Bambang Brodjonegoro (Menristek/Ka. BRIN)

Oleh: Syulianita (Editor) - 30 August 2020 | telah dibaca 71 kali

Bangkitkan Semangat dan Kemandirian

Naskah: Hasan P. Foto: Edwin B./Dok. Kemenristek

 

Sejak pandemi COVID-19 merebak di Tanah Air pada bulan Maret 2020, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Ka. BRIN) Bambang P. S. Brodjonegoro membentuk Konsorsium Riset dan Inovasi untuk percepatan penanganan COVID-19 yang berperan mengintegrasikan hasil riset dan inovasi untuk penanganan COVID-19.

 

Program Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19, antara lain inovasi di bidang screening dan diagnostik, yaitu Rapid Test PCR dan Non-PCR, terapi dan obat-obatan, alat kesehatan dan pendukung, suplemen, serta riset dan inovasi sosial humaniora.

Produk Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 ini adalah hasil karya anak bangsa yang nantinya diharapkan bisa mengganti ketergantungan impor untuk kebutuhan kita akan Rapid Diagnostic Test, yang berupa PCR maupun Non- PCR Test Kit.

Menteri Bambang mengatakan, situasi pandemi COVID-19 juga meningkatkan kebutuhan akan alat kesehatan. Sehingga, riset pengembangan alat kesehatan juga menjadi sangat penting. Untuk alat kesehatan, saat ini sudah ada lima ventilator yang telah mendapatkan izin edar dan diharapkan bisa memenuhi kebutuhan untuk pasien COVID-19.

Di sisi lain, Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 juga tengah mengembangkan produk terapi dan obat-obatan, antara lain plasma konvalesen, yaitu terapi dengan menggunakan serum plasma darah pasien penyintas COVID-19. Selain itu, dilakukan pengembangan imunomodulator, yaitu suplemen yang dapat meningkatkan dan memperkuat sistem daya tahan tubuh.

Bambang mengungkapkan bahwa imunomodulator yang dikerjakan oleh para peneliti dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) saat ini telah selesai tahap uji klinis yang dilakukan sejak 8 Juni hingga 15 Agustus kemarin di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet dan saat ini tengah dilakukan prosedur selanjutnya dari BPOM sebagai regulator yang nantinya akan mengeluarkan izin edar suplemen tersebut. Uji klinis dilakukan terhadap 90 subjek penelitian dengan rentang usia 18-50 tahun yang diberikan intervensi selama 14 hari.

Terdapat dua produk yang diuji klinis sebagai kandidat imunomodulator, yakni Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ekstrak herbal ini terdiri dari rimpang jahe merah (Zingiber officinale var Rubrum), daun meniran (Phyllanthus niruri), sambiloto (Andrographis paniculata), dan daun sembung (Blumea balsamifera).

“Para ilmuwan kita baik peneliti dan perekayasa, maupun para ahli dan dosen, berupaya untuk mencari yang terbaik untuk menangani COVID-19, baik dari segi ketersediaan alat-alat kesehatan, skrining, dan diagnostik juga terapi pengobatan hingga pengembangan vaksin. Meskipun harus juga kita pertimbangkan faktor risiko, artinya berhasil atau tidaknya pengembangan produk riset dan inovasi. Namun, kita berupaya untuk melakukan kontribusi untuk mencegah penyebaran COVID-19," ungkap Menteri Bambang.

Vaksin Merah Putih

Vaksin Merah Putih sebagai salah satu upaya Kemenristek/BRIN untuk penyediaan vaksin COVID-19 bagi seluruh rakyat Indonesia. Proses pengembangan Vaksin Merah Putih saat ini dilakukan oleh Lembaga Bio Molekuler (LBM) Eijkman yang akan memasuki tahap uji coba terhadap hewan mamalia. Bambang mengatakan, proses uji coba terhadap hewan dilakukan sebelum tahapan uji klinik pada manusia. Proses uji coba terhadap hewan memakan waktu sekitar satu bulan.

Pengembangan vaksin COVID-19 yang dinamakan dengan Vaksin Merah Putih ini menggunakan metode sub- unit protein rekombinan, yaitu dengan melakukan proses kloning protein pada bagian virus.

Bambang berharap proses kloning ini berlangsung lancar, sehingga dapat dilakukan tahap uji coba dengan segera. Jika proses uji coba vaksin pada hewan berjalan lancar, LBM Eijkman akan menyerahkan kepada perusahaan medis PT. Bio Farma berupa seed-vaccine
yang selanjutnya dikembangkan untuk dilakukan uji klinik Tahap 1 sampai dengan 3 kepada manusia.

“Uji klinis ini diharapkan akan selesai sekitar pertengahan 2021, kemudian setelah keluar persetujuan izin edar selanjutnya kita baru bisa memproduksi Vaksin Merah Putih dalam skala massal dan siap diberikan kepada warga negara Indonesia yang memang harus mendapatkan vaksin tersebut,” ujarnya.

Lebih lanjut Menteri Bambang menjelaskan, dalam pengembangan vaksin COVID-19 ini kita menggunakan double-track, yaitu melalui kerja sama dengan luar negeri dan pengembangan Vaksin Merah Putih yang merupakan vaksin hasil karya anak bangsa dengan memerhatikan prinsip kecepatan, keamanan, dan kemandirian.

“Kita ingin segera keluar dari dampak negatif ekonomi akibat COVID-19 yang begitu berat pada masyarakat, tentunya kita harus mengupayakan untuk mendapatkan akses tadi. Nah, akses itulah didapat dengan kerja sama internasional dan juga kementerian- kementerian, seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian BUMN. Namun cepat saja tidak cukup, harus efektif dan tentunya karena negara kita adalah negara besar harus ada upaya kemandirian, artinya vaksin tidak hanya dapat diproduksi, tapi juga dapat kita kembangkan sendiri,” tukas Bambang.

Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro adalah Menristek/Kepala BRIN pada Kabinet Indonesia Maju. Sejak dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 23 Oktober 2019, Bambang menggagas program Prioritas Riset Nasional (PRN) yang dapat membantu dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi melalui inovasi PRN, dilakukan dengan substitusi impor. Barang impor dapat diganti dengan hasil riset dalam negeri.

Ada empat produk yang diyakini bisa menjadi substitusi impor. Pertama, mencari substitusi impor dari ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dalam bentuk bahan bakar nabati yang merupakan hasil riset yang berfokus pada katalis yang bisa mengubah minyak inti sawit baik dalam bentuk bensin, solar, maupun juga avtur.

Kedua, konsep industri garam terintegrasi. Melalui konsep ini, Bambang ingin mengurangi ketergantungan impor garam industri baik untuk industri makanan, industri obat, maupun industri kosmetik dan teknologi.

Ketiga, untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap alat utama sistem persenjataan (Alutsista) khususnya drone untuk keperluan militer, maka saat ini Kemenristek/BRIN di bawah kepemimpinan Bambang sudah mulai mengembangkan Drone Kombatan pertama di Indonesia dengan nama Elang Hitam.

Drone ini dirancang dapat berfungsi sebagai pesawat PUNA MALE ISTAR, yakni dapat digunakan untuk misi intel atau spionase, pengawasan, mengakuisisi target, serta mengenali targetnya. Dengan kelengkapan fungsi tersebut tentu Drone Elang Hitam dapat menjadi wahana penting Indonesia, dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik di wilayah darat maupun laut, melalui pantauan udara.

Lalu, yang keempat, untuk mendukung program Tol Laut, Kemenristek/BRIN mengembangkan pesawat angkut berjenis Amphibi N219A dengan teknologi composite (smart, light, and green technology). Pesawat N219A memiliki komponen desain bentuk float yang optimum untuk perairan di Indonesia.

Pesawat ini difungsikan untuk berbagai keperluan, seperti: pesawat penumpang, kargo, charter industri lepas pantai, SAR dan bencana, hingga pelayanan kesehatan (ambulans udara).

“Nah, inilah kita melihat dalam pelaksanaan program ini yang menarik adalah bahwa pendekatan teknologi, pendekatan riset itu juga harus inklusif, artinya harus memberikan kesejahteraan kepada masyarakat banyak terutama yang menjadi pelaku dari industri itu sendiri,” pungkas Bambang.