Search:
Email:     Password:        
 





10 CEO Tangguh Pilihan Men's obsession

By Benny Kumbang (Editor) - 14 July 2014 | telah dibaca 5351 kali

10 ceo tangguh pilihan Men's obsession

Dalam buku The 7 Habits of Highly Effective Person (1989), Stephen R Covey menguraikan beberapa kriteria pemimpin yang efektif, antara lain; pemimpin yang mau terus belajar, berorientasi pada pelayanan, memberikan energi positif, mempercayai orang lain, memiliki keseimbangan hidup, jujur pada diri sendiri, mau melihat hidup sebagai sesuatu yang baru, memegang teguh prinsip, menjadi katalis perubahan dan mau memperbaharui diri.

Kriteria kepemimpinan ini, tentu dimaksudkan juga kepada pemimpin perusahaan atau Chief Executive Officer (CEO). Seorang CEO yang memiliki sifat kepemimpinan tersebut, diyakini akan mampu membawa perusahaannya dalam kondisi dan situasi seperti apapun untuk tetap eksis, bahkan membawa perusahaannya menjadi besar.

Sangat jarang sekali tipikal CEO seperti itu. Buktinya dapat dilihat ketika dunia mengalami krisis ekonomi dan berdampak ke dalam negeri, cukup banyak perusahaan yang jatuh pailit. Beruntunglah Men’s Obsession berhasil mewawancarai sejumlah CEO yang memiliki kepemimpinan tangguh dan teruji.

Mereka, para CEO itu kami tampilkan dalam edisi ini, profil, prestasi, berikut achievement mereka yang terukur selama ini. Mereka adalah; Jahja Setiaatmadja (Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk), Ignas Jonan (Direktur Utama PT KAI), Dwi Sutjipto (Direktur Utama PT Semen Indonesia), Maryono (Direktur Utama Bank BTN), Milawarma (Direktur Utama PTBA), Raharjo Adisusanto (Direktur Utama PT SMF), Prasetio (Direktur Utama Peruri), Adityawarman (Direktur Utama PT Jasamarga), Ronald T Andi Kasim (Dirut PT Pefindo), dan Eko Budiwiyono (Direktur Utama Bank DKI).

Jahja Setiaatmadja (CEO Bank BCA)

The Fabulous Banker

Naskah: Andi Nursaiful/berbagai sumber, Foto: Fikar Azmy
Sebutan The Fabulous Banker rasanya tidak berlebihan disematkan kepada Jahja Setiaatmadja, CEO PT Bank BCA, Tbk. Kerja keras dan kerja cerdasnya telah mengantarkan BCA pada posisi terbaik sepanjang 57 tahun sejarahnya. Salah satu ukurannya, BCA satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk daftar “Forbes Asia Fabulous 50” dan berada di urutan ke-7.


Penghargaan dari majalah bergengsi itu hanya satu dari puluhan penghargaan bergengsi lain yang berhasil diraih BCA di bawah kepemimpinan Jahja Setiaatmadja sebagai Presiden Direktur sejak 2011. Yang terang, Jahja sudah membawa BCA pada kondisi terbaiknya sepanjang sejarah perusahaan, yakni menjadi bank swasta nasional terbesar.

Kini, BCA menjelma menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia yang fokus pada bisnis perbankan transaksi serta menyediakan fasilitas kredit bagi segmen korporasi, komersial &UKM dan konsumer. Per akhir Maret 2014, BCA memfasilitasi layanan transaksi perbankan kepada lebih dari 12 juta rekening nasabah melalui 1.062 cabang, 14.115 ATM dan ratusan ribu EDC dengan dilengkapi layanan internet banking dan mobile banking.

Tahun ini, BCA meraih puluhan apresiasi, dari dalam maupun dari lembaga luar. Di ajang Finance Asia Awards 2014, misalnya, BCA meraih penghargaan Best CEO di peringkat pertama, Best Managed Companies di peringkat kedua, Best Corporate Governance di peringkat kedua, Best Corporate Social Responsibility di peringkat keenam, dan Most Committed to a Strong Dividend Policy di peringkat empat.

Finance Asia Award 2014 merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Finance Asia untuk yang ke-14 kalinya. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan terbaik di Asia yang telah dipilih melalui polling oleh para investor dan para analis.

Ignasius Jonan (CEO PT KAI)

Melayani tiada henti

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy & Dok. Humas PT KAI
Memasuki periode ke-2 kepemimpinannya sebagai Dirut PT Kereta Api Indonesia (Persero) (PTKAI), Ignasius Jonan telah melakukan banyak terobosan. Ia mampu mengubah mindset para pengelola KA dari sekadar product oriented menjadi customer oriented. PTKAI juga berhasil memanjakan masyarakat dengan kemudahan mendapatkan tiket dan keamanan serta kenyamanan perjalanan.

“Tugas itu adalah amanah”, prinsip itu tertanam betul dalam jiwa Jonan ketika diminta pemerintah memimpin PT KAI. Sebagai sebuah amanah, tentu ia harus menjalankannya secara sungguh-sungguh. “Ya, saya menganggap penugasan saya di PT KAI sebagai amanah yang harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya,” tegas Jonan di sela-sela kesibukannya di kantor PT KAI.

Bagi mantan bankir ini, menjalankan amanah sebagai Direktur Utama PT KAI adalah berjuang untuk harus bisa menjadikan kereta api sebagai moda transportasi yang memenuhi harapan stakeholders, khususnya pengguna jasa.

Sebagai CEO profesional yang sudah kenyang makan asam garam kepemimpinan di berbagai perusahaan besar dalam negeri maupun internasional, arek Suroboyo ini paham betul bahwa hal vital untuk membangkitkan kinerja adalah dengan membongkar mindset perusahaan BUMN yang sudah kadung kental dengan suasana birokrat itu. “Karena itu, hal pertama yang saya lakukan untuk bisa memenuhi harapan adalah dengan mengubah mindset perusahaan, dari product oriented menjadi customer oriented,” ia meyakinkan. Dengan mindset baru ini, lanjut Jonan, PT KAI akan lebih memfokuskan diri pada perbaikan pelayanan, baik di stasiun maupun di atas KA.

Perjuangan tentu tak sepi dari tantangan dan kendala. Apalagi tantangan itu datang dari lingkungan yang harus dipimpinnya. Hal itu, diakui Jonan. Tapi, bukan Ignasius Jonan kalau ia tak mampu menghadapinya.

Adityawarman (CEO PT Jasa Marga (Persero) Tbk)

Ikut Menyejahterakan rakyat lewat jalan tol

Naskah: Sahrudi, Foto: Sutanto & Dok. Jasamarga
Kalau Direktur Utama PT Jasa Marga, Adityawarman ngotot untuk mempercepat pembangunan ruas jalan tol di berbagai daerah selama ini, jangan berpikir bahwa hal itu dilakukannya hanya karena ingin meraih pendapatan yang besar untuk mengisi kocek BUMN ini. Tidak sama sekali. Mindset seperti itu tampaknya harus diubah . Memang, sebagai BUMN, meraih laba adalah salah satu kewajiban. Tapi, pembangunan jalan tol yang dilakukan Jasa Marga,tidak sekadar itu. Ada nilai ideal dibalik pembangunan jalan tol yakni membuka jalan bagi percepatan laju pertumbuhan perekonomian negara. Betapa tidak, dengan infrastruktur seperti jalan tol inilah rakyat bisa lebih cepat menjalankan aktifitas bisnisnya.

Baru beberapa minggu memimpin Jasa Marga, Adityawarman dikejutkan dengan berita ‘ngamuk’nya Menteri BUMN, Dahlan Iskan di pintu tol Slipi, Jakarta Pusat, lantaran antrian mobil yang panjang di pintu tol tersebut. Merasa bertanggungjawab, Adityawarman dengan gentle menghadap sang menteri yang juga atasannya. Ia tak hanya siap disalahkan, tapi juga memberikan penjelasan. Dahlan Iskan, pun memahami dan mengingatkannya untuk bekerja keras lagi membenahi jalan tol di negeri ini. “Yang ingin saya ceritakan di balik semua itu, kita diminta untuk lebih care dan tanggap lagi, Itu adalah tantangan,” tegas Aditya saat disambangi Men’s Obsession di ruang kerjanya.

Sebagai orang lapangan yang meniti karir dari bawah, Aditya tahu betapa rumit dan beratnya menangani pelayanan dan pembangunan jalan bebas hambatan ini. Di satu sisi, sebagai BUMN ia harus memiliki kinerja yang bagus dalam hal memberikan kontribusi kepada negara serta menjadi bagian dari penunjang pembangunan perekonomian bangsa, tapi di sisi lain Jasa Marga punya keterbatasan untuk beroperasi.

Milawarma (CEO PT Bukit Asam (Persero) Tbk)

Cerdas menyiasati krisis

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy
Lama meniti karir di PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) membuat Milawarma paham betul seluk beluk mengelola bisnis batu bara. Terbukti, sejak dilantik sebagai Direktur Utama PTBA tahun 2011, ia mampu menjaga stabilitas korporasi di tengah situasi pasar yang tidak bersahabat. Dalam kurun waktu 2011-2013 itu, Milawarma tak sekadar mampu menjaga agar PTBA tetap eksis, tapi juga mampu meraih laba disaat banyak perusahaan sejenis yang ’gulung tikar”.

Memang, tiga tahun memimpin PTBA dari kurun 2011-2014, adalah kerja keras yang luar biasa bagi Milawarma. Betapa tidak, dalam periode itu ia harus mempertahankan dan meningkatkan kinerja perusahaan tambang batu bara milik negara dalam situasi pasar yang tak menguntungkan. “Di tahun 2011 saya diangkat, ini kebetulan pas sedang turun harga batu bara. Bahkan sampai sekarang itu sudah turun sampai sekitar 40 – 50 persen. Itu kondisi yang paling sulit yang dihadapi,” ujarnya saat menerima Men’s Obsession di ruang kerjanya.

Kondisi seperti itu, tentu saja membuat produsen batu bara terkemuka Indonesia ini harus pandai menyiasati situasi dengan berbagai manuver. Banyak langkah cerdas dilakukan Milawarma guna menjaga performa PTBA tetap eksis, antara lain dengan meningkatkan inovasi produk, penghematan operasional, hinga melakukan diversifikasi bisnis yang tak bergantung pada komoditas batu bara mentah. Hasilnya? Sungguh luar biasa. “Alhamdulillah margin kita di tahun 2013 kemarin masih 1,8 triliun rupiah. kita targetkan sih tahun ini bisa di atas 2 triliun,” ia optimis.

“Jadi sebenarnya semangat inovasi saja. Itu yang selalu saya push kepada teman teman agar mereka melakukan inovasi di segala lini, untuk mencari, melakukan langkah-langkah optimasi untuk menekan biaya produksi, untuk menghasilkan produk yang berkualitas baik, kemudian bisa mendelivered produk itu sesuai dengan jadwal atau sesuai dengan schedule,” ia melanjutkan.

Di sisi lain, ia juga getol mengoptimalkan pasar khusus untuk pasar batu bara berkualitas. “Ada pasar yang memang mereka sangat concern di harga, tapi ada pasar lagi yang concern di kualitas, nah kita main di kualitas. Ini salah satu yang kita lakukan dengan melakukan optimasi peluang pasar,” tegasnya.

Maryono (CEO Bank BTN)

Membawa BTN menuju world class company

Naskah: Andi Nursaiful/Sahrudi, Foto: Fikar Azmy
Selama tiga dasawarsa berkairier di dunia perbankan dan keuangan, Maryono telah menjadi bagian dari sejarah penyelamatan sejumlah bank nasional yang nyaris ambruk. Tak heran jika ia kerap disebut bankir spesialis krisis. Setelah berhasil merecoveri bank Century, Maryono lalu dipercaya pemerintah menangani Bank BTN, dan kembali bersinar.

Bicara tentang transformasi bank di Indonesia, tidak akan lengkap jika tak menyinggung sosok Maryono. Bankir kelahiran Rembang, 16 September 1955, ini, sebelumnya menjabat GrupHead Jakarta Network Bank Mandiri, ketika ditunjuk pemerintah untuk menjadi Dirut Bank Century dan mengubah nama Bank Century menjadi Bank Mutiara.

Bank Century yang dimiliki pengusaha Robert Tantular terpaksa diambil alih LPS pada 21 November 2008 lantaran bank valuta asing terbesar ini diduga terlibat kasus penyalahgunaan dana nasabah. Bank Century sudah kritis ketika Maryono ditugaskan masuk. Meski ia telah berkali-kali menghadapi krisis dan masalah perbankan, ia mengakui masalah yang ada di Bank Century sangat kompleks dan bukan perkara mudah untuk menyelesaikannya. Namun, ia terbukti mampu menuntaskan tugasnya dengan baik.

Kini, dengan kepercayaan yang diberikan pemerintah untuk menjabat Direktur Utama BTN semakin menambah panjang daftar catatan perjalanan karier Maryono di dunia perbankan nasional.



Alumnus FE Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah yang memulai karier di Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) pada 1982 ini mengaku mendapatkan kesempatan yang luar biasa untuk memimpin bank pelat merah yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat. Sebagai pemimpin dengan segudang pengalaman di perbankan nasional, Maryono tahu betul bagaimana mengembangkan bank pelat merah itu menjadi lebih baik dan lebih besar dari sekarang.

Dwi Soetjipto (CEO PT Semen Indonesia)

CEO visioner bertangan dingin

Naskah: Andi Nursaiful/berbagi sumber, Foto: Sutanto & Dok. Humas PT Semen Indonesia
Ia mampu membawa Semen Indonesia sangat diperhitungkan di kawasan regional. Ia membesarkan PT Semen Gresik sejak 2005, dan sukses mewujudkan BUMN holding PT Semen Indonesia, termasuk melebarkan sayapnya ke mancanegara. Semua itu terwujud berkat ketangguhan dan
tangan dingin Dwi Soetjipto.


Memimpin perusahaan di masa-masa tersulit, Dwi Soetjipto, menunjukkan kelasnya sebagai salah satu CEO tertangguh di Tanah Air. Hanya dalam tempo enam tahun, ia sukses mengangkat kapitalisasi pasar dari Rp10 triliun menjadi Rp 80 triliun pada 2011.

Di bawah kepemimpinannya, ia berhasil menyinergikan tiga perusahaan yang saling berkonflik menjadi sebuah tim tangguh pencetak laba, dan mampu berkiprah di kancah regional bahkan global.

Selama 7 tahun, perusahaan yang dipimpinnya menunjukkan kinerja yang mengagumkan, mulai dari sisi produksi hingga laba yang meroket. Kinerja PT Semen Indonesia pada 2013 sungguh kinclong, dengan volume penjualan 27,8 juta ton, atau meningkat 27%.

Keberhasilan Dwi Sutjipto melakukan transformasi terukur dari kinerja yang dicapai oleh Semen Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, meliputi kinerja keuangan, kinerja saham, dan tata kelola perusahaan yang terus menunjukkan tren peningkatan positif.

Perusahaan membukukan laba bersih tahun 2013 sebesar 5,37 triliun meningkat 10,8 persen dibanding periode 2012 sebesar Rp 4,84 triliun. Laba bersih persaham dasar meningkat dari Rp 817 menjadi Rp 905.
Kinerja itu mengantarkan Dwi Sutjipto meraih sejumlah penghargaan dari berbagai lembaga. Yang terakhir adalah penghargaan sebagai The Best CEO 2014 dalam acara MNC Business Awards 2014, awal Juni 2014. Ia menjadi CEO emiten terbaik dari tiga peraih nominasi yakni, CEO PT Semen Indonesia, CEO PT Unilever Indonesia, dan CEO PT Astra Internasional.

Raharjo Adisusanto (CEO PT SMF)

Ikut Membangun Rumah Rakyat

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto
Bicara tentang pembangunan perumahan rakyat menengah ke bawah tentu tak bisa dilepaskan dari peran PT Sarana Multigriya Finansial (Persero). Performa BUMN yang dipimpin Raharjo Adisusanto itu kini semakin mengkilap. Eksistensinya, tak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga internasional.

Meningkatnya taraf perekonomian rakyat belakangan ini sejalan dengan semakin menaiknya permintaan perumahan kelas menengah ke bawah. Tingginya permintaan, juga tak lepas dari pemberian kredit jangka panjang kepada masyarakat yang butuh rumah. Nah, pemberian kredit jangka panjang ini tentu bukan tanpa risiko. Karena, bisa saja terjadi maturity mismatch atau kesenjangan jatuh tempo. Dengan pertimbangan itulah pada tahun 2005 pemerintah mendirikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bernama PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF yang berperan besar dalam pembiayaan KPR.

Perusahaan pembiayaan pelat merah ini menyediakan dana jangka panjang agar tidak terjadi maturity mismatch. “KPR ini kan kredit jangka panjang, bahkan sampai 20 tahun untuk KPR subsidi. Maka diperlukan dana jangka panjang untuk menghindari resiko akibat maturity mismatch, terutama pada saat krisis,” ungkap Raharjo.

Sebagai perusahaan pembiayaan sekunder perumahan, SMF juga bertujuan mempercepat pertumbuhan volume KPR dengan cara melakukan sekuritisasi atas tagihan KPR. “Sekuritisasi itu menjual tagihan KPR ke pasar modal dengan menerbitkan Efek Beragun Asset (EBA). Jadi perbankan tidak perlu menunggu dana cicilan balik terkumpul. Cukup setahun atau dua tahun setelah memberikan pinjaman KPR, perbankan bisa melakukan sekuritisasi, menjual tagihannya ke pasar modal, sehingga mendapat likuiditas kembali dan bisa disalurkan lagi ke masyarakat. Maka akan terjadi percepatan pertumbuhan volume KPR di Indonesia,” ia menerangkan dengan serius.

Prasetio (CEO Peruri)

Memimpin dengan Semangat Pro Aktif

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Sutanto & Dok. Peruri
Perjalanan karirnya cukup panjang. Pernah menjadi bankir, Direktur Keuangan PT Merpati Nusantara Airlines, dan Direktur Risk Management Telkom. Pengalaman memimpin perusahaan ditambah kepiawaiannya menata manajemen membuat Prasetio paham betul bagaimana mengurus sebuah korporasi dengan baik. Tak salah kalau pemerintah kemudian menunjuknya menjadi Direktur Utama Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri).

Sejak dipercaya oleh Menteri BUMN untuk memimpin Perum Peruri pada 29 Oktober 2012, Pras--demikian ia biasa disapa--langsung ‘injak gas’ untuk meningkatkan performa perusahaan negara pencetak uang dan surat-surat berharga itu. Ia menyuntikkan semangat baru di lingkungan Perum Peruri dengan semangat menjemput bola alias pro aktif. “Karena tak ada keuntungan yang datang dengan sendirinya, melainkan semua harus dimulai dari usaha dan kerja keras,” tegas Pras saat disambangi Men’s Obsession di ruang kerjanya.

Di ruang kerjanya yang sederhana, Pras bercerita banyak mengenai langkah-langkah yang dilakukan, visi misinya, juga obsesi-obsesinya untuk perusahaan. Satu di antaranya, ia bercerita bagaimana membangun culture perusahaan itu. Kalau ada sistem dan prosedur yang tidak rapi, itu harus diperbaiki,” terangnya.

Penerima Piagam Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI pada tahun 2007 ini menuangkan pengalaman berharganya melalui buku yang diambil dari disertasi doktor ilmu hukum karyanya, dengan judul: Dilema BUMN, Benturan Penerapan Business Judgment Rule (BJR) dalam Keputusan Bisnis Direksi BUMN.

Eko Budiwiyono (CEO Bank DKI)

Mendongkrak Kinerja dengan Libido Bisnis

Naskah: Sahrudi, Foto: Fikar Azmy
Kurang lebih tiga tahun memimpin Bank DKI, Eko Budiwiyono telah memperlihatkan prestasi yang luar biasa. Ia mencatatkan pertumbuhan kinerja selama tiga tahun berturut-turut. Obsesinya, membawa Bank DKI menuju 15 bank teratas di Tanah Air.


Keputusannya meninggalkan jabatan Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (persero) lalu menduduki posisi Direktur Utama PT Bank DKI, membuat banyak kolega dan kalangan dekatnya heran. Aneh saja, karena dari seorang Dirut perusahaan BUMN mau ‘turun’ menjadi Dirut sebuah BUMD. Bagi orang lain, keputusan Eko itu luar biasa. Tapi begitulah Eko, hal-hal luar biasa bukan lagi sesuatu yang luar biasa buatnya. Pasalnya, dalam perjalanan karirnya, ia sudah sering mengalami hal-hal yang luar biasa dan tak terduga. Mulai dari surat tugas belajar ke luar negeri yang nyaris tak sampai ke tangannya, hingga menjadi direktur termuda di BNI, tempat pertama kali ia merintis karir.

Selama ditempatkan pemerintah di dua BUMN sebelumnya yakni BNI dan Jasindo ia mampu memperbaiki keadaan dan mendulang sukses. Ibarat seorang teknisi, ia adalah teknisi yang pintar memperbaiki kinerja, mengatasi permasalahan dan meningkatkan performa lembaga bisnis yang dipimpinnya. Maka, saat ditunjuk sebagai pucuk pimpinan Bank DKI, ia pun bertekad untuk mengulang sukses. Di Bank DKI, ‘adrenalin bisnis’-nya kembali tertantang.

Disambangi Men’s Obsession di ruang kerjanya, pria familiar yang akrab dengan staf mulai dari direksi hingga office boy ini, mengaku perlu strategi sendiri untuk membenahi Bank DKI dan meningkatkan kinerjanya. “Saya harus mengubah dan memperkuat mindset para staf dari atas sampai bawah dari cara berpikir birokrat menjadi cara berpikir entrepreneur,” Eko menceritakan resep awalnya.

Ronald Tauviek Andi Kasim (CEO PEFINDO)

Menjadikan Pefindo "One Stop Shopping"

Naskah: Giatri F.P., Foto: Fikar Azmy
Nama pria satu ini di dunia pasar modal tanah air tak perlu disangsikan lagi. Pasalnya, sebagai Presiden Direktur PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Ronald Tauviek Andi Kasim berhasil membuat Pefindo menguasai 85% pasar pemeringkatan yang merupakan bisnis intinya. Tak puas dengan pencapaian itu, ia kembali membuat gebrakan dengan melakukan diversifikasi usaha, yakni membuka Pefindo
Biro Kredit dan Pefindo Riset & Konsultasi.


Sedari kecil, pria yang akrab disapa Ronny ini, bercita-cita ingin bekerja di bank seperti ayahnya. Ia bangga saat sang ayah harus menjalani tour of duty, berkeliling Indonesia bekerja untuk salah satu bank pemerintah kala itu. Cita-citanya sempat kesampaian. Pria berdarah Makassar ini pernah bekerja sebagai Lead Financial Analysis pada divisi Asset-Liability Management di First National Bank of Omaha, Amerika Serikat dari tahun 1999 hingga 2001. Ia juga pernah mencicipi posisi Senior Vice President di PT Bank Permata, Tbk, Jakarta pada Juli 2009, tepat setahun sebelum ia didaulat sebagai Presiden Direktur Pefindo.

Sejatinya, tugas di Pefindo adalah pekerjaan pertamanya ketika baru meraih gelar Master in Business Administration dari Creighton University, Omaha, Amerika Serikat pada tahun 1994. Kala itu Pefindo baru didirikan dan masih merupakan satu-satunya perusahaan pemeringkat di Indonesia serta membutuhkan lulusan-lulusan luar negeri atau lokal yang memiliki kredibilitas tinggi.

Perjuangannya mengikuti berbagai tes di Pefindo pun membuahkan hasil, saat pengumuman dibuka ia termasuk salah satu analis pertama yang diterima. Tak langsung bekerja, ia harus mengikuti berbagai pelatihan lembaga rating di beberapa negara seperti Malaysia, Inggris, dan Amerika Serikat. Setelah itu barulah ia mendapat jabatan Kepala Divisi Financial Institution Ratings yang memimpin enam analis rating yang bertanggung jawab terhadap pemeringkatan obligasi dan pemeringkatan perusahaan yang bergerak di industri perbankan, asuransi, sekuritas, serta jasa keuangan lainnya.

Read More    

Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

Saat ini Ray White Indonesia merupakan Agen Property terdepan yang dianugrahi penghargaan sebagai Top Brand dalam kategori Agen Property. Misi kami untuk menjadi agen yang dominan di tiap pasar property telah mencapai kesuksesan dari tahun ke tahun. Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun dan memiliki lebih dari 145 kantor Franchise yang tersebar di 18 kota besar di Indonesia. Ray White Mitra Sunter yang beralamat di Ruko Mitra Sunter B25,Jl. Yos Sudarso Kav 89 Jakarta Utara Salah satu Kantor cabang di jakarta yang memiliki MISI menjadi agen real estate yang sukses di setiap trade area. Untuk mencapai hal ini Ray White Mitra Sunter mengerti bahwa pelanggan selalu menjadi yang terutama. Kami memiliki komitmen dalam menjawab setiap kebutuhan anda, termasuk pembelian, penjualan, investasi dan manajemen properti. Secara konsisten kami terus bertahan untuk tetap dinamik dan inovatif dalam setiap transaksi real estate dan selalu mencari cara yang lebih efektif dan efisien. Kami akan terus membangun team real estate profesional yang paling bermutu, fokus pada pelanggan dan mengerti aturan main dan diberikan pengetahuan mengenai bagaimana memenuhi kebutuhan anda terhadap properti secara menyeluruh. httphendrikproperti.blogspot.com

               
       

Popular

   

Photo Gallery

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250