Search:
Email:     Password:        
 





MO Decade: 10 Politisi dengan Koleksi Uniknya

By Andi Nursaiful (Administrator) - 11 February 2014 | telah dibaca 2675 kali

Jokowi dan Koleksi Album Musik Rock

Jokowi
Siapa tokoh yang saat ini paling dicintai rakyat Jakarta? Mayoritas akan menjawab Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi. Selain dikenal dengan sikapnya yang merakyat, ternyata ia adalah pencinta music rock.

Terbukti pada 25 Agustus 2013 lalu, ia menonton konser Metallica, tak hanya itu ia juga mengoleksi kaset dan CD music rock. "Saya punya 30 kaset album rock, Napalm Death, Scorpion, Deep Purple, Judas Priest, Metallica, Led Zeppelin,” Ungkap Jokowi.

Jokowi memang dikenal gemar mendengarkan musik-musik cadas era 1970-an. Kaset-kaset tersebut ia kumpulkan sebelum menjadi pejabat publik. Baginya, musik rock adalah kebebasan, liriknya liar, tegas, semangat, dan mampu mendobrak perubahan.

Ryaas Rasyid dan Koleksi Keris

M. Ryaas Rasyid
Ryaas Rasyid yang kini menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden adalah salah seorang pecinta keris. Ihwal kesukaannya terhadap keris berawal pada tahun 1981 tatkala ia menetap di Yogyakarta untuk menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi.

Ketika itu, seorang sejarawan yang juga pakar budaya bernama Sumar Said Moertono mengahadiahi mantan Menteri Otonomi Daerah ini sepucuk benda tajam tersebut. Keris tesebut hanyalah keris sederhana, tak memiliki pamor namun konon besinya bertuah. Mulailah ketertarikan terhadap keris ia rasakan dan ia pun mulai mengoleksi.

Selain bentuknya bagus bagi Ryaas keris memiliki nilai filosofi sebagai sebuah karya budaya luhur manusia. Kini koleksi kerisnya telah mencapai ratusan yang terpajang apik dirumahnya di bilangan Jalan Margasatwa, Jakarta Selatan.

Melani Suharli dan Koleksi Kain Nusantara

Melani Suharli
Ketertarikan Melani untuk mengoleksi wastra Nusantara, khususnya kain, bermula ketika tahun 2002-2007 ia menjadi Sekjen IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) dimana ia sering melantik IWAPI di daerah-daerah.

Di setiap kunjungannya ia selalu mencari tahu apa yang menjadi ciri khas daerah setempat seperti di Jawa terkenal dengan batiknya, sedangkan daerah-daerah lain dikenal tenunnya. Masing-masing daerah memiliki corak yang berbeda-beda hingga ia tertarik untuk mengoleksi.

Kini koleksinya terbilang lengkap mulai dari wilayah Timur-Barat Indonesia hampir ia miliki. Wakil Ketua MPR RI ini juga memiliki obsesi menjadikan kain tenun sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO menyusul batik.  

Fadly Zon dan Koleksi Warisan Budaya

Fadly Zon
“Kalau kita mau tahu hari ini, kita harus tahu masa lalu. Kalau kita mau tahu hari depan, kita harus tahu hari ini.” Itulah yang mendasari berdirinya Fadli Zon Library (FZL) di Jalan Danau Limboto C2/96, Jakarta Pusat.

Perpustakaan yang didirikan Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Fadli Zon, ini, bukan perpustakaan biasa, namun khusus mengoleksi warisan budaya sekaligus warisan intelektual Indonesia.

Di perpustakaan pribadi ini, tersimpan 45 ribu buku, yang umumnya berumur lawas dari zaman Hindia Belanda (1700-an), majalah, naskah kuno, dan ribuan lembar koran sejak abad ke-19.

Koleksi keris dan tombak dari berbagai kerajaan di Nusantara, prangko sejak pra-filateli awal abad ke-19, prangko pertama Hindia Belanda (1864) hingga 2011, koleksi uang logam (koin), medali, uang kertas, set koin dari zaman Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai (Aceh) hingga zaman VOC. Kaca mata para tokoh, seperti, Moh. Hatta, Mr. Sjafroeddin Prawiranegara, Mr. Moh. Roem, Taufiq Ismail. Tongkat, dasi, dan ikat pinggang Bung Hatta, serta berbagai jas yang dikenakan Mr.Roem, tak terkecuali saat perjanjian Roem-Royen.

Karena kecintaannya terhadap Heritage Indonesia, ayah dua anak ini diganjar enam rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Selain FZL, Fadli juga mendirikan Rumah Budaya di Aie Angek, Tanah Datar, Sumatera Barat.

Ingrid Kansil dan Koleksi Lampu Gentur

Ingrid Kansil
Lampu gentur merupakan hasil kerajinan tangan khas dalam negeri yang memiliki nilai seni tinggi karena membutuhkan ketelitian dan kecermatan dalam proses pembuatannya.

Tak ayal jika salah seorang anggota Komisi VIII DPR RI fraksi Partai Demokrat, Ingrid Kansil jatuh hati pada benda yang berasal dari Cianjur tersebut.

Ia mengaku telah menjadi kolektor sejak lama terbukti dengan banyaknya lampu gentur yang terpajang apik di kediamannya di daerah Wican, Sentul, dan Cianjur.

Tidak sekadar mengoleksi, dalam banyak kesempatan, ia pun selalu mempromosikan lampu gentur, baik di acara pameran kenegaraan ataupun pameran daerah dengan harapan agar lampu gentur bisa dikenal luas.

Achsanul Qosasi dan Koleksi Miniatur VW

Achsanul Qosasi
Ihwal Wakil Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Achsanul Qosasi menyukai mobil-mobil VW kodok cilik bermula ketika ia duduk di bangku kuliah.

Ia memakai VW Kodok 1303 keluaran 1974 dengan Nopol B 1303 FM yang dibelinya dari staf Kedubes Jerman seharga Rp4 juta. Namun mobil kebanggaannya itu harus dijual untuk modal pernikahan.

Kini, ia tentu saja mampu untuk membeli kembali VW Kodok-nya, tapi sayangnya karena berbagai hal ia tak bisa lagi memiliki mobil pujannya itu. Sebagai kompensasinya ia melampiaskannya dengan mengoleksi miniatur VW.

Kini koleksinya sudah berjumlah ratusan yang didapatnya dari dalam maupun luar negeri, mulai dari ciptaan 1970-1999 yang dibeli dengan harga bervariasi mulai dari Rp30 ribu – jutaan rupiah. Koleksi termahalnya adalah jenis VW Cabriolet tipe 1200 yang ia beli dari Jerman seharga 416 Euro (setara Rp5 juta).   

Helmy Faishal Zaini dan Koleksi PH

Helmy Faishal Zaini
Di sela kesibukannya sebagai Menteri Daerah Tertinggal, Helmy, menjadi kolektor CD dan piringan hitam (PH) bersejarah yang jumlahnya sudah ribuan. Setiap dua minggu sekali, terutama hari Sabtu dan Minggu, suami dari Santi Anisa ini, kerap menyambangi Jl. Surabaya yang merupakan sentral PH di Jakarta.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu juga rajin berburu PH di internet. Hingga saat ini PH yang dimilikinya telah mencapai 4.000-an.  Ketika ditanya piringan hitam apa yang paling istimewa, ia menyebutkan ada lima PH miliknya yang paling unik dan antik, yaitu Proklamasi, album ‘Mari Bersuka Ria‘ dengan irama Lenso karangan Bung Karno, lagu ‘In dan Dip’ yang dibawakan Rhoma Irama berduet dengan Elia Kadam, Waljinah volume 1-2, dan Koes Plus.

Permadi dan Koleksi Benda Peninggalan Bung Karno

Permadi
Pria bernama lengkap KRT Permadi Satrio Wiwoho yang kerap disapa Permadi, ini, dikenal sebagai Soekarnois. Selain mengamalkan ajaran-ajaran Soekarno, kecintaannya terhadap tokoh proklamasi nan kharismatik itu, juga ia tunjukkan dengan mengoleksi berbagai benda milik presiden pertama Republik Indonesia tersebut.
 
Koleksinya itu mayoritas didapat secara cuma-cuma dari mantan ajudan Soekarno yang bernama Soewarno atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Kancil. Meskipun jumlah koleksi yang dimiliki Permadi tidak banyak, namun sangat bernilai.

Koleksinya itu, antara lain, Selendang ustadz, tongkat komando, dan cincin milik Bung Karno. Wayang Khrisna, Keris Umyang Jimbe. Cincin Bung Karno dan Ibu Dewi juga pernah diberikan kepadanya. Selain itu, Batu yang di dalamnya terdapat besi kuning yang selalu dikenakan Bung Karno dipinggangnya.

Ganjar Pranowo dan Koleksi Batik Nusantara

Ganjar Pranowo
Semenjak diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia pada Oktober 2009, Batik Nusantara kian kondang saja di mancanegara. Mata dunia memandang kagum akan keindahan batik.

Jauh sebelum batik semakin populer, Gubernur Jawa Tengah dan politisi PDIP, Ganjar Pranowo, sudah jatuh hati kepada wastra itu.

Koleksi batik Ganjar telah menyentuh puluhan. Diantaranya adalah baju batik berbahan kain lawasan dari Tasik yang usianya sudah 20 tahunan. Ia membelinya masih dalam bentuk sehelai kain di sebuah pameran.

Sepintas terlihat tidak terlalu menarik. Gambar helai-helai daunnya tampak kaku. Selain itu di sudut kanan baju ada bercak cokelat yang membuat baju terlihat kotor.

Ganjar juga mengaku pernah dihadiahi batik oleh Ketua DPD RI Irman Gusman. Lantaran Irman kerap memperhatikan Ganjar mengenakan batik.

Soejatno Pedro dan Koleksi Peci Nusantara

Soejatno Pedro
Peci, kopiah, atau songkok memiliki satu makna yakni penutup kepala. Benda tersebut juga merupakan salah satu unsur identitas bangsa Indonesia.

Alasan itulah yang mendasari mantan Anggota DPR RI Komisi VI, Soejatno Pedro HD tertarik untuk mengoleksi peci khas Nusantara. Museum Rekor Indonesia (Muri) pun mencatat ayah tiga anak ini sebagai kolektor peci terbanyak yang dikumpulkan dari sejumlah daerah.

Hingga saat ini, koleksi Pria kelahiran Solo 15 Maret 1943 ini, telah menyentuh 89 buah yang diburunya hampir di seluruh wilayah Indonesia, seperti Aceh, Medan, Padang, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Yogyakarta.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

               
       

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250