Jahja Setiaatmadja Tak Ada Super Hero

BCA, aku Alumni FEUI Jakarta ini, sudah sejak lama menyadari pentingnya payment system di Indonesia, baik dalam bentuk ATM, pembukaan cabang, internet banking, mobile banking, sehingga bisa membawa aliran darah itu kepada organ-organ untuk bekerja dan berjalan. “Nah itu yang saya katakan sangat penting, dan visi saya ke depan adalah bahwa kita sebagai Bank itu betul betul mendukung sebagai salah satu pilar perekonomian Indonesia,” tambahnya. Karena itu, dana yang diperoleh Bank dan diolah menjadi kredit adalah payment system yang akan mendukung lancarnya roda perekonomian Indonesia. Peluang dan Tantangan Teliti dan jeli dalam melihat setiap perkembangan ekonomi nasional adalah trateginya untuk meningkatkan peran perbankan khususnya BCA di Tanah Air. Menurutnya, manakala perekonomian nasional menunjukkan hal yang positif maka itu akan meningkatkan potensi korporasi sebagai pendukung dari segi pendanaan dan kebutuhan perkreditan. Saat ini Jahja melihat banyak kemajuan di sektor perekonomian nasional yang ditandai dengan meningkatnya GDP dan lahirnya kelompok middle class baru. Lahirnya kelas menengah ini tentu saja hal yang positif karena mereka punya suatu buying power yang besar. Baginya, ini adalah peluang bagi korporasi. “Mereka itu bisa punya kemampuan untuk membelanjakan dan meng-create suatu domestic demand yang besar. Nah momentum inilah yang sebenarnya bagus sekali untuk iklim investasi. Memang, ekspor penting tetapi domestic demand justru yang lebih penting, karena menciptakan tenaga kerja,” terangnya. Domestic demand yang besar akan melahirkan pemerataan penciptaan tenaga kerja. “Karena kalau tenaga kerja tercipta, ini akan rolling. Jadi semacam self propell istilahnya yah, berputar secara sendiri yah,” terangnya. Meski demikian ia juga melihat tantangan besar yang dihadapi saat ini. Seperti misalnya sikap pekerja yang melakukan tuntutan yang kadang lebih besar dari kemampuan perusahaan. Hal ini memungkinkan kalangan industri berpikir untuk memanfaatkan teknologi tinggi yang bisa mengurangi jumlah pekerja sebuah perusahaan. Tantangan lain ekonomi nasional, menurutnya sangat terkait dengan proses perijinan, konsinyasi antara satu instansi dengan instansi yang lain. Jangan sampai masalah perizinan ini memberati dunia usaha dan membuat mereka untuk lari dari Indonesia. Bagi Jahja, ini merupakan tantangan yang harus dihadapi bersama oleh seluruh stake holder di negeri ini. Dari keluarga Sederhana Lahir dan besar dari keluarga yang boleh dibilang tidak berkelebihan, membuat ia terpacu untuk mencapai prestasi. Dengan kesederhanaannya, sampai-sampai membuat ia tidak berani berobsesi berlebihan baik dalam karir maupun pribadinya. “Terus terang saya ini memang terlahir dari keluarga sederhana. Jadi memang obsesi saya itu tidak sampai yang menjadi luar biasa. Sebenarnya apa yang sudah dicapai sebagai presiden direktur dari satu Bank swasta terbesar, itu sudah melebihi dari ekspektasi saya sebelumnya. Jadi saya pikir saya sudah harus mensyukuri apa yang saya peroleh, tinggal bagaimana keluarga, anak anak dibesarkan, punya cucu. Artinya, saya nggak ada obsesi yang melebihi lagi menjadi seperti apa. Kita harus mensyukuri apa yang sudah kita peroleh,” tuturnya dengan mimik serius.Tapi kalau kemudian ada peluang untuk lebih dari sekarang? “aduh, nggak lah. Cukup sukacita dengan apa yang sudah saya capai,” ia tertawa lepas.
Jahjagrafi
Nama : Jahja Setiaatmadja.
Lahir: Jakarta, 14September 1955.
Pendidikan : Sarjana Ekonomi (S1
Universitas Indonesia. Jabatan : Presiden Direktur
PT Bank Central Asia. Pengalaman Kerja : Presiden
Direktur PT Bank Central Asia Tbk (17 Juni 2011-
sekarang), Wakil Presiden Direktur PT Bank Central
Asia, Direktur PT Bank Central Asia , Kadiv Treasury
PT Bank Central Asia, Wakadiv Keuangan PT Bank
Central Asia, Direktur Keuangan PT Indomobil, Corp.
Finance Director Kalbe Group, Senior Manager Kalbe
Farma, Manager Akunting Kalbe Farma, Asisten
Manager Akunting kalbe Farma, Staf Audit Price
Waterhouse.