Search:
Email:     Password:        
 





Maruarar Sirait Legislator Terbaik 2019

By Iqbal Ramdani () - 27 March 2019 | telah dibaca 385 kali

Maruarar Sirait Legislator Terbaik 2019

Naskah: Sahrudi/Giattri F.P. Foto: Fikar Azmy & Dok. Pribadi

Kalau seorang anggota DPR RI seperti Maruarar Sirait mampu menjabat hingga tiga periode berturut-turut, itu artinya ia dipercaya rakyat yang diwakilinya. Dan, itu juga artinya ia memang benar-benar bekerja demi rakyat sehingga memperoleh kepercayaan tersebut. Padahal, bagi wakil rakyat, ‘kepercayaan dari rakyat’ adalah sesuatu yang sangat mewah. Tidak bisa dengan mudah didapat, tidak bisa diperoleh hanya dengan mengandalkan materi. Kejujuran, amanah, serta ketulusan mengabdi itulah yang bisa ‘membeli’ kepercayaan dari rakyat. Semua itu dipahami benar oleh pria yang akrab disapa Ara tersebut. Terbukti, ia bisa duduk di kursi parlemen hingga tiga periode mewakili daerah pemilihan Subang, Majalengka, dan Sumedang (SMS).

 

Bahkan, pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 – 2019, Ara meraih suara terbanyak di daerah pemilihan Jawa Barat IX dengan 131.618 suara. Lalu, bagaimana sebenarnya kinerja Ara hingga dipercaya selama 15 tahun menjadi wakil rakyat? Jawabannya satu: karena ia memang merakyat. Pria kelahiran Medan, 23 Desember 1969 ini menuturkan bahwa dirinya sebelum terpilih menjadi anggota DPR pada Pemilu 2004 telah bersentuhan langsung dengan warga Jabar. Hal itu berlanjut hingga saat ini. Ara menambahkan, suatu ketika ia pernah ditanya oleh K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tentang keberhasilannya meraih suara di dapil yang mayoritas penduduknya Muslim, ia menjawab, “Gus, saya temukan Islam yang bersahabat, terbuka, dan cinta perdamaian. Ratusan kali saya masuk musala, masjid, Islamic Center, saya merasa aman dan nyaman,” imbuhnya.

 

Ara memang terlahir dari seorang tokoh nasional yang juga politisi senior, Sabam Sirait. Namun, itu tak menjadi “jualannya” dalam berpolitik. Ia mengagumi sang ayah yang merupakan panutannya dalam berpolitik. Salah satu hal yang selalu dipegang teguh olehnya adalah pandangan ayahnya soal Pancasila. “Ayah saya selalu berpesan untuk selalu membawa nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik bermasyarakat maupun berpolitik karena Pancasila merupakan hasil dan cita-cita para pendiri bangsa. Semangat Pancasila adalah semangat kebersamaan dan gotong royong untuk menyatukan perbedaan dalam balutan Bhineka Tunggal Ika dan merupakan ideologi terbaik untuk Indonesia,” urainya. Sikap itu pula yang melandasinya dalam berpolitik baik di partai maupun di parlemen. Menurutnya, saat ini rakyat sudah pintar menentukan wakil rakyat dan pemimpin mereka bukan karena popularitas belaka, melainkan karena kemampuan dan integritasnya. Terbukti golongan muda seperti Joko Widodo bisa jadi pemenang dalam pemilihan umum presiden dan wakil presiden. Harus diakui, kemampuan Ara, "Jabatan itu penting, tetapi saya diajarkan oleh orangtua saya, jauh lebih penting kepercayaan yang bisa bermanfaat bagi orang lain."

 

Untuk memobilisasi massa memang tidak diragukan lagi. Ia juga memiliki kemampuan mengorganisir jaringan yang luar biasa. Terlebih di lembaga parlemen. Jika kita melihat rekam jejaknya sebagai wakil rakyat, banyak catatan yang menegaskan keberpihakannya terhadap rakyat. Misalnya pada 2012, saat bahan bakar minyak (BBM) akan naik pada 1 April, ia dan PDI Perjuangan menolak kenaikan tersebut. Menurutnya, sumber-sumber pendanaan baru yang legal dapat dilakukan dengan cara lain: memaksimalkan penerimaan negara dari sektor pajak dan cukai, mengambil alih proses impor minyak yang masih dikendalikan pihak ketiga, dan memberlakukan pajak bagi pihak yang berinvestasi ke luar negeri. Alasan yang mendasari fakta bahwa BBM tidak perlu naik itu bagi Ara dapat menjadi solusi untuk kebijakan tersebut. Ketika menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2014 – 2019 di Komisi XI, ia sempat mempersoalkan perihal pengampunan pajak. Ara melihat sebaiknya hanya dilakukan sekali. Jika pengampunan pajak cukup sering dilakukan, menurutnya hal itu justru memperlihatkan bahwa negara tidak siap dalam mengatur urusan pajak. 

 

Ara juga tak sungkan bereaksi jika ada keputusan Pemerintahan Jokowi yang tidak merakyat. Misalnya, ketika rencana Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution memasukkan kebijakan relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI). Pemerintah memutuskan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan dikeluarkan dari kebijakan relaksasi DNI. Pada mulanya, kebijakan ini masuk dalam paket ekonomi ke-16. "Kita harus proteksi sektor UMKM yang kini mencapai 99,3 persen dari total unit usaha. Angka ini setara dengan penyerapan 115 juta tenaga kerja. Artinya UMKM kan penyangga ekonomi kita, jadi harus dilindungi. Masa urusan yang selama ini sudah ditangani UMKM, mesti dikelola asing?" tegasnya. Ia yakin kebijakan tersebut tidak lahir dari Jokowi. Sebab, selama ini Presiden begitu pro kepada pelaku UMKM. “Pak Jokowi menurunkan pajak UMKM dari 1 persen menjadi 0,5 persen. Kemudian, bunga kredit usaha rakyat turun dari 22 persen menjadi 7 persen. Bahkan, Pak Jokowi mengeluarkan kredit tanpa agunan dari Rp5 juta menjadi Rp25 juta,” kata pria yang meraih penghargaan Best Parlementarian (Legislator Terbaik) dalam ajang Obsession Awards 2019 tersebut.

 

Dari kasus ini, Ara mengingatkan para menteri agar tak boleh membawa visi dan misi sendiri. Sebab, visi dan misi ada di tangan Presiden. “Para menteri harus memahami pikiran, hati, serta kepada siapa Jokowi berpihak. Ya, kepada rakyat,” tegas Ara. Kiprah Ara memang tak sekadar lips service. Terbukti, 15 tahun menjadi wakil rakyat ia sudah banyak berbuat untuk dapilnya, tak sekadar mendorong perbaikan dan pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan, tapi juga pengembangan seni, budaya, dan sosial. Misalnya dengan menginisiasi Festival Seni Budaya Sunda dalam rangka HUT ke-440 Kabupaten Sumedang dan HUT ke-18 Kecamatan Jatinangor, Jawa Barat yang mampu menghadirkan ribuan orang dengan menyuguhkan 56 grup kesenian se-Sumedang. Kegiatan kolosal ini dianugerahkan sebagai rekor peserta festival seni budaya sunda reak barong terbanyak dan memberikan penghargaan kepada Ara sebagai kreator kegiatan Seni Budaya Sunda reak barong di Sumedang oleh Original Rekor Indonesia (ORI).

 

Selain itu, Ara juga telah menggelar acara Gebyar Sholawat bersama warga Nahdlatul Ulama di Subang dan Kirab Kebangsaan untuk mengukuhkan persatuan di Jawa Barat. Di sektor olahraga pun demikian. Pendiri sekaligus Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP) ini aktif melakukan peningkatan kualitas olahraga di dapilnya. Kepedulian kepada rakyat ditunjukkan Ara setiap kali mengunjungi konstituennya. Ia tak segan turun ke sawah untuk mengetahui problematika yang dihadapi petani, ojek pangkalan, mengecek harga kebutuhan pokok di pasar-pasar tradisional, hingga mendengar keluhan para nelayan. “Hidup ini hanya sekali, kalau kita bisa berusaha untuk sangat bermanfaat bagi masyarakat dan rakyat, kenapa tidak kita lakukan,” tandas Ara. 

 

Untuk Jokowi-Ma’ruf

Ketika Ara melaksanakan tugas untuk tampil kembali dalam Pileg 2019 dari dapil Jawa barat III, banyak yang beranggapan bahwa itu strategi PDI Perjuangan untuk mengamankan suara Pileg dan Pilpres 2019 di dapil tersebut. Ara sendiri mengakui ketika Pilpres 2014, Jokowi kalah cukup telak di Jawa Barat dan itu dianggap Ara merupakan PR. “Tapi dari data-data dan survey sekarang, kepercayaan publik di Jabar sudah meningkat dan warga Jabar sudah percaya bahwa Pak Jokowi punya kemampuan memimpin bangsa,” terangnya. Terlebih, saat ini di dapilnya sudah ada dua proyek besar yang sudah tuntas dikerjakan di era Jokowi, yakni waduk Jati Gede Sumedang dan Bandara Kertajati Majalengka. Serta, satu proyek yang baru dimulai, yaitu pembangunan Pelabuhan Patimban.

 

Sebagai orang dekat Jokowi, Ara dipercaya menjadi salah satu influencer di Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Ia menggarisbawahi, generasi muda Indonesia harus bersatu, siap meninggalkan feodalisme, dan mengutamakan meritokrasi dalam membangun bangsa dan negara ini. “Bung Karno bersama founding fathers lainnya, seperti Bung Hatta mendirikan republik, negara kesatuan, dan negara demokrasi ini, artinya beliau menolak feodalisme. Nilai demokrasi itu kan ada persaingan, egaliter, ada kompetisi juga,” urainya. Dalam Revolusi Mental yang disampaikan oleh Presiden Jokowi, sambungnya, bagaimana nilai karakter tersebut harus kelihatan, seperti bisa dipercaya, mampu bekerja, tegas, ilmunya cukup, memiliki jaringan, karya, rekam jejak, dan tak kalah penting mengutamakan kepentingan rakyat.

 

“Harusnya pada Pilpres ini, masing-masing kandidat ditanya apa yang sudah dilakukan untuk menuntaskan kemiskinan, memberantas ketidakadilan, membuat pendidikan rakyat lebih baik. Bangsa yang besar itu harusnya bisa melihat orang dari track record-nya, bukan hal lainnya, apalagi berdasarkan berita hoaks,” jelas Ara. Jadi, imbuh Ara, rakyat kita jangan hanya tahu visi misinya saja. “Visi misi memang penting, tapi yang paling penting adalah beliau sudah mengerjakan dan memperjuangkan apa. Nah, Pak Jokowi itu punya proses yang jelas, beliau bekerja sebagai pengusaha, salah satunya di bidang meubel. Beliau ikut berbagai pameran. Lalu, beliau maju ke pemilihan walikota Solo. Kemudian, menang. Di sana, beliau banyak membuat gebrakan sehingga pelayanan publik meningkat. Saat menjadi walikota, saya beberapa kali mengunjunginya,” papar Ara. Lalu saat Jokowi menjadi gubernur, sambung Ara, telah banyak melakukan perubahan di Jakarta dalam pelayanan publik dan membangun komunikasi yang baik. Begitu pun saat dipercaya menjadi presiden, Jokowi telah melakukan kerja nyata.

 

“Seperti yang pernah diutarakan Bung Karno, harus satu perkataan dan perbuatan, konsisten atau tidak,” tegasnya. Lebih lanjut Ara menuturkan, Pilpres itu yang dikedepankan adalah pertama integritas, masing-masing calon bisa dipercaya atau tidak; kedua track record, apa yang sudah dikerjakan untuk persatuan Indonesia. “Apa yang sudah Jokowi dan Prabowo kerjakan, apa yang sudah dilakukan untuk keadilan sosial di bidang pendidikan dan kesehatan, apakah mereka memiliki karakter yang bermusyawarah, senang berdemokrasi atau tidak. Jadi, harusnya ukuran-ukurannya mengacu pada Pancasila dengan melihat track recordnya sehingga rakyat menjadi punya pilihan yang juga didukung oleh ideologi Pancasila serta implementasi dari Pancasila tadi sehingga menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan benar, seperti ujaran kebencian, hoaks, atau isu SARA. Politik yang berkualitas tentu tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, politik yang bermartabat dan berintegritas tentu harus semakin jauh dari hal-hal yang negatif,” tegasnya. Tak kalah penting, imbuh Ara, seorang leader itu tidak boleh gampang mengeluh, “Menurut saya, seorang leader hanya boleh mengeluh kepada dirinya sendiri dan Tuhan,” tandas Ara.

Indonesia Tanpa Diskriminasi

Sebelum tampil sebagai caleg dari Dapil III Jawa Barat, yakni Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, Ara sempat memutuskan untuk rehat dari kancah parlemen. “Karena partai perlu regenerasi, tiga periode menjadi anggota DPR RI, selama 15 tahun saya mewakili Dapil Jabar IX, bagi saya cukuplah,” kata Ara yang berkiprah di parlemen sejak 2004. Bahkan, Ara sudah menyampaikan keputusannya kepada Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua Fraksi PDI Perjuangan Utut Adianto. Namun, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menugaskannya kembali sebagai caleg. "Kalau keputusan pribadi sebenarnya saya tidak mau maju lagi, tetapi sebagai kader saya harus siap," tegasnya.

 

Ketika Ara kembali tampil dalam kontestasi pemilihan umum legislatif tahun 2019, sebagai caleg di Dapil Jawa Barat III, Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur, langkah pertama yang dilakukannya adalah meningkatkan komunikasi dengan kader PDI Perjuangan dan membantu kemajuan DPC, PAC, hingga Ranting PDI Perjuangan di Kota Bogor. Beberapa bulan ini, ia juga sudah turun ke dapilnya untuk bertemu dengan masyarakat, kader partai, sampai dengan tingkat desa, serta melihat realitas di sana agar masyarakat diharapkan nantinya bisa hidup lebih baik. Ia juga telah bertemu Walikota Bogor Bima Arya dan Wakil Walikota Bogor Dede A. Rachim untuk berbincang mengenai berbagai persoalan di kota hujan, salah satunya soal kemacetan. Ia juga sudah bicara dengan Plt. Bupati Cianjur Herman Suherman bagaimana mengatasi kesenjangan di wilayah Cianjur. 

 

“Harus ada sebuah proyek besar, otomatis multiplier effect-nya juga besar. Infrastruktur itu membuka akses masyarakat baik darat, laut, maupun udara. Kami bersyukur waktu kedatangan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu ke Cianjur, beliau juga ingin membuka akses jalan ke Jakarta dan Bandung. Saya dengan Pak Herman akan mengawal ini. Bayangkan kalau jalan itu ada, kan bagus. Harga tanah pasti naik dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Jadi, jangan melihat infrastruktur hanya dari fisik, tetapi soal keadilan juga,” tuturnya. Ara juga telah membuat program kerja yang memang dibutuhkan masyarakat di dapilnya tersebut, Badan Usaha Milik 
Desa (BUMdes) untuk desa – desa tertinggal, advokasi pendaftaran seni dan makanan khas jabar ke indikasi geografis, layanan pengobatan dan melahirkan gratis, memastikan warga ekonomi lemah mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari pemerintah pusat, hingga Rumah Rakyat untuk advokasi konflik agraria di masyarakat.

 

Bahkan beberapa program sangat diapresiasi, seperti Anggaran Desa yang sangat membantu kehidupan masyarakat desa dan Anggaran Kelurahan yang sangat membantu untuk mengatasi kesenjangan dan kemiskinan di kota. Tak lupa ia menguntai obsesinya. “Saya berpolitik dengan suatu agenda yang jelas bahwa Indonesia harus aman, adil, dan menjadi harapan bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa membedakan suku, agama, etnis, bebas berpolitik. Saya ingin Indonesia tanpa diskriminasi.”

TMP, Melahirkan Kader-Kader Berkualitas di Legislatif dan Eksekutif

Kiprahnya dalam dunia kepemudaan telah ia buktikan bersama DPP Taruna Merah Putih (TMP) yang didirikan dan dipimpinnya sejak 10 Januari 2008. Ara telah menguatkan komitmennya untuk mengajak generasi muda untuk berani bertindak dan memperjuangkan hal yang benar serta  memiliki daya saing yang tinggi. Di sinilah sejumlah pesohor baik artis maupun pengusaha bahu-membahu mendukung Ara. Anak muda, kata Ara, harus bisa menjadi kepala dengan memimpin, mewarnai, bahkan memengaruhi untuk hal yang baik. Menurutnya, ada tiga hal prinsip hidup untuk generasi muda, yakni belajar cerdas dan tetap berdoa, kedua bermental juara dengan menolak untuk kalah, dan ketiga menerapkan budaya malu. “Kita harus bekerja keras biar terus menang, kita harus terbiasa dengan mental pemenang. Kalau bisa menjadi luar biasa, kenapa harus menjadi biasa?” tandasnya.

 

Dalam membesarkan TMP, Ara juga mengurai pentingnya membangun teamwork. “Tidak ada superman, yang ada superteam. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelemahan dan kekurangannya tentu untuk saling melengkapi, percaya, dan bersinergi yang positif untuk mencapai tujuan,” tukasnya. Tekadnya menjadikan TMP sebagai tempat membangun persatuan ia lakoni dengan berbagai cara. Misalnya, dengan menggelar kirab kemerdekaan merayakan HUT RI ke-72 di Bogor. Kirab bertemakan kebhinekaan ini digelar untuk mem-Pancasila-kan Indonesia. “Jadi, kita buat kirab kebangsaan ini untuk mem-Pancasila-kan Indonesia. Ini dasar negara, kebhinekaan dan kita sudah menyatakan bersatu berbagai suku, agama, ras, kebudayaan semuanya satu Indonesia,” katanya. Kirab ini diikuti ribuan pemuda dan masyarakat. Kirab bertema ‘Mempancasilakan Indonesia, Lintas Suku, Agama dan Budaya’ ini dilepas oleh Ara di kawasan Parungpanjang Bogor, Jawa Barat. Banyak adat budaya daerah ditampilkan di kirab kemerdekaan ini. Mulai dari tari melayu, atraksi barongsai, dan berbagai macam pertunjukan seni daerah lainnya.

 

TMP pun melahirkan kader-kader partai yang militan, berkualitas, dan selalu memperjuangkan ideologi partai, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pancasila 1 Juni 1945. Ada 18 orang kader TMP di DPR RI, antara lain Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang juga menjadi Wakil Ketua DPR RI Utut Adianto, Rieke Diah Pitaloka, Sukur Nababan, Charles Honoris, Nico Siahaan, I Gusti Agung Rai Wirajaya, dan Marinus Gea. Sebanyak ratusan kader TMP juga terpilih di DPRD tingkat I tingkat II, serta tak sedikit yang menjadi kepala daerah di Indonesia; di antaranya Walikota Semarang Hendrar Prihadi (Hendi), Bupati Magelang Zaenal Arifin, Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan dan Ketua Umum APKASI sekaligus Bupati Tanah Bumbu (periode 2010-2015 & 20162018) Mardani Maming. “Semua ini kan ada prosesnya, mulai dari merekrut, mengkader, melatih, mendidik, hingga menugaskan. Itu sangat penting dan tidak ada yang instan, perlu uji coba. Beda kan buah yang matang karena karbitan dengan buah yang matang karena proses alami. Diperlukan kesabaran progesif, yakni sabar untuk berjuang dan terus memperbaiki diri,” pungkasnya.

 

"Bung Karno mengajarkan 'jasmerah' yang artinya jangan melupakan sejarah, saya berpesan kepada anak muda Indonesia penting sekali menghormati sejarah, tatapi juga sangat penting membuat sejarah yang positif dan bermanfaat bagi Indonesia."

 

Dari Sepak Bola Hingga Catur

Selain politisi, Ara juga dikenal sebagai pegiat di bidang olahraga seperti sepak bola dan catur. Di sepak bola, ia dikenal sebagai Ketua Steering Committee (SC) Turnamen Piala Presiden yang sukses digelar tahun 2015, 2017, dan 2018. Bahkan turnamen ini mendapatkan rating tertinggi setelah di audit oleh PricewaterhouseCoopers (PwC). Tak ayal, pada perhelatan Piala Presiden 2019 kini, Ara kembali dipercaya menjadi Ketua SC. Ara menuturkan, turnamen pramusim yang dipimpinnya bebas dari pengaturan skor. Sebab, pihaknya mengutamakan asas keterbukaan. “Saya masih ingat pada tahun 2015, sore-sore di Istana Negara, saya ngobrol sama Pak Presiden. Beliau ingin membuat turnamen sepak bola, pertama yang pertandingannya tidak menggunakan uang negara dan harus berjalan transparan. Makanya setiap pertandingan, hasil pendapatan dari tiket selalu diumumkan.

 

Kedua, harus berjalan secara fair-play dan "kita buktikan industri sepak bola Indonesia kalau transparan dan bersih dari mafia, sponsor berbondong-bondong memberikan sponsornya dalam turnamen ini. Tanpa uang Negara, piala presiden dapat terselenggara dengan baik." Tanpa pengaturan skor. Ketiga, menjadikan Piala Presiden sebagai industri bola yang semakin berkembang dengan adanya turnamen. Keempat, meningkatkan dan menumbuhkan ekonomi rakyat. Kelima, menjadi ajang pencarian dan pembinan prestasi pemain-pemain terbaik bangsa. Karena itulah Piala Presiden ini diaudit oleh PwC dengan hasil yang baik,” tegasnya. Piala Presiden 2019 yang kini dihelat pada 2 Maret – 12 April, Ara menggarisbawahi bahwa turnamen bergengsi ini digelar kembali tanpa uang negara. Menurutnya, seluruh pendanaan murni bersumber dari sponsorship. “Kita buktikan industri sepak bola Indonesia kalau transparan dan bersih dari mafia, sponsor berbondong-bondong memberikan sponsornya dalam turnamen ini. Tanpa uang negara, Piala Presiden dapat terselenggara dengan baik. Kami juga sepakat menaikkan hadiah dari Rp3,3 miliar menjadi Rp3,5 miliar untuk juara 1,” ungkapnya.

 

Belakangan ini citra dunia olahraga di Indonesia tercoreng dengan kasus pengaturan skor (match fixing). Sejumlah petinggi PSSI pun ditangkap oleh Satgas Antimafia Bola. Ara selaku Anggota Dewan Pembina PSSI saat hadir dalam acara Mata Najwa, Rabu (20/2/2019) mengapresiasi kinerja Kepolisian yang dipimpin oleh Jenderal (Pol) Tito Karnavian dan Satgas Antimafia Bola dalam memberantas mafia bola. Dalam acara tersebut, Ara juga membawa pesan dari Presiden Jokowi. “Tadi jam 4 sore, saya ketemu Presiden, Najwa titip pertanyaan ke saya dan saya tanyakan pertanyaan itu ke Presiden. ‘Pak Presiden bagaimana sikap Anda tentang mafia bola? Kata dia cuma satu: ‘Habisi’,” ungkap Ara meniru jawaban Jokowi. Apa yang diutarakan Ara kembali ditegaskan oleh Presiden Jokowi di GOR Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 22 Februari 2019. Presiden memerintahkan agar mafia sepak bola Indonesia dihabisi dan berharap dunia sepak bola benar-benar bersih, termasuk dari para mafia pengaturan skor. Selain sepakbola, Ara juga adalah Pembina Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB Percasi). 

 

Ia bertekad untuk terus memajukan olahraga ini, berbagai turnamen catur telah diselenggarakan untuk mencari bibit-bibit pecatur tangguh di masa mendatang. Dalam dua tahun terakhir saja, sejumlah turnamen catur non master di gelar di sejumlah daerah. Ara pernah menggandeng seorang aktivis senior Hatta Taliwang untuk menggelar sejumlah turnamen catur non master di Jakarta. Menurutnya, turnamen catur harus terus digiatkan untuk melahirkan grand master-grand master baru. Sebab, catur juga dapat mengharumkan nama bangsa di mata internasional. Ia mencontohkan ada pimpinan DPR saat ini yang merupakan salah satu grand master international catur, yakni Utut Adianto. Ara juga mengatakan, catur adalah olahraga yang bisa menjadi inspirasi bagi seorang politisi, yakni mengajarkan filosofi tentang menyatukan perbedaan. Ia berharap semua pihak pun bisa tetap bersatu walau ada perbedaan dalam politik.

 

 

Bersama HIPMI dan KADIN Proaktif Membangun Dunia Usaha

“Saya memandang beliau sebagai tokoh politikus muda, tetapi sarat pengalaman dan selalu menjunjung tinggi persahabatan. Beliau juga sangat tegas dan lurus sehingga kadang-kadang demi menjaga komitmennya, apa yang beliau yakini, sering tidak selaras dengan dinamika politik, tetapi itulah beliau sehingga itu bisa menjadikan beliau tokoh yang berbeda dengan banyak politikus lainnya.” Itulah yang diungkapkan oleh Ketua KADIN Rosan Perkasa Roeslani mengenai Ara yang juga terlibat aktif di organisasi yang berdiri sejak 24 September 1968 ini sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan KADIN. Ara juga dinilai mampu mencairkan pertemuan KADIN dengan Jokowi, seperti saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2017 di Jakarta. Ara yang kala itu menjadi Ketua Pelaksana Rakornas membuat suasana Rakornas menjadi sangat akrab.

 

Biasanya, Presiden hanya datang memberikan arahan dalam sambutan pembukaan dan penutupan. Namun kala itu berbeda, sebab dimulai dengan mendiskusikan masalah yang terdiri  dari 14 kluster dengan menteri terkait. Ia sangat bangga dengan kehadiran pengurus KADIN dari 34 provinsi, serta ratusan pengurus dari kabupaten/kota. Ia juga senang dengan kehadiran presiden di tengah kesibukannya yang luar biasa. “Presiden Jokowi sudah lama tidak hadir di acara KADIN. Bahkan, Pak Jokowi bersedia meluangkan waktu untuk mendetailkan masalah dan solusinya baik dari sisi aturan, kebijakan, anggaran, atau juga pelaksanaanya,” ungkapnya.

 

Ara juga berkiprah di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Bahkan, ia menjadi Anggota Kehormatan HIPMI. Sebagai Anggota Komisi XI DPR sekaligus anggota Pansus RUU Kewirausahaan, ia mendorong pemerintah segera menyepakati RUU Kewirausahaan agar segera disahkan. Ia mengatakan, HIPMI telah membuat program “HIPMI Go to School” untuk anakanak sekolah, “Go to Campus” untuk mahasiswa, dan “Go to Pesantren”. “Kita bisa lihat sendiri HIPMI sangat serius menciptakan pengusaha, padahal itu sangat sulit. Pegawai penting, tetapi pengusaha juga perlu kita dorong supaya pertumbuhannya meningkat,” ucapnya.

 

Ara meyakini RUU Kewirausahaan Nasional akan menjadi instrumen penting untuk menciptakan keadilan dalam ekonomi, sekaligus memangkas kemiskinan.“Pak Presiden Jokowi sudah melakukan langkah luar biasa untuk mengatasi kesenjangan, dan kemiskinan. Sekarang bagaimana meningkatkan jumlah pengusaha di Indonesia. Bayangkan, Indonesia memiliki jumlah penduduk 267 juta jiwa, tetapi jumlah pengusahanya kecil,” papar anggota Komisi Keuangan dan Perbankan DPR itu. Di beberapa negara, lanjutnya, pendidikan entrepreneurship sudah mulai diajarkan sejak usia sekolah. “Ini penting untuk membangun mindset.

 

Kalau di Indonesia kebanyakan menjadi wirausaha karena kultur keluarga, itu bagus. Namun, menurut kami pendidikan kewirausahaan mesti dimulai dari sekolah. Negara juga harus memberikan dorongan dan dukungan konkret, seperti akses permodalan, pajak, mempermudah proses perizinan. Saya rasa, RUU Kewirausahaan ini di masa sidang berikutnya bisa selesai,” tutup Ara.

Tokoh Pemuda Perekat Bangsa

Meski masih tergolong muda tapi sikap, penghargaan, dan pandangan politik Ara sudah jauh ke depan menembus batas suku, agama, ras dan golongan. Bahkan, Ara dengan TMP-nya bersama GP Ansor menggelar Gebyar Sholawat dan Tabligh Akbar di Subang yang dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), K.H. Said Aqil Siradj. Kedekatan Ara dengan nahdliyin juga dibuktikan dengan kehadirannya dalam peringatan hari lahir Muslimat NU ke-73 sekaligus Maulid Nabi SAW di Stadion Utama Bung Karno, Senayan, Jakarta (Minggu, 27/1/2019). Pagi-pagi sekali ia sudah tiba. Ara menuturkan, dirinya datang ke acara tersebut karena memenuhi undangan Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa dan juga Ketua Panitia Pelaksana Yenny Wahid. 

 

Baginya, kedua sosok perempuan ini sangat dihormatinya. Bukan saja karena memimpin organisasi besar, tapi juga upaya serius mereka berdua dalam merajut kebersamaan dan persatuan. “Bu Khofifah dan Bu Yenny merupakan dua sosok perempuan yang kuat, teguh pendirian dalam membela Pancasila serta berintegritas,” terangnya. Menurutnya, Muslimat NU merupakan bagian dari kekuatan civil-society yang ikut merawat Indonesia melalui empat prinsip yang menjadi tema Harlah, yakni sikap tasamuh (toleransi), tawashut (moderat), tawazun (tengah-tengah dan seimbang), serta itidal (adil). Dengan sikap ini, Muslimat NU mengajarkan dan menebarkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Muslimat NU mengajak dan mengajarkan Islam yang damai dan penuh kesejukan,” ungkapnya. Ara juga mengapresiasi deklarasi anti-hoax, anti fitnah, dan anti gibah yang dilakukan Muslimat NU dalam acara yang juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional termasuk Presiden Jokowi ini.

 

Ia yakin hal ini akan berdampak sangat positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab, jaringan Muslimat NU sangat luas dan merata di Indonesia. “Kita jangan mau diadu domba dan hukum harus ditegakkan pada pelaku hoaks, siapapun dia,” tegas pria yang juga dikenal dekat dengan K.H. Abdurrahman Wahid dan Shinta Nuriyah ini. "Saya bersyukur karena saya hanya orang kecil biasa, tetapi punya kawan yang baik-baik, hebat-hebat, dan sangat menginspirasi sehingga saya banyak belajar dari mereka."

 

Ara: Mba Mega dan Mas Jokowi Faktor Penentu Kesolidan dan Kemenangan PDI Perjuangan

Pasca Reformasi-Indonesia tahun 1998, Pemilu kembali digelar tahun 1999, kala itu partai yang berhasil meraih suara terbanyak adalah PDI Perjuangan. Kemudian, pada Pemilu 2004, Partai Golkar sukses mendapat suara terbanyak. Lalu, pada Pemilu 2009, Partai Demokrat menjadi partai yang meraih suara terbanyak. Kemudian pada Pemilu 2014, Partai PDI Perjuangan berhasil memperoleh dukungan terbanyak dari rakyat. “Jadi pasca reformasi, tidak ada satu partai pun yang mampu memenangkan kepercayaan rakyat dua kali berturut-turut. Artinya, mempertahankan dan merawat jauh lebih sulit daripada merebut kemenangan,” terang Ara. Sejatinya, ia bangga terhadap partai yang telah membesarkan dirinya. Bahkan, sejumlah kemajuan PDI Perjuangan mendapatkan apresiasi yang tinggi darinya. Semisal perolehan partainya dalam Pilkada Serentak 2018.

 

Menurutnya, kemenangan partainya di sejumlah daerah adalah bentuk kecermatan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memilih calon pemimpin. Bagi Ara, partai politik yang berhasil adalah partai yang sukses memproses dan menciptakan para pemimpin bukan hanya membaca situasi, melihat figur yang berpeluang untuk kemudian didukung tanpa memerhatikan aspek ideologis, loyalitas, dan pendidikan politik di partai. “Kemenangan PDI Perjuangan di beberapa daerah merupakan kemenangan rakyat. Ini menunjukkan kaderisasi di PDI Perjuangan tidak berlangsung instan. Seorang kader harus selalu melewati proses panjang sebelum dicalonkan menjadi kepala daerah. Keberanian mengusung kader di hampir semua wilayah menunjukkan PDI Perjuangan telah menjalankan fungsi kepartaian dengan baik,” ujarnya. 

 

Ara mengakui bahwa kekuatan PDI Perjuangan adalah ideologi yang kuat, yakni Pancasila. Kemudian ada dua figur utama yang luar biasa, yakni figur Megawati yang memiliki magnet untuk mempersatukan internal partai sehingga PDI Perjuangan menjadi solid. “Karena perjuangan Mbak Mega untuk membangun dan membesarkan PDI Perjuangan. Lalu, Mas Jokowi sebagai figur kader terbaik yang menjadi magnet elektoral. Bahkan, banyak partai atau para pemilih partai lain yang mendukung Mas Jokowi, itu bisa dibuktikan dari suara PDI Perjuangan dalam berbagai survei terakhir menjelang Pemilu 2019 sekitar 25%-28% dan suara Mas Jokowi berkisar 
55%. Artinya, Mas Jokowi juga didukung solid oleh PDI Perjuangan dan pemilih partai lain,” jelasnya.

 

Jika mengacu pada hasil survey tersebut maka gabungan dari kedua tokoh inilah yang membuat PDI Perjuangan memiliki peluang emas untuk membuat sejarah sebagai satu-satunya partai yang mampu memenangkan Pileg dua kali berturut-turut di tahun 2014 dan di tahun 2019. Kedekatan Ara dengan Jokowi memang bukan hal baru. Ia adalah salah satu orang yang mendorong dan memberikan dukungan ketika Jokowi maju mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI hingga menjadi Presiden RI. Dalam satu kesempatan, ia menyebut Jokowi sebagai maestro politik yang andal.

 

“Dulu Pak Jokowi dianggap sebagai Presiden yang lemah, banyak yang menganggap dia boneka. Lihat kenyataannya, Di era Presiden Jokowi, selama empat setengah tahun ini, dia bisa membangun TNI-Polri yang sangat solid, kompak, dalam menjaga NKRI yang berdasarkan Pancasila dan tetap netral serta profesional. Kapolri dan Panglima TNI bersahabat baik dengan Pak Jokowi,” ujarnya. Karena itulah, ia menyatakan kebanggaan baik kepada Jokowi maupun Megawati sebagai figur yang menjadikan PDI Perjuangan semakin dicintai rakyat.

 

 



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250