Dwi Soetjipto From Zero to Hero

Oleh: content (Administrator) - 01 January 2013 | telah dibaca 1926 kali
Perjuangan Dwi dimulai ketika ia diserahi tugas menjadi Direktur Utama PT Semen Padang pada 2003. Saat itu Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa (dua nama terakhir menjadi bagian Semen Gresik Grup pada 1995) tengah bergejolak menuntut pemisahan. Bahkan, Semen Padang sejak 2000-2003 tidak mengirim laporan ke Semen Gresik, sehingga Semen Gresik mendapat berbagai sanksi dari pasar modal lantaran tidak mengonsolidasikan report. “Di saat gejolak itu saya ditunjuk menjadi Direktur Utama di PT Semen Padang. Saya sadar tugas saya berat, yakni menyelesaikan konflik dan meluruskan apa-apa yang membuat karyawan maupun masyarakat di Sumatera Barat itu bergejolak,” kenang Dwi. Selama empat bulan, ia terpaksa berkantor di luar perusahaan dengan teror dari berbagai pihak. Waktu terus berjalan dan Dwi akhirnya mampu menyelesaikan persoalan tersebut
dan dipercaya memimpin grup Semen Gresik pada 2005. Ia mengaku sempat gamang tentang apa yang harus dilakukan dalam menyatukan sinergi ketiga perusahaan. Penggabungan ketiga perusahaan ke dalam satu grup ternyata tidak menciptakan nilai tambah, bahkan kondisinya semakin memburuk. Dwi menuturkan, mengajak PT Semen Padang dan PT Semen Tonasa untuk bersinergi dengan PT Semen Gresik tidak sulit, karena bekerja sama dengan perusahaan yang kinerjanya bagus tentu keduanya mau. Akan tetapi, mengajak Semen Gresik yang kinerja dan labanya bagus untuk mau bekerja sama dengan dua perusahaan tadi jelas tidak mudah. “Di situlah tantangan terberat saya” ungkap Tokoh Finansial Terbaik 2010 ini. Ia lantas membaur menjadi bagian dari karyawan PT Semen Gresik. Ia harus merasakan apa yang dirasakan karyawan Semen Gresik. Dwi dan keluarganya pun memutuskan dan memilih tinggal di tengahtengah karyawan Semen Gresik. Ia mengikuti berbagai aktivitas di dalam kompleks karyawan, mengikuti kegiatan sosial, dan memberi perhatian kepada karyawan dan keluarganya. Hal itu dilakukan Dwi selama tiga bulan sebelum ia menyampaikan visi dan
misi perusahaan. “Selama tiga bulan itu mungkin orang melihat saya hanya melakukan tindakantindakan kecil saja yang tidak kelihatan hasilnya. Tetapi, bagi saya itu adalah pondasi untuk membangun kedekatan dan ikatan batin antara pimpinan dengan karyawannya, sehingga timbul kepercayaan. Ini adalah pencapaian yang sangat penting buat saya,” ujarnya. Setelah muncul reaksi positif, Dwi pun mulai memaparkan visi dan misinya bagaimana membangun perusahaan dan menyadarkan mereka bahwa performance perusahaan ini adalah secara grup, bukan lagi menampilkan performance masing-masing. Ia juga menciptakan musuh bersama, yakni sense of crisis. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, peran seorang pemimpin amat penting. Ia memberi - contoh bagaimana seharusnya melakukan perubahan ke arah lebih baik. Dalam kondisi tersebut, Dwi yang menerapkan filosofi bekerja sebagai hobi dengan mencintai pekerjaan, tidak lagi berhitung soal jam kerja. Waktunya dicurahkan penuh untuk perusahaan. Ini membuat orang-orang merasakan bahwa
Semen Gresik betul-betul dalam keadaan krisis. Singkat cerita, Dwi berhasil membangun sinergi di bidang produksi, pemasaran, dan distribusi. “Tiga tahun saya fokus membangun sinergi. Namun, saya sadar kalau sinergi hanya dibangun dengan pendekatan kemanusiaan tidak akan bisa bertahan selamanya. Karena kalau saya tidak ada lagi di Semen Gresik, sinergi itu bisa saja buyar. Saya tidak mau itu terjadi sehingga saya minta dilakukan studi bagaimana agar sinergi itu terbangun dengan sistem,” terang Dwi. Setelah sinergi terbangun, Dwi lantas membangun iklim inovatif di lingkungan karyawannya. Maka setiap tahun sejak 2009, Semen Gresik menggelar innovation Award. Karyawan yang punya ide inovatif dan menang, akan mendapat penghargaan dari perusahaan. Sejalan dengan upaya membangun perusahaan, sejak 2009 Semen Gresik melakukan pengkajian road map ke depan.
Tahun 2010 mulai menetapkan visi 2030. Semen Gresik pun mengadakan kerja sama dengan konsultan untuk menganalisa kekuatan, kelemahan, ancaman, dan potensi perusahaan. Posisi geografis, kinerja yang membaik, termasuk posisi finansial yang terstruktur kuat, dan brand equaty menjadi kekuatan perusahaan untuk bersaing dengan perusahaan sejenis. Dwi mengakui, periode tahun 2012 menjadi tahun-tahun yang krusial bagi perusahaan. Karena ada beberapa hal strategis yang dibangun di 2011 dan ditetapkan untuk dilanjutkan pada tahun berikutnya. Langkah strategi yang dimaksud, antara lain, membangun strategic holding untuk menuntaskan sinergi, sehingga siapa pun yang memimpin Semen Gresik akan lebih mudah. Dari sini muncul keinginan membangun PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., sebagai nama baru. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 20 Desember 2012, nama baru ini disetujui dan pada 7 Januari 2013, Semen Gresik pun secara resmi mulai memakai nama tersebut. Penetapan fungsi kebijakan dan kegiatan strategis akan dilakukan oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., sementara PT Semen Gresik akan melaksanakan kegiatan operasional. Pembentukan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. sebagai strategic holding, menurut Dwi, tidak akan mengabaikan pengelolaan ekuitas merek, karena akan hanya jadi perusahaan induk. Sedangkan merek-merek yang bermain di pasar tetap Semen Gresik, Semen Padang, dan Semen Tonasa. Selama tujuh tahun memimpin perusahaan, Dwi berhasil mengantar perusahaan terus tumbuh. Bahkan, pada kuartal III tahun ini, laba bersih meningkat 22,46% year-on-year (YoY) menjadi Rp 3,38 trilyun per akhir September 2012. Margin laba bersih naik menjadi 24,74%, dari 23,77%. Pencapaian itu sejalan dengan kenaikan pendapatan, 17,65% (YoY), menjadi Rp 13,66 trilyun. “Laba bruto Januari-September ini sebesar Rp6,41 trilyun,” ungkapnya. Sepanjang 2012, perusahaan sukses membangun pabrik baru di Tuban dan Tonasa, sehingga kapasitas produksi meningkat sekitar 30%. Pembangunan pabrik di Tuban ini merupakan sejarah tersendiri karena untuk pertama kali dalam sejarah finansial grup, negeri tetap menjadi prioritas. “Leadership di dalam negeri harus tetap dipertahankan. Namun, untuk menghadapi persaingan jangka panjang, maka perlu ada ‘kaki’ di luar negeri, yakni dengan melakukan investasi dan membangun pabrik di negara lain,” tutur Dwi yang juga mengagumi Jack Wells dan Ir. Ciputra sebagai CEO yang patut diteladani. Pada 14 November 2012 lalu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk telah melakukan perjanjian jual beli bersyarat dengan Vietnam. Dan pada Desember tahun 2012 investasi Semen Indonesia di kawasan regional pun terwujud. “Akan menyusul kemudian di Myanmar dan negara-negara lainnya,” ungkap pria yang juga tak melupakan aktivitasnya di bidang sosial bahkan berobsesi ingin mempunyai sekolah yang khusus untuk orang-orang miskin. Akuisisi pabrik semen Thang Long yang sangat terkenal di Vietnam, itu, sekaligus menjadikan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebagai perusahaan BUMN pertama yang berstatus multinasional. Dengan pembelian itu, Semen Indonesia juga semakin meninggalkan posisi Siam Cement (Thailand) sebagai pabrik semen terbesar di Asia Tenggara. Siam Cement tertinggal sejak beroperasinya Unit 4 Tuban dan Unit 5 Tonasa. Sukses Dwi Soetjipto dalam mengantar perseroan di posisi terdepan industri semen dalam negeri ini sangat berbangga hati dengan memiliki jajaran SDM yang baik & berkualitas. Dengan jajaran Tim tersebut, ia berhasil membangun sistem manajemen dengan berlandaskan pada tiga pilar. Pertama, ekonomi (finansial, kapasitas produksi, dan peningkatan laba). Kedua, sosial (corporate social responsibility yang meliputi pendidikan, kesehatan, dan lainnya). Dan ketiga, planet, yakni perhatian terhadap pelestarian lingkungan.
perusahaan membangun pabrik baru yang 100% biayanya (Rp3,5 trilyun) berasal dari kas internal. Strategi jangka panjang lainnya yang sudah terwujud adalah menjadikan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sebagai perusahaan regional bahkan global. Dwi mengakui, pasar dalam negeri memang masih membutuhkan banyak semen dan Indonesia adalah pasar yang potensial. Sebab itu, kebijakan investasi di dalam.


Dwigrafi
Nama Lengkap Dwi Soetjipto Lahir 10 Nopember
1955 Pendidikan S3 Bidang Ekonomi Universitas
Indonesia, S2 Manajemen Universitas Andalas,
Padang, S1 Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS) Surabaya Pekerjaan/Jabatan
Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero)
Tbk (sekarang), Direktur Utama PT Semen Gresik
(Persero) Tbk. (2005-2010 dan 2010-2012) Karier
Kepala Departemen Litbang Semen Padang (1990-
1995), Direktur Litbang Semen Padang (1995-
2003), Direktur Utama Semen Padang (2003-2005)
Penghargaan : CEO Idaman Pembaca 2009 dari
Warta Ekonomi, Marketer of The Year Indonesia 2009
dari Markplus, Tokoh Financial Indonesia 2010 dari
majalah Investor, People Of The Year 2011 Kategori
Inspiring CEO Dari Harian Seputar Indonesia.