The Batik Atelier, Premium Handpainted Batik

Oleh: Syulianita (Editor) - 27 May 2020 | telah dibaca 282 kali

Naskah: Gia Putri, Foto: Batik Atelier 

 

The Batik Atelier menawarkan premium handpainted batik. Sehingga, meski baru dirilis pada 2018 silam, clothing brand ini banyak diminati oleh kaum adam, tak terkecuali para pesohor negeri.

 

Belum lama silam, Men’s Obsession berkesempatan berbincang dengan Founder The Batik Atelier Disandhika Ariestyo dan CEO The Batik Atelier Wira Dharma. Kami membahas beragam hal menarik seperti rencana besar The Batik Atelier untuk mendunia.

 

Membuka pembicaraan Disandhika menuturkan, ihwal dirilisnya The Batik Atelier adalah ingin melestarikan wastra nusantara dengan mengenalkan batik tulis berkualitas terutama kepada generasi muda dan juga meningkatkan taraf hidup para pengrajin di daerah. “Kami ingin orang-orang di daerah terus membatik supaya culture kita tidak hilang,” tukasnya. Memang, kata Disandhika, brand-brand batik berkelas sudah menjamur, tetapi pihaknya percaya bahwa The Batik Atelier mampu berkibar. “Banyak orang yang kerkecimpung di bisnis batik. Namun, busana yang kami produksi itu kelebihannya adalah bukan batik cetak. Menurut kami batik itu adalah seni handmade,” tegasnya.

 

Keunggulan lain dari The Batik Atelier, sambung Wira, adalah style atau corak batik yang dipilih berasal dari daerah Pekalongan dan Cirebon. “Benar-benar kami sortir, segala jenis motif atau corak batik itu desainnya kami buat modern, eye catching, unik, dan tak kalah penting kami ingin membawa brand kami sebagai daily use. Sehingga, kami memiliki customer repeat yang banyak terutama milenial,” imbuh Wira.

 

The Batik Atelier juga bisa made by request. “Contohnya, kami pernah membuat pesanan untuk petinggi dari organisasi kemasyarakatan, beberapa artis Indonesia, hingga sejumlah tokoh Tanah Air. Kami bersyukur, mereka pakai dan cocok,” ungkap Wira. Saat ini, produk The Batik Atelier masih berfokus kepada busana pria, tetapi ke depan akan merambah aksesoris hingga busana wanita. “Segmen wanita itu kan luas sekali. Kami sudah mulai mencari desainer-desainer yang bagus dan taste- nya sesuai dengan kelas kami, yakni premium,” papar Wira.

 

Lebih lanjut Disandhika mengatakan, imbas pandemi Covid-19 turut dirasakan oleh The Batik Atelier, tetapi pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi, seperti merilis produk masker bertema batik. “Kami juga menawarkan setiap pembelian produk kami, sebanyak 30 persen akan kami sumbangkan untuk membantu penanganan Covid-19,” terang Disandhika. Di tengah kondisi saat ini, selain customer bisa membeli produk The Batik Atelier melalui daring. Customer juga bisa menikmati layanan home service.

 

“Jadi, kami mendatangkan staf ke tempat tujuan untuk mengukur dan membawa bahan kepada customer. Kami melakukan protokol pencegahan Corona, antara lain wajib menggunakan masker dan membawa hand sanitizer,” imbuh Wira. Menutup pembicaraan, Disandhika menuturkan, pihaknya menargetkan dalam jangka waktu 5 tahun ke depan The Batik Atelier akan merambah ke kancah global.

 

“Setahun belakang sudah banyak yang order dari Singapura dan Malaysia. Tahun ini kami baru membuka outlet pertama di PIK, kami tidak berencana membuka banyak cabang, tapi ke depan kami akan memperluas layanan home service The Batik Atelier,” pungkasnya.