Obsession Talk, Ibu Tangguh Memajukan Indonesia

Oleh: Syulianita (Editor) - 27 February 2025

Sebagai ibu dan pekerja, perempuan dituntut harus tangguh. Karena  kaum ibu berkarakter seperti itu mampu membawa Indonesia maju. Demikian disampaikan Direktur Keuangan, SDM dan Umum Transjakarta Mayangsari Dian Irwantari dalam acara Obsession Talk yang mengangkat tema “Ibu Tangguh Memajukan Indonesia” yang dilaksanakan di Hotel Ambhara, Jakarta, Kamis (27/2).

Ia memberi contoh konkret mengenai anggapan tersebut. Sebagai perempuan yang berkarier pada bidang maskulin, Mayang harus tangguh melebihi laki-laki dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab.

“Saya terbiasa menjadi minoritas,” kata Mayang.

Turut hadir menjadi narasumber dalam acara tersebut Presdir Regenesis Indonesia Emmy Noviawaty, Direktur Hukum dan Kepatuhan AIA Rista Qotrini Manurung, Head of Directorate of Eiger Woman and Junior Agnes Lukito dn Owner Esthetic Clinic Ayu Widyaningrum.

Mayang merasa harus lebih perkasa menghadapi dunia maskulin yang digelutinya. “Kita enggak boleh menjadi feminim,” tuturnya. 

“Enggak boleh baper, termasuk menjadikan PMS sebagai alasan,” sambungnya.

Menurutnya, risiko mendapatkan stigma harus diterima kaum ibu yang berkarier pada banyak profesi. “Enggak ngapa-ngapain saja sudah kena stigma,” bebernya. 

Mayang tidak diam menyikapi kondisi tersebut.  Untuk memudahkan kaum ibu dan perempuan, Transjakarta menyusun kebijakan (policy) memastikan berlakunya kesetaraan gender di lingkungan perusahaan.

 

Transjakarta, lanjut Mayang, menyadari kontribusi perempuan untuk perusahaan. Terlebih, 60 persen pengguna Transjakarta merupakan perempuan. Bahkan Transjakarta turut mengkhususkan angkutan untuk perempuan bahkan mengadvokasi mereka yang mengalami pelecehan.

Mayang menilai, kaum ibu harus memiliki jaringan sosial (support system) untuk mendukung karier, khususnya dari keluarga. Rista dan Agnes yang menggeluti profesi berbeda turut mendukung pernyataan Mayang.

Rista yang menggeluti bidang hukum dan asuransi mengaku berasal dari keluarga hukum. Hanya satu dari enam saudara yang mengambil profesi berbeda. Dia menilai selain support system, perempuan juga butuh quality time untuk menyeimbangkan keluarga dan karier

Rista menilai, quality time menjadi rumusan penting bagi kaum ibu. Adanya waktu khusus bersama keluarga seolah menjadi terapi tersendiri.  

Sementara Agnes memiliki tantangan tersendiri menjalani profesinya. Berkiprah di perusahaan keluarga, dia bukan hanya mengembangkan alat perlengkapan untuk petualang perempuan tetapi untuk anak. Bahkan menyediakan perlengkapan untuk yoga, pilates hingga menembak.

Dia mengaku rikuh ketika memulai bekerja di perusahaan keluarga karena menerima label “anak bos”. Padahal dia harus memulai dari bawah dengan mengirim surat lamaran dan mengikuti interview sebelum bekerja. Namun seiring waktu tantangan tersebut bisa dilalui.

Menurut Agnes, kaum ibu butuh quality time selain support system untuk mendukung karier. “Kalau di rumah saya menanggalkan jubah sebagai atasan dan menjadi ibu serta istri,” tuturnya. (Ita)