Search:
Email:     Password:        
 





Permadi Kolektor Benda Sang Proklamator

By Benny Kumbang (Editor) - 23 August 2013 | telah dibaca 3146 kali

Permadi
Kolektor Benda Sang Proklamator


Naskah: Gyatri F., Foto: Febri Pramono

Pria bernama lengkap KRT Permadi Satrio Wiwoho yang kerap disapa Permadi, ini, dikenal sebagai Soekarnois. Selain mengamalkan ajaran-ajaran Soekarno, kecintaannya terhadap tokoh proklamasi nan kharismatik itu, juga ia tunjukkan dengan mengoleksi berbagai benda milik presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

Koleksinya itu mayoritas didapat secara cuma-cuma dari mantan ajudan Soekarno yang bernama Soewarno atau yang dikenal dengan sebutan Mbah Kancil. “Awalnya dia mulai mencari saya ketika melihat perilaku dan kekaguman saya terhadap Bung Karno. Dia tidak memberikan sekaligus, melainkan satu per satu benda tersebut. Hingga saat ini dia masih menyimpan beberapa dan sudah berjanji mau diserahkan ke saya,” ujar pria yang menyatakan diri sebagai Penyambung Lidah Bung Karno itu.
Meskipun jumlah koleksi yang dimiliki Permadi tidak banyak, namun menurutnya sangat bernilai.  Pasalnya, benda milik Soekarno yang dimilikinya banyak dicari orang. “Entah kenapa, banyak pula orang yang  mengaku punya jimat, maupun tongkat Bung Karno. Menurut saya, itu banyak yang tidak benar dan saya sendiri kalau tidak yakin pasti ngomong, tapi yang dari ajudannya saya sangat yakin,” terang anak dari pasangan Poernomo dan Sriyati itu.

Pria yang senang dengan pakaian hitam ini mengaku tidaklah ngoyo dalam mengumpulkan koleksinya. Suami dari Dewi Noerjanti ini menuturkan, tiap koleksinya itu memiliki kisahnya masing-masing. “Selendang ustadz, tongkat komando, dan cincin ini adalah milik Bung Karno. Ada dua ustadz yang sangat keukeuh menginginkan Aceh untuk merdeka ketika Aceh bergejolak, yaitu Daud Beureuh dan yang satu saya lupa namanya. Nah, saat itulah Bung Karno menangis di depan keduanya agar Aceh tidak berpisah dari NKRI. Menurutnya, NKRI tanpa Aceh bukanlah NKRI. Bagaimana kita bisa menyanyikan lagu dari Sabang-Meurauke kalau Sabangnya hilang,” tandasnya.

Daud Beureuh pun akhirnya luluh dan berjanji pada Bung Karno tetap di NKRI, tapi ustadz yang satu tetap tidak mau. Akhirnya, Bung Karno menyambangi kediaman Sang ustadz dan  memohon dengan sangat agar tidak berpisah dari NKRI. “Setelah berdialog, ustadz itu pun bersedia tetap dalam NKRI. Bung Karno menyerahkan kalung ustadz, tongkat komando, dan satu cincin ini,” Permadi berkisah.

Pria kelahiran 14 Mei 1940, ini, menuturkan ketiga benda tersebut ia dapatkan dengan kejadian yang menurutnya agak aneh. “Suatu ketika, ustadz ini menghubungi Mayjen (Purn) Asril Tandjung, orang Gerindra (Partai Gerakan Indonesia Raya) untuk menemuinya di Aceh. Lalu, ustadz menyerahkan ketiga benda ini ke Asril sembari berkata, saya sudah akan pergi dari dunia ini, tolong sampaikan benda ini ke orang yang menurut kamu meneruskan ajaran Bung Karno, ini harus kembali ke Jawa,” kisah pria yang dikenal vokal ini.

Pikir Asril, ini pasti Prabowo, lanjut Permadi. Asril pun pulang ke kantor Gerindra. “Pintu ruangan saya yang tertutup, entah mengapa tiba-tiba terbuka dan Asril masuk, lihat saya sambil berkata, eh bukan Prabowo, ini orangnya terus diserahkan ke saya. Kejadian itu sekitar 2 tahun lalu,” jelasnya.
Kemudian, ada juga wayang Khrisna yang disimpan Bung Karno di rumah Blitar. “Sepeninggal Bung Karno, ini disimpan oleh Ibu Wardoyo dan saat Bu Wardoyo wafat, jatuh ke tangan Mbah Warno dan diberikan ke saya,” imbuhnya.

Permadi menambahkan, selain Khrisna dalam hidupnya, Bung Karno sangat mengagumi tokoh pewayangan Gatot Kaca. “Penari Gatot Kaca terhebat, Sri Rusman sering diundang ke istana untuk menari,” kata pria yang juga mengoleksi puluhan keris ini. “Keris ini yang pertama kali diberikan Mbah Warno ke saya, luar biasa indahnya, ada ukiran Ganesha. Keris ini didapat Bung Karno dari gurunya, Romo Sumono,  seorang marinir juga ahli kebathinan yang tinggal di Purworejo. Bung Karno sering datang ke rumahnya.”

Selain keris tersebut, ada dua keris lagi yang diberikan oleh Romo Sumono. Salah satunya adalah Umyang Jimbe. Dalam keris tersebut terdapat ukiran Hanacaraka. Keris ini pernah dibawa oleh Bung Karno.
Kejadian berbau mistis pun pernah dialami ayah empat anak ini. Diakuinya, ada tiga cincin milik Bung Karno warnanya merah, hitam, dan putih yang disebut dengan Trisakti yang ia terima dari  Eyang Semar. Saat di DPR, ia didatangi empat orang yang mengaku utusan dari Eyang, mereka memintanya untuk menemui Eyang di Semarang. Karena merasa simpatik, ia pun memenuhi permintaan tersebut.

Ketika mendatangi tempat Eyang Semar, Permadi disambut oleh puluhan murid Eyang, dia pun duduk dan bertanya kepada murid Eyang tentang keberadaan Eyang. Namun ia agak kecewa karena sosok Eyang yang menghampirinya tidak sesuai dengan penggambarannya. “Pakai kaos, sendal jepit, topi haji, dan bertato. Dia menyerahkan saya kotak, tapi saya menolaknya dan saya bilang, saya tidak mau menerima ini karena kata murid-murid bapak yang akan memberikan saya ini adalah Eyang,” katanya.

Soal harga dari Trisakti, pria yang mengaku menjadi pengagum soekarno sejak berusia lima tahun ini mengungkapkan, harganya sangat mahal. Karena itulah ia pun pernah mengundang seorang ahli cincin ke rumahnya.
“Dia membawa semua peralatannya dan dia tidak bisa mendeteksi jenis batuannya apa. Tapi kata dia, kalau ini batu asli Paparaja harganya bisa mencapai Rp1 triliun lebih. Begitu juga kalau ini betul-betul black diamond, tak ternilai harganya. Eyang itu sangat miskin, tetapi ketika saya hendak memberinya uang, dia malah marah,” papar Permadi.

Berbagai benda milik ayah dari Megawati Soekarno Putri yang lain adalah tongkat berisi besi kuning pemberian dari ayahnya Pollycarpus. Cincin Bung Karno dan Ibu Dewi juga pernah diberikan kepadanya.
Selain itu, Batu yang di dalamnya terdapat besi kuning yang selalu dikenakan Bung Karno dipinggangnya. Besi kuning, dipercaya sebagai jimat yang diselipkan di saku Bung Karno.
“Konon karena jimat ini dia tidak pernah tertembak,” jelasnya.

Pria bergelar Sarjana Hukum itu juga mengatakan, sepeninggal dirinya, koleksinya tersebut akan diserahkan kepada anaknya. Namun, Permadi menggarisbawahi jika suatu saat negara meminta koleksinya tersebut, tidak akan ia berikan begitu saja. “Kalau negaranya sudah tenteram dan betul-betul menghormati Bung Karno, baru akan saya serahkan. Negara sekarang tidak benar-benar menghormati Bung Karno. Beliau tidak pernah mendapat rehabilitasi, dibiarkan begitu saja, ya buat apa saya serahkan. Saya lebih berhak untuk menjaga dan memeliharanya,” tegasnya.


Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

     
                       

Popular

   

Photo Gallery

   
 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250