Search:
Email:     Password:        
 





Rektor Inspiratif 2019, Mendidik dan Menginspirasi

By Syulianita (Editor) - 15 May 2019 | telah dibaca 1081 kali

Rektor Inspiratif 2019, Mendidik dan Menginspirasi

 

Hadirnya figur-figur inspiratif dari dunia pendidikan tinggi, yakni para rektor dari berbagai perguruan tinggi yang kami hadirkan dalam rubrik “Rektor Inspiratif” kali ini tentu bukan sesuatu yang tanpa alasan. Kami menilai mereka adalah akademisi-akademisi yang dengan intelektualitasnya mampu membangun lembaga pendidikan yang mereka pimpin. Dan, itu terbukti dengan prestasi perguruan tinggi-perguruan tinggi tersebut dalam menciptakan mahasiswa-mahasiswa unggulan serta prestasi mereka yang diraih baik dari dalam maupun luar negeri. Hal itu tentu tak lepas dari ide, gagasan, dan pemikiran mereka untuk ikut berperan serta dalam membangun negeri ini khususnya di dunia pendidikan tinggi. Karena itulah, kiprah dan pemikiran para rektor inspiratif itu kami tuangkan di edisi ini. Siapa saja mereka dan seperti apa kiprahnya dalam memimpin? Ikuti halaman berikutnya.

PROF. DR. ADIWIJAYA, Menuju Research & Entrepreneurial University

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto

 

Memiliki filosofi mulia, ingin hidup bermanfaat bagi masyarakat, Prof. Dr. Adiwijaya memilih mengabdi di dunia pendidikan sejak awal meniti karier. Loyalitas, dedikasi, serta pengabdiannya itu kini membuahkan hasil. Ibarat anak tangga, kariernya meningkat setapak demi setapak. Kesuksesannya memimpin Bandung Techno Park pada 2017 lalu membawanya dipercaya mengemban amanah baru, memimpin Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia, Telkom University.

 

Belum lama menjabat Rektor Telkom University, tepatnya sejak agustus 2018 lalu, banyak PR dan tugastugas yang harus diemban Adiwijaya untuk mencapai visi misi Telkom University menuju Global Entrepreneurial University pada tahun 2038. Saat ditemui tim Men’s Obsession di ruang kerjanya beberapa waktu lalu, ia mengaku memang tak mudah mengemban jabatan barunya ini. Apalagi Telkom University di bawah kepemimpinan rektor  sebelumnya, Mochamad Ashari telah mengalami pencapaian yang baik. “Zaman Pak Ashari, Alhamdulillah sudah banyak capaian dan tentunya ini menjadi beban berat untuk penerusnya, paling tidak untuk mempertahankan,” ujarnya merendah.

 

Namun ia optimis, bersama timnya, ia akan mampu membawa Telkom University berkembang lebih pesat lagi hingga mencapai visi misi tersebut. Bukan sekadar ucapan semata, Adiwijaya langsung bekerja ekstra sejak pertama kali menjabat meneruskan tugas dan target yang belum dicapai pada periode sebelumnya, antara lain pengaplikasian ‘dashboard monitoring system’ serta pengembangan ‘sistem kemanan kampus berbasis digital’ yang bisa dipantau langsung oleh security dengan tujuan memberikan keamanan dan kenyamanan untuk seluruh warga kampus. Selain itu, pria kelahiran Majalengka, 21 September 1974 ini, juga mengembangkan program ‘Halo Rektor’ yang bertujuan menjembatani komunikasi dengan seluruh civitas akademika. 

 

“Dengan adanya Halo Rektor, teman-teman civitas akademika di sini bisa menyampaikan keluhan ataupun saran yang konstruktif sehingga kami bisa segera mengatasinya. Jangan sampai mereka merasa tidak memiliki wadah sehingga harus menyampaikan hal itu di sosial media. Dengan program ini kami bisa memantau secara langsung dan mengetahui permasalahan apapun yang ada di kampus ini. Dan, Alhamdulillah bisa berjalan dengan baik dan cepat,” terang ayah empat anak ini.

 

Dalam rangka menuju Global Entrepreneurial University, Adiwijaya bersama tim Telkom University telah melakukan beberapa langkah dan kebijakan yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) 5 tahunan. Dalam renstra pertama, ditetapkan visi untuk menjadi research dan entrepreneurial university di tahun 2023. Dalam hal research, Telkom University telah melakukan banyak kerja sama dengan industri dan Perguruan Tinggi dalam penyelesaian problem-problem yang ada. Hal ini ditunjukkan dengan capaian berupa penghargaan dari Kemenkumham Republik Indonesia sebagai Universitas dengan permohonan desain industri terbanyak 2018.

 

Beberapa hasil penelitian yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat antara lain, partisipasi Telkom University dalam hal penanggulangan masalah polusi Sungai Citarum melalui program ‘Citarum Harum’. Telkom University berperan memantau polusi air melalui teknologi IoT (Internet of Things). Selain itu, dalam hal penanganan banjir, Telkom University mengembangkan ‘Early Warning System’  yang juga menggunakan teknologi IoT. Selanjutnya, ada juga hasil inovasi berupa smart card dan alat deteksi serangan jantung yang sudah digunakan di masyarakat.

 

Telkom University juga bekerja sama dengan beberapa lembaga pemerintah, antara lain BPPT, LIPI, Kementerian Kominfo dan Kementerian Perhubungan. Kemudian untuk industri, selain dengan industri telekomunikasi, Telkom University juga bekerja sama dengan industri yang lain dalam hal pengembangan teknologi. “Misalnya dengan Angkasa Pura, kita mendesain Automated Guided Vehicle (AGV) untuk mengangkut bagasi secara otomatis menggunakan robot. Kemudian, kami juga bekerja sama dengan OJK untuk mengembangkan financial technology,” ungkap penghobi gowes ini. Hasil inovasi tersebut, sebagai implementasi Telkom University dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

 

Pengembangan research yang dilakukan Telkom University juga sudah mendapat pengakuan dari dunia internasional. Telkom University mengembangkan kerja sama untuk mendapatkan research grant dengan beberapa Perguruan Tinggi, seperti dari Malaysia, Korea, dan Skotlandia. Lebih dari ini, beberapa lembaga internasional pun turut memberikan dana penelitian kepada Telkom University. “Nah, ini menambah percaya diri kami bahwa kami bisa meningkatkan level penelitian ke dalam level internasional,” ucapnya seraya tersenyum.

 

Kemudian terkait dengan pengembangan entrepreneurship, selain masuk dalam kurikulum, Guru Besar Matematika ini juga mengembangkan lembaga hilirisasi riset dan inovasi serta inkubasi start up  yang ada di Telkom University, yakni Bandung Techno Park. Dari situ, ia berharap bisa mencetak mahasiswa menjadi lulusan Telkom University yang mampu menjadi entrepreneur dan membuka lapangan pekerjaan, tak hanya menjadi pekerja setelah lulus nanti.

 

Sebelumnya, Adiwijaya sempat diberi amanah untuk memimpin Bandung Techno Park dan membuahkan hasil. Pada 2017 Bandung Techno Park mendapatkan award Widya Kridha sebagai lembaga penguatan inovasi terbaik dari Kemenristekdikti. Karena keberhasilannya itulah, ia kemudian diberi amanah baru untuk memimpin Telkom University.

 

Menyusul Bandung Techno Park, pada 2018 Telkom University juga mendapatkan award Widya Padhi, yaitu sebagai perguruan tinggi dengan inovasi terbaik. Hal tersebut menunjukkan bahwa pengembangan entrepreneurship oleh Telkom University telah mendapat pengakuan dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah. Hingga saat ini, sudah lebih dari 30 startup yang diinkubasi di Telkom University, yang beberapa diantaranya sudah memilki omset miliaran rupiah.  Meski sibuk di bidang research dan entrepreneurship, Adiwijaya tak lupa memberi perhatian pada pendidikan. Saat ini Telkom University juga fokus dalam mengembangkan kurikulum, karena harus sejalan dengan perkembangan teknologi terkini, yakni Industry 4.0. “Dari sisi konten kurikulum, selain ada literasi teknologi, kami juga menambahkan literasi data dan literasi manusia. Sehingga, diharapkan lulusan kami kelak bisa menjadi orang yang siap berkembang dan beradaptasi seiring perubahan teknologi yang ada,” jelasnya dengan nada serius. 

 

Teknologi pembelajaran pun terus dikembangkan, salah satunya dengan memperkuat Center of e-Learning and Open Education (CeLOE) di mana nantinya mahasiswa bisa belajar kapan pun dan di manapun sesuai dengan kondisi generasi milenial saat ini.

 

Saat ini, akreditasi institusi untuk Telkom University dari BAN PT adalah unggul (akreditasi A).  Hal ini ditunjang oleh capaian  jumlah program studi yang telah terakreditasi A BAN PT  yang mencapai 71%, dan sebanyak 45% prodi sudah terakreditasi internasional (ABEST21, IABEE, dan ASIC). Hal itu menunjukkan bahwa Telkom University kini sudah mampu bersaing secara global. Yang juga membanggakan, Telkom University dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Swasta terbaik di Indonesia berdasarkan pemeringkatan internasional, seperti Webometrics, Scimago Ranking, dan 4ICU UniRank. “Artinya itu adalah sebagai modal awal dan Insyaallah kami bisa berbuat lebih baik lagi ke depannya,” ia berkata dengan penuh keyakinan.

 

 

PROF. DR. GUNAWAN SURYOPUTRO, M. HUM., Menjaga Mutu Pendidikan Tanpa Membebani Mahasiswa

Naskah: Subhan Husaen Albari  Foto: Sutanto/Dok. Humas

 

Menjadi profesor adalah cita-cita sejak kecil yang sudah diimpikan oleh Gunawan Suryoputro. Untuk meraih kesuksesannya itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA)  ini hanya memegang dua kata kunci dalam hidupnya, yakni mandiri dan kerja keras. Sebab, tanpa kemandirian dan kerja keras, pria kelahiran Kediri 26 Juli 1962 ini meyakini impiannya itu sulit terwujud karena dengan kerendahan hatinya, Gunawan menyadari dirinya hanyalah seorang manusia biasa.

 

 

Gunawan terlahir memang bukan dari orang kaya raya. Sehingga, kemandirian dan kerja keras menjadi modal utama untuk meraih kesuksesnya itu. Prinsip kesejatian itu sudah dipraktikan sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, untuk bisa memenuhi kebutuhan sekolahnya, Gunawan sudah terbiasa bekerja.

 

Mulai menjadi pengembala kambing di kampung halamannya. Lalu bekerja di pabrik, sampai menjadi guru ketika lulus program S 1, dan dosen selesai program doktor. Ia bersyukur kariernya tidak pernah melenceng dari cita-citanya untuk menjadi seorang profesor, dengan konsisten bergelut di dunia akademik. “Sebetulnya sengaja atau tidak sengaja saya ingat betul waktu saya SMP kelas 1, saya sudah menulis nama saya di buku sekolah Prof. Dr. Gunawan Suryoputro S.H. Alhamdulillah sekarang kesampean, hanya S.H-nya yang meleset. Dari sini saya ingin menekankan kepada semua bahwa cita-cita itu penting, setinggi langit sekalipun karena cita-cita dan keinginan itu kan bagian dari doa kita kepada Allah SWT,” ujar Gunawan saat ditemui Men’s Obsession di ruang kerjanya di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

 

Saat masih muda, Gunawan dikenal sebagai seorang aktivis Muhammadiyah. Hal itu ia lakoni untuk mengelola semua kecerdasannya, baik dari sisi kecerdasan komunikasi, kepemimpinan dan, manajerial. Namun, ia konsisten menekuni dunia akademik, tidak beralih ke lain. Kariernya dimulai dari seorang asisten dosen, dosen, sekretaris program studi, ketua program studi, wakil rektor III, wakil rektor I, sampai akhirnya menduduki jabatan tertinggi sebagai rektor. Gunawan dipercaya menjadi Rektor UHAMKA pada Desember 2018 lalu, melanjutkan kepemimpinan Prof. Dr. Suyatno. Dari sinilah tugas-tugas beratnya sebagai seorang rektor menanti. 

 

Kini target utama Gunawan sebagai rektor adalah menjaga mutu kualitas pendidikan UHAMKA yang ditandai dengan prestasi akreditasi A. Lalu, merambah pada akreditasi internasional dan menjaga kompetensi kelulusan yang memiliki daya saing. Untuk mewujudkan itu, ia harus meningkatkan Catur Dharma Perguruan Tinggi, seperti peningkatan pembelajaran, penelitian, pengabdian masyarakat, serta keagamaan. Setidaknya ada lima strategi yang diterapkan. Pertama, kesejahteraan untuk bisa menciptakan inovasi, Gunawan tidak ingin mengabaikan kesejahteraan bawahannya. Kedua, peningkatan kapasitas kualifikasi pendidikan dosen alias doktorisasi. Di mana syarat untuk menjadi dosen di UHAMKA adalah doktor. Ketiga, meningkatkan sistem informasi teknokogi yang terintegrasi baik dari sisi akademik maupun non akademik, semua terhubung dalam teknologi digital. Keempat, peningkatan produk riset dan publikasi. Kelima, penjaminan mutu. Sebagai rektor, Gunawan ingin memastikan mutu kualitas pendidikan di UHAMKA terjaga. Caranya dengan menguatkan lembaga penjaminan mutu di UHAMKA baik dalam hal infrastruktur maupun SDM.

 

“Jika semua itu berjalan tentu ujungnya adalah inovasi dan hilirisasi. Empat tahun berjalan memang tidak mudah, terutama membudayakan riset di lingkup akademik, tapi sebagai pemimpin optimisme dan tangung jawab itu harus dipegang erat,” ujar Gunawan meyakinkan.

 

Di luar itu, Gunawan juga harus memastikan pendapatan akademik terjaga yang diambil dari lembaga usaha mandiri. Di bawah kepemimpinannya, kini UHAMKA sudah memiliki perusahaan, PT. Utama yang bergerak dalam penyediaan perawatan gedung atau kantor, baik itu penyediaan listrik, material, maupun peralatan kantor. Baru berdiri satu tahun ini, PT. Utama sudah mampu mencukupi kebutuhan seluruh keperluaan kampus UHAMKA. “Harus diakui untuk meningkatkan kualitas mutu harus dibarengi dengan biaya yang tinggi, tapi saya tidak mau membebani biaya itu kepada mahasiswa karena pasti berat. Satusatu caranya adalah kami harus punya unit usaha agar mutu itu tetap terjaga.” 

 

Dengan menjaga mutu pendidikan itu, UHAMKA ingin menyelaraskan keinginan Menristekdikti Mohamad Nasir menjadikan setiap perguruan tinggi di Indonesia unggul di tingkat nasional, maupun internasional. Setelah mendapatkan akreditasi nasional, Gunawan tengah fokus mengejar akreditasi internasional. Diawali dengan mendaftarkan akreditasi empat prodi UHAMKA di ASEAN University Network (AUN) atau asosiasi universitas Asia yang sudah diakui Kemenristekdikti. UHAMKA ingin benar-benar unggul bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional.

 

“Untuk mengarah ke sana ya tadi, syaratnya kami terus menguatkan program doktorisasi, pengembangan riset, publikasi, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan akreditasi A itu sudah cukup membuktikan kualitas UHAMKA kalau kami itu mampu,” ucapnya.

 

Berbicara soal keunggulan, UHAMKA sebagai bagian dari persyarikatan Muhammadiyah tak perlu diragukan lagi. Sebab sejak awal berdiri, Ormas Islam terbesar di Indonesia ini sudah fokus bergerak di wilayah, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Terlebih penyebutan nama Hamka, tokoh legendaris Muhammadiyah ini sudah sangat terkenal. Gunawan percaya masyarakat tak meragukan kualitas pendidikan di Muhammadiyah. 

 

Di UHAMKA sendiri sudah dibuktikan secara akademik. Selain penguatan mental dan kepemimpinan, UHAMKA sudah unggul di pusat studi dengan memiliki pusat studi neurosains, lalu ada pusat pengembangan obat-obatan. “Dari sisi pengembangan keilmuan Islam, kami punya Riset Sains Center yang sekarang terus memantau gerak matahari untuk menentukan waktu shalat. Saya bangga mahasiswa UHAMKA ada yang menciptakan rompi anti peluru, lalu robot, listrik hemat energi dan sebagainya. Itulah yang secara akademik bisa kita pertanggung jawabkan,” tandasnya. Beragam prestasi dan penghargaan juga sudah banyak diraih UHAMKA.

 

Dengan modal itu, Gunawan sangat yakin kualitas mahasiswa UHAMKA mampu menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Yang perlu ia tekankan adalah selain memiliki kecerdasan intelektual untuk menghadapi revolusi industri, mahasiswa UHAMKA juga harus memiliki kecerdasan sosial, berupa rasa empati, mental, dan keimanan yang tinggi. Sebab, ia percaya hidup manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tapi kecerdasan lain yang bisa saling menguatkan.

 

 

PROF. DR. IR. HARJANTO PRABOWO, M.M., Mengantar Visi BINUS 2035

Naskah: Giattri F.P.  Foto: Dok. Humas BINUS

 

Sejak dilantik sebagai Rektor BINUS University periode ketiga 2018-2022, ia bersama rekan-rekan serta BINUSIAN Leaders menyempurnakan visi BINUS 2020 menjadi visi BINUS 2035.

 

Ditemui di JWC Campus BINUS University International, Harjanto menuturkan, visi Binus 2020 ‘A World-Class University in Continuous Pursuit of Innovation’ perlahan, tapi pasti berhasil dicapai. Pasalnya, pihaknya tak henti untuk memperkuat diri, seperti memperbaiki kualitas lulusan, pengetahuan dan inovasi, pemberdayaan masyarakat, integrasi Catur Dharma, utilisasi teknologi, global partnership, global recognition, serta pertumbuhan yang berkelanjutan (sustainability competitive advantage).

 

Sejumlah kebijakan pun digulirkan, di antaranya BINUS Higher Education System sebagai standardisasi kualitas dan layanan pendidikan. Kualitas pelayanan, fasilitas, kurikulum antara kampus di Jakarta maupun di kota lainnya akan sama. Dari sisi akademis, pihaknya memiliki target 2 dari 3 alumninya bekerja di perusahaan global atau menjadi entrepreneur dalam waktu 6 bulan setelah kelulusan.

 

“Untuk mencapai hal itu, kami memiliki Program 3+1 untuk BINUS (3 tahun kuliah di kampus asal + 1 tahun mengambil salah satu dari 5 program enrichment, yaitu Internship (magang), Study Abroad (kuliah di luar negeri), Research (riset), Entrepreneurship (kewirausahaan), dan Community Development (pengabdian masyarakat),” terang pria kelahiran Pekalongan, 17 Maret 1964 itu. Kerja keras Harjanto bersama rekan-rekan BINUSIAN dalam mencapai visi Binus 2020 berbuah manis, beragam prestasi pun dipatri, antara lain mendapat bintang 4 dari QS Star University Ranking, mengikuti dan memenangkan ASIAN MAKE Award (Most Admired Knowledge Enterprise) sejak tahun 2017 dan MIKE Award 2018, akreditasi internasional untuk beberapa program, seperti AACSB untuk program Business, ABET untuk Engineering program, TedQual untuk Hospitality dan Hotel Management, akreditasi institusi A dari BAN-PT, serta lebih dari 60 persen program studi telah terakreditasi A, 25 persen terakreditas B, dan C sebesar 15 persen adalah program baru. 

 

Mahasiswa BINUS juga konsisten mengharumkan nama baik kampusnya, antara lain baru-baru ini tim Mahasiswa Computer Science diganjar penghargaan Honorable Mention dalam ajang kompetisi internasional ‘International Collegiate programming Contest – World Final 2019’ di Portugal. “Saat ini, tim dari BINUS ASO School of Engineering juga sedang berangkat ke Sepang, Malaysia untuk mengikuti Shell Eco Marathon 2019 menampilkan mobil cepat dan irit bahan bakar. Lalu, beberapa prestasi lainnya di dalam dan luar negeri, di antaranya kompetisi business concept, lomba karate internasional, hingga lomba debat,” urai pria ramah ini.

 

Harjanto menggarisbawahi, selain prestasi akademis, fokus BINUS saat ini adalah membina dan memberdayakan masyarakat. Ia mencontohkan, Raditya Eko Prabowo dan Nicholas Julian, mahasiswa jurusan Computer Engineering berhasil menciptakan Sonar Vision yang membantu aktivitas penyandang Tuna Netra. Lalu, Edward Evannov Santo Wiguna dan Hendry Lie yang juga Mahasiswa Computer Engineering juga berhasil menciptakan Digital Library yang membantu pelajar-pelajar di daerah pedalaman di Indonesia untuk dapat mengakses konten-konten pendidikan.

 

“BINUS juga banyak memberikan solusi di pemerintahan, kepolisian, kejaksaan, Komisi Pemberantasan Koperasi (KPK), terutama menghadapi IT Security. Bagi BINUS, knowledge dan inovasi itu menjadi salah satu strategi objektif yang sama besar pentingnya dengan lulusannya,” imbuh pria yang hobi olahraga tenis dan berjalan kaki ini. Harjanto menambahkan, jebolan Binus juga banyak yang sukses menjadi entrepreneur dan memberdayakan masyarakat, antara lain William Tanuwijaya (Co-Founder Tokopedia), Michael Jovan Sugianto (Co-Founder Tanihub), dan masuk Forbes 30 under 30 seperti: Tyovan A. Widagdo (CEO Bahaso.com), Yasa Singgih (CEO Mens Republic), Jeff Hendrata (Founder Karta Indonesia Global) dan Benny Fajarai (Founder Qlapa). 

 

 

“Kami sebagai perguruan tinggi swasta, sejak awal didirikan mental entrepeneurshipnya itu sangat kuat. Oleh karena itu, kami melengkapi sarana dan prasara kampus, tidak hanya dengan ruang-ruang kelas, tetapi juga memberikan banyak ruang kepada mahasiswa untuk diskusi dan kolaborasi. Misalnya, co-working space,” imbuh pria berdarah Jawa tersebut. Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Perguruan tinggi semakin ditantang untuk mempersiapkan para mahasiswanya akan pekerjaan yang belum ada; selain menciptakan ilmu pengetahuan yang inovatif, adaptif, kompetitif sebagai konsep utama daya saing dan pembangunan bangsa di era itu. Untuk menjawab tantangan tersebut, pihaknya terus berkomitmen untuk membina dan memberdayakan masyarakat melalui penyelenggaraan pendidikan berkualitas di seluruh Nusantara.

 

Komitmen ini pun kini semakin nyata, selain melalui BINUS Higher Education, juga membangun BINUS Digital Ecosystem yang terintegrasi serta mengembangkan dan menyempurnakan BINUS Online Learning yang sudah dibidani sejak 2008. Sehingga, dapat memenuhi kebutuhkan pendidikan di masa depan. “Kami juga tengah melakukan transformasi digital. Jadi, Digital Binus, ini bukan dalam arti hanya infrastruktur, tetapi mindset-nya. Mudah-mudahan, dalam setahun dua tahun ke depan akan terjadi,” harapnya. Harjanto mengaku, salah satu yang menjadi tantangan adalah terkait SDM, khususnya tenaga dosen. Jadi, bagaimana menjembatani gap antara mahasiswa dengan dosen karena tiap generasi butuh pendekatan yang berbeda dan pengajar harus siap dengan hal tersebut, terutama dalam transformasi digital saat ini. “Sehingga, kami tidak hanya mencari dosen yang hanya bisa mengajar, tetapi juga harus mencerminkan Catur Dharma (Tri Dharma perguruan tinggi + selfdevelopment,” tandasnya.

 

Menutup pembicaraan, Harjanto menguntai, pihaknya akan terus membawa BINUS University mencapai visi dan misi BINUS 20/20 sekaligus mengawal roadmap visi BINUS 2035. “Fokusnya, tak hanya membangun perguruan tinggi berkualitas global, tetapi juga memiliki peran dalam membina dan memberdayakan masyarakat,” pungkasnya. 

 

 

PROF. INTAN AHMAD, PH.D., Mengerek UNJ ke Pentas Internasional

Naskah: Imam Fathurrohman Foto: Sutanto

 

Di negara yang maju selalu ada universitas yang baik. Adagium ini dipahami benar oleh Profesor Intan Ahmad, Ph.D. Oleh karenanya kualitas pendidikan di sebuah negara, menurutnya, harus menjadi fokus bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan, setiap orangtua, serta individu atau sang mahasiswa yang menjalani proses pendidikan tersebut.

 

Kepada Men’s Obsession, Plt. Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) yang awalnya tak bercitacita menjadi seorang pendidik ini sekilas membeberkan visinya mengerek mutu perguruan tinggi tersebut di level nasional maupun internasional. “Dalam waktu yang tidak lama lagi Indonesia secara ekonomi akan menjadi negara nomor 4 di dunia. Pertama China, kedua India, ketiga Amerika Serikat, dan keempat Indonesia. Nah agar kita bisa masuk menjadi 4 besar ekonomi di dunia, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas, antara lain tentu dari pendidikan tinggi,” tutur lelaki murah senyum berkacamata ini mengawali pembicaraan seraya mengutip McKinsey dalam risetnya “The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential”.

 

Tak lama setelah didapuk sebagai pimpinan salah satu ‘tulang punggung’ pencetak guru di Tanah Air pada 25 September 2017, ia segera menggelar strategi agar lembaga yang dipimpinnya sukses mencetak para pendidik yang siap berkiprah di era digital ini. Harapannya, mahasiswa UNJ yang akan menjadi guru memiliki knowledge dan skill pedagogi yang sesuai dengan kemajuan zaman.

 

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi periode 2015-2018 ini meyakini bahwa seorang pendidik harus bisa memahami kebutuhan di masa mendatang. Tapi yang lebih penting lagi, imbuhnya, adalah kemampuan guru untuk memberikan pemahaman kepada anak didik soal tantangan ke depan. Termasuk di antaranya memberikan panduan kepada anak didik untuk siap memasuki era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang memberikan pengaruh besar pada lingkungan industri dan dunia kerja. 

 

Nyatanya, UNJ siap dengan tantangan tersebut. Salah satunya, UNJ telah memberikan mata kuliah pilihan, seperti Big Data dan Coding (Programming). Tapi mulai semester depan, mata kuliah itu wajib untuk semua mahasiswa. Baik yang latar belakang IPS atau IPA itu semua wajib mengambil mata kuliah Big Data dan Programming. Sehingga, pada akhirnya mereka akan lebih siap menghadapi ekonomi digital. “Dengan pemahaman itu, begitu guru bicara di kelas dia sudah bicara bahwa sekarang ini sudah berbeda dengan yang sebelumnya karena permasalahan pendidikan di seluruh dunia adalah kita mendidik mahasiswa untuk suatu pekerjaan yang sekarang belum ada atau suatu pekerjaan yang sekarang ada, tetapi 5-10 tahun lagi belum tentu ada. Sehingga, bagaimana kita mempersiapkan lulusan ini atau mahasiswa menjadi adaptif terhadap perubahan ini, itu yang kami lakukan,” jelas lelaki murah senyum berkacamata ini.

 

Sejalan dengan itu, UNJ coba menerapkan pembelajaran digital (e-learning) kepada para mahasiswanya. Model ini dilakukan agar mahasiswa tidak hanya terbiasa dengan pola digital, tetapi juga agar mendapatkan mutu pendidikan yang lebih baik di dalam maupun luar negeri (course shopping). Hanya saja, Ketua Senat Akademik Institut Teknologi Bandung (2012-2015) ini meyakini bahwa model pembelajaran sebaiknya mengkombinasikan pola face to face dan online. Untuk apa? Agar mahasiswa tak hanya terpenuhi kognisinya, melainkan juga mengalami transfer of knowledge melalui dialog sehingga mendapatkan feedback dari cara bertanya langsung dengan dosen atau berinteraksi dengan mahasiswa lainnya. Sementara di satu sisi, imbuhnya, ada mata kuliah tertentu yang diajarkan dengan face to face, seperti olahraga, seni, atau praktikum agar keterampilan psikomotorik terasah.

 

Hampir dua tahun peraih Ph.D. dalam bidang Entomology dari University of Illinois at Urbana-Champaign, USA pada tahun 1992 ini memimpin UNJ, perlahan mutu perguruan tinggi ini semakin baik. Bahkan, lompatan rangking terjadi di eranya saat ini. Jika dua tahun lalu UNJ berada di rangking 27 berdasarkan pemeringkatan Kemenristek Dikti, saat ini UNJ berada di rangking ke-19. Tahun depan, target berada di rangking ke-15 menjadi tujuan. 

 

Ukuran baik juga terukur melalui banyaknya calon mahasiswa yang tertarik belajar di UNJ. Secara nasional, sebanyak 8 program studi yang ada di UNJ masuk dalam 20 program studi yang paling banyak peminatnya. Hal ini menunjukan tingginya kepercayaan dari masyarakat terhadap UNJ.

 

Di era kepemimpinan Prof. Intan, upaya peningkatan mutu memang menjadi sorotan. Utamanya karena UNJ ingin bertransformasi menjadi universitas yang mempunyai reputasi di Asia. Untuk mencapainya, UNJ melakukan kerja sama dengan banyak perguruan tinggi. Beberapa di antaranya kerja sama dengan sejumlah universitas di Australia, China, Finland, Perancis, Jerman, Korea, Italia, Jepang, Yordania, Malaysia, Belanda, Filipina, Qatar, Taipei, Thailand, Turkey, Amerika Serikat, dan Inggris.

 

Tak banyak orang tahu, Prof. Intan yang sudah menelurkan 43 karya ilmiah termasuk 19 yang diterbitkan di jurnal internasional ini memiliki prestasi mentereng di dunia olahraga. Tepatnya, Prof. Intan pernah meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) tahun 1981 mewakili Provinsi Jawa Barat. Pada PON berikutnya di tahun 1985, meski ia sudah on/off menekuni secara serius karate, tapi ia masih sempat berprestasi mendulang medali perak. “Berikutnya saya hanya berolahraga untuk kebugaran. Sekarang lebih banyak lari dan menjaga kebugaran di Gym. Dan, saya masih kuat kalau diajak lari 10 kilometer,” ujar penyuka buku Outliers karya Malcolm Gladwell ini. Concern lelaki kelahiran Bandung, 1 Mei pada dunia olahraga berbanding lurus dengan prestasi sejumlah mahasiswa UNJ.

 

Di ajang Asian Games 2018, sejumlah mahasiswa UNJ yang turut mewakili Indonesia mampu meraih 7 medali emas, 5 medali perak, dan 1 medali perunggu. Sebuah capaian membanggakan, mengingat UNJ menyumbang 25 persen dari total perolehan medali secara keseluruhan. Indonesia yang finish di posisi 4 hanya meraih 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Pun demikian di ajang Asian Para Games 2018, UNJ juga berkontribusi menyumbangkan sejumlah medali. Di bidang olahraga, UNJ juga memiliki prestasi akademik yang mentereng. Belum lama ini, perguruan tinggi yang berdiri pada 16 Mei 1964 ini sukses meluluskan 13 doktor olahraga level internasional. Para doktor tersebut sebelumnya menempuh pendidikan di UNJ dan Philippine Normal University (PNU) Filipina. Artinya secara kualitas, doktor olahraga jebolan UNJ benar-benar telah diakui secara Internasional.

 

PROF. DR. IR. KADARSAH SURYADI, DEA., Membawa Transformasi ITB

Naskah: Suci Yulianita Foto: Sutanto/Dok. Humas

 

Memimpin sebuah Perguruan Tinggi Negeri berskala internasional seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) bukanlah hal yang mudah. Namun, Kadarsah Suryadi mampu membuktikan kinerjanya sebagai pucuk pimpinan tertinggi dengan baik. Di bawah kepemimpinannya, prestasi dan pencapaian membanggakan berhasil diraih, antara lain jumlah prodi terakreditasi internasional dan publikasi internasional yang terus meningkat tiap tahunnya. Belum lagi kebijakan strategis yang digulirkan dalam rangka menuju Entrepreneurial University serta menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0.

 

Ada yang menarik dari kunjungan tim Men’s Obsession ke ITB kali ini. Sang rektor mengajak kami berkeliling mengitari kampus ITB Ganesha seluas 24 hektar, sambil sesekali menunjukkan hal-hal menarik yang ada di sekitar ITB, seperti landscape Gunung Tangkuban Perahu hingga batubatu fosil besar hasil temuan dosen Geologi yang terpajang di pojok taman salah satu gedung. Yang juga menarik perhatian adalah keramahannya yang tak sungkan menyapa para mahasiswa dan satpam yang kami temui dalam perjalanan berkeliling kampus.

 

Kadarsah menjabat rektor ITB pada 2015 lalu. Sejak itu, ia memiliki tugas besar untuk membawa ITB bertransformasi dari Research University menjadi Entrepreneurial University. Dengan demikian, Kadarsah mempersiapkannya dengan tiga kebijakan utama, yakni excellent in teaching and learning, excellent in research, dan excellent in innovation & entrepreneurship.

 

“Nah, ketiganya itu kita jalankan untuk mengawal tiga jenis lulusan. Lulusan pertama adalah mereka yang menjadi employee atau profesional, mereka yang siap mengisi lapangan kerja yang ada. Itu dikawal dengan excellent in teaching and learning. Yang kedua untuk lulusan yang memiliki kompetensi sebagai peneliti atau researcher, yaitu mereka yang siap untuk mengembangkan ilmunya, dan ketiga mengawal lulusan sebagai inovator dan entrepreneur,” terang ayah tiga putri ini. 

 

Sejumlah prestasi membanggakan juga berhasil diraih ITB di bawah kepemimpinan Kadarsah, antara lain program studi (prodi) yang sudah terakreditasi internasional terus meningkat setiap tahunnya, dari 18 prodi (S1 dan S2) pada 2015 lalu kini sudah mencapai 39 prodi (34 prodi S1 dan 5 prodi S2) yang telah terakreditasi internasional. Sementara, 8 prodi S1 masih dalam tahap proses. Kadarsah optimis akan mencapai 100% prodi S1 terakreditasi internasional pada akhir tahun ini (di luar prodi baru). Kemudian untuk akreditasi BAN PT, sudah ada 92% yang sudah terakreditasi A, dari total 128 prodi.

 

Jumlah publikasi internasional juga mengalami peningkatan pesat, dari sejumlah 1400 pada tahun 2015 kini sudah melebihi 2000. “Untuk entrepreneur dan inovasi, dari yang sebelumnya berjumlah di bawah 80, kini sudah mencapai 106 startup dan 25 di antaranya sudah spin off, sudah mandiri. Ini adalah target-target kinerja yang berdasarkan Entrepreneurial University dengan tiga kebijakan dasar itu,” ungkap kelahiran Kuningan, 22 Februari 1962 ini.

 

Beragam inovasi pun terus bermunculan dari para peneliti dan dosen ITB. Setelah sukses dengan inovasi katalis kimia, yang terbaru adalah Base Transceiver Station (BTS) yang baru diluncurkan oleh Menristekdikti pada akhir tahun 2018 lalu. Sungguh sangat membanggakan jika melihat produk ini menjadi BTS pertama buatan anak bangsa. “Lalu kita punya radar cuaca, ini juga luar biasa, bisa digunakan untuk BMKG. Nah itu beberapa inovasi terbaru. Alhamdulillah, teman-teman semangat dan ini sejalan dengan semangat Entrepreneurial University,” ujarnya menambahkan.

 

 Kadarsah menyadari untuk bisa mewujudkan ITB menjadi Entrepreneurial University bukanlah hal yang mudah, tidak bisa dicapai hanya dengan waktu singkat. Namun, dalam lima tahun masa baktinya sebagai rektor (2015 – 2020), ia telah berhasil menciptakan atmosfer entrepreneurial. Lulusan S3 Universite de Droit, d’Economie et des Sciences d’Aix Marseille, Perancis ini memaparkan, seluruh mahasiswa, dosen dan para tenaga kependidikan di ITB telah berkomitmen dengan semangat entrepreneurial university. Termasuk di dalamnya semangat mengikuti lomba-lomba inovasi dan entrepreneur bagi para mahasiswa, baik skala nasional, maupun skala internasional.

 

“Dan Alhamdulillah banyak yang menjadi pemenang. Bahkan, jika kita melihat mapping saat wisuda itu, jumlah penerima penghargaan internasional mencapai lebih dari 100 mahasiswa tiap wisuda. Sedangkan, dalam setahun itu ada tiga kali wisuda. Ini sangat membanggakan karena semua unit, semua pihak yang ada dalam institusi ini sudah ikut ambil bagian ke arah sana, kami sudah bergerak bersama-sama menuju ke sana,” ucap Kadarsah penuh rasa syukur.

 

Melihat eksistensi dan pencapaian ITB hingga tingkat internasional, rasanya tak sulit bagi Kadarsah untuk beradaptasi dalam mempersiapkan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Apalagi, ia sudah mempersiapkan kebijakan dan langkah-langkah untuk menjawab tantangan tersebut. Pertama, tentu penguasaan computing dan programing serta penguasaan big data analytic bagi seluruh mahasiswa ITB. Kemudian, harus menguasai artificial intelligence untuk prodi dan tingkat pendidikan tertentu. Yang juga tak kalah penting adalah para mahasiswa harus memiliki soft skill yang sifatnya sustainable dan adaptif terhadap perubahan. Strategi selanjutnya adalah kemampuan kerja sama lintas disiplin. “Kemudian terakhir ada satu yang sangat penting, yaitu perkuat bidang ilmu masing-masing. Memang era digital penting. Namun, digital juga bukanlah segala-galanya karena setiap orang pasti perlu pangan, perlu energi, perlu kesehatan, dan perlu air. Maka ilmu kesehatan, ilmu energi, ilmu pangan termasuk ilmu-ilmu lainnya yang ada harus diperkuat. Digital merupakan suatu media, banyak layanan digital yang berkontribusi untuk masyarakat, tapi siapa yang memperbaiki quality, itu adalah para pemilik keilmuan masing masing. Oleh karena itu, perkuat bidang ilmu masing masing,” Kadarsah menegaskan.

 

Untuk mendukung tujuan ITB menuju Entrepreneurial University, ITB menyediakan Lembaga Pengembangan Inovasi Kewirausahaan (LPIK ITB), sebagai tempat mempertemukan para peneliti dan para inovator dengan dunia industri yang bertujuan menghasilkan entrepreneur baru. Kemudian, ITB juga dipercaya Kemenristekdikti menjadi Pusat Unggulan IPTEK Nasional melalui ‘Center of Excellence’ yang bekerja sama dengan pihak internasional, seperti dari Berkeley, Amerika Serikat dan Kyoto University. 



Add to Flipboard Magazine.
Komentar:

     
               

Popular

   

Photo Gallery

     

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250