Jully Bunnara, Belajar Mengambil Hikmah ‘Pandemi’

Oleh: Syulianita (Editor) - 17 February 2021 | telah dibaca 41 kali

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Pribadi

Pandemi Covid-19 yang melanda negeri tercinta sejak tahun lalu, telah meluluhlantakkan banyak sektor usaha. Banyak pengusaha yang berteriak karena terkena dampaknya, apapun bidang usahanya, termasuk Jully Bunnara yang menggeluti usaha di bidang Food & Beverage dan fashion. 

Namun Jully tak menyerah! Meski sempat ‘kaget’, Jully tetap menjalaninya dengan penuh semangat. Pandemi justru ia jadikan pembelajaran, dimana ia memanfaatkan waktu dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan begitu, Jully bisa tersenyum dan selalu berpikir positif menghadapi pandemi meskipun terasa cukup berat baginya.

Kepada Men's Obsession Jully bercerita, awalnya ia sempat shock dan kaget saat terjadi pandemi pada tahun lalu, ia bahkan sempat merasa khawatir dengan kelanjutan bisnisnya. Apalagi bisnisnya di bidang F&B yang kita tahu sangat berdampak selama pandemi ini.

Namun Jully bersyukur ketika pada bulan keempat, restonya yang terletak di Kota Kembang, Bandung bisa kembali beroperasi, meski dengan kebijakan-kebijakan baru di kehidupan new normal. Satu hal juga yang membuat Jully merasa bersyukur adalah konsep cafenya, Nara Park yang open space, sehingga menjadi lokasi yang sangat tepat di masa pandemi seperti ini. Maka ketika buka kembali, Nara Park didatangi pengunjung.

Banyak hal menarik yang ia rasakan selama pandemi. Bagi Jully, pandemi justru dijadikan momentum untuk introspeksi diri. Ketika dituntut harus di rumah saja selama berbulan-bulan, Jully menghadapinya dengan tenang. Justru ia melaluinya dengan melakukan banyak hal, mempelajari hal baru, mengikuti pelatihan-pelatihan, seperti pelatihan marketing, management, Bahasa, hingga mempelajari olah vokal.

“Kebetulan karena covid kemarin itu saya banyak di rumah. Jadi saya gunakan waktu untuk mengikuti banyak pelatihan-pelatihan via zoom, termasuk olah vokal karena saya memang hobi menyanyi saya pikir harus ada goal-nya juga. Akhirnya saya masuk dapur rekaman, lagi rohani. Dengan lagu ini saya berharap bisa lebih menguatkan batin dan jiwa banyak orang di luar sana. Apalagi banyak yang merasa stres dan depresi di masa pandemi ini, jadi setidaknya dengan lagu ini saya juga bisa menenangkan mereka,” ujar Jully.

Ya, satu hal lagi dari hikmah pandemi adalah Jully menjadi sosok yang lebih relijius. Ketika awal-awal terjadi pandemi ia sempat merasa stres dan bertanya-tanya mengapa ini semua bisa terjadi. Namun Jully mencoba lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, ia banyak berdoa. “Ketika kita mendekatkan diri, punya waktu dengan Tuhan saya jadi selalu melihat sisi positif. Cara pandang kita pun otomatis akan berbeda, selalu berpikir positif tak ada lagi pikiran-pikiran negatif,” ucapnya.

Dari situlah ia merasa menemukan ketenangan batin, dari situ Jully belajar menghadapinya dengan selalu berpikir positif. Ia mendapatkan jawabannya bahwa Tuhan memberi ujian seperti ini agar kita sebagai manusia tersadar bahwa selama ini banyak hal-hal yang tidak kita syukuri dalam hidup, betapa banyak hal-hal berharga dalam hidup yang tidak pernah kita sadari. “Jadi kita bisa lebih bersyukur, dengan keadaan begini kita jadi tersadar, dulu mendapatkan segalanya tapi kita selalu lupa,” katanya lirih.

Termasuk soal kesehatan, Jully mengaku selama ini ia termasuk wanita pekerja keras yang hanya memikirkan kerja, kerja, dan bisnis tanpa memikirkan kesehatan dirinya. Kini ia tersadar bahwa kesehatan merupakan faktor penting dalam hidup. Selama di rumah saja, Jully jadi memiliki waktu untuk berolahraga. “Ini juga menjadi satu pelajaran buat kita semua, sadar akan kebersihan, sadar akan kesehatan dan berolahraga. Karena badan sehat itu penting, kalau kita sehat kita bisa memberikan manfaat untuk orang lain,” ungkapnya.

Tak hanya itu, Jully mengaku selama pandemi ketika dihadapkan pada situasi dilarang berkumpul dengan teman dan keluarga besar, Jully jadi merasakan betul bahwa relationship antar manusia ternyata sangat berharga. Ia pun merasakan betul saat Hari Raya Imlek pada bulan Februari 2021 ini, Jully harus menerima keadaan yang berbeda dari Imlek sebelumnya yang bisa berkumpul dengan seluruh keluarga besar. Sebaliknya Imlek tahun ini sangat berbeda, silaturahmi dengan keluarga besar hanya bisa dilakukan melalui daring.

Namun pandemi justru mempererat hubungannya dengan keluarga kecil di rumah, yang awalnya masing- masing sibuk dan jarang bertemu. Pandemi menyatukan mereka bisa berkumpul kembali di rumah.

“Jadi saya melihatnya dengan positif. Banyak pelajaran berharga yang didapatkan, lebih mendekatkan diri pada yang di atas, punya waktu membenahi diri, hubungan dengan keluarga juga tambah dekat, kita bisa sharing di rumah. Menurut saya, ini lebih baik jika kita bisa mengambil hikmah. Kita harus bisa menerima dengan ikhlas, tidak berkeluh kesah. Pandemi adalah saat kita berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Polusi udara juga berkurang, udara tambah segar yah. Jadi memang sepertinya sudah waktunya Tuhan memberi ujian seperti ini,” Jully berkata bijak.

Semangat Baru Menghadapi 2021

Bisnisnya yang bergerak di bidang kuliner sudah kembali beroperasi, meski dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang harus dipatuhi di era new normal ini. Selama pandemi, Jully belajar banyak hal baru, termasuk mengenai tren-tren bisnis yang terjadi saat ini.

Menghadapi tantangan tersebut di tahun 2021, Jully sudah siap dengan spirit baru, semangat baru untuk sebuah perubahan baru. Dengan penuh semangat, Jully bersemangat mencoba peluang sekecil apapun.

“Dan di masa sekarang ini mau tidak mau, suka tidak suka harus melakukan perubahan, mengikuti perkembangan zaman dan strategi saat ini yang tepat adalah strategi digital. Majalah di era digital sudah berbentuk e-magazine, begitupun dengan bisnis lain di bidang F&B, misal untuk booking tempat melalui website, pesan menu dengan scan barcode, makanan dapat diorder melalui online. Itu semua strategi dan usaha di masa pandemi di era digitalisasi,” imbuhnya.