Gatot M. Suwondo Mengantar BNI ke Puncak Prestasi

Oleh: content (Administrator) - 01 January 2013
Gatot mengakui, salah satu tantangan terberat ketika pertama bergabung dengan BNI Sebagai Wakil Dirut (2005), adalah bagaimana mengubah mindset dari kultur birokrat ke orientasi bisnis yang lebih melayani ketimbang minta dilayani. Ini sudah dimulai oleh Dirut sebelumnya, Sigit Pramono, dan dituntaskan oleh Gatot saat dipercaya menjabat CEO pada 6 Februari 2008. “Saya masuk sendirian sebagai Wadirut, dan saya tahu bahwa kultur di BNI begitu ketatnya, belum lagi serikat pekerjanya kuat juga. Saya sering dengar surat kaleng. Langkah pertama saya harus mencairkan suasana, agar karyawan lebih feel comfortable,” kenangnya. Gatot mengubah pendekatan dengan memilih mendatangi karyawan satu per satu, khususnya 34 karyawan di level pimpinan. Tujuannya sederhana, untuk berkenalan dari hati ke hati. Tentu perlu waktu untuk mencairkan suasana, saling membangun kepercayaan, sekaligus menggali ide-ide dari bawah. Bagi Gatot, salah satu key factor dalam membangun perusahaan adalah human resource, orang. “Saya menggarap ini lebih dulu karena itulah kuncinya. Anda mau pakai GCG, perangkat top, tapi orangnya memble, ya sama saja. Sebaliknya, tapi dengan alat yang terbatas, orangnya top, kita akan jalan terus. Saya percaya itu. Orang itu simpel, saya
disuruh kerja gini, what do I get? If I do that. Itu saja kuncinya, dari situlah kita berangkat,” tandasnya.
      Proses konsolidasi internal selama berbulan-bulan itu berjalan sukses. Namun tepat saat Gatot dipercaya mengemban amanat utama sebagai CEO pada 2008, situasi krisis ekonomi global menerpa dunia perbankan. Ia mengibaratkan, jalannya bukan lagi jalan tol melainkan medan off-road. Namun berkat sentuhan profesionalnya, dan tentu saja berbekal pengalaman matang di dunia perbankan dan keuangan Gatot mampu melibas semua tantangan berat. Kini, lihatlah wajah BNI sekarang. Bank pelat merah ini telah mencapai prestasi terbaiknya sepanjang sejarah di bawah kepemimpinan Gatot Suwondo. BNI kini termasuk satu dari sedikit bank di Tanah Air yang ada dalam daftar The Global 2000 versi FORBES 2012. Ukuran yang paling mudah adalah menelusuri deretan achievement berupa penghargaan bergengsi dari berbagai lembaga terkemuka, nasional dan internasional, setidaknya sepanjang 2012 (lihat boks). Boleh di kata, bertepatan dengan usia BNI yang ke-66, tahun 2012 menjadi tahun prestasi bagi BNI. Mulai dari layanan UMKM terbaik, inovasi service provider terbaik, efisiensi terbaik dalam intermediasi, pengelolaan perusahaan terbaik, jasa pengiriman uang terbaik, inovasi pemasaran terbaik, right issue terbaik, dan tujuh Penghargaan lainnya dari Asia Money. Prestasi teranyar, Gatot berhasil mengantar BNI meraih predikat sebagai perusahaan terbaik di Asia Tenggara dalam mengelola urusan ketenagakerjaan dan CSR. Predikat terbaik itu dikukuhkan oleh The ASEAN Business Advisory Council (ASEANBAC) melalui dua penghargaan yang mereka kemas dengan ASEAN Business Award (ABA) 2012, November tahun lalu. Seperti sudah disinggung di awal, hingga Kuartal III tahun lalu, pertumbuhan Laba BNI meningkat signifikan 24,5%, meskipun berada di tengah ketegangan yang meningkat akibat pemulihan ekonomi global yang berlarutlarut larut di Eropa, Amerika Serikat, dan kini mulai melanda beberapa negara di Asia. Pertumbuhan itu ditopang oleh pendapatan operasional yang tumbuh 12,1% berkat perbaikan kinerja yang terus dikembangkan, tidak hanya pada layanan perbankan konvensional, seperti kredit, melainkan juga perbaikan kualitas layanan ekstra, seperti cash management hingga trade finance. Peningkatan pendapatan operasional BNI bersumber dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/ NII) yang melonjak 19%, yakni dari Rp 9,4 triliun pada kuartal III 2011 menjadi Rp 11,2 triliun pada akhir pada kuartal III 2012. Tumbuhnya pendapatan bunga bersih itu merupakankonsekuensi dari pertumbuhan kredit yang secara ekspansif dilakukan BNI. Pertumbuhan pendapatan bunga dan juga non-bunga terjadi karena nasabah merasa
nyaman dengan layanan BNI. Kenyamanan itu muncul sebagai hasil dari investasi BNI pada sarana transaksi yang semakin lengkap, yaitu dengan menambah jumlah kantor cabang dari 167 menjadi 168 unit, lalu tambahan kantor kas dari 177 menjadi 367 unit. Kinerja keuangan BNI yang positif di bawah Gatot, tidak terlepas dari pengelolaan aset yang prudent. Aset BNI terus tumbuh kearah pengelolaan yang positif, yakni berkembang pada aset-aset produktif, tidak hanya produktif bagi bank, tetapi juga pada perekonomian secara umum. Aset BNI tumbuh 15,6 persen pada akhir kuartal III 2012 dibandingkan kuartal III tahun 2011, menjadi Rp 310,4 triliun. Anak tentara yang pernah menjadientrepreneur, lalu memilih berkarier sebagai profesional, ini, memendam sebuah obsesi tunggal untuk BNI, yakni ingin meninggalkan legacy yang akan terus dikenang. “Kalau suatu saat saya tidak di bank ini lagi, saya ingin bank ini makin bersinar, dan suatu saat saya bisa berkata, that’s my masterpiece,” harapnya. Dalam bekerja, penggemar moge (motor gede), ini, senantiasa memulai dengan hati yang bersih dan memantapkan nawaitu yang baik. Baginya, sesulit apapun pekerjaan dan
tugas, dengan nawaitu yang benar, hasilnya akan selalu baik. Ia juga selalu berusaha think positive karena akan meningkatkan kepercayaan diri, serta selalu proaktif untuk bersinergi. “Dan yang paling penting dari

Gatotgrafi

Nama Lengkap Gatot Mudiantoro Suwondo
Lahir Jakarta, 11 Oktober 1954 Pendidikan
Sarjana Akuntansi dari Universitas Mindanao State
University, Marawi City, Filipina (1979), Master
of Business Administration dari International
University Manila, Filipina (1982) Pekerjaan/
Jabatan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia
(Persero) Tbk. Karier Group Head Corporate &
Merchant Banking Bank Duta (1998), Group Head
Credit Restructuring & Settlement Bank Duta (1999),
Direktur Bank Danamon (2001-2005), Wakil Dirut BNI
(2005-2008)
semuanya adalah berdoa,” tegasnya