 2019, bank yang berdiri sejak 21 Februari 1957 ini membukukan laba bersih Rp20,9 triliun meningkat 13,0% YoY. Sejalan dengan pertumbuhan kredit BCA, pendapatan bunga bersih meningkat 12,2% YoY menjadi Rp37,4 triliun.

BCA juga kembali mengukir prestasi berkat kepiawaiannya mengelola kinerja keuangan yang solid di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang moderat. BCA terus menawarkan beragam solusi perbankan dan menjawab kebutuhan finansial nasabah dari berbagai kalangan untuk menghasilkan perfoma perseroan yang positif dan unggul dalam kekuatan modal. Hal ini ditandai dengan prestasinya meraih penghargaan Emiten Terbaik 2019 untuk Top Performing Listed Companies 2019 kategori Kapitalisasi Pasar di atas Rp10 triliun. 

“Di tengah gejolak ekonomi global, kami terus berupaya untuk tumbuh menjadi institusi perbankan yang solid. BCA yang senantiasa menyediakan beragam produk dan layanan yang berkualitas dan tepat sasaran sekaligus kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi menjadi fondasi kuat kami di tengah persaingan perbankan yang semakin kompetitif. Kepercayaan yang selama ini diberikan nasabah kepada BCA turut menjadi motivasi kami untuk terus mempertahankan, bahkan meningkatkan kekuatan modal, menjaga kualitas portofolio aset dan meminimalisasi kredit bermasalah demi mencatatkan pertumbuhan bisnis yang solid dan positif,” ujar pria yang hobi bermain golf ini.

Hebatnya lagi, BCA dinobatkan sebagai The World’s Best Banks 2019 di Indonesia berdasarkan daftar yang diterbitkan Forbes, beberapa waktu lalu. Dalam daftar tersebut, BCA berada pada posisi teratas dari 10 daftar World’s Best Bank 2019 di Indonesia. Penobatan tersebut didasarkan pada survei yang dilakukan Forbes, bekerja sama dengan lembaga survei Statista, yang melakukan survei terhadap lebih dari 40.000 nasabah di seluruh dunia. Para nasabah tersebut dimintai pendapat mengenai kualitas relasi dan layanan bank-bank yang dirasakan saat ini dan sebelumnya.

Bank-bank bank tersebut dinilai berdasarkan rekomendasi dan kepuasan nasabah, terutama pada lima aspek, antara lain kepercayaan (trust), syarat dan ketentuan (terms and conditions), layanan pelanggan (customer services), layanan digital (digital sevices), dan rencana pengelolaan keuangan (financial advice). “Kami sangat mengapresiasi hasil survei tersebut mengingat pengakuan tersebut datang langsung dari pengalaman yang dirasakan nasabah. Hal ini memberikan bukti bahwa berbagai transformasi layanan perbankan yang dilakukan BCA saat ini mampu menjawab kebutuhan riil dan memberikan rasa nyaman bagi nasabah,” urai Jahja. 

Ia menambahkan, kenyamanan dan keamanan nasabah merupakan hal yang paling utama bagi BCA. Karena itu, BCA berkomitmen untuk terus melakukan inovasi dan mengembangkan berbagai terobosan serta inisiatif baru dalam rangka memberikan kemudahan layanan perbankan bagi nasabah. BCA telah melakukan berbagai transformasi digital, dimulai dari internet banking, Klik BCA, BCA Mobile, Sakuku, Flazz BCA, OneKlik BCA, QRku, VIRA, WebChat BCA, Keyboard BCA, Pembukaan Rekening Online, dan inovasi lainnya yang sedang dikembangkan dan akan diluncurkan.

Tak hanya itu, BCA juga diganjar penghargaan Best of The Best 50 High Performing Public Listed Companies in Indonesia dari Forbes Indonesia. Forbes Indonesia’s Best of the Best Awards merupakan ajang penganugerahan tahunan untuk mengapresiasi 50 perusahaan top di Tanah Air yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Ke-50 perusahaan terpilih adalah hasil saringan dari 565 perusahaan terbuka yang diseleksi oleh Forbes Indonesia sepanjang tahun 2019.

Penghargaan bergengsi lainnya, di antaranya bank terbaik di Indonesia dan Asia pada ajang Finance Asia Country Awards for Achievement 2019 di Hong Kong. Dan teranyar, melalui program inovasi layanan untuk nasabah, yakni Halo BCA, memborong 26 penghargaan di Ajang 2019 Top Ranking Perfomance Award Contact Center World. BCA berhasil meraih penghargaan di dua kategori sekaligus, yakni kategori individu dan kategori korporasi, dengan membawa 17 medali emas, 8 medali perak, 1 medali perunggu. Ajang 2019 Top Ranking Performance Award Contact Center World merupakan kompetisi tahunan yang sudah berjalan ke-14 kalinya dengan mempertemukan praktisi contact center terbaik dari perusahaan di negara-negara regional Asia Pasifik, Amerika,  serta Eropa, dan Timur Tengah. 

Dalam memimpin BCA, Jahja mengibaratkan dirinya sebagai dirigen yang memimpin orkestra. “Intinya, kita harus tahu nada apa yang harus timbul dari setiap macam instrumen, meskipun kita tidak perlu mahir memainkan instrumen tersebut. Kemudian yang penting juga, kita harus mengetahui siapa kira-kira yang akan mendengarkan dan melihat permainan orkestra kita,” ungkap Pria yang meraih penghargaan The Most Outstanding People 2019 ini.

Menurut Jahja, menentukan audience ini sangat penting karena terkait dengan pemilihan lagu-lagu yang tepat. Permainan musik yang bagus dan pemilihan lagu yang tepat, akan membuat penampilan orkestra menjadi memukau. “Lalu pada saat terjadi nadanada sumbang, kita harus mengetahui di mana terjadinya nada-nada sumbang itu. Kita perlu memberikan corrective action, yakni meminta pemain musik yang bersangkutan untuk memeriksa apakah masalahnya terletak pada instrumennya atau pada dirinya. Dengan sikap seperti itu, kita dapat memimpin dengan baik,” katanya. Sebagai atasan, Jahja juga perlu meminta masukan dari para bawahan, dan itu semua harus sama-sama diolah, untuk menjadi satu keputusan. Dan kalau sudah diputuskan, sebagai atasan ia harus berani bertanggung jawab.

JAROT SUBANA - Direktur Utama PT Waskita Beton Precast Tbk

Mengawal WSBP Konsisten Mematri Prestasi

Naskah: Giattri F.P. Foto: Dok. Humas WSBP

Didirikan pada 2014 lalu, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) mampu tumbuh cepat, bahkan menjadi perusahaan produksi beton precast dan ready mix dengan kapasitas produksi terbesar di Tanah Air. Hal ini tentu tak lepas dari kerja cerdas, inovasi, dan strategi jitu yang dijuruskan oleh Jarot Subana, Sang Direktur Utama.

Sukses kinerja juga terlihat dari pada sepanjang tahun 2019 karena WSBP berhasil membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp7,03 triliun. “Kami berhasil mencapai target perolehan nilai kontrak baru. Hal ini didukung dengan perolehan kontrak eksternal sebesar 63,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 36 persen,” ungkap Jarot.

Menurut pria berkacamata ini, secara nilai, peningkatan kontrak eksternal mencapai 83,01 persen atau Rp2,43 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp4,44 triliun pada tahun 2019. Beberapa proyek eksternal yang telah diperoleh, di antaranya dari Proyek Jalan Tol Trans Sumatera, PLTGU Tambak Lorok, Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Refinery Unit (RU) V Pertamina Balikpapan yang merupakan kerja sama dengan Hyundai, dan Pembangunan Apartemen Modernland (Modernland Group) di Jakarta Garden City.  

Selain itu, WSBP juga memperoleh pesanan produk Tetrapod untuk Proyek Pengaman Pantai di Singapura senilai Rp435 miliar. WSBP juga tengah menyusun MoU dengan perusahaan Malaysia. “Kerja sama ini kelak akan berlanjut dengan joint operation proyekproyek luar negeri, salah satunya dalam pengerjaan proyek LRT di Filipina yang kini tengah dalam proses tender yang diikuti oleh PT Waskita Karya Tbk (WSKT),” tutur Jarot.  

WSBP terus melakukan inovasi produk untuk dapat mencapai product excellence dan memenuhi kebutuhan pelanggan. Di sisi lain, WSBP juga meningkatkan implementasi K3 dengan melakukan berbagai inovasi, seperti modifikasi stiffener untuk erection girder dengan bentang non-standard. WSBP juga telah meluncurkan produk baru spunpile dengan panjang 50 m dengan diameter hingga 1200 mm, bantalan rel, dan tiang listrik. “Ini adalah pasar yang kami bidik. Nantinya diharapkan  produk  dapat  memberikan  nilai  tambah  dan  mampu  menambah  marjin  laba. WSBP juga meluncurkan buku berjudul Grow Fast, Grow Fair: Kiat Waskita Precast Tumbuh 5 Kali Lipat dalam 5 Tahun,” tambah Jarot. 

Jika dilihat, kontrak proyek WSBP saat ini sebanyak 63,2 persen dari eksternal dan sisanya dari internal. Tahun-tahun sebelumnya, kontrak dari eksternal masih sedikit, yakni 36 persen, selebihnya dari internal. Berbagai kondisi itulah yang melatarbelakangi WSBP melakukan transformasi bisnis yang diharapkan pada awal tahun 2020 sudah bisa dijalankan, khususnya transformasi organisasi. Transformasi ini akan dimulai dengan melakukan desentralisasi yang lima tahun sebelumnya ditangani oleh WSBP sendiri. Jarot menerangkan, desentralisasi tersebut meliputi, pertama dari sisi produk dan layanan, yaitu WSBP akan membuka dan menempatkan empat divisinya di setiap wilayah sesuai pasarnya. Keempat divisi tersebut adalah divisi precast, divisi ready mix, divisi modular konstruksi, serta divisi quarry dan peralatan. 

“Saat ini, kami memiliki 5 quarry. WSBP melakukan penguatan pada sisi hulu dengan peningkatan kapasitas quarry yang dimiliki dan melakukan kerja sama dengan beberapa pengelola quarry. Selain itu, dalam hal peralatan  pendukung, perusahaan memiliki departemen khusus untuk pengelolaan peralatan dan memiliki workshop di Cikopo untuk melakukan perbaikan alat di unit produksi serta pengelolaan dan monitoring alat & inventory,” imbuhnya.

Kedua, dari sisi pemasaran, WSBP akan membuka kantor di dua wilayah, yakni wilayah I di Indonesia bagian barat dan wilayah II di Indonesia bagian tengah dan timur. Kantor Wilayah I yang berada di Jakarta akan membawahi Sumatera, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Sementara, Kantor Wilayah II yang berlokasi di Surabaya membawahi Jawa tengah, Jawa Timur, Kalimantan, Papua, dan Indonesia bagian timur. “Nantinya, masing-masing wilayah report-nya ke kantor wilayah, sehingga bisa lebih cepat,” tuturnya.

Transformasi lainnya adalah pada sumber daya manusia (SDM). “Kunci transformasi kami adalah pada SDM karena yang kami ubah adalah organisasi,” katanya. Dengan transformasi ini, akan ada peningkatan performa, baik jumlah SDM maupun kualitasnya. “Dengan transformasi ini, target kinerja perusahaan ke depan pun akan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya. Jarot menuturkan, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020, WSBP menargetkan nilai kontrak baru sekitar Rp11,9 triliun dan penjualan di atas Rp10 triliun. “Kalau transformasi atau transisinya tidak berhasil dalam tiga bulan awal, itu semua tidak akan bisa tercapai. Jadi, kami akan ketat melakukan pendampingan dan evaluasinya,” tegas Jarot. 

Untuk meningkatkan kinerja bisnis, strategi WSBP adalah terus menggenjot penjualan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar eksternal, sehingga akan semakin menambah porsinya di pasar eksternal. Saat ini, produk dan layanannya adalah beton pracetak (precast) dan ready mix (beton curah). Ketiga quarry, yaitu lokasi pertambangan tanah atau batuan yang digunakan untuk keperluan proyek, seperti tanah material timbunan dan batu. Keempat jasa konstruksi, yaitu instalasi produk beton yang telah diproduksi. Kelima post-tension precast concrete, yakni jasa penarikan sistem komponen struktur pasca tegang untuk produk yang telah diproduksi, seperti balok jembatan, bangunan gedung, ground anchor, dan jembatan cable stayed. 

Strategi lainnya, memaksimalkan tim pemasaran di setiap wilayah. “Mereka akan jadi ujung tombak marketing. Tim pemasaran yang ditempatkan pun terdiri dari orang-orang yang memiliki pengalaman minimal 15 tahunan. Itu yang akan kami tempatkan di level GM,” urainya. Rencananya, untuk memperkuat bisnis dan mendukung bisnis di Indonesia bagian timur, WSBP akan menyelesaikan pabrik di Kalimantan. Kemudian, membangun pabrik di Sumatera bagian utara dan mengembangkan bisnis quarry di Sulawesi dengan menggandeng sebuah perusahaan lokal yang sudah eksis di wilayah tersebut.

 

 

 

 

 

KUSWIYOTO - Direktur Utama PT Pegadaian (Persero)

Mengantar Pegadaian Menjadi  The Most Valuable Financial Company

Naskah: Gia Putri Foto: Dok. Pegadaian

Dipercaya menjadi Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) sejak Januari 2019 lalu, Kuswiyoto mampu membawa Pegadaian menorehkan capaian kinerja gemilang. Perseroan mencatat, sepanjang 2019 meraup laba bersih sebesar Rp3,1 triliun (tumbuh 12 persen) dan membukukan outstanding pembiayaan (OSL) sebesar Rp50,4 triliun (tumbuh 23,3 persen), di atas rata rata industri nasional. Sementara, NPL gross sebesar 1,75 persen dan total realisasi pembiayaan sebesar Rp145,6 triliun dan non pembiayaan sebesar Rp4,7 triliun.

Kinerja kinclong tersebut, didorong oleh sejumlah produk inovatif berbasis digital yang diluncurkan perseroan dan agresivitas dalam menjalin sinergi dan kolaborasi dengan ratusan mitra di Tanah Air.

“Banyaknya kolaborasi dan sinergi dengan ratusan mitra dari BUMN, swasta, perguruan tinggi dan berbagai organisasi selama 2019 mendorong penambahan jumlah nasabah Pegadaian dari 10,64 juta di tahun 2018 menjadi 13,86 juta di tahun 2019 naik 3,2 juta. Kinerja positif yang kami raih pada tahun 2019 tersebut, tidak terlepas dari kontribusi seluruh nasabah yang setia menggunakan produk dan layanan kami,” ungkap Kuswiyoto. 

Selain itu, Pegadaian juga melakukan program pemasaran yang intensif berupa Employee Get Customers yang melibatkan  seluruh karyawan dan keluarga untuk terlibat dalam kegiatan memasarkan produk-produk inovatif, serta berbagai saluran distribusi baik melalui 4.123 outlet dan 9.673 agen. Bahkan, penggunaan aplikasi Pegadaian Digital telah dimanfaatkan untuk melakukan transaksi digital oleh lebih 2 juta nasabah.

Inovasi yang dihadirkan perusahaan plat merah ini pun berbuah manis dengan meraih penghargaan dalam kategori TOP Leader on Digital Implementation 2019 pada ajang TOP Digital Awards 2019 karena dinilai berhasil mengembangkan digital pada era disrupsi. 

Tidak hanya meraih TOP Leader on Digital Implementation 2019, Pegadaian  juga mendapatkan dua penghargaan dalam kategori TOP Digital Implementation on Financial Service Non Banking Sector 2019 dan TOP Digital On Digital Service For Milennial 2019. Kuswiyoto menuturkan, perkembangan teknologi digital tidak bisa dihindari. Hal tersebut secara langsung mempengaruhi iklim usaha, termasuk perkembangan bisnis keuangan yang terjadi di Pegadaian.

Ada dua inovasi yang dijalankan oleh Pegadaian, yakni digitalisasi produk dan perluasan channel layanan dengan sistem keagenan. Inovasi produk yang dijalankan merupakan sistem layanan Pegadaian kepada nasabah, yaitu Gadai Tabungan Emas, Gadai on Demand, Gadai Efek (Saham & Obligasi), G-Cash, Gold Card, Digital Lending, Arrum Umroh, dan Rahn Tasjily Tanah. Dari sisi channel, Pegadaian membuka saluran distribusi dengan sistem keagenan. “Kedua inovasi ini terus dilakukan oleh perusahaan, sehingga menjadikan Pegadaian sebagai perusahaan yang menarik untuk nasabah maupun partner bisnis perusahaan,” paparnya. 

Perseroan juga berhasil membukukan pendapatan usaha sebesar Rp17,7 triliun, naik 39,3 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2018 sebesar Rp12,7 triliun. Aset Pegadaian sepanjang 2019 meningkat 23,7 persen menjadi Rp65,3 triliun dari tahun sebelumnya Rp52,8 triliun.

Produk Gadai masih mendominasi kinerja Pegadaian, dengan portofolio OSL Gadai sebesar Rp40,3 triliun setara 80 persen. Adapun produk non gadai berkontribusi OSL sebesar Rp10,1 triliun setara 20 persen pada 2019. “Kami akan terus fokus pakai core business gadai, selain mengembangkan produk-produk lain non gadai,” terang Kuswiyoto. Pencapaian kinerja Pegadaian yang kinclong tersebut didukung dengan tingkat kesehatan perusahaan kategori “Sehat” (AAA) dan Rating Obligasi AAA yang dilakukan Pefindo.

Kuswiyoto menambahkan, perseroan terus melakukan digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan kualitas layanan serta aktif menggencarkan sinergi dan kolaborasi dengan ratusan mitra dan instansi di berbagai daerah di Indonesia. Sinergi dan kolaborasi tersebut telah memberi kontribusi dalam peningkatan kinerja Pegadaian.

Sepanjang tahun 2019 hingga Februari 2020, Pegadaian berhasil menjalin sinergi dan kolaborasi dengan 541 instansi, yang terdiri dari 133 instansi pemerintah, 84 instansi BUMN, 210 instansi swasta, dan 114 instansi perguruan tinggi baik swasta maupun negeri. Sinergi dan kolaborasi tersebut mendorong pertumbuhan jumlah nasabah Pegadaian, naik signifikan 30,2 persen (YoY) menjadi 13,86 juta nasabah pada akhir 2019, jumlah pemilik tabungan emas menjadi 4,6 juta nasabah. Sinergi dan kolaborasi tersebut merupakan tidak lanjut program Sinergi BUMN dalam meningkatkan nilai tambah untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Tidak hanya itu, langkah tersebut juga sebagai tindak lanjut untuk meningkatkan penetrasi bisnis gadai ke seluruh wilayah Indonesia. 

“Kami ingin menggarisbawahi betapa pentingnya sebuah sinergi dan kolaborasi. Sinergi dan kolaborasi memiliki manfaat yang luar biasa karena sangat menguntungkan, tidak hanya bagi Pegadaian, tetapi juga bagi mitra dan masyarakat luas,” jelasnya. Lebih lanjut, Kuswiyoto mengatakan, pada 2020 ini Pegadaian akan terus menghadirkan inovasi-inovasi baru untuk meningkatkan kinerja bisnis.

Hal ini agar selaras dengan Visi Pegadaian, yaitu Menjadi The Most Valuable Financial Company di Indonesia dan Sebagai Agen Inklusi Keuangan Pilihan Utama Masyarakat Indonesia. Pegadaian juga aktif melaksanakan program CSR yang bertema Pegadaian Bersih-bersih, meliputi Bersih Lingkungan, Bersih Hati, dan Bersih Administrasi. Salah satu program unggulannya adalah program Memilah Sampah, Menabung Emas. Program yang diberi nama The Gade Clean & Gold ini sejalan dengan program Indonesia Bersih yang dicanangkan oleh pemerintah. “Kami berharap Pegadaian akan terus memberi kontribusi yang besar bagi masyarakat, menggerakkan perekonomian nasional, serta mendorong meningkatnya inklusi keuangan di Tanah Air,” pungkas Kuswiyoto.

 

MOHAMMAD MIRDAL AKIB - CEO Media Group

Perkuat Media Group Tetap Eksis

Naskah: Arief Sofyanto Foto: Edwin B.

Bagi Mohammad Mirdal Akib, nilai kejujuran dan integritas adalah hal yang sangat penting harus tetap dipegang teguh. Sebagai CEO Media Group, ia mendorong ke depannya agar medianya tetap menjaga integritas, menjunjung tinggi etika jurnalistik, serta terus mengembangkan  sumber daya manusia (SDM).

Media Group yang mewadahi 42 unit usaha termasuk Metro TV, Media Indonesia, Lampung Post, dan Medcom.id., dibentuk menjadi sebuah ekosistem besar yang saling terkoneksi dan saling mengisi satu sama lain, sehingga mampu menciptakan suatu kekuatan.

Ia pun memandang era revolusi industri 4.0 sebagai suatu tantangan yang menarik. Perubahan yang terjadi secara masif menurutnya justru membuka banyak kesempatan baru. Mirdal berpikir, perubahan adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Namun, hal utama yang tidak pernah lekang oleh waktu adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh SDM itu sendiri. Kekuatan dari sisi SDM inilah yang juga dimiliki oleh Media Group yang membuatnya mampu bertahan dan terus berkembang pada era digital. Dari sekitar 6.000 karyawan di Media Group rata-rata berusia 36 tahun. Hal itu menunjukkan, dari sisi usia SDM Media Group adalah generasi yang paling siap mengalami perubahan. 

Selain itu, kekuatan lain yang dimiliki oleh Media Group adalah daya tahan. Perusahaan terbukti mampu bertahan hingga puluhan tahun menghadapi berbagai tantangan dan perubahan yang terjadi. Media Group akan tetap konsisten pada tujuan utamanya, yaitu memberikan manfaat sebanyakbanyaknya bagi masyarakat. Karena itu, Mirdal menjamin, Media Group akan tetap menyajikan konten yang mengedukasi dan terpercaya, bukan hanya sekadar berita viral. Selain itu, Media Group akan tetap memegang teguh prinsip dan etika jurnalistik sehingga tercipta suatu berita yang memiliki integritas serta value yang benar.

 

Strategi Memimpin Perusahaan

Mirdal memiliki strategi khusus dalam memimpin perusaaan sebagai CEO Media Group. Meski strateginya sebenarnya sudah ditetapkan, ia selalu mengedapankan visi yang jelas. “Kami menerapkan ‘3P’ di Media Group, yaitu profit karena kita adalah sebuah perusahaan. People, kita harus memaksimalkan SDM, human capital yang ada di sini. Kami harus bahagia bekerja di sini, human connecting satu sama lain juga harus baik. Yang ketiga adalah planet. Kami harus mencintai planet ini. Makanya kalau di lingkungan Media Group, pemakaian kebijakan zero waste sudah diberlakukan mulai dari beberapa waktu lalu karena bagian dari visi perusahaan,” bebernya.

Capaian terbesar Media Group diyakini bukan bagian dari misi pribadi. “Saya melihatnya sebagai capaian dari sebuah tim. Jadi, kalau ditanya capaian terbesar saya adalah bagaimana saya bisa menjadi bagian dari tim yang ada mencapai tujuan tujuan yang bisa kami wujudkan,” tandas Mirdal. Tetapi, sambungnya, capaian terbesar adalah bagaimana kemudian bisa membawa Metro TV dan perusahaan perusahaan platform lainnya tetap eksis sebagai media yang mempunyai tujuan bukan cuma profit, melainkan bagaimana mencerdaskan masyarakat, membawa literasi, dan ada kebanggaan begitu melihat masyarakat bisa berdiskusi dengan knowledge yang baru yang dihasilkan dari media media yang dijalani. Selanjutnnya, Mirdal beranggapan, pencapaian bagaimana kemudian di sisi ini bisa menjadi semacam learning centre buat karyawan. “Di sini kesalahan bukan menjadi hal yang tabu, tapi menjadi sebuah learning process untuk tumbuh. Hari ini kami bisa melihat anak anak di Media Group bisa tumbuh, berinteraksi satu sama lain tanpa adanya kemudian proses saling distruktif satu sama lainnya, tapi bagaimana mendukung satu sama lainnya,” paparnya. 

Menjadi kebanggaan Mirdal dapat membawa Media Group, Metro TV, dan platform lainnya tetap eksis sebagai TV berita, pembawa amanah rakyat, dan jujur bersuara. “Itu yang paling membanggakan sebenarnya. Bagaimana kita bisa memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap jalannya proses pembangunan bangsa, jalannya sejarah bangsa ini, dan bisa berkontribusi di situ sebagai satu tim,” tegasnya.

Mengenai obsesinya yang belum diraih sampai saat ini, Mirdal pribadi masih ingin melihat bagaimana kemudian Media Group bisa tumbuh berkembang, kemudian bisa memberikan arti lebih banyak buat masyarakat, bangsa, dan negara. “Yang paling penting adalah menjalani prosesnya dan tetap fokus pada tujuan itu. Bagaimana melihat masyarakat kemudian bisa mendapatkan knowledge yang baru melalui media ini,” harapnya.

Namun 10 – 20 tahun yang akan datang, harapan Mirdal Media, Group dan seluruh platform di bawahnya sudah menjadi sebuah ekosistem yang bisa berbincang duduk, bersama dengan ekosistem media lainnya di lingkungan global, bukan cuma regional, bahkan nasional itu. Pria yang menitir karier di Metro TV sejak 20 tahun lalu ini juga mendorong Metro TV memberikan edukasi jurnalistik kepada santri di Pondok Pesantren. 

CEO Media Group ini menyebut santri memiliki potensi membawa Indonesia lebih maju dengan berbagai modal pendukung. Dalam setiap kegiatan, ratusan santri tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aaliyah mendapat materi tentang pengantar jurnalistik, pembawaan bahasa tubuh yang baik, intonasi bicara, dan melakukan simulasi. Menurut Mirdal, kemampuan berbicara di depan publik menjadi salah satu modal penting bagi santri karena setiap minggu biasa membawa acara dakwah.

Dalam bekerja, Mirdal tidak kenal adanya hambatan. Ia menganggap hambatan apapun sebagai tantangan. Menurutnya, tantangan terberat yang ada di Media Group adalah justru bagaimana mensinergikan dan mengembangkan unit-unit usaha yang lain bisa beradaptasi dengan perkembangan yang baru. 

Karenanya, Mirdal lebih suka menyebut tantangan besar, bukan tantangan yang berat. “Nah, tantangan besar itu banyak sekali opportunity baru yang bisa kita capai. Tinggal bagaimana mensinkronkan opportunity ini dengan kemudian dalam konteks Media Group hari ini. Itu sebenarnya yang sedang kami persiapkan sebagai tantangan besar tadi,” tegasnya.

Mirdal mengalogikan seorang pemimpin harus seperti singa. “Kalau ada 100 kucing dipimpin satu ekor singa, maka kucingnya akan bisa menjadi singa. Tapi, kalau ada 100 singa dipimpin oleh seekor kucing maka semua singanya juga akan menjadi kucing. Jadi, penting sekali sekali sebagai pemimpin kita membawa aura itu ke yang menjadi amanah kita untuk dipimpin!” seru Mirdal.

 

 

 

MUHAMMAD AWALUDDIN - President Director PT Angkasa Pura II

Wujudkan The Leading Indonesia’s Airport Operator dan The Best Smart Connected Airport Operator

Naskah: Gia Putri Foto: Dok. Humas AP II

Di bawah komando Muhammad Awaluddin  PT Angkasa Pura II (Persero) dapat menutup tahun 2019 dengan mempertahankan tren positif pertumbuhan bisnis dan operasional bandara, padahal sepanjang tahun lalu tengah didera tantangan berat di pasar penerbangan nasional.

Terkait aspek bisnis, sepanjang Januari – Desember 2019, AP II diperkirakan meraup pendapatan mencapai Rp9,53 triliun atau naik 1 persen dibandingkan dengan Januari – Desember 2018 sebesar Rp9,48 triliun. Kenaikan pendapatan ini merupakan suatu pencapaian bagi AP II karena mampu dicetak di tengah lesunya pasar penerbangan nasional. Di tengah turbulensi industri penerbangan nasional pendapatan perseroan justru tumbuh. Awaluddin menuturkan, perseroan berhasil menjaga pendapatan tetap tumbuh melalui sejumlah strategi, antara lain memperluas portofolio bisnis, melakukan efisiensi, serta meningkatkan traffic di rute internasional.

“Melalui strategi itu, AP II kini perlahan-lahan tidak hanya bergantung dari pendapatan passenger service charge (PSC), sehingga pendapatan perseroan tetap dapat tumbuh kendati jumlah penumpang pesawat turun,” imbuh Awaluddin.

PSC sendiri, sambungnya, adalah bisnis aeronautika dari AP II yang berasal dari kontribusi penumpang pesawat atas jasa dan fasilitas yang ada di bandara. Adapun strategi memperluas portofolio bisnis yang dijalankan pada 2019, antara lain memperbesar kepemilikan saham di PT Gapura Angkasa menjadi 46,62 persen, sehingga AP II kini menjadi pemegang saham pengendali.

Lalu, Bisnis Digital yang dijalankan AP II sejak 2018 telah tumbuh signifikan pada 2019. Bisnis Digital perseroan terbagi dalam tiga bagian, yakni Airport E-Commerce, Airport E-Payment, dan Airport E-Advertising.   “Kami pun menggenjot kinerja anak usaha, yakni PT Angkasa Pura Propertindo (APP), PT Angkasa Pura Solusi (APS), dan PT Angkasa Pura Kargo (APK). Guna meningkatkan pendapatan perseroan, kami juga berupaya untuk meningkatkan pendapatan dari bisnis komersial di setiap bandara. Seperti misalnya, area komersial di terminal penumpang pesawat,” jelasnya.

Secara umum, pihaknya berupaya meningkatkan pendapatan bisnis nonaeronautika pada 2019 dan memang berhasil. Pada 2019 diperkirakan pendapatan dari bisnis nonaeronautika AP II naik hingga 10 persen dibandingkan dengan 2018 atau dari Rp3,47 triliun menjadi Rp3,86 triliun. Seiring dengan tren positif yang mampu dijaga, pada tahun 2020 ini AP II membidik target pendapatan usaha bisa mencapai Rp12,7 triliun. Ia optimistis bisa mencapainya  dengan melakukan pengembangan usaha secara anorganik.  

Tidak sekadar menjaga pertumbuhan bisnis, sepanjang 2019 AP II juga berhasil mencapai sejumlah target pembangunan infrastruktur kebandarudaraan yang ditetapkan pemerintah. Infrastruktur baru yang sudah dioperasikan pada tahun 2019 dan berdampak luas pada sektor kebandarudaraan nasional adalah East Connection Taxiway (ECT) dan Runway 3 di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Melalui ECT dan Runway 3 membuat Soekarno-Hatta secara bertahap akan mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional bandara. Tak hanya itu, seluruh bandara AP II kini telah dilengkapi dengan fasilitas layanan digital bagi penumpang pesawat. “Kami telah memperbaharui aplikasi Indonesia Airports guna lebih meningkatkan user experience menjadi lebih baik dan mudah,” tambahnya. 

Adapun tahun ini, AP II mulai menjalankan Corporate Strategic Transformation 4.0 dengan timeline yaitu pada 2020 – 2024. Fokusnya adalah melakukan pengembangan bandara dan peningkatan pelayanan melalui technology innovation, seperti artificial intelligence, internet of things, big data analytics, roboting, automation, virtual reality, hingga augmented reality. “Kami ingin mewujudkan era baru berbasis infrastruktur digital di pelayanan kebandarudaraan,” tegasnya. 

Transformasi yang dilakukan pada 2020 – 2024 ini akan membawa AP II mampu mengakomodir dinamisnya permintaan para penumpang pesawat, pengguna jasa bandara, dan masyarakat luas pada era digitalisasi. Program Corporate Strategic Transformation 4.0 sekaligus menasbihkan AP II sebagai pionir dalam digitalisasi layanan dan operasional di bandara guna mencapai visi The Best Smart Connected Airport Operator in The Region. 

Siapkan Era Airport 4.0, AP II juga menggandeng dunia akademis, seperti belum lama silam, AP II telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Negeri Jakarta. “Saat ini kami sudah punya Airport Learning Center dan sedang mempersiapkan adanya corporate university. Kami berharap nantinya UNJ dapat memberi masukan terkait perumusan silabus dan materi pendidikan untuk corporate university itu,” jelas Awaluddin. Sebelumnya, AP II sudah menggandeng beberapa perguruan tinggi, antara lain Institut Teknologi Bandung, Nanyang University (Singapura), hingga Coventry University (UK).

Adjacent Business

Lebih lanjut Awaluddin mengatakan AP II pada tahun ini memperkenalkan konsep bisnis baru bernama Adjacent Business guna mempercepat pertumbuhan usaha pengelolaan bandara dan memperkuat posisi sebagai The Leading Indonesia’s Airport Company. “Konsep Adjacent Business sendiri bisa diartikan sebagai diciptakannya lini bisnis baru untuk meraih pasar yang juga baru guna memperkuat bisnis inti sebagai pengelola bandara.”

Selama ini, pendapatan AP II berasal dari bisnis aeronautika dan non-aeronautika yang sudah dijalankan berpuluh-puluh tahun dan disebut dengan Aeronautica Legacy dan Non-aeronautica Legacy. Hal itu berubah mulai tahun ini dengan diimplementasikannya konsep Adjacent Business. Melalui konsep Adjacent Business ini, pihaknya akan menghasilkan New Wave Business, yaitu pendapatan dari bisnis Aeronautica New Wave dan Non-aeronautiva New Wave. Artinya, AP II akan memperluas pasar dari bisnis inti.

“Jadi, ada Aeronautica Legacy Business dan Non-aeronautica Legacy Business lalu ditambah dengan Aeronautica New Wave Business dan Non-aeronautica New Wave Business. Ini membuat PT Angkasa Pura II semakin tumbuh cepat,” ujar Awaluddin.

Adjacent Business yang telah dijalankan adalah memperkuat portofolio dari 5 anak usaha, mengembangkan bisnis bengkel pesawat (Maintenance, Repair & Overhaul/MRO), dan program strategic partnership Bandara Kualanamu. Dan, konsep ini merupakan pengembangan portofolio bisnis sebagai bagian dari Transformasi Bisnis dan Portofolio Usaha yang dicanangkan sejak 2016.

Ia mengatakan target pendapatan dari Adjacent Business pada 2020 sebesar Rp130 miliar atau 1 persen dari target total pendapatan perseroan yang mencapai Rp12,8 triliun. Guna mengawal implementasi konsep Adjacent Business, ia akan membentuk unit khusus di dalam perseroan yang diberi nama sama, yaitu Divisi Adjacent Business.

 

 

 

 

SHADIQ AKASYA - Direktur Utama PT BNI Life Insurance

Tak Henti Lakukan Continuous Improvement

Naskah: Gia Putri Foto: Sutanto

Diamanahi menjadi Direktur Utama BNI Life sejak 2018 lalu, Shadiq tak pernah menyianyiakan kepercayaan tersebut. Pria yang mengawali kariernya sebagai bankir di PT Bank Nasional Indonesia (Persero) Tbk pada tahun 1992 ini menerapkan beragam jurus jitu agar BNI Life kokoh menjadi salah satu perusahaan asuransi jiwa paling berkilau di negeri ini.

Kepada Men’s Obsession ia menguntai kenapa ia tertarik memimpin BNI Life, setelah sebelumnya menduduki posisi strategis di perbankan BUMN. “Sebetulnya antara asuransi dengan perbankan itu satu rumpun, tetapi tantangannya berbeda adalah tidak mudah untuk menjual produkproduk asuransi. Lalu masalah literasi, di perbankan sudah lebih bagus ketimbang di asuransi. Ketiga, di sini secara teknik kita harus menghitung suatu ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti buat kami."

Sebagai nakhoda BNI Life, Shadiq pun tak henti melakukan continuous improvement. “Obsesi saya adalah membawa BNI Life lebih bagus lagi. Tentunya kami harus selalu berinovasi, melakukan continuous improvement di berbagai sisi, baik saya pribadi maupun teamwork saya. dengan asset BNI Life sekitar sebesar Rp18 triliun, harus kami dorong agar lebih bagus lagi untuk tahun 2020 ini dan tahuntahun mendatang. Bagi saya ini adalah sesuatu yang baru yang harus saya geluti dengan serius,” ungkap Shadiq sembari mengatakan hal ini sejalan dengan filosofi hidupnya bahwa hidup harus memiliki semangat, bekerja keras, dan nyala api harus terus berkobar. “Jangan pernah menyerah dengan keterbatasan kemampuan yang ada, tetapi bagaimana kita bisa menciptakan kemampuan baru, supaya lebih semangat lagi,” imbuhnya. 

Di tengah perlambatan ekonomi pada 2019 lalu, BNI Life berhasil mencatat kenaikan profit 58,9 persen atau sekitar Rp300 miliar (unaudited) dari periode yang sama pada tahun 2018 sebesar Rp185 miliar. Shadiq membeberkan kunci suksesnya adalah perkembangan organisasi, perbaikan proses bisnis, pengembangan bisnis, dan sinergi dengan perusahaan induk BNI “BNI Life mengedepankan penjualan produk yang lebih menguntungkan. Kami juga mengurangi produk-produk yang berisiko tinggi, jadi itu dikemas dalam satu kebijakan strategis kami. Sehingga pada tahun 2019, kami bisa tumbuh di atas rata-rata industri untuk labanya sendiri,” tutur pria yang hobi bermain golf ini. Apa yang dilakukan Shadiq berbuah manis, sepanjang tahun 2019, BNI Life berhasil mendapatkan 24 penghargaan bergengsi yang dipercayakan oleh beberapa lembaga serta media indenpenden dan kredibel baik di sektor asuransi, investasi, image perusahaan, governance, risk and compliance. “24 penghargaan yang kami peroleh merupakan hasil dari kerja keras dan semangat kami dan tim dalam mencapai hasil yang terbaik melalui pembenahan sistem dan kinerja yang selalu kami lakukan secara berkelanjutan dan strategi yang kami sesuaikan dalam meraih target perusahaan yang didukung oleh segenap shareholders, manajemen, karyawan dan tenaga pemasar, termasuk nasabah setia kami yang ada di seluruh Indonesia yang telah mempercayakan BNI Life sebagai partner perencanaan keuangan dan memberikan perlindungan asuransi untuk mereka dan keluarga,” ungkapnya dengan santai. Pada 2020 BNI Life menargetkan premi dapat mencapai Rp7,5 triliun. Nilai ini tumbuh 59 persen dari pencapaian premi tahun 2019 sebesar Rp4,7 triliun. Adapun target laba di tahun 2020 sebesar Rp601 miliar. Jumlah itu naik lebih dari 100 persen dibandingkan pencapaian laba tahun 2019 senilai Rp300 miliar.

Untuk mencapai target tersebut, kata Shadiq, ada 6 kebijakan strategis yang diterapkan pada tahun ini, yaitu fokus ke penjualan produk yang menguntungkan, optimalisasi hasil investasi dan performa unit link, pengembangan captive market, non-captive market dan digitalisasi, meningkatkan produktivitas SDM, optimalisasi proses bisnis dan efisiensi OPEX dan mengkaji pengembangan channel bisnis. Lebih lanjut ia menuturkan, tahun ini memang ada sejumlah tantangan di kondisi pasar modal yang kurang stabil akibat wabah penyakit di China, kemungkinan perang dagang antara Amerika dan Iran, dan menurunnya kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi jiwa karena adanya kasus di beberapa perusahaan asuransi. “Untuk menghadapi tantangan tersebut yang kami lakukan, di antaranya menjaga kualitas asset yang dipercayakan oleh nasabah. Kami juga memiliki kebijakan investasi di BNI Life untuk obligasi rating minimal A dan pilihan investasi lainnya yang berkualitas. Untuk obligasi, kami sekitar 60 persen berada di rating sudah AAA, 40 persennya berbagi antara AA dan A,” jelasnya. Menghadapi Revolusi Industri 4.0, BNI Life terus melakukan digitalisasi guna memenuhi perkembangan gaya hidup nasabah, seperti meluncurkan BNI Life Mobile Apps dan e-commerce yang ada di website www.bni-life.co.id.

“Selain dari dua fitur ini, kini produk BNI Life juga bisa dibeli lewat uang elektronik LinkAja. Selain itu, BNI Life di masa mendatang dapat dibeli lewat aplikasi induk perusahaan induk, yakni BNI Mobile,” terangnya. Ia menambahkan, aplikasi BNI Life Mobile bisa memberikan informasi mengenai kesehatan, daftar rekanan rumah sakit dan provider, dan layanan Digi Claim. Untuk Digi Claim pada saat ini masih diperuntukkan untuk nasabah Optima Group Health (OGH) dengan maksimum nilai klaim sebesar Rp5 juta. Selain itu, BNI Life juga telah menggandeng berbagai perusahaan teknologi kesehatan atau health tech seperti YesDok. “Tahun ini, kami juga berencana akan masuk ke beberapa e-commerce untuk menjajaki kerja sama” imbuhnya. Menutup pembicaraan, Shadiq menuturkan obsesinya, yakni membawa BNI Life berkinerja lebih bagus lagi ke depan.

“Sebagai leader, kita harus memberi contoh dan memahami apa yang kita geluti. Misalnya di BNI Life, harus tahu produk yang dijualnya itu apa, bisnis proses, saya tidak bisa berkeluh kesah dengan kondisi yang ada, tetapi justru dengan kemampuan yang ada, apa yang harus saya improve dari sisi SDM, sistem, maupun IT. Nah setelah itu, tugas dari pimpinan adalah memutuskan kebijakan yang diterapkan. Lalu, melakukan monitoring apakah berjalan sesuai dengan rencana tau tidak. Kalau tidak sesuai rencana, kita harus melakukan perbaikan kembali, kalau sudah berjalan dengan sesuai rencana, kita lakukan apa yang bisa di improve lagi, jadi continuous improvement,” pungkasnya.

 

 

SUNARSO Dirut - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk

Mengawal Kinerja, Meningkatkan Performa

Naskah: Sahrudi Foto: Istimewa

Dikukuhkannya kembali Sunarso sebagai Direktur Utama (Dirut) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 18 Februari 2020 adalah pilihan yang tepat. Setelah pada tahun sebelumnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank BRI, ia ditunjuk sebagai Dirut Bank BRI.

Pria kelahiran Pasuruan pada tanggal 7 November 1963 ini sudah lama malang melintang di industri perbankan meski pernah mencicipi jabatan Dirut PT Pegadaian. Bankir yang sekarang memimpin bank dengan aset terbesar di Indonesia ini membangun kariernya dari Bank Dagang Negara (BDN) sampai kemudian BDN dimerger menjadi Bank Mandiri, ia tetap eksis. Bahkan, di bank itu Sunarso tercatat sebagai bankir yang berprestasi ketika berhasil menyusun skema pembiayaan kepada sektor kelapa sawit. 

Kemudian pada tahun 2015, Kementerian BUMN  menunjuk alumni Agronomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) dan S2 Administrasi Bisnis, Universitas Indonesia ini sebagai Wakil Direktur Utama BRI mendamping Asmawi Syam yang ditunjuk sebagai direktur utama. 

Pada Oktober 2017, Kementerian BUMN menunjuk Sunarso sebagai Direktur Utama Pegadaian. Hanya setahun kemudian, ia kembali ditarik ke BRI menjadi Wakil DIrut untuk kemudian dipercaya sebagai Dirut. Dengan portofolio yang luar biasa, itu tentu saja Sunarso adalah pilihan yang benar untuk mengawal kinerja dan meningkatkan performa BRI agar tetap moncer dan mengkilap. Pada setahun terakhir ini saja, tepatnya di akhir kuartal III-2019 BRI membukukan laba sebesar Rp24,8 triliun. Sunarso mengemukakan jika laba tersebut tumbuh 5,36 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. “Hingga kuartal III secara konsolidasian mencetak laba Rp24,8 triliun rupiah atau tumbuh 5,36 persen (yoy). Sementara aset tercatat sebesar Rp1.305,67 triliun atau tumbuh secara tahunaan 10,34 persen,” ujar Sunarso ketika memberikan paparan, beberapa waktu lalu.

Adapun dari segi aset BRI mencapai Rp 1.305,67 trilun atau tumbuh 10,34 persen (yoy). Untuk rasio perbankan lainnya, rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/ LDR) BRI tercatat 94,15 persen dan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) 21,89 persen. Angka LDR ini sangat moderat dan CAR yang cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan BRI di masa mendatang.

Karenanya dalam RUPST tahun ini, Bank BRI menyetujui pembayaran dividen sebesar 60 persen dari laba bersih tahun 2019 yang sebesar Rp34,4 triliun. Sehingga, dividen yang dibagikan BRI tahun ini sebesar Rp20,6 triliun atau sekitar Rp168,1 per lembar saham. Angka ini naik 27,2 persen dibandingkan dengan dividen yang dibagikan BRI pada tahun lalu sebesar Rp16,2 triliun atau sekitar Rp132,2 per lembar saham. Sedangkan, Earning Per Share (EPS) perseroan di tahun 2019 sebesar Rp279, naik 6,1 persen dibandingkan EPS tahun 2018 sebesar Rp263. 

Memang, salah satu penyokong utama kinerja BRI, yaitu penyaluran kredit yang tumbuh double digit. BRI hingga akhir September 2019  telah menyalurkan kredit senilai Rp903,14 triliun atau tumbuh 11,65 persen, lebih tinggi dari industri sebesar 8,59 persen dengan NPL 3,08 persen. “Kredit mikro tumbuh 13 persen dan jadi pilar utama kinerja BRI triwulan III, sesuai fokus kami untuk ekonomi kerakyatan dan pemberdayaan UMKM di Indonesia,” ujar Sunarso.

Pihaknya merinci, kredit mikro BRI tercatat senilai Rp301,89 triliun. Sedangkan, kredit konsumer BRI Rp137,29 triliun atau tumbuh 7,85 persen (yoy), kredit ritel dan menengah Rp261,67 triliun atau tumbuh 14,80 persen (yoy) dan kredit korporasi BRI Rp202,30 triliun.

Terkait dengan penguatan sektor kredit, dalam salah satu acara gathering dengan insan pers beberapa waktu lalu, Sunarso bertekad akan terus fokus pada pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia lewat transformasi digital. Pasalnya, UMKM masih mengalami kendala untuk naik kelas. “Kami menyadari dalam mendorong partisipasi masyarakat ikut dalam ekonomi kerakyatan tidak hanya dipengaruhi oleh pricing. Namun, pricing memiliki peran mendorong kemajuan UMKM,” kata Sunarso.

BRI memiliki misi melayani pelaku UMKM sebanyak mungkin dengan biaya semurah mungkin. Misi tersebut diakuinya dapat dicapai melalui go smaller, go shorter, go faster. Penetapan target market yang lebih kecil, perputaran pinjaman lebih cepat serta pemrosesan lebih cepat dan hal itu diyakini Sunarso bisa dicapai melalui transformasi digital untuk mendapatkan efisiensi serta menciptakan value baru melalui new business model.

 

Menciptakan Value BRI

Tekad Sunarso yang belum genap setahun memimpin ini adalah membawa BRI menciptakan value kepada shareholder dalam bentuk kinerja keuangan yang baik serta berkelanjutan. Sementara kepada nasabah, tentu saja Sunarso akan mendorong BRI memberikan layanan di atas ekspektasi. Sedangkan kepada karyawan, BRI harus bisa menjadi tempat kerja yang kondusif untuk menumbuhkembangkan karier sesuai potensinya. 

Dan kepada masyarakat, BRI akan membawa CSR “BRI Peduli” melalui program 3P (pro planet, pro profit, dan pro people). Program Pro Planet dilakukan BRI dengan melakukan konservasi kawasan sungai atau sarana air bersih dan MCK serta penanaman pohon. Pro-profit meningkatkan kapasitas pelaku UMKM melalui entrepreneurship, administrasi dan manajerial, akses go online, serta good corporate governance. Sedangkan, pro-people melalui bedah rumah dan beasiswa Indonesia Cerdas.

SUSANTO DJAJA - Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk

Selamatkan Metrodata dari Krisis

Naskah: Purnomo Foto: Istimewa

Kinerja Susanto Djaja, sebagai Presiden Direktur PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL) patut diacungkan jempol. Betapa tidak, sepanjang kuartal III-2019 dia mampu menorehkan tinta emas di Metrodata. Perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak 1990 dan bergerak di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi ini berhasil mempertahankan pertumbuhan laba bersih pada kuartal III-2019 sebesar 35,5 persen YoY dari Rp191,0 miliar di kuartal III-2018 menjadi Rp258,8 miliar di kuartal III-2019. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia menjadi salah satu aspek yang berperan besar dalam menorehkan kinerja positif secara berkelanjutan.

Pertumbuhan tersebut sejalan dengan diresmikannya Palapa Ring baru-baru ini, yaitu proyek pembangunan jaringan serat optik nasional yang menghubungkan 514 kota untuk akselerasi pemerataan ekonomi digital. Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia ini meningkatkan demand akan produk dan solusi TIK, sehingga sebagai digital solution & distribution company, MTDL siap mendukung transformasi digital para pelanggan dan mitra korporasi.

Tak hanya itu, di tangan dingin Susanto pendapatan MTDL juga meningkat pada kuartal III-2019, mencapai Rp10,2 triliun, atau naik 12,8 persen YoY dari Rp9,1 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan paling tinggi berasal dari unit bisnis Solusi, yakni 25,1 persen. Sementara, untuk kontribusi terbesar terhadap pendapatan masih berasal dari unit bisnis Distribusi sebesar 77,0 persen, diikuti oleh unit bisnis Solusi 21,3 persen, dan Konsultasi 1,7 persen.

Sementara pendapatan unit bisnis distribusi, di bawah pengelolaan entitas anak PT Synnex Metrodata Indonesia (SMI), bertumbuh Rp838 miliar atau 11,5 persen YoY dibandingkan tahun lalu. Salah satu pendukung utama pertumbuhan adalah segmen bisnis yang relatif baru lewat PT My Icon Technology yang bermain di pengadaan produk TIK melalui e-katalog (LKPP – Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah). Untuk segmen B2G (business-to-government) penjualannya signifikan, yaitu mencapai Rp404 miliar hingga kuartal III-2019 ini.

Dari sisi lain, pertumbuhan unit bisnis distribusi juga didukung oleh segmen consumer yang melakukan penjualan kepada dealer, dengan meningkatnya permintaan dealer yang mulai me-maintain stok setelah pilpres. Ditambah dengan peningkatan pertumbuhan dari segmen commercial yang melakukan penjualan ke segmen korporasi melalui Perusahaan Solusi TIK sejalan dengan transformasi digital yang menguntungkan perusahaanperusahaan solusi tersebut.

Tak hanya sampai di situ, Metrodata melalui lini usaha distribusi juga telah mencanangkan berbagai strategi untuk memenangkan persaingan bisnis di sepanjang tahun ini. Perseroan yang didirikan pada 17 Februari 1983 ini akan melakukan strategi menambah kerja sama dengan mitra baru di bidang distribusi untuk produk-produk TIK terutama IoT, gaming, IT security yang terus berkembang.

Ke depan, MTDL berencana memasarkan smart lighting appliance selain home appliance seperti blender, shaver, vacuum cleaner, dan lain-lain yang telah dijalankan tahun lalu agar semakin lengkap rangkaian produk dan jasa yang bisa disalurkan melalui jaringan distribusi MTDL yang terbukti bertahan selama 45 tahun.

Selain itu, dari lini usaha solusi dan konsultasi, kebutuhan akan produk dan layanan IT serta upaya perusahaanperusahaan dalam melakukan transformasi digital ke arah industri 4.0 juga terus menopang pendapatan MTDL sejak beberapa tahun terakhir yang akan dilanjutkan pada tahun ini.

Salah satu contohnya di industri keuangan, khususnya perbankan dan layanan keuangan lainnya telah mengalami disrupsi mendasar dengan kehadiran para pemain di bidang financial technology (fintech). Fintech sebagai evolusi baru di dalam metode pembiayaan dan pembayaran telah memaksa perbankan untuk bertransformasi dalam memudahkan proses payment dan transaksi untuk nasabahnya. Untuk mengatasi persaingan dengan fintech inilah, perbankan gencar dalam melakukan transformasi di dalam digital payment atau digital transaction. Dalam hal ini MTDL sudah membantu banyak bank dalam membangun interkoneksi antara core system (back end) dan digital system (front end).

Ya, Susanto optimis dan percaya diri saat dirinya ditunjuk sebagai CEO sebuah perusahaan information technology (IT), PT Metrodata pada tahun 2010 lalu. Dengan kepercayaan dirinya itu Susanto bekerjakeras hingga dapat menyelamatkan Metrodata dari krisis ekonomi.

Susanto meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya, Jurusan Manajemen Keuangan, di Jakarta pada 1992. Gelar magister Hukum Bisnis ia peroleh dari  Universitas Pelita Harapan, Jakarta pada 2005. Pria yang hobi membaca majalah ini awalnya juga mempunyai karier yang sesuai latar belakang pendidikannya.

Pertama kali ia bekerja di Bank Mizuho, yakni pada 1991 sebagai staf operasional bidang keuangan. Kemudian, dosennya pada saat itu menawarkan posisi manajer keuangan di Grup Tempo. Selanjutnya dipercaya menjadi Corporate Treasurer serta Manajer Kantor Cabang Jabodetabek. Dalam kesibukannya, ia tetap meluangkan waktu menjadi dosen manajemen keuangan di Fakultas Ekonomi Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta, pada 1991-2000. Kemudian, mulai bergabung dengan perseroan pada tahun 1997 bulan Oktober.

Susanto masuk ke MTDL bertepatan dengan terjadinya krisis global. Kondisi di Metrodata juga sedang krisis. Kala itu, ia menjadi cash flow manager, kemudian treasury manager. Dalam menjalankan tugasnya, ia sempat mengambil tindakan hedging. Kemudian ia menutup transaksi forward atas LCLC yang bakal jatuh tempo, kurang lebih nilainya USD13-16 juta. Di situlah Metrodata bisa selamat. Kalau tidak bisa selamat, pemilik Metrodata bisa berganti, namun ternyata tidak terjadi.  

TUMIYANA - Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

Mengawali Tahun 2020 dengan Optimisme

Naskah: Sahrudi Foto: Dok. Pribadi

Sepuluh tahun lalu, tepatnya tahun 2010,  PT Wijaya Karya Tbk (Tbk) sudah menyiapkan tekad bernama “Visi 2020” yang salah satu tujuannya adalah menjadi perusahaan Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) serta investasi terintegrasi terbaik di Asia Tenggara. Akankah di tahun 2020 ini tekad tersebut bakal terwujud?

Bisa jadi di akhir tahun 2020 nanti, apa yang dicitakan perusahaan infrastruktur plat merah ini akan terealisasi. Betapa tidak, perusahaan dengan kode emiten WIKA ini sekarang tak hanya memiliki sumber daya manusia (SDM) yang andal, tapi juga piranti teknologi pendukung yang tak kalah canggih dengan korporasi serupa di luar negeri. Hal itu tak lepas dari komitmen WIKA untuk berperan serta dalam mendukung dan mensukseskan program pemerintah, khususnya dalam pembangunan infrastruktur yang sejalan dengan bisnis inti Perseroan dalam bidang konstruksi.

Melalui berbagai pembangunan infrastruktur yang telah diamanahkan oleh pemerintah kepada perusahaan, WIKA menghadirkan pengembangan infrastruktur dan bangunan yang memberikan dampak positif “create impact” serta manfaat kepada masyarakat selaku stakeholders. 

Terbukti, di bawah kepemimpinan Tumiyana selaku Direktur Utama, perusahaan ini telah mendapatkan banyak kepercayaan dari luar negeri untuk proyek-proyek prestise. Hal itu tak lepas dari kejelian dari para direksi dan staf WIKA dalam memaksimalkan penerapan Building Information Modelling (BIM) yang sejatinya sudah ada sejak 2007 lalu sebagai upaya mempersiapkan industri ini untuk mampu  berdaya saing global. Maka tak heran jika tahun 2019 kemarin, ajang International Year in Infrastructure 2019  di Singapura menganugerahkan WIKA sebagai juara utama dalam kategori “Going Digital Advancements in Bridges”.

WIKA berhasil mengungguli 2 finalis dari Italia, Italfer S.p.A dan Shenzen Municipal Design & Research Institute, co, Ltd., dari Tiongkok. Sebagai informasi, ajang International Year of Infrastructure 2019 ini diikuti oleh 60 negara di dunia, 440 organisasi dan 571 nominasi proyek. Prestasi juara 1 yang ditorehkan WIKA pada ajang International Year in Infrastructure 2019 adalah kali kedua dalam dua tahun terakhir.

Pada ajang yang berlangsung di Inggris tahun 2018 lalu, WIKA menjadi wakil Indonesia pertama yang berhasil masuk nominasi sekaligus tampil sebagai pemenang kategori Environmental Engineering. Pencapaian ini menunjukkan pengakuan dunia terhadap kinerja dan performa tim BIM WIKA. Ke depan, WIKA akan semakin fokus mengoptimalkan penerapan teknologi ini, sehingga akan mampu meningkatkan nilai tawar untuk dapat mengembangkan bisnis di sektor konstruksi.

Sekadar catatan, dari target nilai kontrak baru di tahun 2020, WIKA membidik 14 persen proyek luar negeri dan saat ini perseroan telah berada di 9 negara dan 2020 akan diperluas ke 3 negara lain, yaitu Madagaskar, Mauritius, dan Ethiopia. Pada penghujung tahun 2019 WIKA juga mendapatkan kontrak pekerjaan pembangunan Proyek Goree Tower di Senegal, Afrika Barat dengan nilai pelaksanaan tahap pertama sebesar 50 juta Euro dari total 250 juta Euro. 

Penandatanganan kontrak Tahap 1 Goree Tower Project tersebut dilakukan oleh L’Agence De Gestion Du Patrimoine Bati De L’Etat (AGPBE) dengan perseroan di Centre Internationale Conference Abdou Diouf. Memang, kontrak baru luar negeri WIKA pada 2020 mayoritas berasal dari negara-negara Afrika. Namun demikian, WIKA juga menggarap proyek di beberapa negara Asia yang memiliki pertumbuhan ekonomi baik dan sedang agresif membangun infrastruktur, seperti Filipina dan Taiwan.

Perseroan juga sedang membidik proyek pengembangan bandara Terminal 3 di Taipei dengan nilai kurang lebih Rp3 triliun. Sementara untuk di dalam negeri, kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) karya ini makin cemerlang dengan masifnya pembangunan infrastruktur yang digenjot oleh pemerintah.

Dari performa yang tinggi itu penghasilan pun meningkat signifikan. Sesuai laporan keuangan hingga 30 September 2019, misalnya WIKA mencatatkan laba bersih Rp 1,57 triliun di kuartal-III 2019 dengan rasio laba bersih 8,57 persen atau tumbuh 48,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2018. Hingga September 2019, Perseroan telah mencatatkan kontrak baru sebesar Rp25,74 triliun. Perolehan tersebut tumbuh 1,64 persen dikomparasikan dengan perolehan kuartal-III tahun 2018. Kontribusi kontak baru terbesar datang dari private sector 46 persen; BUMN 40 persen; overseas 10 persen, dan pemerintah 4 persen. Sementara lini bisnis yang paling berkontribusi, yakni infrastruktur & gedung, energi & industrial plant, industri, dan properti.

Pada kuartal III-2019 ini pula, Perseroan mencatatkan nilai gearing ratio, atau rasio antara hutang berbunga dibandingkan dengan ekuitas sebesar 1,19x. Nilai rasio tersebut terbilang masih rendah jika dibandingkan dengan batas utang perusahaan (covenant) pada level 2,5x. Artinya, kondisi keuangan Perseroan dalam kondisi sehat dan memiliki ruang yang besar untuk melakukan ekspansi bisnis ke depan. 

Dengan posisi seperti itulah, WIKA siap untuk sebuah kerja besar yakni membangun ibu kota negara yang baru di Kalimantan. “Wika selalu siap untuk ambil bagian dalam mempersiapkan ibu kota baru, termasuk di antaranya melalui mekanisme Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam penyediaan Infrastruktur,” tegas Tumiyana. Menurutnya, dipilihnya Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru sekaligus menjadi peluang bagi perusahaan untuk ekspansi ke wilayah tersebut.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250