Search:
Email:     Password:        
 





Obsession Awards 2020; Best University Leaders

By Syulianita (Editor) - 16 April 2020 | telah dibaca 394 kali

Adiwijaya - Rektor Telkom University (TEL–U)

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Istimewa


Dipercaya mengemban tugas menjadi orang nomor satu di Telkom University (Tel-U) sejak Agustus 2018, kepemimpinan Prof. Dr. Adiwijaya telah berhasil membesarkan nama Tel-U, salah satunya adalah dengan dinobatkannya Tel-U menjadi Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Reupblik Indonesia di tahun 2019.

Di tahun yang sama, untuk yang kedua kalinya Tel-U juga mendapatkan Anugerah Widya Padhi dari Kemenristekdikti sebagai Perguruan Tinggi dengan manajemen inovasi terbaik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan inovasi oleh Tel-U telah mendapat pengakuan
dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah. Hingga saat ini, sudah lebih dari 40 startup yang diinkubasi di Tel-U, beberapa di antaranya sudah memiliki omset miliaran rupiah.

 

Sejalan dengan pengembangan inovasi, Tel-U berhasil meningkatkan klasterisasi kinerja penelitian menjadi klaster mandiri sejajar dengan perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Pengembangan research yang dilakukan Tel-U juga sudah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Ini ditunjukkan dengan berjalannya research matching grant dengan berbagai Perguruan Tinggi dari Asia dan Eropa, seperti Belanda, Skotlandia, Australia, Jepang, Korea, dan Malaysia. Adiwijaya mengarahkan agar semua penelitian di Tel-U bermuara pada inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat maupun industri, tak hanya publikasi. Karenanya tak heran jika beberapa produk penelitian Tel-U telah banyak dimanfaatkan di Industri dan berhasil menyukseskan dalam program Citarum Harum.

 

Hal ini menjadi portofolio yang baik bagi Prof. Dr Adiwjaya dalam mengemban amanah memimpin Tel-U, untuk menjadikan Tel-U sebagai Research and Entrepreneurial University pada 2023 yang bermanfaat untuk masyarakat dan pembangunan nasional.

 

Konsistensi Tel-U dalam menciptakan SDM unggul untuk bangsa, tercermin dengan menjadi Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama di wilayah Jawa Barat & Banten yang pertama kali mengantongi akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) di tahun 2016. Hingga saat ini 70% Program Studi (Prodi) yang ada di Tel-U sudah terakreditasi A. Lebih dari itu, 19 dari 34 Prodinya sudah mendapat akreditasi Internasional dari ABEST 21, ASIC dan IABEE. Dalam menciptakan kualitas yang unggul, pengakuan tidak hanya datang dari dalam negeri, pengakuan dari internasional juga dapat dirasakan oleh sivitas akademika Tel-U, di antaranya adalah penghargaan bintang 5 QS (Quacquarelli Symonds) dalam kategori Teaching, Innovation, Employability, dan Inclusiveness.

 

Merespon era industry 4.0 ke arah Pendidikan berbasis digital, Tel-U mengembangkan Digital Education Excellence, salah satunya dengan memperkuat Center of e-Learning and Open Education (CeLOE). Dengan ini, mahasiswa bisa belajar kapan pun dan di manapun sesuai dengan kondisi generasi milenial saat ini. Hal ini pun sejalan dengan konsep dosen penggerak dari mendikbud, di mana dosen sebagai fasilitator di kelas.

 

Hingga saat ini, CeLOE telah memiliki 13.000 video konten digital learning dari 300 mata kuliah, di mana seluruh konten digital itu diproduksi sendiri oleh Tel-U melalui 14 studio. Tentunya semua konten digital itu tidak lepas dari support Teknologi Informasi yang dimiliki Tel-U, di mana saat ini service management system untuk layanan internet, attendance system, dan pengembangan sistem informasi yang ada di Tel-U telah mendapatkan sertifikasi ISO 20000- 1:2018.

Seluruh layanan sivitas akademika Tel-U telah terintegrasi menjadi 1 dashboard management system yang disebut iGracias (Integrated Academic Information System), iGracias sendiri merupakan portal system layanan informasi yang merupakan platform layanan proses Pendidikan dan pengelolaan kampus secara terintegrasi. iGracias dapat diakses oleh seluruh sivitas akademika dan orang tua mahasiwa. Memiliki 30.000 mahasiswa dan lebih dari 900 dosen serta 300 staff, tentunya membuat seorang pemimpin Tel-U menciptakan sebuah program aplikasi berbasis web ‘Halo Rektor’ dengan tujuan menjembatani komunikasi dengan seluruh civitas akademika.

 

“Dengan adanya Halo Rektor, teman-teman civitas akademika di sini bisa menyampaikan keluhan ataupun saran yang konstruktif sehingga kami bisa segera mengatasinya. Jangan sampai mereka merasa tidak memiliki wadah sehingga harus menyampaikan hal itu di sosial media. Dengan program ini kami bisa memantau secara langsung dan mengetahui permasalahan apapun yang ada di kampus ini. Dan, Alhamdulillah bisa berjalan dengan baik dan cepat,” terang kelahiran Majalengka, 21 September 1974 ini.

 

Saat ini, 7000 mahasiswa (Angkatan pertama) Tel-U diwajibkan menempati asrama selama 1 tahun pertama. Untuk menjaga kenyamanan mahasiswa dan ketenangan orangtua mahasiswa, Tel-U membuat ruangan monitoring (Command Center) yang dapat memantau seluruh kegiatan sivitas akademika baik indoor maupun outdoor.

 

Fasilitas Command Center ini rencananya dilengkapi dengan 300 kamera CCTV yang dipasang di area kampus, gedung perkuliahan hingga fasilitas umum dan jalan sekitar kampus, 152 di antaranya telah terpasang. Camera CCTV ini langsung terkoneksi ke ruang Command Center dengan pengawasan keamanan selama 24 jam setiap hari. Selain itu, Tel-U juga akan menyediakan 10 panic button dengan 5 jumlah panic button yang telah terpasang sehingga dapat langsung digunakan dalam keadaan mendesak dan memerlukan bantuan. Harapannya, orang tua bisa lebih tenang menyekolahkan putra putrinya di sini dan memastikan seluruh civitas akademika di Tel-U tetap merasa aman dan nyaman selama berada di lingkungan kampus.

 

Menempati lahan 50 ha, Tel-U turut menciptakan kampus hijau untuk kenyamanan beraktifitas seluruh sivitas di kampus, t juga mampu menjadikan Tel-U sebagai daerah resapan air di Bandung selatan, dengan membangun 1000 biopori. Upaya pelestarian lingkungan Tel-U dilirik oleh pemeringkatan dunia tentang kampus hijau UI Green Metric World Rank, dimana Tel-U pada Desember 2019 berhasil meraih peringkat ke-9 Nasional dan peringkat 135 dunia sebagai kampus hijau.

 

Eddy S. Soegoto - Founder & Rektor Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM)

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Dok. UNIKOM

 

Mendengar nama Universitas Komputer Indonesia atau UNIKOM tak bisa dilepaskan dari sosok sang founder yang sekaligus menjabat rektor UNIKOM, Prof. Dr. Ir. H. Eddy Soeryanto Soegoto, M.T. Sebagai seorang entrepreneur andal sekaligus tokoh pendidik, Prof. Eddy tahu betul bagaimana memimpin UNIKOM hingga menjadi besar seperti saat ini.

Baru berdiri pada tahun 2000 lalu, nama UNIKOM telah bersinar hingga skala internasional. Hal itu tak lain berkat kreativitas, inovasi, serta segudang prestasi yang ditorehkan, baik oleh para dosen maupun mahasiswa UNIKOM. Berkat jiwa leadership entrepreneur yang dimilikinya, Prof. Eddy mampu memotivasi dan menggerakkan sistem di UNIKOM menjadi Perguruan Tinggi ternama di Tanah Air dalam waktu relatif singkat.

 

Dalam memimpin, posisinya sebagai seorang entrepreneur membuatnya berani mengambil keputusan tanpa harus dihambat birokrasi dan aturan yang mengganggu. Prof. Eddy mencontohkan bagaimana UNIKOM bisa mengungguli Perguruan Tinggi senior/ besar yang sudah puluhan tahun lebih dahulu berdiri.

 

Misalnya, UNIKOM masuk 100 Perguruan Tinggi Terbaik Nasional 2019 oleh Kemenristekdikti, masuk Klaster Utama PT Nasional 2019, Top 10 PTS Nasional untuk Karya Ilmiah Internasional 2020. Semuanya mengalahkan beberapa Perguruan Tinggi Swasta lainnya yang lebih dahulu hadir di Indonesia. 

 

Tak hanya itu, prestasi lainnya yang ditorehkan UNIKOM, antara lain Juara Asia Pasific ICT Award (APICTA) 2019 di Vietnam, 2 Juara 1 Nasional ICT Skill Competition 2019, Juara Nasional Kontes Roket Indonesia 2019, Juara Nasional Microsoft 2019, serta sukses menyelenggarakan INCITEST dan ICOBEST.

 

“Yang terbaru pada 2019 lalu kita menjadi juara dunia kompetisi ICT, World Skill Competition, di Kazan, Rusia. Prestasi ini tentu membanggakan bagi UNIKOM, warga Jawa Barat dan tentu menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Semua ini kita syukuri dan menjadi pemacu untuk lebih baik lagi di tahun- tahun mendatang. Faktor kreativitas dan inovasi harus selalu diterapkan guna membangun keunggulan dan menghasilkan value added melalui sinergi antara pimpinan UNIKOM, dosen-dosen, karyawan, serta mahasiswa kita,” ungkap Prof. Eddy kepada Men’s Obsession.

 

Selain itu, UNIKOM juga menjadi langganan juara dunia kontes robot di Amerika Serikat. Bahkan pada 2007 lalu, UNIKOM menjadi Perguruan Tinggi pertama dari Indonesia yang dikirim ke negara Paman Sam tersebut untuk mengikuti kompetisi robot. “Setelah itu berturut-turut. Sudah 9 tahun menjadi juara dunia kontes robot, sudah 10 tahun juara nasional kontes roket, 7 tahun juara Indonesia ICT Award, INAICTA, sudah 4 tahun juara nasional microsoft. Bahkan UNIKOM adalah salah satu Perguruan Tinggi yang memenangkan 2 kategori kompetisi microsoft yang dikirim ke Amerika Serikat. Satu memperoleh penghargaan 100 juta dan satunya 50 juta,” Prof. Eddy menjelaskan.

 

Apa yang menjadikan UNIKOM begitu spesial pada bidang ICT dan selalu menjadi langganan juara di bidang ini adalah karena Prof. Eddy mewajibkan empat mata kuliah dasar untuk seluruh program studi tanpa terkecuali guna mendukung ilmu ini. Yang pertama adalah perangkat lunak komputer atau software, kedua, perangkat keras komputer atau hardware, ketiga, animasi multimedia, dan keempat, mata kuliah entrepreneurship atau kewirausahaan.

Dan karena UNIKOM menjadi Perguruan Tinggi berbasis ICT, maka ia mewajibkan mata kuliah ICT selama 7 semester untuk seluruh prodi di UNIKOM tanpa terkecuali. Dan, karena dasar keilmuan seluruh mahasiswa UNIKOM ini adalah pada bidang ICT, maka Prof. Eddy mengembangkan lagi dengan inovasi-inovasi pada bidang teknologi tinggi, serta berkreasi menciptakan produk-produk yang kemudian menjadi unggulan dan kebanggaan bangsa Indonesia. Seperti di bidang robotika, bidang roket, kemudian berbagai bidang yang terkait dengan konten digitalisasi, terbukti meraih prestasi membanggakan baik skala nasional maupun internasional.

 

Tak hanya mahasiswa yang gencar berinovasi dan berkreasi sehingga menghasilkan prestasi membanggakan. Lebih dari itu, Prof. Eddy juga mendorong para dosen untuk mampu berkarya menghasilkan suatu publikasi internasional terindeks scopus. Selain itu, prestasi-prestasi yang berhasil diraih UNIKOM ini juga karena penerapan budaya UNIKOM yang telah disusun dan dijalankan sejak awal berdirinya UNIKOM, yaitu budaya PIQIE (Profesionalism, Integrity, Quality, Information Technology, and Excellence).

 

“Budaya tersebut harus dijalankan oleh seluruh dosen dan karyawan UNIKOM, mereka harus bekerja secara profesional, memiliki integritas diri yang baik, kualitas pekerjaan harus bagus, wajib menggunakan IT dalam proses aktivitas sehari-hari, kemudian harus menghasilkan karya unggul yang bisa menghasilkan prestasi Nasional dan Internasional,” tandas Prof. Eddy.

 

Sebagai seorang entrepreneur, juga sebagai guru besar di bidang entrepreneur, Prof. Eddy mengakui ia memiliki kewajiban moral untuk bisa menghasilkan entrepreneur- entrepreneur baru atau start up-start up baru berwawasan Global melalui kampusnya, terutama entrepreneur di era digital 4.0 yang berbasis ICT atau technopreneur. Dengan demikian, UNIKOM dapat memberikan andil dalam meningkatkan jumlah entrepreneur baru di Indonesia yang saat ini baru sekitar 3,1% dari minimal 4% dari total populasi penduduk Indonesia yang 267 juta jiwa di 2019, sesuai saran Bank Dunia. Menyikapi hal itu maka sejak tahun 2007 UNIKOM sudah mewajibkan Entrepreneurship menjadi mata kuliah wajib untuk seluruh program studi yang ada di UNIKOM.

 

Prof. Eddy Soegoto berharap Indonesia bisa semakin maju dengan banyaknya entrepreneur yang lahir, termasuk dari UNIKOM. Untuk itu, menurutnya, akselerasi jumlah Entrepreneur di Tanah Air akan terjadi apabila Perguruan Tinggi di Indonesia mewajibkan mata kuliah entrepreneurship pada seluruh program studi. Karena, seorang entrepreneur sejatinya bisa dihasilkan dari program studi apapun.

 

Pada tahun 2020, UNIKOM kembali mendapat APTISI AWARDS 2020 yang diserahkan langsung oleh Menkopolhukam Prof. Mahfud MD di Surabaya.

 

 

Mochamad Ashari - Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Naskah: Suci Yulianita Foto: Dok. ITS

 

Sukses menjabat Rektor Telkom University periode 2013 – 2018, Prof. Dr. Ir. Mochamad Ashari M. Eng. Ph.D memutuskan kembali ke kampus almameternya, kampus tempat awal meniti karier, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui pemilihan rektor yang prosesnya cukup panjang, akhirnya Majelis Wali Amanat ITS melalui sidang pleno memutuskan Ashari menjadi Rektor baru ITS periode 2019– 2024, yang sebelumnya pernah menjabat Ketua Jurusan Teknik Elektro (2003–2011).

Meneruskan kepemimpinan rektor sebelumnya, Prof. Joni Hermana yang telah berhasil menjadikan ITS sebagai Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN – BH), Prof. Ashari memiliki target ingin menjadikan ITS masuk ke dalam World Class University. Sebagai langkah awal, ia memulainya dengan mempersiapkan pengembangan teknologi Industrial Revolution 4.0. Pada awal Januari 2020, Ashari melantik 10 Kepala Pusat Riset yang bidangnya sejalan dengan teknologi Industrial Revolution 4.0 (IR 4.0), seperti artificial intelligent, nano technology, digital design, bio technology, dan health technology. Selain itu, ia juga melakukan perampingan dari 10 fakultas menjadi 7 fakultas yang semuanya mengarah pada pengembangan IR 4.0.

 

Belum lama memimpin, ITS di bawah kepemimpinannya telah meraih pencapaian membanggakan. Prof. Ashari berhasil mempertahankan
posisi ITS dalam pemeringkatan World University Rankings (WUR) 2020. ITS masuk dalam peringkat 801 QS Rank dunia, sementara untuk QS Rank Asia, juga mengalami peningkatan menjadi peringkat 198 dari peringkat sebelumnya 229. Sementara untuk versi Times Higher Education (THE), ITS meraih peringkat dunia pada urutan ke 3 di antara Universitas Indonesia. Tak kalah membanggakan pula, ITS mampu mempertahankan posisinya di peringkat keempat dalam Webometrics Ranking Web of Universities periode Januari 2020 di Indonesia.

 

Tak hanya itu, ITS berhasil sebagai PTN-BH terbaik di Indonesia yang menempati peringkat ke-4 Perguruan Tinggi terbaik tahun 2019 versi klasterisasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), meningkat dari yang sebelumnya bertengger di peringkat ke-6. ITS juga meraih penghargaan Widyapadhi sebagai Universitas paling inovatif di peringkat ke 3, meningkat pesat dari yang sebelumnya peringkat ke 15.

 

Prestasi membanggakan skala internasional juga berhasil diraih, di antaranya Tim Barunastra ITS mampu mempertahankan gelar juara dunia dalam ajang International Roboboat Competition (IRC) 2019 di Florida, Amerika Serikat pada Juni 2019 lalu. Tim robot sepak bola Ichiro ITS, juga sukses membawa pulang juara pertama pada kompetisi Robocup Humanoid Soccer League kategori Teen Size Technical Challenge di ajang tahunan Robocup 2019 yang digelar di Sydney, Australia pada Juli 2019. Begitu pula dengan prestasi Tim Bayucaraka ITS, yang tak kalah cemerlangnya. Bersama robot terbang andalannya, Tim Bayucaraka ITS berhasil meraih juara pertama di kompetisi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) 2019 di Istanbul, Turki.

 

Sementara lainnya, yakni tim Antasena ITS pun unjuk gigi dengan memperkenalkan penggunaan mobil hidrogen pada ajang Shell Technology Forum 2019 yang digelar di Nusa Dua Bali, September 2019. Tak ketinggalan, pencapaian membanggakan pun diraih oleh salah satu dosen dari Fakultas Teknologi Kelautan, Ir. Wisnu Wardhana, MSc. Ph.D, yang berhasil merancang kapal perang 3 medan dan direncanakan selesai serta uji coba pada akhir tahun 2020. Dengan prestasi tersebut, Prof. Ashari belum cukup puas. Ia masih memiliki tugas dan tanggung jawab untuk membawa ITS lebih bergaung lagi di kancah internasional. Untuk itu, ia dan timnya terus menggenjot ITS untuk menuju World Class University.

 

Prof. Ashari telah mempersiapkan beberapa strategi, antara lain promosi dan networking di kancah internasional, membuka kelas internasional, serta joint lecturer dengan universitas luar. Saat ini dari 70 prodi yang ada di ITS, baru 15 yang sudah terakreditasi internasional. Menurutnya, semua prodi tersebut seharusnya telah mendapat akreditasi internasional. Oleh karena itu, tahun 2020 ini Ashari memiliki target akan terus meningkatkan prodi terakreditasi internasional sebesar 48% dengan jumlah 35 prodi. “Ini harus dikebut, harus terakreditasi internasional. Berikutnya adalah penguatan pasca sarjana. Kalau ini semua bisa kita lakukan maka Insya Allah akan bisa mencapai World Class University dengan kualitas yang memenuhi persyaratan dan standar mereka,” imbuhnya.

Dalam rangka membawa ITS menuju World Class University tersebut, Ashari memiliki kebijakan dan strategi yang telah disusunnya dalam program bertajuk ITS Maju (Bersama Kita Juara). Yang penting dan menjadi salah satu program utama adalah program ID 4.0, yakni Internal Enhancement, Innovation Development, International Reputation, serta Digital Transformation.

 

Menurutnya, digital transformation ini otomatis akan mengubah budaya ITS. Ia ingin ke depan ITS bisa menuju education 4.0 yang semuanya sudah berbasis IoT, terutama untuk proses belajar mengajar di ITS. “Nantinya akan ada digital class bahkan ada distance lab dengan teknologi IoT, dan teman- teman yang kuliah di pulau terpencil pun bisa mengakses lab kita dari jauh,” pungkas Prof. Ashari.

 

Sementara untuk menciptakan SDM yang unggul dan berdaya saing internasional, ia juga menggagas dibentuknya Science Techno Park
di lingkungan ITS yang berfungsi sebagai innovation centre guna menghubungkan industri dan pemerintah. Di sana nantinya akan ada jasa pembuatan desain, pembuatan prototipe, dan lainnya. “Lab prototipe kita masukan ke techno park, ada training monitoring, sampai nanti anak-anak yang pemilik ini, keluar memiliki perusahaan, atau joint production,” ujar lulusan S2 dan S3 dari Curtin University Australia ini.

 

Di samping itu, Prof. Ashari juga menargetkan ITS menjadi Research and Innovative University. Dengan demikian, ia berharap mahasiswa yang lulus dari ITS tak hanya dapat mengisi SDM di Indonesia saja, termasuk di industri, pimpinan di lembaga, di kementerian, dan sebagainya, namun lebih dari itu, alumni ITS diharapkan juga dapat menghasilkan inovasi-inovasi yang berguna bagi bangsa dan negara Indonesia. Tak hanya memperhatikan kualitas mahasiswa, Prof. Ashari pun fokus pada pengembangan kualitas tenaga dosen di ITS, terutama pengembangan serta penambahan guru besar ITS. Pada awal 2020, ITS kembali melahirkan enam guru besar baru antara lain Prof. Dr. Agus Zainal serta Prof. Dr. Fredi Kurniawan. Selain itu, dosen ITS yang naik jabatan fungsional non profesor juga telah bertambah sebanyak 80 dosen.

 

Pengembangan ITS lainnya, ia terpikirkan ekspansi bisnis untuk menambah pemasukan agar bisa digunakan untuk tambahan pengembangan sarana dan prasarana kampus. Bisnis digital merupakan salah satunya, dalam hal ini membuat aplikasi payment online, serta membuat online shop sebagai toko onlinenya ITS. Kemudian retail dan properti, jasa konsultan, hingga jasa paten hak cipta dan lisensi industri.

 

Sutarto Hadi - Rektor Universitas Lambung Mangkurat

Naskah: Gia Putri Foto: Sutanto

 

Dipercaya menjadi Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) selama dua periode, Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc. mampu menjalankan amanahnya dengan baik, ia berhasil menyulap kampus kebanggaan urang Banua ini menjadi universitas terkemuka dan bercitarasa internasional.

 

Tilik saja pencapaian besar yang ditorehkan ULM pada 19 Maret lalu, perguruan tinggi di Kalimantan Selatan ini mendapat akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Dari 4.500 perguruan tinggi seluruh Indonesia, hanya ada 94 universitas yang institusinya meraih akreditasi A. “Target saya, di periode kedua ini ULM mendapat akreditasi internasional, seperti dari AUN-QA (Asean University Network- Quality Assurance),” ungkap Sutarto belum lama ini. Di bawah komandonya sejumlah prestasi pun dipatri civitas akademika, di antaranya 15 hak paten inovasi dan penemuan sepanjang 2019.

 

“Peraih paten mendapat penghargaan sekaligus uang Rp15 juta per paten. Saya sangat senang karena dari target 5 paten sesuai kontrak saya dengan Pak Menteri, Alhamdulillah berhasil tercipta 15 paten,” ungkap Sutarto. Prestasi lainnya yang tak kalah membanggakan adalah dari mahasiswi ULM, Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ULM, Aida Fitriah.

 

Aida berhasil lulus sebagai delegasi Kalimantan Selatan untuk Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS) 2019. Terpilih menjadi satu-satunya delegasi di Provinsi Kalsel pada ajang dua tahunan ini tentu bukanlah hal yang mudah. Apalagi sampah laut khususnya sampah plastik memang telah menjadi permasalahan selama ini, yang mana Indonesia sendiri menjadi penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Aplikasi yang digagas Aida dengan sistem menjemput sampah ini membuat masyarakat lebih praktis membuang sampah tanpa harus repot-repot keluar rumah.

 

Tidak hanya itu, aplikasi ini juga menyajikan edukasi yang menambah pengetahuan masyarakat terkait sampah. Belum lagi sejumlah prestasi lainnya yang berhasil dipatri dari hasil dibina dan dididik di kampus yang berdiri sejak 21 September 1958, sebut saja mahasiswa kedokteran yang langganan meraih juara di tingkat ASEAN.

 

Untuk menciptakan SDM unggul, sambung Sutarto, ULM menggagas kerja sama dengan kampus lainnya, seperti dengan University of Colorado, Denver, Amerika Serikat, Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan MIT dalam riset di bidang teknologi transportasi, dan beberapa perguruan tinggi dalam negeri menerima hibah untuk mendirikan sebuah pusat penelitian kolaboratif (Center for Collaborative Research/CCR), dari program kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dan US Agency for International Development (USAID), yakni The Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA). “Selain itu, kami juga bekerja sama dengan Utsunomiya University (Jepang), Newcastle University (Australia), Universiti Kebangsaan Malaysia, dan Philippine Women’s University,” tambahnya.

 

Di bawah kepemimpinan Sutarto, ULM juga memiliki terobosan inovatif dengan membuat aplikasi Siperkasa atau singkatan dari Sistem Informasi Permohonan Kerja Sama. Menurutnya, ULM sebagai lembaga pendidikan tinggi terkemuka dengan akreditas A, tentu saja banyak menarik para mitra untuk bekerja sama dalam berbagai bidang. “Aplikasi ini dapat mempermudah calon mitra yang ingin menjalin kerja sama dengan kami,” tuturnya.

Kampus Ramah Difabel

 

ULM terus berkomitmen memperhatikan hak mahasiswa difabel guna memastikan perguruan tinggi negeri terbesar di Kalimantan itu ramah terhadap civitas akademika berkebutuhan khusus.

 

Segala fasilitas penunjang untuk mahasiswa difabel juga dilengkapi dan diusahakan up to date. Melalui Unit Layanan Difabel (ULD) yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Kalimantan yang memilikinya, mahasiswa berkebutuhan khusus akan merasa nyaman belajar di ULM. Pada tahun 2019-2020, ULM menerima sebanyak delapan orang mahasiswa difabel, di antaranya terdiri dari tuna netra dan tuli.

 

Songsong Indonesia Emas

 

Dalam menyongsong Indonesia Emas pada 2045, perguruan tinggi menjadi salah satu tumpuan. Ini menjadi sebuah tantangan, di mana lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya kompeten secara akademik, tapi juga memiliki karakter unggul serta kreatif dan inovatif. Menjawab tantangan tersebut, Sutarto pun menjuruskan berbagai program peningkatan mutu pendidikan. Dari peningkatan kualitas tenaga pendidik hingga mendorong lulusan berdaya saing. 

 

Sejalan dengan program tersebut, pihaknya akan mendorong dosen ULM untuk menulis jurnal internasional. Semakin banyak jurnal internasional yang diterbitkan, sambung Sutarto, otomatis kualitas tenaga pendidik ULM tak perlu diragukan lagi. Salah satu yang membanggakan adalah dosen muda ULM Amalia Rezeki pada 2019 lalu menerima penghargaan Internasional dibidang lingkungan ASEAN Youth Eco Champions (AYECA) Award, di Sokhalay Angkor Phokeethra Golf & Spa Resort, Vithei Charles De Gaulle, Khum Svay Dang Kum, Siem Reap, Cambodia.

 

“Prestasi ini menjadi bukti bahwa ULM telah menjadi universitas yang terkemuka dan berdaya saing. Saya berharap capaian ini menjadi motivasi bagi dosen lainnya. Demikian pula mahasiswa dan generasi muda dapat menarik pelajaran. Jangan lelah untuk berjuang untuk masa depan lingkungan dan kehidupan yang lebih baik,” ungkap Sutarto. Ia juga menyinggung aktivitas Amel goes global, dalam kurun waktu beberapa bulan ini sudah beberapa kali berbicara di forum Internasional, seperti di Australia, Finlandia, Estonia dan Cambodia. Ini semua sangat membanggakan bagi almamater Untuk meningkatkan kualitas dosen di bidang penelitian, khususnya dalam lingkungan lahan basah, Sutarto menganggarkan sekitar Rp20 miliar untuk membantu mendukung kegiatan penelitian, termasuk mendorong jumlah dosen yang bergelar doktor dan profesor.

 

“Kami bertekad bahwa ULM ini satu prodi minimal satu guru besar terus kami gaungkan karena diyakini semakin banyak guru besar akan semakin meningkatkan kinerja lembaga,” tegas pria ramah ini. Menutup pembicaraan, Sutarto mengungkapkan obsesinya adalah menjadikan ULM harus menjadi pusat unggulan IPTEK dalam bidang lahan basah di Asia Pasifik 2023-2027.

 

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

             

Popular

   

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250