Search:
Email:     Password:        
 





Cangkir-cangkir Chandra

By Giatri (Editor) - 22 April 2015 | telah dibaca 1759 kali

Bila kebanyakan perempuan lain memiliki hobi mengoleksi benda fashion, seni, atau mobil mewah, notaris cantik yang kerap disapa Chandra ini malah memilih mengoleksi cangkir. Baginya wadah kecil untuk minum teh atau kopi dengan pegangan di salah satu sisinya itu tak hanya sekadar koleksi melainkan sudah menjadi belahan jiwanya

Chandra mengaku dirinya termasuk kolektor ‘agak’ ekstrim lantaran kerap membawa cangkir ke mana-mana dan mempergunakannya dari pagi hingga malam, jadi tidak hanya sebagai pajangan saja. Seperti saat ke kantor, ia selalu menenteng cangkir berbeda, walaupun di sana sudah ada banyak cangkir lainnya.
“Setiap sore saya menikmati teh atau kopi berikut temannya, yaitu kue atau kudapan di kantor,” ujar perempuan yang memiliki kantor notaris di Kerobokan, Kuta, Bali ini.

Kadang ia juga memboyong cangkirnya piknik ke pantai untuk mengisi waktu senggang kala weekend. Kecuali, saat liburan ke luar negeri karena biasanya Chandra akan mencari tempat minum teh yang ada cangkir cantiknya atau membawa pulang cangkir baru.
“Hari-hari saya akan bergairah, meskipun saat itu ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan permasalahannya masing-masing. Ritual minum teh atau kopi menjadi penawar stres saya sehari-hari,” katanya.

Mungkin tak banyak orang yang tahu atau mengerti akan kenikmatan minum teh maupun kopi dalam wadah cangkir yang indah. Apalagi, jika kue atau cake yang disajikan bernuansa senada dengan cangkir dan busananya, misalnya dari sisi warna atau motif.
“Pernah suatu hari ada yang protes menanyakan mengapa cangkir saya lebih cantik. Saya jawab saja karena senada dengan busana saya,” ujar Chandra seraya tertawa. Misalnya, bajunya berwarna red velvet atau motif polkadot, cangkir, cake, dan wadahnya pun berwarna atau bermotif senada.

Ihwal kecintaannya terhadap cangkir bermula saat kecil, Chandra kerap memandangi lemari Ibunya yang berisi perlengkapan homeware, salah satunya cangkir. Setelah diperhatikan ternyata setiap cangkir mempunyai keunikan dan keindahan masing-masing. Proses pembuatan cangkir itu sendiri sangat menarik dan sulit, seperti halnya kehidupan yang tidak mudah dijalani. Hingga akhirnya terwujud sebuah bentuk yang mengesankan.
”Itulah sebabnya, saat saya berhasil mendapatkan cangkir yang diimpikan ada kepuasan tersendiri yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata,” ujarnya.

Chandra berburu cangkir satu per satu dari berbagai sumber di online shop maupun sosial media dan lelang di luar negeri hingga tak terasa jumlahnya sudah membengkak. Beragam brand terkenal seperti Royal Doulton, Royal Albert, Paragon, dan lainnya menjadi koleksinya. Harganya berkisar dari Rp200.000 hingga Rp10.000.000.

Chandra tak sembarang memilih cangkir, warna, motif, maupun bentuknya sangat ia perhatikan. “Hingga yang bernilai sejarah, misalnya dulu pernah dipakai oleh ratu dari kerajaan-kerajaan di Eropa. Paling disenangi adalah motif special rose, ada glitter emas di handle cangkirnya, bentuknya indah, unik,” terangnya.

Perempuan ramping, ini memberi tips untuk mendapatkan cangkir yang bagus. Caranya dengan meminta seller mengirim gambar detailnya terlebih dahulu sebelum membeli. “Tapi, khusus koleksi vintage yang sudah berusia tua, kita harus memaklumi kondisinya pasti tidak akan sempurna,” jelasnya.

Biasanya yang diburu kolektor adalah jenis vintage dan ada marking dari item tertentu yang memang terkenal. Harganya juga bisa naik atau turun tergantung kondisi setiap cangkir, tapi harga standar tetaplah ada. Kendati demikian, Chandra optimis kedepan cangkir bisa dijadikan benda investasi yang potensial karena setiap rumah tangga pasti memiliki benda tersebut.

Mengenai cara merawatnya agar tidak mudah pecah, Chandra menyimpan cangkir kesayangannya ke dalam kotak khusus yang ada pelindungnya. Selain itu, bisa dibungkus dengan bubble. Saat mencucinya, ia menggunakan sabun bayi agar warna dan trim emasnya tidak cepat pudar.

Menyikapi cangkir yang pecah, baginya adalah hal biasa terjadi. Terkadang, saat proses pengiriman, tersenggol atau tidak sengaja pecah ketika mencuci cangkir.

“Saat pecah dada saya terasa sesak dan sakit karena kehilangan sesuatu yang saya cintai. Apalagi, untuk mendapatkannya diperlukan perjuangan khusus, berebutan dengan pembeli lain, dan harus menunggu lama tiba di tangan saya. Sementara, untuk memperoleh barang yang sama tidaklah mudah,” ungkap Peraih gelar Magister Kenotariatan dari Universitas Gajah Mada ini.

Uniknya, setiap ada cangkir yang pecah, retakannya tidak pernah dibuang oleh Chandra karena itu menjadi bagian dari sejarah perjalanan cangkir saat bersamanya. Retakan tersebut, ia kumpulkan dan foto. Foto tersebut akan ia masukkan ke dalam buku tentang cangkir yang tengah dibuatnya.

“Barang yang saya cintai ini akan selalu bersama saya hingga akhir hayat, meskipun berakhir dalam bentuk serpihan,” pungkasnya. Gia

Add to Flipboard Magazine.

Tulis Komentar:


Anda harus login sebagai member untuk bisa memberikan komentar.

                  

Popular

       

Photo Gallery

 

Visitor


Jumlah Member Saat ini: 2250