Oleh: -

Penggembala Kambing yang Harumkan Indonesia

Naskah: Gia Putri Foto: Istimewa

Eko lahir di Lampung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya, pengayuh becak. Sedangkan ibunya, penjual sayur. Dia bertekad mengangkat derajat orang tuanya. Caranya dengan menjadi atlet angkat besi yang bisa mewakili Merah Putih di berbagai kejuaraan internasional, termasuk Olimpiade.

Atlet angkat besi Indonesia, Eko Yuli Irawan, sukses mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Eko berhasil meraih medali perak setelah menempati peringkat kedua di kelas 61 kg dengan total angkatan 302 kg. Rincian dari total angkatan terbaik Eko adalah 141 kg snatch dan 165 kg clean & jerk. Meski medali emas masih luput, dia berhasil mengukir sejarah berkat keberhasilan mendapatkan perak di Olimpiade Tokyo 2020.

“Sebagai atlet, dapat mengikuti ajang olahraga multievent terbesar di dunia adalah salah satu pencapaian tertinggi yang tentu sangat membanggakan dan juga jadi impian,” ungkap Eko. Dia berharap doa dan dukungan dari masyarakat Tanah Air terus mengalir. Kerja keras, sambungnya, tanpa dibarengi doa dan dukungan masyarakat Indonesia, rasanya tak akan lengkap. “Karena dukungan dari masyarakat Indonesia sangat berarti bagi kami para atlet dan menjadi motivasi untuk memberikan yang terbaik bagi Indonesia,” tutur dia. 

Eko kini menjadi atlet Indonesia dengan koleksi medali Olimpiade terbanyak sepanjang sejarah. Secara keseluruhan, dia sudah mengoleksi empat medali Olimpiade sejak melakoni debut di ajang empat tahunan itu pada Olimpiade Beijing 2008.

Pada Olimpiade Beijing 2008, Eko sukses meraih medali perunggu di kelas 56 kg. Dia kembali meraih medali perunggu ketika turun di kelas 62 kg pada Olimpiade London 2012. Empat tahun berselang, dia yang kembali turun di kelas 62 kg sukses meraih medali perak Olimpiade Rio 2016.

Eko lahir di Lampung dan berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya bernama Saman, seorang pengayuh becak. Sedangkan ibunya, Wastiah, seorang penjual sayur. Pria kelahiran kota Metro, Lampung, 24 Juli 1989 ini dulunya hanyalah seorang penggembala kambing.

Takdir Eko menjadi atlet angkat besi berawal saat dia diajak kedua orang temannya diajak untuk mengunjungi sebuah tempat latihan olahraga tersebut. Namun karena tidak mengenakan sepatu, mereka belum diperbolehkan untuk mengikuti latihan di tempat tersebut. 

Tak menyerah, keesokan harinya kedua temannya itu kembali mengajak Eko dan memberi tahu bahwa latihan bisa dilakukan hanya dengan mengenakan sepatu sekolah. Eko yang saat itu tengah menggembala kambing pun terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya demi meraih mimpinya.

Mulai sejak saat itu, Eko Yuli Irawan benar-benar dilatih untuk menjadi seorang atlet angkat besi, di usianya yang masih sangat muda. Namun, pada awalnya Ibu Eko tidak menyetujuinya untuk berlatih angkat besi, karena dia harus meninggalkan kambing yang digembalanya demi berlatih.

Eko tidak menyerah, meski tidak setiap hari bisa berlatih di tempat latihan. Dengan segenap mimpinya, dia terus berlatih mengangkat beban dengan benda apa saja yang ada, sembari menggembala kambingkambingnya. Berkat kegigihannya, Eko akhirnya berhasil menyabet juara di olimpiade nasional.

Melihat ada potensi, akhirnya Eko Yuli memutuskan untuk merantau dan mempertajam lagi kemampuannya dalam dunia angkat besi. Di tengah perjuangannya, Eko terkadang sudah tidak mampu lagi meneruskan mimpinya. Namun, berkat kegigihannya, akhirnya hingga saat ini Eko telah banyak menorehkan medali untuk negara Indonesia.

Eko dan peluangnya di Olimpade Paris 2024

Usai meraih medali perak di Olimpiade Tokyo 2020, Eko tak lantas memikirkan rencana pensiun. Lifter senior Indonesia ini masih ingin berjuang untuk medali emas Olimpiade. Pertanyaan seputar keinginan pensiun sudah wajar mampir ke Eko. Tahun ini saja, Eko sudah berusia 32 tahun. Jika mengikuti Olimpiade Paris 2024, Eko menginjak usia 35 tahun, umur yang terbilang lanjut untuk seorang atlet.

“Jika dilihat umur memang sulit, tetapi jika ada kesempatan, kenapa tidak? Tapi, yang paling penting itu sekarang adalah bagaimana menyiapkan lifter-lifter muda penerus saya. Itu yang menjadi tantangan,” tegasnya. Eko merasa dirinya masih bisa tampil memberikan terbaik bagi prestasi Indonesia. Keberhasilan mendulang medali perak Olimpiade Tokyo tak ingin membuat Eko dia merasa puas dengan pencapaiannya.

Alhasil dia masih berhasrat untuk bisa meraih medali emas Olimpiade sebelum menutup kariernya sebagai lifter andalan Indonesia. Olimpiade Paris yang tinggal tiga tahun lagi kini dibidik oleh Eko Yuli untuk mendulang medali emas tersebut.

“Sekarang belum mau pensiun karena cita-cita medali emas belum tercapai,” aku Eko Yuli dikutip dari postingan instagram @ timindonesiaofficial. “Tapi, kita lihat perkembangannya untuk kebutuhan. Mungkin jika mempertahankan medali perak masih sanggup, tetapi merebut medali emas kita lihat dulu persiapannya seperti apa. Semoga masih bisa bersaing di Olimpiade Paris,” pungkasnya.

Prestasi Eko Yuli Irawan

? Peringkat 8 kejuaraan dunia tahun 2006 di Santo Domingo, Republik Dominika, kelas 56 Kg dengan total angkatan 266 Kg. ? Medali emas Sea Games di Thailand, 2007 ? Medali emas kejuaraan dunia yunior di Praha, Republik Ceko, 2007; sekaligus terpilih sebagai lifter terbaik pada ajang tersebut. ? Dua buah medali perunggu kejuaraan dunia 2007 di Chiang Mai, Thailand, di kelas 56 Kg. ? Medali emas PON XVII di Kaltim, 2008 ? Medali Perak, Goyang 2009, kelas 62 kg ? Medali perak kejuaraan Asia di Kanazawa, Jepang, di kelas 62 Kg. ? Medali Emas Universiade, China, 2011 ? Medali Perunggu, Paris 2011, kelas 62 kg ? Medali Perunggu Olimpiade London 2012 ? Medali Emas Sea Games, 2013 ? Medali Emas Dunia Angkat Besi di Almaty, Kazakhstan 2014 ? Medali Perak Olimpiade Rio, Brazil 2016 ? Medali Emas, Asian Games, Indonesia 2018 ? Medali Emas SEA Games 2019.