Search:
Email:     Password:        
 





15 CEO Pilihan 2019

By Iqbal Ramdani () - 22 February 2019 | telah dibaca 642 kali

Ahmad Zaky Founder & CEO Bukalapak.com Berbisnis Selagi Muda

Naskah: Nur Asiah Foto: Fikar Azmy

“Kami percaya bahwa bisnis ini sebuah maraton, bukan sprint.”

 

Sembilan tahun lalu, Achmad Zaky tidak pernah menyangka usaha yang dirintis bersama sahabatnya akan menjadi sedemikian besar. Kini hampir semua orang se-Indonesia tahu nama Bukalapak. Dikukuhkan sebagai satu di antara empat start up unicorn di Indonesia tentu bukannya tanpa rintangan. Namun, didorong cita-cita untuk pemberdayaan para pedagang kecil, kerja kerasnya sekarang mulai membuahkan hasil.  Resolusi itu masih menjadi misi Bukalapak hingga hari ini meskipun telah menjadi pemain utama di bisnis e-commerce Tanah Air.

 

“Kami ingin memajukan usaha kecil di seluruh Indonesia. Jadi kalau ditanya resolusi, kami ingin makin banyak usaha kecil bergabung dan diberdayakan oleh Bukalapak,” ujar Zaky saat ditemui Men’s Obsession di kantor Bukalapak di kawasan Kemang Timur. Bukti keberhasilan e-commerce buatan asli putra bangsa ini ditunjukkan dengan total kunjungan rata-rata 85,14 juta pengunjung per bulannya. Kejeliannya melihat peluang juga membuatnya mencanangkan program Mitra Bukalapak. Dia merangkul warung dan toko kelontong yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 5 juta sebagai rekan bisnis. Memang sangat sulit pada awalnya, tetapi perlahanlahan dengan inovasi dan user experience yang sangat mudah, mereka akhirnya bisa. Sekarang sudah ada 500.000 warung yang bergabung dengan Bukalapak.

 

Ketika ditanya apakah pernah memprediksikan usahanya akan menjadi sebesar sekarang, Zaky mengatakan bahwa dia sama sekali tidak menduganya. “Kalau kita melihat statistik, tidak banyak pengusaha yang besar dalam waktu sangat cepat. Kebanyakan kerja keras puluhan tahun baru menghasilkan sesuatu. Itu pattern yang terjadi. Saat itu pada 2010 sulit untuk mengembangkan bisnis dan tidak disangka menjadi besar. Semuanya berkat kerja keras dan kreativitas, bersamaan dengan momentum yang tepat,” ungkap ayah dua anak ini.

 

Customer Obsessed

Sebagai sebuah marketplace, Bukalapak bertujuan mewadahi para pedagang kecil di Indonesia. Kurangnya pengetahuan dan ketakutan akan terjadi penipuan saat berbelanja secara online dulu masih menjadi momok. Perusahaan terus membangun semangat kewirausahaan kepada pelapak dan pembeli dengan memberikan tip dan trik jualan online. Zaky menjelaskan bahwa hal itu sejalan dengan prinsip Bukalapak yang dijalankan sejak pertama kali didirikan. Pertama, customer obsessed, don’t let them down. Slogan yang tertulis di dinding lobi kantor tersebut mencerminkan betapa pentingnya pelanggan. Fokus pada customer adalah nilai terpenting karena bagaimanapun pelanggan adalah raja. Berbagai fitur pun dibuat agar pengguna dapat memanfaatkan semua layanan dengan mudah dan mendapatkan pengalaman yang memuaskan. 

 

Lalu going extra mile, bekerja keras dan sungguh-sungguh. Diharapkan setiap karyawan dapat menciptakan impact kepada masyarakat sekitar. Ketiga, gotong-royong, team work. Tidak ada individu yang bisa bekerja sendirian. Dengan kerja sama diharapkan efeknya akan lebih dahsyat. Keempat, speak up. “Kita mendorong karyawan untuk terbuka, menceritakan keluh kesah mereka atau sekadar melontarkan ide. Organisasi yang terbuka tentu akan menciptakan kenyamanan dan kebaikan bagi perusahaan juga,” tutur pria kelahiran Sragen 33 tahun lalu itu. Terakhir, try, trial, and try again. Prinsip ini menganjurkan agar berani untuk gagal. Berani untuk belajar walaupun gagal, tetapi sesudahnya harus bangkit lagi. “Kami percaya bahwa bisnis ini maraton, bukan sprint. Ini yang membuat Bukalapak unggul selama sembilan tahun terakhir walaupun dengan resources yang sangat terbatas.” Kegigihannya memberdayakan masyarakat kecil membawanya menerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Jokowi pada 2016.

 

Tak Mau Jadi Pintar

Senang berbisnis sejak kecil, Zaky sudah akrab dengan kegagalan. Saat masih kuliah di Institut Teknologi Bandung dia sempat membuka usaha, tetapi karena tidak fokus usahanya mengalami kebangkrutan. Kegagalan itu tidak menyurutkan keinginannya untuk tetap berwirausaha. Setelah lulus, dia sering menerima proyek membuat  peranti lunak kecil-kecilan, di antaranya digunakan untuk quickcount acara politik di televisi. Ketika menggagas Bukalapak, dia tahu bahwa usahanya tidak akan berjalan dengan mudah. Hampir 10.000 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) bergabung di Bukalapak pada beberapa bulan setelah beroperasi. Menurutnya memang ada paradigma yang sangat berbeda. Dulu waktu kecil dirinya sangat konservatif. Dia takut kegagalan, tapi setelah gagal malah ketagihan. Ternyata di balik itu ada pembelajaran dan bobot terbesar berasal dari kegagalan langsung. Dari situ pula dia tetap bertahan dengan Bukalapak, meskipun menghadapi kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan dari investor. Belum lagi mengedukasi pedagang agar melek internet.

 

Seiring waktu, tantangan yang harus dihadapi kini lebih pada kompetisi. Harus membuktikan diri bisa sejajar dengan pemain internasional. “Kalau dulu liga tarkam, sekarang liga dunia. Kita bertarung dengan pemain-pemain dunia. Jadi, benchmark pun harus lebih tinggi lagi. Terlebih dengan kemunculan e-commerce dari luar negeri yang ingin merebut pasar Indonesia,” lanjutnya. Kesibukan mengurus perusahaan tidak membuat Zaky melupakan keluarga. Dia berusaha membagi waktu seseimbang mungkin. Contohnya, mencari rumah yang dekat dengan kantor. Begitu pula dengan sekolah anaknya. “Semua serba dekat sehingga lebih efisien dan lebih banyak waktu yang dapat dihabiskan bersama keluarga,” tandas pehobi lari yang masih menyempatkan membaca di waktu luangnya itu.

Agus Susanto Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan, Menjadikan BPJS Ketenagakerjaan Melampaui Target

Naskah: Giattri F.P. Foto: Fikar Azmy

Sepanjang tahun 2018, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan mencatat jumlah kepesertaan aktif mencapai 30,5 juta pekerja, melampaui target yang ditetapkan sebanyak 29,6 juta pekerja aktif. Ini tentu tak lepas dari kepiawaian Agus Susanto dalam membawa Badan Hukum Publik tersebut konsisten menorehkan kinerja progresif dengan tak henti berkreasi dan berinovasi agar pelayanan yang diberikan kepada masyarakat semakin paripurna.

 

Hasil tersebut merupakan pencapaian positif untuk mengakhiri tahun lalu dengan total peserta BPJS Ketenagakerjaan mencapai 50,4 juta pekerja. Agus beserta jajaran telah berupaya untuk terus memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat pekerja agar program perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan dari BPJS Ketenagakerjaan bisa didapatkan oleh seluruh pekerja di Indonesia. Data menyebutkan, khusus kinerja kepesertaan aktif segmen penerima upah (PU), pada 2018 mencatatkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya, yaitu tumbuh sebesar 3,4 juta dari tahun 2017. Sementara, tren tahun-tahun sebelumnya kenaikan rata-rata hanya sebanyak 1,2 juta pekerja aktif. Salah satu kunci peningkatan positif dari kepesertaan aktif BPJS Ketenagakerjaan adalah menggagas kerja sama yang strategis dengan pusat, provinsi, hingga daerah. Di sisi lain, salah satu faktor yang mendukung peningkatan kepesertaan pada pekerja segmen Bukan Penerima Upah (BPU) adalah munculnya inisiatif agen Penggerak Jaminan Sosial (Perisai).

 

Di mana, inisiatif itu merupakan program keagenan dengan memberdayakan masyarakat yang disadur dari “Sharoushi” yang sukses diterapkan di Jepang dalam mengakuisisi jaminan sosial dari pemerintah kepada seluruh masyarakat. “Kami baru menerapkan pada Februari 2018,“ tutur Agus. Menurutnya, tidak semua orang bisa menjadi agent. Hanya tokoh-tokoh di kelompok atau komunitas yang ada di masyarakat. Saat ini, sudah ada 4000 agent Perisai di seluruh Indonesia. Dari jumlah ini sebanyak 3500 yang aktif dan mereka dalam satu tahun sudah berhasil merekrut 600.000 pekerja informal menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. “Tak hanya itu, tingkat keberlanjutan pembayaran premi BPJS Ketenagakerjaan juga menggembirakan, yakni mencapai 90 persen,” imbuh Chairman Asian Workers Compensation Forum (AWCF) ke-3 tersebut yang saat ini sudah berganti nama menjadi Asian Workers Compensation Association (AWCA). Keberhasilan program Perisai BPJS Ketenagakerjaan pun telah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Salah satunya dari pemerintah Jepang.

 

Mereka bahkan telah mengundang 10 besar agent  untuk berdiskusi. “Inovasi ini mendapat perhatian dunia. Saya diundang Organisasi Buruh Dunia (ILO) untuk menjelaskan Perisai. Minggu depan saya juga diundang pemerintah Jepang untuk menjelaskan atau sharing pengalaman Perisai di sini seperti apa,” tandas lulusan dari UGM dan INSEAD Fontainebleau Perancis ini. Capaian ini, tak membuat Agus berpuas diri, malah memacunya untuk menorehkan kinerja yang lebih baik lagi. Pada 2019 ini, BPJS Ketenagakerjaan mengusung tema “Aggressive Growth”. Ia menegaskan, pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai seluruh target agar manfaat yang diberikan kepada peserta bisa optimal.

 

Tahun 2019, BPJS Ketenagakerjaan membidik dana investasinya bisa menyentuh Rp439,91 triliun. Jumlah ini naik 20,55 persen dari realisasi tahun lalu yang sebesar Rp364,91 triliun. Untuk mencapai target tersebut, sambung Agus, pihaknya akan menambah iuran dana yang masuk. Jumlah dana kelolaan sejalan dengan jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan. Oleh karena itu, ia menargetkan jumlah pesertanya bertambah dari 30,5 juta menjadi 34,3 juta pada tahun ini. “Kami juga akan mengakselerasi seluruh elemen dan energi yang ada di BPJS Ketenagakerjaan. Lalu melakukan smart collaboration baik dengan pemerintah pusat maupun daerah, pihak swasta baik dari dalam maupun luar negeri, hingga kelompokkelompok masyarakat karena tidak mungkin BPJS Ketenagakerjaan melakukannya sendiri apalagi di era Revolusi Industri 4.0 ini,” tutur pria yang pernah berkarier di bidang pasar modal dan perbankan selama 25 tahun tersebut. Cara efektif lainnya untuk mendukung aggressive growth selain Perisai, yakni dengan menggalakkan Desa Sadar Jaminan Sosial.

 

“Kami menyadari mayoritas penduduk atau peserta BPJS Ketenagakerjaan itu tersebar di seluruh wilayah, terutama di pedesaan-pedesaan. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan para aparatur desa. Mereka nantinya akan seperti duta kami yang memberikan penyadaran, penyuluhan kepada masyarakat desa setempat. Sudah ada sekitar 500 Desa Sadar Jaminan Sosial. Tahun ini, kami targetkan bertambah 200,” ungkap penghobi stand up paddle boarding (SUP) ini. BPJS Ketenagakerjaan juga terus melakukan pengembangan terhadap kanal-kanal layanannya demi mengikuti perkembangan teknologi informasi berbasis digital.

 

Hal ini dilakukan karena kini masyarakat ingin pelayanan yang cepat, mudah, dan pasti. Agus mengatakan, pihaknya memiliki dua layanan. Pertama, layanan fisik yang merupakan kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan. Kedua, layanan digital yang dapat diakses peserta atau calon peserta melalui aplikasi atau website BPJS Ketenagakerjaan, antara lain BPJSTKU, kartu digital BPJS Ketenagakerjaan, antrian dan verifikasi online berbasis KTP elektronik dan sidik jari, serta Voice Assistant GINA yang merupakan singkatan dari Agen Perlindungan Pekerja. Aplikasi yang dapat diakses melalui smartphone ini akan siaga 24 
jam membantu peserta atau calon peserta mendapatkan informasi yang dibutuhkan terkait dengan program jaminan sosial ketenagakerjaan.

 

“Prinsipnya kami tidak akan pernah berhenti untuk berinovasi dan berkreasi. Saat ini kami juga tengah mempersiapkan untuk memberikan manfaat tambahan bagi peserta, salah satunya program vocational training. Intinya adalah peserta BPJS Ketenagakerjaan yang berhenti bekerja akan kami kembalikan ia bekerja lagi dengan cara kami tingkatkan skillnya melalui training yang kami sesuaikan dengan perusahaan atau lembaga yang akan menerima. Sudah kami anggarkan itu dan mulai bulan Maret, kami implementasikan secara bertahap,” pungkas pria yang aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, antara lain Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) dan International Social Security Association (ISSA) tersebut.

Budi Noviantro, Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Persero)

Naskah: Subchan Husaen Albari Foto: Istimewa

Belum genap setahun ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Industri Kereta Api (Persero) atau yang sering disebut INKA, kinerja Budi Noviantoro sudah terbilang mentereng. Pria kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960 ini tidak hanya mampu menggenjot pendapatan INKA. Namun dibalik kerja kerasnya, Budi juga mampu mengenalkan produk sarana kereta api Indonesia di kancah pasar Asia. Optimisme dan inovasi adalah kunci kesuksesan Budi membangun perusahaan pelat merah ini. 

 

Optimisme Budi mengembangkan INKA disadari karena kebutuhan kereta api sebagai moda transportasi massal di era ini sangatlah penting. Hal itu berbanding lurus dengan pesatnya pertumbuhan perekonomian di kota-kota besar dan kota-kota penyangganya di Indonesia. Kereta api bahkan diprediksi menjadi satu-satunya transportasi dari masalah kemacetan. Di samping itu, kereta api dipilih karena aman, nyaman, dan terjangkau. Dari situlah, Budi merasa peluang pasar INKA semakin terbuka lebar. Belakangan ini, 100 persen kebutuhan sarana kereta api dalam negeri diproduksi di INKA, baik kereta penumpang maupun gerbong barang. Sampai dengan saat ini INKA telah memproduksi kereta pesanan dari Kementerian Perhubungan, PT Kereta Api Indonesia (Persero), pemerintah daerah, dan juga pihak swasta. Produkproduk tersebut, di antaranya adalah Kereta Kedinasan, Kereta Inspeksi, Track Motor Car (TMC), Kereta Rel Diesel (KRD), Lokomotif, Kereta Penumpang, Gerbong Barang, dan yang terbaru ini adalah Kereta Rel Ringan (LRT).

 

Pada tahun 2018, INKA menggarap pesanan dalam negeri berupa peremajaan 438 unit Kereta Penumpang dari PT KAI. Lalu proyek Kereta Rel Listrik (KRL) untuk Bandara Soekarno - Hatta, KRDE untuk Bandara Internasional Minangkabau, LRT Palembang, dan LRT Jabodebek yang masih dalam proses produksi. Tak hanya itu, di bawah kepemimpinan Budi, diam-diam pasar ekspor pun telah ditembus di tingkat Asia, INKA tengah menggarap pesanan dari Bangladesh, Sri Lanka, Thailand, dan Filipina dengan nilai kontrak proyek mencapai triliunan rupiah. Dengan banyaknya pesanan yang digarap INKA, otomatis telah meningkatkan pula pendapatan yang diperoleh perusahaan milik negara tersebut. Pada tahun 2017, INKA berhasil meraih pendapatan sebesar Rp2,58 triliun atau meningkat sebesar 37 persen dibanding tahun sebelumnya.

 

 Di tahun 2017 tersebut, INKA berhasil meraih laba bersih sebesar Rp75,25 miliar, tumbuh sebesar 68 persen dari laba. Untuk tahun 2018, target penjualan yang ditetapkan sesuai rencana kerja mencapai Rp3,1 triliun dan hingga jelang akhir tahun ini sudah tercapai sebesar Rp3,09 triliun. Adapun mengawali tahun 2019 ini Budi optimistis kinerja perusahaan manufaktur perkeretapian itu kinclong. Alasannya, perseroan telah mengantongi sejumlah kontrak ekspor untuk 2019. Ia mengatakan nilai kontrak ekspor yang sudah tercatat mencapai lebih dari USD150 juta atau sekitar Rp2,2 triliun. 

 

“Kami sudah menjalin kontrak dengan beberapa negara, seperti Bangladesh, Srilanka, Thailand, dan Malaysia untuk tahun depan,” ujarnya saat acara Editor’s Day Bersama INKA bekerja sama dengan Bisnis Indonesia Perwakilan Palembang, di Hotel Excelton Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), belum lama ini. Pesanan pasar Asia tersebut terdiri dari berbagai produk mulai dari lokomotif, medium bus, flat wagon, hingga air conditioner (AC). Potensi pasar ekspor di Asia hingga Amerika Latin dinilai cukup tinggi untuk digarap oleh satu-satunya produsen rolling stocks di Asia Tenggara tersebut. Di luar itu, Budi menyebut masih ada beberapa negara yang potensial untuk jadi pasar INKA, seperti Meksiko, Nigeria, Senegal, dan Tanzania. Dengan memperluas pasar ekspor, perseroan meyakini kinerja perseroan tumbuh subur.

 

INKA menargetkan pertumbuhan kinerja hingga dua digit selama lima tahun ke depan. Guna menjawab peluang itu, pemerintah mendukung perluasan pabrik INKA di Banyuwangi, Jawa Timur, dengan total nilai investasi sekitar Rp1,63 triliun. Dengan perluasan pabrik itu, tenaga kerja lokal di INKA yang kini 5.000-an orang bisa ditingkatkan jadi 8.000 orang. Budi menyebut kesuksesan INKA menembus pasar Asia Selatan tidaklah mudah. Sebab di manapun, kapanpun, INKA selalu bersaing dengan China. Negara Tirai Bambu ini selalu menjadi rival utama INKA di manapun berada. Bahkan, saat ia pergi ke beberapa negara Afrika, ternyata produk kereta api asal China juga hadir di sana. Namun, dengan usaha keras, Budi menyebut INKA mampu menawarkan produk yang tak kalah dari China. Pada akhirnya, produk INKA bisa diterima di berbagai negara. Pihaknya memiliki berbagai strategi, yakni menawarkan produk lebih murah, lebih bagus, dan cepat pengirimnya.

 

“Yang jelas dari manajemen harus mau datang di mana pun. Tidak pilih-pilih pasar. Saya harus ke Kamerun, saya harus ke Senegal, kemarin Dubes Afrika Selatan datang ke kami, minta Botswana didatangi. Botswana itu perbatasan Afrika Selatan,” kata Budi. “Enggak usah takut-takut. Memang harus disuntik kanan-kiri karena ketemunya China lagi. Di manapun mereka ada,” sambungnya. Sukses membawa KAI ke pasar Asia, Budi berkeinginan Indonesia mampu membuat kereta api cepat. Ia berharap mimpinya bisa terwujud pada 2025. Artinya, desain kereta cepat sudah tervalidasi dengan kecepatan 250 kilometer per jam. Untuk mencapai impian itu, Budi menyebutkan dua hal yang paling dibutuhkan, yaitu sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas uji. 

 

Karena itu, pria lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Surabaya (ITS) itu telah menandatangani nota kesepahaman dengan sejumlah universitas, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Diponegoro (Undip) untuk menciptakan tenaga ahli yang siap dengan memasukkan program studi khusus perkeretaapian.

Donny J. Subakti, Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri, Berhasil Gerakan 5 Pilar Usaha dan Tumbuh Berkembang

Naskah: Giattri F.P. Foto: Dok. Humas Tugu Mandiri

Sepanjang 2018, PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri (Tugu Mandiri) mencetak kinerja moncer, yakni pendapatan premi sebesar Rp708,8 miliar dan laba seusai target Rp37,6 miliar. Pada tahun ini, Direktur Utama Tugu Mandiri Donny J. Subakti pun optimistis perusahaan yang dinakhodainya bisa kembali mencatatkan kinerja positif. Terlebih, ia sudah menyiapkan fondasi yang matang untuk menjawab tantangan zaman.

 

Kepada Men’s Obsession Donny menguntai kunci sukses yang ditorehkan perusahaan yang dinakhodainya, “Seluruh pekerja antusias, produktif, dan loyal. Jelas ini bukan sekadar pekerjaan 1 orang, CEO sekalipun karena ini sesungguhnya sebuah perjalanan kapal menuju Pelabuhan sasaran.” Ia pun memperlihatkan Roadmap Tugu Mandiri yang berhasil tumbuh sejak 2015, ketika dirinya mulai menjabat sebagai CEO. Bulan pertama, ia mencoba mengidentifikasi kekuatan & kelemahan Tugu Mandiri baik aspek internal maupun eksternal. “Saya tidak menggunakan konsultan agar saya menjiwai perusahaan ini termasuk perilaku sumber daya manusianya. Ini kekuatan saya mengelola. Dengan cara ini juga saya lakukan pada perusahaan sebelumnya dan saya bisa melakukan pendekatan sesuai kondisi masing-masing fungsi dan individu pekerja,” urainya.

 

2015, pihaknya membuat program transformasi budaya kerja dengan sasaran pokoknya, membangun smart organization (organisasi yang berisi smart people dengan kompetensinya berbasis pengalaman mereka), mendorong produktifitas (productivity), dan branding (membangun trust). Untuk merealisir sasaran program transformasi budaya kerja ini, harus dilakukan redefinisi visi, misi, dan tata nilai perusahaan. Singkat kata mimpi besar yang menjadi komitmen direksi & seluruh pekerja dituangkan dalam visi baru “Menjadi perusahaan asuransi jiwa, kesehatan dan DPLK yang terpercaya dan menjadi pilihan masyarakat”.

 

Dengan visi baru ini, mulai 2016, Tugu Mandiri berhasil menggerakkan 5 Pilar bisnis sebagai sumber penghasilan. Semula perusahaan ini hanya bertumpu pada 1 Pilar sumber pendapatan, yaitu captive market (nasabah & premi berasal dari lingkungan pemegang saham = Pertamina Group & PT Timah) serta DPLK dan Hasil Pengembangan investasi. Maka tahun 2016 Pilar Agency & Corporate Sales/Bancassurance mulai menggeliat meraih premi melalui Agen. “Agency kami modifikasi dengan strategi produktifitas. Oleh karena itu, agen konvensional berfungsi sebagai jaringan untuk memudahkan melakukan penetrasi pasar. Kami berhasil mengidentifikasi target market yang berbeda dengan para Pesaing. Bayangkan di pasar domestik pesaing kami 46 perusahaan AJ adalah para JV (join venture, pemodal asing).

 

Sementara kami, 100 persen local content. Semangat kerja yang tinggi dengan integritas serta akuntabilitas tinggi, berhasil menggerakkan 5 Pilar Usaha dan tumbuh berkembang, hingga tahun 2018 pendapatan Premi dicapai 156 persen dari RKAP dengan laba usaha sesuai rencana,” ungkapnya. sepanjang 2018, Tugu Mandiri bersama Donny meraih 12 awards, antara lain The Best Life Insurance Co. dan Best CEO Life Insurance dari Economic Review, juga CGPI Award 2018 sebagai The Trusted Life Insurance Company dari majalah SWA. Pada 2019 ini, Donny membidik pendapatan premi Tugu Mandiri sebesar Rp762,5 miliar. Untuk menggenapi target tersebut pihaknya telah menyiapkan jurus jitu dengan pendekatan pada aspek Revenue & aspek Cost. Dari aspek Revenue, ada 2 strategi yang dilakukan, yaitu strategi Marketing Mix, dengan tujuan meraih premi semaksimal mungkin dengan tetap mengedepankan tingkat keamanan finansial dan SLA (service Level). Lalu, strategi Optimalisasi Portofolio Investasi. 

 

Pengembangan strategi Marketing Mix, sambungnya, melalui pendekatan 4 P (Price, Product, Place & Promotion), antara lain peningkatan intensitas pemasaran/ penjualan produk kumpulan dan individu dengan basis teknologi informasi (insurtech), pengambilan keputusan berbasis CGC dan Risk Management, penetrasi pasar/pengembangan jalur distribusi pemasaran: Penambahan tenaga pemasar/penual pada semua jalur distribusi pemasaran (Agency, Corporate, dan Captive) dan Penambahan kerja sama bancassurance dan affinity, membuka kantor keagenan dan pemasaran pada wilayah potensial yang dapat mendukung penetrasi pasar/penjualan, serta peningkatan service excellent kepada nasabah sesuai dengan SLA.

 

“Sedangkan dari aspek Cost, dikembangkan kebijakan Cost Consciousness yang menjadi tanggung jawab pemegang anggaran biaya dengan mengacu pada RKAP 2019. Besarnya realisasi biaya (comparative advantages) akan berpengaruh pada daya saing perusahaan, oleh karenanya perlu dikendalikan secara ketat,” jelas pria yang menerapkan gaya kepemimpinan empowering (menjadi role model), visionary leadership, keselarasan kinerja semua fungsi (aligning performance for success), serta integritas dan akuntabel tersebut. Sementara, terkait target pasar tahun ini yang akan semakin luas mulai dari Aceh hingga Papua, dengan wilayah pertumbuhan tertinggi di Nusa Tenggara Timur, khususnya Larantuka, pihaknya akan menerapkan strategi literasi asuransi. “Jadi, agen akan melakukan business opportunity presentation (BOP) dalam setiap seminar di tiap kota. Aktifitas ini dikenal dengan sistem in4link,” imbuh pria ramah itu.

 

Ketika ditanya apa saja yang disiapkan oleh Tugu Mandiri dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, dengan lugas Donny menjawab, “Secara tidak langsung Tim IT Tugu Mandiri telah melakukan inovasi yang sejalan dengan Revolusi Industri 4.0 dan telah dimulai secara sederhana pada pertengahan 2015 dengan mencanangkan program TDA (Tugu Digital Assistance). Selanjutnya untuk proses rekrut Agen, pembayaran premi dan pengiriman e-polis telah dilakukan secara digital. Hal ini nampak pada web Tugu Mandiri. Tahun ini bila tidak ada aral melintang, kami akan meluncurkan corporate startup.” Saat ini Tugu Mandiri juga tengah menyiapkan pengembangan bisnis mengacu kepada era milenial berbasis teknologi 4.0 meliputi produk TUGU PROTEKSIKU, TM Life - mobile apps, dan SiPERDANA - mobile apps. Menutup pembicaraan, Donny pun mengurai obsesinya adalah sejalan dengan semangat visi yang Tugu Mandiri bangun bersama, yaitu mengasuransikan Indonesia dan mensejahterakan bangsa melalui pertumbuhan Pendapatan Premi serta Laba Usaha yang maksimal dan berkesinambungan.

Elvyn G. Masassya, Direktur Utama IPC, Menjaga Citra IPC Dengan Integritas dan Prestasi

Naskah: Subchan Husaen Albari Foto: Sutanto

Membenahi pelabuhan secara menyeluruh bukan perkara mudah. Meninggalkan citra buruk menuju era baru yang transparan juga butuh komitmen yang kuat dan program kerja yang terarah. Hal ini yang harus dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero)/ Pelindo II atau yang dikenal dengan IPC (Indonesia Port Corporation) di bawah kepemimpinan Elvyn G. Masassya sebagai Direktur Utama. Bersyukur dengan integritas dan kerja keras, Elvyn mampu mengubah wajah IPC dengan berbagai macam prestasi yang gemilang. 

 

Tak dipungkiri seringkali pelabuhan diartikan sebagai tempat yang “basah”. Ungkapan ini lebih banyak berkonotasi kepada hal yang negatif. Bagi oknum-oknum tertentu, pelabuhan menjadi surga untuk meraih keuntungan melalui aksi pungutan liar. Tentu saja, dengan perilaku ini lebih banyak pihak yang dirugikan daripada yang diuntungkan karena menimbulkan biaya ekonomi tinggi yang berujung pada inefisiensi di berbagai sektor. Situasi ini yang tidak boleh dibiarkan dan coba dilakukan pembenahan serta penataan sistem oleh Elvyn di semua jajaran. Elvyn memandang perubahan sistem di semua aspek penting dilakukan karena perusahaan pelat merah yang bergerak di bidang logistik, secara spesifik pada pengelolaan, dan pengembangan pelabuhan ini mengoperasikan 12 pelabuhan yang terletak di 10 provinsi Indonesia, di mana salah satunya adalah pelabuhan terbesar di Indonesia, yakni Tanjung Priok yang menangani hampir 70 persen kegiatan impor ekspor di Tanah Air. Logo baru IPC kini juga mewakili semangat transformasi serta harapan baru demi menyongsong masa depan yang lebih cerah. 

 

Salah satu program yang terus digencarkan Elvyn dalam hal menata IPC di semua pelabuhan yang dikelolanya adalah dengan adanya IPC Bersih. Program ini ingin mewujudkan IPC sebagai tempat kerja yang bersih dari tindakan curang, korupsi, dan pemerasan. Bagi seluruh stakeholder yang memiliki informasi dan ingin melaporkan suatu perbuatan berindikasi pelanggaran dengan Whistleblowing, sebuah  sistem yang independen. Whistleblowing adalah sistem yang diperkenalkan untuk memperkuat pelaksanaan Good Corporate Governance. Melalui aplikasi ini, insan IPC atau stakeholder yang melaporkan akan diberikan perlindungan, baik dalam hal kerahasiaan identitas maupun dari kemungkinan tindakan balasan oleh si terlapor.

 

“Kami percaya jika lingkungan kita bersih maka efek yang ditimbulkan juga akan berimbas pada pendapatan keuntungan perusahan yang jauh lebih besar. Suasana kerja juga kondusif dan kepercayaan publik terhadap IPC kian meningkat,” ujar Elvyn belum lama ini. Untuk mewujudkan transformasi dan transparansi, IPC juga mengembangkan platform digital. Proses digitalisasi ini dilakukan agar IPC bisa memiliki daya saing lebih, tak hanya di dalam negeri, tapi juga bersaing di kancah global. Hampir di seluruh dunia, digitalisasi sektor transportasi dan logistik berjalan cepat. Banyak teknologi baru yang dihadirkan oleh pengelola pelabuhan. Perkembangan cepat digitalisasi di pelabuhan ini menandai sebuah era baru pelabuhan di dunia. Selain berfokus pada penurunan biaya logistik, digitalisasi pelabuhan juga ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pelabuhan. 

 

IPC di bawah komando Elvyn telah melakukan serangkaian langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas logistik melalui digitalisasi, di antaranya menghadirkan vessel traffic system (VTS), peti kemas dan non peti kemas terminal operation system, serta platform marine operating system (MOS). Juga aplikasi auto tally, auto gate, serta e-service. Sistem ini tak hanya diaplikasikan di Tanjung Priok. Namun, seluruh pelabuhan yang dikelola IPC. Langkah strategis lainnya, yakni menerapkan sistem informasi layanan tunggal secara elektronik berbasis internet (inaportnet). Sistem ini meliputi e-registration, e-booking, e-tracking dan tracing, e-payment, e-billing, serta e-care.

 

IPC juga menghadirkan aplikasi TPS Online. Aplikasi ini membantu otoritas kepabeanan (Bea Cukai) lebih cepat memonitor pergerakan kontainer di Tempat Penimbunan Sementara (TPS) sehingga lebih cepat merespons Pemberitahuan Impor Barang (PIB) yang diajukan oleh pemilik barang. “Di era baru pelabuhan saat ini, IPC memiliki komitmen kuat untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi digital di semua lini agar pelayanan yang diberikan IPC semakin cepat, lebih mudah, dan lebih murah. Dengan digitalisasi ini juga sekaligus  menekan tindakan koruptif dan pungutan liar yang dilakukan oknum, serta meningkatkan pendapatan perusahaan,” tandas Elvyn.  Terbukti, perseroan mencatatkan laba bersih pada kuartal III 2018 sebesar Rp1,86 triliun. Angka tersebut lebih tinggi 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,5 triliun. Pada kuartal ini, EBITDA IPC tercatat sebesar Rp3,217 triliun atau 44 persen lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

 

Sedangkan, realisasi biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 68 persen dari anggaran yang ditetapkan. “Ini menunjukkan bahwa korporasi berhasil meningkatkan efisiensi, 3 persen di atas target,” kata Elvyn. Sementara itu, performa IPC juga meningkat dari sisi kinerja operasional. Hal ini terlihat dari naiknya volume arus petikemas yang mencapai 5,58 juta TEUs. Jumlah itu tumbuh 12,16 persen lebih besar dibandingkan realisasi kuartal III 2017. Sedangkan, arus non petikemas mencapai 42,78 juta ton atau naik 3,71 persen dari realisasi kuartal III 2017. Jumlah kunjungan kapal juga mengalami kenaikan sebesar 7,3 persen dari realisasi tahun sebelumnya, dengan capaian total sebesar 158,27 Gross Tonage (GT). Demikian pula dengan kunjungan penumpang, di kuartal III naik 10,31 persen dengan jumlah 505.480 penumpang.

Hafid Hadeli, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk

Naskah: Subchan Husaen Albari Foto: Edwin B.

Berada di posisi tertinggi memegang perusahaan pembiayaan terkemuka di Indonesia menjadi kebanggaan tersendiri bagi sosok Hafid Hadeli. Pria berbadan tegap ini memiliki beragam kiat jitu untuk membawa Adira Finance ke arah lebih maju. Terbukti dengan semangat dan segudang pengalaman yang dimiliki,  Direktur Utama Adira Finance ini mampu menciptakan keseimbangan, sehingga perusahaan tetap dalam kondisi sehat. Bahkan, capaian bisnisnya jauh melebihi target.

 

Bergabung dengan Adira Finance sejak 2005 sebagai Direktur Keuangan, Hafid pernah merasakan di mana perusahaan mengalami penurunan penjualan dan piutang mulai di akhir 2014 hingga 2016. Hal ini terjadi seiring dengan melemahnya ekonomi nasional yang berdampak pada menurunnya daya beli otomotif masyarakat. Di tengah situasi yang sulit itu, manajemen bertekad mengajak kepada semua stakeholder Adira Finance guna melakukan transformasi secara kaffah atau menyeluruh. Penataan kembali dilakukan baik di tingkat manajemen produksi, pemasaran, dan keuangan berbasis transformasi digital. “Atas dasar itu kita canangkan, kita harus berubah untuk melakukan transformasi bagaimana kita mengatasi pelemahan ekonomi. Yang pertama, kita lakukan adalah melakukan perubahan organisasi dan digitalisasi layanan. Jadi, kalau dulu layanan banyak menggunakan kertas, persetujuan juga menggunakan kertas, waktu terasa menjadi lebih lama. Nah, dengan adanya teknologi semua menjadi paperless. Sehingga, proses percepatan persetujuan kami jadi lebih meningkat. Kami pun menjadi pilihan dari customer-customer kami,” papar Hafid saat ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya.

 

Strategi penataan organisasi dan digitalisasi program rupanya membuahkan hasil. Pada tahun 2017, Hafid dengan percaya diri berani menyatakan bahwa bisnis Adira Finance mengalami penaikan penjualan yang signifikan. Anak usaha PT Bank Danamon Indonesia Tbk tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp1,4 triliun. Keuntungan yang diperoleh naik 39,6% jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2016 sebesar Rp1,01 triliun. Adapun tahun 2018, total pembiayaan naik dari Rp32,7 triliun menjadi Rp38,2 triliun. Demikian juga laba bersihnya meningkat dari Rp1,4 triliun menjadi Rp1,8 triliun. Piutang juga meningkat dari Rp44,2 triliun menjadi Rp50,2 triliun. Pendapatan Adira Finance disumbang dari pembiayaan konsumen Rp4,97 triliun. Kemudian, pendapatan margin murabahah Rp1,23 triliun, pendapatan sewa pembiayaan Rp35,79 miliar, dan pendapatan lain-lain Rp1,26 triliun. Pertumbuhan itu berkat peningkatan pembiayaan baru yang naik 19% atau sebesar Rp28,2 triliun. Segmen sepeda motor dan mobil secara seimbang memberikan kontribusi kuat terhadap pertumbuhan secara keseluruhan. Di samping itu, perusahaan juga mampu menjaga kualitas aset, dengan rasio NPL berada di level 1,7%. “Kenapa profit kami meningkat karena kami memiliki keberanian untuk merubah proses dari cara-cara bisnis biasa dengan menerapkan teknologi atau digitalisasi,” ungkapnya.  

 

Lantas sejauh mana proses digitalisasi bisa mendorong pertumbuhan perusahaan. Hafid mengungkapkan, biasanya bisnis keuangan itu hanya naik single digit. Namun dengan digitalisasi, pendapatan perusahaan naik menjadi double digit. Alumnus Universitas Trisakti itu mengatakan saat ini bisnis keuangan tidak memungkinkan lagi dilakukan secara manual. Adira Finance sudah memiliki organisasi, yaitu sentralisasi kredit approval dan sentralisasi operasional. Keduanya sudah tersentralisasi di satu kota untuk setiap wilayah. Dengan begitu sales officer Adira Finance kini bisa memasukkan data melalui gadget. Pelayanan dilakukan cepat dan prima. Pria yang hobi memainkan saxophone ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perusahaan dalam bekerja untuk diterapkan oleh semua karyawan.

 

Nilai itu berupa keunggulan, kedisiplinan, integritas, reliable atau dapat diandalkan, teamwork, dan juga motivasi tinggi, serta menjaga profesionalitas. Ia percaya Adira Finance akan tetap mampu bersaing, mendapatkan hasil maksimal jika prinsip-prinsip organisasi dijalankan. “Saya berani menyatakan bahwa kultur atau budaya kerja di Adira itu sangat baik. Misal, dalam hal teamwork saya selalu mengatakan kita tidak butuh super man, tapi kita butuh super team. Kita tidak butuh seseorang individu yang pintar, tapi kita butuh kolaborasi,” begitulah cara Hafid memotivasi jajaran. 

 

Hafid menyadari ke depannya persaingan bisnis semakin ketat. Namun, ia optimis bisnis pembiayaan kredit otomotif masih tinggi. Sebab, kebutuhan transportasi di manapun pasti akan tumbuh, meskipun di Indonesia penetrasi motor sudah cukup banyak. Selanjutnya, ia perkirakan penetrasi mobil juga akan semakin naik. Yang perlu ditekankan di sini tantangannya adalah Adira Finance harus belajar dari kegagalan di 2014 karena tidaksiapannya mengatasi pelemahan pertumbuhan perekonomian. Menurutnya ada dua hal yang harus dibenahi. Pertama, bisnis itu harus berpusat ke customer service. Kedua, bagaimana proses itu harus dimaksimalkan secara digitalisasi. Sebelumnya Adira Finance masih kurang dalam membaca peluang itu. 

 

“Jadi, inovasi kita ke depan akan tetap terhubung pada dua strategi bisnis kita, yakni costumer service dan digitalisasi. Bagaimana kita menjadi yang termurah bagi customer kita dan bagaimana kita menjadi yang termudah bagi customer kita. Itu adalah poin inovasi yang kita kembangkan,” jelasnya. Sejauh ini Adira Finance juga sudah mempunyai platform e-commerce Momobil dan Momotor, serta kerja sama dengan OLX dan Tokopedia. Lalu ada aplikasi Akses Adira Finance dan strategi lain dari pemasaran Adira Finance, yakni menggalakkan event bersama diler menawarkan motor melalui kegiatan pameran-pameran alias jemput bola. “Secara personal visi saya adalah selalu menyemangati mereka untuk belajar adaptasi terhadap perubahan. Saya ingin kalau kita berbisnis itu harus makmur bersama antara perusahaan dan komunitas tempat kita bekerja. Kalau masyarakatnya makmur maka akan berimbas kepada kemakmuran  perusahaan juga” tandasnya.

Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk, Reputasi Sang Dirigen BCA

Naskah: Giattri F.P. Foto: Fikar Azmy

Eksistensi PT Bank Central Asia Tbk (BCA) selama 62 tahun berdiri sebagai institusi perbankan terus diakui oleh berbagai pihak, dari dalam hingga luar negeri. Hal itu tentu tak lepas dari peran Jahja Setiaatmadja, Sang Nakhoda BCA yang kokoh mempertahankan reputasi bank swasta terbesar di Indonesia ini menjadi salah satu institusi perbankan terkemuka bahkan merajai pasar Asia.

 

Jahja mengungkapkan, BCA terus berupaya meningkatkan layanan kepada nasabah melalui teknologi dan meningkatkan kualitas bisnis perbankan. Tak hanya itu, keunggulan sistem pembayaran yang canggih dan inovatif menjadi kunci kesuksesan bank yang berdiri sejak 21 Februari 1957 ini. “Kemudahan bertransaksi sangat penting bagi bisnis, seperti halnya darah di tubuh kita. Kelancaran sistem pembayaran akan mendukung kinerja bisnis. Namun, secara bersamaan, BCA berkomitmen untuk mempertahankan prinsip kehati-hatian serta kualitas di setiap layanan kami,” ujar pria yang telah membaktikan diri membesarkan BCA hampir tiga dasawarsa ini. Karenanya, di tengah persaingan dunia finansial yang semakin kompetitif dan tantangan kondisi ekonomi global, BCA tetap konsisten meraih kinerja positif, seperti pada kuartal III-2018, BCA membukukan laba bersih Rp18,5 triliun. Bila dibandingkan kuartal III-2017, jumlah ini meningkat 9,9 persen dari posisi Rp16,8 triliun alias year on year (yoy).

 

Berkat kerja cerdas Jahja dan dengan dukungan teamwork yang solid, BCA sukses merajai industri perbankan di Asia sekaligus menjaga reputasinya sebagai bank swasta nomor satu dalam negeri. Hal itu bisa dilihat dari penghargaan FinanceAsia Country Awards for Achievement yang diterima bank berkode emiten BBCA ini selama tiga tahun berturut-turut, yakni pada 2016, 2017, dan 2018 lalu. Selain itu, kepiawaian Jahja bersama timnya dalam menghantar BCA menguasai pangsa pasar dan menjadi bank pilihan utama andalan masyarakat pun menuai penghargaan di ajang London Summit of Leaders Achievements 2018 di London. Ajang ini merupakan ajang pertemuan para pemimpin, investor, akademisi, dan para profesional dari seluruh dunia yang diinisiasi oleh Academic Union, Oxford and the Global Club of Leaders bersama dengan ‘EBA Global’ Loyalty Programme.

 

BCA juga meraih penghargaan bergengsi lainnya, di antaranya Bank Terbaik di Indonesia dalam ajang Euromoney Awards for Exellence 2018 di Hongkong, Priority Integration Sector dalam ajang ASEAN Business Award 2018, dan Best of The Best Awards 2018 dari Forbes Indonesia. Kinerja cemerlang tersebut, sambung Jahja, tak lepas dari ketangguhan BCA dalam menghadapi perkembangan zaman sehingga dapat beradaptasi dengan tren teknologi yang sedang menggeliat, contohnya dengan merangkul financial technology (fintech) untuk mendukung bisnis bank.  “Saat ini, kami telah fokus pada perbankan digital karena kami percaya dalam lima hingga sepuluh tahun, generasi milenial akan mendominasi pasar sehingga kami terus mengembangkan inovasi produk yang menyasar mereka, antara lain VIRA, Sakuku, dan OneKlik” ungkap Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. 

 

BCA juga menawarkan pilihan untuk membuka rekening Tahapan BCA tanpa buku. Sejak 14 Oktober 2018, nasabah diberikan opsi untuk hanya memiliki kartu debit saja. Pilihan ini tentunya sangat cocok bagi nasabah yang mengutamakan kepraktisan dalam mengelola dana dan bertransaksi. BCA juga berinovasi untuk memberikan kemudahan bagi para nasabah setianya, yakni dengan meluncurkan fitur transfer Quick Response (QR) code yang bernama QRku. Fitur QRku memungkinkan sesama nasabah BCA melakukan transfer tanpa harus menghafal nomor rekening, cukup dengan QR code yang bisa dipindai dengan smartphone. Fitur ini dapat dimanfaatkan oleh pengguna Mobile Banking BCA dan Sakuku agar lebih nyaman saat melakukan transfer dana. Dengan adanya support dari Bapak Armand W. Hartono (Wakil Presiden Direktur BCA) dan tim IT BCA maka semua ini bisa menjadi kenyataan.

 

Selain terus berinovasi dari segi layanan dan produk perbankan, beberapa inisiatif berupa pembentukan anak perusahaan yang berkaitan dengan sektor digital, yaitu Central Capital Ventura (CCV). Perusahaan modal ventura yang sengaja dibentuk untuk berinvestasi dan berkolaborasi dengan perusahaan fintech yang nantinya diharapkan akan mendukung ekosistem layanan keuangan BCA dan anak usaha. Pendirian perusahaan modal ventura Capital Central Ventura (CCV). Perusahaan modal ventura yang sengaja dibentuk untuk berinvestasi dan berkolaborasi dengan perusahaan fintech yang nantinya diharapkan akan mendukung ekosistem layanan keuangan BCA dan anak usaha. Tak lupa Jahja menuturkan, kesuksesan sebuah perusahaan sangat lekat dari peran CEO dalam menggali potensi sumber daya manusia secara maksimal “Keberadaan CEO bukan hanya sekadar memberi arahan. Namun, bagaimana berbagi kemampuan cara pandang dan visi yang dimiliki untuk pengembangan bisnis perusahaan ke depan.  Saya menyadari bahwa menjadi seorang pemimpin tidak bisa berjalan sendiri, melangkah bersama demi kemajuan perusahaan adalah salah satu kunci keberlangsungan bisnis,” urai peraih Warta Ekonomi Indonesia Most Admired CEO 2018 dan The Best Chief Executive Officer (CEO) 2018 dari dari Majalah SWA ini. 

 

Penggemar golf tersebut menambahkan, seorang pemimpin tentunya harus memiliki citra dan reputasi yang baik. Selain itu, seorang pemimpin memiliki sejumlah kriteria lainnya yang perlu dipenuhi demi menciptakan nilai yang positif bagi perusahaan. Pemimpin juga bekerja sama dengan seluruh karyawan dalam bersamasama mencapai visi misi perusahaan. Bagi Jahja, memimpin sebuah organisasi itu seperti menjadi sang dirigen dalam satu orkestra. Ia menginginkan terciptanya suatu harmonisasi kerja di BCA, seperti halnya seorang dirigen menginginkan perpaduan berbagai alat musik yang harmonis saat memainkan sebuah lagu. Untuk membangun harmonisasi itu, sangat diperlukan komunikasi yang hanya bisa dijalankan jika dipimpin oleh seorang dirigen yang tepat.

Kartika Wirjoatmodjo, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bankir Andal Di Balik Suksesnya Bank Mandiri

Naskah: Giattri F.P. Foto: Dok. Humas Bank Mandiri

Usianya baru menginjak kepala empat. Namun, ia patut disebut sebagai bankir andal yang dimiliki Indonesia. Pasalnya, di bawah pimpinannya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk banyak merilis inovasi produk dan layanan. Tak hanya itu, di tengah tantangan perekonomian nasional, bank pelat merah ini sukses mencetak kinerja moncer sepanjang 2018.

 

Pada kuartal IV/2018 Bank Mandiri mampu membukukan laba bersih sebesar Rp25 triliun atau tumbuh 21,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal itu tentu tak lepas dari jurus jitu yang dilancarkan oleh Kartika Wirjoatmodjo. Kepada Men’s Obsession pria yang akrab disapa Tiko itu menuturkan, “Bank Mandiri terus konsisten mengeksekusi 3 strategi utama, yaitu memperkuat core competence dengan tumbuh sehat di segmen korporasi melalui strategi deepen client relationship dan mendukung pertumbuhan di sektor infrastruktur, serta pemberian layanan transaction banking yang terdiri dari cash management, trade service and finance, dan treasury.” Kedua, sambungnya, mengembangkan second core competence dengan tumbuh agresif. Namun, sehat di segmen retail melalui pemberian kredit berbasis payroll, mortgage, autoloan, dan consumer loan lainnya.

 

Ketiga, memperkuat sisi liabilities, yakni pengelolaan dana masyarakat atau dana pihak ketiga. Di sisi retail, pengembangan dana masyarakat dilakukan, baik dari sisi mass banking (tabungan) maupun di sisi wealth management melalui priority dan private banking. “Di segmen prioritas dan private banking misalnya, kami membangun partnership bersama Lombard Odier, sebuah private bank dari Swiss. Melalui kerja sama ini, Bank Mandiri mampu memberikan produk dan layanan wealth management yang khas bergaya Indonesia. Namun, berstandar internasional bagi para nasabah private dan prioritasnya, seperti konsultasi investasi, program komprehensif investasi untuk seluruh keluarga,” urai pria kelahiran Surabaya, 18 Juli 1973 ini. Strategi yang tidak kalah penting, lanjutnya, penguatan infrastruktur fundamental, seperti IT, Risk Management, dan Human Capital.

 

Bank Mandiri pun tak henti menggulirkan inovasi layanan dan produk dalam memberikan service excellence kepada nasabah. Menurut Tiko, tak bisa dipungkiri perkembangan teknologi informasi (TI) yang sangat cepat saat ini harus disikapi secara cerdas oleh industri perbankan, tanpa mengabaikan prinsip kepatuhan dan kehati-hatian. “Dalam banyak hal, industri perbankan mulai mendigitalisasi prosesproses bisnis berbagai produk dan jasa perbankan untuk meningkatkan efisiensi dan memenangkan persaingan, sekaligus menyasar segmen pasar baru, yakni generasi milenial (17 tahun - 35 tahun) yang relatif akrab dengan produk-produk berbasis TI,” tukas pria berlesung pipi itu. Untuk nasabah retail misalnya, Bank Mandiri memiliki Mandiri Mobile. Sedangkan, untuk nasabah korporasi, bank berkode emiten BMRI ini telah mengembangkan layanan cash management guna mempercepat berbagai transaksi pembayaran ataupun penerimaan, termasuk rekonsiliasinya, serta layanan supply chain management, baik dalam proses pengadaan maupun distribusi. Prinsipnya, perbankan ingin mengembangkan produk dan layanan perbankan yang bisa mendukung pengembangan bisnis nasabah secara komprehensif, dari hulu ke hilir. 

 

Bank yang meraih posisi 11 dalam daftar The World's Best Employers 2018 dari Forbes ini juga telah memanfaatkan TI sebagai sarana sosialisasi dan promosi produk serta layanan, termasuk mendapatkan kritik juga feedback dari masyarakat. Salah satu layanan perbankan berbasis TI yang mulai dikembangkan adalah fasilitas chatbot bernama MITA (Mandiri Intelligent Assistant) yang berfungsi sebagai call center. Sejak diluncurkan pada Maret 2018 hingga kini, MITA tercatat melakukan 4.000 – 5.000 interaksi dengan nasabah melalui jaringan komunikasi LINE, Facebook Messenger, Telegram, and Mandiri’s website. Atas capaian itu, MITA disematkan penghargaan The Best Chatbot Performance Award dari Majalah Infobank, Sindo Inovasi Award, dan Platinum Award untuk Innovation in The Best Contact Center Indonesia 2018. Hal lain yang mulai dilakukan Bank Mandiri adalah merangkul industri teknologi finansial (tekfin). Saat ini, perseroan telah bekerja sama dengan beberapa startup, seperti Amartha dan Koinworks dalam hal pembiayaan UMKM.

 

Demikian juga dengan industri e-commerce, antara lain Bukalapak dan Tokopedia, yakni menjalin kerja sama untuk pemanfaatan channel pembayaran. Pada 2018 lalu, bank yang meraih penghargaan Visa Champion Security di ajang Visa Asia Pacific Security Summit ke-14 ini juga telah memperkenalkan produk Kredit pemilikan Rumah (KPR) yang didesain khusus untuk anak-anak muda. Salah satu keunikan pada produk ini terletak pada skema angsuran berjenjang serta jangka waktu kredit yang lebih panjang untuk memudahkan anak-anak muda memiliki rumah sehingga generasi milenial bisa #mudabelirumah. “Kami juga tengah menyiapkan beragam produk tabungan serta investasi melalui perusahaan anak yang khusus ditujukan untuk menyasar nasabah kelompok milenial,” ujarnya.

 

Menutup pembicaraan, Tiko mengungkapkan targetnya dalam meningkatkan performa Bank Mandiri di tahun 2019, yaitu dari sisi volume bisnis, ditargetkan pertumbuhan kredit lebih merata di seluruh segmen dengan cara melakukan optimalisasi komposisi kredit agar tumbuh lebih baik dan berkualitas. “Selain itu, kami tetap berfokus pada perbaikan kualitas kredit untuk menekan NPL. Dengan rasio NPL yang bisa ditekan di bawah 3,0 persen, Bank Mandiri akan dapat tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan,” jelasnya. Dari sisi penghimpunan dana pihak ketiga, dibidik pertumbuhannya lebih diarahkan pada dana murah untuk menjaga tingkat likuiditas dan juga biaya dana. Sedangkan di sisi fee based income, pihaknya menargetkan tahun ini FBI dapat tumbuh dari transaksi-transaksi yang bersifat recurring agar pertumbuhannya lebih sustain dalam jangka panjang. “Dari sisi digital banking, kami menargetkan penguatan kapabilitas digital agar mampu menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan nasabah. Kami juga tertarik untuk melanjutkan rencana ekspansi anorganik ke regional di Asia Tenggara, khususnya Filipina serta Vietnam, yang memiliki karakteristik dan potensi pertumbuhan yang mirip dengan Indonesia,” pungkas peraih gelar Master of Business Administration, Erasmus University, Rotterdam, Belanda ini.

Maryono, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Mewujudkan Bank Berkelas Dunia

Naskah: Iqbal R. Foto: Sutanto

Manusia bisa berencana, tetapi Tuhan juga yang menentukan. Pameo ini tepat untuk menggambarkan hidup Maryono, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau Bank BTN. Betapa tidak, semasa remaja, ia bercita-cita menyembuhkan orang sakit. Namun, takdir berkata lain. Bukannya menjadi dokter, pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 16 September 1955 tersebut malah diberi mandat untuk ‘mengobati’ bank sakit.

 

Lewat tangannya, Maryono berhasil mengeluarkan Bank Century (yang bersulih nama menjadi Bank Mutiara, kemudian Bank JTrust Indonesia) dari kondisi bank tidak sehat menjadi bank sehat hanya dalam waktu satu tahun. Pengalaman tersebut diterapkannya terhadap Bank yang dia kelola, yaitu Bank BTN, lewat tangan dinginnya pada 2018 Bank BTN mencetak kinerja positif, hal itu terlihat dari peringkat bank berkode emiten BBTN ini naik peringkat ke posisi 5 menjadi bank terbesar di Indonesia dari sisi aset (bank only). Kesuksesan tersebut, kata Maryono, tidak terlepas dari kerja keras seluruh pegawai Bank BTN dalam mewujudkan visi dan misi Bank BTN, yang senantiasa fokus dalam mencapai target bisnis, menyusun strategi yang jitu di tengah persaingan dengan perbankan lain, khususnya di segmen KPR.

 

“Penguatan brand image Bank BTN sebagai Bank KPR ditunjang inovasi produk KPR yang memenuhi kebutuhan seluruh segmen masyarakat menjadikan kami unggul. Semua pegawai Bank BTN sudah berkomitmen untuk melakukan Good Corporate Governance atau GCG dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya,” ungkap pria yang hobi bermain sepeda itu. Berusia 69 tahun, Bank BTN terus berupaya agar dapat menjadi pemain global, apalagi 2019-2025 adalah periode global playership. Untuk mencapai hal itu, Maryono bersama Bank BTN tengah membangun pondasi yang lebih kokoh untuk menjadikan perusahaannya masuk skala internasional, perbaikan pun terus dilakukan, seperti perbaikan tata kelola perusahaan dan penguatan modal menjadi prioritas Bank BTN untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas perusahaan. Semua itu berjalan beriringan dengan rencana pembentukan Holding BUMN yang sedang diproses oleh Kementerian BUMN.

 

“Karena tentu dengan pembentukan holding akan memberikan peluang bagi Bank BTN untuk tumbuh lebih besar. Kami juga merencanakan untuk memiliki anak usaha di bidang asset management untuk meningkatkan kapabilitas kami mengelola dana Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) kelak jika Pemerintah telah selesai memantapkan pembentukan Tapera,” tukasnya. Untuk mencapai target laba perseroan sekitar 16-19 persen. Strategi yang dilakukan Maryono adalah fokus pada core business Bank BTN, yaitu KPR dengan memberikan variasi produk yang memiliki keunggulan tersendiri dan sasaran yang khusus, seperti KPR Gaeesss untuk anak milenial, KPR BTN Mikro untuk pekerja informal yang ingin renovasi rumah, KPR lelang untuk yang ingin menyicil rumah hasil pembelian lewat lelang. “Kami juga ekspansi dengan bekerjasama banyak pihak swasta maupun BUMN lain untuk layanan jasa perbankan. Kami membuka ruang kerja sama pembiayaan perumahan dengan TNI, Polri serta pemerintah daerah untuk penyediaan rumah,” jelas pria ramah ini. 

 

Selain itu, Maryono juga intensif mengembangkan BTN digital channel karena Bank BTN bekerja keras membangun digital ecosystem. Tak hanya itu, Bank BTN juga melakukan perluasan akses layanan perbankan, dan KPR khususnya bisa dilakukan lewat website, HYPERLINK “http://www.btnproperti.co.id”www. btnproperti.co.id yang sudah ditingkatkan fiturnya diharapkan bisa menarik lebih banyak aplikasi KPR online. “Portal kami yang lain juga HYPERLINK “http://www.rumahmurahbtn. co.id”www.rumahmurahbtn.co.id menarik banyak peminat dengan fitur-fitur yang memudahkan pembelian rumah lelang. Layanan perbankan di era digital membuat kami harus terus berinovasi menambah fitur di channel digital kami karena saat ini dan ke depan transaksi digital terus meningkat,” ujar penggemar wayang itu.

 

Bank BTN juga, lanjut Maryono, mendukung sinergi BUMN serta Himbara khususnya dalam mengembangkan ATM Merah Putih tahun lalu dan pada tahun ini pihaknya akan meluncurkan QR pay BUMN yang bernama “LinkAja”. Selain itu, Bank BTN juga akan meningkatkan fee based income dari berbagai sumber, antara lain sebagai agen penjual produk investasi, asuransi, dan transfer uang. Bank BTN juga tahun ini menjadi salah satu bank penyalur Fasiltas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) guna mendukung program sejuta rumah, hal itu terlihat Bank BTN pada tahun 2019 akan menyalurkan KPR sebanyak 850.000 unit, jumlah tersebut naik 100.000 unit dibandingkan target tahun 2018 yang sebesar 750.000 unit.

 

“Kami tahun ini resmi menjadi salah satu bank penyalur FLPP, artinya kami akan secara optimal mendukung program sejuta rumah dari pemerintah. Selain FLPP, kami juga mengembangkan skema pembiayaan untuk pembangunan perumahan antara lain KPR ABCG yang menggandeng akademisi, komunitas dan juga pemda,” tuturnya. Kesuksesan Bank BTN dalam menjawab tantangan tak lepas dari sikap profesionalisme Maryono, maka dari itu, selama memimpin mengajarkan harus profesional dalam bekerja dan bersikap karena sebagai manusia tidak lepas dari lingkungan sosial yang menuntut atau membuat kita harus beradaptasi dan fleksibel. Namun, kata Maryono, jangan sampai proses adaptasi tersebut membuat kita tidak profesional dalam bertindak dan membuat keputusan yang strategis. “Posisi sebagai BUMN juga membuat kami memikul tanggung jawab perusahaan yang lebih besar, BUMN diwajibkan siap mendukung pemerintah dalam program yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Dalam mengemban misi tersebut kita harus menempatkan kepentingan negara dan masyarakat. Namun, kami harus tetap profesional, disiplin, dan berintegritas,” pungkas Maryono.

M. Awaluddin, Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero), Membawa Transformasi AP II

Naskah: Suci Yulianita Foto: Dok. MO

Menjabat Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) sejak 2016 lalu, M. Awaluddin telah menorehkan prestasi membanggakan. Tanpa butuh waktu lama, di bawah kepemimpinannya, AP II telah bertransformasi dan mencapai hasil membanggakan. Selain menggenjot laba perusahaan, berbagai inovasi digulirkan untuk menciptakan bandara-bandara di bawah AP II semakin nyaman. Belum lagi, rencana go international pada 2019 ini.

 

Ya, tak salah memang jika Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI memberinya amanat untuk memimpin AP II pada September 2016 lalu, yang sebelumnya menjabat salah satu direksi di Telkom Indonesia. Di bawah komando Awaluddin, kinerja AP II kian mentereng. Sebagai langkah awal saja, pada 2017 AP II berhasil meningkatkan pendapatan sebesar Rp8,24 triliun atau meningkat 24 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp6,65 triliun. Tak hanya itu, AP II juga berhasil meningkatkan arus penumpang pesawat di 13 bandara yang dikelolanya, dari 95 juta penumpang pada 2016 naik 10,83 persen menjadi 105 juta penumpang pada 2017.

 

Sejak pertama kali diberi amanah memimpin AP II, pria kelahiran Jakarta 15 Januari 1968 ini bekerja ekstra dengan program-program transformasi yang telah disusunnya, yakni transformasi bisnis dan portofolio usaha, transformasi infrastruktur dan sistem operasi, serta transformasi human capital. Diakui Awaluddin, program transformasi tersebut dilakukan untuk sebuah perubahan besar pada AP II. Salah satu keberhasilan dari transformasi tersebut adalah membawa AP II lebih banyak menggunakan teknologi digitalisasi dalam proses bisnisnya dan itu sudah berhasil diterapkan pada 2018. Antara lain, pengembangan digital mobile, yakni aplikasi Indonesia Airport App yang memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi para penumpang.

 

Kemudian, Airport Operation Control Center (AOCC) sebagai pusat kendali sisi operasi bandara yang akan mempermudah operator bandara untuk melakukan fungsi kontrol kelancaran operasional terminal, baik sisi darat maupun sisi udara. Keberhasilan tersebut, selain karena sang nakhoda juga tentu karena kerja tim yang solid. Apalagi, tim AP II yang mayoritas dari generasi milenial ini, siap untuk bekerja dan berpikir dengan teknologi digital. Jadi tak sulit baginya untuk mewujudkan harapannya itu. Pencapaian membanggakan pun berhasil diraih di tahun 2018. Sepanjang Januari – Desember 2018 AP II telah melayani 115 juta penumpang, yang artinya mengalami peningkatan sebesar 9,5 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya dengan jumlah penumpang sebanyak 105 juta penumpang. Selain itu, salah satu bandara yang dikelola AP II, Bandara Soekarno Hatta juga meraih capaian membanggakan, yaitu dinobatkan sebagai bandara dengan koneksi rasio penerbangan terjadwal paling banyak atau paling terkoneksi ke-2 di Asia Pasifik dan terkoneksi ke-10 di dunia.

 

Sangat membanggakan jika melihat pencapaian ini berhasil mengalahkan bandara besar, seperti Bandara Incheon-Korea, KLIA Malaysia, dan Bandara Hongkong berdasarkan Megahubs International Index 2018-The World’s Most Internationally Connected Airports yang dikeluarkan oleh lembaga air travel intelligence asal Inggris, OAG. AP II memang selalu memberikan pelayanan maksimal kepada semua bandarabandaranya, tak hanya Soekarno Hatta sebagai bandara terbesar di Indonesia. Selain fasilitas bandara, akses transportasi menuju bandara juga terus dikembangkan seperti beroperasinya Skytrain yang menghubungkan Terminal 1, 2 dan 3 serta adanya Kereta Bandara di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, beroperasinya Kereta Bandara Minangkabau Ekspress di Bandara Internasional Minangkabau – Padang. Lalu, beroperasinya Light Rail Transit (LRT) di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang. 

 

Maka tak heran jika bandara lain di bawah AP II juga meraih capaian membanggakan. Sebagai contoh, capaian kinerja masing-masing bandara terangkum dalam penilaian Skytrax pada tahun 2018. Khususnya 4 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura II memperoleh capaian bintang 3 hingga 4. Bandara Internasional SoekarnoHatta memperoleh 3 bintang. Sedangkan, Bandara Internasional Kualanamu, Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, dan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru memperoleh 4 bintang. Sepanjang tahun 2018, AP II juga telah mengelola beberapa bandara baru yang tersebar di Indonesia, seperti Bandara Internasional Kertajati Jawa Barat, Bandara Tjilik Riwut Palangkaraya, dan Bandara Banyuwangi Jawa Timur. Dengan demikian, AP II telah mengelola 16 bandara yang tersebar di seluruh nusantara. Namun pada 2019 ini, AP II rencananya akan mengelola tiga bandara baru lagi, yaitu Bandar Udara Raden Inten Lampung, Bandar Udara Fatmawati yang berlokasi di Bengkulu, serta Bandar Udara Tanjung Pandang di Kepulauan Bangka Belitung. Sehingga, total bandara yang dikelola AP II menjadi 19.

 

Sukses bertransformasi pada 2018, AP II akan mengusung tema ‘Go Global’ yang mengaplikasikan 3 strategi bisnis, “Go International, Go Digital, Go Excellence” pada 2019 ini. Membawa tema tersebut, 
AP II optimis akan lebih besar serta mampu menunjukkan capaian dan kinerja membanggakan dalam mengelola bandara. Setelah berhasil menguasai wilayah nusantara, AP II kini memiliki mimpi dan target untuk go international. Bukan sekadar mimpi lantaran AP II telah melihat kesempatan yang terbuka untuk bisa mengelola bandara di negara lain. Sejalan dengan visi perusahaan menjadi ‘The Best Smart Connected Airport Operator in Region’, pemimpin yang tak sungkan terjun langsung ke bawah ini terus berkomitmen memberikan yang terbaik bagi masyarakat, baik dari sisi infrastruktur hingga digital airport experience. Karena baginya, kenyamanan dan kepuasan penumpang, khususnya masyarakat Indonesia menjadi salah satu hal yang paling penting.

Nadiem Makarim, Founder & CEO PT Gojek Indonesia, Mentransformasi Go-Jek Sebagai Super APP

Naskah: Giattri F.P. Foto: Fikar Azmy

"Saya ingin Go-Jek 10 tahun dari sekarang atau 20 tahun dari sekarang akan dibicarakan sebagai perusahaan yang membuktikan bahwa teknologi dapat berpengaruh besar pada ekonomi, yakni membawa dampak evolusi besar pada masyarakat."

 

Belum lama ini CEO PT Go-Jek Indonesia (Go-Jek) Nadiem Makarim masuk ke dalam daftar The Bloomberg 50 Tahun 2018. Daftar tersebut merupakan daftar 50 tokoh atau inovator yang telah mengubah lanskap bisnis global dengan strategi yang terukur dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Menurut Bloomberg, pria yang akrab disapa Nadiem ini dinilai berhasil mentransformasi Go-Jek sebagai Super App asal Indonesia menjadi aplikasi yang kehadirannya dinantikan di pasar regional seiring dengan diumumkannya rencana ekspansi internasional perusahaan tersebut. Go-Jek yang dirintis pada 2011 lalu dianggap sebagai perusahaan ride-hailing dan telah bertransformasi menjadi sebuah Super App yang menyediakan akses ke berbagai layanan termasuk transportasi, pembayaran, pesan-antar makanan, logistik, dan berbagai layanan on-demand lainnya.

 

Pekan pertama Februari lalu, Go-Jek juga telah mengumumkan finalisasi putaran pendanaan Seri F yang diperoleh dari beberapa investor, yakni Google, Tencent, dan JD.com. Tak hanya mengumumkan dana segar yang baru diperoleh, perusahaan ride-hailing ini juga mengklaim sebagai layanan mobile on-demand dan platform pembayaran terbesar di Asia Tenggara. Dilihat dari total nilai transaksi bruto (GTV) tahunan di semua pasar yang mencapai USD9 miliar (sekitar Rp126,7 triliun), sebagian besar memang disumpang oleh layanan pembayaran Go-Pay. Dari total GTV, transaksi ekosistem Go-Pay menyumbang USD6,3 miliar atau sekitar Rp88,7 triliun. Sementara layanan pesan antar makanan, Go-Food meyumbang angka USD2 miliar atau sekitar Rp28,1 triliun. Nilai transaksi yang diperoleh Go-Food menjadikannya layanan pesan-antar makanan terbesar di Asia Tenggara.

 

“Go-Food telah menjadi layanan pesan antar makanan terbesar di regional (Asia Tenggara). Sementara, Go-Pay telah digunakan untuk memproses tiga perempat dari pembayaran mobile di Indonesia,” ungkap pria yang meraih gelar MBA di Harvard Business School ini. Menurut riset dari Financial Times Confidential Research akhir 2018 lalu, GoPay menjadi platform pembayaran digital terpopuler di Indonesia. Saat ini, Go-Jek mengaku memiliki hampir 300.000 merchant online maupun offline di Indonesia. Sebanyak 80 persen di antara pedagang makanan tersebut adalah UMKM, memposisikan GoJek sebagai pendorong pemberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah di Tanah Air.

 

Sementara, Go-Pay telah bekerja sama dengan 28 lembaga keuangan untuk memberikan akses ke jutaan keluarga Indonesia. Inovasi yang dikembangkan di payment channel ini, yakni layanan untuk berdonasi di masjid, yayasan, dan lokasilokasi yang terdampak bencana melalui kerja sama dengan lembaga yang berwenang. Dari hasil kerja sama ini, total donasi dari pengguna Gopay yang telah disalurkan melalui lembaga berwenang ke pihak terkait yang membutuhkan di tahun 2018 mencapai Rp4,8 miliar. Saat ini, Go-Jek telah memperluas jaringan bisnis ride-hailing di Singapura, Vietnam, dan Thailand. Nadiem mengatakan masih ingin menambah negara-negara baru untuk memperluas jangkauan Go-Jek. “Kami sangat ingin memperluas visi kami ke lebih banyak negara dan di saat yang bersamaan menempatkan Indonesia pada peta sebagai pusat inovasi teknologi regional,” kata pria yang lahir pada 4 Juli 1984 ini.

 

Bersama afiliasinya, Nadiem menyebut bahwa Go-Jek telah beroperasi di lima negara dan 204 kota serta wilayah di seluruh Asia Tenggara. Ia mengatakan, telah memiliki 2 juta mitra kemudi dan 400.000 merchant. Dari putaran pendanaan Seri F, Go-Jek dikabarkan mendapatkan suntikan dana sebesar USD920 juta (sekitar Rp13 triliun). Apabila angka ini benar maka valuasi Go-Jek ditaksir mencapai USD9,5 miliar (sekitar Rp132 triliun). Jika nantinya valuasi bisa menembus angka USD10 miliar maka Go-Jek akan menjadi startup “Decacorn” pertama dari Indonesia. Istilah “Decacorn” digunakan untuk perusahaan rintisan digital yang mencapai angka valuasi tersebut. Nadiem mengaku, ia tak pernah mengira bahwa industri transportasi yang ia bangun menjadi salah satu perusahaan teknologi terbesar di Asia Tenggara.

 

Putra dari pasangan Nono Anwar Karim dan Atika Algadrie itu mengatakan, niat awal mendirikan Go-Jek lebih kepada keinginan untuk memperbaiki transportasi di Indonesia. Namun, dalam kurun waktu 6 tahun, lulusan magister bisnis administrasi Harvard tersebut mencatatkan dirinya dalam sejarah, yakni sebagai unicorn pertama di Indonesia. Pertumbuhan Go-Jek yang pesat saat ini, dipandang bersaing keras dengan Grab, yakni perusahaan Singapura yang didirikan oleh teman Nadiem juga, Anthony Tan. Namun, ia menggarisbawahi, tekanan yang ada justru membuatnya kini semakin maju. “Hal ini benar-benar sulit ketika Anda sedang berada di fase persaingan ini, ketika segala hal beradu dan bersaing ketat. Namun ketika Anda melangkah lebih, Anda akan menyadari bahwa memang dibutuhkan suatu kompetisi untuk menciptakan skala dan membawa perubahan,” imbuh Peraih “Asian of the Year” pada 2016 sebagai individu paling berpengaruh di Asia ini.

 

Ia berharap keberadaan Go-Jek dapat menginspirasi Indonesia dan daerah besar lainnya bahwa teknologi dapat memperbaiki kehidupan banyak orang. “Saya ingin Go
Jek 10 tahun dari sekarang atau 20 tahun dari sekarang akan dibicarakan sebagai perusahaan yang membuktikan bahwa teknologi dapat berpengaruh besar pada ekonomi, yakni membawa dampak evolusi besar pada masyarakat,” tutur suami dari Franka Franklin tersebut. Ketika ditanya siapa sosok inspirator, Nadiem segera menjawab, yaitu tim dan pengemudi ojek.

 

“I think I’m huge fan of my own team and my drivers. I get inspired everyday by my BoD, my manager, my employee. So, I don’t look outside actually. Every day I get inspired by my team and my drivers. Tim kami adalah anak-anak muda dengan kreativitas dan pemikiran luar biasa. Everyone here not looking for money. We here have a purpose. That’s something you can’t buy from anywhere. Vice president- vice president kami usianya masih 25-26 tahun. Mereka sudah menjadi CEO multi huge business. Kami tidak memandang dari pengalaman dan usia, tetapi melihat dari drive, strong, and hunger to make a change,” tutupnya.

Nariman Prasetyo, Direktur Utama PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk, Ikhlas Tak Terbatas

Naskah: Suci Yulianita Foto: Dok. WEGE

Puluhan tahun lamanya Nariman Prasetyo telah mengabdikan hidupnya untuk negeri melalui salah satu perusahaan BUMN, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Berkat ketekunan, kerja keras, dan kerja ikhlas, kariernya yang dimulai dari bawah ini meningkat perlahanlahan. Sampai kemudian ia dipercaya memimpin anak usaha WIKA, yakni PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung). Di bawah kepemimpinannya, kinerja WIKA Gedung kian mentereng, selain laba yang meningkat, Nariman juga berhasil membawa perusahaannya melantai di bursa.

 

Diamanahkan menjabat sebagai Direktur Utama WIKA Gedung sejak April 2017 ia sudah diberi tugas yang cukup berat, yakni bagaimana perusahaan yang berdiri sejak 24 Oktober 2008 tersebut dapat melantai di bursa saham. Berkat kerja keras dan kerja tim yang solid, pada Oktober 2017 lalu, WIKA Gedung resmi menjadi emiten ke-30 dengan kode saham WEGE. “Untuk mencapai ini ada effort khusus yang memang menjadi energi tambahan bersama. Semua manajemen dan direksi WIKA Gedung bekerja keras, jangan sampai momentum ini lewat,” ungkap Nariman saat ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya yang sederhana. Pendapatan WEGE kini berhasil meningkat. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2018, WEGE membukukan pendapatan Rp3,8 triliun di akhir September 2018, atau tumbuh 60,89 persen dibandingakan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,4 triliun. Sementara itu labanya juga melonjak 65 persen menjadi Rp288,74 miliar pada periode September 2018.

 

Di awal 2018, WEGE sebenarnya berencana menargetkan laba bersihnya sebesar Rp426 miliar, tetapi pada pertengahan tahun, target laba bersih tersebut direvisi dan dinaikkan menjadi Rp443 miliar. “Alhamdulillah, semua rencana kerja anggaran perusahaan bisa terpenuhi. Saya optimistis laba bersih hingga akhir Desember 2018 ini tercapai Rp443 miliar meski masih dalam proses audit. Ini bisa dilihat berdasarkan order book-nya di tahun 2018 juga bisa lebih dari yang kita rencanakan, kurang lebih Rp6 triliun,” ucap ayah tiga anak ini. Sedangkan untuk 2019, Nariman menargetkan bisa tercapai sebesar Rp533 miliar, meningkat sekitar 20 persen dari tahun 2018. Rasanya tak sulit bagi WEGE untuk mencapai target tersebut. Apalagi kondisi industri properti pada 2019 ini kembali menggeliat, serta ada beberapa kontrak baru yang akan dijalankan WEGE sepanjang 2019 ini, antara lain kontrak pembangunan apartemen dari WIKA Realty selaku developer.

 

Melihat kinerja WEGE yang apik, rasanya tak heran jika WEGE pun kebanjiran proyek demi proyek dari perusahaan swasta, selain proyek-proyek dan penugasan dari pemerintah. Proyek-proyek swasta dengan prosentase 40 persen ini, antara lain proyek dari Podomoro, Transpark, dan Puncak Group di Surabaya. Apa yang membuat banyak pihak begitu percaya pada WEGE adalah profesional dan komitmen WEGE pada klien terutama dari jadwal pelaksanaan. “Kita enggak pernah terlambat bahkan kalau kita di-challenge untuk bisa dipercepat, kita percepat. Dan dari kualitas, ini sudah terbukti di beberapa produk kita sudah bertaraf internasional, seperti Jakarta International Velodrome yang menjadi salah satu velodrome terbesar di Asia Tenggara. Kemudian, beberapa pekerjaan high risk lainnya dengan standar tinggi, ini sudah kami selesaikan. Di sisi lain, inovasi-inovasi kami juga bisa lebih unggul,” kata pria ramah ini. 

 

Salah satu inovasi yang akan dikembangkan WEGE ke depan adalah penerapan pembangunan gedung modular. Saat ini sudah ada beberapa proyek yang sudah menggunakan bangunan modular ini, antara lain untuk penginapan di destinasi pariwisata di Pulau Merah, Banyuwangi. Menurut Nariman, ini merupakan salah satu strategi untuk membuat sebuah housing yang sangat cepat dengan cara portable dan akan menjadi sebuah peluang untuk kebutuhan pembangunan proyek-proyek yang harus dikerjakan cepat, seperti misalnya proyek pembangunan sekolah di daerah Jakarta. Tak hanya bicara dari segi bisnis, WEGE pun rupanya memiliki komitmen tinggi terhadap lingkungan hidup. Salah satu bukti komitmen tersebut, antara lain penanaman 1000 bibit pohon Mangga Kiojay di daerah Karawang, Jawa Barat, pembuatan tempat MCK di beberapa daerah yang minim MCK, hingga kepedulian pada dunia pendidikan dengan merenovasi sekolah yang tidak layak. WEGE pun berpartisipasi dalam pemulihan pasca gempa Lombok dan Palu pada 2018 lalu.

 

“Pada saat di Lombok kita mengerjakan secepatnya fasilitas untuk pendidikan. Di sana ada RKBS, Ruang Kelas Belajar Sementara. Kita di sana seminggu bisa bikin 8 ruang kelas. Meski RKBS, tapi bangunan itu kita buat dengan standar tinggi, untuk 10 tahun pun belum rusak. Selain itu Puskesmas, kemudian ada juga renovasi utama untuk sekolah-sekolah permanen yang rusak, kita perbaiki sampai baru lagi. Di Palu pun demikian. Kami terlibat membuat hunian sementara (huntara), kita bikin beberapa unit,” Nariman menjelaskan. Nariman yang memiliki filosofi ‘bekerja dengan ikhlas’ ini adalah sosok pemimpin yang sangat humble dan merangkul seluruh timnya. Hal tersebut tercermin dari kesan pertama yang terlihat.

 

Sungguh sama sekali tak ada kesan bossy ketika melihatnya berbicara dengan stafnya, justru kerap kali terlontar guyonanguyonan yang membuat suasana cair. Ya, bagi Nariman, seorang pemimpin tak berarti harus selalu memerintah. Melainkan harus berada di tengah-tengah dalam arti harus menerima dan siap juga dipimpin selain memimpin. “Artinya kalau leader seperti ini, bisa meyakinkan mereka untuk tenang, nyaman, dijaga, dan ada yang bertanggung jawab dalam bekerja. Kemudian, kalau kita punya kawan di kanan dan kiri, kita harus solid. Lalu ke atas, leader juga punya atasan, kita juga harus support policy dan kebijakannya. Kalau semua orang seperti itu akan menjadi kuat sekali. Dan itu yang diterapkan di WEGE, baik di manajemen, di proyek ataupun di saya pribadi sebagai leader di WEGE,” pungkas Nariman.

Soeroso, Direktur Utama Bank Jatim, Sukses Menjaga Kepercayaan Publik

Naskah: Subchan Husaen Albari Foto: Istimewa

Ditunjuknya Soeroso menjadi Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim) adalah keputusan yang tepat. Keberhasilannya mengangkat dan mengelola Bank UMKM Jatim dengan aset Rp1,567 triliun pada 2015 lalu menjadi alasan kenapa ia layak menduduki pucuk perusahaan.

 

Tiga tahun berselancar di Bank Jatim, kini Soeroso mampu membuktikan kinerjanya dengan beragam prestasi yang membanggakan. Pendapatan Bank Jatim tidak hanya sekedar meningkat. Namun, kepercayaan publik terhadap bank milik pemerintah daerah Jawa Timur ini juga naik.  Membangun kepercayaan (trust) dalam mengelola bisnis perbankan menjadi syarat utama bagi Soeroso untuk memajukan Bank Jatim sebagai bank terbesar di tanah pahlawan. Kualitas pelayanan perbankan menjadi indikator konkret untuk menciptakan kepercayaan pemahaman tentang perbankan dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Sebab itu, dengan layanan yang prima serta fasilitas yang memadai, pendapatan Bank Jatim di bawah kepemimpinan Soeroso kini tumbuh subur sehingga mendapat apresiasi dari berbagai pihak termasuk Gubernur Jatim Soekarwo.

 

Soeroso meyakini ke depan masyarakat akan semakin pandai dan berhati-hati dalam memilih bank yang mampu mengakomodasi kebutuhan transaksinya. Mereka hanya akan mau berhubungan dengan bank yang mampu memberikan rasa aman, sekaligus keuntungan pada dana yang mereka tempatkan, tanpa ada rasa curiga tentang dananya. (Trust and Believe, Kepercayaan & Percaya). Tidak hanya itu mereka juga hanya akan memilih bank yang mengerti kebutuhan mereka dan mampu memberikan banyak kemudahan dalam pelayanan. “Bisnis perbankan itu kuncinya adalah kepercayaan dan pelayanan yang baik. Kenapa percaya karena kita bekerja menarik orang untuk percaya bahwa nabung di Bank Jatim itu aman, layanannya mudah, beragam fasilitas, dan menarik,” ujar Soeroso belum lama ini. 

 

Terbukti kinerja keuangan Bank Jatim menunjukkan performa yang bagus dan tumbuh bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY). Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2018 (audited), aset Bank Jatim tercatat Rp62,69 triliun atau tumbuh 21,68 persen laba bersih Bank Jatim tercatat Rp1,26 triliun tumbuh 8,71 persen (YoY). Selama Tahun 2018 Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Jatim tumbuh luar biasa dengan mencatatkan pertumbuhan 27,78 persen (YoY), yaitu sebesar Rp50,91 triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang signifikan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat kepada Bank Jatim meningkat. Selain itu, pencapaian DPK  tersebut diperkuat dengan CASA rasio Bank Jatim sebesar 75,41 persen (selama lebih dari 15 tahun, CASA rasio Bank Jatim berada di atas 65 persen). 

 

Di tengah-tengah kondisi perekonomian global yang masih belum stabil sepanjang tahun 2018, Bank Jatim masih mampu mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar Rp33,89 triliun atau tumbuh 6,74 persen (YoY). Kredit di sektor korporasi menjadi penyumbang tertinggi selama tahun 2018, yakni sebesar Rp7,26 triliun atau tumbuh 12,67 persen (YoY). Lalu Rasio keuangan Bank Jatim posisi Desember 2018 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, antara lain return on equity (ROE) sebesar 17,75 persen, net interest margin (NIM) sebesar 6,37 persen, return on asset (ROA) 2,96 persen. Sedangkan, biaya operasional dibanding pendapatan operasional (BOPO) masih tetap terjaga di angka 69,45 persen. Sebagai perusahaan terbuka, tren kenaikan harga saham Bank Jatim (BJTM) juga menjadi perhatian masyarakat, selain karena kenaikan tren harga saham yang ditunjukkan oleh BJTM dari tahun ke tahun, pembagian deviden yang selalu meningkat setiap tahunnya menjadikan saham BJTM sebagai salah satu saham favorit pilihan masyarakat dengan market capitalization BJTM mencapai Rp10,33 triliun di akhir tahun 2018. 

 

Tidak hanya itu, sampai dengan Desember 2018 Bank Jatim memiliki total layanan sebanyak 1.684 layanan, baik layanan konvensional maupun syariah. Bank Jatim saat ini telah memiliki layanan e-banking, seperti ATM, sms banking, internet banking, serta mobile banking untuk memberikan kemudahan kepada nasabah bertransaksi di manapun dan kapanpun berada.  Soeroso mengungkapkan, selain telah bekerja sama dengan jaringan ATM Bersama dan jaringan Prima (termasuk Prima Debit), yang terbaru, Bank Jatim telah bergabung dalam Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) yang berarti kartu ATM Bank Jatim dapat digunakan pada seluruh ATM dan merchant di Indonesia yang berlogo ATM Bersama, Prima, dan GPN tanpa dikenakan biaya apapun. Banyak inovasi dan pembaharuan yang dilakukan Bank Jatim. Soeroso ingin bank yang dipimpinnya memberikan kontribusi untuk pembangunan daerah.

 

“Bank Jatim selama ini memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah sekaligus motor percepatan pembangunan daerah karena kita banyak bekerja sama dengan para UMKM dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat,” jelasnya. Meski ada sejumlah bank mengaku kesulitan memenuhi Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/12/PBI/2017 yang menyatakan mulai 2018 seluruh perbankan diharuskan memiliki portofolio kredit ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah sebesar 20 persen, ternyata Bank Jatim justru sudah memenuhi ketentuan penyaluran kredit ke UMKM. Soeroso menyatakan porsi kredit Bank Jatim ke sektor UMKM mencapai 79,09 persen terhadap total kredit Bank Jatim di tahun 2018. Bila dirinci berdasarkan sektornya, penyaluran kredit Bank Jatim UMKM ke sektor produktif sudah mencapai 22,41 persen dari total kredit. Soeroso mengaku tidak terlalu kesulitan untuk memenuhi kewajiban dar Bani Indonesia (BI) lantaran segmen UMKM memang menjadi ujung tombak pembiayaan Bank Jatim.

 

Sampai Agustus 2018 total kredit UMKM Bank Jatim mencapai Rp25,98 triliun atau tumbuh sebesar 8,4 persen secara YoY dari posisi Agustus 2017 lalu sebesar Rp23,97 triliun. Segala pencapaian Bank Jatim selama tahun 2018 mendapat apresiasi seiring berbagai penghargaan yang telah diraih. Setidaknya ada 20 ajang penghargaan yang diikuti dengan kurang lebih 30 awards yang telah diraih Bank Jatim di tahun 2018 di bawah kepemimpinan Soeroso, antara lain berhasil membawa pulang beberapa penghargaan pada ajang Public Relations Indonesia Awards (PRIA) 2018. Penghargaan didapat pada 3 kategori, yaitu predikat Bronze untuk Media Cetak Internal, Silver untuk Kanal Website, serta BUMD terpopuler di media pada tahun 2018.

Suprajarto, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesi (Persero) Tbk, Menakhodai BRI Tangguh Di Tengah Tantangan

Naskah: Iqbal R. Foto: Sutanto

Memimpin salah satu bank komersial terbesar di Indonesia tak mudah seperti membalikkan telapak tangan, apalagi tantangan yang selalu datang silih berganti. Namun lewat tangan Suprajarto, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk/BRI mampu menghadapi tantangan yang kerap datang menghampiri perseroan yang dipimpinnya, hal itu dibuktikan dengan pencapaian yang didapatkan BRI pada 2018.

 

Pencapaian itu terlihat dari harga saham yang bank berkode emiten BBRI catatkan mencetak rekor tertinggi sejak tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kenaikan harga saham bank dengan aset terbesar di Indonesia ini, mendongkrak nilai kapitalisasi perseroan menjadi Rp483,52 triliun. Hingga sesi I perdagangan saham pada 1 Februari 2019, harga saham BRI naik 1,82 persen ke level Rp3.920/saham. Harga saham tersebut berada di level tertinggi setelah memperhitungkan harga saham setelah dua kali pemecahan nilai saham (stock split). BBRI resmi diperdagangkan di bursa saham pada 10 November 2003, dengan harga perdana Rp875 per lembar. Pada 2011, dilakukan stock spilt dengan rasio 1:2. Selanjutnya pada 2017, kembali dilakukan stock split dengan rasio 1:5, saat harga BBRI di kisaran Rp15.000 hingga Rp16.000 per lembar. Langkah ini agar harga saham BBRI terjangkau masyarakat sehingga meningkatkan basis investor ritel domestik.

 

Kenaikan harga tersebut, kata Suprajarto, tak lepas dari kinerja positif perseroan pada tahun buku 2018. Sepanjang 2018, BRI berhasil meraih laba sebesar Rp32,4 triliun, tumbuh 11,6 persen dibandingkan pada 2017. Raihan laba 2018 membuat BRI mempertahankan predikat sebagai bank paling menguntungkan di Indonesia. Selain itu, pencapaian laba pada 2018 juga didukung oleh pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang tumbuh 22,7 persen menjadi Rp23,4 triliun dari setahun sebelumnya yang tercatat Rp19,1 triliun. Sementara, pendapatan bunga bersih (net interest margin) mencapai Rp78,61 triliun. Pendorong profit, ungkap Suprajarto, disebabkan oleh peningkatan efisiensi yang tercermin dari menurunnya rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO). BOPO pada akhir 2018 tercatat 70 persen, turun 70 basis poin dari setahun sebelumnya. “Kinerja keuangan BRI tumbuh berkelanjutan ditopang sektor UMKM.

 

Pertumbuhan positif dan sustainable dengan UMKM sebagai core. Hal tersebut menjadikan BRI bank UMKM terbesar di Indonesia,” ujar Suprajarto. Setelah mencetak laba bersih Rp32,4 triliun, Suprajarto mengaku BRI optimis untuk tahun 2019 mampu meraih kinerja impresif, apalagi kondisi ekonomi makro tahun ini diyakinkan lebih baik dari tahun sebelumnya. “Kami optimistis, laju pertumbuhan kredit tahun ini akan berkisar 12-14 persen dengan kenaikan laba sekitar 10-12 persen, dan NPL 2-2,2 persen,” ungkap pria yang menyukai wayang ini. 

 

Kinerja BRI tahun ini ditopang oleh dana pihak ketiga (DPK) yang diperkirakan bertumbuh 12-14 persen. Meski ada kecenderungan kenaikan suku bunga, BRI yakin, tingkat bunga yang diberikan bakal bersaing. Namun, Suprajarto mengakui, ada tiga faktor yang membuat perebutan dana masyarakat tahun 2019 bakal ketat, yakni pasar modal, surat berharga negara (SBN), dan perkembangan finctech. “Menghadapi fintech, kami menerapkan strategi merangkul dan itu sudah dilakukan dengan sukses beberapa tahun terakhir,” tukasnya. Meski saat ini sudah menjadi bank terbesar di Indonesia, baik secara individu bank maupun secara konsolidasi, kata Suprajarto, pihaknya akan terus memperbesar aset lewat ekspansi usaha. BRI kini tengah merampungkan pembelian saham mayoritas di PT Danareksa Sekuritas. Sekitar 67 persen saham Danareksa Sekuritas sudah dikuasai BRI. Rencana ini tidak akan mengganggu proses pembentukan holding perbankan yang tengah dibentuk pemerintah. Diperkirakan pertengahan tahun ini, Danareksa sebagai holding company bank-bank pemerintah sudah terbentuk.

 

Upaya lain untuk memperbesar aset adalah rencana pembelian asuransi umum. Saat ini, BRI sudah memiliki mayoritas saham di sembilan perusahaan, di antaranya 99 persen BRI Finance, 91 persen BRI Life, 87,1 persen BRI Argo, dan 73 persen BRI Syariah. Suprajarto juga menyebut dari tahun kemarin BRI sudah tidak tertandingi oleh bank-bank lain di Indonesia dari segi aset. “Dan selisihnya akan makin besar, makin besar, dan makin besar lagi,” ujarnya. Keyakinan Suprajarto ini didasarkan pada kinerja dua bank yang menjadi anak perusahaan, yaitu BRI Syariah dan BRI Agro. “Dengan seluruh BRI Incorporated yang kita miliki sekarang, akan semakin mendorong 
aset BRI tumbuh cepat. BRI Syariah yang sudah IPO dan Alhamdulillah harga sahamnya tetap stabil, bahkan akhir-akhir ini naik luar biasa,” tambahnya.

 

Tahun ini, kata Suprajarto, dua bank tersebut ditargetkan untuk naik kelas menjadi Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) III. “Dan kami akan dorong terus pertumbuhan mereka. Dari segi permodalan tentu tidak ada kesulitan karena masih banyak yang bisa kita gelontorkan kepada mereka,” bebernya. Selain itu, saat industri perbankan tengah menghadapi sebuah tantangan baru, yakni Revolusi Industri 4.0. BRI sebagai bank terbesar di Indonesia tidak berdiam diri menghadapi hal tersebut. Bersama BRI, Suprajarto terus beradaptasi dengan bertransformasi melalui digitalisasi perbankan dalam produk dan juga layanannya. BRI telah menjadi pionir dalam mendorong inklusi dan literasi keuangan melalui sentuhan teknologi, dengan tetap fokus pada core business-nya, yaitu pemberdayaan UMKM. Prestasi bank yang berusia lebih dari satu abad ini diapresiasi oleh MarkPlus dengan menobatkan Suprajarto sebagai Marketeer of The Year tahun 2018 dan The Best Industry Marketing Champion 2018 dalam sektor perbankan komersial. Dengan segala pencapaian yang BRI torehkan, Suprajarto pun yakin mimpi besar bank yang berdiri sejak 16 Desember 1895 ini menjadi The Most Valuable Bank in South East Asia pada 2022 akan terwujud.

Vidjongtius, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk, Menjaga Pertumbuhan Kalbe Farma

Naskah: Giattri F.P. Foto: Istimewa

 

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe Farma) Vidjongtius mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan dan margin perusahaan berkode emiten KLBF tersebut.

 

Pada triwulan III/2018, penjualan bersih tumbuh sebesar 3,9 persen mencapai Rp15.678 miliar dibandingkan Rp15.090 miliar pada periode yang sama tahun 2017. Kinerja tersebut menunjukkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah. Di tengah kondisi yang menantang, perseroan masih mampu membukukan pertumbuhan positif, dengan menerapkan kenaikan harga sebesar 3 – 5 persen secara selektif. Marjin laba bersih relatif stabil sebesar 11,5 persen dengan nilai sebesar Rp1.804 miliar atau bertumbuh sebesar 1,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2017, yakni Rp1.779 miliar. Pertumbuhan laba bersih terutama ditopang oleh meningkatnya penjualan, pendapatan operasional, serta pendapatan operasional lainnya yang lebih baik. Bicara soal target 2019, Vidjongtius mengungkapkan, perseroan belum memfinalisasikan. Pasalnya, Kalbe Farma memiliki sejumlah lini bisnis mulai dari obat generik, nutrisi, alat kesehatan, hingga distribusi. “Namun, kami percaya pertumbuhan sales minimal sama dengan 2018 atau sekitar 4 -5 persen,” ujarnya.

 

Di sisi lain, ia mengharapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat stabil karena melemahnya rupiah dapat mengerek harga pokok produksi, tetapi hanya sebagian yang bisa diteruskan kepada kenaikan harga jual. Untuk memperbaiki margin, ia menyebut perseroan terus mengupayakan strategi product mix yang dipasarkan, efisiensi biaya produksi dan distribusi, serta meluncurkan produk baru yang lebih baik. Persaingan yang semakin ketat pada era digitalisasi menjadi tantangan bagi Kalbe Farma untuk segera beradaptasi dengan melakukan transformasi digital untuk menopang kegiatan bisnis. Vidjongtius pun telah menyiapkan beragam langkah untuk transformasi digital. “Dalam 1—2 tahun terakhir, kami melakukan dalam berbagai aspek, contohnya dari sisi internal. Sistem yang tadinya manual, sekarang sudah digital.

 

Secara total, sistem Kalbe sudah online sehingga datanya real time,” ungkapnya. Kalbe Farma juga sudah bisa memonitor penjualan, order, inventaris, hingga produksi dari cabang-cabangnya di berbagai daerah. “Kami sudah punya fondasi yang baik untuk melangkah ke depan kalau kami mau masuk ke big data. Memang harus memperkuat internal dulu sebagai modal utama untuk masuk ke era yang lebih tinggi lagi. Dari sisi eksternal, kami mulai masuk lagi ke area bagaimana memperkuat hubungan businessto-business (B-to-B) dan business-to-costumer (B-to-C). Keduanya kami kerjakan,” urainya. Kepada B-to-B, misalnya, pihaknya sudah menyiapkan aplikasi untuk kerja sama dengan apotek, mulai dari yang sederhana, yaitu order, berikutnya persediaan obat, dan lebih jauh lagi untuk logistiknya. Dengan adanya sistem digital, layanan apotek kepada pelanggan juga meningkat karena stok obatnya lebih siap. “Sekarang sudah lebih dari 10.000 apotek yang tersambung dalam sistem online tersebut,” ujarnya. 

 

Untuk B-to-C, dalam kurun 1—2 tahun ini Kalbe Farma sudah ciptakan Kalbe Store. Kalbe Store seperti e-commerce yang lain, ada produk kesehatan yang berhubungan dengan kebutuhan keluarga. Sekarang anggotanya sudah mendekati 1 juta dan mereka cukup aktif. “Kami juga memiliki beberapa layanan, salah satunya untuk memberi informasi kesehatan kepada konsumen, yaitu layanan Klik Dokter. Layanan itu sebagai pusat informasi kesehatan yang bebas biaya dan yang bekerja itu benar-benar dokter yang melakukan percakapan dengan siapa saja dan layanannya aktif selama 24 jam. Layanan itu bukan untuk mendiagnosis penyakit, tetapi untuk informasi umum,” jelasnya. Berikutnya, Kalbe Farma juga punya layanan Klik Apotek. Layanan ini sudah mulai membangun ekosistem antara dokter-dokter yang praktik dengan pasien dan apotek yang menyediakan obatnya. Dengan demikian, ini terhubung dalam suatu platform sehingga prosesnya akan lebih sederhana karena dihubungkan dengan sistem pembayaran online.

 

Lebih lanjut ia mengatakan, pengembangan digital sudah menjadi suatu kebutuhan pada era digitalisasi. Oleh sebab itu, pihaknya membentuk special business unit (SBU) untuk digital. Di unit itu berkumpul anak-anak zaman now yang melek digital. “Kami juga punya roadmap dalam kurun 5—10 tahun untuk pengembangan digital. Berdasarkan roadmap itu kami mengatur berbagai hal mulai dari organisasi, dan key performance indicator (KPI) yang berbeda dengan yang offline,” tuturnya. Kalbe Farma juga siap untuk memperluas jaringan pasar ke negara-negara Asia Tenggara dengan mendirikan pabrik baru. Saat ini proses pembuatan pabrik sedang berlangsung di negara Myanmar.“Kami sedang menjajaki pasar di Asia Tenggara. Untuk pabrik di Myanmar, kami menyiapkan dana sekitar USD15 juta hingga USD20 juta. Saat ini baru tahap konstruksi. Dananya disiapkan dari belanja modal tahun 2018 sekitar Rp1,5 triliun. Kami menganggarkan dana belanja modal di angka itu setiap tahunnya,” ujar Vidjongtius.

 

Asal tahu saja, pendirian pabrik di Myanmar ini dilakukan dengan skema joint veture (JV) dengan satu perusahaan distributor. Nantinya kepemilikan Kalbe Farma di skema JV ini sekitar 90 persen. Produk yang akan menjadi andalan untuk ekspansi ini adalah Mixagrip. Vidjongtius juga mengatakan, pihaknya tengah melakukan evaluasi untuk masuk ke negara lain, seperti Vietnam dan Filipina dengan skema yang sama, yakni JV. Menurutnya, saat ini Kalbe Farma baru memiliki satu pabrik di luar negeri, yaitu di Nigeria. Pun, Kalbe Farma juga sedang melakukan survei pasar di Himalaya. Keandalan Vidjongtius dalam menakhodai Kalbe Farma berbuah manis dengan diganjarnya beragam penghargaan bergengsi, antara lain meraih dua penghargaan pada ajang The 7th Annual Strategy into Performance Execution Excellence (SPEx2) Award 2018. Penghargaan yang diterima, yakni sebagai The Best of Best Across All Industries dan The Best in Pharmaceutical Industry. Lalu, diganjar penghargaan dari ASEAN Business Advisory Council sebagai The Priority Integration Sector Healthcare 2018 yang diserahkan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia Mohamad kepada Vidjongtius. Di tahun yang sama Kalbe Farma melalui anak usahanya PT Kalbio Global Medika juga didaulat sebagai Penerima Penghargaan Karya Anak Bangsa dari Kementerian Kesehatan RI.



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250