Oleh: - | telah dibaca kali

Naskah: Gia Putri Foto: Sutanto/Dok. Pribadi/Istimewa

Cerdas dan visioner, begitu kesan pertama mengenal Maman Abdurrahman, politisi muda yang dipercaya rakyat duduk sebagai Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI. “Saya memegang teguh filosofi hidrokarbon,” ujarnya saat disambangi Men’s Obsession di ruang kerjanya, belum lama ini.

Usianya baru menginjak 40 tahun. Namun, kiprah Maman Abdurrahman di panggung politik nasional tak bisa dipandang sebelah mata. Politisi muda Partai Golkar ini dipercaya menjadi wakil rakyat bahkan telah menduduki sejumlah jabatan strategis di partai yang dinakhodai Airlangga Hartarto tersebut. Menariknya lagi, kehadiran Maman di kancah politik mampu mendobrak stigma Partai Golkar sebagai partai yang antriannya panjang dan tidak ramah kepada anak muda.

Lebih lanjut Maman mengungkapkan, tak pernah menyangka akan menduduki jabatan sebagai wakil rakyat. “Saya tidak ada darah politik. Saya berasal dari keluarga biasa saja. Saya lahir dan besar di Pontianak, dengan ibu asal Sanggau, dan bapak asal Tarakan. Bagi saya ini sebuah pencapaian dalam karier hidup saya,” ujarnya.

Ia mengisahkan, selepas lulus SMA, pria yang pernah punya keinginan menjadi polisi ini berangkat ke Jakarta untuk menimba ilmu. “Saya kuliah di Universitas Tarumaneraga. Di situlah saya mengenal dunia gerakan. Saya bergabung dengan Forum Kota (Forkot), yang kemudian pecah menjadi Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred),” papar ayah dua anak ini.

Dua tahun berkuliah di sana karena kesibukannya sebagai aktivis pada tahun 1998 yang situasinya menuntut mahasiswa mengkritisi rezim Orde Baru, Maman tidak menyelesaikan kuliahnya. Ia pun mencoba menata kembali hidupnya dengan pindah ke Universitas Trisakti, Jurusan Teknik Perminyakan. “Di jurusan ini, sedikit orang tertarik. Tapi, saya merasa passion saya di sini. Namun, keinginan untuk aktif di organisasi tidak hilang. Saya banyak bergulat di BEM intrakampus. Pada waktu itu tekanan kepentingan politik sangat besar karena pasca tragedi penembakan mahasiswa Trisakti pada 12 Mei 1998 yang memakan korban empat orang, kami para mahasiswa menuntut untuk mengungkap siapa dalang di belakangnya,” kenang Maman.

Hal tersebut membuat warna tersendiri di hidup Maman untuk melihat konstalasi politik karena hampir setiap orang memiliki kepentingan terhadap Trisakti, baik dari tingkat eksekutif, legislatif, yudikatif, bahkan para Non Governmnet Organization (NGO). “Begitu besarnya kepentingan, membuat saya cukup banyak berinteraksi dengan elit-elit politik. Akhirnya, mengantar saya menjadi Presiden Mahasiswa Trisakti,” papar pria energik tersebut.

Selesai menamatkan kuliah, Maman memilih meniti karier profesional di bidang teknik perminyakan. Sekitar 8-9 tahun ia bertualang ke berbagai perusahaan hingga menjabat posisi manager. Seiring berjalannya waktu, muncul panggilan nurani untuk kembali ke pentas politik.

“Ditambah banyak dorongan dari teman-teman, khususnya dari kampung saya. Mereka bilang, kita orang Kalbar di panggung politik nasional jumlahnya sedikit. Setelah saya pikir-pikir benar juga, mumpung saya punya kesempatan dan akses. Saya bisa terjun, memikirkan daerah saya dan membawa aspirasi yang lebih luas,” tutur Maman.

Pada 2009, ia memutuskan untuk berlabuh ke Partai Golkar. “Waktu itu Pak SBY baru terpilih sebagai presiden, image orang terhadap Partai Golkar identik dengan partai tua, antriannya panjang, tidak ramah dengan anak muda, dan tidak ramah kepada orang- orang yang tidak memiliki trah politik. Banyak yang bilang, kamu jangan di Golkar deh, susah. Tapi saya jawab, bos yang namanya emas, mau diletakkan di kubangan kotoran sekalipun dia akan tetap menjadi emas”, bebernya.

Maman pun mencoba mengarungi badai besar di Partai Golkar. Meski tak sedikit yang kecewa akan keputusannya, tapi ia tetap pada pendiriannya karena bagi pria berpostur tinggi ini partai berlambang pohon beringin tersebut bisa memberikan ruang demokratisasi dan kesempatan kepada siapapun.

“Pada setiap periodesasi, Ketua Umum Golkar berganti-ganti, artinya partai ini dinamis. Kalau soal antrian panjang tergantung kapasitas kadernya,” tegas Maman.