Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. (Rektor Universitas Gadjah Mada)

Oleh: Syulianita (Editor) - 17 June 2020 | telah dibaca 457 kali

Melestarikan Nilai-Nilai dan Jati Diri UGM

Naskah: Suci Yulianita Foto: Dok. Pribadi

 

Dedikasi, loyalitas, serta pengabdian Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. pada kampus almameternya tercinta, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sejak kali pertama berkarier, membuat kariernya terus meningkat. Perlahan- lahan, namun pasti, Prof. Panut menapaki karier dari seorang asisten dosen, kemudian jabatan demi jabatan yang diamanahkan mampu diembannya dengan sangat baik. Hingga pada 2017 lalu, ia mendapat amanah untuk menjabat pimpinan tertinggi pada sebuah lembaga Perguruan Tinggi, Rektor UGM untuk periode 2017 – 2022.

 

Merupakan sebuah perjalanan panjang bagi Prof. Panut hingga bisa menduduki posisi Rektor UGM pada tahun 2017 lalu. Kariernya dimulai saat ia pertama kali lulus kuliah jurusan Teknik Kimia UGM pada tahun 1986. Karena aktif menjadi asisten dosen sejak masih menjadi mahasiswa, maka tak sulit bagi Prof. Panut mencari pekerjaan kala itu. Justru dari pihak UGM lah yang meminangnya untuk bergabung menjadi tenaga pengajar kala itu.

Karena kecintaannya yang besar pada kampus almameternya itulah, ia mengiyakan tawaran tersebut. Difasilitasi untuk melanjutkan jenjang pendidikan hingga S3 di Tokyo, membuat Prof. Panut semakin semangat bekerja dan mengabdi pada UGM. Sekitar enam tahun melanjutkan pendidikan di Tokyo Institute of Technology, ia kembali ke UGM. Dari situ, kariernya pun terus meningkat, dari asisten dosen, menjadi dosen, aktif juga di kepengurusan, menjadi wakil dekan, kemudian meningkat menjadi dekan hingga pada 2017 lalu ia terpilih menjadi Rektor UGM untuk periode 2017 – 2022.

Sosok sederhana yang memiliki filosofi hidup ‘ikhlas bekerja untuk memberi manfaat’ ini tak neko-neko dalam memimpin. Saat diberi amanah menjabat rektor, ia merancang arah kebijakan yang juga sederhana, namun penuh makna. Yang terpenting baginya adalah menjaga kelestarian dan pengembangan nilai-nilai dan jati diri UGM, fokus mengabdi dan melayani, sehingga UGM semakin efektif memproduksi ilmu pengetahuan dan teknologi yang cocok untuk kemajuan bangsa Indonesia dan untuk kepentingan kemanusiaan secara umum.

“Kemudian, kita juga ingin mengangkat posisi UGM di kancah internasional karena ketika UGM atau universitas lain dikenal dan mempunyai reputasi tinggi di tingkat internasional, bangsa kita juga akan dikenal, karya-karyanya bisa dibaca dan disumbangkan ke dunia internasional. Namun, harus fokus juga pada kearifan lokal untuk ikut menyelesaikan persoalan-persoalan global,” ungkap Prof. Panut kepada Men’s Obsession saat dihubungi via daring beberapa waktu lalu.

Ia pun berharap bisa membawa reputasi UGM di kancah internasional serta memperbesar kontribusi UGM untuk kemajuan bangsa Indonesia dan masyarakat dunia. Selain itu, Prof. Panut juga memiliki impian besar, ia ingin Indonesia kelak bisa menjadi Negara Adidaya Teknologi, sehingga ketergantungan terhadap luar negeri bisa dikurangi.

 

Energi Positif di Tengah Pandemi

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak awal Maret 2020 ini membuat hampir semua bidang harus bergerak mengubah sistem. Tak terkecuali pada bidang pendidikan. Imbauan untuk belajar dari rumah, tak lagi ada tatap muka antar guru dengan murid, antar dosen dengan para mahasiswa. Pembelajaran secara daring pun dilakukan oleh hampir seluruh tingkat pendidikan di negeri ini, termasuk tingkat Perguruan Tinggi.

Dan, UGM salah satu yang terus berinovasi dalam menghadirkan kuliah daring agar optimal, meski sebetulnya UGM telah mempersiapkan inovasi kuliah online jauh sebelum ada pandemi.

Ya, UGM telah mengembangkan sistem kuliah daring, antara lain eLisa (eLearning System for Academic Community) dan eLOK (eLearning for Open Knowledge Sharing). Para dosen juga bisa menggunakan aplikasi lainnya dalam pelaksanaan kuliah daring, misalnya Google Classroom.

UGM telah melengkapi fasilitas yang mumpuni dalam rangka mendukung kegiatan perkuliahan daring, antara lain UGM memiliki Kanal Pengetahuan dan Informasi Menara Ilmu dan TV berbasis internet. Saat ini tersedia tidak kurang dari 268 materi tutorial di kanal menara ilmu, 275 video dokumenter, 144 mata kuliah Massive Open Online Course (MOOCs), dan kuliah daring untuk semua mahasiswa UGM (1000 peserta/semester) tentang transformasi digital yang berisi analisis big data, internet of thing, artificial intelligence, dan bahasa python.

Apapun kondisinya, pendidikan di Indonesia memang harus tetap jalan. Untuk itu, UGM pun tengah mempersiapkan pembelajaran mahasiswa baru yang akan berlangsung pada semester tahun ajaran baru. Sebagaimana Perguruan Tinggi Negeri yang sudah dikenal, peminatnya masih sangat tinggi.

“Dan prodi yang sekarang banyak peminatnya, antara lain Aktuaria, itu prodi baru. Kemudian, Farmasi, Kedokteran sudah pasti, kemudian Fakultas Teknik dan lainnya. Sedangkan, kalau dari Ilmu Sosial ada Hubungan Internasional, itu paling diminati, kemudian Komunikasi, Hukum, Akuntansi, dan Pariwisata, itu peminatnya sangat banyak,” terang Prof. Panut.

Sementara, jika bicara dukungan energi positif di tengah pandemi ini tentu Lembaga Perguruan Tinggi memiliki sumbangsih yang sangat besar pada bangsa dan masyarakat Indonesia. Banyak hal yang telah dilakukan UGM dalam membantu melawan Covid-19, antara lain UGM telah membentuk Satgas Covid-19 untuk penanganan pandemi Covid-19 ini dan bekerja sama dengan Gugus Tugas Covid-19 DIY.

Di samping itu, UGM juga telah melakukan inovasi teknologi dalam menangani pandemi Covid-19 ini, antara lain prototype ventilator, bilik swab, face shield, portable sink, air purification device, rapid test made in Indonesia (kerja sama BPPT, UGM, Unair, dan PT Hepatika Mataram), virus transport media (VTM) untuk polymerase chain reaction (PCR), modeling, riset-riset dampak sosial ekonomi Covid-19, dan lainnya.