Siapa Menang di Pilkada Jakarta, Jateng, dan Jatim? Pertarungan PDIP Vs KIM Plus

Oleh: Sahrudi Rais (Editor) - 31 October 2024

Mengapa Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak Unggul di Jawa Timur?

Keunggulan pasangan Khofifah-Emil di Jawa Timur disebabkan beberapa faktor.

Pertama, tingkat kepuasan terhadap kinerja Khofifah sebagai gubernur incumben mencapai 88,1%.

Semua petahana selalu punya peluang untuk menang kedua kalinya, kecuali jika kinerjanya buruk. Beruntung bagi Khofifah, di mata pemilih, kinerjanya dianggap berhasil, popularitas Khofifah mencapai 98%, jauh di atas Tri Risma yang berada di angka 73,5%. Risma memang menjadi tokoh nasional dengan menjadi menteri di era Jokowi. Ia juga pernah menjadi wali kota Surabaya.

Namun, provinsi Jatim memiliki 29 kabupaten dan 9 kota. Surabaya hanya sebagian kecil dari Jawa Timur. Khofifah sebagai petahana gubernur sudah menjelajah lebih jauh di teritori Jatim secara keseluruhan.

Ketiga, mesin politik KIM Plus terlihat lebih solid di Jawa Timur karena basis pemilih partai mengikuti arahan koalisi. Selain itu, pasangan Khofifah-Emil juga mendapat limpahan dukungan dari pemilih PDIP dan PKB.

Ini juga pekerjaan rumah bagi Tri Rismaharini. Pemilih PDIP selaku partai pendukungnya justru lebih banyak memilih Khofifah.

Keempat, dari 14 daerah pemilihan (dapil), Khofifah unggul di 12 dapil, kalah hanya di dapil I (Kota Surabaya) dan dapil II (Sidoarjo).

Kelima, posisi Khofifah sebagai Ketua PP Muslimat NU memainkan peran penting dalam mendulang suara dari kalangan Nahdliyin.


Mengapa Ahmad Luthfi Unggul di Jawa Tengah?

Keunggulan Ahmad Luthfi di Jawa Tengah juga dapat dijelaskan oleh beberapa faktor. Pertama, popularitas Ahmad Luthfi tertinggi, mencapai 72%, dibandingkan popularitas Andika Perkasa yang 58,7%.

Andika adalah tokoh nasional. Namun bagi pemilih Jawa Tengah, tentu saja banyak elit di sana yang mengenalnya. Tapi banyak wong cilik yang di desa-desa yang belum mendengar namanya.

Kedua, mesin politik KIM Plus bekerja efektif, terlihat dari loyalitas pemilih partai-partai dalam koalisi.

Ketiga, dari 13 dapil di Jawa Tengah, Ahmad Luthfi unggul di 11 dapil, kalah hanya di dapil I (Kota Semarang) dan dapil VIII (Magelang, Kota Magelang, dan Boyolali).

Keempat, Ahmad Luthfi diuntungkan oleh pengalamannya memimpin Polda Jawa Tengah, yang memperkuat kedekatannya dengan masyarakat setempat.

Kelima, mayoritas pemilih Prabowo-Gibran cenderung memilih pasangan Ahmad Luthfi-Taj Yasin.


Esai ini memberikan gambaran ringkas dan komprehensif mengenai persaingan antara KIM Plus dan PDIP di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, pasangan yang didukung KIM Plus unggul berkat popularitas calon, kekuatan mesin partai, dan dukungan dari basis pemilih yang loyal.

Namun, di DKI Jakarta, meskipun pasangan KIM Plus tetap kompetitif, tantangan dari soliditas PDIP dan popularitas tokoh-tokoh seperti Rano Karno menyebabkan persaingan yang ketat.

Dengan satu bulan tersisa sebelum pilkada, peta politik di ketiga wilayah ini akan terus dinamis, dan setiap strategi baru dari kedua koalisi dapat memengaruhi hasil akhir.

Satu bulan tersisa menuju pilkada, panggung politik di tiga wilayah ini seperti permainan catur tanpa jeda. Setiap langkah strategi, setiap manuver, memiliki kekuatan untuk mengubah pemenang di akhir babak.