Search:
Email:     Password:        
 





Best Corporate Performance 2016

By Benny Kumbang (Editor) - 20 January 2017 | telah dibaca 2104 kali

Bank BTN, Tak Sekadar Membangun Rumah

Naskah: Sahrudi, Foto: Istimewa

Adalah impian besar setiap orang untuk bisa memiliki rumah. Namun, tak semua orang bisa mewujudkan mimpi ini. Sebab, untuk mewujudkannya menjadi upaya yang tak kenal lelah. Butuh banyak tenaga dan biaya untuk merealisasikan mimpi memiliki rumah menjadi kenyataan. Untuk membantu mewujudkan harapan-harapan itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (Bank BTN) berkomitmen hadir menjadi sahabat masyarakat Indonesia.
Komitmen inilah yang menjadikan Bank BTN tampil sebagai bank yang dekat dengan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan rumah.

 

Sejak didirikan 66 tahun silam, Bank BTN terus membantu rakyat Indonesia untuk dapat memiliki hunian yang layak. Dengan skema kredit pemilikan rumah (KPR) yang menjadi ikon bank mortgage ini, jutaan rakyat telah terbantu meraih harapannya mendapatkan rumah.


Sejarah mencatat, KPR merupakan skema pembayaran yang dipelopori oleh Bank BTN. Bidikannya, yakni kalangan menengah ke bawah. Termasuk, para keluarga muda. Kini, mereka dapat memiliki rumah seharga ratusan juta rupiah, meski upah bulanannya tak mencapai puluhan juta.


Penugasan itu bermula dari Surat Menteri Keuangan RI No. B-49/MK/1/1974 yang dikeluarkan pada 29 Januari 1974. Setelah surat itu diterbitkan, Bank BTN pun mengucurkan KPR pertama pada tahun 1976 untuk 9 unit rumah di Semarang, Jawa Tengah. Tak lama berselang, disusul pemberian KPR untuk 8 unit rumah di Surabaya. 


Perjalanan waktu menjadikan bank ini tak hanya berfokus menyalurkan KPR. Bank BTN pun terus bergerak melakukan inovasi di segala sisi.


Berbagai aksi korporasi pun digelar. Mulai dari penerbitan obligasi, sekuritisasi, hingga masuk ke pasar modal. Tujuannya, yakni untuk menghimpun dana demi kelancaran penyaluran KPR oleh Bank dengan kode emiten BBTN tersebut.
Program pemberian kredit yang sedianya dilakukan bagi rumah tapak pun mulai bergerak ke rumah vertikal. Beragam skema pembiayaan juga ditempuh, termasuk pembiayaan syariah.


Tak hanya masyarakat, Bank BTN pun mengucurkan kredit bagi pengembang. Tercatat, hingga November 2016, lebih dari 3.000 pengembang telah digandeng oleh bank yang meraih predikat Bank BUMN terbaik dalam pengelolaan SDM di lingkungan perbankan pada BUMN Awards 2016 lalu.


Bank BTN pun membantu melahirkan pengembang baru melalui program mini MBA in Property. Tak tanggung-tanggung, 1.000 orang wirausaha baru di bidang properti ditargetkan lahir dari program ini pada 2017. Per 2016, Bank BTN sendiri tercatat telah meluluskan 235 calon wirausaha di sektor properti.


Tak hanya itu, di sisi penawaran, layanan digital banking pun berhasil dipoles. Yakni, melalui www.btnproperti.co.id. Sasarannya, untuk mempermudah masyarakat dan pengembang memeroleh kredit baik KPR maupun kredit konstruksi.


Semua inovasi ini dilakukan guna mendukung harapan pemerintah: menyediakan rumah bagi masyarakat Indonesia. Aksi poles memoles juga dilakukan sekaligus untuk menjawab angka backlog di Tanah Air yang terus meningkat. Apalagi, hingga 2015, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan kebutuhan rumah di Indonesia masih menyentuh posisi 11,4 juta unit.   


Namun, meski menggelar berbagai inovasi, Bank BTN tetap berfokus pada bisnis intinya. “Kami yang pertama kali memberikan KPR dan kami menunjukkan prestasi bahwa kenyataannya kami telah menyalurkan KPR untuk 3,79 juta unit rumah per November 2016 dengan nilai total penyaluran sekitar Rp185,23 triliun. Ini bukti kami care kepada keluarga di seluruh Indonesia dan fokus pada core bisnis kami,” tegas Direktur Utama Bank BTN Maryono.


Dinahkodai Maryono, BTN Terus Melesat
Sejak Maryono memimpin entitas yang dulunya bernama Bank Tabungan Pos ini, Bank BTN memang terus menunjukkan perbaikan kinerja. “Dari ada menjadi tidak ada. Dari tidak mungkin menjadi mungkin,” begitu tutur Maryono dalam perayaan Tahun Baru 2017 Bank BTN di Jakarta, awal Januari 2017.


Jelang akhir 2016, Bank BTN memang menunjukkan kinerja mentereng. Hingga bulan kesebelas pada 2016, BBTN masih mencatatkan pertumbuhan bisnis di atas laju industri.


Laporan keuangan (anaudited) perseroan menunjukkan aset Bank BTN naik 18.56% yoy dari Rp167,28 triliun pada November 2015 menjadi Rp198,34 triliun di November 2016.


Kinerja penyaluran kredit juga menunjukkan pertumbuhan di atas industri. Per November 2016, kredit dan pembiayaan Bank BTN naik 17% yoy menjadi Rp157,93 triliun dari Rp134,97 triliun pada November 2015. Kemudian, dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun juga tumbuh lebih tinggi di level 21,96% yoy dari Rp121,68 triliun pada November 2015 menjadi Rp148,41 triliun di bulan yang sama tahun ini.


Kiprah Bank BTN di bawah kepemimpinan Maryono pun memperlihatkan prospek yang positif dengan basis efisiensi dan efektivitas. Ke depannya, target proses persetujuan KPR pun bakal dipangkas dari 1:5:1 menjadi 1:3:1. Waktu persetujuan pun dibidik akan dipersingkat menjadi maksimal 24 jam.


Tentu saja target Bank BTN  mendukung program Satu Juta Rumah yang diinisiasi Presiden Joko Widodo juga menjadi pokok sasaran di bawah nahkoda Maryono.  Hal ini sejalan dengan arahan Menteri BUMN Rini Soemarno,  bahwa pemenuhan rumah bagi rakyat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga bank dan pengembang.


“Bank BTN sebagai BUMN perbankan yang memiliki keunggulan, terutama dalam digital banking untuk KPR, dan menjadi agen pembangunan, diharapkan terus mendukung Program Satu Juta Rumah,” tutur Rini.


Di sisi saham pun, BBTN terus merangkak naik. Saham Bank BTN ditutup pada Rp 1.740 per lembar saham per 30 Desember 2016, atau naik 34,36% yoy dari harga pada penutupan perdagangan 2015 senilai Rp 1.295 per lembar saham.


Potensi Tinggi
Langkah Bank BTN berinovasi memacu penciptaan para pengembang baru dan memoles layanan digital banking dilakukan juga untuk menggarap potensi besar sektor properti pada 2017.


Terlebih lagi, diprediksi  sektor perumahan nasional pada 2017 akan terus membaik. Penyokongnya, yakni dari perbaikan beberapa faktor penentu pertumbuhan bisnis properti. Di antaranya, pertumbuhan ekonomi yang positif, tingkat suku bunga acuan yang cenderung turun, bonus demografi, hingga pembangunan infrastruktur yang terus tumbuh.


Perbaikan ekonomi di Tahun Ayam Api ini juga terlihat dari prediksi pergerakan positif ekonomi global. Proyeksinya, ada peningkatan permintaan global dengan kenaikan volume perdagangan dunia dan peningkatan harga komoditas yang menopang pertumbuhan ekonomi.


Pada 2017, pertumbuhan ekonomi dunia juga diproyeksi menguat sebesar 3,4%. Rinciannya, negara-negara maju akan tumbuh sebesar 0,1%. Sementara itu, negara-negara berkembang diprediksi tumbuh sebesar 4,6%.
Penopang pertumbuhan ekonomi itu yakni kenaikan volume perdagangan dunia di level 3,9% pada 2017, atau naik 2,7% dari 2016.


Lalu, perbaikan dan ekspansi pertumbuhan ekonomi di Negeri Paman Sam pun diproyeksi akan merambat ke negara maju lainnya. Kian erat dan masifnya implementasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), juga dipandang akan mendorong ekonomi di Asia Tenggara.


Di dalam negeri sendiri, konsumsi rumah tangga diprediksi masih akan menjadi penopang pertumbuhan pada 2017. Selain itu, penguatan fondasi ekonomi dan reformasi struktural yang dilakukan pemerintah juga menyokong ekonomi pada tahun ini.


Faktor lainnya yakni peningkatan dan optimalisasi stimulus fiskal pusat serta daerah terutama terkati percepatan pembangunan proyek infrastruktur juga diprediksi akan berdampak positif bagi ekonomi.
Dengan proyeksi positif tersebut, Maryono pun melihat ruang bisnis properti kian prospektif. Apalagi, sektor perumahan pun masih luas untuk dikembangkan. Hingga September 2016, kontribusi sektor perumahan terhadap PDB berkisar 2,5%-2,8%.


“Dengan kontribusi itu, artinya masih banyak ruang bisnis yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Bank BTN mendorong penciptaan pengembang baru di sisi supply dan terus berinovasi dalam digital banking untuk akselerasi demand,” ujar Maryono.


Proyeksi positif bagi sektor perumahan, tambah Maryono, juga melihat sektor properti menjadi salah satu prioritas pemerintah. Apalagi, dalam sektor properti nasional, Bank BTN tak hanya berperan sebagai lembaga pembiayaan, tapi juga menjadi inisiator dan integrator serta pusat informasi dan keahlian.


Apresiasi Kinerja
Performa positif Bank BTN juga mendapat pengakuan dari berbagai pihak. Sepanjang 2016 saja, bank yang didirikan dengan nama Postspaarbank ini telah meraih 36 penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.


Penghargaan yang diterima pun beragam. Mulai dari apresiasi kinerja bisnis, pengelolaan sumber daya manusia, keterbukaan informasi, hingga didapuk sebagai Chief Excecutive Officer (CEO) Terbaik.


Dari luar negeri, Bank BTN juga berhasil menyabet hingga 7 penghargaan. Sebanyak 5 penghargaan disematkan League of American Communication Professionals kepada Bank BTN. Penghargaan tersebut yakni Gold Winner Worldwide, Top 100 Reports Worldwide, Top 10 Reports in Indonesia, Top 50 Reports Asia-Pacific Region, dan Best Report Narrative Asia-Pacific Region.


Kemudian, Bank BTN juga meraih penghargaan Best Mid Cap Company dari Finance Asia. Lalu, jelang akhir tahun ini, perseroan juga disematkan penghargaan bertajuk “The Asset Corporate Award 2016” untuk kategori Titanium Excellence in Governance and Investor Relation Benchmarking. Anugrah ini diberikan The Asset, perusahaan multimedia asal Hongkong di bidang ekonomi dan keuangan.


The Asset Corporate Award sendiri merupakan penghargaan tertua di Asia dalam bidang environmental, social, and governance (ESG). The Asset memberikan penghargaan kepada perusahaan-perusahaan terbuka di wilayah Asia dengan kinerja keuangan yang sehat.


Perusahaan penerima penghargaan ini dievaluasi berdasarkan kualitas tata kelola, manajemen tanggung jawab sosial, dan lingkungan, serta hubungan dengan investor. Kriteria itu dievaluasi mengingat tujuan penghargaan yakni memberikan pengakuan terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan yang berkelanjutan.


“Penghargaan ini menjadi wujud apresiasi bagi manajemen perusahaan sekaligus memacu semangat manajemen untuk menjalankan perusahaan sesuai dengan komitmen menghasilkan kinerja yang baik dan berkelanjutan,” jelas Maryono.

 

MEMBANGUN WISATA MALUKU UTARA, SEMAKIN DEKAT DENGAN RAKYAT

Upaya lebih mendekatkan diri dengan rakyat juga menjadi perhatian khusus bagi Bank BTN. Hal itu terlihat saat HUT ke-71 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Entitas yang tercatat sebagai bank dengan aset terbesar ke-6 di Indonesia ini ikut berkontribusi dalam pengembangan daerah, salah satunya di Maluku Utara. Upaya tersebut sebagai bukti komitmen ‘BUMN hadir untuk Negeri’.  

 
Di Maluku Utara, pimpinan dan jajaran Bank BTN bersama Asabri dan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) terjun langsung menemui masyarakat di sana.  “Ini adalah momen penting dan strategis bagaimana kami hadir langsung di daerah dan memberikan kontribusi bersama seluruh BUMN yang ada di wilayah Maluku Utara untuk sekaligus membangun dan memajukan masyarakat di sini,” tegas Maryono.


Kegiatan ini mendapatkan sambutan yang begitu positif dari masyarakat setempat. Hampir 5.000 masyarakat Maluku Utara bergabung dalam acara Jalan sehat bersama yang berlangsung pada Minggu 14 Agustus 2016. Tak hanya itu, 1.000 paket sembako murah yang masing-masing terdiri dari 10 kg beras premium, 2 kg gula pasir dan 2 liter minyak goreng seluruhnya ludes terjual.


Bank BTN juga menyatakan kesiapannya dalam berkontribusi untuk pengembangan sektor wisata di Morotai, Maluku Utara. Sebab, dengan keindahan alam yang dimiliki, pulau yang memiliki luas 1.800 km²  tersebut diyakini masih punya potensi yang sangat besar untuk berkembang.

Waskita Karya, 56 Tahun Membangun Negeri

Naskah: Giattri F.P., Foto: Sutanto/Dok. Waskita Karya/Istimewa

Sebagai kontraktor BUMN terbesar di Indonesia, PT Waskita Karya (Persero) Tbk telah menjadi yang terdepan dalam membangun infrastruktur negeri. Dalam dasa warsa terakhir perusahaan yang dipimpin oleh M. Choliq ini dengan konsisten menunjukan kinerja yang positif. Pada Kuartal III 2016, Waskita mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,088 triliun meningkat 171,7% dari periode yang sama di tahun sebelumnya Rp400 miliar.

 

Sejak berdiri tahun 1961 hasil nasionalisasi perusahaan Belanda bernama Volker Aanemings Maatschappij NV, Waskita telah dipercaya untuk membangun proyek-proyek strategis skala Nasional diantaranya; Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang (1985) hingga Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta (2016), Jalan Tol Cipularang, Jawa Barat (2005), Jalan Tol Nusa Dua Tanjung Benoa, Bali (2015), Jembatan Merah putih, Maluku (2016), Jembatan Suramadu, Jawa Timur (2009), Bendungan Jati Gede, Jawa Barat (2015), Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta (2002), serta proyek prestisius gedung antara lain Wisma BNI 46, Jakarta (1996) dan Hotel Shangri-La, Jakarta (2008).


Tahun 2012 Waskita berhasil mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan menggalang dana publik sebesar Rp1,2 triliun, dilanjutkan dengan memperkuat struktur permodalan melalui Rights Issue pada 2015 sebesar Rp5,3 triliun yang terdiri dari Rp3,5 triliun Penyertaan Modal Negara dan Rp1,8 triliun dana publik. Kini, Ekuitas Waskita menjadi Rp16,194 triliun dengan total aset perusahaan mencapai Rp50,282 triliun.


Menginjak usia 56 tahun, Waskita telah melakukan sejumlah langkah untuk meningkatkan kompetisi Jasa Kontruksi dengan membentuk divisi-divisi spesialis, antara lain, Divisi I yang berfokus pada proyek infrastruktur dan bangunan sipil. Divisi II yang memiliki keahlian proyek gedung bertingkat dan LRT serta Divisi Regional Barat dan Divisi Regional Timur yang mengerjakan proyek-proyek berdasarkan wilayah geografis.


Lebih dari itu, Waskita juga telah melakukan transformasi usaha. Dari yang semula hanya perusahaan jasa konstruksi konvensional, Waskita kini melakukan ekspansi dengan mendirikan anak perusahaan antara lain usaha penyedia beton pracetak melalui PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP), pengembang jalan tol melalui PT Waskita Toll Road, bidang realty melalui PT Waskita Karya Realty, dan bidang pembangkitan listrik melalui PT Waskita Karya Energi.


Pendirian WSBP tiga tahun lalu, sebagai rencana strategis anak perusahaan mendukung proyek-proyek Waskita khususnya kebutuhan konstruksi jalan tol. Kini WSBP telah memiliki 8 pabrik beton pra cetak (precast plant) dengan kapasitan produksi 2,3 juta ton per tahun. Anak perusahaan Waskita ini juga memiliki 28 pabrik olahan beton (batching plant).


Guna memperkuat permodalan, IPO di anak perusahaan ini telah dilakukan pada kuartal III 2016, yang mana WSBP memperoleh dana masyarakat sebesar Rp5,2 triliun. “Untuk pengembangan usahanya dan mendukung bisnis jasa konstruksi induk usaha, Waskita Karya,” ujar Direktur Utama Waskita Karya Choliq. Walaupun relatif sebagai pemain baru, WSBP ditargetkan untuk memposisikan dirinya sebagai perusahaan penyedia beton pracetak terbesar di Indonesia.


Sementara itu, anak perusahaan lainnya yakni Waskita Toll Road, saat ini mengusahakan 15 konsesi jalan tol dengan total panjang sekitar 750 Kilometer di Jawa dan Sumatera, antara lain Kanci-Pejagan, Pejagan-Pemalang, Pasuruan-Probolinggo, Pemalang-Batang, Kayu Agung-Palembang-Betung, Solo-Ngawi, Semarang-Batang, dan Medan-Kualanamu-T.Tinggi. Total kebutuhan investasi mencapai Rp91 triliun.


“Saat ini kami juga berperan aktif dalam membangun 9 Proyek Strategis Nasional, yakni  Proyek Tol Kanci-Pejagan, Tol Pejagan-Pemalang, Tol Pemalang-Batang, Tol Batang-Semarang, Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Bakaheuni, Proyek Light Trail Transit (LRT) Palembang, dan Proyek transmisi 500 KVA di Sumatera,” ungkap Choliq.


Kinerja anak usaha lain yakni Waskita Karya Realty pun tidak kalah cemerlang, dengan 10 proyek pengembangan prestisius dalam portfolionya diantaranya Yukata Suites, 88 Avenue, Zalakka, dan The Reiz Condo yang berlokasi di daerah strategis Jakarta, Surabaya, Bali, dan Medan.


Sebagai langkah awal untuk mulai berkontribusi nyata dalam menyediakan listrik bagi Indonesia, Waskita Karya melalui Waskita Karya Energi mengembangkan usaha mini hydro power plant 2x5 MW di Sangir, Sumatera Barat. “Waskita Karya Energi ini merupakan anak usaha patungan antara PT Shalawat Power 15%, dan PT Waskita Karya 85%,” tambah Choliq.


Dengan transformasi usaha yang telah dilakukan, perusahaan kontraktor pelat merah tersebut mentargetkan laba bersih tahun 2016 antara Rp1,7–1,8 triliun atau meningkat sekitar 70% dari capaian 2015. Bahkan untuk tahun 2017 Waskita kembali mencanangkan pertumbuhan laba bersih antara 40-50% jauh di atas rata-rata industri 15-30%.


Milestone kesuksesan Waskita di bawah kepemimpinan Choliq sudah terencana dengan jelas. Choliq memastikan, pada 2018 nanti, perusahaan yang dipimpinnya itu, akan bertransformasi penuh, bukan lagi termasuk perusahaan kontraktor. Menurutnya, dari total asset yang dimiliki Waskita Karya, 70 persennya akan dicatatkan sebagai developer infrastruktur. “Waskita akan membuktikan, bahwa dalam tiga tahun periode 2015-2018 mengalami super growth paling tidak dalam aspek total aset, laba bersih serta kapitalisasi pasar,” tandasnya.


Menutup pembicaraan, Choliq mengatakan perusahaan yang mengusung budaya kerja, “IPTEX” (Integrity, Professionalism, Team Work, dan Exellence) ini memiliki tekad untuk terus menjadi perusahaan konstruksi terkemuka. “Menjadi agen pembangunan yang berkontribusi nyata pada pembangunan proyek-proyek infrastruktur khususnya jalan tol di Indonesia,” pungkas Choliq.

Bank Bukopin Memacu Pertumbuhan Berkelanjutan

Naskah: Suci Yulianita, Foto: Dok. Bukopin/Istimewa

PT Bank Bukopin, Tbk. Terus memacu kinerja untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan. Kesuksesan Bank Bukopin pada 2016 diraih dengan pencapaian laba sebesar Rp1,1 triliun hingga kuartal III/2016, tumbuh sebesar 12,5% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp 978 miliar.

 

Sementara laba bersih bank dengan kode emiten BBKP tersebut hingga kuartal III/2016 mencapai Rp 884 miliar, meningkat 10,7% secara year-on-year. Pertumbuhan laba bersih tersebut terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga Perseroan sebesar 13,45% menjadi Rp 6,9 triliun. Sementara pendapatan operasional lain Perseroan juga tumbuh 12,15% menjadi Rp1 triliun.


Direktur Utama PT Bank Bukopin, Tbk. Glen Glenardi menjelaskan bahwa tren tersebut sejalan dengan strategi Perseroan yang memacu pertumbuhan pada sektor ritel dan melalui pos pendapatan non bunga (fee based income). “Hingga triwulan III tahun 2016, kredit yang disalurkan Bank Bukopin mencapai Rp73,1 triliun, meningkat dibandingkan dengan posisi September tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp62,7 triliun,” ujarnya dalam satu kesempatan.


Menurut Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin, Tbk, Eko Rachmansyah Gindo, pertumbuhan kredit Perseroan juga diikuti oleh kenaikan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang tumbuh sebesar 10,92% secara year on year menjadi Rp1,3triliun. “Kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan bisnis Perseroan dilakukan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
Kemampuan penyaluran kredit tersebut didukung oleh penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus meningkat. Posisi DPK Bank Bukopin bertumbuh 6,68% menjadi Rp78,5 triliun dari periode yang sama pada tahun lalu sebesar Rp73,5triliun.


Sebanyak 64,9% dari total kredit yang disalurkan Perseroan diserap oleh sektor ritel yang terdiri dari segmen UKM (42,3%),Mikro (12,8%), dan konsumer (9,8%). Sisanya sebesar 35,1% didistribusikan ke segmen komersial.
Dengan pencapaian tersebut, total asset Perseroan hingga kuartal ketiga tahun 2016 mencapai Rp100 triliun, meningkat 11,7% dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp89,5 triliun.


Bank Bukopin berdiri pada 10 Juli 1970. Awalnya pelayanan Perseroan terfokus pada segmen UMKM. Namun seiring berjalannya waktu, Bank Bukopin terus bertumbuh dan berkembang hingga masuk ke dalam kelompok bank menengah di Indonesia.


Segmen Ritel
Untuk memacu pertumbuhan bisnis, Bank Bukopin secara konsisten terus menggenjot segmen ritel sebagai motor penggerak utama pertumbuhan kinerja Perseroan dan memposisikan segmen komersial sebagai penyeimbang.
Direktur Retail PT Bank Bukopin, Tbk., Heri Purwanto mengatakan, di tengah tekanan situasi ekonomi yang masih terus meningkat, kondisi segmen ritel di tanah air secara umum masih cukup menjanjikan. “Oleh karena itu, kami optimistis akan dapat memacu pertumbuhan kinerja Perseroan pada segmen ritel,” ungkapnya.


Segmen ritel Bank Bukopin terdiri dari bisnis mikro, Usaha Kecil &Menengah (UKM), dan konsumer. Untuk memacu pertumbuhan pada segmen mikro, Perseroan akan meningkatkan fokus pada kredit langsung kepensiunan pegawai pemerintah, TNI, dan kepolisian, serta memperkuat pengembangan aliansi strategis dengan mitra strategis.


Bank Bukopin juga akan terus mendorong optimalisasi kinerja reseller/partner, pengembangan produk perbankan mikro branchless, mendorong peningkatan kualitas kredit Swamitra, serta pada bisnis koperasi dan pensiunan.
Pada sektor UKM, Heri menegaskan bahwa Bank Bukopin akan terus berkomitmen untuk memajukan bisnis UKM melalui berbagai produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.


Untuk bisnis konsumer, Perseroan akan terus berupaya memenuhi berbagai kebutuhan nasabah dengan beragam pilihan produk tabungan, giro, deposito, kartu kredit, dan kartu konsumsi.


Terkait dengan layanan Laku Pandai, Bank Bukopin akan terus memperluas jaringan pelayanan melalui skema laku pandai (branchless banking) dan menargetkan untuk mengoperasikan 1000 agen B–Tunai di seluruh Indonesia pada tahun 2017. Implementasi laku pandai tahap pertama terfokus pada produk basic saving account, kemudian layanan yang diimplementasikan pada agen B–Tunai adalah pembayaran publik, transaksi tabungan Bukopin Rakyat (pembukaan rekening), setor dan tarik tunai, serta asuransi tabungan Bukopin Rakyat.


Untuk pengembangan layanan selanjutnya, outlet B-Tunai ditargetkan dapat melayani pembelian asuransi mikro, kredit mikro, remittance, serta penyaluran bantuan sosial pemerintah baik berupa tunai maupun non tunai. Perseroan menargetkan pada tahun ini jumlah Tabungan Bukopin Rakyat akan mencapai 600.000 rekening dan 120.000 nasabah asuransi mikro.


Hingga 31 Desember 2016 Bank Bukopin telah beroperasi di 23 provinsi yang terhubung secara real time online. Memiliki 43 kantor cabang, 169 kantor cabang pembantu, 127 kantor kas, 75 kantor fungsional (layanan mikro), 27 payment point, serta 8 layanan Pickup service. Bank Bukopin juga telah membangun jaringan microbanking melalui jaringan “Swamitra”, yang kini berjumlah 593 outlet, sebagai wujud program kemitraan dengan koperasi dan lembaga keuangan mikro.


Untuk mendukung layanan terbaik pada nasabah, Bank Bukopin juga telah mengoperasikan 863 mesin ATM yang terkoneksi dengan seluruh jaringan ATM BCA Prima, ATM Bersama dan Plus di seluruh Tanah Air. Sesuai dengan moto ‘Memahami dan Memberi Solusi’ Bank Bukopin senantiasa melakukan inovasi dan peningkatan layanan kepada para nasabahnya.

Bank Mayapada Kinerja Meningkat, Alam Terjaga

Naskah: Sahrudi Foto: Istimewa

Sukses dalam menjaga kinerja dan meningkatkan performa perseroan, Bank Mayapada juga mampu memperlihatkan entitas bisnis yang peduli terhadap lingkungan.

 

Dari sekian banyak bank swasta nasional, Bank Mayapada boleh dibilang sebagai bank swasta yang dua tahun belakangan ini memiliki progres luar biasa. Tengok saja di tahun 2015, ketika terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi, bank ini malah membukukan kinerja yang lumayan. Dimana sepanjang kuartal III tahun 2015 Bank Mayapada mampu mencatatkan kenaikan penyaluran kredit sebesar 20% menjadi Rp 27,4 triliun. Kenaikan itu menjadi pendongkrak utama laba Bank Mayapada. Hingga akhir September 2015, laba bersih bank dengan kode saham MAYA ini meningkat  32,27% menjadi sebesar Rp 500 miliar.


Di tahun 2016, bank milik filantropis Dato’ Sri Tahir ini juga memperlihatkan kinerja yang berkilau. Pada semester I 2016 laba bersih perseroan tercatat meningkat 67,74 persen dari Rp 327 miliar di semester I 2015 menjadi Rp 548 miliar di semester I 2016. Kenaikan laba ini ditopang pendapatan bunga yang naik 21,7 persen dari Rp 2,3 triliun di semester I 2015 menjadi Rp 2,8 triliun di semester I 2016. Laba per saham pun tercatat naik menjadi Rp 127,49 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,8 per saham.


Sukses kembali diulang pada September 2016 dimana Bank Mayapada mampu membukukan laba bersih komprehensif sebesar Rp761,751 miliar, naik 48,4% (YoY) jika dibandingkan laba bersih Rp513,306 miliar periode sama tahun 2015. Adapun dana pihak ketiga(DPK) yg berhasil didapatkan juga meningkat hingga September 2016 ini menjadi sebesar Rp.46,897 triliun. Bahkan pada laporan keuangan bulanan di November 2016, laba komprehensif ini meningkat menjadi sebesar Rp. 1,74 triliun. Padahal, perlambatan ekonomi saat itu masih terasa.


Sementara untuk kredit macet (NPL) mengalami penurunan per September 2016, dimana posisi NPL gross berada di 2,38% turun menjadi 1,69% pada Desember 2016.


Tentu saja keberhasilan demi keberhasilan yang diraih bank dibawah kepemimpinan Hariyono Tjahjarijadi sebagai Direktur Utama, ini mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari lembaga bergengsi antara lain sebagai “Bank Umum Swasta Devisa Terbaik” (Bisnis Indonesia), Bank Terbaik 2016, Kategori “Bank Umum Aset > Rp. 25 T- Rp. 100 T” (Majalah Investor Awards), “Platinum Trophy” atas kinerja keuangan “Sangat Bagus” di tahun 2006-2015 (Infobank), kemudian mendapatkan Peringkat 1 kategori Buku 2 untuk Finance, Good Corporate Governance, Legal dan Risk Management (Anugerah Perbankan Indonesia 2016 oleh Majalah Economic Review). Bank Mayapada juga masuk dalam Top 50 Companies, Best of The Best Awards List 2016 (Forbes Indonesia), Peringkat 1 Buku 2, Kelompok usaha bank pada sektor keuangan (Anugerah Perusahaan Terbuka 2016 oleh Majalah Economic Review) dan TOP Bank 2016 kategori Buku 2 (Top Bank 2016 oleh Majalah BusinessNews Indonesia).


Dalam konteks pengelolaan, bank ini juga menyabet Penghargaan GCG terbaik perusahaan TBK (Swasta) di Indonesia dengan Predikat sangat baik (A) (Indonesia Good Corporate Governance Awards oleh Majalah Economic Review).


Konsentrasi Bank Mayapada yang sejak tahun 2016 mempertahankan aktivitas pemasaran yang intensif untuk produk funding terus berjalan dengan baik melalui produk unggulannya seperti “My Saving”, “My Saving Super Benefit”, “My Family Saving”, “My Depo”, “My Dollar”, “My Giro”, serta peluncuran produk tabungan baru yang diprakarsai oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yaitu Tabungan Simpel.


Memasuki tahun 2017, Bank Mayapada menargetkan untuk naik dari Bank kategori Buku 2 ke kategori Buku 3. Untuk itu, di triwulan IV tahun 2016, Bank Mayapada telah menyelesaikan pelaksanaan right issue/Penawaran Umum Terbatas IX untuk menambah modal sebesar Rp. 1 Triliun guna memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan aktiva produktif dalam bentuk kredit. “Dengan Aksi Korporasi tersebut, Modal Inti Bank Mayapada telah melebihi Rp5 Triliun per akhir tahun 2016” aku Hariyono.

 

Jika berbicara keberhasilan, tentu tak lepas dari kemampuan korporasi dalam terus berinovasi. Itu jugalah yang dilakukan Bank Mayapada. Selain mempertahankan dan meningkatkan daya saing produk-produk Funding, Bank Mayapada juga mengembangkan layanan electronic banking dengan melakukan penambahan fitur-2 pada layanan ATM serta SMS/Mobile Banking.


Bank Mayapada juga meluncurkan layanan Internet banking untuk menambah kemudahan nasabah mengakses rekening 24 jam sehari dalam 7 hari.


“Sementara untuk meningkatkan brand awareness, Bank Mayapada terus mengembangkan jaringan kantor di berbagai daerah di Indonesia dan menempatkan advertising pada billboard di beberapa daerah di Indonesia, serta berkolaborasi dengan partner bank lain dengan kerjasama co branding,” ucap Hariyono Tjahjarijadi.


Selain inovasi, ada juga strategi khusus atau program khusus Bank Mayapada di 2017 dalam meningkatkan product konsumer banking yakni dengan mengembangkan produk dan layanan e-banking/e-channel, IB, dan Bank Mayapada Flazz BCA. Bahkan salahsatunya adalah dengan rencana peluncuran credit card yang saat ini sedang dalam proses final persetujuan OJK.


Setelah sukses dalam membangun kinerja korporasi, satu hal yang tak dilupakan Bank Mayapada adalah meningkatkan Corporate Social Responsibility (CSR). Di tahun 2016 ini, program CSR yang terus digenjot adalah pemberian beasiswa, bakti sosial dengan menyalurkan bantuan sembako, bantuan ke panti jompo dan panti Asuhan, serta bantuan ke sekolah negeri yang memprihatinkan.


Untuk pelestarian lingkungan hidup, juga dilakukan program “Mayapada Go Green” yang antara lain mengedukasi masyarakat sekitar untuk peduli terhadap lingkungan saat ini dengan melakukan aktivitas dan kegiatan ramah lingkungan seperti melakukan penanaman pohon di lingkungan sekitarnya maupun di daerah dimana kantor Bank Mayapada berada. Salah satunya adalah dengan menanam pohon bakau di area Taman Wisata Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.


Tak hanya di lingkungan sekitar, di internal kantor Bank Mayapada sendiri dilakukan gerakan kesadaran untuk menjaga lingkungan seperti memberikan imbauan untuk efisiensi pemakaian listrik, air, dan penggunakan kertas kerja kantor.

 



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     
                       

Popular

   

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250